Why? I don't Know!
Disclaimer : J.K. Rowling
By : aphroaphrodite
Warning : OOC mungkin, full of typo, klise, ga jelas.
Voldie udah ga ada. Perang udah lewat. Tidak ada yang mati selain Voldemort dan Bellatrix.
Don't Like, Don't Read!
-Normal POV-
"Gawat! Tadi itu... hampir saja terjadi, ada apa denganmu Draco?" Kata Draco pada dirinya sendiri yang terpantul pada cermin didepannya dengan tatapan tidak percaya.
Draco mencuci lagi wajahnya kemudian menatap cermin yang ada di depannya. Degup jantungnya masih terasa kuat dan cepat. Ia yakin ia bisa melihat rona merah yang entah kapan muncul di wajahnya yang pucat itu. Draco mengacak-acak rambut pirangnya frustasi.
"AAAHHHH!" teriak Draco untuk melepaskan semua beban yang ia rasakan. Dengan malas-malasan ia membuka baju yang menutupi tubuh sempurnanya yang banyak diidam-idamkan oleh murid perempuan Hogwarts. Draco berjalan malas menuju bathtub nya yang kini sudah terisi penuh dengan campuran air dan susu kesukaanya.
Draco mencoba mengingat semua kejadian yang terjadi pada dirinya. Ia ingat saat pagi hari telah berhasil membuat Hermione salah tingkah dengan melihat dirinya yang hanya berbalut handuk dan sedikit berbisik memanggilnya dengan nama Hermione bukan Granger. Lalu saat di Aula Besar, setelah Draco mengedipkan matanya ke arah Hermione yang kebetulan-atau memang sengaja-menatapnya langsung menyemburkan jus labu yang ia minum ke arah Ron. Draco hanya tersenyum kecil mengingat semua tingkah laku Hermione yang terlihat bodoh namun menarik perhatiannya.
Namun senyum Draco sejenak sirna. Ia teringat akan Astoria, anak yang lebih muda 2 tahun yang mengaku-ngaku sebagai tunangannya. Draco sangat tidak suka semua yang ada pada diri Astoria kecuali suaranya. Draco masih bertanya-tanya bagaimana dia bisa dijodohkan dengan Astoria? Jelas-jelas ayahnya, Lucius Malfoy masih mendekam di Azkaban dan ibunya Narcissa sebenarnya memberikan kebebasan baginya memilih. Draco merasa ada yang salah dan ia harus segera mencari tau. Selain Astoria, adapula Cedric yang merusak harinya. Draco tidak suka kalau Cedric mulai mendekati Hermione. Apalagi setelah ia mengetahui dari Blaise bahwa mereka akan pergi akhir pekan ini. Seketika pikiran licik Slytherinnya kembali muncul. Senyum khas Malfoy kembali menghiasi wajah tampannya diikuti dengan senyum lebar.
"JANGAN PERNAH BERHARAP MALFOY IDIIIIIIOOOOOOOTTTTT!" Teriak Hermione.
Hermione masih duduk diam membisu di sofa hijau silver milik Draco. Hermione masih tidak percaya bahwa tadi hampir saja. Terlalu dekat baginya jarak yang memisahkan wajahnya dengan wajah Draco. Tidak heran dia berpikir hal negative mengingat reputasi Draco yang playboy atau womanizer atau apapun sebutannya dalam jarak yang tidak lebih dari lima senti itu. Hermione masih menatap lurus kearah pintu kamar mandi yang baru saja ditutup oleh Draco dengan segala pertanyaan bodoh yang muncul terus di pikirannya.
Hermione masih merasa bahwa tubuhnya positif terkena mantra non-verbal dari Draco. Untuk kesekian kalinya dalam satu hari, Hermione kembali merasakan panas menjalar diseluruh tubuhnya. Wajahnya terasa panah dan ingin meledak. Degup jantungnya terasa kencang. Nafasnya menjadi tidak beraturan. Hermione bahkan merasakan gejala baru, yaitu tubuhnya menjadi lemas saat Draco berbisik dengan suara beratnya ditelinganya. Karena, mengingat semua kejadian tadi Hermione kembali merasakan jantungnya berdegup dengan kerasnya.
Hermione menarik nafasnya dalam dalam untuk menyeimbangkan kembali keadaan dirinya. Dengan sedikit usaha ia bangkit berdiri dari sofa itu. Dengan langkah lambat ia menaiki tangga yang menghubungkan ruang rekreasi pada lantai satu dengan lantai dua yang hanya terisi dua kamar luar yang saling bersebrangan. Hermione memasuki kamarnya yang dipenuhi dengan perabotan yang bercorak merah dan emas yang menunjukkan asal asramanya. Ia langsung menjatuhkan dirinya di kasurnya yang empuk. Kembali menarik nafas dalam dalam. Dalam sekejap Hermione yang mengalami hari yang panjang dan cukup menguras tenaganya langsung terlelah dalam kasurnya.
