Warning!

Cerita mengandung unsur BxB

Cerita murni hasil otak sendiri

.

DL!DR!

~ Enjoyed ~

.

.

~ Chapter 4 ~

.

.

.

Flashback On

Tiba hari di mana Jungkook yang akan pergi meninggalkan Taehyung, pergi seorang diri ke Seoul demi membahagiakan Taehyung kedepannya, dan berjanji pada Taehyung bahwa ia akan kembali.

Taehyung menyerahkan koper Jungkook yang tadi digeretnya pada pemiliknya, menundukkan wajahnya masih tidak rela dengan Jungkook yang akan pergi meninggalkannya,

"sudahlah hyung, jangan sedih seperti ini, aku janji aku akan menghubungi mu" kedua tangan Jungkook menangkup wajah Taehyung, mendongakkan wajah Taehyung agar menatap kearahnya.

"aku janji hyung, jadi berhentilah menangis" mengelus lembut pipi Taehyung,

"kau sudah berjanji pada ku Kookie, kau tidak boleh mengingkarinya" suara Taehyung terdengar serak ketika berucap, efek ia yang menangis semalaman karena Jungkook yang akan pergi meninggalkannya,

"aku janji hyung, aku akan menghubungi mu setiap hari, bukan hari tapi setiap jam, tidak tidak setiap menit, bahkan setiap detik aku akan menghubungi mu"

"itu berlebihan Kookie" kekeh kecil Taehyung atas ucapan Jungkook, dan meninju pelan lengan Jungkook.

Taehyung dan Jungkook terdiam sejenak karena suara seorang yeoja yang berbicara di balik speaker yang terpasang distasiun kereta api tempat mereka sekarang berada, suara yang mengatakan bahwa kereta api menuju Seoul akan segera berangkat sepuluh menit lagi, menyuruh semua penumpang dengan tujuan Seoul harus segera naik.

Setelah suara itu menghilang, Taehyung menatap lembut kearah Jungkook yang menatapnya, hazel lembut dan onyx yang teduh terperangkap satu sama lain, seolah menggambarkan bahwa mereka pasti sangat merindukan nantinya.

"aku mencintai mu, sangat mencintai mu" Taehyung berhambur memeluk Jungkook,

"aku mencintai mu Jeon Jungkook, aku akan menunggu mu di sini dan distasiun kereta api ini" kedua tangannya memeluk erat Jungkook yang juga memeluknya

"aku juga mencintai mu Kim Taehyung, tunggu aku, aku akan kembali di awal musim semi berikutnya" ucap Jungkook ditelinga kanan Taehyung, berbisik lembut ke Taehyung,

"aku janji" dan mencium sekilas bibir Taehyung setelah mereka membuat jarak diantara keduanya, bahkan mereka melupakan kalau mereka sekarang berada di stasiun, tapi untungnya tidak ada yang peduli dengan apa yang mereka lakukan.

Tidak! Taehyung tidak mungkin mengatakan kalau ia tidak baik baik saja ditinggal Jungkook seorang diri, ini impian dan keinginan Jungkook untuk merantau di Seoul,

bukankah Jungkook mengatakan bahwa ini untuk masa depan mereka, jadi tidak mungkin Taehyung bisa mencegah Jungkook untuk tetap tinggal disampingnya, kalau Jungkook sendiri sudah mendamba dambakan bisa bekerja diperusahaan besar di Seoul.

Taehyung hanya bisa mendukungnya dan percaya bahwa Jungkook akan segera pulang sesuai janjinya.

.

Tapi siapa sangka, Jungkook hanya menghubunginya di minggu pertama ia bekerja di Seoul, sisanya Taehyung tidak pernah mendapat kabar dari Jungkook, bahkan Taehyung sudah beribu kali mencoba menghubungi Jungkook namun tidak ada jawaban,

hanya operator yang mengatakan bahwa nomornya tidak dapat dituju dan itu berlangsung terus terusan hingga musim semi dimana Jungkook berjanji akan pulang dan menemuinya.

.

Taehyung selalu menunggu distasiun kereta api yang mereka janjikan, selalu menunggu Jungkook dari pagi hingga malam hari sampai stasiun itu tutup, dan itu berlangsung selama musim semi dilakukan Taehyung,

ia hanya berharap Jungkook akan datang untuk menemuinya, dan mengatakan pada Jungkook bahwa ia sedang mengandung anak mereka.

bahkan ia mengabaikan tatapan orang orang yang melihatnya aneh dengan perutnya yang sudah membesar.

