Arc I: Uzumaki Naruto dan Klub Penelitian Ilmu Gaib

Chapter III: Jika Itu Rias Gremory Maka Semuanya Akan Jadi Sulit.

3.1

.

Bicara soal masa remaja, maka oromatis juga bicara soal cinta.

Aku tak tahu siapa yang memulai, tapi, yang jelas, dua hal itu sulit sekali untuk dipisahkan. Sebuah masa remaja yang cemerlang hanya bisa dikatakan begitu ketika orang tersebut telah melewati masa sulitnya cinta. Maksudku, dalam hampir semua animanga yang kulihat, ketika sebuah cerita menggunakan masa remaja sebagai jalan utamanya, maka genre pertama yang tertulis di kolom deskripai adalah romansa.

Walau memang ada beberapa animanga yang tidak menyertakan romansa dalam genrenya, tapi perbandingan antara yang menyertakan dan tidak berbeda sangat jauh. Bahkan, dari perkembangan genre romansa, teciptalah genre harem, di mana romansa lebih kompleks dan menyaring lebih banyak individu. Yah, meskipun pada kenyataannya, hal seperti dikelilingi banyak wanita cantik dan semuanya menyukaimu adalah hal yang sangat mustahil. Apalagi, untuk diriku yang berwajah mengerikan ini.

Aku sudah hidup lebih dari enam belas tahun. Dan semenjak lahir, sama sekali aku belum pernah menjalin hubungan dengan siapapun kecuali keluargaku. Bahkan, keluargaku yang aku ketahui hanyalah adikku, ayahku, ibuku dan kedua kakek-nenek dari ibuku. Aku tak pernah tahu aku punya paman, bibi, atapun sepupu atau tidak. Apalagi menjalin hubungan antar-personal yang dilandaskan cinta seperti yang biasa terperi dari masa muda, kurasa itu hanyalah bagai menghela rambut dalam terigu.

Sejak SMP hanya satu orang yang mau berbicara denganku, dan sialnya kewarasan otaknya pun harus dipertanyakan. Tak ada yang pernah berani menatap mataku ketika berjalan apalagi sampai mencoba mendekatkan diri padaku. Para cewek dari SMP-ku saja dulu akan selalu mencari jalan lewat manapun kecuali jalan yang kulewati. Mereka benar-benar takut denganku.

Bahkan di rumah sekalipun, ketika ayah dan ibu menggelar pesta keluarga dan memanggil teman-teman mereka, aku selalu disembunyikan di kamar dan dilarang untuk keluar. Mereka selalu menjawab aku sedang tidak ada di rumah ketika ditanya di manakah anak satunya.

Dan itu semua terkadang membuatku tersadar, memang betapa hambarnya hidupku.

Tapi biarlah, toh, aku tak terlalu membenci hidupku yang seperti ini. Malahan, aku sedikit menyukainya. Meskipun aku tak memiliki hubungan dengan orang lain, aku masih punya seorang adik manis yang siap menerimaku apa adanya dan akan selalu mencintaiku. Walaupun tak ada yang berani berbicara dengaku, aku terlahir di Jepang yang artinya aku punya novel ringan yang bisa kubaca di manapun.

Jadi, pada akhirnya, aku sama sekali tak setuju ketika masa muda dan cinta dijadikan suatu kesatuan! Hal itu hanya berlaku pada riajuu sialan yang ingin kusumpahi mati semua.

Dan bicara soal masa SMP, aku punya banyak pengalaman yang menyakitkan di sana. Contohnya saja ketika musim gugur yang mendekati musim dingin seperti ini. Di saat-saat seperti ini, biasanya aku akan selalu menemukan sebuah syal yang ditaruh rapi dalam loker sepatuku. Yah, sebuah syal, bahkan beberapa darinya adalah rajutan sendiri ada di dalm lokerku!

Walau itu terlihat sangat manis, tapi sejujurnya kenyataannya sungguh terbailk, dan sangat menyakitkan. Maksudku, aku baru saja bilang bukan, kalau masa remajaku di SMP dahulu kuhabiskan dengan penuh kesuraman, jadi takkan mungkin hal manis seperti dikirimi syal rajutan sendiri oleh penggemar rahasia terjadi padaku. Yang sebenarnya terjadi adalah para murid SMP-ku beranggapan kalau di musim gugur aku akan menjadi sangat ganas dan jauh lebih merepotkan.

Saat SMP dahulu, aku dijuluki sebagi Iblis Oren. Selain karena wajahku yang memang dari lahir sudah menakutkan, entah sudah berapa sekolah yang kukalahkan berkelahi. Di sekolahku dulu itu sendiri, semua kelompok anak yang menantangku selalu berakhir kalah memalukan denganku. Entah itu para preman biasa, klub juudo, karate, hingga basket. Sekalipun, sejak kelas tiga SD, aku belum pernah kalah. Makanya, ketakutan mereka padaku seperti yang kubilang sejak tadi bukanlah tanpa alsan yang jelas. "Sshh... dingin!"

Maka daripada itu, karena mereka menganggap diriku sebagai iblis, yang artinya aku terbuat dari api. Lalu sudah sifat alam yang mendasar bahwa api akan semakin berkobar ketika ditiup angin, maka anak-anak di SMP-ku pun mengasumsikan diriku memiliki sifat tersebut. Musim gugur adalah muaim yang dipenuhi angin. Dan karena aku adalah api, maka bisa-bisa diriku semakin berkobar ditiup angin musim gugur.

Makanya, untuk meredam kobaranku, semua murid berlomba-lomba mencari peredam kobaranku. Dan mereka pikir, syal adalah pilihan terbaik. Dari situlah asal muasal aku bisa menemukan setidaknya satu syal di dalam lokerku dalam satu hari ketika musim gugur datang.

Tentu saja aku tak mengambil syal-syal itu. Meskipun itu mereka sengaja sediakan untukku, tapi aku merasa kalau aku menerimanya, aku benar-benar akan mejadi iblis seperti duagaan mereka. Lagipula, aku sudah punya satu syal warna oren rajutan adikku tersayang, dan ini sudah jauh lebih cukup. Karena bingung mau kuapakan syal-syal itu, aku menyerahkan semuanya pada kepala sekolah dan membiarkannya mengurusnya.

