Dan Jungkook pun kalah. Dia menghela nafasnya lalu mengangguk pelan. "Baiklah." ucapnya pasrah. "Memangnya keluarga hyung datang semua sampai aku tidak boleh datang?"

Senyum Seokjin kali ini terlukis lebar. "Tidak, ini bahkan bukan makan malam keluarga. Ini makan malam dengan penyelamat."

-x-

Seokjin membersihkan mejanya. Setelah dirasa cukup bersih, dia melangkah keluar dari kelasnya. Seokjin baru sadar bahwa dia yang terakhir berada di kelas, buku astronominya terlalu menarik untuk digeletakan begitu saja di kolong mejanya. Bahkan matahari hampir tenggelam sekarang.

Seokjin merogoh saku celananya. Jarinya hampir menekan panggilan pertama, kemudian dia ingat bahwa dia memiliki janji. Tangannya pun kembali merogoh saku celananya, mencari kertas yang dia lipat cukup kecil.

"Oh? Nomornya hanya berbeda satu digit denganku."

Kenyataan yang cukup unik dan menurut Seokjin harus diabadikan. Jadi dia mengeluarkan kamera polaroid yang pernah nyaris Jungkook curi dari tasnya dan mengabadikan kertas bertuliskan nomor Namjoon ditangannya. Seokjin meniup hasil potretannya. Setelah gambarnya muncul dia memandanginya sebentar, lalu menyimpannya dalam saku celananya.

Seokjin memasukkan kembali kameranya dan beralih pada ponselnya untuk menghubungi Namjoon. Dahinya berkerut untuk beberapa saat, sampai suara yang sedikit ramai menyapanya. Sepertinya ahjussi itu sedang mendengarkan lagu hip-hop.

"Ahjussi, aku sudah selesai. Ahjussi dimana?"

"Aku di depan gerbang sekolahmu. Cepat turun, perutku sudah meraung."

Dan Seokjin langsung memutuskan sambungannya sepihak. Dia langsung berlari menuruni tangga dan keluar gerbang sekolah dengan cepat. Mobil Namjoon sudah menunggu tepat di depannya, tanpa babibu Seokjin pun masuk.

"Kukira kau pulang jam empat. Aku menunggu dua jam."

Seokjin tidak berani menatap Namjoon, jadi dia menundukan kepalanya dan memainkan jarinya. "Maaf, aku terlalu asyik dengan bukuku."

Lalu Seokjin mendengar hembusan nafas. Matanya terpejam erat, berjaga-jaga jika ahjussi di sampingnya ini marah. Memejamkan mata adalah cara agar Seokjin tidak mendengar omelan orang lain. Aneh karena orang lain biasanya memejamkan matanya ketika mereka ingin mendengarkan sesuatu. Tapi itulah Seokjin.

"Kuterima alasanmu." tangan Namjoon mengusak rambut Seokjin seperti yang tadi pagi dia lakukan. "Pakai seat-beltmu. Kita berangkat."

.

.

.

"Jungkook tadi bilang kalau dia ingin ke rumah, tapi kubilang aku ada makan malam dengan penyelamatku. Dia hampir menangis."

Seokjin terus bercerita tentang apa yang dialaminya hari ini sementara Namjoon duduk di ruang makan yang berada di belakang dapur. Tangan Namjoon menopang kepalanya, matanya memandangi Seokjin yang membelakanginya, sibuk dengan masakannya.

Ini hari pertama mereka bertemu kembali setelah kurang lebih seminggu tidak bertemu. Namjoon bingung dengan dirinya, karena bisa bersikap begitu baik dengan anak yang akan dia nikahi karena pekerjaan. Bahkan dia kurang ajar sekali dengan ibunya.

"Ah! Aku lupa menghubungi Yoongi!" tiba-tiba Seokjin memekik dan mematikan kompor. Matanya mencari-cari sesuatu.

"Mencari apa?"

"Ponselku."

