My Pretty Boy
Main Casts : Oh Sehun (16 thn,), Xi Luhan (13 thn)
Support Casts : Baekhyun, Kai, Chanyeol, Heechul, Hangeng, Kyuhyun, dan bertambah seiring berjalannya waktu(?)
Genre : Romance, Comedy *gagal
Rate : T (for this chapter)
Disclaimer : Cast hanya milik Tuhan, diri sendiri, Ortu,dan author /dihajarmasa/, Pokonya THIS STORY IS MINE~
WARNING : Hati hati ini ff GAJE, ABAL, ANEH, TYPO BERTEBARAN, DLL
NO COPAS!
DONT LIKE? DONT READ!
PLAGIATOR? SIDERS? GET OUT!
HAPPY READING~
Sebelumnya : Luhan segera berlari kekamarnya kemudian masuk dan mengunci pintunya tanpa mempedulikan teriakan dari sang eomma.
"Hhh mati aku." Gumam Luhan sambil duduk dilantai kamarnya dan bersandar di dinding kamarnya.
Jam sudah menunjukan pukul 8 malam, Luhan sedari tadi hanya tidur-tiduran di kamarnya sambil memegangi bibirnya dan tersenyum-senyum sendiri. ia pun sudah merasa sangat lapar, sepertinya eomma dan appa-nya masih sangat marah padanya, terbukti karena Heechul ataupun Hangeng yang masih mendiamkannya sejak tadi sore, Luhan yang tak tahan karena ia sudah sangat lapar sedangkan sedari tadi ia terus berdiam diri di dalam kamarnya. Akhirnya, Luhan memutuskan membuka sedikit pintu kamarnya, bermaksud untuk mengecek apa yang sedang dilakukan eomma dan appa-nya .
Perlahan tapi pasti Luhan mulai beranjak dari aktivitas tidur-tidurannya kemudian berjalan menuju pintu kamarnya, membuka pintu itu dengan perlahan, kemudian ia mencoba melihat keluar pintu. sepi dan gelap, itulah keaadaan di luar kamarnya sekarang. Luhan bersorak riang dalam hati, akhirnya eomma dan appa-nya sudah tertidur, sehingga ia bisa keluar dari kamarnya untuk segera mengisi perutnya yang mulai konser.
Luhan keluar dari kamarnya kemudian berlari ke arah meja makan dengan semangat. Tiba-tiba ia cemberut karena yang ia dapati hanyalah sebungkus ramen dan handphone-nya diatas meja. ia juga melihat sebuah surat juga diatas meja itu.
Lulu, eomma dan appa pergi sebentar ne, kau baik-baik dirumah. Eomma dan appa ada urusan sebentar dengan teman eomma. Kalau ada apa-apa, hubungi eomma ne, handphone-mu ada di atas meja makan, bye lulu~ -kira-kira itulah isi dari surat tersebut.
Luhan hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, eomma selalu begini –batin Luhan.
Akhirnya Luhan mengambil ramen itu dan berjalan gontai menuju dapur, memasak ramen itu dan memakannya dengan khidmat.
Dilain tempat...
Sehun sedang duduk dengan santai di balkon kamarnya sambil sesekali tersenyum tanpa sebab yang pasti. Tiba-tiba ia merasa haus dan ingin minum air #yaiyalah. Sehun segera beranjak dari balkon kamarnya dan berjalan dengan langkah besarnya. Ia berjalan menuruni tangga yang lumayan panjang, mengingat kamarnya terletak di lantai paling atas, kemudian ia sempat melewati ruang tamu dan melihat ada tamu yang datang tapi ia mengabaikannya dan memilih melanjutkan langkahnya akan tetapi...
"Sehun!" Sehun menoleh dan dengan sangat terpaksa, ia menunda langkahnya.
"kemari!" Sekali lagi dengan sangat terpaksa, Sehun melangkah dengan malas-malasan mendekat ke arah appa-nya (re:Kyuhyun)
"apa?" tanya Sehun datar.
"Ini adalah calon mertuamu, cepat beri salam." Perintah Kyuhyun.
"Ne, namak-... eh? A-apa? Calon mertua?" tanya Sehun setengah berteriak.
