HunHan

.


Pagi itu tidak seperti biasanya Luhan bangun lebih dulu dari Sehun. Ia mendongak melihat suaminya sekilas sebelum melepaskan diri dari pelukannya.

Berusaha agar selimut tetap menutup bagian bawahnya, ia hendak memungut piyamanya di lantai yang semalam Sehun lempar begitu saja.

"Mau kemana?" Luhan terlonjak, tiba-tiba mendengar suara serak Sehun. Ia menoleh, melihat pria itu yang masih memejamkan mata. Pikirnya, Sehun hanya mengigau jadi Luhan tidak menyahut dan mengabaikannya.

Itu sampai kemudian Sehun memanggilnya kembali masih dengan mata tertutup.

"Luhaan..."

Luhan menjawab kemudian. "Ke dapur, melihat apa Kyungsoo sudah menyiapkan sarapan."

Tangan Sehun bergerak membuat gestur menyuruh ia untuk mendekat. "Kemari," katanya. Tidak mendapat jawaban, Sehun kembali menyebut nama si mungil. Kali ini lebih keras. "Luhan!"

Mengembuskan napas, Luhan dengan malas-malasan kembali meringkuk di pelukan Sehun. Sehun membuka mata, menunduk melihatnya. "Aku lupa menanyakannya semalam...apa yang terjadi kemarin siang? Kyungsoo bilang kau tidak menghabiskan makan siangmu?" tanya Sehun.

Tugas Kyungsoo adalah mengurus semua kebutuhan Luhan, tapi selain itu ia juga sebagai pengawas gerak-gerik Luhan yang kemudian akan ia laporkan pada Oh Sehun. Karenanya, sekalipun Sehun tidak ada itu tidak berarti Luhan bisa seenaknya.

Terkadang Luhan bertanya-tanya kenapa Sehun tidak bertanya langsung saja padanya. Untuk apa ponsel canggih yang dia belikan padanya kalau begitu? Apa sebegitu tidak percayanyakah Sehun pada Luhan? Benda mahal itu sekarang hanya teronggok tidak berguna mengisi laci lemarinya.

"Luhan?" Suara Sehun menyentak Luhan dari lamunannya tentang ponsel.

"Ah, itu...kemarin aku agak sedikit mual dan pusing jadi tidak napsu makan, mungkin masuk angin," jawabnya. "Tapi sekarang sudah lebih baik." Luhan meyakinkan seolah berusaha membuat Sehun agar tidak mengkhawatirkannya, meski tentu saja Sehun tidak akan. Setidaknya tidak akan dia tunjukan kekhawatirannya itu di depan siapapun.

"Ya, tentu saja. Aku bisa melihatnya semalam." Sehun menyeringai sementara Luhan memerah mengerti akan maksud Sehun.

"Sehun?" panggil Luhan.

"Hmm?" Sehun yang telah kembali memejamkan mata hanya merespon dengan bergumam.

"Boleh tanya sesuatu?"

"Tentu,"

"Janji tidak boleh marah!"

"Tergantung,"

"Berjanjilah!"

Sehun membuka mata. Mengangkat alis pada si mungil. "Sekarang kau berani mengajukan negosiasi denganku?"

Luhan menelan ludah. "T-tidak,"

"Nah, apa pertanyaannya?"

Si mungil mengepalkan tangan kecilnya diantara wajahnya dan dada Sehun, berusaha menghidari tatapan si pria dominan. Suara yang kemudian keluar dari bibir mungilnya nyaris serupa bisikan, namun tentu saja itu masih bisa ditangkap indra pendengar Sehun yang peka. "Bagaimana menurutmu tentang bayi?"

"Bayi?" Sehun mengulang.

Luhan segara mendongak. Ia tiba-tiba panik bahkan sebelum Sehun mengatakan apapun lagi. "Oh, maksudku Sehun—"

"Mereka kecil, berliur dan juga berisik." Sehun memotongnya cepat.

Luhan berkedip menatapnya. "Apa itu artinya kau tidak suka mereka?"

"Tidak berarti seperti itu...tunggu...kenapa kau menanyakan ini? Kau tidak mungkin sedang hamil 'kan? Aku selalu pakai pengaman setiap kali kita melakukannya,"

"Sayangnya tidak." Luhan mengembuskan napas.

"Sayangnya? Jadi kau mengharapkan hamil dan punya anak dariku?"

"Itupun kalau—"

"Tidak Luhan. Aku tidak berencana punya anak darimu." Setidaknya tidak sekarang.

"Sehun, tapi..." Luhan menelan kembali apa yang ingin dia ucapkan, menghela napas Luhan berkata, "Oh ya, tentu saja kau tidak akan. Baiklah Sehun. Tidak apa."

Kemudian Luhan bergerak, melepaskan diri dari pelukan Sehun, dan berbalik memungungi suaminya. Punggung sempit nan mungil Luhan yang putih bersih dan tampak halus kini terpampang di hadapan Sehun, yang menunjukan wajah tidak percaya.

Berani sekali dia...

"Luhan, apa kau sedang merajuk? Jadi kau bahkan berani merajuk padaku sekarang?"

"Ugh," Luhan meringis sebelum kembali berbalik malas-malasan untuk menghadap dada Sehun dengan wajah cemberut. Sehun menyeringai kemudian menyentak pinggang kecil Luhan yang telanjang lebih dekat padanya. Luhan melebarkan mata kaget dan lagi-lagi mengeluarkan suara tikus tercekik. Itu sangat menggemaskan.

Sebelum Luhan bisa protes, Sehun sudah membungkam mulutnya dengan ciuman.

Pagi itu, Luhan memakan sarapannya lebih siang dari biasanya sementara Sehun pergi tanpa sarapan lebih dulu. Kyungsoo tersenyum mengerti melihat rona samar di wajah Luhan yang terus bergerak tidak nyaman di kursinya—berusaha menutupi lehernya sepanjang ia menghabiskan sarapan.


.


Awwwww Luluuuuu...senyum senyum gaje sendiri nih nulis bab ini. Lulu pengen ngambek tapi takut ama si Seno. Omo omo omo! Jan bayangin jan bayangin. TAT

Bastard!Hun

.

.

.

.

520!