Seiring kakiku melangkah, aku merasa tubuhku semakin berat. Aku baru ingat, tadi siang aku tidak jadi makan dan sekarang aku main hujan. Aku mulai mengutuk rumahku karena jarak gerbangnya begitu jauh. Aku merasa lemas, tidak punya tenaga, dan akhirnya jatuh di trotoar. "KYUNGSOO!" aku merasa badanku terangkat. Setelah itu pusing kembali menyerangku dan pandanganku menggelap.
.
.
.
.
Chap 3: Sweet & Sour
"Eerrgghh... Pusing" lirihku. Aku terbangun dari tidurku karena pusing yang sialan ini mengganggu tidur cantikku. Jam di meja nakas menunjukkan pukul 10 dan langit masih gelap. Berarti ini masih malam, masih ada kesempatanku untuk tidur lagi. Lagipula besok minggu, jadi libur. Hehehe... Tetapi aku merasa ada yang janggal.
Seingatku aku turun dari bus, lalu melangkah ke rumah... Ada yang memanggilku, lalu aku pingsan...
Kalau aku pingsan, siapa yang membawaku ke rumah? Kang ajusshi? Tapi dia sudah berumur, dan aku yakin 100% ia tak akan sanggup membawaku. Padahal aku gak gendut-gendut amat kok! (bohong).
Atau mungkin para pengawal yang mengangkatku. Badan mereka kan berotot semua. Bahkan ada salah satu pengawalku yang pernah bekerja sebagai model majalah "Men's Health". Tapi mereka biasanya memanggilku "Nona Muda yang Paling Cantik di Dunia" bukan dengan nama asliku.
Sebetulnya itu bukan aku yang minta dengan 'gelar' aneh seperti itu. Tiba-tiba saja mereka memanggil aku dengan panggilan itu. Mau ku marah-marahin, ku tampar, ku tendang tetap aja manggilnya menggunakan gelar tersebut.
Sudah lah, tak perlu dipikirin. Yang penting sekarang tidur dulu, biar pusingnya hilang. Udah gak ada orang tua, maid pada pergi pula. Kenapa pula disuruh mereka semua pulang? Tapi kasian juga sih udah 2 tahun mereka gak liburan.
Akhirnya kupejamkan mataku, mencoba untuk tidur. Tapi tetap tidak bisa! Ada yang mengganjal! Tapi aku tak tau apa! Badanku serasa ditimpa. Jangan-jangan aku ketiban setan! Beraat banget rasanya! Tapi aku bisa kok gerakin tangan dan kepalaku. Karena yang keberatan hanya perutku, aku menyatakan (?) kalau aku sedang dipeluk. TAPI SIAPA YANG MELUK AKU MAMAAAHH!? Ku beranikan melihat kearah perutku. Kan! Ada yang meluk-meluk! Tapi siapa?! Takut nanti waktu balik badan, ternyata yang meluk om-om mesum yang sering mangkal di depan gapura. Kuberanikan diriku untuk melihat ke belakang...
.
.
.
Aa-apa? Kenapa dia bisa disini?
Sebelum aku sempat berteriak, ku bekap mulutku sendiri. Aku berusaha tenang dan yang ada semakin menjadi-jadi. Gimana mau tenang coba? Liat makhluk Tuhan yang paling ganteng (Backsound: Mulan Jameela - Mahluk Tuhan yang Paling Seksi) tidur hanya memakai kaus tanpa lengan. "Santai Soo... Santaaii.. " lirihku sambil mengelus-elus dada.
GREEEEPPP
Tubuhku ditarik olehnya membuat tubuhku bersentuhan dengannya. Bahkan wajahku tepat berada di lehernya. Aku dapat merasakan nafasnya yang teratur, detak jantungnya, dan juga wajahnya yang damai. Tak pernah kulihat sisinya yang seperti ini. Biasanya ia akan ceria, usil, dingin bahkan menggoda (sayangnya tatapan menggoda hanya untuk perempuan lain /galau dipojokan). Sisi ini, sisi yang paling ku suka darinya. Dan beruntungnya aku...
Aku perempuan pertama yang melihat wajah damainya.
