Sinister L {Saya juga sebenernya nulis itu dada sesek kaya diparut-parut sih :') #terus kenapa ditulis?!# 8059 ga terlalu liar lagi gara-gara ada pawangnya #plak maksudnya Tsuna XD}

Urara S. H {Hm~ coba aja baca chap ini XD}

Himeji Arisa {baca aja chap ini buat lihat Dino mati ga XD}

Yui the devil {makasih :) semoga ini tidak mengecewakan :D}

Alicia . Usagi {Dino itu—lihat aja di chap ini XDD maaf kalau telat update, saya lagi sibuk + mandeg ide ._.}

NuruHime-chan19 {Makasih ^^ ini sudah :D}

ByuuBee {iya sedih ,_, 6927 bentar lagi~ Ryouhei sama Lambo aja belum nongol XD}

FranKeceh {waaah makasih :'D jadi terharu :3 semoga yang ini ga mengecewakan, walaupun angstnya di chap ini ga terlalu banyak ^^}

Echo Andalice {Yep semuanya kecuali Chrome karena kalau memang Mukuro ga nolong dia berarti chrome sudah mati :3 dan Mukuro iya mungkin bakal ngelawan Tuna lagi ._.}

DeLoAniMan U-know {XDD makasih deh :D}

.

Title :Fallen Sky

Genre :Family/Angst

Pairing :6927, D18, 8059

KHR © Amano Akira

Warning :Death!Chara, OOC, Dark!Tsuna, Shounen-Ai

.

Vongola bukan lagi kelompok mafia saat Tsuna menjabat sebagai Neo Vongola Primo. Namun, keadaan itu malah membuat mimpi terburuk terjadi. Saat semua itu semakin memburuk—sebuah kejadian benar-benar akan mempengaruhi semuanya. Akanlah menjadi lebih baik, atau malah memperburuk suasana.

{4}

Chap. 4, Another Side of Him

{4}

PRANG!

"Tsuna-san, kau tidak apa-apa?!"

Haru yang berada di samping Tsuna saat makan pagi segera menghampiri saat gelas yang dibawa oleh Tsuna pecah begitu saja. Gokudera dan juga Yamamoto yang tampak berada di dekatnya hanya menatapnya heran—karena Tsuna seolah terdiam dan mematung.

Mencoba untuk mengambil pecahan gelas yang ada di bawahnya, gelas yang diberikan oleh Dino saat ulang tahunnya yang ke 17 dan saat ia merayakan ulang tahunnya pertama kali sebagai seorang boss Vongola.

'Karena kau tidak suka hadiah ala mafia, kukira ini adalah hadiah yang paling cocok untuk adikku yang manis ini.'

DHEG!

Entah kenapa perasaannya benar-benar buruk. Hyper Intuitionnya mengatakan kalau ada sesuatu yang benar-benar tidak ia inginkan akan terjadi. Tangannya yang gemetar tampak ia genggam dengan erat, dan kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan rasa khawatirnya.

'Tidak, ini hanya perasaanku saja—tidak ada yang terjadi pada Dino-san...'

Haru tampak khawatir, dan Gokudera serta Yamamoto tampak menatapnya heran. Tidak ada seseorangpun yang bergerak dari tempatnya ataupun berbicara satu patah katapun.

BRAK!

Suara itu membuat Tsuna melayangkan tatapannya pada sosok yang ada di hadapannya. Sang mantan tutor dan mantan Sun Arcobaleno itu berjalan dengan tegas seperti biasanya. Namun ada yang aneh dengan tatapan serta irama langkah Reborn.

"Reborn, ada apa?"

"Kau harus segera pergi ke markas Cavallone, da—Tsuna," Reborn yang tidak memanggilnya dengan sebutan dame-Tsuna bukanlah sebuah berita yang baik. Untuk apa ia pergi ke markas Cavallone kalau nanti Dino akan pergi ke markasnya? Apa yang terjadi, kenapa tatapan Reborn seperti itu? Hanya itu yang bisa ditangkap di tatapan kosong yang diberikan oleh Tsuna.

"Dino tertembak oleh seseorang..."

Dan untuk kesekian kalinya, dunianya seolah berhenti berputar dan semuanya jatuh pada ketiadaan.

{4}

Tsuna tidak perduli saat beberapa orang mencoba untuk menghentikannya. Yang ia inginkan hanyalah membuka pintu ruangan yang ada di ujung lorong, menertawakan lelucon tidak lucu yang dikatakan oleh Reborn tentang Dino dan tertawa bersama dengan kakak seperguruannya itu.