Suhu udara sore ini adalah lima belas derajat celcius. Dan angin berhembus kencang menerpa diriku. Aku kembali mengencangkan ikatan syalku sembari memasukkan tangan telanjangku ke dalam saku. Mungkin membeli beberapa sarung tangan besok bersama adikku bukanlah pilihan yang buruk. "Ah..."

Pelajaran terakhir sekolah hari ini baru saja berakhir. Dan itu artinya saatnya bagiku yang sejak minggu lalu dipaksa Bu Rossweisse untuk menjadi anggota Klub Penelitian Ilmu Gaib datang ke ruangan yang ada di kompleks sekolah bagian belakang.

Aku berdiri sejenak di depan pintu mewah yang kemarin hampir rusak akibat ulah brutal wali kelasku. Lalu kuraih gagang pintu yang terasa sedingin es itu untuk kemudian kudorong. Hal pertama yang kulihat di sana masih sama seperti apa yang kulihat ketika pertama kali datang ke klub ini minggu lalu. Tak ada seorang pun di lantai satu, meski aku yakin anggota klub ini yang satunya sudah datang.

Dia pasti ada di lantai dua, duduk di kursi sambil membaca manga shoujo-nya.

Aku melangkah masuk dan langsung menuju tangga dan menaikinya. Saat aku selesai menaiki tangga, hal pertama yang kulihat adalah cewek berambut hitam dan berkacamata tengah duduk di kursi sambil membaca manga, tepat seperti apa kuduga.

Ia belum tersadar ketika aku berjalan mendekati kursi. Namun saat aku menarik kursi untuk kududuki, kursi itu mengeluarkan suara berdecit yang sepertinya membuat cewek yang sedang asik membaca itu terkejut. Ia mengalihkan pandangannya dari manga-nya menuju asal suara itu. Kemudian ia menemukan kalau aku tengah berdiri sambil menatapnya. Mataku dan matanya bertemu. "Ah!" secara spontan badannya mundur ke belakang.

Tapi kemudian ia mengerjapkan mata. "Kukira siapa." ia menghela dan merapikan posisi duduk lalu kembali membaca.

"Memang, kau kira aku siapa?"

"Manusia dengan pandangan mesum dan mengerikan." aku kagum ia bisa bilang begitu tanpa mengalihkan pandangan dari manga-nya.

Tanpa menghiraukannya, aku menduduki kursi yang kutarik tadi. Kuletakkan tas yang kubawa di atas meja, kutarik resletingnya dan meraih novel ringan yang kemarin kubawa. Semalam aku tidak bisa menyelesaikan volume ini gara-gara ketiduran. Makanya, setidaknya sora ini aku ingin membuat banyak kemajuan agar nanti malam bisa kuselesaikan.

Jaket tebalku tak kulepaskan, dan Sitri juga tampak melakukan hal yang sama. Udara di sini memang lebih dingin dibanding minggu lalu, apalagi, pemanas di sini sudah jebol dan minta diganti. Malah, aku kembali mengeratkan syalku.

Aku dan Sitri kemudian terdiam dalam keheningan.

Lalu, untuk beberapa alasan, Sitri menutup bukunya, dan berbicara padaku. "Uzumaki-kun, aku baru ingat, tapi kemarin yang menbuatkan teh, dirimu 'kan?" membenarkan apa yang ia katakan, aku hanya mengangguk tanpa mengalihkan perhatian dari buku kecil di genggangamanku itu. "yah, kalau begitu, kurasa aku yang harus membuat teh hari ini."

Sitri berdiri, lalu berjalan menuju dapur.

Setelah itu pun, tak ada yang bicara. Dari balik lubang sebesar satu kali dua meter itu aku bisa melihat Sitri melakukan hal yang sama dengan apa yang kulakukan kemarin. Ia menaruh beberapa sendok gula di dalam gelas dan menunggu air mendidih. Kemudian, setelah mendidih ia menunagkan air panas itu ke atas saringan dan memasukannya ke dalam masing-masing di antara dua gelas yang ada di depannya.

Ia meletakkan kembali teko teh panas itu ke atas dudukan kompor. Setelah itu ia mengambil sebuah nampan dan meletakkan dua gelas penuh teh itu di atasnya. Ia berjalan menuju ke sini, dan menaruh satu dari dua gelas itu di depanku. Dan satunya lagi di depan kursi tempat duduknya. Sesaat setelah ia mengembalikkan nampan ke dapur ia langsung duduk di kursinya dan kembali membukan manga shoujo-nya.

Selanjutnya keheningan yang menusuk kembali memenuhi ruangan ini.

Tapi, ketika keheningan itu berlangsung, aku mulai memikirkan akan seperti apa masa depanku selama tiga tahun di sekolah ini.

Aku jelas tak mau kembali menjadi orang yang sering kena masalah akibat berantem lagi seperti di SMP dulu. Sekarang aku sudah SMA, dan setidaknya aku ingin kehidupanku berjalan damai. Untuk itu, makanya aku memilih Akademi Kuoh ini. Meskipun sekolah ini jauh dari rumahku. Tapi, mengingat fakta kalau sekolah ini mantan sekolah perempuan membuatku bersemangat.

Mantan sekolah khusus perempuan berarti memiliki populasi siswa yang jauh lebih sedikit dibanding siswi. Yang artinya, peluangku diajak berantem seperti yang kualami di SMP dulu juga semakin sedikit. Apalagi, aku juga yakin preman-preman dan anggota geng sekolah juga takkan pernah sudi masuk sekolah yang sangat mewah ini.

Namun, setelah itu semua, aku juga jadi berpikir ulang. Jika bukan menjadi Iblis Oren lagi, apa yang harus kulakukan?

Atau mungkin, aku akan menjadi orang biasa, yang terseret arus kehidupan?

Mungkin juga, menjadi anak cupu dan merombak semua penampilanku?

Ah, sudah kuduga, aku memang tak berbakat untuk menentukan apa yang kuharapkan.

.

3.2

.

Keheningan mencekam yang terjadi di ruangan ini harus berakhir ketika sebuah suara ketukan lembut pintu di lantai bawah menggema. Lalu, suara yang jelas sekali hanya dimiliki seorang cewek terdengar. "Permisi..."

Hal pertama yang kutahu, orang yang ada di bawah sana jelas bukanlah Bu Rossweisse. Karena jika itu dia, dia takkan pernah mau repot-repot mengetuk pintu sambil bilang permisi. Ia pasti akan langsung masuk tanpa izin jika pintunya tidak terkunci. Dan akan menggedor-gedor dengan brutal pintu itu sambil memanggil namaku jika pintunya terkunci.