Aku tahu ia playboy, tapi ia tidak sampai melakukan 'itu' dengan pacar-pacarnya itu. Maka dari itu aku merasa bersyukur, walaupun aku tidak lebih dari teman dekatnya. Tanpa sadar, aku tersenyum tulus sembari menelusuri seluk beluk wajahnya dengan jemariku. Aku terkekeh pelan mendapati satu jerawat di dekat telinganya. Ku tusuk-tusuk jerawat itu menggunakan telunjukku. Awalnya memang pelan, tetapi mengingat kejadian tadi siang aku semakin kuat menusuknya.
"Kau ngapain sih?" tangannya sudah menggenggam telapak tanganku.
Tubuhku sontak terdiam, bahkan tidak bisa bergerak. Euuugghhh! Suaranya itu loooh! Gak kuat! Serak-serak basah gimanaaa gitu! (Kyungsoo cabe/ author dikeroyok masa).
"Hei... Jawab aku" pintanya masih dengan suara 'khas bangun tidurnya'. "K-kau ngapain tidur disini sih? Make meluk-meluk segala!" protesku. "Kenapa juga sih harus protes? Gak liat bajumu?" aku langsung melihat bajuku. Piyama pink yang dibelikan ibu dari Swiss , memangnya apa yang salah dengan piyamaku. "Iya. Ini piyamaku. Kenapa memangnya?" tanyaku lagi.
"Apa kau ingat terakhir kali kau memakai apa?"
"Um... Apa ya? Kan pulang sekolah. Terus aku pingsan ditengah jalan. Pulang sekolah, berarti pakai seragam sekolah."
"Iya. Lalu menurutmu pakaianmu bisa berganti begitu saja hah?". Aku masih memproses apa yang ia katakan. Ada benarnya juga sih. Mana mungkin pakaian ku berganti begitu saja. Jangan-jangan dia...
"Tadi sebelum Jung Ajumma pergi, ia menggantikan bajumu" katanya santai. Aku menghela nafas lega. Kukira dia yang menggantikan bajuku. Grrrr... Nih anak bikin emosi aja! Untung aja ganteng. Kalau enggak udah ku bunuh dari tadi.
Ia menatapku. Berbeda dari tatapan yang pernah kulihat sebelumnya. Tatapan terluka, kesepian, dan berharap. Aku hanya diam, larut dalam dunianya. "Kai..." lirihku. Ia memejamkan matanya sebentar, ia mendudukkan tubuhnya lalu...
"KENAPA KAU TADI MAIN HUJAN-HUJANAN HAH?! SUDAH TIDAK MAKAN SIANG, MAIN HUJAN! KAU MAU CEPAT MATI YA?!" teriaknya. Aku juga mendudukkan diriku lalu berteriak "IHHH! APAAN SIH?! GUE DISINI! GAK USAH TERIAK KALI!". Terima kasih banyak Kai, sekarang aku tambah pusing.
Melihat perubahan raut wajahku, ia kembali memelukku. "Sudahlah, tidak usah dipikirkan lagi. Kau tidur lagi saja ya. Aku akan menunggumu sampai tertidur" hatiku berdesir mendengarnya. "Apa pusing mu parah? Aku ambilkan obat ya. Apa perlu kupanggil dokter?" tanyanya sembari mengelus rambutku lembut. Aku harap dia tidak melihat pipiku saat ini!
Aku menggeleng pelan. Dapat ku lihat ia tersenyum, bukan senyum paksaan yang selalu kulihat disekolah. Senyum yang paling tulus yang pernah ku lihat didunia ini.
Bolehkan aku egois? Bolehkah aku mengatakan bahwa wajah damainya, kelembutannya, dan senyum itu menjadi milikku seorang?
'SADAR DO KYUNGSOO! DIA UDAH PUNYA SOYOU!' maafkan aku Tuhan! Hambamu ini khilaf!
Aku segera memposisikan tubuhku untuk tidur. Melihatku yang sudah berbaring, ia ikut berbaring di sampingku. Aku segera menendangnya sehingga ia jatuh ke lantai.
"WOI! LU KENAPA SIH?! SAKIT NIH!" ucapnya sambil mengelus-elus bokongnya. Aku langsung mendudukkan diriku dan bersandar di dinding tempat tidur. Aku menaikkan selimut tebalku sampai ke leherku.