BRAK!

Matanya hanya bisa membulat saat melihat tubuh Dino yang terbujur dengan beberapa alat yang terhubung di tubuhnya.

"Primo, tidak seharusnya kau berada disini!"

"Biarkan saja ia masuk, aku akan menemaninya," pria yang ia ketahui sebagai Romario hanya diam dan menatap Dino yang terbaring di depannya. Semua anak buah Cavallone tampak terdiam sebelum mengangguk pelan dan meninggalkan mereka berdua tanpa ada yang berbicara sekalipun. Romario yang menatap Tsuna mengetahui apa yang ingin ditanyakan oleh sang boss muda itu.

"Penyerangan terjadi beberapa jam yang lalu. Sangat tiba-tiba, awalnya boss ingin mempertahankan markas di lantai satu bersama dengan yang lainnya sebelum ia berhenti dan mengurungkan niatnya," Tsuna bisa melihat grafik detak jantung yang berdetak sangat kecil, "beberapa saat kemudian kami mendengar suara tembakan dan menemukan boss tertembak di bagian dada. Beruntung Shamal bisa datang dengan cepat, dan peluru tidak mengenai tepat di Jantung..."

...

"Tetapi ia dalam keadaan koma—bahkan ada kemungkinan ia tidak akan bangun lagi..."

Mengeratkan kepalan tangannya, Tsuna hanya bisa menunduk dan menutup matanya. Siapa yang melakukan hal ini, apa yang membuat kakak seperguruannya—salah satu dari sedikit keluarganya (selain Reborn dan Chrome) yang masih tersisa hingga mudah sekali untuk dikalahkan?

"Kau tahu—siapa yang melakukannya Romario-san...?"

Romario tampak menatap Tsuna, terdiam selama beberapa saat sebelum menggelengkan kepalanya.

"Kami sedang berusaha mencari pelakunya. Kalau aku menemukan sesuatu yang menunjukkan siapa pelakunya, aku akan memberitahunya padamu," Tsuna hanya bisa menghela nafas samar sebelum mengangguk dan berbalik meninggalkan Dino dan juga Romario disana. Ia tidak akan membiarkan orang-orang itu lolos begitu saja, ia akan menangkap siapapun yang melakukan semua ini.

"Aku akan mengurus semua hal tentang Cavallone sampai Dino-san sadar. Kalau ada sesuatu yang bisa kulakukan, hubungi aku kapanpun Romario-san," Romario hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun hingga Tsuna menutup pintu ruangan itu. Pria berusia 40 tahunan akhir itu tampak menghela nafas dan menoleh pada Dino.

"Aku sudah melakukan semuanya dengan baik bukan boss? Kau tidak akan senang kalau aku mengatakan pada anak itu, kalau Kyouya yang melakukan semua ini..."

{4}

"Aku sudah muak dengan semua ini."

Tsuna berjalan keluar dari markas Cavallone bersama dengan Reborn dan juga Haru. Chrome sedang menjalankan misi, dan ia tidak akan mengganggu sebelum mendapatkan kabar dari anak buahnya yang lainnya, atau Chrome tidak memberikan kabar hingga waktu misi berakhir.

"Semua ini—aku harus mengakhirinya," Reborn melirik kearah Tsuna yang menatap dingin pada pemandangan yang ada di depannya. Ia tidak perduli siapa yang melakukannya, kalau seseorang mengancam keberadaan keluarganya ia akan benar-benar mengukirkan nama orang itu di batu pualam.

"Bagaimana kalau pelakunya adalah salah satu guardianmu di dunia paralel lain dame-Tsuna?" Tsuna menoleh pada Reborn, berharap kalau itu hanyalah pertanyaan gurauan yang dilontarkan untuk mengejeknya setelah itu. Namun melihat remaja yang tampak hanya menatapnya tajam, ia tahu itu bukanlah pertanyaan yang main-main, "Byakuran mengatakan kalau guardianmu sama sekali berbeda dengan yang kau kenal."

