Akhirnya bisa up date juga. Maaf minna. Ga tau kenapa, ga bisa buka . Jadi semua fanfic aku tunda. Tapi aku akan berusaha up date lagi, kok.

Dan ini yang nunggu fanfic Xover saya!

buat review-review yang menambah semangat mengetik saya, terima kasih atas saran dan kritiknya... jadi tambah semangat. Untuk ke depannya, saya akan berusaha keras.

Buat Darries-san terima kasih banget udah ngikutin fanfic-fanfic saya. Iya. Cowok itu si satu lima (Ichigo maksudnya). Wkwkwk... saya juga penggemar berat Ichiruki, tapi kayanya seru aja kalau ngelihat sikap dinginnya Sasuke digempur sama sikap panasnya(?) Rukia-chan. Maaf kalau baru bisa up date sekarang. Soalnya ada masalah dengan ff dan terpaksa buat cerita baru karena file ilang gara-gara laptop aku install-in...

Kakkyo : Maaf baru bisa up date sekarang karena ada masalah dengan ...#sembah_sembah

Disclaimer :

Bleach milik Tite Kubo

Sasuke chara miliknya Kishimoto-sensei

+Kurapika dari hunter x hunter (Yoshihiro Togasi-sensei)

(Terus saya punya apanya dong?)

Title : Kaichou! To Kyuu

Genres : Romance, fantasi, reverse harem, magic

Rated : 15+ (abis ada unsur kissu-kissu segala, sih. Ga rela aja lihat anak masih kecil-kecil baca fanfic gaje ini)XD #abaikan_curhat_gaje_ini

Bagian Ketiga :

Awal yang sebenarnya baru dimulai

"...kita akan bertemu lagi di tempat ini..."

Pagi itu Rukia benar-benar seperti zombie, menyeret langkahnya seolah-olah sudah tidak memiliki tenaga sama sekali. Ternyata menjadi seorang Ketua OSIS tidak semudah yang ia bayangkan. Setiap kali harus mengurus dokumen-dokumen yang membuat kepalanya terasa pening –walaupun hampir sebagian besar Sasuke yang berperan dalam hal ini. Harus lari ke sana dan kemari untuk mengantar dokumen –kali ini ia cukup berguna karena keahlian Rukia memang ada di otot bukan di otak. Di tambah dengan mimpi-mimpi yang berulang-ulang setiap malam. Arrrgh... Rukia menjambak rambutnya frustasi. Rasanya ia ingin meneriakan apa yang bertumpuk di hatinya ke langit yang biru. Yang nyatanya tidak mungkin ia lakukan karena ini adalah tempat umum. Ia akan dianggap gila jika berteriak-teriak di jalan raya. Mungkin aku bisa melakukannya di atap sekolah, pikir Rukia muram, Sambil menuntun sepeda yang baru dibelikan kakaknya seminggu yang lalu. Saat Rukia menceritakan pada kakak perempuannya bahwa ia terpilih menjadi Ketua OSIS dua minggu yang lalu, Hisana begitu bahagia lalu berjanji akan membelikan sepeda baru untuknya. Awalnya Rukia juga bahagia, berpikir bahwa ia bisa menyalahgunakan kekuasaannya untuk menindas Si topeng datar Sasuke. Tapi sepertinya dewa tidak pernah berada dipihaknya. Bukannya dia sebagai Ketua OSIS bisa menyuruh anak buahnya malah ia yang jadi pesuruh. Habis dia sama sekali tidak berguna, sih.

Rukia menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan berat. Ia jadi teringat pada Trituradora muñeca. Sejak saat itu, ia sama sekali tidak merasakan ada yang aneh dengan sekolahnya. Yah, kecuali tatapan bagai elang para siswi yang seakan ingin membunuhnya. Sepertinya hari ini juga begitu. Saat Rukia memarkirkan sepedanya di tempat parkir, tatapan membunuh langsung menusuk-nusuk punggungnya yang mungil. Rukia berpura-pura tidak menyadarinya dan terus melangkah dengan tenang. Sesekali ia berkomat-kamit membaca mantra penolak bala yang ia pelajari dari kakaknya. Dan sepertinya mantra itu belum manjur karena di hari sepagi ini ia sudah berpapasan dengan gadis tercantik di sekolah ini, Haruno Sakura. Seperti biasa, gadis itu menatapnya sekilas dengan angkuh lalu berlalu dengan menabrakan bahunya ke bahu Rukia. Rukia menahan diri untuk tidak berbalik dan menjambak rambut merah muda gadis itu, sampai-sampai tubuhnya bergetar. Kehidupan paling mematikan selanjutnya adalah ia harus menyusuri lorong menuju kelasnya dan harus berpapasan dengan para siswi yang selalu menolehnya dengan tatapan sinis.