"Ya, kenapa?" tanya Kyuhyun.
"Huh? Appa masih bertanya? Jelas-jelas aku tak mau appa jodohkan! Dan lagi, mengapa appa tidak bilang padaku kalau aku akan dijodohkan? Kenapa appa tidak adil huh? Pokoknya aku tidak mau dijodoh-jodohkan!" Teriak Sehun sambil berlalu meninggalkan ruangan itu dengan emosi kemudian berjalan dengan cepat menuju kamarnya.
"Bibi Lee, ambilkan aku segelas air, cepat!" Sehun berteriak pada bibi Lee yang sedang berjalan dari arah dapur sambil membawa nampan. "Ya, tuan muda." Jawab bibi Lee setengah berteriak.
"Yakk! Oh Sehun cepat kemari kau!" teriak Kyuhyun yang merasa kesal karena sang anak yang lagi-lagi melawan dan tidak patuh padanya. Sehun memilih mengabaikan teriakan Kyuhyun dan terus berjalan menuju kamarnya yang lumayan jauh dan harus melewati dua tangga yang agak panjang.
"Hhh memangnya ini jaman apa? Masih jaman namanya perjodohan? Huh! Mereka tidak tahu menahu tentang perasaanku! Bagaimana pun aku tidak akan mencintai siapa pun kecuali Lu-... kkkk Luhan sedang apa ya?" Gumam Sehun sambil tersenyum sambil terus berjalan menuju kamarnya.
"Hiks.. eomma dan appa lama sekali, aku bosan sendirian. Ah! Sebaiknya aku telfon Baekhyun dan mengajaknya jalan-jalan, hihihi." Luhan pun mengambil ponselnya diatas meja makan, kemudian segera menghubungi Baekhyun.
"Baek! Ayo jalan-jalan!" teriak Luhan dengan riang dibalik ponselnya.
"Yakk! Jangan berteriak! Kupingku tidak tuli, kau tahu?"
"Yayaya, ayo jalan-jalan! Aku bosan sendirian dirumah."
"eh? Memangnya orang tuamu kemana?"
"Katanya sih kerumah teman mereka."
"Baiklah, mau berangkat sekarang?"
"mm ide bagus! Aku tunggu di depan gerbang sekolah ne! Bye baekkie sayang~! Awas tidak datang!"
"ne, aku kesana! Aku akan datang lulu sayang~ tunggu saja~"
Baekhyun segera mengambil mantel dari lemari besarnya, memakai mantel tersebut, tak lupa ia mengambil beanie hat dari laci-nya dan memakainya, ia menyambar ponselnya, kemudian berlari keluar dari kamarnya.
"Hey! Hey! Kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Sehun yang berpapasan dengan Baekhyun, kebetulan kamar mereka bersebelahan.
"Bukan urusan hyung! Wlee!" Seru Baekhyun sambil berjalan cepat melewati Sehun sambil memeletkan lidahnya mengejek.
"Ck! Terserah kau saja! Pergi sana! Hush hush!" Ucap Sehun mengusir cantik Baekhyun #janganDibayangin
"Isshh hyung menyebalkan!" Teriak Baekhyun kemudian berlari ke lantai dasar rumah mereka yang mewah dan memang sangat besar itu. Tak Lupa Baekhyun berjalan lewat pintu belakang rumahnya agar tidak ketahuan Kyuhyun.
"Tuan muda, anda mau kemana malam-malam begini?" ucap bibi Lee yang sedang bersiap mengunci pintu belakang.
"ck! Aku mau jalan-jalan! Sana minggir!" ucap Baekhyun berbisik pada bibi Lee.
"Tapi, bibi Lee jangan bilang-bilang pada appa! Arra?!" bisik Baekhyun lagi.
"a-ahh baiklah." Ucap bibi Lee akhirnya.
"Nah! Bibi Lee yang terbaik~" ucap Baekhyun pelan.
"Sekarang bukakan pintunya!" Bibi Lee membukakan pintu tersebut.
Baekhyun berhasil keluar dari rumahnya, kemudian ia berjalan menuju gerbang rumahnya.
"Tuan muda, anda mau kemana?" tanya salah satu penjaga yang sedang mengawasi gerbang rumah keluarga Oh.
