"Apa kau baik-baik saja di sana?" Sakura tertawa pelan mendengar suara kakaknya di sebrang telepon. Ia sudah hampir dua bulan berada di Tokyo, rasanya menyenangkan terutama ketika ia sedang bekerja. Semua orang menyambutnya dengan hangat.

Rumahnya terasa sangat sepi, "Aku baik-baik saja. Kau tidak merindukanku Sora-nii?" dulu meski tidak ada Ibunya rumah besar ini akan tetap ramai. Suara kakak dan ayahnyalah yang mendominasi tapi terkadang ada juga teriakkan Sakura di dalamnya.

"Oh! Apa kau sedang merindukanku hm? Manisnya. Aku menerima empat surat, tak kusangka mereka begitu menginginkanmu." Kini hanya tertinggal ia dan kakaknya. Mungkin sebentar lagi jika kakaknya sudah menikah hanya tertinggal dirinya sendiri di rumah ini.

"Wajar saja. Mereka merindukanku." Sakura menghela nafas pelan, "Ini waktumu untuk kembali Sora-nii." Sakura berjalan ke arah balkon.

"Kau sudah selesai Saki?" ia sengaja membuat rumahnya tampak kosong. Tidak ada yang boleh tahu selain Ino jika ia sudah kembali ke Jepang.

"Un. Aku selesai." Apalagi Naruto atau Sasuke, "Beberapa tahun memang tak seindah bayanganku." Ia mempunyai alasan kenapa ia tidak memberitahu kedua laki-laki itu mengenai kepulangannya.

"Aku akan selalu ada untukmu Saki." Jika Sakura memberitahu mereka berdua ada kemungkinan besar nantinya akan ada orang yang tersakiti karena dirinya. Maka dari itu Sakura membiarkan mereka memilih sendiri.

Teman Lama

.

.

.

Teman Lama

Disclimer : Om Masashi Kishimoto

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Drama/Friendship

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Mempersembahkan

"Shizune-san apa kau pernah melihat perempuan berambut merah muda mampir ke sini?" Naruto duduk dengan bosan di samping Shizune. Ia melihat semua pelanggannya makan serta berbicara dari balik meja kasir.

"Kita mempunyai banyak pelanggan. Mana mungkin aku menghafalnya Naruto," ia menghela nafas berat mendengar ucapan Shizune, "Siapa gadis itu? kekasihmu?"

Naruto melirik Shizune, "Dia hanya nenek cerewet yang selalu memukulku." Itu adalah kenyataan. Ketika mereka dulu masih bersekolah Sakura sering memukulnya dan Naruto selalu menganggapnya nenek-nenek tua meski hanya bercanda, tapi dari situlah ia menyukai Sakura.

"Kau membicarakan Tsunade-sama?" Naruto berjengit mendengar nama nenek angkatnya disebut.

"Tidak! Yang benar saja aku merindukan wanita tua itu. setidaknya Sakura-chan lebih cantik." Mata biru Naruto kembali melirik seisi restoran. Ia selalu membayangkan jika Sakura akan datang lewat pintu restorannya.

Shizune menopang dagunya dengan satu tangan, "Aa~ jadi namanya Sakura. Pantas dia berambut merah muda, dia pasti lahir di musim semi." Naruto tertawa pelan mendengar ucapan Shizune.

"Hm." Gumam Naruto.

"Aku mungkin tidak bertemu Sakura tapi kita mempunyai pelanggan tetap baru. Dia perempuan yang cantik." Naruto terlihat tidak begitu tertarik. Ia terus saja melamun.

Naruto menghela nafas, "Berapa orang?"

"Dua. Mereka berdua sepertinya seorang reporter, dan juga mereka sekilas terlihat kembar." Shizune tertawa pelan, "Yang membedakannya hanya warna mata emerald itu. mereka berambut hitam dan cantik." Naruto terdiam.

"Mereka seorang reporter?" Shizune mengangguk pelan, "Berambut hitam dan bermata emerald? Kau yakin itu Shizune-san?!" Naruto terlihat bersemangat. Ia juga tidak bisa kalah dengan Sasuke. Ia pasti bisa menemukan Sakura lebih dulu, lagi pula Sasuke sudah mempunyai Sara.

"Memangnya ada yang aneh dengan mereka?" tapi Sasuke dapat membuang semuanya demi apa yang dia inginkan. Termasuk kekasihnya sendiri.

Ia tidak bisa seperti Sasuke, "Mungkin saja." Tapi ia tidak bisa menyerah jika itu adalah Sakura.

.

.

.

Perempuan bermata emerald

.

.

.

"Nona." Mereka menghentikan langkahnya. Itu suara yang Sakura kenal, sangat familiar.