Ruang rekreasi asrama Slytherin mulai dipenuhi dengan semua murid asrama yang sibuk dengan keperluan mereka masing masing. Ada yang sibuk mengerjakan-lebih banyak yang menyalin-tugas tugas yang diberikan dari guru mereka adapula yang hanya berbincang-bincang dengan teman temannya.
Seperti biasa Pansy, Blaise, dan Theo berkumpul bersama dengan beberapa anak Slytherin seusianya. kali ini mereka membincangkan tentang asrama Gryffindor, lebih tepatnya mereka sedang seru memperbincangkan masalah Hermione dengan Cedric. Banyak yang tidak menduga dengan pasangan itu. Mereka juga mencampurkan dengan tindakan Draco yang tiba-tiba tidak suka dengan gossip yang beredar tentang Hermione dengan Cedric.
"Tidak mungkin! Aku yakin sekali! Aku kenal Draco cukup lama." Kata Pansy membantah dan menertawakan beberapa spekulasi bahwa Draco cemburu, "Ya kan Blaise, Theo?" tanya Pansy sambil melirik ke arah Blaise dan Theo yang baru saja bergabung dengan mereka.
"Pansy Daphne bisa ikut aku sebentar? Ada yang ingin aku bicarakan dengan kalian. Well, tidak telalu penting sih, tapi terserah kalian saja." Kata Theo kepada Pansy dan Daphne. Pansy dan Daphne hanya saling bertatap kemudian mengikuti Theo dan Blaise ke tempat yang lebih sepi. Pansy terus bertanya-tanya tidak seperti biasanya Blaise dan Theo bersikap cukup serius seperti ini. Apalagi Blaise yang dari tadi hanya terdiam dengan angkuh menujukkan sisi Slytherinnya,
"Jadi ada apa dan kenapa?" tanya Pansy yang dipenuhi dengan banyak tanya dalam otaknya.
"Draco. Apakah kau merasa ada yang aneh dengan Draco?" tanya Theo sambil mengerutkan dahinya dengan nada sedikit khawatir.
"Draco? Entahlah. Aku tidak pernah paham akan dirinya Theo." Jawab Daphne sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"I felt it." Kata Pansy singkat namun dengan nada yang menusuk.
"Good. Itu yang ingin aku bahas dengan kalian terutama kau Daphne." Kata Blaise dengan wajah cukup serius sambil menujuk Daphne saat mengucapkan namanya.
"Wait! Aku tidak paham. Kenapa kalian berdua tampak tegang dan serius? Hello! What wrong with you guys? Biasanya kalian tidak akan pernah seserius ini." Kata Pansy masih tidak paham dengan sikap aneh yang Blaise dan Theo tunjukan.
"Dengar dan kau akan tau Pans." Kata Blaise dengan cukup meyakinkan Pansy. Pansy hanya menaikan sebelah alisnya yang merupakan wujud protesnya karena diperintah. Ya Pansy tidak pernah suka diperintah oleh siapapun.
"Aku rasa Draco sedang jatuh cinta." Kata Theo dengan nada cukup meyakinkan. Pansy dan Daphne menahan tawa mereka karena tidak ingin merusak suasana tegang yang tercipta diantara mereka.
"Draco? Jatuh cinta? Dengan siapa? Yang benar saja!" kata Pansy diselingi tawa tidak percaya dengan ucapan Theo. Ia sempat berpikir mungkin ini hanya lelucon mereka berdua.
"Benarkah? Aku harap dia jatuh cinta dengan ku!" kata Astoria yang tiba-tiba ikut bergabung dengan mereka berempat. Kehadiran Astoria ternyata mendapatkan penolakan mutlak dari mereka berempat. Astoria dapat merasakan sorot mata tidak suka yang dipancarkan Blaise kepadanya, namun Astoria hanya mengacuhkannya begitu saja.
"Astoria! Aku sudah bilangkan jangan pernah ikut campur dengan urusanku dan teman temanku. Cepat menjauh dari sini." Kata Daphne. Bisa diaakui bahwa hubungan Astoria dan Daphne belakangan ini semakin buruk.