"Sono tidur di sofa. Pengen banget lu tidur bareng gue!" ia langsung berdiri dan naik ke tempat tidur. Ia mendekat kearahku yang sudah terpojok di dinding tempat tidur. Ia memerangkapku... "Pipimu memerah Soo ~" ucapnya seduktif. Aku merapatkan punggungku dengan dinding tempat tidur. Ia mendekatkan bibirnya ke telingaku, hendak membisikkan sesuatu.
" Kau... Sedang membayangkan kita melakukan 'itu' ya, sayang?" Ia semakin mendekatkan bibirnya sehingga aku dapat merasakan bibirnya menyentuh daun telingaku.
"Apa kau mau kita melakukannya sekarang, hmm?"
Author malu-malu kucing (?!)
Dapat kurasakan bibirnya menelusuri garis rahangku. "K-Kai... Apa yang kau lakukan?" ucapku lirih. Aku tahu aku menyukainya, tapi aku tidak menginginkan yang seperti ini. Ia punya Soyou! Dan aku bukan yeoja murahan! Aku berusaha mendorongnya, tapi percuma. Dalam keadaan seperti ini, tentu yang mempunyai tenaga lebih besar yang menang.
"Menurutmu apa yang sedang kulakukan, babe?" panggilan itu membuatku bergidik. Aku berani menjamin dia tidak pernah memanggil orang lain dengan sebutan itu. Bahkan kepada pacar dan mantan-mantannya. Palingan dia memanggil pacarnya dengan panggilan sayang. Aku selalu berfikir mungkin saja Kai memanggil Soyou, Kedelai.
Ia menangkup pipiku yang membuat pandangan kami bertemu. Aku terus menatapnya, dan ia pun melakukan hal yang sama. Ia mendekatkan wajahnya, dan aku hanya bisa berharap aku tidak akan tewas ditangan Soyou.
.
.
.
Tidak ada apa-apa. tidak ada kecupan atau ciuman yang sedari tadi kutunggu. Saat kubuka mataku, aku melihatnya meringkuk membelakangiku. Aku khawatir, apalagi melihat punggungnya bergetar. "Kai, kau kenap-"
"BUHAAHAHAHHAHA!" tawanya menggelegar. Aku tetap diam di tempatku, semakin khawatir akan keadaannya.
"Kai, kau baik-baik saja?" lirihku sambil mengguncang-guncang tubuhnya. Ia berbalik menghadapku, lalu menghapus air matanya.
"KAHAU! HAHA! SEHARUSNYA KAU LIAT WAJAHMU TAHADIHAHAHA!" ucapnya sambil tertawa. JADI DIA HANYA MENGGODAKU TADI?!
"YAK! KENAPA KAU MENGGODAKU!?"
"HAHAHA! Habis, masa aku gak dibolehin tidur di tempat tidur sih Soo? Kan dari kecil kita udah tidur bareng. Jadi gak apa-apa dong!"
"Itu kan waktu kita masih kelas 1 SD Kaaaii" rengekku.
"Tetep aja! Soo... Please Soo! Di sofa pegel Soo, leherku juga sakit! Nanti kalau sarafku kenapa-napa, mau tanggung jawab?" ujarnya sambil mengeluarkan puppy eyes gagalnya.
"Kagak! Tidur di sofa apa gue usir lu dari rumah ini?"
Tanpa penolakan, ia langsung mengambil satu bantal lalu mencari posisi nyaman untuk tidur di sofa. Aku yang melihatnya hanya terkikik pelan. Aku terus menatapi punggungnya yang lebar itu. Tak terasa sudah jam 12 malam. Sudah berapa jam aku memandangi punggungnya? Aku segera mengambil selimut dari lemari. Ku selimuti Kai yang sepertinya kedinginan karena tidur tepat di depan AC. Setelah ku pastikan badan dan kakinya tertutup selimut, kubungkukkan badanku agar dapat melihat wajahnya. Ku dekatkan bibirku ke telinganya dan berbisik " Selamat malam, Kai"
.
.
.
"KOAAAAKKK! KOOOAAAAKKK!"