"Mau menghubungi siapa?"

"Yoongi. Aku lupa bilang kalau Jungkook minta diajari bahasa Inggris."

Ada yang aneh dengan dirinya, Namjoon tahu itu. Karena dia malah menyembunyikan ponsel Seokjin di saat anak itu mencarinya. "Aku tidak melihatnya, mungkin tertinggal di mobil."

Lalu Namjoon tersenyum kecil ketika Seokjin merengut kesal. "Dari sini ke parkiran jauh sekali.." dan anak itu kembali menyalakan kompor. "Ya sudah, nanti saja. Atau biarJungkook mendapat nilai jelek, kubelikan saja kamera idamannya itu."

Namjoon yang bersikap aneh pun terkekeh diam-diam. Seokjin benar-benar tidak cocok menjadi kepala keluarga, anak itu berbakat menjadi pihak penerima, sifatnya benar-benar..

'istri' idaman Namjoon.

"Ahjussi, dimana piringnya? Kalau bisa pakai piring yang cekung ke dalam ya."

Namjoon bangun dari duduknya, yang merupakan hal aneh lainnya yang dia lakukan hari ini. Biasanya dia akan menyuruh orang lain untuk bergerak, bahkan ibunya, tapi sekarang dia bergerak memenuhi permintaan anak bungsu Tuan Kim.

"Piring ada di sini." Namjoon membuka salah satu pintu kitchen set dan Seokjin melihat rentetan piring berjajar rapi di atas rak piring putih.

"Bagaimana dengan sendok, garpu, dan pisau?" Namjoon menarik laci kitchen set. "Di sini."

"Sebelum kau bertanya lagi, kain bersih ada di sana, gelas ada di lemari yang ini, dan yang lainnya sudah kuberitahu sebelumnya."

Lalu secara tiba-tiba Seokjin tersenyum lebar pada Namjoon, membuat Namjoon terkejut. "Terima kasih, ahjussi." dan anak itu berjalan cepat dengan dua piring seafood pasta ditangannya. Sementara Namjoon masih berdiri mematung di tempatnya dengan jantung berdebar-debar diluar kendali.

"Ahjussi, ayo makan!"

Sebelum berbalik dan melangkah, Namjoon mengontrol mimik wajahnya terlebih dahulu. Dia harus terlihat sama menyeramkannya seperti pertama kali dia dan Seokjin bertemu, jadi anak itu tidak akan memberikan 'serangan dadakan' padanya.

"Ahjussi, kau punya susu stroberi? Aku ingin itu."

Namjoon hampir mengangkat bokongnya dari bangku ketika dia ingat kalau itu adalah hal aneh. Namjoon mendudukan kembali dirinya dan menatap Seokjin datar. "Di kulkas, ambil saja." dan Seokjin berlari kecil menuju kulkas untuk mengambil susu stroberi yang dia inginkan. Dimata Namjoon anak itu terlihat man-

Sepertinya Namjoon harus ke gereja besok.

.

.

.

"Terima kasih untuk makan malamnya, ahjussi." tangan Seokjin menjauhkan piring dari hadapannya. Matanya memandang Namjoon yang masih berkutat dengan makanannya. Seokjin ingin tahu, ahjussi ini memang makan sedikit atau nafsu makannya hilang?

"Ahjussi, kalau kau tidak sanggup menghabiskannya, buat aku saja." dan ucapan Seokjin direspon oleh tatapan datar dari Namjoon. Seokjin sedikit menundukan kepalanya takut. Seokjin hanya menawarkan bantuan, lagipula sayang jika Namjoon tidak memakan pastanya, lebih baik masuk ke perutnya. Seokjin juga hanya tidak ingin berakhir menangis karena masakannya tidak dimakan dengan baik.

"Kau itu.." Seokjin langsung memejamkan matanya.

"Makan banyak ya?"

Perlahan-lahan mata Seokjin terbuka, sedikit bingung dengan situasi. "I-iya."