"Fine Daph!" kata Astoria yang tersenyum, "Tapi jangan salahkan aku, kalau Draco lebih memilihku daripada kau Parkinson. Zabini dan Nott sebaiknya kau harus terbiasa dengan kehadiranku, terutama kau Zabini." Lanjut Astoria kemudian pergi meninggalkan mereka berempat secepat ia muncul tadi.
"heh? Apa urusannya denganku? Lagipula tidak masalah bagiku bila Draco tidak memilihku. Ada apa dengan adikmu yang sombong itu Daph?" tanya Pansy sambil melipatkan tangannya didepan dadanya menujukan kalau sekarang ia mulai kesal.
"Aku tidak mengerti. Makin hari sikapnya makin aneh dan ia terus bertindak seperti bukan Astoria. Maafkan kebodohan Astoria." Kata Daphne yang ikut bertanggung jawab atas Astoria yang telah merusak suasana diantara mereka.
"Tidak masalah. Lagipula itu juga yang ingin aku bincangkan dengan kau Daphne. Bisa kau jelaskan bagaimana bisa Astoria di tunangkan dengan Draco?" tanya
"Tidak. Aku tidak tahu apapun. Tiba-tiba saja Astoria datang dan bilang padaku bahwa ia ditunangkan dengan Draco. Semula aku tidak percaya dengannya. Lalu aku tanya orangtua ku dan mereka bilang benar. Semula aku mendukung Astoria, tapi lama kelamaan sikapnya semakin membuatku muak dan beginilah jadinya." Jelas Daphne dengan panjang lebar.
"Jadi begitu? Baiklah. Thanks Pans. Thanks Daph! Kalian bisa kembali ke kamar masing masing." Kata Blaise dengan senyum terlukis di wajahnya. Pansy dan Daphne segera berjalan meninggalkan mereka. Pansy masih merasa ada yang salah dengan mereka semua. Pansy merasakan sesuatu yang aneh. Sementara Daphne terlihat seperti biasa seolah tindakan Blaise dan Theo adalah hal yang normal. Tapi tidak bagi Pansy.
Satu per satu murid murid pergi meninggalkan ruang rekreasi dan masuk ke kamarnya masing masing. Kini diruang rekreasi hanya tinggal Blaise dan Theo yang masih sibuk mengerjakan tugas esai sepanjang dua meter yang harus dikumpulkan akhir minggu ini yang artinya tinggal dua hari lagi.
"Theo, aku rasa ada yang salah." Kata Blaise memecahkan keheningan yang membelenggu ruang rekreasi.
"Ya aku juga Blaise. Kita harus cari tau kebenarannya. Karena, kita temannya Draco." Kata Theo yang kemudian melanjutkan esainya.
"Aku juga temannya. Sebenarnya apa yang kalian tutupi?" tanya Pansy yang sedang turun dari tangga dengan baju tidurnya yang berwarna biru muda dengan rambut lurus hitam yang tergerai hingga ke punggungnya.
"Pansy? Kukira kau sudah di kamar dengan yang lain." Kata Theo yang kaget mendengar suara Pansy.
"Tadinya begitu, tapi aku tidak bisa tidur. Jadi kupikir lebih baik aku keluar mencari udara dan tidak sengaja aku melihat kalian dan mendengar percakapan kalian tentang Draco." Kata Pansy yang duduk di sofa hijau silver yang tidak jauh dengan tempat Blaise dan Theo berada.
"Well, aku rasa ada yang aneh dengan cerita Daphne. Kau tau kan aku tidak pernah percaya kata kata Daphne." kata Theo sambil menuliskan beberapa kata pada perkamennya.
"Aku tidak suka dengan Astoria. Sangat tidak suka. Aku merasa ia punya niat buruk dengan Draco. Aku sangat tidak suka dengan Greengrass muda itu!" Kata Blaise dengan yakin dan menekankan kata per kata yang keluar dari mulutnya. Pansy bisa merasakan keseriusan dalam kata kata Blaise.
"Aku juga merasakan hal itu. Well, daritadi aku hanya merasa kalau Daphne terus bertindak aneh. Kalau ada sesuatu tentang Daphne atau Greengrass kecil akan kuberitahu kalian." Kata Pansy sambil menuangkan firewhisky yang berhasil diselundupkan teman-temannya ke gelas yang ia pegang.
"Wow, Pansy ikut membantu!" kata Theo antusias yang tidak percaya kalau Pansy kali ini ikut membantunya.
"Well, demi Draco. Demi kebahagian Draco." Kata Pansy sambil mengangkat gelasnya seolah mengajak bersulang kemudian meminumnya dan memunculkan senyum khas Slyhterin.
