Hey genks! maafkan aku sebelumnya aku udah apus FF yg judulnya When Mistletoe Makes Us Together. jujur aku lagi gak karuan saat itu. dan akhirnya atas permintaan beberapa teman, aku post lagi cerita itu dengan judul yang bebeda. ini ceritanya sama. cuma judulnya aja yg beda. aku post ulang tanpa edit lagi ya. jadi masih ada balasan review yang terlihat di chapter sebelumnya.

DISCLAIMER : ALL HARRY POTTER WORLD AND CHARACTER ARE BELONGS TO MRS JK ROWLING.

CHAPTER FOUR

Draco mengayuh perahunya dengan pelan. Danau hitam di siang hari tidak terlalu menyeramkan bagi Draco. Malah ini adalah tempat main Draco sehari-hari.

"Agak menyeramkan kau tahu..." Kata Hermione sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar danau hitam. Draco meminta Hermione menemaninya menaiki perahu kecil yang ia buat ini.

"Ini adalah tempat tertenang di seluruh Hogwarts.." Kata Draco. "Disini kau akan merasa benar-benar bebas mau melakukan apa saja." Sambungnya.

"Ya? Kau sering kesini?"

"Semenjak perang berakhir. Ini adalah tempat favorit ku.." Kata Draco. Ia berhenti megayuh dan meletakan kayuhnya di dalam perahu kecilnya.

"So. Untuk apa kau membawa ku kesini.." Kata Hermione. Memandang mata Draco.

"Kau sedang sedih hari ini. Kau bisa meluapkannya disini."

"Dengan cara apa? Melompat ke danau hitam?" Candanya. Draco tersenyum, menampilkan sederetan gigi sempurnanya. Kini ia berdiri. Membuat perahu sedikit bergoyang. Hermione yang ketakutan pun berpegangan pada perahunya. "Apa yang kau lakukan!" Kata Hermione takut. Pikirannya membayangkan bagaimana kalau dia tercebur ke danau hitam. 'Penghuni' danau hitam bukanlah makhluk yang ramah.

Draco malah mengulurkan tangannya. Hermione terdiam sesaat.

"Kau percaya dengan ku bukan?" Katanya sambil tersenyum manis. Hermione membalas senyumnya dan segera menggapai tangan Draco. Draco menarik Hermione hingga berdiri. Memeganginya agar bisa menyeimbangi perahu. Ia memegang pinggang Hermione yang tentu saja membuat jantungnya serasa ingin copot.

"Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan." Cetus Hermione. Draco menyeringai menggoda.

"Balikan badanmu.." Perintah Draco.

"What?"

"Lakukan saja.."

Hermione mendengus sebal. Dengan hati hati dan dipegangi oleh Draco. Hermione membalikan badannya. Ia bisa melihat keseluruhan danau hitam dan pepohonan yang ada disekitarnya.

"Lalu?" Kata Hermione. Draco mendekati Hermione. Tangannya masih berada di pinggang Hermione.

"Teriaklah." Kata Draco tepat di telinga Hermione.

"What?"

"Teriaklah. Lepaskan semua amarah dan kesal mu disini." Suara Draco terdengar lembut di telinga Hermione.

Dengan sekuat tenaga Hermione mengambil nafas dan...

"AAAAAAAARRRRRRRGGGGHHHHHHHHHHHH!" Hermione teriak begitu kencangnya hingga nafasnya habis. Ia terengah engah.

"Bagaimana?"

"Wonderfull... Aku merasa..."

"Bebas?" Kata Draco seolah mengetahui jawaban Hermione. Hermione tersenyum. Ia membalikan badannya lagi. Kini ia berhadapan langsung dengan Draco. Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Hermione bisa dengan jelas melihat mata abi-abu Draco, dan bayangan dirinya yang terlihat di mata Draco.

Kaki Hermione terasa lembek. Ia hampir saja terjatuh. Untung saja Draco terus memeganginya.

Draco mendekati wajah Hermione. Untuk beberapa detik Hermione tidak tahu harus melakukan apa. Namun...

Ia menutup bibir Draco dengan tangannya.

"Aku bilang jangan ambil kesempatan dalam kesempitan..." Ledek Hermione. Ia kini duduk lagi di perahu. Draco tersenyum dan ikut duduk bersebrangan dengan Hermione.

"Aku pikir kau tak akan menolak.." Katanya. Hermione menaikan sebelah alisnya.

"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu?"

"Karena belum ada yang menolak sebelumnya..." Kata Draco. Hermione tertawa keras. "Apanya yang lucu. Ini serius, tahu!" Katanya pura pura kesal.

"Ya aku percaya itu, Malfoy.." Kata Hermione. Draco terdiam sebentar.