Lalu, selanjutnya setelah itu, aku berdiri dan berjalan ke bawah untuk membukakan pintu. Aku sudah tak bisa menikmati bacaanku sambil menghiraukan ketukan pintu seperti kemarin. Karena entah mengapa, jika aku melakukannya cewek sadis yang baru saja membuatkan teh itu akan langsung segera mengejekku.

Pintu itu tidak terkunci. Jadi, ketika aku menarik gagang pintu, serentak pintu itu langsung terbuka. "Se-selamat s-s-sore!*

Ketika ia melihat wajahku, ia tanpa sadar mundur satu langkah dan jadi agak gemetaran. Tunggu, jangan salah paham. Wajahku memang seperti ini sejak lahir, jadi maaf saja kalau itu membuatmu takut. " Sore. Ada perlu apa?"

"I-itu, tadi Bu Rossweisse menyarankan..." oh, ulah si rambut uban itu lagi 'toh. Mungkin ini yang ia bilang kalau kejutan yang ia siapkan untukku belum berakhir. "Oh! Ya sudah, masuklah, di luar dingin."

Yah, walau di dalam juga sama dinginnya.

Tapi, ia mengangguk pelan. Setelah ia melangkah masuk dan seluruh tubuhnya ada dalam ruangan ini, aku menutup pintu dan berjalan ke lantai atas sambil dia ikuti. Aku menghela dan kembali memasukkan tangannku ke dalam saku. Dari ekor mataku, cewek yang baru saja masuk itu juga nampak kedinginan dan mengeratkan syalnya. Ah, mungkin besok aku akan protes langsung ke Bu Rossweisss agar ia dapat dengan segera membenarkan penghangat di sini.

Ini baru musim gugur, dan hawanya sudah sangat menusuk tulang. Aku tak tahu apa yang akan terjadi jika musim datang beberapa hari lagi, mungkin orang-orang akan menemukan dua buah es penyendiri yang sedang duduk.

Lalu tanpa kusadari aku sudah sampai di lantai dua dan melihat Sitri yang sedang duduk di sana kembali. Aku mengambil tempat dudukku yang sedari kemarin kupakai, dan cewek yang baru saja masuk itu kupersilakan menduduki kursi yang diduduki Bu Rossweisse kemarin.

"Oh, Gremory-san kah?"

Sitri menatap wanita berambut panjang yang ada di dekatnya. Ia nampak sedikit terkejut. "Ah, Sona! Kau anggota di sini?" Sitri mengangguk.

"Kalian saling kenal?" jujur saja aku terkejut ternyata cewek seperti Sitri punya seseorang yang bisa dekat dengannya seperti itu. Apalagi, Gremory nampak agak nyaman di sampingnya. "Tentu, kami teman masa kecil..."

Oh, seperti itu. Aku paham.

Aku meraih teh hangat yang Sitri sediakan buatku tadi. Aroma yang dihamburkannya terasa nyaman ketika masuk ke dalam hidupku. Kuanggat gelas itu dan meminumnya. Sementara itu aku menatap dua orang yang sedang duduk di sana. "Ah, Uzumaki-kun, dia namanya Rias Gremory, tahun pertama kelas A. Kami sudah saling kenal sejak kecil."

"Rias Gremory, mohon bantuan ke depannya!" ia menundukkan kepala.

"Uzumaki Naruto, mohon bantuan ke depannya." aku kembali mengalihkan perhatianku pada novelku. "Lalu, ada urusan apa ke sini?"

"Aku adalah masalah, dan, yah, Bu Rossweisse menyuruhku datang ke klub ini." entah hanya perasaanku atau apa, tapi mendengar kalau Bu Rossweisse yang merekomendasikannya membuat diriku agak tidak nyaman. Dari pengalamanku, semua yang berurusan dengannya selalu berakhir merepotkan. "Memang, masalahnya apa?"

Dan bicara soal cewek yang tak kusangka adalah teman masa kecilnya manusia bermulut sadis di sana itu, dia adalah cewek dengan tubuh jangkung dan ada di atas kepalanya ada dua helai rambut berdiri seperti antena. Rambutnya berwarna merah dan bermata biru, atau..., hijau? Aku tak tahu pasti, setiap kali aku memandang matanya warna selalu berubah-ubah. Pakaiannya sedikit diubah dari standar sekolah ini, dan roknya seperti dipendekkan. Di kupingnya tecantel anting-anting kecil yang bercahaya mengilaukan. Aku bahkan bisa melihat banyak produk kecantikan yang menempel di wajahnya.

Lalu itu semua membuatku mengambil kesimpulan kalau ia adalah, salah satu dari para manusia yang menjadi musuhku. Riajuu, meledak sana!

"A-ano, itu..." ia tampak menempekkan jari di kedua tangannya. Wajahnya memerah dan ada senyum tipis di sana. Ia menunduk dan memasang pose malu-malu. Dan itu membuatku jijik.

Entah sengaja atau tidak, aku berbisik. "Bitch!" dan cewek berambut merah itu langsung menatapku dengan tajam. Di ruangan ini, seperti yang kubilang, hanya ada aku, Sitri, dan cewek berambut merah itu. Makanya, suasananya sangat sunyi. Jadi, ketika aku berbisik saja, kata-kata yang kuucapkan akan dengan jelas didengar oleh siapapun di ruangan ini.

"A-apa yang kau bilang tadi?!" ia agak berteriak saat bilang begitu. "Apa harus aku bilang dua kali?"

Ia memerah sekarang.

"Eng...! A-aku ini masih pe-" menyadari kalau kata terakhir pada kalimat yang ia ucapkan itu bukanlah hal yang sopan, ia menutup mulutnya sendiri dan kembali menunduk. "Lupakan!"

"Gremory, memang apa salahnya jika kau masih suci. Tidak ada bedanya." Sitri sepertinya terusik, dan mulai berbicara. "Bukan begitu, Sona. Yang kumaksud itu, bagi kita, masih begitu di umur sekarang agak, yah..."

"Bagiku, hal seperti itu hanya akan menghambat apa yang kuinginkan. Lagipula, jika aku melakukan itu, aku akan sama dengan mereka, dan poin untuk mewujudkan impianku berkurang." dengan wajah angkuhnya yang perlahan tampak khas itu, Sitri bicara penuh kepercayaan diri.