Musim semi terus berlanjut ditahun tahun berikutnya dan Taehyung tetap setia menunggu Jungkook distasiun, benar benar berharap bahwa Jungkook akan menepati janjinya.

Bahkan ia selalu membawa Ryu ikut bersama dengannya duduk dibangku panjang dekat kereta api berhenti, selalu duduk ditempat yang sama setiap harinya.

Sekarang Taehyung baru menyadari satu fakta bahwa Jungkook tidak akan kembali dan menepati janji yang telah diucapkannya, ini sudah kesekian kalinya ia menunggu dan berharap Jungkook kembali,

bahkan ia akan meminta ijin ke Jimin untuk tidak masuk bekerja selama musim semi berlangsung, membuat Jimin selalu bertanya tanya ada apa dengannya.

"berapa lama Kookie, aku harus menunggu mu disini, bahkan ini sudah empat kali musim semi datang tapi kau tidak kembali juga" gumamnya dan menatap nanar kearah kereta api tujuan Seoul yang telah kosong oleh penumpang, karena beberapa menit yang lalu kereta api dari Seoul baru saja tiba,

"aku ingin memperkenalkan diri mu dengan putri kita" tangan kanan Taehyung menggenggam lembut tangan mungil gadis kecil yang berdiri disampingnya,

"apa aku harus berhenti berharap menunggu mu seperti ini" gumamnya lagi dengan menoleh kearah sang gadis kecil yang masih sibuk mengemut botol susunya.

Taehyung benar benar merasa bodoh dengan harapannya yang selalu mengatakan bahwa Jungkook akan kembali padanya.

Membuat kesimpulan sendiri tentang Jungkook yang tidak menepati janjinya, kesimpulan bahwa Jungkook tidak benar benar mencintainya dan mungkin merasa malu mempunyai hubungan dengannya, dengan Jungkook yang beralasan bekerja di Seoul.

Dan ini untuk pertama dan terakhirnya kalinya Taehyung menyerah menunggu Jungkook kembali padanya. Mengabaikan hatinya yang sangat berdenyut menyakitkan.

Flashback Off.

.

.

.

Taehyung hanya bisa meneteskan air matanya lagi ketika ia mengingat bagaimana Jungkook pergi meninggalkannya dulu dan tidak menepati janjinya.

Taehyung benar benar lelah dengan hatinya yang selalu berdenyut menyakitkan jika ia mengingat betapa bodohnya ia setia menunggu Jungkook.

bahkan setiap ia melihat Jungkook semua kenangan mereka secara otomatis akan berputar diotaknya, membuat dirinya kadang ingin sekali memeluk Jungkook dan menciumi wajah Jungkook yang sangat dirindukannya.

Dan kenangan yang ia menunggu Jungkook seakan selalu menyadarkan dirinya bahwa ia benar benar menjijikan itu sebabnya Jungkook tidak ingin bersama dengannya.

"eomma, kenapa eomma menangis?" tangan mungil Ryu menghapus air mata Taehyung yang turun, membuat Taehyung tersentak dari lamunannya,

"eh, eomma tidak menangis sayang, mata eomma hanya perih akibat debu yang masuk" Taehyung mengusap kasar air matanya dengan punggung tangannya,

"begitukah eomma" yang dibalas anggukan kepala oleh Taehyung pada Ryu.

'aku harus benar benar bisa melupakan mu Kookie' batin Taehyung menatap kearah Ryu yang sedang bermain dengan boneka kelinci yang dibelikan Jungkook tempo lalu tanpa sepengetahuan Taehyung.

Niatnya Taehyung yang ingin mengembalikan boneka kelinci itu pada Jungkook tidak dilakukannya karena Ryu yang menangis tidak mau memberikannya pada Taehyung. Membuat Taehyung akhirnya pasrah pada Ryu memiliki boneka kelinci dari Jungkook.

'tapi kenapa aku ingin sekali memeluknya untuk terakhir kalinya sebelum aku menikah dengan Jimin' batin Taehyung lagi.

.

.

.