"Itu bagus, kau masih dalam pertumbuhan, perlu banyak asupan." Namjoon mendorong piringnya mendekati Seokjin. "Makanlah."

Dan Seokjin bertambah bingung. Apa maksud ahjussi ini? Apa.. menyuruh Seokjin untuk bertambah gemuk, jadi Korea akan menjudgenya karena menjadi 'istri' Namjoon yang jelek? Seokjin tidak mau.

"Tidak jadi. Aku tahu maksud ahjussi."

"Huh?"

Seokjin melipat kedua tangannya di depan dadanya, kepalanya naik dengan angkuh. "Kau menyuruhku untuk gemuk agar orang-orang membenciku kan? Enak saja." mata Seokjin melirik Namjoon sinis. "Aku tidak mau."

"Tidak, kau tadi yang meminta."

"Tidak jadi! Aku tidak mau gemuk!"

Namjoon sudah dengar tentang kelabilan remaja, tapi dia tidak tahu bahwa kasusnya separah ini. Anak ini sudah begini sebelum Namjoon menikahinya, lalu bagaimana jika mereka sudah menikah? Mungkin pada akhirnya anak ini akan stabil, tapi masa kelabilannya tentu tidak akan langsung berakhir ketika mereka menikah.

"Astaga.."

Lalu ponsel Namjoon berdering. Pria itu merogoh saku celananya dan mengangkat panggilannya. "Ya?"

Seokjin tidak tahu siapa yang menghubungi Namjoon, tapi ahjussi itu terlihat tidak senang. Dahi ahjussi itu berkerut, sama seperti ayahnya ketika makan malam dan mendengar berita buruk mengenai perusahaannya.

"Hei bocah."

"Aku bukan bocah!"

"Terserah. Intinya aku tidak bisa mengantarmu pulang, ada urusan mendadak."

Seketika, rasanya Seokjin ingin sekali menangis. Bayangan dia menunggu di halte sendirian, di malam hari, sungguh menakutinya. Seokjin belum pernah melakukan itu, ibunya bilang ada banyak orang jahat yang melakukan kejahatan di saat seperti itu.

"Uh.." kepala Seokjin tertunduk. "A-aku.. aku tidak bisa pulang sendiri. Aku belum pernah naik bis."

"Kalau begitu, menginap."

Kepala Seokjin secara refleks terangkat, matanya membelalak. "Apa?!"

"Menginap. Ada kamar tamu di atas, kau tidurlah di sana, akan kusuruh sekretaris Jang mengambil bajumu. Besok Sabtu, kau tidak ada ekskul kan?" ditanya, Seokjin pun menggeleng.

"Kalau begitu masak apapun sesukamu, aku mungkin akan pulang tengah malam. Bersenang-senanglah." lalu Namjoon pergi dari hadapan Seokjin. Benar-benar meninggalkan Seokjin tanpa menoleh sedikit pun.

Dengusan kesal Seokjin keluarkan. Apa yang ahjussi itu bilang tadi? Bersenang-senanglah? Seokjin tidak akan pernah bisa bersenang-senang tanpa 'observatorium' pribadinya.

Tapi rumah ini sepertinya menarik untuk dijelajahi. Rumah ahjussi itu mirip dengan museum seni, ada banyak lukisan dan patung berjajar rapi di dinding dan meja. Biasanya Seokjin tidak menyukai hal yang menyangkut seni, tapi dia senang melihat rumah Namjoon. Pemiliknya saja adalah karya seni Tuhan.. kalau Seokjin boleh jujur.

Kepala Seokjin menggeleng pelan, berusaha menarik kembali kewarasannya agar bisa melangkah tanpa berpikir macam-macam tentang ahjussi itu.

Kakinya terus melangkah bersamaan dengan matanya yang menjelajahi dinding putih gading di hadapannya. Seokjin rasa ini adalah ruangan yang benar-benar khusus untuk lukisan, karena tidak ada satu pun patung yang diletakkan di sini.