Tidak berbeda jauh dengan Slytherin, ruang rekreasi Gryffindor juga penuh seperti biasa. Ron dan Dean sibuk dengan catur sihirnya. Harry sedang membantu Ginny mengerjakan tugasnya. Luna tampak sibuk dengan bukunya sendiri. Hermione yang sedang berkunjung ke asrama Gryffindor duduk disebelah Luna dan membaca bukunya yang tebalnya kurang lebih lima centimeter.
Gossip kedekatan Hermione dan Cedric pun menjadi topic hangat bagi seluruh asrama apalagi Gryffindor. Hermione terus mengacuhkan semua anak Gryffindor yang terus menyebutkan namanya dalam perbincangan mereka. Semua ini karena Ron yang berteriak saat di Aula besar yang akhirnya didengar banyak murid lainnya. Memang saat itu Ron hanya menyebutkan nama Cedric, namun siapa yang Cedric dekati sudah menjadi rahasia umum. Semua orang tahu yang Ron maksud adalah Hermione. Hermione yang ikut mendengar mau tak mau akhirna tertunduk malu karena ia tahu bahwa yang Ron maksud adalah dirinya sendiri dan tanpa Ron sadari ia telah memberikan hubungan yang ada antara dia dengan Cedric kepada hampir murid Hogwarts dan bahkan sampa meja Slytherin juga mendengarnya.
Semenjak kejadian itu tidak sedikit yang terus penasaran dan bertanya-tanya kepada Hermione ataupun Cedric mengenai hubungan mereka. Apakah berjalan lebih baik atau justru sebaliknya. Merekapun semakin akrab. Banyak yang mendukung mereka, tapi tak sedikit pula yang tidak suka –lebih tepat sirik- kepada Hermione. Bagaimana tidak? Hermione memiliki wajah yang cantik, otak yang cerdas, badan yang tinggi sempurna, dan dia pemberani. Banyak yang mengejar mereka sebut saja Ron, Victor, dan sekarang Cedric. Mungkin masih banyak yang lain tidak berani terang-terangan untuk mengejarnya.
Setelah cukup lama berada di asrama Gryffindor, kini saatnya Hermione harus berpatroli bersama Draco. Ya, menjalankan tugasnya sebagai Ketua Murid Perempuan. Akhirnya Hermione berpamitan dengan semua teman-temannya yang berada pada asrama Gryffindor. Sebenarnya ia ingin lebih lama bersama dengan teman-temannya. Semenjak dia mendapatkan jabatan sebagai Ketua Murid Perempuan ia jadi jarang berkumpul bersama dengan teman-temannya karena disibukkan dengan tugasnya sendiri dan menjadi lebih sering bersama dengan Draco yang sebenarnya adalah musuhnya. Dengan langkah berat Hermione berjalan meninggalkan menara Gryffindor. Ia mulai menelusuri lorong demi lorong seorang diri. Hermione heran kemana perginya Draco. Meski Draco memiliki reputasi yang tidak terlalu baik, tapi Hermione tahu kalau Draco mendapatkan tugas maka ia akan bertanggung jawab apapun tugasnya.
Draco telah selesai memasang dasi hijau silvernya pada dadanya yang bidang yang berarti ia telah selesai untuk bersiap-siap menjalankan tugas keliling malamnya dengan partnernya yaitu Hermione. Entah sejak kapan Draco selalu ingin tampil menawan di depan Hermione. Namun ia yakin bahwa Hermione telah menganggapnya menawan. Draco yakin karena melihat reaksi bodoh Hermione saat melihat dirinya bertelanjang dada. Draco sangat yakin pada saat itu sebenarnya Hermione telah membelalakan matanya semaksimal mungkin karena terpukau. Mengenang hal itu maka tersenyumlah Draco.
Saat Draco menuruni tangga asrama menuju ruang rekreasi, tiba-tiba ada burung kertas yang terbang kearahanya dan hinggap di telapak tangan Draco yang halus. Draco cukup yakin bahwa burung kertas itu sebenarnya adalah surat. Ia buka dan segera membaca surat tersebut.
"Malfoy, aku tunggu kau di Danau hitam. PS: Cepat aku tidak suka menunggu lama –G- "
Draco cukup yakin kalau yang mengirim surat itu adalah Hermione. Karena inisial yang ia tuliskan ada G yang Draco yakini kalau itu berarti Granger. Yang membuat Draco yakin bahwa itu adalah Hermione karena ia memang selalu memanggil gadis itu dengan nama Granger.
