Because of You
Kuroko no Basuke milik Tadatoshi Fujimaki
Rate : T
Genre : romance, friendship, hurt(mungkin)
GJ,TYPO,OOC,dsb. DLDR `kay?!
Chapter 4.
"Njaa, tadaima." Harumi pun memasuki apartemennya.
.
.
.
Author's point of view:
"Tadaima~" ucap Ryota seraya melepaskan sepatunya. Harumi yang sudah duluan masuk, langsung menuju dapur. "Ryota-kun mau makan apa?" Harumi bertanya demikian sambil mencuci mangkok, piring, dan sumpit untuk digunakan oleh Ryota.
"Eh? Masih belum diputuskan-ssu?" tanya Ryota yang menjulurkan kepalanya ke dalam dapur, melihat Harumi yang sedang mencuci peralatan makan. "Ngapain dicuci-ssu?" lagi-lagi Ryota bertanya.
"Bagaimana kalau kita makan daging yang dilumuri bumbu kare, kemudian digoreng. Sama sayurnya, wortel dan kentang yang direbus sebentar, kemudian dicincang terus dikasih bumbu kare(lagi) sama bubuk cabe. Aku mencuci peralatan makan itu, soalnya jarang banget ada yang makan dirumah." Jelas Harumi sambil mengambil bahan yang diperlukan dari kulkas.
Ryota yang mendengarkan dengan seksama merasa terpanggil untuk menggoda cewek yang disukainya itu.
"Eeh~ Jadi Harumicchi mau aku buat makan terus disini ya?" tanya Ryota dengan menggoda. Sedangkan yang digoda malah nggak peka. "Hah? Maksudmu?" tanya Harumi balik sambil memukul mukul daging nya biar empuk. Ryota hanya bisa senyum sambil sweatdrop, "maksudku, aku senang kalo istriku (nanti) bisa menyambutku saat pulang ke rumah dengan hasil masakannya yang enak." Jawab Ryota, masih berjuang memberi kode. Yang sayangnya, yang dikodein nggak peka. Kawaisou nee Ryota-kun.
"Ooh gitu. Hmm." Yang dikodein sibuk melumuri daging nya dengan parutan nanas.
Ryota cuma bisa meratapi nasib dipojokan dapur. Harumi yang ngeliat malah bingung.
Akhirnya Ryota disuruh bantuin dengan mengurusi sayurnya, yang tidak disangka ternyata Ryota bisa memotong nya! Wow! (author lebay ah -_-)
Setelah proses masak memasak selesai, akhirnya mereka menikmati dinner mereka dengan tenang dan damai. Dan TAMAT! Yey! Yeyeye lala lala. Yeyeye lala lala.
# author lelah # author wb # dihajar massa
Back to story~
Setelah proses masak memasak selesai, akhirnya mereka makan juga.
Ryota's point of view:
"Nee Ryota-kun," panggil Harumi.
"Hm?" aku sedang mencicipi masakan yang tadi dibuatnya.
"Aku heran." Dia menyuapkan makanannya.
"Heran kenapa-ssu?" tanyaku sambil menikmati makanan buatannya. Ah, pasti enak kalo nanti aku pulang dari kerja, Harumicchi sudah menyambutku dengan pelukan yang hangat.
"Kenapa sampe sekarang kamu belum punya pacar?"
Uhk! Aku tersedak.
"Emang kenapa-ssu?" tanyaku. Duh Harumicchiiii! Kapan sih kamu pekanya?
"Oh, enggak. Biasanya kalo cowok keren gitu udah punya pacar biasanya." Kata Harumicchi sambil tetap melanjutkan makannya. "Kalo orang yang kamu sukai? Ada nggak? Ah tapi pasti cewek itu mau sama kamu."
"Ada kok orang yang kusukai. Tapi sayangnya, cintaku udah nggak terbalas selama 4 tahun. Dan dia juga nggak peka-ssu." Kataku berusaha menyindir Harumicchi.
"Eh?! Siapa sih? Kok bisa nggak kebalas sampe 4 tahun?" Harumicchi sangat terkejut mendengar perkataanku barusan. "Aku kenal dia nggak? Siapa tahu aku bisa bantu." Tanya Harumicchi sambil tersenyum.