Hinata menoleh ke belakang, "Ya? Ada yang bisa kami bantu?" Hinata memasukkan note ke dalam tasnya, mereka berdua baru kembali dari Okinawa untuk meliput berita bersama.

"Apa kalian berdua tinggal di dekat sini?" Sakura membalikkan badannya, "Aku seperti mengenalmu." Tunjuknya pada Sakura. Suara tawa pelan keluar dari Sakura, dengan penampilannya saat ini semua orang yang mengenalnya berkata demikian, tapi hingga akhir mereka tidak tahu jika dia adalah Sakura.

"Melihat dari lambang itu, Ba-san seorang Uchiha bukan?" wanita itu mengangguk, "Saya tinggal di sekitar sini, anda bisa memanggil saya Saki. Ini teman saya Hinata Hyuga, rumah Ba-san berada di mana? Saya orang baru di sini." Nyonya Uchiha itu terlihat sangat senang. Dan Sakura berpura-pura menjadi orang lain.

"Aku sangat senang bisa bertemu dengan kalian. Setidaknya aku tidak akan kesepian, di sini jarang ada anak perempuan bahkan anakku keduanya adalah laki-laki. Ini rumahku, kami hanya tinggal berdua." Nyonya Uchiha itu terlihat begitu senang dan menatap mereka berdua dengan antusias, "Namaku Mikoto Uchiha. Jika kau senggang kau bisa bermain denganku Saki dan juga Hinata?" Sakura dan Hinata tertawa kemudian mengangguk.

Sakura merapatkan dirinya pada Hinata, "Hinata kau bisa menjaga rahasia bukan?" Hinata mengangguk pelan, "Ada sebuah rahasia yang ingin aku beritahu padamu." Lagi pula Hinata juga terlanjut ikut, jadi lebih baik ia menceritakan semuanya saja.

"Mungkin akan menyenangkan jika kita bertiga bisa minum teh bersama." Ucap Hinata, Sakura memandang begitu lekat pada wanita itu, tetap cantik seperti dulu. Mungkin karena sudah lama dan perubahannya Ibu Sasuke melupakan dirinya.

"Yah! Mungkin itu sangat menyenangkan. Nanti aku akan memperkenalkan kedua anakku pada kalian, tapi rumahmu yang mana Saki?" Sakura tersenyum mendengarnya. Mungkin akan menyenangkan jika Ibunya memiliki sifat seperti Mikoto.

Sakura menunjuk rumah yang bercat agak kusam dan terlihat kosong, "Di sana. Karena aku sedang menunggu seseorang yang akan tinggal bersamaku dan aku masih sibuk mengurus semua kepindahanku ke sini, aku tidak sempat mengurus rumah itu." Mikoto mengangguk mengerti.

"Kau pindah dari mana?"

Sakura melihat jam di tangannya, "Amerika. Kami memutuskan untuk pulang ke Tokyo." Ia meringis melihat pukul jam tapi pekerjaan mereka masih belum selesai, "Gomen ne Mikoto ba-san. aku harus menyelesaikan pekerjaanku bersama Hinata, jadi sampai bertemu lagi." Sakura berojigi.

"Sampai jumpa lagi Mikoto ba-san." ucap Hinata kemudian berlari pelan untuk menyusul Sakura.

Mikoto berkedip pelan, "Aku seperti mengenalnya. Saki? Tapi aku tidak pernah mendengarnya, mereka cantik terutama yang bermata emerald itu."

.

.

.

Perempuan bermata emerald

.

.

.

Jepret.

Itu sesi terakhir pemotretannya, "Juugo apa aku mempunyai jadwal pemotretan lain hari ini?" Sasuke menaruh kameranya. Mengecek ponselya yang sedari tadi bergetar.

"Sasuke-kun apa kau sudah selesai bekerja? Kau bisa menemaniku jalan-jalan? – Sara." Ada tujuh pesan dengan isi yang sama, ia mulai bosan dengan Sara, jika dilihat hubungannya dengan Sara terhitung paling lama berjalan. Bahkan dengan Karin ia hanya seminggu.

"Tidak ada Sasuke. Kau bebas setelah ini." Ucap Juugo.

Sasuke melihat Ino yang berbondong membereskan perlengkapannya, "Ino bisa aku bertanya?" ia mulai bosan karena ada yang mengalihkan perhatiannya, seseorang dari masa lalu.

"Cepatlah aku sedang sibuk." Sebenarnya dari pada bertanya pada Ino Sasuke bisa saja bertanya pada stasiun TV yang menyiarkan berita beberapa waktu lalu. "Apa yang ingin kau tanyakan?"

Dengan sedikit ragu, "Apa Sakura sudah kembali?" Ino menghela nafas pelan.

