Kim Jongsoo a.k.a KJ-27 is back!
Hai! Now I'm here with my new story that took too much days to make it perfect for me.
This whole story was inspired by Sniper Game on my phone.
As always, I will put some song lyrics inside my story.
Take your time to read this one! Hope you like my new story with Kaisoo (as always) inside the story.
Welcome to my fanfict world and enjoy! Don't forget to leave your review after read this!
-KJ-
Satu sosok pemuda dengan long coat abu-abunya baru saja masuk ke sebuah cafe dan memesan sebuah Americano. Ia melangkahkan kakinya menuju meja dekat jendela, dimana ia bisa bebas melihat keramaian jalanan kota yang terasa asing baginya ini. Jika bukan karena sebuah tugas penting, ia tak akan ada disini.
Pemuda itu lantas mengeluarkan sebuah kamera dari dalam tasnya dan mulai mengarahkan kameranya menuju luar cafe, dimana tugasnya baru saja dimulai. Setelah Americano take away miliknya datang, ia bergegas keluar dan menjalankan tugas pentingnya.
Beberapa kali, lensa kameranya mengabadikan momen-momen penting yang tersaji tanpa aling-aling di depannya. Senyum seringai ia lukiskan di wajahnya sendiri saat melihat hasil jepretannya. Tapi ia tak berhenti disitu, karena tugasnya memang belum berakhir.
Kakinya, mengikuti arah bidikan lensa kameranya. Dan betapa kagetnya ia ketika ia tiba-tiba sudah berhenti disini, The Hyatt Hotel.
"Bajingan." Gerutunya. Ia kemudian melangkah masuk dan berjalan menuju meja resepsionis; memesan kamar.
Setelah mendapatkan kamarnya, pemuda itu segera masuk dan menyalakan laptopnya lalu berkutat di depan benda elektronik itu selama setengah jam dan akhirnya berpindah ketika ia menemukan apa yang ia cari.
"Kau benar-benar bajingan tengik, Wu Yifan."
Dan seringai pemuda itu semakin mengembang ketika ia baru saja dengan sukses mengirimkan email penting pada seseorang yang memintanya untuk melakukan tugas ini.
"Bajingan kecil, hidupmu tak lagi tenang setelah ini."
Di tempat yang berbeda, sesosok pemuda dengan kaos hitamnya baru saja selesai mandi setelah sebelumnya ia tidur pulas selama enam jam. Ia segera membuka kotak emailnya ketika sadar bahwa di layar laptopnya muncul pemberitahuan bahwa ada email baru yang masuk ke kotak masuknya.
Dan betapa terkejutnya ketika maniknya menatap seluruh file yang masuk ke emailnya sekitar delapan jam lalu ini. Dengan rahang yang mengeras dan tangan terkepal sempurna, pemuda ini berbalik dan mendekati kaca besar yang terpampang di samping lemarinya.
Dan dengan satu gerakan cepat, keras dan tangkas, bagian tengah kaca besar itu kini perlahan retak dengan beberapa bercak kemerahan menempel sempurna disana.
"Kau memang pantas mati."
Dan pemuda itu bergegas mengguyur tangannya di wastafel, membebat tangannya asal dan mengambil peralatannya lalu bersegera keluar apartemennya menuju motornya.
Pemuda itu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi dan kemudian berhenti ketika ponselnya berbunyi.
"Dia tak membawa kendaraan. Baru saja keluar sekitar lima belas menit lalu, mungkin sebentar lagi ia akan kembali ke hotel."
Suara berat di ponselnya hanya pemuda itu balas dengan gumaman. Ia memacu kembali kendaraannya dan kali ini ia berhenti tepat di gang sempit dan cukup gelap di samping toko makanan yang sudah tutup karena saat ini, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Ia turun dari motornya, menyiapkan peralatannya dan menatap seberang jalan dengan tatapan tajamnya, selayaknya seekor singa yang sedang menunggu mangsanya datang.
Dan senyum seringai pemuda itu muncul bersamaan dengan munculnya sesosok pemuda dengan long coat hitamnya sedang berjalan dengan santai.