Aku terkejut melihat ekspresinya. Dia tersenyum. Dan entah kenapa, menurutku senyumnya itu.. terlihat..
Sendu.
"Oh soal itu, ntar ku kasih tahu kalo aku mau pulang. Gochisousama." Akhirnya aku selesai makan. Harumicchi juga sudah selesai makan.
Dia pun mengantarkan ku turun kejalan di depan apartemen.
"Ryota-kun." panggilnya. "Jadi siapa yang kamu sukai? Biar aku bantu." Kata Harumicchi sambil terlihat bersemangat. Sikapmu aneh Harumicchi.
"Kamu kenal kok-ssu." Jawabku seraya tersenyum. "Njaa nee Harumicchi! Jangan lupa kunci apartemenmu! Besok mohon kerja samanya ya-ssu?!" ucapku sambil berlari meninggalkannya.
"Eh?! Ryota-kun matte!" panggil Harumicchi.
Padahal tadi aku mau nembak dia.
Tapi aku masih bingung dengan perasaan nya terhadapku.
Tapi, tadi saat dia bertanya apakah aku mempunyai orang yang disukai, aku jawab iya.
Wajahnya terlihat sendu. Meskipun dia tersenyum, tapi sedikit terlihat kesedihan yang tersirat di wajahnya.
Kemudian ketika dia menanyakan siapa orang yang kusukai dia malah terlihat bersemangat. Tapi biasanya Harumicchi bakal memperlihatkan ekspresi yang sebaliknya.
Jadi, dia sedih kalau aku suka sama orang. Suka dalam arti yang khusus.
Eh?
Tunggu dulu. Harumicchi bukanlah orang yang peka terhadap sesuatu yang berbau cinta. Jadi ada kemungkinan yang dia maksud adalah orang yang kamu suka dalam arti yang lain. Seperti teman mungkin.
Eh?!
Berarti aku bisa saja salah penafsiran dong?!
Tak terasa setelah berjalan beberapa lama, akhirnya aku sampai di depan pintu masuk rumahku.
Avaron's point of view:
Ahhh. Tsukareta. Aku berbaring diatas tempat tidurku. Memikirkan apa yang terjadi hari ini. Rasanya aku ingin berbagi cerita dengan orang lain. Aku pun segera meraih ponselku dan mencari kontak salah satu teman ku.
"moshi moshi Hana-chan?" aku sedang menarik nafas untuk langsung bercerita padanya.
"Ha? Sapa sih malem malem gini?! Ganggu orang aja!" kata Hana-chan disebrang dengan nada yang terbilang kasar.
"Avaron." Jawabku pendek.
"Ara~ Avaron-chan! Dousta? Tumben telfon?" nada bicaranya langsung berubah.
Aku pun menceritakan tentang yang terjadi hari ini.
Tapi dalam hatiku, aku menangis. Aku sudah dimanfaatkan oleh Hana. Aku pun teringat kejadian beberapa waktu yang lalu.
FLASBACK ON:
Aku hendak ke kelas, mengambil jepit rambutku yang tertinggal. Sekarang sedang pelajaran olahraga, jadi aku membutuhkannya agar tidak menggangguku.
Saat aku berada di depan kelas, aku bisa mendengar suara Hana-chan dan 2 orang temanku yang lain.
"Ahahahahaha. Ya nggak mungkinlah!" Hana-chan tertawa kencang sekali. Biasanya kan dia yang paling menjaga sikapnya diantara kami berempat.
"Nggak mungkin aku tulus temenan sama dia!" hah? Apa maksudnya? Aku tidak mengerti.
"Aku kan temenan sama dia karena menurutku dia lah ancaman terbesarku dalam memperebutkan Ryota-kun! jadi aku bisa minta dia mengalah padaku kalau nanti aku mau nembak Ryota-kun kan?" kata Hana-chan dengan wajah yang menyebalkan.