Tinggal menunggu sepuluh hari lagi pesta pernikahan Taehyung dengan Jimin akan berlangsung, semua persiapan sudah dilakukan oleh eomma Jimin yang terlalu bersemangat. Bahkan undangan sudah tersebar dan baju pernikahan mereka sudah dipersiapkan.

Beberapa hari yang lalu eomma Jimin membawa mereka untuk menentukan baju apa yang akan mereka kenakan dan pesta seperti apa yang mereka inginkan, Taehyung hanya menyerahkan semuanya ke eommanya Jimin, karena ia sungguh tidak tahu sama sekali masalah hal seperti ini.

Tidak ada yang tidak mengetahui tentang pesta pernikahan mereka, karena semua karyawan JM Corp Pusat dan JM Corp sudah diberikan kartu undangan pesta pernikahan mereka, tidak terkecuali Jungkook yang juga mendapatkanya.

.

Tok tok tok

Setelah tiga kali mengetuk pintu ruangan Jimin, Taehyung membukanya tanpa menunggu perintah dari Jimin, melangkahkan kakinya menghampiri Jimin yang tidak sadar dengan kedatangannya karena ia terlalu sibuk dengan berkas berkas yang ada dihadapannya,

"Jiminie?" panggil Taehyung, Jimin menghentikan aktivitasnya dan mendongakkan kepalanya kearah Taehyung yang berdiri didepan meja kerjanya,

"oh sayang, kau sudah disini" Jimin melepaskan kacamata yang dipakainya pada tumpukan kertas didepannya,

"ada yang bisa ku bantu?" tawar Taehyung dan menarik kursi disampingnya, mendudukkan dirinya didepan Jimin dengan meja kerja Jimin sebagai pembatas mereka,

"aku lupa untuk menyerahkan revisi document kepada RT Corp mengenai hasil pemasaran" Jimin beralih ketumpukan berkas yang ada disamping kanannya, mencari documents yang dimaksudnya,

"aku minta tolong pada mu untuk mengantarnya ke RT Corp" setelah menemukan map yang dicarinya, Jimin menyerahkannya pada Taehyung,

"dan aku juga meminta tolong pada Jungkook-ssi untuk mengantar mu kesana" Taehyung membelalakkan kedua matanya,

"a-aku bisa sendiri mengantarnya Jim, jadi untuk apa meminta tolong padanya" Taehyung mencoba menetralkan detak jantungnya yang berantakan karena hanya mendengar Jungkook yang akan mengantarnya,

"kebetulan Jungkook-ssi akan kesana untuk menemui direktur RT Corp, aku tidak mungkin menyuruh Jungkook-ssi untuk mengantarkannya pada Lee Sungmin ketua pemasaran di RT Corp, itu akan membebaninya" jelas Jimin ke Taehyung yang lagi termenung didepannya,

"apa kau keberatan sayang, kalau iya, aku akan me_"

"tentu tidak, aku akan mengantarnya" potong Taehyung cepat.

Taehyung bukan keberatan untuk mengantarkan document ini, Cuma saja ia tidak ingin mempunyai kesempatan untuk berdua dengan Jungkook, karena itu sama saja bisa menggoyahkan perasaanya kembali.

Kalian Tahu Taehyung bahkan sampai sekarang tidak bisa membenci Jungkook, semakin ia mencoba membenci Jungkook, semakin ia menginginkan Jungkook.

"terima kasih sayang, aku mengandalkan mu dan sepertinya Jungkook-ssi sudah menunggu mu diparkiran" setelah Jimin berucap, Taehyung pergi dari ruangan Jimin ke parkiran. Meminta Jimin untuk menjaga Ryu selama ia pergi dan tentu Jimin akan melakukannya.

.

.

Tidak ada yang mereka bicarakan selama perjalanan menuju RT Corp, ketika sampai di RT Corp mereka tetap diam dan tidak memulai sedikit pun obrolan. bahkan dijalan pulang menuju JM Corp Pusat mereka tetap diam satu sama lain.

Taehyung tidak bisa menahan rasa kantuknya yang tiba tiba menyerang. Taehyung memposisikan kepalanya bersandar agar terasa nyaman untuk tidur, mengingat ia sekarang masih berada di dalam mobil bersama Jungkook.

Jungkook sesekali memperhatikan wajah damai Taehyung yang tertidur disampingnya dengan masih fokus mengemudi mobilnya.

'aku akan menjelaskannya pada mu hyung hari ini, karena hanya ini kesempatan ku' batin Jungkook menatap sendu Taehyung.

