Fanfic sederhana karya Yola-ShikaIno

Pairing : Shikamaru N x Ino Y (from Naruto)

DISCLAIMER : NARUTO © MASASHI KISHIMOTO

#CSIFBirthdayPartyFict – 3 February (Light's Birthday)
Hastag lucu dari (a) SHIKAINO_FC #HappyBolaDay

Special thanks for all SHIKAINO SHIPPER—Guardian, my lovely family C-SIF, and para pembaca yang bersedia meluangkan waktu untuk mampir dan membaca fict Yola. Terima kasih juga untuk pembaca yang bersedia memberikan review untuk Yola. Arigatou ^o^

[WARNING INSIDE! TYPO(s), OOC, and friends!]

.

.

_Review Zone_

Pixie YANK Sora: Review pertama dgn pen-name baru? Wah... betapa beruntungnya Yola:3 itoshinamikaze: Update-nya gak nentu, sesuai mood dan jaringan internet. Nyesek? Silahkan baca! Udah Yola kasih pembatas, coba d chapter ini, masih bingung gak :) Yashira Diva: Ini update-annya, masalah duo father yang kece itu, bisa d baca di chapter empat ini. Itou kyuu-chan: Terima kasih pujiannya dan ikon tombol fave-nya xD TitaniaGirl: Ulang tahun? Mungkin saja. Maklum, authornya lagi mesum pas nulis /nak Fumiko Miki NaSa: Kita lihat nanti ya, neechan *evil laugh* Kerajaan Disney ala Jepang gitu ya? :v Guest: Sama-sama, makasih juga review-nya, one-shoot-nya lagi dalam proses. Waiting aja xD Backyard Panda: Otaknya Yola pas ngetik itu juga lg gak bener, jadilah fic dengan penuh kenistaan *smirk*

.

.

Happy Reading!

.

.

.

Aishi duduk di samping Yora dengan wajah tanpa merasa bersalah. Sementara Yora masih diam mencari-cari jawaban dari semua pertanyaan yang serentak muncul dipikiran Yora.

Dengan lembut, Aishi mengelus kepala Yora. "Yora-chan, kita hanya bisa merencanakan, tapi, tetap yang di atas yang menentukan," jelas Aishi.

Yora mengangguk. "Kaasan jangan bikin Yora nangis ya? Habisnya Yora curiga, pasti ada sesuatu di cerita Putri Ino dengan Pangeran Shikamaru."

Senyuman penuh arti Aishi berikan untuk putri kecilnya. "Dengarkan saja dulu ceritanya," kata Aishi. Yora kembali serius, tidak ingin kehilangan satu moment berharga dari Putri Ino dan juga Pangeran Shikamaru.

.

.

.

Menu makan malam sudah tersedia penuh di atas meja makan yang cukup panjang. Satu kursi raja sudah terisi dengan Raja Choza, sementara dua kursi lainnya masih kosong. Tiga kursi permaisuri pun sudah terisi penuh seperti tiga kursi anak kerajaan.

Ino duduk di atas kursinya tidak bisa diam. Jari telunjuknya tidak bisa berhenti mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu ini. Shikamaru sesekali melirik calon istrinya, perasaan Shikamaru juga kacau seperti Ino. Namun, Shikamaru lebih memilih menyembunyikan perasaannya. Chouji tidak bisa melakukan apa-apa untuk menenangkan Ino maupun Shikamaru. Yang bisa dia lakukan hanyalah berdoa untuk keselamatan kedua pamannya.

Permaisuri Misae dan juga Permaisuri Yoshino sama seperti Ino, tidak bisa diam. Keduanya tidak ada yang menyentuh sendok makan ataupun mengambil sesuatu dari hidangan yang sudah disediakan. Kedua kaki permaisuri dari Nara dan Yamanaka ini tidak bisa berhenti bergerak. Semuanya gelisah. Permaisuri Gorei juga bingung apa yang harus dilakukannya kepada kedua rekannya.

Seekor burung merpati putih terbang menghampiri Raja Choza. Ada sepucuk surat yang diikat di kaki kanan burung pengantar surat ini. Dengan cepat Raja Choza membuka surat itu. Perhatian ketiga permaisuri dan anak-anaknya terpusat pada raja berpakaian merah cerah.

Mohon maaf,
Raja Nara dan Yamanaka gugur.
Asuma

Ruang makan yang tadinya sepi kini ramai dengan tangisan. Semua perempuan yang duduk mengelilingi meja makan menangis bersamaan. Sangat terpukul atas kepergian dua pria yang berarti bagi mereka. Permaisuri Yoshino yang terlihat ceria pun menangis sejadinya sama seperti Ino. Permaisuri Misae yang tenang tidak bisa membendung air matanya lagi.