Satu gerakan tangkas dari sang pemuda bermotor tadi, sukses menyebabkan rintihan menyedihkan dari pemuda dengan long coat hitam yang kini hanya mampu memegangi tangan kirinya yang baru saja tertancap sebuah anak panah yang entah berasal dari mana dengan sebuah pesan di bagian ujungnya.
Dan ketika kertas pesan itu ia cabut dan ia baca, tubuhnya menegang dengan hebat.
.
"Halo, Pembunuh. Masih merasa beruntung karena tidak menjalani hukumanmu? Berdoalah setiap hari agar kau tak menemui ajalmu seperti kau merenggut nyawa dua manusia tak berdosa tujuh tahun lalu, Wu Yifan. Karena aku, mulai hari ini tak akan membiarkanmu hidup tenang."
Sudah tepat satu minggu sejak lengan kiri Kris harus dijahit dan diperban. Pemuda yang sedang bersiap kembali ke rumahnya di Inggris ini berkali-kali menghela nafasnya sambil menggenggam kertas dengan beberapa tulisan dan cipratan darah miliknya.
Ya, Kris menggenggam kertas pesan yang datang bersamaan dengan anak panah yang melukai lengan kiri bagian atas miliknya. Ia tak memberitahu siapapun termasuk teman lamanya tentang pesan itu. Dan pikirannya melayang kembali menuju hari dimana lengan kirinya harus menerima sakit luar biasa untuk pertama kali.
Setelah meraung kesakitan akibat panah yang menancap kuat di lengannya, Kris dengan sekuat tenaga menahan sakitnya dan mencabut panah itu lalu membuangnya di tempat sampah terdekat dan berlari menuju klinik 24 jam yang ada persis satu blok setelah The Hyatt Hotel, tempatnya menginap bersama teman lamanya satu minggu lalu.
Pemuda itu tak banyak menjawab pertanyaan petugas kesehatan yang mengobatinya. Ia lebih fokus pada pikirannya sendiri yang memunculkan banyak kandidat sebagai pelaku yang membuat anak panah sialan itu melukai lengan kirinya.
Dan dengan pesan yang mau tak mau membuat masa lalunya yang pahit itu terputar kembali di otaknya, Kris mencoba mengingat siapa saja yang mungkin mengetahui perbuatan bodohnya. Tapi dengan fokusnya yang terbagi antara menahan sakit dan memikirkan sosok pengirim pesan ini, Kris gagal menemukan sosok itu di ingatannya.
"Terima kasih, ahjumma." Ucap Kris sambil meninggalkan bagian kasir setelah membayar biaya pengobatannya. Ia berjalan pelan meninggalkan klinik sambil berharap teman lamanya tak banyak bertanya tentang lukanya yang pasti akan mudah terlihat saat pemuda ini membuka bajunya untuk tidur malam itu.
Kris menggelengkan kepalanya, berusaha menepis segala kejadian tidak menyenangkan yang menimpanya satu minggu lalu itu. Saat ini ia sedang bersiap kembali ke Inggris untuk melanjutkan kuliah dan pekerjaannya setelah sebelumnya selama hampir satu bulan ia di Seoul untuk mengawasi calon istrinya yang ia dapati sedang berjalan-jalan dengan pria lain.
Kris sudah siap meninggalkan apartemennya yang hanya akan terasa hidup setiap dua kali dalam setahun. Tapi sebelum itu, ia meluangkan waktu untuk menelpon orang kepercayaannya.
"Aku akan ke bandara lima belas menit lagi. Penerbanganku pukul satu. Bisa kau temui aku disana? Aku membutuhkan bantuanmu,"
Kris mengucapkan terima kasih setelah memastikan lawan bicaranya menyanggupi permintaannya. Dan dengan satu gerakan, ia juga memastikan kamarnya dalam keadaan terkunci rapat; menghindari orang-orang yang tak diinginkannya untuk mengobrak-abrik huniannya saat ia pulang ke Inggris.