"ck! Kau berisik! Sudah sana minggir!"
"tapi tuan..."
"Minggir! Atau aku menyuruh appa untuk memecatmu?" ancam Baekhyun. Tiba-tiba semua maid berlari menghampiri Baekhyun.
"Tuan muda, jangan pergi, ini sudah malam." Ucap salah satu maid.
"Hih! Apa urusan kalian eoh? Minggir! Atau aku benar-benar akan menyuruh appa memecat kalian?" ancam Baekhyun sekali lagi.
"B-baiklah tuan, silahkan." Ucap para petugas dan maid menurut.
"ck! Dari tadi!" Desis Baekhyun kesal.
Setelah diijinkan keluar, Baekhyun segera berlari menuju sekolahnya yang lumayan jauh itu.
"Hisshhh Baekkie mana sih. Nanti bagaimana kalau eomma dan appa pulang." Gumam Luhan.
"Luluuuuu~" teriak Baekhyun sambil berlari mendekati Luhan.
"Eh? Baekkie kau datang?"
"Kau kira aku tidak akan datang eoh?"
"hehehe.. sebaiknya ayo kita jalan-jalan sekarang!" Ucap Luhan bersemangat.
"Kau bawa uang saku tidak?" tanya Baekhyun.
"Tidak."
"yakk! Kenapa?"
"memangnya untuk apa?" tanya Luhan dengan polosnya, membuat Baekhyun menghembuskan nafas panjang.
"Hmm kita makan camilan di pinggir jalan, kau mau?"
"aku tid-..."
"ck! Aku yang traktir! Sekarang, ayo bersenang-senaaaang~"
"hah? Benarkah? Kalau begitu, ayoooooo~"
Mereka berdua menyusuri jalanan di pinggir kota sambil sesekali membeli makanan yang menurut mereka menarik di pinggir jalan.
Dilain tempat...
"Tuan, Nyonya, maafkan kelakuan putraku, dia memang seperti itu semenjak ditinggal pergi eomma-nya."
"aah kami mengerti, kami sangat memaklumi hal itu. Lagipula beliau sangat baik dan ramah, pasti Sehun merasa sangat kehilangan beliau."
"Dulu, istri saya bilang, ia ingin menjodohkan anak kami dengan anak tuan dan nyonya."
"Eum, beliau adalah teman baik saya sedari kecil, beliau juga merupakan teman seperjuangan saya sedari kecil. Saat kami masih sekolah menengah, beliau pernah bilang kalau impiannya di masa depan adalah melihat anak pertamanya menikah dengan anak pertama saya, tapi beliau telah berpulang dengan cepat, sungguh, saya sangat merasa sedih, mengingat beliau sangat baik dan ramah pada semua orang."
"Ah saya tidak sabar untuk melihat putra Tuan dan Nyonya, pasti dia sangat manis." "siapa nama putra Tuan dan Nyonya?".
"Luhan, Xi Luhan."
"Oh nama yang manis."
"Ah terimakasih, sejujurnya, nenek-nya lah yang memberikannya."
"Uhmm begitu. kalau boleh tau, Bagaimana istri saya bisa bertemu lagi dengan nyonya? Dan kira-kira Tuan dan Nyonya tinggal di Korea sudah berapa lama?"
"saat lulus SHS, aku dan mendiang istri anda berpisah selama 10 tahun, karena saya harus melanjutkan ke perguruan tinggi di Cina, tapi kami masih sering berkomunikasi. Setelah 10 tahun tak berjumpa, akhirnya kami memutuskan untuk bertemu sekedar melepas rindu dan mengenang masa-masa saat kami masih sekolah, kira-kira seperti itu. Dan saya dan suami saya sudah tinggal di Korea kurang lebih 10 tahun." Jelas Heechul.
"Mmm baiklah, karena anak tuan dan nyonya masih sekolah dan anak saya juga masih sekolah, jadi kita harus menunggu waktu yang agak lama untuk menikahkan mereka."
"mmm anda benar, apa kita mempertemukan mereka nanti saja?" tanya Hangeng.
"Sebaiknya begitu, nanti saja ketika mereka sudah agak dewasa mungkin lebih baik."