Aku pun tidak jadi mengambil jepit rambutku. Aku segera berlari menjauhi kelas. Kembali ke lapangan. Entah kenapa pandanganku menjadi tidak jelas. Ah ternyata mataku sudah mengeluarkan cairan bening yang selama ini kutahan.
Tangis ku pun pecah. Di dalam koridor sekolah yang sepi ini aku terisak sendirian. Mengeluarkan semua yang kupendam. Mengeluarkan semua kekecewaanku terhadap 'teman'.
"Ano, daijobu?" tanya seseorang. "Jelas nangis gini! Haduh! Gimana tanya nya ya?" ucapnya pelan. Ku pikir itu pertanyaan untuk dirinya sendiri.
Aku segera bangkit dan berlari meninggalkannya. Aku sedang tidak ingin berbicara sekarang.
Sedangkan kulihat dari sudut mataku, gadis itu memanggilku. Dengan raut wajah yang khawatir.
Bagaimana bisa kau mengkhawatirkan orang yang tidak terlalu akrab denganmu? Dan mungkin, ini pertama kalinya kita bertemu. Ah sudahlah.
FLASHBACK OFF.
Setelah selesai bercerita pada Hana-chan. Aku memutuskan untuk melakukannya.
.
.
.
Esoknya~
Di kelas~
Aku sengaja berangkat lebih pagi hari ini. Aku ingin segera bertemu dengannya. Ito Hana.
Ah, tapi biar lebih seru, mending aku labrak pas istirahat makan siang di koridor. Good job Avaron! Dan untuk sekarang mungkin aku akan sendirian dulu.
Aku berniat untuk pergi ke kelas Ryota-kun. Sambil menunggu bel berbunyi. Ah! Ternyata dia sudah datang!
"Ryota-kuun!" aku langsung memeluknya. Sedangkan yang dipanggil hanya memasang ekspresi kaget.
"Avaroncchi! Ohayou-ssu!" sapanya dengan ramah.
"Ohayou! Tumben berangkat pagi." Aku melepaskan pelukanku dan duduk di kursi sebelah kirinya.
"Ada latihan tambahan dari Kasamatsu-senpai-ssu! Jadinya berangkatnya pagi-pagi banget." Dia menguap. Aku pun tersenyum.
"Avaroncchi sendiri, kenapa berangkat pagi? Biasanya jam segini kamu kan belum datang-ssu." Tanya nya dengan pandangan agak mengantuk.
Ah senangnya. Aku diperhatikan olehnya. "Ada perlu~" jawabku sambil tersenyum misterius. "Mending Ryota-kun tidur aja deh. Nanti nggak konsentrasi ke pelajaran lho." Lanjutku.
Belum sempat dia berbicara aku sudah beranjak dari tempat duduk. "Njaa nee!" aku pun kembali ke kelas ku.
Tetapi di depan pintu masuk kelasku, aku bertemu Harumi. Dia agak terkejut melihatku. Tapi dia segera menormalkan kembali ekspresinya.
Kemudian aku melewatinya begitu saja. Jika ia mau berpikir, dia pasti tahu aku habis dari mana.
"Ano, daijobu?" tanya nya dengan ekspresi agak ragu. Aku pun langusng menoleh. Perempuan itu.
Tapi aku tahu apa yang dia maksud.
"Sebentar lagi aku akan menyelesaikan masalah ini. Jadi pasti akan baik-baik saja." Jawabku tanpa melihat wajahnya.
"Njaa, ganbatte!" katanya.
Hah?
Aku menoleh kearahnya. Tetapi dia sudah masuk kedalam kelasnya.
Apa maksudnya?
.
.
.
TBC
Nyahoo~ bertemu lagi dengan Author~ ada yang menunggu update an because of you kah?
Kalo ada, author seneng banget! *peluk reader sekalian.
Kalo nggak ada, author patah semangat. Potek. Lelah. Sedih. Kratak kratak.
Oke sekian dulu buat chap 4 ini~
Jangan lupa review sama say hi doang juga boleh kok! Dan follow sama favnya makasih~
Buat yang udah baca, review, say hi, fav & follow, makashi banyak yaa! Arigatou gozaimasu!
Then,
See you in next chapter.
HikarinRin23
