the chronicle of (unfortunate) saniwa

chapter three

note: female!saniwa / GEN / drabble–like

warning: ooc / tata kalimat yang salah / Ejaan Yang belum Disempurnakan / typos

a/n: double update / silahkan lihat chapter sebelumnya, sebelum Anda membaca chapter ini

Happy reading! :)

p.s: thanks a lot kepada tourabu's wikia contributor

page break

.

.

.

tourabu (c) dmm/nitroplus

.

.

"Konnosuke bilang kota sudah dekat!"

Aku menatapnya dengan heran. "'Konnosuke'? Siapa dia? Tunggu dulu– jangan bilang itu adalah nama si rubah itu."

Kashuu menganggukkan kepalanya dengan antusias.

"...Dan kau barusan bilang, kalau si rubah itu mengatakan padamu kalau kota sudah dekat?"

Ia sekali lagi menganggukkan kepalanya dengan antusias.

"...Kashuu–kun, aku tidak mengerti."

Manusia yang aslinya berwujud pedang itu kali ini menatapku dengan bingung. "Apanya yang tidak kau mengerti, Setsuna–chan?"

Aku tidak mengerti mengapa kau bisa paham akan bahasa rubah. Padahal sudah jelas rubah itu sama sekali tidak bersuara sedikit pun semenjak kau memperkenalkannya padaku.

"Lupakan saja, Kashuu–kun."

"Eeh? Apa? Jangan buat aku penasaran, Setsuna–chan!"

.

.

Di tengah perjalanan, aku merasakan hawa yang tidak enak.

"Setsuna–chan? Ada apa? Masuk angin?"

"Mungkin…" jawabku sedikit lelah.

Kashuu mengerutkan dahinya dengan khawatir. "Lebih baik kita istirahat saja dulu."

"Tak usah," selaku. (~Harus pergi, harus pergi dari sini~) "Kita baru saja istirahat lima menit yang lalu."

"Saya sangat menyarankan Anda istirahat, Aruji–sama."

Aku terkejut. Ini pertama kalinya Kashuu berwajah datar dan berkata sesopan itu padaku.

"Ba–baiklah, Kashuu–kun." ucapku yang masih terkejut akan perubahan tingkah lakunya.

Ekspresinya melembut. "Tunggulah disini, Setsuna–chan. Biar aku dan Konnosuke mencari buah–buahan di dekat sini."

Aku menggigit bibirku sambil menganggukkan kepalaku. Rasa cemas menyelimutiku.

"Kashuu–kun…" panggilku tiba–tiba sebelum ia menghilang dari hadapanku.

"Ya, Setsuna–chan?"

"Berhati–hatilah." ucapku pelan. Perasaan tidak enak ini semakin menjadi. (~Bahaya, bahaya. Harus bersembunyi, sembunyi~)

Ia menatapku dengan aneh untuk sesaat sebelum akhirnya ia tersenyum simpul.

"Dimengerti, Aruji–sama."

"Jangan panggil aku seperti itu, Kashuu–kun." ucapku sambil bercanda. Berharap, mungkin dengan begini, perasaan aneh ini akan menghilang dengan sendirinya.

"Hai, hai, Setsuna–chan~"

.

.

Aku tak mengerti mengapa aku bisa tertidur. Dan ini juga pertama kalinya aku tertidur sambil menunggu kepulangan Kashuu.

Tapi, begitu aku membuka kedua mataku, aku melihat Kashuu terluka.

Sangat parah.

"Kashuu!"

Ia meringis kesakitan saat aku tak sengaja menyentuhnya.

"Kenapa kau bisa begini?!" tanyaku khawatir sambil berusaha untuk tidak menyentuhnya.

Belum sempat ia membuka mulutnya, sudah aku potong.

"Nanti saja penjelasannya!" ucapku diambang panik. Setsuna, kau harus tenang. Sekarang bukan saatnya untuk panik! "Konnosuke! Kalau kau tahu jalan terdekat menuju kota, bawa kami kesana. Sekarang!"

Entah bagaimana caranya, Konnosuke mengerti ucapanku dan mulai menuntun kami menuju kota.

Oh, ya Tuhan. Seharusnya aku mendengarkan suara–suara itu dari awal jika begini jadinya.

.

.

.

End.

a/n: diam–diam, Kashuu memahami bahasa binatang–bahkan binatang yang tak bersuara sekalipun xD