"Baiklah, sepertinya ini sudah sangat malam. Sebaiknya saya dan istri saya pulang sekarang. terimakasih atas jamuannya Tuan." Ucap Hangeng.
"Oh baik tuan. Terimakasih sudah berkunjung."
"Ya, sama-sama Tuan."
Luhan dan Baekhyun kini sedang berjalan sambil memakan eskrim yang mereka beli di pinggir jalan tadi.
"Lu, tadi eomma-mu menelfonku tahu." Ucap Baekhyun.
"Hmm? Untuk apa?" tanya Luhan.
"Eomma-mu bilang kau belum pulang, padahal sudah sore." Jawab Baekhyun santai. "memangnya kau kemana?" tanya Baekhyun penasaran.
"Aku..." Luhan bingung harus menjawab apa, tidak mungkin juga ia memberitahu Baekhyun apa yang terjadi sebenarnya tadi siang sehingga ia pulang terlambat.
"Baek, aku lelah dan perutku rasanya kekenyangan, sekarang ayo pulang." Luhan sudah kehabisan akal dan lagi ia sudah sangat lelah dan kenyang, sehingga ia ingin cepat pulang dan lagupula ia takut Hangeng dan Heechul sudah pulang ke rumah dan tahu bahwa ia tak ada di rumah dan malah keluyuran, Hangeng tak segan-segan untuk mengurangi waktu bermainnya. Hhhh waktu bermain apa? Ia saja jarang sekali bermain.
"mmm ayo! Aku juga sudah sangat lelah." Ucap Baekhyun sambil memakan eskrimnya.
"Baek kita sudah sampai di depan gerbang sekolah, karena arah rumah kita berbeda, kita berpisah disini ne, sebaiknya kau cepat pulang dan istirahat Baek, nanti kau sakit."
"Eoh? Sejak kapan kau perhatian padaku Lu?"
"Sudahlah aku malas berdebat denganmu, aku mau pulang, sampai jumpa ne!, oh ya terimakasih untuk makanan minuman dan eskrimnya ne~. Bye baekkie."
"Hmm yasudah, sampai jumpa, dan sama-sama."
Mereka pun berpisah di perempatan jalan di depan gerbang SM High School.
"Huhh lelah sekali~" gumam Luhan sambil menghempaskan tubuh mungilnya di kasur empuknya, beberapa saat kemudian ia tersenyum dengan rona merah samar di pipinya. Ia sedang membayangkan kejadian tadi siang di kelasnya, ia sangaaatt bahagia.
Ketika Luhan sedang berguling-guling di kasur empuknya, tiba-tiba ia merasakan getaran dari ponsel di sakunya. Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya tersebut dan dapat ia lihat nama Kai tertera di layar ponselnya, ia pun segera menerima panggilan Kai.
"Yobosseo, Kai?"
"Lu, kau ada dimana?"
"Tentu saja dirumah, kenapa?"
"Tidak, aku hanya khawatir. Tadi eomma-mu menghubungiku dan ia bilang kau belum pulang."
"Sekarang aku sudah ada di rumah, kau tak usah khawatir, Kai."
"baguslah, memangnya tadi kau kemana dulu?"
"Aku kan bilang ingin pipis dulu."
"tapi tidak mungkin selama itu."
"ehmm itu... aku ke kantor appa dulu, hehehe"
"tapi eomma-mu bilang dia sudah menghubungi appa-mu dan appa-mu bilang kau tidak bersamanya."
"mmm a-aku..." Luhan bingung mau menjawab apa, tak mungkin bukan kalau ia mengatakan yang sebenarnya?.
"XI LUHAAN!" Luhan merasa lega karena ia mendengar Heechul memanggilnya.
"Kai, emm eomma memanggilku, aku tutup dulu ne."
"Oh baiklah, selamat malam, Lu."
"Malam, Kai." Luhan segera memutus panggilan mereka dan segera beranjak dari kasur empuknya dan berjalan dengan gontai keluar dari kamarnya.
"eomma, appa." Luhan pun menghampiri Heechul dan Hangeng.
"Oh, Lu. appa kira kau sudah tidur, kenapa belum tidur?" tanya Hangeng.