Draco kembali melukiskan senyumnya di wajahnya yang pucat. Entah senyum yang mana yang ia pasang. Entah senyum licik khas Slytherin atau senyum yang mampu menggoda dan membuat gadis gadis Hogwarts berteriak atau mungkin senyum bahagia layaknya anaka kecil yang mendapatkan permen. Draco segera melangkahkan kakinya dengan cepat.
Lorong demi lorong ia lewati dengan dagu terangkat untuk menunjukan seberapa angkuhnya dirinya dan memunjukkan bahwa ia punya kekuasaan yang cukup besar di Hogwarts karena ia adalah Ketua Murid Putra. Sesekali ia memotong poin asrama-kecuali Slytherin-saat bertemu dengan beberapa murid yang masih berkeliaran. Ia semakin mempercepat langkahnya agar segera sampai di danau hitam. Ia sangat penasaran dengan apa yang Hermione bicarakan. Dari gaya tulisannya Draco menduga mungkin hal itu cukup penting. Draco semakin semangat berjalan dan semakin ingin segera bertemu dengan Hermione.
-Draco POV-
Well Granger tidak seperti biasa kau mencariku. Apalagi dengan menuliskan sebuah surat dan di danau hitam. Tampaknya kau cukup tau tempat tempat yang menarik untuk dijadikan tempat berduaan. Oh jangan jangan kau ingin menyatakan cintamu? Ah tidak mungkin tidak mungkin itu terlalu cepat Granger dan bahkan kita masih saling menyebutkan nama belakang kita. Kapan kau akan memanggilku Draco? Dan kapan kau akan mengijinkan aku memanggilmu Hermione? Kapan aku bisa mengenggam tangan mungilmu itu? Kapan aku bisa membelai rambut coklat bergelombang milikmu itu? Kapan aku bisa menatap mata hazelnutmu lebih dalam?
Demi Salazar! Am I crazy about you? Absolutely YES Hermione! Well, aku akui aku mulai memandang mu dari sisi lain semenjak kamu menonjokku pada tahun ketiga. Kuakui tonjokkanmu itu sangat menyakitkan. Namun, aku jadi sadar bahwa kau itu berbeda dari yang lain. Aku bosan dengan semua gadis yang hanya mengelu-elukan namaku karena aku ini kaya, pintar, tampan, dan entahlah apapun sebutan mereka padaku. Karena sikapmu yang berbeda itulah yang membuatku berpikir kalau kau itu menarik. Sejak saat itu pula aku mulai memerhatikanmu. Awalnya aku ingin membalas dendam. Namun, semakin aku memerhatikanmu maka aku semakin menganggapmu istimewa. Aku semakin tahu semua tentangmu. Harus kuakui aku menyukai semua yang ada pada dirimu. Aku semakin tergila-gila padamu pada tahun keempat. Saat Victor menggandengmu memasuki Aula Besar, aku benar-benar cemburu pada Victor. Rasanya aku ingin menarik tangan putihmu dari lengan Victor dan biarkan aku yang bersamamu saat memasuki Aula Besar. Aku hanya mampu memandang kecantikanmu yang sempurna dari kejauhan. Menahan semua itu demi gengsiku sebagai seorang Malfoy yang tidak akan pernah menyukai seorang darah lumpur. Kurasa Pansy menyadari bahwa aku terus memandangi Hermione tanpa henti. Masa bodohlah apa peduliku terhadap Pansy. Kalau memang ia menyadari itu aku rasa dia penjaga rahasia yang baik karena sampai sekarang tidak ada desas-desus tentang aku dan Hermione yang Pansy buat. Well, untuk kali ini aku harus berterimakasih pada Pansy.
Sekarang pada tahun ketujuh. Tahun terakhirku setelah perang Hogwarts selesai. Saat semua murid kembali mengulang sekolahnya, aku yang semula hanya Prefek Slytherin diangkat menjadi Ketua Murid Putra bersama Hermione yang merupakan Prefek Gryffindor menjadi Ketua Murid Putri. My dream come true! Akhirnya aku bisa semakin dekat dengan dia. Sebenarnya hubungan kami sedikit membaik. Kami tidak lagi saling melemparn kutukkan. Sebenarnya masih hanya saja tidak terlalu sering. Thanks Potter telah mengalahkan Voldemort dan mau bersaksi bahwa ibuku Narcissa membantumu sehingga kami sekeluarga dapat selamat. Jadi aku bisa terlepas dari belenggu Death Eater ini, meski tetap meninggalkan lukisan ular pada lenganku.