"Entahlah. Sebuah kesalahan kau bertanya padaku, bukankah kalian masih berhubungan melalui surat. Kenapa kau tidak tanyakan saja pada Sakura?" ia terdiam, tidak mungkin Ino akan memberitahunya jika Sakura saja tidak mau memberitahu Naruto maupun dirinya. "Aku pergi dulu. Jaa ne Sasuke."

Ia melihat ponselnya yang bergetar, "Ya Kaa-san?" sudah lama Ibunya tidak menelpon dirinya.

"Apa kau sibuk sekarang?"

"Tidak." ia berjalan keluar studionya, "Memangnya ada apa?"

"Kemarin aku bertemu dengan tetangga baru. Dia cantik sekali. Kau harus bertemu dengannya kuharap kalian cocok, agar dia bisa menjadi menantuku." Sasuke mendengus geli mendengar ucapan Ibunya, "Dia tinggal di rumah lama keluarga Haruno dulu." Sasuke terdiam, mungkinkah yang tengah Ibunya bicarakan ini adalah Sakura.

"Rumah lama keluarga Haruno?" Sasuke meminggirkan mobilnya ke samping jalan. "Apa Kaa-san yakin?"

Ibunya tertawa, "Aku bertanya sendiri padanya. Kaa-san seperti pernah melihat perempuan itu, tapi sayang Kaa-san tidak bisa mengingatnya. Aku harus membuat janji minum teh bersamanya, dan Sasuke kau harus ikut." Ya tentu saja ia harus ikut acara minum teh itu, mungkin saja perempuan itu adalah Sakura.

"Aku pasti ikut." Kenapa menemukan Sakura terasa sangat sulit padahal Sakura selalu berada di sampingnya. Perempuan itu berada di dekatnya tapi kenapa Sasuke tidak bisa menemukannya dengan mudah. Sebenarnya apa maksud dari Sakura, ia tidak mengerti.

.

.

.

Perempuan bermata emerald

.

.

.

Sakura mengenakan syal hingga menutup sebagian besar wajahnya, bukan syal kesayangannya karena syal tersebut tengah di cuci, "Dia seorang yang sedikit pemalu, saat berbicara denganku pipinya akan memerah. Sakura-chan kau harus sempat membalas suratku sesibuk apapun dirimu di sana, mengerti?! aku akan memberimu ramen bagaimana? – Naruto Uzumaki." Sakura tertawa pelan membaca surat balasan Naruto.

"Dasar bodoh. Aku sudah kembali tapi kau tidak menyadarinya." Gumam Sakura pelan. ia memasukkan surat Naruto ke dalam saku coatnya.

Sakura kembali membuka surat lainnya, "Benarkah kau lebih cantik? Aku tidak mempercayaimu. Kau tahu Sakura aku hanya merindukanmu – Sasuke Uchiha." Ya, mereka memang saling merindukan tapi tidak banyak kemungkinan untuk mereka bersama. Sasuke maupun dirinya sudah memiliki kehidupan masing-masing.

"Aku lebih cantik bodoh!" seru Sakura kesal.

"Aku tidak sehebat yang kau bicarakan. Kau bertanya tentang Sara? Kau ingin bertemu dengannya? Apa di sana ada orang yang kau sukai? Kau tidak pernah bercerita padaku tentang kehidupanmu di sana. Kenapa kau menghilangkan namamu pada surat terakhir yang kuterima? Apa kau berencana akan menghilang? Aku penasaran – Sasuke Uchiha." Sasuke terlihat begitu khawatir padahal mereka berdua selalu berpapasan, dan pernah berbicara. Kini Sakura membuka surat terakhir dari Sasuke, "Bisakah aku bertemu denganmu? – Sasuke Uchiha." Menurutnya itu bukan pertanyaan tepat.

Sakura memandangi langit yang terlihat agak mendung, "Salju pertama." Butiran salju itu turun tepat di depannya. "Salju pertama pasti akan menghapus dosaku karena sudah berbohong." Ia tertawa pelan.

"Waktuku untuk pergi." Ia meninggalkan semua surat dari Sasuke begitu saja. Sebuah senyum tercetak di wajahnya.

Yang terlihat dari wajah Sakura hanyalah mata begitu pula dengan laki-laki itu, tapi mudah bagi Sakura untuk mengenalinya. Sakura bersenandung pelan saat mereka berpapasan, Sasuke bahkan tidak mengenalinya. "Hari yang indah bukan Sasuke-kun." Gumam Sakura pelan.

"Suratku?" tanya Sasuke heran setelah melihat kertas yang tertiup angin dan mendarat di wajahnya. Ia mengambil ketiga surat tersebut, "Ini benar suratku untuk Sakura tapi kenapa?" dengan raut wajah terkejut ia menoleh kebelakang, perempuan yang berpapasan dengannya tadi.