Bicara soal apa yang ia inginkan, tampaknya sedikit banyak aku tahu. Itu adalah apa yang ia bilang padaku kemarin. Menyumpal setiap orang yang membicarakan dirinya dengan uang. Dan kurasa itu bukanlah jenis permintaan yang bakalan Santa kabulkan di malam Natal nanti. "Dan lagipula, Uzumaki-kun seberapa mesum otakmu, sampai mengatakan hal itu pada dua orang cewek sekaligus."ah, aku bilang begitu padanya juga, ya?

Mengabaikan apa yang Sitri katakan, aku membenamkan diriku pada dunia bacaanku lagi. Gremory-san terlihat masih memerah, dan sekarang sedang mencondongkan diri arah Sitri. Ia membisikkan sesuatu pada kuping Sitri. "Oh, baiklah kalau seperti itu."

"Uzumaki-kun." ia memanggil namaku. "untuk masalah Gremory-san, itu jenis masalah yang agak pribadi."

Mereka berdua perempuan, dan aku laki-laki. Hal-hal yang pribadi bagi cewek biasanya adalah hal tabu yang takkan mereka mau perlihatkan kepada seorang cowok. Jadi, aku menganggap mereka secara tak langsung bilang, 'Kamu itu mengganggu, bisa tidak, keluar dulu?'

Begitu.

Jadi, aku hanya bisa mengangguk, dan berjalan menuju tangga.

Saat aku sudab menuruni tangga, dengan langkab pasti aku berjalan ke arah gudang dan mengambil sebuah kurai lalu mendudukinya. Ruanagan ini sama seperti yang ada di lantai dua. Dikarpeti merah, dan kosong melompong. Walau di sini agak lebih luas. Lalu, sebentar kemudian, aku menghela.

Udara musim dingin masuk melewati jendela yang meskipun sudah ditutup rapat. Aku menyandarkan bahuku kembali ke kursi dan membuka tempat yang sudah kutandai pada novel ringanku.

Musim dingin sebentar lagi datang, dan itu berarti liburan musim dingin juga akan segera kulewati. Dan hal itu sedikit membuatku bergairah. Liburan..., kata yang paling ingin didengar oleh seluruh remaja yang berpangkat siswa di seluruh dunia. Apalagi, di musim dingin banyak sekali perayaan-perayaan yang sangat sayang jika kulewatkan.

Di banyak anime, manga, novel ringan, ketika satu bab sedang membicarakan masalah musim dingin juga pasti akan jadi menarik. Malam Natal, tahun baru, hingga komiket.

Sudah jadi kebiasaan juga bagi ayah dan ibuku untuk berkumpul bersama teman-teman mereka ketika Natal tiba. Walau jelas mereka takkan mengajakku, tapi setidaknya itu membuatku sedikit bebas. Bahkan jika aku sedang beruntung, aku bisa mengajak adikku untuk jalan-jalan pada malam Natal di alun-alun kota. Yah, meskipun itu kalau ia tak punya rencana lain dengan teman-temannya. Atau kelelahan akibat selalu dipakai sebagai anak oleh orang tuaku menggantikan peranku.

Tapi, tentu saja, aku takkan melakukan hal-hal aneh seperti yang dilakukan Kyousuke-kun. Meskipun aku sangat mencintai adikku, tapi meminta pacaran dengannya seperti yang Kyousuke-kun lakukan pada Kirino, jelas bukanlah hal yang bagus. Bisa-bisa aku kena damprat semalaman dari ibuku. Lagipula, aku yakin, tanpa menyatakan cinta seperti itu, adikku juga pasti sudah menyadari betapa besarnya cintaku padanya.

Namun, sebelum itu semua, aku jelas akan mengunjungi komiket musim dingin terlebih dahulu. Bersama ribuan manusia yang memiliki kesamaan hobi denganku jelas adalah hal sangat nyaman. Bahkan di sanalah aku bertemu dengan satu-satunya cowok yang mau dan bisa kuajak bicara ketika SMP dahulu. Yah, meski otaknya patut dipertanyakan sih.

Kemudian tahun baru. Biasanya saat tahun baru ayan dan ibu akan pergi dua hari bersama adikku ke rumah kakek. Jadi, aku hanya bisa mengunjungi kuil sendiri tanpa ditemani adikku dan menunggu uang tahun baru seperti anak kecil.

Ah! Aku tak sabar menunggu liburan musim dinginku!

Lalu, baru beberapa menit aku duduk di lantai bawah ruangan klub ini. Dua orang cewek yang kukira sedang membicarakan masalah antar-wanita itu saat ini malah sedang buru-buru menuruni tangga dan itu agak membuatku bingung. "Tunggu, kalian mau ke mana?"

Seorang cewek berambut pendek berkacamata ungu tampak terusik dengan ucapanku. Dia berhenti dan menatapku. "Ke perpustakaan." di belakangnya ada cewek berambut merah yang agak ketakutan menatapku.

"Kukira, kalian sedang berbicara 'masalah-wanita' di atas." aku mengangkat tanganku dan menggerakan jari telunjukku di udara sebagai pengganti tanda petik saat aku mengucapkan masalah wanuta. "ada memangnya?"

"Ini permintaan Gremory, dan, aku bingung harus bilang apa." ia nampak sedikit gugup. "yang jelas, yo ikut!" Sitri memberikan kode dengan tangannya.

Tapi, sebelum aku sempat menjawab, cewek berambut merah yang kutahu namanya Rias Gremory itu sudah bicara duluan sambil memasang wajah protes. "Dia juga ikut?" tunggu, apaan itu? Aku tahu, aku ini lebih sering mengganggu dibanding membantu, tapi jangan pasang wajah jijik seperti itu.

Dan lagi, sebelum aku sempat menanggapi ucapan si cewek berambut merah itu, orang berkcamata yang punya mulut setajam silet itu langsung menyela. "Yah, terlepas dari fakta bahwa wajah dan tatapan matanya yang mesum itu cukup mengganggu, dia tetap anggota klub ini. Karena, jika kau datang ke sini, berarti kau meminta kami membantumu."

Sumpah Sitri, ucapan jujurmu itu selalu menyakitkan.

"T-tapi!" dijawab seperti itu oleh Sitri, Gremory-san nampak murung.