Back to Hermione. Sekarang aku satu asrama dengan Hermione. Ya, di asrama khusus Ketua Murid. Kau tahu? Aku harus bekerja ekstra sekarang. Untuk apa? Yang pasti untuk menahan diriku. Kau tahu bagaimana rasanya ditempatkan pada satu ruangan yang sama dengan orang yang kau sukai? Pasti banyak yang ingin kau lakukan. Ya aku rasa kalian paham. Tidak mungkinkan aku menceritakan secara mendetail apa yang ada dipikiranku saat ini. Harus kuakui itu sangat sulit! Belum lama ini hampir saja aku kehilangan kendali diriku. Aku tidak mau menyakiti Hermione. Hermione sangat berarti untukku.
Apa aku benci pada Cedric? IYA! Sebenarnya aku tidak ada hak juga untuk melarang Cedric dekat dengan Hermione. Karena, aku dan Hermione tidak memiliki hubungan special apapun. Padahal aku berharap nantinya kami akan memiliki hubungan special. Tapi hubungan itu tidak akan pernah terjalin. Banyak rintangan yang harus aku lewati untuk mendapatkanmu. Seandainya aku bisa menjelaskan semua yang aku rasakan kepadamu Hermione Jean Granger. Aku sangat mencintaimu.
Ah! Aku yakin gadis berdiri di tepi danau hitam itu kau. Aku yakin itu pasti kau meski hanya pantulan rembulan yang menerangimu. Aku tidak sabar untuk menyentuh pundakmu untuk membuyarkan lamunanku dan menatap mata coklatmu dan membelai rambut lurus… sebentar! Sejak kapan Hermione memiliki rambut lurus? Rambut Hermione bergelombang bukan lurus dan berwarna coklat sedangkan gadis di depanku tampaknya memiliki rambut berwarna hitam atau coklat gelap? Apa mungkin itu Pansy? Tidak mungkin! Inisial surat itu 'G' sedangkan Pansy pasti 'P' lagipula tidak mungkin ia mengirim surat padaku, pasti ia akan langsung memanggilku dengan suara cemprengnya. Lalu siapa itu?
Aku melangkahkan kaki ragu-ragu. Sedikit demi sedikit jarak aku dengan orang yang tidak aku kenal itu semakin dekat. Keheningan danau hitam semakin membuatku kebingungan. Aku memiliki perasaan tidak saat ini juga saat aku hanya berjarak tidak lebih dari 50 cm.
"Malfoy? Itukah kau?" kata gadis itu memecahkan keheningan. Sesaat kemudian ia membalikkan badannya sehingga Draco dapat melihat siapa gadis itu sebenarnya.
"Greengrass? Kau kah itu? Bagaimana bisa kau?" tanya Draco kebingungan. Ia tidak percaya gadis didepannya itu adalah Astoria. Draco tidak suka dengan Astoria ditambah pula dengan kenyataan bahwa mereka akan dijodohkan maka semakin lengkap kebencian Draco pada Astoria.
"Karena memang aku yang mengirim surat itu. Kau kira siapa? G untuk Greengrass, Malfoy. Kau mengira aku inni daphne? Oh atau mungkin kau mengira aku ini Granger?" tanya Astoria dengan tampang tak bersalahnya.
"Granger? Tidak mungkin aku mengharapkan dia yang memanggilku! Entahlah aku tidak dapat mengira siapa yang memberiku surat itu. Insial itu terlalu umum." Kata Draco dengan cuek untuk menutupi rasa kecewanya.
"Baguslah kalau kau tidak berpikir aku ini Granger, kau tahu kenapa? Karena aku sempat berpikir kalau kau menyukai Granger, Draco." Kata Astoria dengan senyumnya yang membuat Draco ingin mendorongnya ke dalam danau hitam.
"Pemikiran bodoh darimana Greengrass? Tidak mungkin hal itu terjadi dan aku tidak mengijinkan kau memanggil namaku." Kata Draco semakin muak.
"kenapa tidak? Pada akhirnya aku akan menikah denganmu. Namaku nanti tidak lagi Astoria Greengrass tapi Astoria Malfoy. Cocok bukan? Kau harus mulai terbiasa dengan kehadiranku Draco dan cobalah memanggilku Astoria! Ini perintah Draco." Kata Astoria dengan tatapan licik ala Slytherin.
"Tidak ada yang dapat memerintahku Greengrass! Kau lupa? Aku menentang perjodohan ini!" kata Draco sambil mengepalkan tangan kanannya.
"Aku bisa. Aku rasa kau tidak akan dapat menentang yang semua ibumu katakana Draco. Oiya lebih baik kau bilang pada Theo, Blaise, dan Pansy untuk mulai terbiasa dengan kehadiranku. Apalagi Blaise. Aku tidak suka dengan tatapannya saat memandangku. Sangat menusuk." Kata Astoria dengan santai. Astoria tahu kelemahan Draco adalah ibunya. Karena Draco sangat menyayangi ibunya. Astoria tahu saat ini dialah yang memegang kendali.