Dan kini Kris sudah berada di dalam taksi yang akan membawanya menuju bandara. Ia tampak gusar disana dan berkali-kali mengecek ponselnya memastikan kedatangan teman lamanya. Setidaknya ia harus memastikan bahwa tunangannya dan teman lamanya tidak akan bertemu dalam satu waktu dengannya.
Kris bukan tidak mencintai Kyungsoo, bukan. Ia mencintai gadis mungil bermata bulat itu, sangat malah. Tapi ia juga tak mengerti kenapa masih saja ada perasaannya yang luluh saat maniknya menatap teman lamanya. Dan ia lebih tak mengerti, kenapa masih saja ada bagian dari dirinya yang kini memberontak meminta teman lamanya kembali padanya.
Huang Zitao, teman lama Kris yang sudah ia coba untuk dilupakan bersamaan dengan masa lalu pahitnya. Ia kira, Inggris, kuliah manajemennya dan Kyungsoo bisa membantunya melupakan masa lalunya. Tapi nyatanya tidak sama sekali.
Kabar tentang pulangnya Jonghyun dari liburannya adalah salah satu pemicu masa lalunya kembali menyambanginya dalam kostum baru. Kris sempat bimbang untuk beberapa hari ketika Papanya mengabarkan bahwa Jonghyun, sahabat baiknya akan segera pulang dari liburannya. Ia bimbang untuk memilih tetap diam dan bersikap tak tahu apa pun karena itu yang selama ini ia lakukan dalam usaha melupakan masa lalunya yang tentu saja mengkaitkan Jonghyun disana. Atau ia memilih untuk menghormati dan menghargai Jonghyun sebagai seorang kakak dan sahabat terbaik yang rela melakukan hal yang tak seharusnya ia lakukan dimana artinya, ia akan kembali mengulang sedikit masa lalunya.
Lalu disanalah Kris berada beberapa hari setelah kebimbangannya. Di rumah baru Jonghyun tepat satu hari setelah kepulangannya. Kris memilih untuk menghargai pengorbanan Jonghyun alih-alih membiarkan masa lalunya datang lagi. Tapi keputusannya malah membuat kepalanya makin pening di kemudian hari. Kini ia setengah menyesal kenapa ia harus bertemu Zitao disana? Kenapa Zitao harus datang? Kenapa gadis yang membuat Kris— Kris yang dulu bertekuk lutut itu harus datang ke pesta penyambutan kakak sepupunya?
Jonghyun kakak sepupu Kris? Bukan. Pemuda yang rela mengorbankan tujuh tahun umurnya untuk menimba ilmu di tempat pendidikan bagi orang-orang khusus itu adalah kakak sepupu Zitao yang punya banyak hutang budi pada keluarga Kris, terutama karena telah mengangkatnya sebagai anak angkat dan membuat Jonghyun yang harusnya hidup sebatangkara jadi hidup berkecukupan.
Kris turun dari taksi dan segera mengambil tas dan kopernya di bagasi. Setelahnya, ia berjalan dengan santai menuju cafe bandara yang memang jadi langganannya.
"Apa jarak bandara dan apartemenmu sejauh itu sampai aku harus menunggu dua puluh menit?" tanya seseorang pada Kris.
Sontak pemuda bertubuh tinggi itu berbalik dan tersenyum ketika mengetahui siapa yang menyapanya. Ia meletakkan tasnya di kursi dan bersegera memeluk sosok itu.
"Sudah, sudah. Aku tak mau dikira pasangan homo denganmu. Oh, apalagi denganmu. Tidak, tidak. Itu tidak level," ucap pemuda dengan sweater hitamnya itu. "Ada apa Kris?" lanjut pemuda itu.
"Tolong pastikan Kyungsoo tidak berselingkuh."
Pemuda itu tertawa terbahak. Kris memandanginya tajam. "Tunggu sampai aku selesai memesan minuman, dan lehermu akan kutebas, Kim Jaeseop."
"Kau tak akan berani, Kris." Balasnya santai sambil mengusir Kris dengan isyarat tangannya. Kemudian ia akhirnya kembali duduk di tempatnya semula setelah sejak dua puluh menit lalu ia sudah duduk disana menunggu Kris datang.