.

Jungkook tidak melajukan mobilnya ke arah perusahaan, melainkan kearah perumahan yang sedikit jauh dari jalanan besar. Kawasan perumahan elit yang ada di daerah Gwangju.

Mobil yang dibawanya terpakir apik didepan garasi pada halaman salah satu rumah yang terlihat cantik dengan cat putih bersih yang mendominasi.

Jungkook bersyukur karena Taehyung sama sekali tidak terganggu dengan akivitasnya tadi yang berhenti hanya untuk membuka pintu pagar, memarkirkan mobilnya didepan garasi dan menutup kembali pagar putih itu.

Bahkan Jungkook sangat bersyukur Taehyung terlihat nyaman didalam gendongannya sekarang, sebelumnya ia membuka pintu rumah itu untuk mereka masuk, menutup mobilnya dengan tendangan kakinya.

Jungkook membaringkan Taehyung diatas kasur yang berukuran king size dengan perlahan. Sangat bersyukur karena Taehyung nampak nyenyak terlelap seperti ia yang tidak pernah tidur sebelumnya, walaupun itu kenyatannya, karena Taehyung takut untuk memimpikan Jungkook yang datang ke mimpinya.

Jungkook perlahan melepaskan sepatu yang Taehyung pakai dan melepaskan jas yang dikenakan Taehyung, meletakkannya di sofa pada kamar itu, sebelum ia keluar dari kamar itu.

.

.

Dua jam kemudian bola mata Taehyung terlihat bergerak kesana kemari didalam kelopaknya yang tertutup, perlahan kedua mata Taehyung terbuka.

"eugh, ini dimana?" gumamnya yang melihat kearah langit langit, Taehyung mendudukkan dirinya dan bersandar dikepala kasur,

"apa yang terjadi?! Dan ini dimana?!" panik Taehyung melihat sekitarnya yang terasa asing baginya.

Taehyung menapakkan kakinya pada lantai marmer yang terasa dingin hingga menusuk ketulangnya. Pandangannya menemukan sepatu dan jasnya yang berada didekat sofa. Taehyung buru buru mengenakan sepatu dan jasnya,

"aku harus pulang" gumamnya dan berlari kearah pintu yang bercat putih itu, untuk sesaat Taehyung menyukai suasana kamar ini yang terlihat begitu rapi dan bersih yang bersamaan,

Ckleak

Belum sempat Taehyung meraih kenop pintu itu karena masih merasa kagum dengan suasana kamar, dan pintunya sudah dibuka seseorang dibalik sana,

"kau sudah bangun hyung?" Taehyung membolakan matanya sempurna melihat Jungkook lah yang tadi membuka pintu dan sekarang mendekat kearahnya.

Jungkook hanya mengenakan kaos putih polos dengan celana hitam yang terdapat logo puma dipaha atasnya. Rambutnya ia biarkan jatuh kebawah dengan sedikit terlihat berantakan,

"ke-kenapa aku ada disini" ucap Taehyung nyaris berbisik karena volume suaranya yang ia rendahkan, untung bisa didengar Jungkook,

"aku membawa mu kesini karena banyak yang ingin ku jelaskan pada mu hyung" Jungkook melangkah mendekat ke Taehyung dan Taehyung memundurkan langkahnya setiap kali Jungkook mendekat kearahnya,

"ti-tidak ada yang perlu dijelaskan Jungkook-ssi, ki-kita tidak ada hubungan apa pun" Taehyung sangat gugup karena Jungkook masih memandanginya,

"tentu ada hyung, ku mohon dengarkan penjelaskan ku" Jungkook semakin mendekat ke Taehyung. ia menangkap pergelangan tangan kanan Taehyung agar berhenti menghindarinya,

"ku mohon hyung" lirihnya dengan wajah memelas,

"setelah kau mendengarkan ini, aku tidak bisa menahan mu untuk tetap bersama ku, semua keputusan ada ditangan mu hyung, jadi biarkan aku menjelaskannya" kedua tangan Jungkook menahan pundak Taehyung agar tetap ditempatnya,

"hyung sebelumnya maafkan aku, sungguh maafkan aku, aku sama sekali tidak ingin mengingkari janji yang ku katakan pada mu" Jungkook membawa Taehyung duduk ditepian kasur yang tadi ditiduri Taehyung,