Perempuan bersyal hitam yang berjalan berlawanan arah dengannya beberapa menit lalu, "Perempuan bermata emerald itu." genggaman Sasuke pada suratnya mengendur, "Mungkin Sakura. Sial!"

.

.

.

Perempuan bermata emerald

.

.

.

"Sasuke-kun kau bilang malam ini akan bersamaku bukan? Aku menunggumu di apartemenku." Sasuke mendengus mendengar itu, dua hari yang lalu mereka meghabiskan malam bersama. Tanpa pakaian tentunya.

"Hn. Kau mempunyai skandal lagi bukan? Dengan Izuna." Dari sebrang telepon terdengar tawa lirih. Dasar wanita jalang.

"Sasuke-kun dia terlihat seperti dirimu. Itu membuatku ingin memeluknya, tapi aku tidak melakukannya." Sara berdehem pelan, "Aku hanya menggandeng tangannya sebentar. Lalu tersebar banyak gosip, reporter sialan! Mereka selalu saja begitu." Sasuke tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pihak media yang selalu membesar-besarkan cerita. Saralah yang bersalah di sini.

Sasuke membenarkan syalnya hingga tidak menutupi wajahnya, "Itu kesalahanmu." Warna raven syal pemberian Sakura sangat ia sukai, "Dasar jalang." meski Sasuke berkata seperti itu Sara tidak akan sakit hati. Mungkin Sara beranggapan berbeda dari pikirannya, mungkin.

"Sasuke-kun ap-" Sasuke menjauhkan ponselnya kemudian mematikan sambungan telepon dengan Sara. Ia melihat rumah yang berada di sampingnya. Rumah lama keluarga Haruno.

Setelah itu ia melihat seorang perempuan yang baru saja keluar dari gerbang rumah tersebut, Sasuke tidak sempat melihat wajahnya karena perempuan itu berjalan membelakanginya, mungkin saja Ibunya benar. Sakura sengaja membiarkan rumahnya terlihat tidak berpenghuni, "Aku harus mendapatkannya." Gumam Sasuke pelan.

"Tunggu!" teriak Sasuke, tapi perempuan itu tetap berjalan santai sambil membawa ranselnya. "Oi! Kubilang berhenti berjalan. Kau tuli ha?!" perempuan itu otomatis berhenti berjalan tapi tidak berbalik. Tubuhnya sedikit gemetar sampai note yang berada di tangannya terjatuh.

Sasuke mengambil note yang terjatuh, "Apa kau tuli? Aku berusaha memanggilmu. Ini notemu." Meski dari dekat masih saja ia tidak bisa melihat wajahnya. Perempuan itu takut. Kepadanya. "Apa kau yang tadi keluar dari rumah keluarga Haruno itu?" perempuan itu mengangguk.

"Apa kau..." Sasuke menggantung ucapannya. Itu berhasil membuat perempuan itu menoleh, tapi itu bukan harapannya. "Ah! Ternyata bukan." Gumam Sasuke pelan. mata perempuan itu berwarna amethyst bukan emerald yang Sasuke duga.

"Terima kasih sudah mengambilkan noteku. Aku pergi dulu, sampai jumpa." Reaksi Sasuke hanya mengangguk. Ia pikir Ibunya keliru, tidak mungkin Sakura akan bertemu ibunya secepat itu apalagi kembali ke rumah lamanya.

Setelah melihat cukup lama kepergian perempuan tadi Sasuke berbalik arah, "Hinata!" suara itu. suara Sakura, mungkin saja itu adalah Sakura dan sekarang waktu bagi mereka untuk bertemu. Dengan cepat Sasuke berbalik arah, di depan perempuan yang ia temui tadi ada seseorang yang menguncir tinggi rambut hitamnya, Sasuke tidak bisa melihat wajahnya karena terhalang oleh tubuh.

"Perempuan bermata emerald itu?!" kenapa ia baru sadar sekarang jika perempuan yang selalu berbicara dengannya di taman begitu mirip Sakura. Wajah dan syal yang di kenakan perempuan itu sekarang, kenapa ia baru menyadarinya. Perempuan yang selalu memanggilnya stalker, "Dia Sakura."

.

.

.

To be Continued

A/N :

Hari Rabu datang! Apa ya yang harus aku katakan? Kehilangan kata-kata nih hehehehe. Mind to review?

Balasan Review:

Ikalutfi97 : mungkin liat mikoto waktu mudah itu kayak Sakura hanya berbeda warna mata aja. Terima kasih udah review

Rahillah r5 : menurutku ini tidak tergesa-gesa karena memang dari awal direncanakan bakal kayak gini. Terima kasih udah review