"Hhhhhh... aku benar-benar akan gila jika terus seperti ini..."

Hinamori Momo mengguncang tubuh Rukia yang terkapar di tempat duduknya dengan nyawa telah terbang separuh. Gadis bercepol itu menatap Rukia dengan khawatir.

"Ada apa, Momo?" tanya Tatsuki yang baru tiba.

"Bagaimana ini, Tatsu-chan. Sejak tiba di sini, Rukia-chan seperti ini."

"Minggir! Akan aku bangunkan dia dari mimpi panjang!"

Tatsuki menatap Rukia dengan licik dan menendang Rukia hingga gadis itu terjatuh dari tempat duduknya. Meski baru berteman selama kurang lebih satu bulan dengan Rukia, gadis tomboy itu mengenal sosok Rukia dengan baik (yah, kecuali rahasia kecilnya itu). Jadi ia tahu bagaimana cara mengembalikan nyawa gadis itu saat sekarat. Tidak berapa lama kemudian, gadis mungil itu bangkit namun wajahnya tetap keruh.

"Ada masalah lagi?" tanya Tatsuki.

"Hei, aku benar Ketua OSIS 'kan?!"

Bukannya menjawab pertanyaan Tatsuki, Rukia berbalik bertanya. Momo dan Tatsuki saling menatap dengan bingung, lalu mengangguk.

"Seharusnya aku dihormati 'kan?!"

Momo dan Tatsuki kembali mengangguk. Rukia menoleh ke arah mereka dengan wajah serius.

"Seharusnya aku bisa menyalahgunakan kekuasaanku untuk menghancurkan topeng datar itu 'kan?!"

"Itu berlebihan!" jawab Tatsuki dan Momo kompak dengan memasang wajah -_-.

"Tapi kenapa 'mereka' memusuhiku? Apa hukum di Jepang untuk menghormati presiden sudah kadaluarsa?!"

"Apa hubungannya dengan presiden?"

"Seharusnya mereka sedikit menghormatiku sebagai Ketua OSIS dengan menyembunyikan wajah menyebalkan mereka!"

"Hei, Rukia..."

Tatsuki menarik ujung rok gadis itu, karena gadis itu kini menaiki kursi dan kaki kanannya berada di meja. Pada saat itu bertepatan, Sasuke memasuki kelas bersama Minori-sensei yang membeku di depan kelas melihat kelakuan Rukia.

"Oi, cewek pendek! Celana dalammu kelihatan, tuh!"

Wajah pucat Rukia segera memanas mendengar seruan Sasuke. Spontan seluruh perhatian beralih padanya, membuat Rukia membeku. Dan tawa meledak. Rukia segera turun dan duduk dengan menahan malu. Sementara Tatsuki dan Momo kembali ke tempat duduk masing-masing diam-diam. Sasuke pun melangkah ke tempat duduknya dengan wajah datar tanpa dosa.

"Grrrr... dia benar-benar menyebalkan! Percuma wajah tampan tapi kelakuan buruk! Apa sih yang membuat siswi-siswi itu menggilainya? Gara-gara dia, separuh dari siswi di sekolah ini memusuhiku! Yang terburuk adalah dua di antaranya orang yang berpengaruh di sekolah ini!" inner Rukia mengomel dan mengutuk Sasuke sementara Rukia sendiri menggigit bibir bawahnya.

Saat istirahat, Rukia pergi ke atap dan meneriakan apa saja yang terlintas di benaknya. Dan hasilnya, orang yang melihatnya mengiranya akan bunuh diri karena tidak tahan di bully dan sebagian mengira ia gila. Akhirnya ia menyudahi sesi curhatnya pada langit biru karena kegemparan yang disebabkan seorang siswa dari kelas dua yang menyebarkan berita bahwa Rukia akan melakukan bunuh diri. Ia memilih bersembunyi di gudang peralatan saat mendengar keramaian yang semakin mendekat di tangga.

Dan kesialan itu belum berakhir begitu saja karena ternyata ia tidak sendirian di gudang itu. Saat ia tengah mengawasi para siswa-siswi lewat celah pintu, seseorang menegurnya dan ternyata itu adalah (yang dia anggap sebagai) musuh bebuyutannya, Uchiha Sasuke.

"Sedang apa di sini? Kenapa di luar ramai sekali?"

"Eh, tidak ada apa-apa, kok! Sepertinya ada orang yang mengira bahwa ada seorang gadis (yaitu aku) yang sedang melakukan percobaan bunuh diri."

"Oh, bukannya itu kamu!"