Tak perlu waktu lama untuk Kris kembali dan duduk di samping pemuda itu, Kim Jaeseop. Dia menyesap Americanonya dan memejamkan matanya sejenak. "Aku serius tentang permintaanku,"
Jaeseop mengangguk cepat. "Aku juga serius dengan tertawaku. Kau kira aku main-main?" tanyanya lagi. "Memangnya kenapa tiba-tiba kau meragukan hubungan kalian?"
Kris menatap ke arah lain lalu menghela nafasnya dengan kasar. "Karena hatiku juga sudah mulai meragukan perasaanku padanya,"
Jaeseop menoleh cepat setelah menahan dirinya untuk tersedak saat Kris menjawab demikian. Apa itu artinya pemuda di sampingnya ini juga selingkuh?"
"Kau—"
"Aku tidur dengan Zitao,"
Dan Jaeseop kali ini benar-benar tersedak minumannya sendiri. Matanya mendelik lebar dan ia menatap tak percaya pada Kris.
"KAU APA, YIFAN?!"
Kris menoleh dan memukul kepala Jaeseop dengan koran yang ada di atas meja. "Jangan panggil nama itu, Bodoh!"
Jaeseop mengangkat tangan tanda menyerah tapi lalu memperbaiki posisi duduknya dan kembali menyesap minumannya setelah sebelumnya membersihkan bajunya yang sedikit terkena tumpahan minumannya sendiri.
"Baiklah, maaf. Aku tidak sengaja, kau tahu. Aku— YA! KENAPA KAU BISA MELAKUKANNYA?!" tanya Jaeseop lagi dengan penekanan nada di setiap kata tanyanya. "Kau brengsek, Kris."
Kris mendesah. "Aku tidak sengaja, okay?"
Jaeseop menggeleng tidak percaya. "Tidak sengaja pantat gorila hitam, ha? Jika kau mabuk lalu semuanya terjadi begitu saja, itu baru tidak sengaja. Dengan alasan itu saja, kau belum tentu termaafkan, Kris."
"Well, aku tidak mabuk. Tapi aku benar-benar tidak sengaja, Jae! Dia... Aku benar-benar merindukannya!" protes Kris. "Aku tidak bertemu dengannya selama tujuh tahun. Aku gagal menjadikannya kekasihku karena Eli Kim sialan itu. Dan memangnya siapa yang tidak merindukan gadis menakjubkan seperti dia?"
Jaeseop menghela nafasnya lalu lagi-lagi tersedak ketika Kris menyebutkan nama Eli Kim di dalam kalimatnya dan menambahkan embel-embel sialan disana. "Hey, hey, Kris. Yang kau panggil sialan itu sekarang sudah jadi istriku." Selanya. "Aku. Aku tidak merindukan Zitao sedikit pun,"
Dan kali ini giliran Kris yang mengeluarkan sumpah serapahnya karena ia baru saja tersedak Americanonya yang berharga untuk menenangkan kepalanya hanya karena Jaeseop baru saja memberi berita yang mengejutkannya.
"APA? ISTRIMU?"
Jaeseop meringis tanpa rasa bersalah disana. Ia menyesap minumannya tenang lalu mengangguk yakin dan menunjukkan jari manisnya sebagai buktinya. "Ya. Kim Kyoungjae atau kau mengenalnya dengan nama Eli itu istriku sekarang." Celetuknya santai. "Ini cincin pernikahan kami dan, kenapa kau tidak percaya, sih?"
Kris memutar bola matanya malas. "Aku tidak menyangka kau ini gay, Jae." Sahutnya. "Dan bodohnya aku sempat menangis hanya karena istrimu mencium calon kekasihku. For God's sake," tambah Kris sambil memijat pelipisnya pelan.
Jaeseop kembali meringis lalu ia mulai sedikit bercerita tentang kehidupannya bersama Eli Kim—istrinya. "Memang benar, dia mencium Zitao bahkan tidak hanya sekali. Memang benar, Eli itu straight dan aku itu gay. Dan benar juga jika kau menduga Eli menyukai Zitao." Terangnya. "Karena aku baru berhasil menjadikannya istri setelah sepuluh tahun perkenalan kami, tepatnya satu tahun lalu." Lanjutnya.