"setelah seminggu aku berada diseoul aku mengalami kecelakaan hyung, dan lihat" Jungkook menarik kaosnya keatas, melihatkan badannya yang penuh dengan abs yang tercetak jelas, tapi bukan itu maksudnya, ada luka jahitan yang memanjang pada pinggangnya,

"aku koma dan tidak sadarkan diri selama lima hari, bahkan aku memiliki bekas bekas jahitan di pinggang, paha kiri dan betis sebelah kanan ku, lengan kanan ku mengalami luka luka"

"bukan hanya itu ponsel ku hancur berkeping keping karena roda mini bus itu melindasnya, bahkan aku tidak melihat bangkai ponsel ku ada, mereka hanya menjelaskan pada ku kronologi kecelakan yang ku alami"

"dan aku sangat bersyukur karena Park Sajangnim membantu ku agar sembuh, bahkan Park Sajangnim membayar semua pengobatan ku, Park Sajangnim hanya bilang aku harus giat bekerja untuk membalasnya" jeda sesaat, Jungkook masih memperhatikan Taehyung yang masih menundukkan wajahnya,

"dan aku tidak mungkin menghubungi mu dengan kondisi ku yang seperti itu hyung, bisa bisa kau langsung datang ke Seoul tanpa berpikir panjang" lanjutnya

"tapi kenapa setelah itu kau tidak menghubungi ku dan membiarkan ku selalu berharap kau akan kembali" sela Taehyung menatap tepat dimata Jungkook,

"maafkan aku untuk itu hyung, aku hanya ingin fokus bekerja dan membeli rumah ini untuk kita, karena aku takut jika aku menghubungi mu atau menemui mu, aku takut aku tidak bisa mewujudkan impian ku membeli rumah ini dan hidup dengan mu"

"dan mengabaikan ku yang selalu berharap dan menunggu mu disana" Taehyung tidak bisa menahan air matanya yang ingin keluar ketika ia berucap,

"hyung~" lirih Jungkook

"kau sangat egois Kookie, kau tidak memikirkan bagaimana perasaan ku yang selalu berharap kau kembali pada ku" kini air matanya sudah membasahi wajah cantiknya,

"hyung aku melakukan ini untuk kita, dan kau lihat rumah ini, rumah ini rumah kita hyung, kau dan aku akan tinggal disini, hidup bahagia bersama sampai akhir" tangan Jungkook menggenggam erat telapak tangan Taehyung,

"bukan untuk kita, tapi hanya untuk mu Kookie" Taehyung menarik tangannya yang tadi dipegang erat Jungkook,

"dan sekarang aku memiliki Jimin" Taehyung beranjak dari duduknya,

"dan aku memilih dirinya untuk bersama dengan ku sampai akhir" Taehyung mengusap air matanya, menatap Jungkook yang lagi menatapnya dengan tatapan sendu yang sulit dimengerti Taehyung,

"aku ingin pulang" ucap Taehyung dan pergi keluar dari kamar Jungkook.

"maafkan aku hyung, aku benar benar egosi tidak memikirkan perasaan mu" gumam Jungkook dan mengikuti Taehyung.

.

Tidak ada yang mereka bahas lagi selama perjalanan menuju apartement Taehyung, Jungkook sudah mengetahui dimana Taehyung tinggal karena Ryu kemarin memintanya untuk menemaninya pulang keapartement hanya untuk mengambil boneka kelincinya yang tertinggal, alamat yang diberikan Jimin padanya.

Mereka hanyut dalam pemikiran masing masing selama perjalanan. Taehyung yang tidak mengeluarkan suaranya sedikit pun bahkan ia tidak menoleh ke Jungkook ketika ia keluar dari mobil Jungkook.

Jungkook merasa semua yang dilakukannya selama ini untuk Taehyung hanya sia sia, karena pada akhirnya ia menyakiti Taehyung terlalu dalam.

"sungguh maafkan aku hyung, aku sangat mencintai mu" gumamnya menatap punggung Taehyung yang lama kelamaan menghilang dari arah pandangnya.

.

.

.

Tbc

Special terima kasih atas reviews nya :

ismisofifia, alien-kun, jelitutfujoaddict, Rahayu, kookv, Vkook Trash, Leon,

dan maaf kalau banyak typonya, karena typo sebagian dari ff ku :D