Dia nampaknya sangat berkeberatan dengan eksistensiku, jadi sebelum Sitri menyela lagi, aku bicara. "Yah, tidak apa-apa juga, di luar juga dingin. Mungkin aku akan membantu kalian dari sini." mungkin aku tidak ikut campur atas urusan orang lain, itu bantuan yang sangat berharga bagi mereka.

Karena setiap ada perkumpulan dalam kelompok, aku biasanya adalah orang memicu perpecahan di antara mereka.

"Aku 'sih bersyukur kau tak ikut, Uzumaki-kun. Tapi, jika kau terkena kebrutalandari Bu Ross lagi, jangan membawaku dalam masalah." dia berkata begitu sambil menatapku dengan tatapan yang tak bisa kuartikan. Gremory terlihat masih gelisah. Tampaknya ia benar-benar tak suka dengan keberadaanku. Namun Sitri ada benarnya juga, fakta bahwa aku membolos dari tugas yang Bu Rossweisse berikan pada aku dan Sitri-san, kayaknya akan membuat urusanku dengannya takkan jadi mudah. "Yah, sepertinya itu bakalan jadi buruk."

Aku mengambil tas dan syalku di lantai atas, lalu kembali ke bawah dan meraih novel ringanku itu sambil berjalan ke arah mereka. "Ayo."

.

3.3

.

Sebenarnya, ada beberapa tempat yang bisa kutunjuk sebagai tempat terbaik untuk menghindari pertemuan dengan para makhluk sialan yang sering kusebut riajuu, dan bisa kugunakan sebagai destinasi bermalas-malasan: di bawah pohon rindang kompleks belakang sekolah, gedung Klub Penelitian Ilmu Gaib, dan tentu saja perpustakaan.

Di bawah pohon rindang aku bisa bermalas-malasan sambil merasakan lembutnya rumput di bawah sinar matahari. Di ruang klub, aku bisa berdiam diri sambil membaca novel ringan sampai jam klub selesai. Nah, di perpustakaan, aku bisa membaca buku tanpa mendengar suara berisik penuh cahaya masa muda para riajuu. Apalagi, ketika bicara soal perpustakaan, pasti akan selalu identik dengan kutu buku cupu berkacamata dan ileran. Makanya, tempat ini jarang sekali mendapat kunjungan para riajuu sialan itu.

Tapi, meskipun faktanya tempat ini adalah satu dari sedikit tempat favoritku untuk menghindari riajuu dan bermalas-malasan, tapi untuk saat ini aku agak merasa tidak nyaman dengan itu semua. Di belakang lemari penuh buku ini, aku dan dua orang cewek yang nampak menganggap eksistensiku sebagai gangguan tengah berdiri.

Ini pertama kalinya dalam hidupku memasuki perpustakaan bersama orang selain adikku. Apalagi mereka adalah dua orang cewek yang masih dalam tahap perkembangan.

Tapi meskipun begitu, aku di sini juga bingung harus apa. Aku bahkan tak tahu apa masalah yang dibahas. Dua orang itu, dari tadi sibuk membuka buku sastra dan sepertinya sedang mencari sesuatu yang agak susah ditemukan. "Hei, kalau boleh tahu, ini ada apa 'sih?"

Aku berusaha menarik perhatian mereka, tapi sepertinya mereka lebih memilih untuk mengabaikanku dan berfokus pada buku. "Sona, lihat ini, kata-katanya pas apa tidak?" cewek berambut merah itu menunjuk sebuah halaman dengan wajah serius. Sitri-san menatapnya juga, dan berpikir sejenak, lalu dengan wajah bimbang ia berucap.

"Tunggu, daripada menggunakan kata jatuh, bukannya lebih baik infeksi?"

"Tapi, bukannya agak aneh kalau menggunakan kata itu. Jadinya, 'hatiku yang telah terinfeksi cinta', itu mengerikan, alih-alih menghanyutkan."

"Sumpah, aku bingung. Apaan 'sih?"

"Tapi, jika menggunakan kata infeksi, kau akan terdengar intelek, dan itu menambah satu poin di hadapannya."

"Dan bagaimanapun juga, itu tetap mengerikan."

Dua cewek ini benar-benar sudah asik dengan dunia mereka sendiri. Keberadaanku mungkin hanya bagaikan angin yang sekedar numpang lewat. "Terserah kau saja. Jadi bunyinya begini, 'hatiku yang telah jatuh dalam cinta', yah, kupikir bagus juga."

"Ada yang mendengarkanku?!"

Aku benar-benar dianggap angin!

Kayaknya, daripada aku marah-marah dan membuatku terkena masalah, lebih baik, aku mencari buku dan membacanya di pojok ruangan. Fokos pandanganku ada di rak ujung yang berisi ensiklopedia mitologi-mitologi yang kayaknya bakalan asyik kalau dibaca. Aku tertarik untuk melihat deretan buku baris atas yang bertuliskan mitologi Yunani.

Aku mengambil buku putih bersampul gambar tiga orang yang bersama-sama menyerang monster yang ada di samping kiri mereka. Yang paling atas sedang memegang petir dengan wajah yang menyeramkan. Sementara di bawahnya, dalam suasan air, ada orang lagi yang nampak memegang trisula. Dan yang paling bawah, dengan nuansa neraka, ada orang yang menunyuk-nunyuk kaki si monster.

Walau aku bingung dengan apa yang akan aku dan cewek itu lakukan di klub ini. Setidaknya, aku memang suka dengan hal-hal yang berbau mitologi.

Aku meraih kursi di pojok ruangan dan mulai membaca buku yang lebarnya hampir selebar tasku itu. Cewek penjaga perpustakaan menatapku, dan ada tatapan aneh di matanya. Aku tahu, orang dengan muka sepertiku memang sulit dilihat sebagai penyuka buku. Tapi, setidaknya jangan menatapku seperti itu. Aku risih, kau tahu?

Kutatap ia balik, dan secara reflek, ia mengalihkan perhatian. Sejenak kulihat, pipinya merona. Dan aku terus melanjutkan bacaanku. Sebenarnya, kalau boleh, aku ingin tertawa melihatnya. Mana ada orang yang mencoba memermalukan orang lain, malah berakhir malu karena orang itu sendiri.

Gremory-san dan Sitri-san masih memerdebatkan hal yang aku masih tak maksud. Jatuh, dan terinfeksi dalam cinta?

Klub ini tujuannya bukan membantu seorang cewek yang sedang dalam masa jatuh cinta. Dan aku yakin Bu Rossweisse tak terlalu bodoh untuk tahu akan hal itu.