"Bisakah kau tidak memanggilku dengan nama keluarga ku?" Kata Draco. "Kau memanggilku seperti kau baru mengenalku, tahu!"

"Aku memang baru mengenalmu."

"Kau mengenalku 7 tahun, Granger!"

"Aku hanya tahu namamu. Aku tidak pernah benar-benar berbicara denganmu sampai di tahun ke enam." Cetus Hermione. "Kau tak ingin aku memanggil mu Malfoy, tapi kau tetap saja memanggilku Granger!"

"Tapi kita sekarang berteman kan?" Kata Draco penuh harap. Memandang tulus ke mata Hermione. "Hermione?" Katanya sambil mengulurkan tangannya.

"Friend, Draco.." Kata Hermione dan menjabat tangan Draco. Draco tersenyum puas. Hermione kini memandangi sekitar danau hitam. Kesunyian yang ada disana. Di tambah teriakan yang membuat semua amarah dan kesalnya menghilang membuat hari Hermione hari ini lebih baik.

Draco dan Hermione berjalan berdampingan di koridor Hogwarts. Banyak mata yang memandang ke arah mereka. Ada yang berpandangan bingung, iri ataupun kagum. Hermione adalah salah satu wanita terpandai dan tercantik di Hogwarts. Dan Draco? Jangan di tanya.

"Well well Mr Malfoy. Miss Granger.." Kata Profesor Slughorn yang tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka berdua. Hermione terpaku di tempat. Ini kali pertama Hermione 'membolos' mata pelajaran.

"P...Profesor Slughorn!" Kata Hermione gugup.

"Ya ini aku Miss Granger." Katanya sambil menatap tajam ke arah dua muridnya itu. "Aku heran bisa bertemu kalian disini sedangkan aku tidak melihat kalian berdua di kelas ku.."

"Well.. Aku... Aku.."

"Ini salah ku, Profesor.." Kata Draco tiba-tiba. Membuat Hermione dan Profesor Slughorn menoleh ke arahnya. "Tadi badan ku tiba-tiba bergemetar dan kepala ku sangat pusing. Lalu aku bertemu dengan Granger." Katanya sambil melirik Hermione yang sedang menatapnya bingung. "Dan aku memintanya untuk mengantar ku ke Hospital Wings karena aku tidak bisa berjalan sendirian kesana.."

Profesor Slughorn menatap Draco tajam dan dalam. Mencari sebuah kebenaran dari kata-katanya.

"Well. Bagaimana sekarang? Kau sudah lebih baik?" Tanya Profesor Slughorn.

"Much better.." Katanya sambil tersenyum.

"Baiklah. Aku harap aku bisa bertemu dengan mu di hari kamis nanti. Selamat siang Mr Malfoy, Miss Granger." Profesor Slughorn mengangguk pamit ke kedua muridnya. Hermione dan Draco membalas hormat

Draco dan Hermione melanjutkan perjalanannya.

"Bagaimana bisa?" Kata Hermione terperanggah.

"Bisa apanya? Berbohong pada Profesor Slughorn?"

"Ya! Dan tak ketahuan! Aku berani taruhan kalau dia pasti menggunakan Legilimens pada mu!" Kata Hermione hampir berteriak.

"Calm Down, Mione!" Kata Draco sambil berpura-pura menutup kupingnya. "Aku ahli dalam Occlumency." Katanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Hermione di koridor yang sedang terkagum-kagum dengan keahlian Draco.

Itu kenapa Hermione tidak bisa mendeskpisikan apapun tentangnya. Ia sama sekali tidak bisa membaca apapun dari matanya. Draco ahli dalam Occlumency! Pasti keturunan dari ibunya. Narcissa bersaksi di pengadilan bahwa Pangeran Kegelapan tidak mengetahui kalau Narcissa berbohong soal nyawa Harry karena Narcissa adalah ahli adari Occlumency. Narcissa memang wanita yang hebat. Cantik, penyayang, pekerja keras, setidaknya itu yang di ketahui Hermione paska jatuhnya Voldemort.

Hermione membuka pintu ruang rekreasi. Beberapa mata langsung memandangnya. Tidak ada yang berani berbicara. Ia mendapati Ron, dan Harry yang sedang berada di sofa. Sedangkan Ginny berada di sisi lain sedang berbincang dengan teman seangkatannya. Ron berdiri tiba-tiba.

"Mione..." Lirih Ron.

Hermione tidak menghiraukan Ron. Ia berjalan cepat ke kamarnya. Hermione masih merasa marah padanya. Tentu saja karena Ron menyebutnya Darah Lumpur. Ditambah dia juga sahabat Hermione. Bukankan itu terlihat lebih buruk?