"Belum ngantuk." Jawab Luhan asal.
"Tidur tidak usah menunggu ngantuk, kalau sudah malam ya tidur, Lu." Ucap Heechul menasihati.
"Percuma saja, tidak akan bisa tidur." Protes Luhan.
"Terserah kau saja. Ayo masuk ke kamar mu, kalau belum ngantuk jangan malas-malasan, lebih baik kau belajar." Ucap Heechul lagi sambil berjalan ke kamarnya dan Hangeng.
"Ne, eomma." Kini tinggal Luhan yang sedang memperhatikan Hangeng yang sedang sibuk dengan laptop-nya.
"Lu, kenapa masih disini, sayang?" tanya Hangeng.
"aku ingin bertanya, appa. Bolehkah?" Ucap Luhan.
"Tentu saja boleh, Lu." Luhan pun segera berpikir, apa bagus bertanya hal seperti yang akan ia tanyakan pada sang appa, dengan suara agak pelan, Luhan bertanya pada Hangeng.
"appa, kalau orang yang sedang jatuh cinta itu bagaimana sih?" tanya Luhan.
"heh? Kenapa tanya hal itu?" Luhan bingung, ia takut Hangeng mencurigainya.
"Ah, tidak, temanku bertanya hal itu padaku. Apa appa tau jawabannya?" Ucap Luhan asal.
"Kkkk~ kau itu masih kecil, Lu. Jangan belajar yang seperti itu dulu, kau masih 13 tahun, ingat?" Tuh kan? Luhan sudah mengira Hangeng tidak akan memberitahunya. "Kenapa? Kau jatuh cinta, Lu?" tanya Hangeng memastikan.
"Justru itu aku butuh penjelasan appa mengenai ciri-ciri orang yang jatuh cin-..." Luhan segera menutup mulut yang sialnya sudah membuat Hangeng curiga. Oh tidak! Aku keceplosan, ini bahaya bahaya bahayaaaa! Aaaa! –Batin Luhan menjerit
"HAHAHAHAHAHAHAHA~" Luhan menyernyitkan dahinya, ia bingung, apa yang lucu sampai Hangeng tertawa sekeras itu.
"appa kenapa? Kenapa tertawa?" Tanya Luhan agak kesal.
"kau, hahaha siapa yang membuat rusaku kecilku jatuh cinta eoh? Hahaha." Tanya Hangeng sambil sesekali tertawa.
"e-eh t-tidak ada. Aku hanya bertanya, apa salah?" tanya Luhan.
"Tadi kau bilang temanmu lah yang butuh penjelasan, terus kau berkata lagi bahwa kau lah yang butuh penjelasan, appa bingung, hahaha. Kalau kau jatuh cinta, jujur saja, appa tidak akan marah, Lu, karena itu wajar." Jelas Hangeng.
"A-aku ti-tidak-..."
"Tak apa kalau kau tak mau jujur pada appa."
"ih a-appa dengar dul-..."
"Appa sudah ngantuk, appa tidur duluan ne, selamat malam Lulu-ku sayang." Ucap Hangeng setelah mematikan laptop-nya dan tak lupa menutupnya kemudian mengecup kening Luhan sekilas. Kkkk~ anak itu sudah jatuh cinta rupanya –batin Hangeng terkikik.
"ah tidak tidak tidak tidaaaakkkk~ oh tidaaaakkk~" gumam Luhan dengan nada seperti bersenandung sambil menaruh kedua tangannya di kepala dan berlari menuju kamarnya.
"Aaaaa bagaimana ini, appa mencurigaiku aaarrghhh Xi Luhan bodoh bodoh bodoh~" gumam Luhan sambil berguling-guling di atas lantai kamarnya.
"Aahh bodo amat! Sebaiknya aku tidur, hhuuuhh kau telah membuat dirimu sendiri frustasi, xi luhan bodoh!" gumam Luhan lagi sambil berajak dari atas lantai dan menghempaskan tubuhnya di atas kasur kemudian ia terdiam dan menatap langit-langit kamarnya. "Sehun sunbae sedang apa ya? Hehehe." Gumam Luhan. "Hihh xi luhan bodoh sebaiknya kau tidur, okey, tidur!" gumamnya lagi kemudian menutup seluruh tubuhnya dengan selimut -termasuk kepalanya-.