Tapi, aku juga bingung, klub ini tujuannya apa?

Yang kutahu, aku dan Sitri-san hanya duduk dan membaca apa yang ingin dibaca sambil menghabiskan waktu dengan meminum teh yang bergantian kami buat. Lagipula, dasar pembentukkan klub ini juga bukan karena dasar hobi sejenis, atau keinginan berkumpul. Seperti klub pada umumnya. Klub ini ada karena Bu Rossweisse menginginkannya ada. Dan karena itu, dia menghimpun siswa yang bermasalah dengannya untuk dimasukkan sebagai tumbal di klub ini.

Sambil memikirkan itu, aku merasakan tepukkan tangan ringan di pundakku. "Uzumaki-kun, ayo ikut aku!"

Aku tidak sempat membalas kata-katanya, karena tiba-tiba saja tas yang kuselempangkan di pundakku ditariknya. "Tu- tunggu!"

Buku itu tertinggal di meja, yang nampaknya akan membuat penjaga perpustakaan menatapku kesal. "Jangan tarik! Aku bisa jalan sendiri."

Nampaknya ia mendengarkanku, karena setelah aku bilang begitu, tangannya yang menggenggam erat tasku ia lepaskan. Dan lalu aku berjalan menuju sudut ruangan perpustakaan yang lain. "Jadi ada apa?" kurasa akhirnya mereka akan memberitahu perihal hal yang sedang jadi masalah di sini.

"Karena satu-satunya cowok di sini hanya kau, maka kami memintamu mengecek surat cinta yang kami buat."

"E...?!" jadi ini benar-benar masalah cinta.

"Jangan bengong begitu, matamu menyeramkan, dan juga, kami sudah susah-susah membuatnya, setidaknya buat hal ini mudah." aku tahu, tapi yang ingin kupahami, apa hubungan klub ini dengan permintaan mengecek surat cinta?

"Ini tugas klub?"

"Iya, lagipula ini perintah Bu Rossweisse. Jadi, jangan membuat dia marah."

Gremory-san terlihat frustrasi, dengan wajahnya yang memerah, ia mengaduk-ngaduk buku putih dengan sampul berjudul Untaian Sinar Matahari. Yang kayaknya berisi ungkapan masa remaja yang menyebalkan itu. "Mana?"

"Jika ini terlalu berlebihan bagi seorang cowok, tolong bilang padaku." dia bilang begitu sambil menyerahkan selembar kertas putih dengan hiasan beruang lucu di sisi kiri dan kanannya.

Aku tak tahu ini maksudnya apa, tapi apa tidak aneh membiarkan seoarang cowok lainmembaca surat yang akan kau berikan kepada cowok yang kau sukai. Bukankah itu agak seperti memberikan barang yang paling privat bagimu kepada seorang penjahat.

"Tapi, sebelum aku membaca ini, aku ingin bertanya."

"Apa?"

"Kenapa harus aku. Maksudku, yah kenapa aku? Bukan cowok lain yang mungkin lebih kau percayai, seperti semacam sahabat kelompok, atau apalah."

Gremory-san nampak terkesiap, sementara Sitri-san menatapku aneh. "Mmm, anu..."

"Bukankah kau anggota Klub Penelitian Ilmu Gaib, Uzumaki-kun?" Sitri-san dari belakang bicara dengan intonasi tinggi.

"Dan juga, walau aku yakin kau lebih sering menerima surat ancaman daripada surat cinta seperti ini, kau tetap seorang laki-laki. Lalu, karena kami yakin kau tak memiliki teman, jadi, risiko untuk rahasia Gremory ini bocor, lebih kecil."

Sumpah cewek ini! Kalau saja dia bukan cewek, mungkin aku akan mengajarnya habis-habisan, dan membuatnya malu seumur hidup. Mana ada orang yang meminta tolong dengan intonasi mengejek sperti itu. Lagipula, aku juga tidak tertarik dengan hubungan masa remaja yang menyebalkan ini. Menerima surat cinta dari cewek yang penuh kebodohan adalah salah satu dari sekian hal yang paling kubenci.

Lalu, aku memang tak punya teman. Tapi, jangan bilang begitu padaku. Aku agak tersakiti, kau tahu?

~-o-~

Kepada; Kakak Takayama Takate

Dari, Yang mengagumimu.

Terjerembab dalam kegelapan.

Ternaungi keraguan.

Tersesat dalam rimbunan malam.

Hatiku yang kecil ini terjatuh dalam cinta.

Kehangatan yang menusuk ini menyakitiku.

Rasa yang meluap-luap ini membunuhku.

Maka, dengan segala kerendahan hati,

Tolong datanglah ke atap sore nanti.

Dan lepaskan aku dari segalanya.

~-o-~

Aku masih menatap lembaran itu, setelah selesai membacanya, ada perasaan aneh yang mencuat dari dalam perutku. Rasa geli, dan gatal yang aneh. "Bagaimana?"

Bukan, bukan karena memang seperti yang Sitri katakan, aku tak pernah sekalipun dapat surat cinta. Walau itu memang benar, tapi bukan itu alasan utamanya. Bukan pula karena ini adalah surat cinta untuk orang lain yang kubaca. Meaki itu mengganggu, tapi aku bisa menolerir. Tapi, yang jadi masalah itu...

"Ka-kalau boleh ngomong 'sih." aku kembali menggaruk pipi dan memiringkan kepala. Gremory-san menatapku intens, dengan mata yang penuh binar. "ini agak terlalu gimana, penggunaan katanya agak sesuatu."

Maksudku, ini surat cinta 'kan?

Lagipula, mana ada orang yang menggunakan idiom yang penuh kegelapan dan kesuraman, saat ingin menyatakan cinta pada seorang yang kau sukai. Yah, aku tahu, maksudku lain, tapi, gayanya itu 'lho!

Setidaknya, untuk ukuran anak SMA yang penuh cahaya masa remaja, hal-hal yang berbau puitis bisa dihitung sebagai masalah ke sekian. Malah, kalau orang yang menjadi sasaran adalah mereka yang terlihat hotdan panas, maka bahasa yang terlalu puitis seperti itu hanya membuatnya muntah.

"Memang, sasarannya orang seperti apa?"

Mendengar kata-kataku barusan, Gremory-san masih terdiam. Namun, ia memaksakan menjawab pertanyaanku. "Kak Takayama itu anak basket, dan masuk ke tim inti sekolah ini."