Jleb... tebakan yang tetap sasaran itu menohok Rukia sehingga Rukia hanya diam mendengar nada mencemoohnya.

"Aku mendengarnya, lho. Ternyata kamu membenciku sampai seperti itu, ya..."

"A-aku tidak benci, kok. Cuma sedikit tidak suka."

"Kamu jujur, ya."

"Te-tentu saja. Karena bohong 'kan dosa."

Rukia masih belum berani menoleh ke arah Sasuke sementara keringat dingin mulai bermunculan. Sasuke menatap punggung kecil Rukia, lalu mendengus kesal. Rukia dapat membayangkan bagaimana rupa Sasuke saat ini tanpa perlu menoleh lagi. Sasuke menjatuhkan tubuhnya di samping Rukia dan bersandar di dinding. Rukia melirik sekilas ke arah Sasuke.

"Apa boleh buat. Aku pinjamkan tempat ini untuk hari ini saja."

Rukia menggembungkan wajahnya karena sebal lalu kembali mengawasi orang-orang yang berkumpul di atap. Mereka sepertinya kebingungan mencari keberadaannya. Kasihan, pasti penebar berita itu akan mendapatkan cap sebagai seorang pembohong besoknya. Rukia menggeleng kepala prihatin. Akhirnya kerumunan itu satu persatu meninggalkan atap, membuat Rukia mendesah lega. Fiuh... Rukia melirik ke arah Sasuke yang kini telah terlelap. Suara dengkurnya sangat lembut sampai-sampai Rukia tidak mendengarnya tadi.

Rukia lalu berbalik dan mengambil posisi seperti Sasuke dan bersandar di depan pintu. Baru beberapa detik ia melakukannya, ia merasakan beban pada pundak kanannya. Rukia melirik sekilas pada Sasuke sembari menjauhkan kepala Sasuke dari pundaknya. Lalu ia kembali merasa lega karena berhasil melakukannya. Tapi baru beberapa detik, pundaknya kembali berat. Rukia kembali menjauhkan kepala Sasuke dari pundaknya, namun ia membuat kesalahan sehingga kepala Sasuke terjatuh menghantam pahanya. Hyaaa...Rukia berteriak dalam hati. Sekarang ia benar-benar bingung harus melakukan apa sehingga ia mendorong kepala Sasuke pelan-pelan, takut jika pemuda itu terbangun dan menuduhnya macam-macam.

"Jangan..." tiba-tiba Sasuke bersuara, membuat Rukia terkejut sehingga secara spontan ia menyahut,"apa?"

Sasuke mengubah posisi tidurnya menjadi telentang dan matanya terbuka memperlihatkan manik kelamnya. Tatapan keduanya bertemu membuat Rukia berjengit karena perasaan asing yang baru menghampirinya. Seperti tersetrum listrik yang membuatnya terlonjak kaget. Rukia berpikir jika Sasuke tertidur. Dia pasti terbangun karena kepalanya menghantam pahaku, pikir Rukia merasa bersalah.

"Maaf..." Rukia berkata lirih.

"Untuk apa?"

"Karena telah membangunkanmu."

Sasuke kembali menutup matanya sembari berkata,"kalau begitu jangan bergerak. Ini aku anggap sebagai bayaran karena kamu meminjam ruangan pribadiku."

Setelah itu yang terdengar hanyalah suara dengkuran halus Sasuke dan detak jantung Rukia yang tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Wajah Rukia memerah, membuatnya seperti apel yang sedang masak. Untuk pertama kalinya ia melihat wajah Sasuke sejelas ini. Ia membingkai wajah Sasuke di dalam benaknya, lalu bayangan pria di dalam mimpinya muncul. Saat tertidur seperti ini, wajah Sasuke benar-benar seperti pria di dalam mimpinya. Ia terlihat lembut dan menawan.

"Ternyata kalau diperhatikan sejelas ini, dia memang tampan," gumam Rukia.

Menyadari apa yang ia ucapkan, wajah Rukia memerah seluruhnya persis seperti apel yang sedang masak.

"Guh... apa yang aku katakan?! Itu tidak benar! Itu tidak benar!"

Rukia berusaha menyangkal perkataannya sendiri sehingga ia mengadu kepalanya dengan pintu di belakangnya. Untung saja kepalanya sudah terbiasa dengan hal-hal semacam terbentur di tembok. Untung saja Sasuke yang tertidur di pangkuannya tidak membuka mata. Kalau melihatnya berbuat seperti itu, Sasuke pasti menganggapnya gila.

"Oh, sepertinya karena sering terbentur di tembok kepalaku jadi tidak beres, deh!"

Rukia beramsumsi dan sungguh itu sebuah asumsi yang bodoh!