Kris mendengarkan cerita Jaeseop dengan wajah seriusnya. "Ayo lanjutkan, aku kira kau akan bercerita tentang bagaimana kau membuat istrimu takluk,"
Jaeseop menjitak Kris dengan tangan kirinya. "Kami cukup dekat selama kami masih SMA. Dan saat Eli tau dia dijodohkan dengan Zitao, dia juga bercerita padaku. Dan aku patah hati, sama sepertimu." Cerita Jaeseop. "Aku juga mendengar sendiri dari bibirnya yang menggoda itu bagaimana dia sangat bahagia saat bertemu Zitao, bagaimana ia mencium Zitao saat kencan pertama mereka dan ketika tiba hari dimana pertunangan mereka dibicarakan."
"Saat ketika aku mendatangi rumahnya," potong Kris.
Jaeseop mengangguk. "Ya, kau benar. Saat itu, aku benar-benar merasa tidak punya harapan lagi untuk mendapatkan Eli. Tapi sekitar satu minggu kemudian, Eli mendatangiku dengan wajahnya yang kusut dan matanya yang cukup bengkak. Dan aku sangat tahu, bahwa dia baru saja menangis."
"Karena Zitao?" tebak Kris.
Lagi-lagi Jaeseop mengangguk dan kali ini ia tertawa kecil. "Kau peramal, ya?"
Kris menggeleng. "Hanya sekedar menebak. Lanjutkan, aku masih punya waktu dua jam lagi."
"Eli bilang bahwa satu hari sebelumnya, Zitao memutuskan pertunangan mereka dengan alasan Zitao tidak mencintai Eli tapi ia mencintai pemuda brengsek dan pengecut bernama W—Kris." Ralat Jaeseop saat melihat tatapan Kris yang tiba-tiba berubah itu.
"Benarkah Zitao mengatakan dia mencintaiku?"
Jaeseop mengendikkan bahunya. "Aku tidak pernah menanyakan pada Eli tentang itu karena aku tidak ingin membuatnya mengingat Zitao lagi." Jawabnya.
"Jadi setelah itu kau mendekatinya, menggodanya, merayunya sampai dia takluk padamu, Hyung?"
Dan lagi-lagi kepala Kris jadi target empuk pukulan Jaeseop. "Kau ini. Di otakmu itu hanya ada alur cerita mesum atau bagaimana?"
Kris hanya menyengir bodoh.
"Aku tidak melakukan apapun yang tadi kau katakan. Karena aku cukup memberinya satu ciuman, dan itu membuatnya merubah jalannya sendiri."
Kris melongo. "Kau menciumnya? Gila kau Hyung."
"Ya. Aku menciumnya tepat saat dia sedang bercerita padaku tentang Zitao." Jelasnya. "Aku gerah karena setiap hari hanya Zitao yang ia ceritakan. Kapan ia akan menceritakan tentangku? Tentang kami? Jadi ya aku bungkam saja bibirnya yang terlalu menggoda itu dengan bibirku dan sedikit mengancamnya."
"Mengancam? Jadi selain mesum, kau ini galak juga ya?" Kris menjauhkan kepalanya dari Jaeseop; mengamankannya dari pukulan seniornya.
"Aku hanya bilang 'Bisakah kau berhenti mengoceh tentang mantan tunanganmu itu dan mulai melihatku? Aku mencintaimu, Eli.'." sahut Jaeseop sambil tersenyum bodoh membayangkan hari pertamanya menyatakan perasaannya pada Eli.
"Dan dia menerimamu begitu saja?"
Jaeseop menggeleng. "Dia menjauhiku selama tiga bulan lebih." Balasnya. "Tapi kemudian dia tiba-tiba masuk ke kamarku, dan memelukku dengan erat dengan meracau bahwa dia merindukanku dan juga mencintaiku."