"Tousan… tousan… mengapa secepat ini?" keluh Ino dalam isakannya.

"Sayang, aku yakin kau masih ada di dunia ini. Terlalu merepotkan jika harus mati tanpa didampingi istri dan anakmu," hibur Permaisuri Yoshino pada dirinya sendiri.

"Inoichi…" panggil Permaisuri Misae lirih.

"Sabarlah Ino-chan, ini sudah takdir. Jangan terus-terusan menangis, aku tidak ingin melihat Paman Inoichi menangis di sana," hibur Chouji. Tangannya yang besar Chouji mengelus rambut pirang Ino yang terurai indah. Sayangnya, keindahan rambut Ino sudah dikalahkan dengan kesedihan dari wajahnya. Tidak ada wajah ceria Ino lagi di sini, yang ada hanyalah kesedihan yang mendalam.

Tanpa mereka semua sadari, Shikamaru tidak melakukan hal yang aneh. Dia justru sibuk memakan jatah makan malamnya seperti biasa. Sepiring nasi dan juga ikan goreng. Wajahnya tidak bisa dikatakan tenang ataupun santai, melainkan tidak ada ekspresi apapun yang tergambar dari wajah Shikamaru.

"Shika…" panggil Raja Choza lembut tidak ingin menyinggung hati Shikamaru. Karena dia yakin, dibalik itu semua, hati Shikamaru rapuh kehilangan sosok 'pria hebat'-nya. "Tidak usah—"

"Aku akan menyusul Asuma-sensei," kata Shikamaru meninggalkan Ino, calon ibu mertuanya, dan juga ibu kandungnya dalam kesedihan.

Chouji menatap kepergian Shikamaru dari ruang makan. "Bagaimana dengan Ino?" tanya Chouji sebelum Shikamaru benar-benar pergi dari ruang makan.

Langkah Shikamaru terhenti di ambang pintu. "Urusanmu." Satu kata yang berhasil membuat Chouji kagetnya luar biasa. Dia tidak menyangka, kondisi hati Shikamaru lebih parah terlukanya dibanding tiga wanita yang dilihat Chouji menangis di ruang makan ini. Chouji tahu, Shikamaru hanya tidak ingin terlihat lemah. Chouji juga cukup tahu, apa yang akan dilakukan Shikamaru sekarang, sebelum menyusul Asuma-sensei ke medan perang. Melakukan hobi jeleknya yang beberapa bulan terakhir yang sempat pensiun. Kembali ke dunia Shikamaru yang sedikit kelam, itu menurut Akimichi Chouji.

.

.

.

Wajah Shikamaru sudah merah, niatnya untuk menyusul gurunya di medan perang dadakan batal. Dengan sebotol minuman yang membuatnya sulit mencari keseimbangan, Shikamaru memasuki kamarnya. Rambut nanasnya sudah tidak berdiri kokoh layaknya seorang Shikamaru yang bertanggung jawab. Di saku celananya pun terdapat beberapa batang rokok yang siap dinyalakan kapan saja. Kaki Shikamaru akhirnya berhasil membawa tubuh kacau ini ke dalam kamarnya.

Badan Shikamaru terlempar begitu saja di atas ranjangnya dengan posisi telungkup. Shikamaru bisa merasakan paru-parunya tertekan oleh tubuhnya sendiri, membuatnya kesulitan bernafas dalam keadaan seperti ini. Tapi, tenaga Shikamaru sudah terkuras habis. Terkuras oleh takdir yang membawanya pada sebuah kenyataan. Kenyataan bahwa dia telah kehilangan ayah terbaiknya.

Tok… tok… tok…

Shikamaru membiarkan pintu kamarnya tetap tertutup. Dia tidak ingin ada seorang pun yang mengganggunya. Mengganggunya melakukan hobi jeleknya ini. Termasuk…

"Shika-kun," panggil Ino memasuki kamar calon suaminya.

Ino sama kacaunya dengan Shikamaru. Rambut pirangnya terurai berantakan. Tidak ada lagi polesan bedak ataupun lipstick yang mewarnai wajah cantik Putri Yamanaka ini. Ino berjalan ke arah ranjang Shikamaru dan duduk di dekat kaki calon suaminya.

"Mendokusai!" keluh Shikamaru memuntahkan cairan dari mulutnya.

Ino kembali menangis. Liquid beningnya kembali mengalir di pipinya. Seolah-olah tidak ada yang mampu menghapus liquid itu. Termasuk hiburan dari sahabat gembulnya, Chouji. "Jangan menyiksa dirimu sendiri, aku tahu—"

"Ssst…" potong Shikamaru. "Lebih baik kau pergi, Yamanaka-san. Aku ingin istirahat," kata Shikamaru.