"LULUUUU~ BANGUN SAYANG~" teriak Heechul sambil menyingkap selimut Luhan.
"Ck! Berisik!" gumam Luhan sambil menggeliat dengan mata yang masih tertutup.
"Tuh kan! Apa eomma bilang? Jangan tidur larut malam Xi Luhan pemalas!" Seru Heechul.
"Eumm..."
"HEH! CEPAT BANGUN! INI SUDAH HAMPIR JAM TUJUH! KAU MAU KESIANGAN HUH?"
"m-mwo? J-jam tujuh? Ohh andwaeeeee!" Luhan segera melompat dari kasurnya dan segera berlari ke kamar mandi.
...
Luhan sudah sampai di gerbang sekolah yang siap-siap ditutup, untung saja belum ditutup karena Luhan tiba lebih cepat.
"Hey!" Luhan merasa ada yang memanggilnya, ia yakin panggilan itu untuknya karena di depan gerbang ini hanya ada dirinya yang hampir kesiangan itu. Luhan pun menoleh ke sumber suara, ia mendapati sahabatnya, Baekhyun.
"Baekkie~" Seru Luhan sambil tersenyum cantik, tiba-tiba mata bak rusanya menangkap sosok Sehun yang sedang berjalan di belakang Baekhyun sambil memainkan ponselnya. Oh tidak! Ada Sehun sunbae, aduuhh aku maluuu –batin Luhan
"Luhannie, kau baru datang?" DEGG aaa Sehun sunbae menoleh ke sini, tidak-tidak, sebaiknya aku lari –batin Luhan.
"Yaakk! Luhannie kenapa lari?!" Protes Baekhyun melihat Luhan segera lari terbirit-birit. Baekhyun menoleh ke belakang dan mendapati Sehun sedang tersenyum ke arah Luhan yang semakin menjauh.
"ck! Hyung sih! Ngapain senyum-senyun gaje? Kan Luhannie jadi takut! Dasar hyung gila!" Ucap Baekhyun pada Sehun. Sehun pun menoleh ke arah Baekhyun.
"Apa?" tanya Sehun yang mendadak idiot dan tidak konek -_-
"Aishhh tidak ada!" Baekhyun segera berlari ke kelasnya mengabaikan Sehun yang kini sedang kebingungan dengan ekspresi cengo.
...
Luhan sedang duduk terdiam di bangkunya dengan nafas yang terengah-engah karena aktivitas lari paginya . Lebih baik lari daripada salting di tempat –Batin Luhan.
"Luhan?" Luhan menoleh dan mendapati Kai sedang tersenyum dan menghampirinya. Luhan membalas senyuman Kai.
"Kau kenapa, Lu?" tanya Kai karena heran melihat Luhan yang sedang bengong dengan nafas terengah-engah.
"Tidak kenapa-napa (hosh) Kai (hosh)." Jawab Luhan dengan nafas yang masih terengah.
"Lalu kenap-..."
"Luluuuu~" teriak Baekhyun begitu sampai di kelasnya, kemudian menaruh tas di bangkunya dan menghampiri Luhan.
"Y-ya Baekkie?" jawab Luhan.
"Ck! bebek cerewet mengagetkan saja!" protes Kai.
"apa masalahmu, hitam?" tanya Baekhyun setengah mengejek.
"y-yakk!"
"diam hey! Kalian berisik tahu!" ucap Luhan menghentikan aksi saling mengejek antara Baekhyun dan Kai.
"Lu, tadi kenapa kabur? Takut pada Sehun hyung ya?" tanya Baekhyun pada Luhan.
"Hah? T-tidak." Luhan mulai sweatdrop.
"Bohong!"
"Tidak!"
"Bohong~"
"Tidaaaakkk!"
"Hmm masih mau bohong?"
"Aku tidak bohong!"
"Lalu kenapa kau jadi marah-marah? Aku kan cuma bertanya huh!"
"A-aku tidak marah-marah!"
"Itu tadi apa? Kau berteriak padaku, Lu."