Kris tersenyum kecil. "Senang ya jika kisah cinta bisa berakhir bahagia." Terawangnya. "Aku saja tak tahu akan jadi seperti apa kisahku. Apakah aku akan berakhir di gereja mengucap janji setia dengan Kyungsoo atau Zitao? Aku tidak tahu,"
Jaeseop menyesap minumannya seraya tersenyum kecil. "Kau hanya perlu waktu menenangkan pikiranmu. Kadang, saat masa lalumu datang kau hanya perlu duduk tenang dan menikmatinya mendatangimu saat itu dengan pasrah." Nasihat Jaeseop. "Tapi kadang, masa lalu yang bertabrakan dengan masa depanmu di masa sekarang, tidak bisa hanya diselesaikan dengan duduk tenang." Lanjutnya.
"Kau membuatku bingung, Hyung."
Jaeseop tertawa. "Intinya, kau hanya perlu menyendiri beberapa waktu. Jangan temui Kyungsoo, jangan temui Zitao. Dalam kesendirianmu, pikirkan, siapa diantara mereka yang dengan setia selalu ada untukmu walau kau tidak memintanya? Siapa yang selama ini mencintaimu dengan tulus? Siapa yang paling membuat detakan jantungmu berantakan?" nasihat Jaeseop lagi.
"Aku akan memikirkannya. Kuliahku akan cukup padat semester ini, jadi mungkin itu bisa membuatku menjauh sebentar dari mereka berdua." Sahut Kris.
"Dan aku harap kau benar-benar mengambil keputusan tepat, Kris."
Kris mengangguk yakin. "Lakukan saja permintaanku. Laporkan padaku jika Kyungsoo terlihat dekat dengan pemuda lain." Ulangnya. "Mungkin aku egois, tapi aku tidak ingin Kyungsoo pergi. Setidaknya untuk saat ini,"
Jaeseop mengangguk paham. "Aku akan melaksanakan tugasku dengan baik tenang saja. Tapi aku tidak akan melapor padamu. Sepulangnya kau dari Inggris, baru aku akan memberikan laporan padamu."
"Ya. Tidak masalah. Aku harap saat akhir semester nanti, aku sudah bisa memilih siapa yang akan jadi teman hidupku,"
You ain't even really gotta lie
I just need you to say goodbye
Then I'll really let you go
And you'll never see me so just
Stop wasting my time
I'll never come around you again no more
This will be the end so just shut the door
But you'll miss me everyday
So hurt in every way
It'll probably make you wanna go and drive yourself insane
You could've had it all but you broke my heart
And now I gotta do what I do
You know you always bring out the best in me
But you played me for a fool
Why you do that babe?
It doesn't have to be this way
But there's no way I could stay
And your eyes, nose, lips
It haunts my memory
I can't forget you if I tried
I wanna believe in your lies
And your eyes, nose, lips
It haunts my memory
I can't forget you if I died
Feels like I'm losing my mind
.
Kyungsoo sudah memutuskan untuk menemui Kris hari ini. Sudah hampir setengah tahun ia hidup dalam ancaman Kris. Dan baginya, amplop yang ada di tangannya, sudah cukup jadi bukti kuat baginya untuk mengakhiri segala rancangan masa depannya bersama Kris yang sudah tersusun rapi itu.
Kaki jenjang Kyungsoo sudah berhenti di depan apartemen Kris. Dua ketukan di pintu apartemen pria berdarah China-Kanada itu cukup membuat sang pemilik paham bahwa ada tamu yang datang.
"Kyungsoo?"
"Aku ingin bicara,"
Kris mengernyitkan dahinya. Tak biasanya tunangannya datang ke apartemennya.
"Masuklah." Kris mempersilahkan tunangannya untuk masuk dan ia pun mengikuti langkah gadis mungil itu. Tapi langkahnya terhenti saat Kyungsoo tiba-tiba berbalik dan melemparkan sebuah amplop berwarna coklat ke dadanya.
"Apa-apaan ini, Kyung?" seru Kris. Ia masih tak mengerti dengan tingkah aneh Kyungsoo, sampai semua isi amplop itu kini ada di tangannya. "K-Kyung, a-aku bisa jelaskan,"
Kris tiba-tiba pucat pasi. Ia tak paham darimana foto-foto mesranya dengan Zitao—gadis masa lalunya ada di tangan Kyungsoo. Bukan hanya foto mesra, tapi...