Apalagi anak basket. Yah, harusnya aku tahu itu dari namanya. Takate, si tangan tinggi. Lagipula biasanya anak basket hanya akan mementingkan bola, dan bilang, shoot-up, saat kau bicara kata-kata yang rumit dengan otak bulat yang hanya berisi udara mereka.

"Jika kau tahu ia anak basket, kenapa kau memakai kata-kata yang puitis seperti ini. Apa otak udara mereka bisa paham?"

"Tapi, membuat kata-kata puitis akan menambah nilai plus di matanya saat kau menembaknya."

"Ya, aku tahu itu. Tapi, lihat dulu targetnya. Jika itu anak sastra yang penuh dengan majas, itu baik. Atau anak pintar dengan buku super tebalnya. Tapi, masalahnya, ini anak basket. Si otak udara, mana mau mereka membaca surat seperti itu."

"Jangan begitu, walau kak Takayama anak basket, dia bakalan maksud 'kok!"

"Yah, bisa 'sih. Paling risikonya otak mereka meletus."

Aku berani bicara seperti itu, karena faktanya, aku pernah sekali berurusan dengan anak basket di SMP. Mereka menghampiriku dengan semua atribut yang seolah menyeramkan dan menunjukkan identitasmereka. Bola, seragam yang lengannya hilang, celana kurang bahan, sampai gaya rambut mereka yang aneh. Kata orang-orang 'sih, mereka grup paling berbahaya di SMP, setelah aku tentunya, dan jika kau anak baik, maka kau akan membuat pilihan bijak dengan tidak mendekatinya.

Dengan wajah yang kadang membuatku ingin segera memukul mereka, para anggota Klub Basket itu u sambil bilang bahwa ketua mereka menantangku bermain basket. Aku jelas langsung menolaknya. Meskipun aku tahu kalau Klub Basket sekolahku hanya berisi para berandalan tak jelas yang otak dan kepala mereka agak tidak memenuhi standar, namun aku sendiri bahkan hanya memegang bola basket ketika ada pelajaran olahraga.

Namun, akibat tantangan yang mereka layangkan padaku setiap hari dan sikap mereka yanga sangat tidak sopan tiap kali melakukan hal itu, membuat kesabaranku berakhir. Aku menerima tantangan Ketua Klub Basket itu dengan catatan, dilarang memakai wasit. Yang artinya aku dan ketua klub itu boleh melakukan kecurangan, selain yang berhubungan dengan skor dan nilai.

Mendengar itu, dengan wajah sumringah, para anggota Klub Basket itu langsung kembali ke markas mereka di gimnasium. Tampaknya mereka bukan hanya senang karena aku menerima tantangan mereka, tapi juga karena aku menolak diadakan wasit.

Dengan tiadanya wasit, mereka bisa melakukan kecurangan apapun tanpa perlu disembunyikan. Apalagi, aku yang memintanya, mereka pasti akan dengan senang hati melakukannya. Dan itu, membuatku kembali tersadar, betapa pendeknya pikiran mereka.

Tepat esoknya, mereka langsung memabawaku ke gimnasium dan di sana sudah ada banyak sekali penonton, yang kesemuanya adalah lelaki. Bahkan ada beberapa alumni sekolahku dulu yang datang hanya untuk melihat permainanku. Ada sekitar delapan pulub penonton, dan jujur saja itu membuat mentalku sedikit turun. Pun, seperti yang dijanjikan, aku dan ketua klub itu berduel satu lawan satu tanpa wasit. Jadi pemegang bola pertama ditentukan oleh suit. Dan mulai dari sinilah kelicikanku dimulai.

Satu-satunya alasan mengapa aku selalu ditakuti oleh orang lain adalah mata dan wajahku. Dan alasan mengapa aku selalu menang melawan setiap anak yang menantangku berkelahi adalah kehebatanku dalam menghindar. Aku jarang sekali memukul orang, kecuali aku memang benar-benar harus melakukannya. Biasanya ketika aku berkelahi, aku akan selalu menghindar dan mengarahkan pukulan orang yang memukulku ke arah lain.

Makanya, ketika pertandingan basket itu terjadi tanpa wasit..., ketua klub pasti akan terangsang untuk melakukan kekerasan fiaik padaku. Dan itu benar-benar terjadi tepat seperti dugaanku. Berulang kali ia menyerangku: dengan sergapaan, tinjuan, tendangan, bahkan srudukan. Nah, mengandalkan kemampuanku terhebatku, aku selalu bisa menghindari serangannya. Lalu karena serangannya tak mengenaiku, ia langsung jatuh tersungkur di lapangan.

Saat ia terjatuh itulah momen yang selalu kugunakan untuk mencetak gol. Usahanya untuk melakukan kekerasan fisik terus berlanjut, dan aku pun terus mencetak angka. Kemudian tanpa kudari, meski dengan skor tipis, aku menang.

Hal itu tentu mengejutkan semua orang, bahkan diriku. Rencanaku hanya ingin kalah dengan skor tipis agar klub ini tak terlalu sombong. Tapi, mungkin karena memang ketua klub itu yang bernafsu sekali menyakitiku hingga berulang kali terjatuh akibat hindaranku, aku menang 56 banding 58.

Walaupun aku sudah menduga, selanjutnya mereka langsung mengeroyokku. Yang untung saja, para penonton langsung menghentikan mereka. Karena jika saja aku mungkin akan langsung bonyok. Akumulasi penggunaan energiku sudah maksimal saat bermain basket, dan aku sudah tak punya energi lagi untuk meladeni keroyokan manusia-manusia sialan itu.

"Jadi, aku harus bagaimana?"

"Begini, cowok itu makhluk yang lemah." Sitri dan Gremory-san menatapku. "dia tak butuh kata-kata memikat seperti ini. Yang cowok butuhkan itu hanya harapan dan ia akan mengejarnya."

Maksudku begini, jika ada yang bilang cowok adalah predator yang memangsa hati para cewek itu salah. Karena faktanya, jika dicermati, cowok yang jatuh cinta lebih all-out jika dibanding cewek. Dan membuat seorang cowok jatuh cinta itu perkara mudah. Hati cowok itu rentan dan rapuh. Cukup dekati ia, dan seringlah bicara padanya, dan atau beri dia sedikit harapan. Aku yakin hatinya akan tercuri.