Aku segera membuka kelopak mataku mendengar suara merak yang kami pelihara di halaman belakang (orang kaya mah beda). Sepertinya burung itu belum diberi makan, palingan nanti Kang Ajusshi yang memberinya makan.
Aku yang masih setengah sadar merasakan hembusan nafas hangat di leherku. Menenangkan dan juga menggelitik. Oh iya! Kai! Apakah dia sudah bangun? Disaat aku membalikkan badanku... Yang kutemukan adalah gumpalan hitam (a.k.a Kai) tidur. Ingin kubangunkan saja orang ini tapi...
"Mom..." kulihat dirinya menangis. Iya DIA MENANGIS.
"Jongin-ah... Irreona" lirihku sambil menghapus airmatanya. Ia segera membuka matanya mendengar nama aslinya disebut. Ia berusaha menetralkan nafasnya. Kuletakkan telapak tanganku di pipi kanannya dan menggerakkan jariku pelan. Astaga! Dia demam! Ia segera menatap manik mataku intens. "Jongin-ah,kau demam" ia segera mengukur suhunya dengan telapak tangannya. Ia hanya mengangguk pelan. "Jongin-ah" ia menatap manik mataku dalam.
"Kau tahu, kalau kau punya masal-"
"Lupakan itu oke? Dan anggaplah itu tak pernah terjadi. Aku tak akan pernah mau mengungkitnya lagi" ujarnya dingin. Ia segera bangun dan pergi ke kamar mandi.
'Mom?' ada apa dengan ibunya? Aku benar-benar mengetahui apa yang terjadi dengannya Kai dan ibunya. Tapi ia mengatakan bahwa tidak ingin mengungkitnya. Haah... Apa yang harus kulakukan? Tunggu... Jongin ke kamar mandi mau ngapain?
"Jongin-ah! Kau mau mandi?" tidak ada jawaban yang kudapatkan.
"Kalau kau mau mandi, pakai air panas ya! Kau demam. Aku akan menyiapkan bajumu. Oh ya! Setelah mandi, nanti kau kebawah ya! Kita sarapan lalu makan obat. Jangan lama-lama mandinya! Jangan buat aku khawatir" teriakku di depan pintu kamar mandi. Aku segera ke ruang pakaian ayah yang berada di sebelah kamarku dan mengambil kaus, celana panjang, sweater, kaus kaki dan c-celana dalamnya... ( Mianhae mianhae appa / nyanyi Eyes Nose Lips- Taeyeang). Aku kembali ke kamar dan sudah mendengar suara shower yang berarti ia sedang mandi. Kuletakkan baju-baju itu di meja riasku.
Ku tarik kata-kataku tadi. Aku tidak lebih baik dari kemarin. Aku merasa sangat pusing yang membuatku harus menuruni tangga dengan cara duduk. Setelah sampai dilantai bawah, aku segera mengorder bubur dan tidur di sofa bed. Tak lama aku berbaring, aku sudah tertidur pulas.
.
.
.
"Soo..."
"Soo-ya"
"Soo-ya, bangunlah. Buburnya sudah datang" aku segera membuka mataku.
Kulihat Kai sudah memakai sweeter hitam ayah yang pas ditubuhnya, ditambah rambutnya yang masih basah (Author mimisan). Ia mengambil nampan dan kulihat disana sudah ada dua mangkuk bubur beserta sendok, obat, dan juga dua gelas air. Dia menyiapkan ini?
"Hehe... Mian aku ketiduran, tadi sempat pusing sebentar ta-mmph" mulutku sudah dipenuhi bubur. Ia tertawa sambil mencubit pipiku.
"Kau adalah orang yang paling imut yang pernah kulihat Soo-ya!" mungkin dalam keadaan lain pipiku akan merona. Tapi dalam keadaan ini, aku malah emosi. Bagaimana bisa aku dibilan lucu setelah dicekoki paksa bubur ke dalam mulut saat berbicara.
"YAK! KAU MAU MEMBUNUHKU HAH?! BAGAIMANA KALAU AKU TERSEDAK? BAGAIMANA KALAU BUBUR ITU MASUK KE PARU-PARUKU HAH?!" teriakku setelah menelan bubur itu.