Sasuke bermimpi. Mimpi yang sama dengan mimpi-mimpinya selama ini. Tentang wanita yang mirip dengan Rukia. Tentang pria itu. Tentang perang. Dan tentang bunga sakura lembut yang tertiup angin yang membawa separuh ingatannya menjauh. Semua seperti sebuah luka yang tidak terobati.

"Apa yang kamu lihat?" wanita itu bertanya padanya yang kini berbaring dengan berbantalkan paha wanita itu.

"Aku melihatmu yang seperti bulan purnama."

Wanita itu menengadah menatap bulan purnama.

"Apa kamu tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi?"

Pria menatap sang isteri dengan tatapan muram.

"Aku pasti akan kembali. Jadi tunggulah kedatanganku." Sang suami berusaha menghiburnya.

Bulir-bulir air mata istrinya berkilau tertimpa cahaya bulan, lalu jatuh ke dagunya.

"Tunggu aku kembali..."

"Aku akan menunggumu... meski aku harus berulang kali terlahir kembali ke dunia ini. Aku akan mencarimu..."

Semua mengabur saat Sasuke membuka kedua matanya. Rukia pun telah terlelap dengan bersandar di pintu. Sasuke bangkit dan mengucek matanya. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitarnya. Entah sudah berapa lama ia tertidur, tapi yang jelas sepertinya pelajaran sudah dimulai.

"Gadis bodoh ini kenapa malah tertidur, sih?!"

Terpaksa Sasuke mengguncang pelan pundak gadis itu, namun Rukia hanya menggeliat sejenak. Sasuke mendesah lalu mengguncang bahu gadis itu lebih keras. Mata Rukia terbuka dengan cepat lalu menoleh ke sana kemari.

"Heh?! Istirahat sudah berakhir?! Uwaaaa... gawat! Kita terlambat!" ucap Rukia panik.

Gadis itu segera bangkit dengan terhuyung-huyung lalu berbalik meghadap pintu. Gadis itu mendorong pintu dengan asal-asalan namun pintu tidak terbuka. Setelah mendorong pintu tidak berhasil, ia menarik pintu namun tidak terbuka juga. Sasuke hanya mendesah karena tingkah gadis itu.

"Ba-bagaimana ini? Pintunya tidak mau terbuka!" kata Rukia sembari menatap Sasuke.

Sasuke menggeleng lalu mendorong Rukia ke samping sedangkan dia memutar handle pintu. Pintu pun terbuka sedangkan Rukia hanya menggigit bibir karena malu sembari merutuki kebodohannya dalam hati. Sasuke lalu keluar diikuti oleh Rukia yang menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah dibalik poninya. Saat menyusuri lorong menuju kelasnya, Rukia mendesah lega karena lorong sepi sehingga ia tidak akan menderita di bawah tatapan para fans Sasuke. Kali ini Rukia merasa bahwa dewa selalu ada di sisinya sehingga ia merasa terharu.

"Dewa... terima kasih!" puji Rukia dalam hati.

Tapi ternyata penderitaan itu kembali datang saat ia dan Sasuke memasuki kelasnya. Ia selamat saat sensei menanyakan alasan keduanya terlambat dan Sasuke menjawab bahwa ada tugas OSIS. Tapi dia tidak selamat dari aura membunuh para siswi. Sepertinya musuhnya bertambah lagi. Ah, kejamnya dewa... Rukia ingin menangis sekarang juga untuk mengemis perhatian dan kasih sayang dari teman-temannya.


Hari-hari selanjutnya menjadi semakin berat untuk si gadis malang Rukia Kuchiki. Hari-hari muram bagaikan di neraka. Seharusnya dulu ia tidak masuk ke sekolah ini sehingga ia bisa menjalani kehidupan seperti biasanya. Berkelahi dan menghajar trituradora muñeca dan jika beruntung akan bertemu langsung dengan masternya. Omong-omong soal boneka-boneka manusia itu, Rukia sempat berpikir kenapa mereka ingin diperbudak oleh orang lain. Sangat jarang sang master menunjukkan dirinya kecuali di saat-saat terdesak.

Rukia sebenarnya ingin mengetahui apa sebenarnya yang diinginkan para master boneka-boneka itu. Yang dia dengar dari kakaknya, mereka sedang mencari Hyogoku, sebuah benda yang bahkan tidak diketahui wujudnya. Tapi Hyogoku memiliki kekuatan hebat. Siapa yang memiliki benda itu katanya bisa menguasai dunia.

"Oleh karena itu hyogoku tidak boleh berada di tangan yang salah," kata kakaknya waktu itu.