Walau aku tak pernah merasakannya juga 'sih. Tapi, seseorang pernah bilang begitu, dan aku langsung memercayainya.

Aku mengambil pena dan selembar kertas yang ada di dalam tasku. Kutulis lembar itu dan menunjukkan pada mereka. "Cukup begini..., simpel, mudah dan jelas."

~-o-~

Kepada; Kak Takayama Takate

Rasa yang meluap-luap ini membunuhku.

Maka, dengan segala kerendahan hati,

Tolong datanglah ke atap sore nanti.

Dari, Yang mengagumimu.

~-o-~

Mereka mengangguk, dan Gremory-san menyambar kertas itu. "Agak misterius. Aku suka ini."

Sitri menatapku dan Gremory-san bergantian. "Baik. Dengan ini, submisi pertama selesai!"

"Kita lanjutkan ke submisi kedua."

.

3.4

.

Saat ini aku sedang berada di atap sambil membaca buku. Udara musim gugur benar-benar menusuk tulangku. Jika ini bukan permintaan, maka aku juga takkan mau repot-repot merasakan udara dingin ini.

Oh iya, bicara soal permintaan, aku kepikiran. Aku harus menanyakan pada Bu Rossweisse, bagaimana seharusnya nama klub ini diganti. Masalahnya, ini Klub Penelitian Ilmu Gaib 'kan? Tapi, kenapa kemarin tiba-tiba ada cewek yang datang ke klub atas rujukan dari Bu Rossweisse, dan bilang bahwa klub harus menyelesaikan masalahnya. Dan itu sama sekali tak gaib.

"Jadi, kau sudah siap?"

"Hm..., ku-kurasa."

Aku menggosokkan tanganku. Aku benar-benar butuh sarung tangan. "Jadi, kau sudah meletakannya di loker sepatu 'kan?"

Kualihkan pandanganku pada Gremory-san. "Dari tadi, kak Takayama nggak datang-datang."

Bahkan jika boleh kubilang sudah hampir satu jam kami ada di atap. Dan sampai sekarang aku belum melihat cowok –yang katanya- anak basket itu.

"Mu..., mungkin dia ada urusan klub. Jadi, dia terlambat datang."

Atau mungkin dia memang tak memerhatikanmu. Aku hampir bilang begitu, saat tiba-tiba suara klek! Ringan terdengar di balik pintu. "Dia datang!"

Sitri-san lalu menarikku ke belakang bak air. Dan Gremory-san menghembuskan napas lelah. "Huh..., fokus!"

"Ayo ke belakang!"

Dia meraih ujung syalku, dan menggeretku. "Sudah kubilang! Aku bisa jalan sendiri."

Lagipula, siapa cowok yang mau ditarik lehernya. Dan jika itu ada maka berarti dia..., "Kukira kau suka dibeginikan." tolong jangan anggap diriku sebagai masokis!

Cewek ini! Dalam keadaan seperti ini, bagaimana bisa dia sempat mengejekku?!

Dia lalu melepaskan syalku, dan aku berjalan sendiri.

Atap ini cukup luas dengan tiga buah bak penampung air yang super besar, dan pagar pembatas yang tingginya dua meter. Aku dan Sitri-san ada di sisi kanan atap, dan Gremory-san ada di seberang kami. Ini tempat bersembunyi yang bagus, kurasa. Dengan adanya bak ini, maka aku bisa leluasa melihat Gremory-san, namun dia takkan melihatku tanpa berkonsentrasi. Masalahnya, bak ini bundar, dan cembungnya mengarah ke sisinya.

Pokoknya begitu.

Pintu perlahan terbuka dan menampakkan seorang cowok berkulit putih, dan berwajah cantik yang aneh. Rambutnya pirang, dan matanya biru. Mirip sepertiku. Tapi, nampaknya, alih-alih mengerikan, wajahnya malah terlihat manis, dan menenangkan. Dan itu bukan pertanda baik.

Maksudku, rata-rata buah yang dalamnya penuh serat, biasanya berkulit halus.

Gaya rambutnya juga sama sekali berbeda dengan rambutku yang njabrik ini. Punyanya lebih ke arah meggembung ke atas, dan jatuh di atas alis. Ke arah artis Korea yang ingin kubunuh saat bertemu dengannya.

Tubuhnya semampai, seperti yang diharapkan dari seorang tim inti basket.

"I..., itu. Se..., se..., sela..., selamat sore, kak!"

"Yo, sore."

Aku terus memerhatikan mereka.

Cowok itu menggaruk belakang kepalanya, dan tersenyum..., canggung.

"Nama saya, Ri..., Rias Gre..., Rias Gremory."

Dia memerkenalkan diri?

"Tunggu, Sitri-san. Kenapa Gremory-san memerkenalkan diri?"

"Aku juga tak tahu. Apa mungkin...,"

Kak Takayama belum mengenal Gremory-san?

"Iya, ada apa?"

"Ja..., jadi begini."

"Aku..., itu, aku...,"

Kak Takayama terdiam, dan di wajahnya terbentuk sebuah senyum. "Iya, kamu...,"

"Su..., sudah, la..., la..., lama."

Seperti yang kuduga, Gremory-san akan tergagap, dan ini cukup memberiku waktu untuk memerhatikan ekspresi wajah kak Takayama. Dia melihat Gremory-san tergagap.

Tapi, dari tadi dia tersenyum.

"..., sudah, la..., lama..., me..., me..., menyukai kak Takayama."

Dan dia menghela napas lelah.

"Yah, mau bagaimana lagi."

"Aku tak bisa menolak permintaan dari gadis manis ini."

Dia berjalan mendekat, lalu mengelus kepala Gremory-san. "Jadi, ja..., jadi, kak Takayama...,"

"Iya, aku mau jadi pacarmu."

Wajah Gremory-san merah padam, benar-benar merah padam. "Ma..., makasih!"

Tanpa komando, Gremory-san memeluk kak Takayama dengan erat. "Makasih..., banyak, kak!"

"Sama-sama...,"

"..., Rias."

Aku memicingkan mata, dan menatap mereka berdua.

Kak Takayama memanggil Gremory-san langsung dengan Rias, saat mereka baru jadian?

Tatapan mataku dan Sitri-san bertemu. Dan nampaknya, ia juga bingung.

"Uzumaki-kun, ini hanya perasaanku saja, atau...,"

Memang ada yang aneh dengan semua ini.

.