"Dua tahun kita berpacaran. Dua tahun kita bertunangan. Dan kau membayar semuanya dengan gadis murahan?"
Kris naik pitam saat Kyungsoo menyebut Zitaonya secara tidak langsung sebagai gadis murahan. "Jaga bicaramu, Kyungsoo!"
Gadis mungil itu menatap Kris dengan berani. "Aku menjaga bicaraku, Tuan Kris Wu. Tapi kau tidak. Kau mengumbar cinta murahmu pada gadis yang sama murahnya dengan cintamu,"
Satu tamparan keras sukses mendarat di pipi kiri Kyungsoo.
"Zitao tidak murahan! Berhenti menyebutnya seperti itu, Nona Do!"
Kyungsoo mengusap pipinya pelan. "Bahkan kau menampar tunanganmu sendiri hanya untuk gadis itu?"
Dan kata-kata Kyungsoo seolah menyadarkan Kris. "M-maafkan aku Kyung. A-aku bisa jelaskan, ini... Ini tidak seperti yang kau pikirkan."
"Tidak seperti yang aku pikirkan, ya? Memangnya kau pikir aku memikirkan apa, Kris?"
"Aku selingkuh dengan gadis ini, dan tidur dengannya dan... dan..."
Kyungsoo tersenyum getir. "Aku tak pernah berpikir begitu, Kris. Kau sendiri yang baru saja membongkarnya,"
Rahang Kris mengeras seketika. Ia melempar semua foto yang memuat beberapa pose mesranya dengan Zitao.
"Jangan mendekat." Tolak Kyungsoo. Suaranya bergetar menahan tangis. Kris tahu gadisnya sedang menahan segala sakitnya. "Kau menuduhku selingkuh, menjauhkanku dari teman-temanku bahkan Baekhyun. Kau mengurungku di rumah layaknya seorang pasien dengan penyakit menular berbahaya. Lalu... ini apa, Kris? Lanjut Kyungsoo dengan suaranya yang masih bergetar menahan tangis.
"Kau bilang kau akan menikahiku, huh? Lalu akan kau kemanakan gadis itu?" tanya Kyungsoo lagi dengan nada getirnya. "Kau egois, Kris." Lanjutnya. "Kau menamparku karena meragukan perasaanku padamu. Tapi kau melakukan ini padaku." Tutupnya.
"Kyung... a-aku..."
"Aku memberikan segalanya padamu, Kris." Isak Kyungsoo. "B-bahkan aku memberikan milikku yang paling berharga untukmu hanya untuk meyakinkanmu atas perasaanku padamu yang sempat kau ragukan satu tahun lalu.." Racau Kyungsoo tanpa melihat wajah Kris yang saat ini sudah merah padam menahan segala emosinya.
"Kau bisa memilih, Kris. Mengakhiri hubungan kita, atau mengakhiri hubunganmu dengan gadis itu." final Kyungsoo.
Kris mendongak dan menatap Kyungsoo dengan tatapan tak percaya. Ia bersumpah ia masih mencintai Kyungsoo, gadis mungil yang membuatnya mampu bangkit dari masa lalunya. Tapi ia tidak ingin kehilangan masa lalunya. Tidak lagi.
"Kyung..."
Gadis mungil itu mundur teratur dan tersenyum dalam tangisnya. "Kau memilihnya." Ucapnya sendu. "Harusnya aku sudah tahu betapa brengseknya kau, Kris!" teriaknya bebas seraya melepas cincin pertunangannya dan melempar cincin itu ke arah Kris. "Berikan cincin itu padanya, mulai hari ini, aku bukan lagi tunanganmu."