Aku terpaku saat Astoria menyebut ibuku. Aku sayang ibuku. Sangat sayang. Aku akan menuruti semua perkataan ibuku. Tapi untuk satu ini aku tidak bisa, tapi aku. Tidak mungkin! ibuku tahu kalau aku tidak menyukai hal perjodohan. Aku yakin dia akan membelaku dalam hal ini.
"Draco! Peluk aku sekarang!" kata Astoria dengan nada sedikit membentak.
"APA? Of course not!" kata Draco tidak menyetujui permintaan Astoria.
"Peluk aku sekarang Draco." Kata Astoria semakin meninggikan suaranya.
"TIDAK!"
"SEKARANG!"
"TID.."
"Imperio!" kata Astoria. tanpa Draco sadari tanganya mulai menarik lengan Astoria dan memeluknya. Draco sadar bahwa ini semua bergerak bukan berdasarkan kemaunya.
"KAU! BERANI SEKALI!" teriak Draco berusaha melepaskan posisinya saat ini.
"Silencio Draco sayang." Kata Astoria. sekarang Draco tidak dapat berbuat apa-apa. Semuanya berada dibawah kendali Astoria.
Hermione? Aku yakin itu Hermione! Tidak, ia tidak boleh dalam posisiku saat ini! Aku yakin ia pasti salah paham. Aku yakin dia salah paham. Lalu kenapa dia hanya berlari meninggalkanku? Seharusnya ia menghentikan kami. Tidak hal ini harus aku jelaskan pada Hermione. Aku yakin itu dia. Aku bisa merasakan tadi mata hazelnutnya melihat semua kejadian ini dengan tidak percaya. Aku bisa melihat rambut gelombangnya yang berkibar saat ia berlari meninggalkan aku dan Astoria. aku berharap semoga kau mau mendengarkan kata-kataku Hermione.
Sial kau Astoria! Seharusnya dari tadi saja aku mendorongmu kedalam danau hitam. Biar saja kau mengigil kedingingan karena angin malam. Aku sangat tidak peduli pada dirimu! Lihat saja kau Astoria! aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau kau membuat Hermioneku msenangis melihat semua hal ini!
-Hermione POV-
Kemana perginya Malfoy bodoh itu? Memangnya tugas malam sendirian itu menyenangkan? Sama sekali tidak! Aku kesepian Dra-er-Malfoy. Kau tahu Malfoy, saat aku berada disisimu meski kita terus saling melempar ejekan adalah hal yang er-cukup-menyenangkan. Ini kedengaran gila? Memang! Bahkan ini sepertinya diluar akal sehatku. Aku menikmati suasana yang tercipta diantara kita. Aku menikmati bagaimana sikapmu belakangan ini yang terus mengerjaiku. Aku menikmati saat kau membisikan kata-katamu tepat ditelingakudengan suara rendahmu. Aku terus teringat bagaimana kejadian di asrama ketua murid yang bila mengingatnya membuat wajahku memerah dengan bodohnya. Mungkin aku menyadari sekarang kalau aku telah menye…
Tampaknya aku melihatmu Malfoy. Aku melihatmu dari jendela atas. Kau tampat sedikit terburu-buru dan aku rasa kau akan menuju Danau Hitam. eh? Danau Hitam? Malam-malam? Apa yang akan kau lakukan idiot? Lebih baik aku mengejarnya sebelum aku kehilangan jejaknya. Aku akan menghampiriku Malfoyku. Eh? Malfoy bukan Malfoyku.
Aku menuruni anak tangga secepat yang aku bisa. Aku mempercepat langkah kakiku dan aku berharap aku bisa terbang agar cepat. Ah tidak tidak, aku tidak suka terbang.
"Hermione! Kau mau kemana?" tanya Cedric
"Ah Ced, maaf aku sedang buru-buru." Kataku hanya berlalu begitu saja. Aku yakin sekarang pasti Cedric sedang memutar bola matanya heran melihat tingkah laku bodohku.