"Aish! Kau ini! Pagi-pagi sudah teriak-teriak. Bikin mood jelek aja"
"Memangnya siapa yang bikin moodku jelek hah?!"
"Tak tahu! Kau nya saja yang tiba-tiba marah-marah. Lagi PMS ya?" seketika itu kami berdua diam. Aku jadi ingat kemarin aku pergi ke toilet dengan alasan mau ngecek lagi PMS atau tidak. Kai melihatku dengan tatapan bersalahnya.
"Ehehe... Pantesan kau meledak-ledak Soo... Aku lupa kau sedang PMS. Hehe... Mian" ucapnya sambil memberikan tanda 'peace' menggunakan jarinya. Akhirnya kami makan diselingi canda tawa dan berhasil meminum obat pil yang ukurannya lebih besar dari pil umumnya. Walaupun berakhir dengan Kai yang tersedak dan harus meminum ulang obat itu dan merasakan pahitnya kehidupan *coret* obat itu.
.
.
"Kai... Ngantuk" ucapku tanpa mengalihkan tatapanku pada TV.
"Sebentar" ia memencet tombol di remot kontrol berwarna cokelat tua. Bukan! Itu bukan remot TV. Melainkan remot sofabed yang saat ini sedang kududuki. Dan sekarang sofa tersebut sudah beralih fungsi menjadi tempat tidur. #Kyungsooholangkaya
Aku berusaha berjalan kedapur dan dicegat Kai. "Hei! Kau mau kemana?! Kau masih pusing! Duduklah!" titahnya. Aku tidak menghiraukannya dan ia terus berteriak. Aku mengambil dua kompres (bentuknya mirip hotpack. Tapi bedanya ini isinya sejenis cairan yang gak cepat cair. Harus diletakkan di freezer dulu baru dipakai. Bukan kompres yang bisa nempel di kening). Aku berjalan kembali ke sofabed dan memberikan Kai kompres tersebut.
Kai ikut tidur disampingku sambil mengelus rambut panjangku. Sebetulnya ingin sekali kuusir namja ini, tetapi bohong bila aku tidak ingin diperlakukan seperti ini. Rasanya nyaman, tenang, dan aman di sampingnya. Persetan dengan Soyou!
.
.
.
Hari ini hari Senin, hari terkutuk bagi sebagian siswa dan siswi. Tapi dihari Senin ini, aku sudah sampai di sekolah pukul 6 pagi. Kenapa? Agar aku dapat waktu lebih lama untuk tidur karena tadi malam aku tidak bisa tidur. Yang ku pikirkan hanyalah 'Kai,Kai,Kai' dan 'KAI'. Memikirkannya lagi membuat pipiku memanas. Dengan semangat, kulangkahkan kakiku menuju kelas tercinta.
Sesampainya aku didepan pintu kelasku, aku menarik nafas dan menghembuskannya. Aku gugup. Aku tak tahu harus menghadapi Kai dengan cara apa hari ini. Apakah manis? Lembut? Atau imut? Yang terakhir dicoret aja deh. Sudahlah, lakukan seperti biasa saja. Setelah meyakinkan diriku, kubuka pintu kelas.
Pemandangan yang benar-benar tidak beradab! Nafasku sesak, wajahku memanas menahan emosi, mataku berkaca-kaca. Kai... Sedang berpelukan dengan Soyou. Tak hanya berpelukan, hampir... Hampir berciuman. Tubuhku membeku, tak dapat menggerakkan diriku.
Setelah mengumpulkan keberanianku, aku melangkah ke mejaku. Aku berusaha menahan air mataku dan menutupi perasaanku.
"Kyungsoo-ah!" dengan cepat aku memalingkan muka ke arah pintu. Ku lihat Sehun tersenyum cerah sambil menatapku. Dapat kurasakan Kai dan Soyou juga menatap Sehun."Se-Sehun" aku menatap Sehun. Senyum Sehun perlahan memudar melihat mataku yang berkaca-kaca. Ia menatap kebelakangku sekilas dan segera mengubah raut wajahnya. Ia segera berjalan kearahku dan menarik pergelangan tanganku, menarikku pergi dari kelas ini. Dan aku bersyukur akannya.
TBC