Baru saja Kris ingin merengkuh tubuh Kyungsoo ke dalam pelukannya, gadis itu sudah berlari keluar apartemennya dalam keadaan kalut. Kris membalikkan badannya bermaksud mengejar Kyungsoo, namun niatnya terhenti ketika bahu kanannya tiba-tiba bergetar dan darah mulai keluar dari sana. Dan bersamaan dengan erangan Kris, satu anak panah datang dan menancap tepat di samping foto Kris dan Kyungsoo yang ia tempel di tembok apartemennya. Lagi-lagi, anak panah itu membawa pesan.
"Kau bajingan tengik, Wu Yifan. Luka di bahumu itu belum seberapa dibanding luka yang kau buat di hati mantan tunanganmu dan juga luka dalam tak terobati di hati keluarga korban pembunuhanmu. Bersiaplah mati sebentar lagi, Yifan."
Dan Yifan tak pernah merasakan takut luar biasa kecuali saat ini.
.
I'm tired, I'm tired, I'm so done
Before you wake up I will be gone
No more sitting home alone
Or waiting for your phone call
You don't deserve my love
Now you can go look for that girl next door
Cause you ain't the one I can call my own
I know you'll miss me everyday
So hurt in every way
It'll probably make you wanna go and drive yourself insane
You could have had it all but you chose her
And now I gotta find someone new
You don't even know you had the best in me
Now who looks like a fool?
Why'd you do that babe?
It doesn't have to be this way
But there's no way I could stay
And your eyes, nose, lips
It haunts my memory
I can't forget you if I tried
I wanna believe in your lies
And your eyes, nose, lips
It haunts my memory
I can't forget you if I dies
Feels like I'm losing my mind
Jongin baru saja bersiap untuk pergi ketika ponselnya berbunyi dan menampilkan foto Kyungsoo disana.
"Ya, Kyung?"
Suara tangisan tak terbendung menyapa telinga Jongin. Dan ia bersumpah akan benar-benar menghajar orang yang membuat Kyungsoonya merasakan sakit yang sedemikian. Satu tahun lebih pertunangan Kyungsoo dengan Kris, dibayar dengan pengkhianatan Kris yang berselingkuh dengan gadis masa lalunya dan bermalam dengannya tepat di hari perayaan satu tahun lebih enam bulan hubungan pertunangan mereka.
Jongin menemukan Kyungsoo seperti mayat hidup di depan apartemennya. Dengan wajah yang bengkak karena tangis tak berhenti, tangan Kyungsoo juga hampir putus nadi jika Jongin tidak membuka kamar mandinya tepat waktu.
"Aku membutuhkanmu,"
Jantung Jongin benar-benar terasa nyeri. Tubuhnya menegang hebat karena emosi memuncak yang belum tersalurkan. Ia benar-benar ingin menghajar pria keturunan China-Kanada yang memporak-porandakan hati gadis yang ia cintai ini. Baru saja ia akan menyerah untuk mendapatkan Kyungsoo karena kesetiaan Kyungsoo pada Kris, gadis mungil ini datang dengan penuh tangis di depan apartemennya kemarin sore.
"Aku akan menjemputmu, Kyung. Kau ada dimana?"
Jongin terpaksa kembali menanyakan hal yang ia sudah ketahui. Karena jika tidak, Kyungsoo bisa curiga.
"Baiklah, kau tunggu saja di Cafe Seoul. Jaraknya hanya 5 meter dari tempatmu sekarang, aku kan tiba disana dalam sepuluh menit."
Jongin menutup telfonnya dan bergegas keluar dari salah satu balkon kamar hotel yang berjarak tak jauh dari Kyungsoo berdiri saat ini. Ia segera merapikan peralatannya dan membawanya keluar bersamaan dengan jaket kulit hitamnya menuju parkiran underground floor, tempat dimana mobilnya berada.
.
.
.
.
.
tbc
.
Akhirnya kesampaian juga bisa update. sbenarnya ini fule sudah ada di doc manager ff, cuma belum dipublish saja.
jadi, apa mulai bisa menebak bagaimana kelanjutannya? Monggo yang mau tebak-tebak berhadiah hehehe.
seperti biasa, terima kasih sudah membaca karya saya hingga akhir, dan ditunggu review kalian di kolom review, ya! :))
sekiasn sekian sekian,
salam, KJ-27, :))