Pintu kamar Hermione terketuk. Ginny menyembulkan kepalanya dari luar.

"Boleh aku masuk?" Kata Ginny. Hermione tersenyum sambol melepaskan jubah Gryfindornya.

"Tentu saja. Ini kamar mu juga kan?"

Ginny masuk perlahan dan menutup pintunya lagi. Ia berjalan menuju tempat tidur Hermione dan duduk di pinggiran kasur.

"Aku dengar soal keributan antara kau dan Ron tadi.." Kata Ginny hati-hati. Hermione menghela nafas.

"Oh ya?"

"Dan aku. Atas nama keluarga ku meminta maaf karena salah satu dari keluarga ku mengucapkan kata-kata yang sangat tidak pantas pada mu." Kata Ginny dengan perasaan bersalah. Hermione tersenyum tulus dan duduk di pinggiran kasur, berhadapan dengan Ginny.

"Ini bukan salah mu atau keluargamu Gin.." Kata Hermione. "Ini murni kesalahan Ron. Dia yang mengucapkan kata-kata itu. Dia yang seharusnya minta maaf. Bukan kau."

"Kau mau aku menyampaikan padanya kalau dia harus meminta maaf pada mu?" Ginny sudah setengah berdiri namun di tahan oleh Hermione. Ia menggeleng lembut.

"Aku masih belum mau berbicara dengannya."

Ginny tersenyum. Ia mengerti kenapa Hermione seperti ini. Tentu saja ia marah. Kesal.

"Baiklah." Ia tersenyum. "Bagaimana keadaan mu sekarang? Membaik?"

"Much better.." Hermione membalas senyuman Ginny.

"Aku tahu alasannya." Kata Ginny dan menaikan sebelah alisnya. Memandangnya dengan pandangan menyebalkan.

"Apa?"

"Kau dan Malfoy..."

"Don't ever think about it, Gin." Kata Hermione sambil mendelik ke arah Ginny. Ginny hanya tertawa.

Keesokan harinya, Hermione selalu mencoba menghindari Ron. Ia bangun pagi-pagi sekali supaya tidak bertemu dengan Ron di ruang rekreasi Gryfindor. Ia juga memilih berkumpul dengan Parvati dan Ginny.

Hermione berjalan cepat ke arah kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Ia berharap tidak bertemu dengan Ron. Hatinya masih sakit. Tentu Hermione dapat memaafkan kesalahan sahabatnya itu, tapi entah kapan. Hermione butuh waktu untuk membuang rasa sakit itu.

"Hermione!" Teriak Ron dari ujung koridor. Hermione tidak menoleh, ia justru mempercepat langkahnya. Ron berlari mengejar Hermione dan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Hermione.

"Aku ingin bicara denganmu." Kata Ron.

"Bicaralah. Kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam sebentar lagi akan dimulai." Cetus Hermione. "Kau tahu, Profesor Lupin tidak terlalu menyukai murid yang datang terlambat."

"Tidak disini, Mione." Kata Ron sambil mengedarkan pandangannya. "Terlalu ramai."

"Terlalu ramai untuk apa? Untuk minta maaf pada ku?" Kata Hermione. Suaranya bergetar menahan tangis. Ia memeluk erat buku yang ada di dadanya itu.

"Hermione, please.." Ron meraih tangan Hermione dan membuat Hermione berhenti dan memandang langsung ke mata coklat milik Ron.

"Aku butuh waktu sendiri, Ron." Kata Hermione. Ia melepaskan genggaman tangan Ron. Ia berjalan meninggalkan Ron.

"I'm Sorry." Teriak Ron. Membuat semua murid yang melintas di koridor langsung melihat ke arah Ron. "Aku tidak seharusnya mengucapkan itu."

Hermione tidak memperdulikan ucapan Ron dan terus berjalan ke arah kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam.

Kini kelas sudah mulai ramai. Profesor Lupin terlihat sedang berbicara dengan Seamus dan Dean. Ia juga bisa melihat Draco bersama murid Slytherin lainnya. Namun mata Hermione malah tertuju pada Astoria yang kini berada di samping Draco. Menggelayut manja. Draco terlihat acuh. Ia malah terlihat berbincang dengan Theodore Nott. Secara tak sadar Hermione mendengus sebal dan berjalan ke arah teman teman perempuannya.

"Morning, Student.." Sapa Profesor Lupin yang sudah berada di depan kelas.

"Morning, Profesor Lupin.." Jawab Murid yang berada di kelasnya.

"Oke. Seperti yang kalian tahu sebelumnya. Kelas ini sudah beberapa kali ganti guru. Namun sejak jatuhnya Rezim Pangeran Kegelapan. Profesor McGonnagall selaku kepala sekolah memintaku untuk menjadi guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam... Secara Permanen.." Ujar Lupin.