Karena itu, banyak yang mendirikan organisasi pencarian benda itu. Orang-orang itu menyebut diri mereka orang yang terpilih dan memang mereka memiliki kemampuan yang tidak biasa. Mungkin mereka dari golongan siluman dan iblis. Dan sejauh ini Rukia baru bertemu dengan tiga orang master. Rukia berhasil membunuh seorang master saat ia berusia 14 tahun. Dan itu adalah saat-saat yang paling mengerikan di mana nyawanya nyaris melayang saat itu. Rukia bergidik ngeri saat mengingatnya sehingga ia berusaha keras untuk melupakannya.

Lalu master yang terakhir ia ketahui adalah master Sumita Kasumi waktu itu. Entah kenapa pria waktu itu sangat aneh menurutnya, selain karena rambutnya seperti jeruk. Aura pria itu bercampur-campur. Terkadang seperti siluman, terkadang seperti iblis, namun di saat tertentu seperti aura manusia murni. Rukia merasa bahwa ia harus berhati-hati apalagi jika teringat kata-katanya waktu itu.

Pertarungan-pertarungan yang ia lewati selama ini menyisakan berbagai tekanan untuk mentalnya. Dia tidak ingin bertarung dan membunuh namun di sisi lain hanya itu caranya untuk bertahan hidup. Rukia hanya memiliki dua pilihan dalam hidupnya, membunuh atau dibunuh. Andai ia punya kehidupan seperti kebanyakan orang lainnya.

"Hhhhh..."

Rukia mendesah sembari mengamati daun-daun obat yang dipetik kakaknya, Hisana. Sementara wanita itu sibuk menyiangi tanamannya. Sebentar lagi musim panas akan tiba, begitu pula dengan liburan musim panasnya yang akan ia habiskan dengan berkeliling kota untuk berpatroli. Biasanya Rukia akan mendesah kesal saat liburan musim panas tiba. Tapi sekarang ia lebih memilih berpatroli di kota daripada mendapat tatapan membunuh dari para siswi di sekolahnya.

"Hmmm... mungkin aku keluar dari sekolah itu saja," pikir Rukia yang langsung mendapat hadiah pukulan di puncak kepalanya dari sang kakak.

"Jangan berharap aku akan merestui rencanamu itu!" ucap sang kakak.

Sial, Rukia lupa tidak mengunci memorinya sehingga semua rencananya terbaca oleh sang kakak. Terkadang mengerikan juga memiliki seorang kakak yang mampu membaca pikiran kita. Apalagi jika itu menyangkut hal pribadi. Bagaimana jika kakaknya sempat membaca kejadian yang waktu itu? Ciuman pertamanya yang berharga direbut oleh orang yang merupakan musuh besarnya?

"Aaaarg..." Rukia mengerang frustasi.

"Ada masalah?" tanya kakaknya lalu duduk di atas rerumputan di samping Rukia.

"Tidak, kok!"

"Jangan berbohong! Kakak bisa membacanya lewat wajahmu meski aku tidak membaca pikiranmu."

Rukia menimang sejenak. Ia berpikir bahwa tidak ada salahnya ia menceritakan hal-hal yang terjadi sebelum-sebelumnya. Lalu ia memutuskan untuk bercerita sekaligus mencari informasi.

"Bukannya itu namanya menyelam minum air? Eh... benar tidak, ya itu peribahasanya?" pikir Rukia.

Rukia menghela nafas panjang lalu mulai menceritakan kejadian sebelum pemilihan OSIS.

"Kamu bertemu langsung dengan masternya?"

"Iya. Dia memiliki aura yang aneh. Terkadang seperti iblis, terkadang juga seperti siluman. Tapi terkadang ia seperti manusia murni."

"Baru pertama kali aku mendengar ada yang memiliki aura seperti itu. Mungkin dia bukan seorang iblis sepenuhnya. Bisa saja ia hybrid."

"Hybrid?"

"Hm... mereka keturunan dua makhluk yang berbeda. Kebanyakan salah satu dari orang tua mereka manusia. Aku dengar mereka bahkan bisa lebih kuat dari iblis dan juga siluman."

"Dia bilang merasa tertarik padaku, begitu!"

Hisana melebarkan matanya mendengar penuturan adiknya.

"Tertarik padamu?"

Rukia menatap kakaknya bingung namun ia mengangguk tanpa ragu. Wajah Hisana yang biasanya lembut dan ramah berubah serius.

"Ah, tapi aku tahu bahwa dia bercanda."

"Dengarkan aku. Mulai sekarang kamu harus dua kali lebih waspada."

"He?"

Rukia masih menatap Hisana dengan bingung, membuat Hisana mendengus kesal karena ketidakpekaan adiknya. Hisana memegang kedua tangan Rukia dan meremasnya. Ia menatap lurus ke mata violet adiknya.