"Apa maksudnya, Lu? Kau berlari dari gerbang kesini hanya karena takut pada Sehun sunbae?" Tanya Kai mulai menengahi.
"Kalau takut bilang saja." Lanjut Baekhyun.
"Tidak! Aku bilang tidak ya tidak! Kenapa kalian ngotot sekali sih?!" Ucap Luhan kesal.
"bukan begitu, Lu. Aku han-..."
"Hey Kim seonsaengnim datang, jangan menggosip terus!" ucap ketua kelas, yakni Kyungsoo menghentikan perdebatan antara trio yang ia anggap sebagai penggosip itu.
"Hihh mengganggu saja." Ucap Baekhyun mencibir. Kai hanya pasrah dan segera duduk di bangkunya.
"Huuhhh aku malu sekali tadiii." Gumam Luhan.
...
"Oh Sehun! Bisa kau memperhatikan kedepan?" Namja yang dipanggil hanya duduk menyender dibangkunya dengan kepala yang menengadah dan kedua mata yang terpejam tak lupa earphone yang menempel di kedua telinganya.
"Oh Se-..." Sehun membuka kedua matanya kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan dengan santai keluar dari kelasnya. Seperti biasa, ia akan merenung sendirian di balkon.
.
Tteng Tteng Tteng
"Lulu~ ayo ke kantin." ajak Baekhyun. Luhan bingung, sebenarnya ia ingin sekali ke kantin, tapi, ia juga ragu karena takut bertemu dengan Sehun.
"Uh? T-tidak mau, aku mau belajar saja. Oh ya a-aku lupa mengerjakan PR IPA, hehehe." Jawab Luhan asal.
"IPA? Sekarang tidak ada pelajaran IPA, Lu. Ayo! Aku tau kau ingin makan." Ucap Baekhyun sambil menggandeng tangan Luhan menuju kantin.
.
"Lu, kita duduk di sana saja." Ucap Baekhyun menunjuk satu-satunya kursi yang kosong di kantin.
"E-eh baiklah." Mereka pun duduk di kursi tersebut sambil membawa makanan masing-masing yang mereka pesan. Baekhyun segera menyantap makanannya dengan lahap dan semangat, sedangkan Luhan hanya mengaduk-aduk makanannya. Baekhyun menghentikan kegiatan -makan dengan lahap- nya itu dan menatap Luhan.
"Lu? Kenapa tidak di makan?" Tanya Baekhyun sambil menatap iba pada makanan milik Luhan.
"Aku bingung." Gumam Luhan tak sadar.
"Eh? Kenapa? Kok bingung?" tanya Baekhyun heran.
"Hm? T-tidak, hehehe. Ini aku makan." Jawab Luhan sambil segera memakan makanannya dengan lahap.
Hmm.. ada yang aneh –batin Baekhyun
Baekhyun mengedarkan pandangannya menelusuri kantin itu dan...
"Hey!" Luhan yang sedang makan dengan lahapnya pun tersedak.
"Yakk! Kau mengagetkanku, hitam!" Ucap Baekhyun agak membentak. Kai memilih mengabaikan Baekhyun dan menatap Luhan.
"Maaf, Lu." Ucap Kai sambil menyodorkan air minum yang baru saja ia beli itu pada Luhan. Luhan segera menerimanya dan meneguknya dengan rakus.
"Aahhhh..." Luhan merasa lega sekarang. "Terimakasih, Kai." Ucap Luhan sambil tersenyum.
"sama-sama, Lu." Jawab Kai.
"Baek, boleh aku duduk disini?" Ketiga orang itupun menoleh ke sumber suara.
"Hyung?"
Oh tidak! Apa yang harus aku lakukan? –Batin Luhan
TBC/DELETE?
Yaampun yaampun ini telat , aku tau ini telat. Maaf ya readers.. maaaaffff banget, bukan aku php atau apa, tapi PR aku numpuk banget, tugas sana-sini, belum lagi kerja kelompok, waktu aku buat nulis juga dikit banget.. satu lagi, maaf kalo chapter ini agak pendek, MAAF YA.. aku merasa bersalah, sangat(?) wkwkwk
So, mind to review?