"Hm?" kepala Seokjin bergerak miring secara tidak sadar. Di depannya adalah jalan buntu, langkahnya terhenti oleh dinding besar yang memajang satu lukisan besar yang ditutupi kain putih. Tubuhnya sedikit bergidik ngeri ketika membayangkan apa yang mungkin ada di balik kain itu. Mungkin lukisan penuh darah? Atau lukisan iblis? Seokjin benci lukisan iblis. Pernah sekali dia berkunjung ke pameran lukisan dan melihat lukisan penuh dengan gambar iblis yang kelihatannya sedang memberontak. Malamnya dia tidak bisa tidur dan dia berakhir tidur bersama Solji noona yang tidak tega dengan Seokjin yang terus menangis.

Tangannya hendak menarik kain itu, tapi tangannya yang bergetar, sepertinya merupakan pertanda bahwa Seokjin tidak seharusnya melihat lukisan itu. Tapi Kim Seokjin adalah anak berumur sembilan belas tahun yang penuh dengan rasa ingin tahu, tangannya tetap bergerak menarik kain putih itu.

Rasanya seperti saat itu dia terjebak dalam slow-motion, jantung Seokjin berdebar kencang bahkan Seokjin sendiri bisa mendengar debarannya. Debarannya semakin pelan ketika matanya memadangi lukisan di hadapannya. Lukisan yang sangat besar yang hanya terisi oleh satu objek.

Seorang bayi. Seokjin tidak tahu siapa karena bayi itu membelakanginya.

Ada banyak pertanyaan yang muncul dibenaknya seputar bayi itu dan arti dari lukisan itu. Mungkinkah maksudnya Namjoon ingin memiliki bayi? Kalau begitu seharusnya ahjussi itu menikahi wanita cantik, bukan anak lelaki sepertinya. Pemikiran itu membuat Seokjin berdecak kesal, dia tidak suka pemikiran itu.

Lalu Seokjin menangkap tulisan di pojok kanan bagian bawah lukisan itu.

'Takdir yang aneh menuntunku pada bayi ini.'

Seokjin menarik nafasnya dengan kasar. Dia akan tanya kebenarannya pada ahjussi menyebalkan itu besok pagi.

.

.

.

Sudah satu jam lebih Namjoon menghembuskan nafasnya kasar. Lee Jaehwan memang manusia sialan, berani sekali melakukan hal nekat seperti ini.

"Sajangnim, sistem kita akan down jika kita tidak mengeluarkan G-157."

Mata Namjoon terpejam. Apa setelah ini dia harus memenggal kepala Lee Jaehwan? Pria itu semakin lancang saja setelah Namjoon abaikan.

"G-157 belum siap sepenuhnya sajangnim." pria berjas putih yang berdiri di belakang Namjoon menunduk. Sekretaris Namjoon memandangi ilmuwan itu dengan tajam. "Lalu selama lima tahun ini apa yang kau lakukan?"

Apa yang harus Namjoon pilih? Artificial intelligence system yang perusahaannya diam-diam buat bisa jadi berbalik menjadi mimpi buruk baginya. Selama beberapa saat Namjoon menyesali dirinya yang memutuskan untuk membuat dua pekerjaan baginya. Kenapa dia tidak berdiam diri saja di bangku CEO nya dan sepenuhnya mengurusi dokumen?

Lalu Namjoon membuka matanya.

"Pasang G-157. Kerahkan usaha terbaik kalian agar sistemnya melindungi data-data perusahaan, terutama identitasku."

Namjoon baru saja berjalan satu langkah sebelum dia berbalik lagi. "Ah, jika sistemnya sudah bekerja, namai dia December."

.

.

.

Pukul satu dini hari dan mata Seokjin masih terbuka lebar. Otak Seokjin sudah sangat lelah, hanya saja matanya seperti dilem, jadi Seokjin terus berjalan mengelilingi kamar tamu milik Namjoon. Tidak ada yang spesial, kamarnya benar-benar datar.