Kemana Malfoy? Kenapa ia cepat sekali? Aku heran. Aku terus berjalan mencari sesosok pria dengan rambut platina dengan tubuh tegapnya. Namun, yang aku temukan adalah sesosok wanita yang lebih muda dan lebih pendek dariku. Dia berdiri di tepi danau tampak sedang menunggu seseorang. Apa mungkin wanita ini yang Malfoy tunggu? Atau mungkin sebaliknya? Ah itu dia Malfoy. Lebih baik aku menunggu dari balik pohon. Semoga mereka tidak menyadari kehadiranku dan…
Sakit! Hatiku rasanya sakit sekali. Rasanya aku ingin menenggelamkan diriku ke Danau Hitam dan tidak akan muncul kepermukaan lagi. Aku merasa aku ingin menjatuhkan diriku dirumput yang sedang kuinjak. Aku dapat merasakan air mataku mulai menuruni pipiku saat melihat Malfoy ya Malfoy tiba-tiba berjalan dan memeluk gadis itu. Bagaimana Malfoy mau memelukannya? Berapa lama waktu yang akan mereka habiskan untuk menikmati pelukan itu. Seandainya aku yang ada di depanmu saat itu, aku tidak akan pernah melepaskamu Malfoy. Hatiku sakit sekali! Air mataku kian deras. Kakiku semakin tidak mampu menopang tubuhku yang berusaha menahan isak tangisku. Aku berjalan mundur secara perlahan. Aku tidak bisa menerima semua yang aku lihat. Akhirnya aku berlari meninggalkan mereka. Entah mereka melihatku atau tidak. Namun, aku sempat melihat melalu sudut mataku kalau Malfoy melihatku berlari dan menangis.
Kau tahu Malfoy seberapa sering aku mengeluarkan airmataku hanya untukmu? Sering Malfoy! Sering sekali! Dan malam ini aku kembali meneteskan airmatamu hanya untukmu.
Aku memasuki kastil Hogwarts. aku berlari tanpa memedulikan sekitar. Aku mencari tempat yang sepi. Aku duduk disalah satu lorong yang sepi. Isak tangisku semakin besar. Seandainya dinding itu bisa berbicara pasti mereka akan mengolok-olokku karena aku telah menangis orang yang sama sekali tidak pernah menganggapku ini special dan bahkan aku hanya dijadikan bahan ejekannya.
"Hermione! Kau kenapa?" tanya Cedric yang sebenarnya sudah melihat Hermione dan mengikutinya.
"Cedric?" tanya Hermione sedikit terkejut. Namun ia tidak bisa menutupi lagi matanya yang sembab.
"Kau menangis? Kau kenapa? Siapa yang membuatmu menangis?" Tanya Cedric yang kemudia memeluk Hermione dan membiarkan Hermione menangis dalam pelukannya.
"Aku… aku… karena… karena…" kata Hermione mencoba namun tak bisa. Isak tangisnya justru semakin membesar.
Astaga Cedric kau baik sekali. Kau membiarkan aku menangis dalam pelukmu, tapi maaf ced aku tidak bisa memelukmu balik. Karena yang aku butuhkan sekarang adalah Draco Malfoy. Aku ingin memeluknya saat ini dan menangis dalam peluknya. Aku ingin dia yang menenangkanku. Karena dihatiku hanya ada satu orang dan selamanya hanya dia yang ada di dalam hatiku. Kau Ced siapa yang membuatku menangis? Kau tahu siapa yang aku ingin untuk disisiku sekarang? Semua jawabanya adalah Draco Malfoy! Maafkan aku Ced, tapi untuk saat ini dan selamanya hatiku hanya untuk Draco Malfoy!
To Be Contiune….
Hai hai, aku kembali dengan chap 4 yang mungkin ga jelas, aneh, mengecewakan, dan semuanya. Terimakasih ya udah pada mau membaca dan memberikan kritik dan saran. Semuuanya gw terima dengan lapang dada. Mungkin setelah ini gw bakal semakin lama updatenya soalnya gw mulai sibuk dengan tugas tugas sekolah yang makin banyak. Biasa tuntutan seorang pelajar.
Oiya, GW TIDAK SUKA ASTORIA GREENGRASS! Sebenarnya gw terpaksa masukin dia supaya ceritanya lebih sedikit gimana gitu deh. Gw ini DRAMIONE sejati. Hahaha.
Nah jadi Diggroy Malfoy, Misstrowbery, Tamaraudrey sorry sorry aja kalian bakal kesel baca Astoria. sebenernya gw yang ngetik juga ikut-ikutan kesel gitu deh.
Jadi sekali lagi thanks Diggory Malfoy, Misstrowbery, Eveel, tamaraudrey, phieranpoo, arisak nakamura, yowkid yang memberikan comment dan mereka mereka yang menjadikan cerita ini favorite. I love you all!
Akhir kata, kritik dan saran tetap gw tunggu.
Love, Aphroaphrodite :)