"Aku akan…" Reborn kali itu menatap wajah Tsuna yang selama 2 tahun ini tampak benar-benar sekeras batu namun kali ini tampak melunak. Bukan karena senyuman, namun terlihat hancur dan juga bingung, "aku tidak tahu Reborn… Hayato dan Takeshi—mereka berada di dekatku sekarang namun aku tidak bisa melakukan apapun…"

"Mungkin, satu alasan untukku menahan mereka, karena aku ingin mereka berdua tetap bersama denganku dan tidak akan pergi lagi meninggalkanku," Tsuna tersenyum tipis dengan tatapan kosong, "kalau ini semua tidak segera berakhir, aku yakin kalau penyebab kematianku adalah ini…"

{4}

Supir mencoba untuk membuka pintu saat Tsuna dan juga Reborn sampai di mansion Vongola. Setelah berterima kasih pada sang supir, boss Neo Vongola Primo itu segera berjalan masuk, namun terhenti saat mendengar suara ledakan yang terjadi di bagian timur mansion Vongola.

Membulatkan matanya, tampak membuka pintu dan mencoba untuk menemukan penyebabnya, namun melihat Chrome yang muncul dan menghampirinya ia berhenti.

"Ah, kau sudah kembali dari misi Chrome?" Chrome hanya mengangguk namun tampak panik, "ada apa?"

"Ame-san dan juga Arashi—ma-maksudku Yamamoto-san dan Gokudera-san berkelahi lagi," Tsuna membulatkan matanya dan tampak terkejut. Bagaimana? Bukankah senjata mereka sudah diamankan kecuali—

"Ah, aku akan menangani mereka," Tsuna segera bergerak dan menuju ke bagian timur dari mansion Vongola dimana Gokudera dan juga Yamamoto tampak saling berhadapan. Gokudera membawa beberapa dinamit di tangannya dan sebuah pedang kayu di tangan Yamamoto, "apa yang terjadi?!"

Mendengar suara sang Don Vongola membuat mereka berdua menatap pemimpin muda itu. Tampak sedikit rasa takut terlihat di wajah mereka, karena aura intimidasi yang diberikan oleh Tsuna pada mereka.

"Che, siapa orang bodoh yang meletakkan dinamit di kamar?"

"Sebenarnya aku tidak ingin menyerang, tetapi karena dia mencoba untuk meledakkanku dengan dinamit itu, aku menahannya dengan pedang ini," menatap pedang kayu yang ada di tangannya, "tetapi aku tidak mengerti kenapa kau tidak mengeluarkan pedang kayu ini dari kamar yang kutempati…"

"Bukankah dame-Tsuna sudah mengatakan untuk tidak berkelahi lagi?" Reborn yang berada di belakang Tsuna tampak melihat keduanya. Sementara Tsuna hanya menundukkan kepalanya dengan tubuh gemetar. Yamamoto dan juga Gokudera tampak meneguk ludahnya sendiri.

"Pff—AHAHAHAHAHA!" Reborn, Chrome, terlebih Yamamoto dan juga Gokudera tampak menatap Tsuna yang tertawa keras di depan mereka. Bingung? Tentu saja, bagaimana sebuah ledakan yang terjadi disekeliling mereka bisa membuat Tsuna tertawa.

Tetapi tunggu, kenapa tidak ada seseorangpun yang terluka? Bagaimana Yamamoto bisa tidak terluka sama sekali setelah ledakan yang cukup besar itu?

Dan yang lebih penting di fikiran Reborn dan juga Chrome—sejak kapan mereka melihat Tsuna tertawa seperti itu?

"A—aku tidak mengambil dinamit dan juga pedang itu karena itu tidak akan melukai kalian," Gokudera dan juga Yamamoto tampak melihat kedua benda itu, "yah, setidaknya tidak membuat kalian terluka parah. Dinamit itu hanya akan mengeluarkan asap dan suara yang besar, sementara pedang kayu itu terbuat dari kayu yang ringan dan juga tipis. Tidak akan terlalu sakit kalau mengenainya."

Hening.

"Kalau itu membuat kalian puas untuk bertarung satu sama lain, akan kuberikan pada kalian selama kalian ada disini," Tsuna melambaikan tangannya sambil berbalik meninggalkan Gokudera dan juga Yamamoto yang berada disana.

Untuk waktu-waktu yang sedikit, Reborn sekali lagi dikejutkan oleh apa yang dilakukan oleh Tsuna. Dan ia berjalan mengikuti, sementara Chrome mencoba untuk melihat keadaan kedua orang guardian Vongola itu.

"Benda-benda itu—"

"Hayato memintaku untuk meminta pada Shouichi membuatkan dinamit itu agar ia tidak melukai semua orang yang ada di mansion. Dan Takeshi memang sering menggunakan itu saat sesi latihannya bersama dengan kami," Tsuna tersenyum dan menghela nafas, menutup matanya, "kalau melihat mereka berdua, rasanya aku sekali lagi melihat Hayato dan Takeshi hidup kembali…"

"Kau tahu kalau mereka memang orang yang kau sebutkan bukan?"