"Kenapa belum tidur?"

"Astaga!" tangan Seokjin memegangi dadanya. "Ahjussi! Ahjussi tahu apa itu mengetuk? Kalau ahjussi tidak tahu biar kuberitahu." matanya menatap Namjoon kesal.

"Maaf. Kenapa kau belum tidur?"

Seokjin tidak menjawab, hanya bergerak dalam diam ke atas ranjang dan menggelung tubuhnya di bawah selimut. Membuat Namjoon heran setengah mati dengan maksud anak itu. Tapi ketika dia kembali ingat bahwa Seokjin memerlukan usapan dan kecupan di kepala anak itu, Namjoon mengerti.

Tapi tidak mungkin kan dia melakukan itu?

"Ahjussi keluarlah, aku yakin aku akan tertidur sebentar lagi." Seokjin berbohong. Mungkin jika Namjoon meninggalkannya, Seokjin akan berakhir dengan mata yang masih terbuka walau matahari sudah terbit.

"T-"

"Tenang saja. Pergilah ahjussi, selamat malam." Seokjin memejamkan matanya, berusaha membuat Namjoon yakin dengan ucapannya. Lalu hening, perlahan-lahan Seokjin membuka matanya dan mendapati kamarnya kosong. Kepalanya bergerak sedikit untuk mencari Namjoon.

"Lihat? Kau tidak bisa tidur."

"Astaga!" Namjoon terkekeh diam-diam, anak ini benar-benar menggemaskan dimatanya.

"Ahjussi, apa ahjussi mau bertanggung jawab jika aku terkena serangan jantung?!" Seokjin membalik tubuhnya, menghadap Namjoon yang berdiri di belakangnya. "Apa hobi ahjussi itu mengejutkan orang? Kenapa tidak melamar jadi badut pesta agar bisa ikut pesta kejutan?"

"Tidak penting. Apa kau tidak mengantuk?" Namjoon memandang Seokjin kasihan. Anak itu pasti lelah, tapi sayangnya Namjoon tidak bisa membawa Tuan Kim ke rumahnya, rumahnya harus tetap menjadi rahasianya, sekretaris Kim, dan beberapa ilmuwan. Ditambah Seokjin untuk saat ini.

"Aku sudah-"

"Bohong. Nyamankan posisimu, mungkin bercakap denganku bisa mengundang rasa kantuk."

Seokjin terkekeh. "Apa karena ahjussi sangat membosankan?" matanya menatap tepat dimanik Namjoon, membuat yang ditatap kebingungan untuk bersikap.

"Ti-tidak tahu. Posisimu sudah nyaman?" Namjoon mengalihkan pembicaraan. Pertama kalinya dia bersikap seperti ini.

"Hum. Ayo, bicara tentang hal membosankan." Namjoon tidak mengerti maksud Seokjin ketika anak itu menepuk tempat kosong di sebelahnya, dia hanya diam. Ketika Namjoon ingin membuka mulutnya, Seokjin menginterupsinya, mengatakan bahwa Namjoon harus mengisi tempat kosong di sebelahnya.

"Tidak, tidak akan pernah terjadi." Namjoon menolak.

Bibir Seokjin mencebik. "Tapi kedua noonaku selalu duduk di sebelahku setiap kali bercerita. Ahjussi juga harus."

Namjoon menghembuskan nafasnya, mencoba menahan emosi pada anak yang menumpang untuk tidur di rumahnya. Seingat Namjoon dia tidak pernah bersikap seperti Seokjin ketika dia remaja dulu. Dia cenderung tenang dan datar terhadap sekelilingnya. Dia tidak pernah mencebikan bibir seperti Seokjin, protes seperti Seokjin, tersenyum lebar seperti Seokjin..