"Kamu dalam bahaya. Jadi tetap waspada. Jika ada master yang mengatakan ketertarikan pada manusia, maka ia memang benar-benar tertarik. Meskipun mereka adalah makhluk yang jahat, tapi mereka jujur pada perasaan mereka sendiri."

Rukia masih belum mengerti, namun ia hanya mengangguk. Setelah itu wajah Hisana melunak.

"Wah, sayang sekali. Aku tidak memahaminya," pikir Rukia.

Sepertinya Hisana tidak membaca pikirannya, karena wajah Hisana masih tenang. Hisana lalu bangkit dan meninggalkannya di kebun saat mendengar suara suaminya dari halaman. Lalu dengan ceria ia menyambut suaminya. Benar-benar membuat Rukia iri. Apa suatu saat nanti ia juga akan bersikap seperti itu pada suaminya? Sepertinya Rukia harus mencopy-paste tindakan kakaknya untuk bekal saat ia menikah kelak.

"Omong-omong soal itu, kira-kira siapa yang akan jadi suamiku, ya? Hm, rambut hitam, wajah pucat, manik hitam... sikapnya dingin... eh?"

Wajah Sasuke terbayang di benak Rukia. Wajah Rukia memanas lalu ia menggeleng kencang untuk mengenyahkan Sasuke dari benaknya.

"Benar. Sepertinya aku harus cepat-cepat berkonsultasi dengan dokter karena kepalaku mulai tidak beres!" seru Rukia, gusar karena perasaannya sendiri.

Rukia segera bangkit dan menyusul Hisana. Angin berhembus pelan menggoyang-goyangkan daun-daunan. Dari kejauhan, sesuatu yang misterius mengintai tanpa ia sadari. Lalu kemudian terdengar suara kepakan burung-burung gagak hitam yang terbang ke langit.


Hari-hari menjelang musim panas terasa menyiksa. Ia ingin agar liburan musim panas cepat tiba. Ia sudah lelah menghadapi para siswi. Sementara pekerjaan sebagai Ketua OSIS pun semakin menumpuk. Untunglah ia punya wakil Sasuke yang dapat ia andalkan. Tapi sebagai gantinya, ia harus berhadapan dengan berlusin-lusin mata yang menatapnya sinis. Rukia benar-benar ingin menempelkan tulisan 'KETUA OSIS' di dahinya. Padahal dulu mereka yanng memilihnya tapi sekarang mereka juga yang memusuhinya. Memangnya dia yang bersalah! Rukia benar-benar butuh pelampiasan saat ini. Jadi saat ia melewati klub kendo, ia memutuskan untuk melihat-lihat klub itu.

"Ada yang ingin melawanku?"

Seorang wanita cantik (menurut Rukia) tengah berdiri dengan gagah di tengah lapangan dengan mengacungkan pedang bambunya. Selama beberapa saat, ruangan itu sunyi. Tidak ada satu pun yang berani menerima tantangan itu, hingga dari belakang ada yang mengacungkan tangan. Semua perhatian teralih pada sosok di belakang mereka. Lalu mereka pun membukakan jalan untuk gadis mungil berambut hitam yang kini berjalan dengan sorot mata menantang.

"He? Kaichou?"

"Eh, itu Kaichou?"

"Wah, mungil, ya?"

Wanita(?) cantik itu mendekat pada Rukia dengan tersenyum ramah. Tapi itu tidak membuat Rukia senang. Justru ia merasa tersindir dengan senyum ramah itu.

"Ah, Kaichou! Selamat datang di klub kendo. Aku Kuruta Kurapika, ketua klub kendo."

"Tidak perlu basa-basi. Berikan pedang kendo-nya dan ayo kita bertarung."

Rukia menatap wanita(?) itu dengan garang dan merebut kendo di tangan wanita(?) itu. Aura hitam menguar dari tubuh gadis mungil itu, membuat wanita(?) itu sweatdrop. Namun ia menjauh dan mengambil pedang yang baru.

"Tidak pakai pelindung?"

"Tidak perlu! Ayo kita langsung bertarung saja!"

Lalu keduanya berhadapan di arena pertarungan(?). Rukia mengambil kuda-kuda lalu saat mendengar aba-aba, ia menyerang lebih dulu dengan kecepatan kilat. Wanita (?) itu terkejut dengan kecepatan Rukia.

"Gadis ini serius, ya?!" pikirnya lalu secara reflek ia menghindar saat sebuah bayangan berkelebat di depannya.