Tubuh Ino yang sama rapuhnya dengan hatinya menegang. Panggilan Shikamaru terlalu formal untuknya. Kedua bola mata Ino kembali difokuskan pada sosok Shikamaru yang tertidur dalam posisi telungkup. "Shika-kun, aku mohon…" kata Ino lirih. Ino tahu perasaan Shikamaru, tapi dia tidak ingin melihat sahabat yang akan merangkap menjadi calon suaminya ini melampiaskan kesedihannya dengan cara yang seperti ini.

"Batalkan pernikahan!" perintah Shikamaru.

Kedua bola mata Ino membulat sempurna. Kaget. "Kenapa? Ini permintaan tousan dan juga Paman Shikaku. Aku tidak ingin mengecewakan mereka," jawab Ino.

"Yamanaka-san, seharusnya tousan tidak ikut dengan Paman Inoichi ke Kerajaan Sannin." Singkat, namun Ino mengerti maksud Shikamaru. Shikamaru menganggap ayah kandung Ino adalah penyebab kematian ayahnya, membuat Shikamaru membenci dirinya. Membenci Yamanaka Ino. Satu-satunya anak dari Yamanaka Inoichi.

"Tapi itu takdir, Shikamaru. Itu takdir!" kata Ino berusaha menyadarkan Shikamaru. Shikamaru masih diam pada posisinya tidak bergerak. "Dari dulu kau selalu bilang, warna langit berwarna-warni itu karena takdir. Begitu juga dengan kepergian tousan-ku dan tousan-mu tentu saja. Ini takdir, Shikamaru."

"Langit bisa kau ubah, Yamanaka-san. Tapi, kau tidak bisa mengaktifkan jantung yang berhenti berdetak ataupun paru-paru yang berhenti bekerja."

Ino berbaring di samping Shikamaru dengan isakannya. Tangannya memeluk tubuh Shikamaru yang telungkup. Tidak peduli tanggapan apa yang akan Shikamaru berikan padanya.

Mereka tahu mereka sama-sama kehilangan orang yang berharga. Mereka juga tahu bagaimana perasaan mereka satu sama lain. Tapi, mereka memilih jalan yang berbeda untuk menyelesaikannya. Cara yang tidak pernah dipikirkan Ino.

Dalam diri Ino, dia yakin. Shikamaru hanya butuh ketenangan. Laki-laki nanas ini hanya kehilangan pikiran jernihnya. Ino juga yakin, keesokan harinya, Shikamaru akan mengganti keputusannya. Meskipun kemungkinannya hanya kecil, ketika melihat kondisi Shikamaru yang lebih kacau darinya. Ino pun tidak tahu sampai kapan dia memegang keyakinannya sendiri.

Dengan posisi Ino yang masih memeluk Shikamaru, di pikirannya terbayang kalimat Chouji saat Shikamaru meninggalkan ruang makan. "Tidak ada laki-laki yang ingin terlihat lemah di hadapan gadis yang dia sayang, Ino-chan." Ino hanya bisa menggantungkan harapannya pada kalimat yang dilontarkan Chouji barusan. Menggantungkan harapannya yang terakhir. Melebihi harapannya untuk mengganti warna langit di atas sana. Yaitu… menikah dengan laki-laki pilihan hatinya.

.

.

.

Aishi memeluk Yora. Yora kembali memeluk kaasan-nya, mencari ketenangan. "Putri Ino-nya kasihan," kata Yora dengan mata yang berkaca-kaca.

"Neechan sudah memperingatkan Yora-chan, bukan?" kata Arada menghampiri Yora dan Arada memeluk adik perempuannya sehangat pelukan Aishi pada Yora. "Jangan cengeng dong! Itu 'kan hanya cerita," kata Arada santai.

"Tetep aja, kalau Yora-chan jadi Putri Ino, Yora-chan pengen ngurung diri di kamar aja. Gak mau main, makan, atau ketemu kaasan sama neechan."

Aishi dan Arada hanya bisa menjadi pendengar setia ocehan gadis kecil ini.

.

.

TBC

.

.

CHAPTER 4

*elap air mata pake tissue* Duh… kesannya drama banget. Ini sih harapannya cuma satu, semoga pembaca puas sama fict fantasi yang satu ini.

Yola tahu banyak kekurangan di chapter ini *ojigi* Semoga readers berkenan mengkritik dalam bentuk review. Yola menerima kritik dan saran *nyengir kuda narsis*

Arigatou Gozaimasu buat pembaca yang mau meluangkan waktunya membaca fict-nya Yola, entah silent reader ataupun reviewer /? Yola sangat berterima kasih.

KEEP HYPER AND LOVE SHIKAINO
LONG LIVE SHIKAINO

With Love,
The Light Guardian from CSIF a.k.a Yola-ShikaIno