Namjoon tidak pernah mengalami semua itu, tapi dia suka ketika Seokjin yang melakukannya. Aneh bukan? Belum terhitung satu hari mereka kembali bertemu, tapi Namjoon sudah merasa nyaman dengan Seokjin.

Selimut di ranjang itu sedikit Namjoon naikkan untuk menutupi kakinya dan dia merapikan selimut bagian Seokjin agar anak itu tertutupi sampai bibir anak itu. Udara musim gugur pada malam hari menembus kamar, Namjoon tidak mau anak ini protes. Dia sudah cukup lelah hari ini.

"Ahjussi."

"Hm."

"Lukisan yang ditutup kain.. bayi siapa itu? Apa maksudnya? Apa ahjussi ingin memiliki bayi? Kenapa tidak menikahi wanita cantik dan kaya saja? Kenapa tidak menerima setengah dari harta ayah saja, ah omong-omong ayah sudah bercerita padaku." mata bulat itu terus memandangi Namjoon lekat. Namjoon jadi merasa tidak bebas, rasanya seperti dia takut satu gerakan saja dapat mengurangi poinnya di depan Seokjin.

"I-itu, bayi itu muncul dimimpiku tiga tahun yang lalu, aku tidak tahu siapa itu, dimimpiku dia berpose sama persis seperti dilukisan." tangan Namjoon bergerak menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.

"Ahjussi, maaf sebelumnya.. tapi, ahjussi itu.. sama-sama cabul seperti Lee Jaehwan itu ya."

Mata Namjoon secara langsung terbelalak. Dia? Cabul seperti Jaehwan? "Yak, bayi itu memang sudah telanjang dimimpiku. Aku tidak pernah minta diberikan mimpi berisi seorang bayi yang menampakkan bokongnya padaku." tangan Namjoon terulur untuk menepuk kepala Seokjin beberapa kali. Tidak keras, bahkan tidak ada tenaga sedikit pun dalam pukulan itu, Namjoon tidak ingin mendapat tuntutan atas tindak kekerasan.

"Hooaamm.. ahjussi, sepertinya aku mengantuk." Seokjin bergerak kecil, memposisikan dirinya senyaman mungkin agar tidurnya lelap. Matanya berkedip pelan beberapa kali sebelum akhirnya terpejam.

Ini kali pertama Namjoon menyaksikan hal seperti ini. Ini.. menyentuh hatinya.

"Ahjussi.." Namjoon langsung menatap Seokjin. Mata anak itu masih terpejam, sepertinya anak itu mengigau, itu wajar untuk orang yang mengantuk berat.

"Ahjussi, kau.. aku menyukaimu, kau baik."

Namjoon hanya bisa terpaku setelahnya. Sepertinya sistem kerja jantungnya sudah mulai rusak, karena itu berdebar di luar batas normal. Dan ketika tangannya bergerak untuk mengelus lembut kepala Seokjin, Namjoon sadar bahwa anak ini, Kim Seokjin, memiliki sesuatu yang kuat dalam dirinya.

Karena dia bisa menarik Namjoon dari semua hal normalnya.

"Tidur yang lelap, cantik."

.

.

.

TBC

Aku sadar banget kalo bagian terakhir itu keju.. :)

Kalo ada yang bingung..

Kok, kerjaannya Namjoon jadi aneh sih?

Kok tiba-tiba aku masukin December si artificial intelligence system?

Tenang, nanti pasti semuanya jelas, ok? ;)

Buat If-SunFlower, tenang aku ngga bakal ngelupain kalian yang baca ceritaku di sini. Masa aku lupain, kurang ajar banget kalo aku begitu :( lagian aku belum publish apa-apa, masih takut :( dunia oren yang satu itu cukup menyeramkan..

Makasih banyak buat yang baca, follow, favorite, terlebih lagi review :) aku jadi lebih semangat buat nerusin cerita ini :)

Maaf kalo ada typo :(

Have a nice day! Peace.