Lalu keduanya bertanding dengan serius. Kurapika meladeni keseriusan gadis itu, sehingga ia pun bertarung tanpa ragu. Rukia mengerahkan seluruh kemampuan berpedangnya untuk menghadapi Kurapika untuk membunuh rasa frustasinya.

"He?! Apa itu? Cepat sekali!"

"Hebat! Baru pertama kali ini aku melihat orang secepat itu."

"Wah, Buchou sampai kewalahan begitu!"

"Ternyata meskipun mungil, ia kuat juga, ya?!"

Lalu berita tentang pertandingan antara Ketua klub kendo melawan Ketua OSIS pun menyebar dengan cepat.

"He? Ketua OSIS melawan Kurapika-sama?"

"Pasti ia akan kalah. Memangnya gadis itu bisa apa?"

"Aku dengar Kurapika-sama sedikit kewalahan menghadapinya."

"Bohong, ah!"

"Benar! Dia sangat cepat!"

"Ayo kita lihat!"

"Ayo!"

Para siswa berlarian menuju ruang klub kendo. Mereka tidak memperdulikan larangan berlari di koridor. Mereka bahkan tidak mengindahkan teguran para guru yang berpapasan dengan mereka. Mereka terus berlari seperti banteng yang mengamuk. Dan akhirnya kabar itu sampai di telinga Sasuke yang kini tengah bergumul dengan tumpukan dokumen. Ia menggeram.

"Dasar anak itu! Padahal aku sudah menggantikannya, tapi dia malah bertanding kendo dengan Ketua klub kendo?!"

Sasuke mengerang frustasi.

Sasuke berjanji dalam hati bahwa ia akan bertindak tegas pada gadis pendek itu. Beberapa saat kemudian, Sasuke bangkit dan melangkah meninggalkan ruang OSIS.

Sementara itu, di klub kendo, permainan semakin ganas. Rukia terus melancarkan serangan-serangan mematikannya pada Kurapika, membuat Kurapika terdesak hingga akhirnya ia benar-benar dikalahkan oleh gadis itu. Rukia mengacungkan shinai (pedang bambu)nya pada wajah Kurapika.

"Heee... Ketua OSIS hebat!"

"Kyaaa... kuat sekali! Hebat!"

"Wah, baru pertama kali aku lihat pertandingan yang seperti itu. Kaichou hebat!"

Rukia lantas berdiri dengan pongah. Kurapika lalu berdiri dengan malu. Untuk pertama kalinya ia kalah. Bahkan oleh seorang anak perempuan. Tapi Kurapika tidak merasa rendah diri, ia malah merasa senang. Kurapika melepas men (pelindung kepala) yang dikenakannya. Ia benar-benar merasa takjub pada kemampuan Rukia. Satu pukulannya bahkan sama sekali tidak mengenai gadis itu meski gadis itu tanpa perlindungan sama sekali.

"Wah, kaichou hebat juga. Aku jadi malu karena dikalahkan oleh seorang anak perempuan."

"He? Apa maksudnya?"

Untuk berapa saat Rukia terdiam untuk mencerna kata-kata Kurapika dan pada detik berikutnya, Rukia mematung. Dia bilang karena ia dikalahkan oleh seorang perempuan? Jangan-jangan dia laki-laki! Kata Rukia dalam hati.

"Eh, kamu laki-laki?" tanya Rukia polos.

"I-iya..."

Rukia tidak tahu harus berbuat apa. Jawaban Kurapika telah mematahkan asumsi Rukia di awal pertemuan mereka. Tentu saja ia merasa terkejut karena pada awalnya Rukia menyangka bahwa Kurapika adalah seorang wanita. Habis Kurapika cantik sekali, sih. Mulut Rukia terbuka dan tertutup, namun tidak ada suara yang keluar. Rukia hanya mematung.

Belum sempat Rukia bereaksi lebih lanjut, Kurapika telah mencium pipi kirinya sehingga membuat para gadis berteriak-teriak melihat adegan itu. Sementara Rukia hanya menatap Kurapika yang tersenyum dengan pipi bersemu, sementara otak Rukia bekerja keras untuk mencerna apa baru saja terjadi. Sekarang Rukia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Ia ingin marah, namun ia tidak bisa melakukannya. Ia baru tersadar saat merasakan aura membunuh keluar dari balik punggungnya. Aura yang sangat ia kenali.

Rukia bergerak kaku ke arah aura itu berasal dan langsung berhadapan dengan sepasang manik kelam yang menatapnya dengan seram. Rukia benar-benar tidak bisa bergerak berhadapan dengan tatapan mengintimidasi itu. Wajah Rukia memucat seketika, lalu ia bersiap berlari namun Sasuke dengan cepat mengejarnya keluar dari ruangan.