Kelas pun kini bertepuk tangan ria. Mereka menyambut berita ini dengan suka cita. Tentu saja, Lupin adalah satu satunya guru PTIH yang paling baik diantara guru PTIH yang lain. Bahkan, beberapa guru sebelumnya adalah salah satu pengikut Pangeran Kegelapan.

Selain baik, materi yang dibawakan Lupin mudah di mengerti oleh murid muridnya. Ia memberikan praktek yang tidak membahayakan. Kelas yang di bawa oleh nya justru lebih banyak mengundang tawa.

"Baiklah. Untuk pembukaan kelas kali ini, aku tidak mau mengambil materi yang rumit. Aku ingin sedikit mengulang pelajaran yang sudah pernah kalian pelajari sebelumnya." Kata Lupin. Dengan sihir, ia menarik lemari yang ada di ujung kelas ke arah tengah tengah kelas.

"Boggart." Kata Lupin. Reaksi berbeda pun terdengar di seluruh penjuru kelas. Beberapa dari mereka terlihat antusias. Terakhir kali mereka mempelajari Boggart saat mereka di tahun ke tiga. Dan saat itu kelas menjadi sangat amat ramai oleh tawa murid. "Boggart adalah pengubah bentuk. Ia mengambil bentuk yang paling ditakuti seseorang." Jelasnya.

"Aku yakin kalian masih mengingat mantera nya bukan?" Kata Profesor Lupin. "Ulangi setelah aku. Tanpa Tongkat. Riddikulus!"

"Riddikulus." Seisi kelas mengulangi mantra yang diucapkan Lupin.

"Baiklah murid-murid. Aku ingin kalian berbaris."

Dengan sigap beberapa murid mulai membuat barisan panjang. Mereka ingin mencoba menggunakan mantra itu. Karena terakhir kali mereka belajar tentang Boggart, kelas harus dihentikan karena Boggart yang Harry miliki adalah sesosok Dementor.

Profesor Lupin berada di samping lemari yang berisi Boggart tersebut. Ia memandang Seamus yang berdiri di barisan paling depan lalu membuka pintu lemari.

Sesosok Banshee keluar dari lemari. Sesosok wajah pucat menyeramkan dengan rambut putih yang berterbangan kesana kemari menatap Seamus tajam. Seamus menelan ludahnya dan mengangkat tongkatnya.

"Riddikulus!"

Banshee itu secara cepat berubah menjadi seorang wanita berambut panjang dengan make up tebal dan baju yang sangat mencolok. Membuat seisi kelas tertawa.

"Next!"

Selanjutnya terlihat Dean yang sudah siap memegang tongkatnya. Dengan cepat si Boggart itu berubah menjadi tangan raksaksa dengan penuh darah berjalan kesana kemari. Membuat beberapa murid perempuan teriak histeris. Dean mengarahkan tongkatnya ke arah tangan itu.

"Riddikulus!"

Tangan besar itu pun kini berubah. Masih dalam bentuk tangan yang besar namun sudah tidak berdarah lagi. Tangan itu malah terlihat seperti kaki orang, lengkap dengan sepatu lalu menari tarian tap dengan cepat. Kelas pun riuh kembali.

"Next!"

Lalu Hermione kini berdiri di depan barisan. Ia mengambil nafas panjang. Tiba tiba Boggart itu berubah menjadi sosok seorang wanita menyeramkan dengan rambut keriting hitam acak-acakan. Bellatrix Lestrange. Beberapa dari mereka tahu kalau Hermione pernah di tawan oleh Bellatrix dan disiksa olehnya hingga mendapatkan luka di lengannya.

Boggart berbentuk Bellatrix terlihat tertawa keras. Membuat seisi kelas bergidik ketakutan. Suaranya seolah membuka memori kelam mereka tentang perang yang sudah berlalu itu. Bellatrix menatap tajam Hermione dan kembali tertawa keras.

"Riddikulus!"

Dengan sigap si Boggart Bellatrix berubah menjadi sesosok wanita berkepala besar dengan rambut hitam yang di sanggul. Lipstiknya membentuk sebuah hati di bibirnya. Boggart Bellatrix juga terlihat memakai pakaian yang terlihat kekecilan. Membuat robekan di punggung dan roknya. Kelas pun tertawa lagi.

"Nice one, Mione. Next!"

Dibelakang Hermione ada Draco yang mencoba tenang menghadapi Boggart yg masih berbentuk Bellatrix itu. Tiba-tiba Boggart itu perlahan memutar dan membentuk ketakutan terbesar yang ada didiri Draco.