Maka terjadilah kejar-kejaran antara Sasuke dan Rukia. Meski ia cepat, namun Sasuke dua kali lebih cepat. Apalagi karena perbedaan tinggi mereka yang terpaut jauh. Dalam waktu singkat ia tersusul. Sasuke dengan cepat menangkap tangan Rukia sehingga gadis itu meronta.

"Maafkan aku... aku tidak akan mengulanginya lagi..." ratap Rukia.

Namun Sasuke tidak mengindahkannya dan terus menyeret lengan Rukia menuju ruang OSIS. Rukia berusaha bertahan di tempatnya, membuat Sasuke semakin geram. Karena kesal, Sasuke lalu mengangkat Rukia dan membawanya di pundaknya, seolah Rukia adalah karung beras. Tentu saja Rukia menjerit keras, sehingga menarik perhatian orang-orang yang berlalu lalang di koridor.

"Berisik!"

Sasuke menepuk bokong Rukia sehingga gadis itu kembali berteriak lebih keras.

"Apa yang kamu lakukan?! Dasar mesum! Mesum!"

"Berteriak sekali lagi dan aku akan melakukannya lagi."

Tidak ada suara lagi dan Sasuke tersenyum tipis. Sepertinya ancaman itu sangat manjur untuk menghadapi gadis kuat namun polos seperti Rukia. Namun senyum Sasuke segera lenyap saat ia mengingat saat ketua klub kendo mencium pipi gadis itu. Entah mengapa ia merasa tidak suka. Sasuke menggeleng untuk menghilangkan bayangan itu. Namun kemarahannya sama sekali tidak bisa lenyap. Perasaan marah, tidak rela, dan berbagai perasaan lainnya bercampur aduk seperti jus sayur-sayuran yang diblender. Itu seperti bukan dirinya saja.

"Kenapa aku merasa kesal sekali, ya?! Perasaan asing apa ini?" pikirnya.

Sasuke hanya menghembuskan nafas lelah merasakan gejolak di dalam dadanya. Kemarahan di dadanya tak jua padam, namun malah semakin menyala. Sasuke tidak tahu perasaan itu. Untuk pertama kalinya, ia merasakan perasaan itu. Padahal selama ini yang ia tahu hanyalah perasaan dendam yang telah mendarah-daging pada dirinya. Namun sekarang, perasaan yang lain bermunculan di benaknya, mengisi separuh kekosongan di ruang dalam hatinya. Dan semua itu sejak ia bertemu dengan si gadis mungil bernama Kuchiki Rukia. Sebuah cahaya yang menyinari kegelapan dalam hatinya dan sedikit demi sedikit melelehkan es yang membekukannya.

Benarkah begitu?


Gadis berambut pirang pucat itu menatap kepergian Sasuke dan Rukia dengan perasaan benci. Manik-maniknya yang bagaikan laut berkilat. Kasumioji Rurichiou mendekati gadis itu dengan ekspresi yang sulit dibaca.

"Apa kamu membencinya?" tanya Rurichiou tanpa basa-basi.

"Tidak ada urusannya dengan anak kecil sepertimu!"

Gadis itu melengos, menatap rendah gadis muda di hadapannya.

"Mau aku bantu untuk melenyapkannya?" tanya Rurichiou lagi.

"Eh?!"

Gadis itu kini menatap heran pada gadis itu, namun gadis itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang misterius.

"Pupuklah kebencianmu dan jadilah boneka-ku yang manis."

Manik gadis itu kini ternoda oleh kegelapan, sama seperti tubuhnya yang terkurung oleh perisai berwarna ungu.

"Nah, bonekaku yang manis, siapa tuanmu?"

Gadis itu berlutut di hadapan Rurichiou sembari menjawab,"Kasumioji Rurichiou."

"Hm... bagus."

Angin berhembus kencang menerbangkan daun-daunan. Suara gagak hitam berkoak-koak di atas gedung sekolah. Dari kejauhan, segerombol orang berpakaian hitam bermotif awan merah dan memakai topeng hitam berdiri di puncak sebuah gedung pencakar langit. Jubah mereka berkibar tertiup angin.

"Ini baru awal yang sebenarnya," ucap salah seorang dari mereka.

Yeeeeeeaaaaayyyyeeee... yippieee... yatta! T=T akhirnya kelar juga. Tapi maaf, ya minna. Kayaknya chapter kali ini ngga memuaskan, deh. Soalnya buatnya terburu-buru agar bisa cepat publish dan ga bermasalah lagi. saya persilahkan minna semua untuk mengkritik karya saya sepedas-pedasnya. Saya ikhlas...

Untuk-untuk fanfic-fanfic yang lainnya akan saya usahakan up date cepat, deh!