"Mereka bukan orang yang kukenal, bagaimanapun mereka yang kukenal sudah tidak ada di dunia." Tsuna menghela nafas dan sekali lagi senyuman yang jarang terlihat itu kembali menghilang dari wajahnya, "aku harus menangkap mereka dan membalaskan dendam Dino-san…"

'Sepertinya kau sudah lupa kalau Dino bukan orang yang akan mudah untuk dikalahkan dame-Tsuna,' Reborn menatap mantan muridnya itu, 'walaupun tidak ada yang mengatakannya, tetapi aku yakin kalau yang melakukan itu adalah seseorang yang bisa membuat Dino terlihat lemah. Hanya Hibari Kyouya yang bisa melakukan itu…'

{4}

Dua hari setelah kejadian penembakan di markas Cavallone itu, tampak seorang pemuda yang terlihat familiar dan seharusnya tidak ada disana menggegerkan Namichuu baik para siswa maupun para anggota Komite Kedisiplinan. Hibari Kyouya seharusnya tidak ada disini, bukan karena diusir namun karena seharusnya Hibari sudah tewas.

Bersama dengannya tampak sang tangan kanan Kusakabe Tetsuya yang berasal dari dimensi yang berbeda juga. Melihat semua orang disekelilingnya yang menatapnya dengan tatapan takut dan terkejut membuat moodnya benar-benar memburuk. Ia terus berjalan hingga sampai di ruangannya yang ada di lantai dua. Membuka pintu, hanya untuk menemukan Kusakabe yang berada di dimensi itu berdiri di dekat meja yang kosong di sampingnya.

Menoleh saat mendengar pintu yang terbuka, matanya segera membulat melihat dua orang yang ada di ambang pintu.

"Ap—Kyo-san, dan…" Kusakabe bahkan tidak bisa melanjutkan kalimatnya karena bagaimanapun ia tidak mungkin bisa mempercayai apa yang didepan matanya. Dan sepertinya pria yang ada di depannya juga sama terkejutnya begitu juga dengan Hibari Kyouya yang tetap menatapnya dengan tatapan yang datar, "bagaimana—"

Kedua Kusakabe tampak menatap Hibari yang menutup matanya dan menyilangkan kedua tangannya seolah berfikir. Tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana semua yang ada di depannya menjadi kacau seperti ini. Dan satu hal yang bisa ia lakukan saat itu—

"Buktikan padaku siapa diantara kalian yang asli…"

{4}

"Ah hari ini kan," Tsuna yang sedang mengerjakan pekerjaannya menoleh pada jam yang ada di atas mejanya yang juga menunjukkan tanggalan. Di dalam ruangannya, terdapat Chrome dan juga Haru yang menjadi asistennya, sementara Kyoko lebih memilih untuk membantu dari luar saja.

"Ada apa boss?"

"Ah benar juga, hari ini seharusnya Tsuna-san berada di tempat itu desu!" Haru menepuk tangannya seolah menyadari sesuatu. Chrome melihat tanggalan dan menyadarinya juga sebelum berdiri bersama Haru saat Tsuna memutuskan untuk berdiri juga, "tetapi berbahaya kalau kau pergi sendirian Tsuna-san. Reborn-san sedang tidak ada di mansion dan Dino-san…"

"Tidak apa-apa, toh aku hanya pergi sebentar saja…"

Tsuna tertawa dan bergerak mencoba untuk mencari sesuatu di lemari yang ada di kamarnya sebelum ia mengerutkan dahinya karena tidak menemukan apa yang ia cari.

"Dimana celana yang diberi Kyoko-chan 3 tahun yang lalu Haru, Chrome?"

"Hm? Kukira ada disana, Tsuna-san hanya memakainya sekali dalam satu tahun, jadi tidak mungkin kalau tidak ada disana desu," Haru memutuskan untuk membantu Tsuna mencari benda yang diinginkannya. Chrome sendiri mencoba untuk mencari pakaian yang bisa dipakai oleh Tsuna.

"Tahun lalu setelah pergi dari tempat itu aku terlalu lelah hingga tertidur di salah satu kamar. Tetapi aku tidak ingat kamar siapa," Tsuna menutup lemari itu saat yakin tidak ada benda yang ia inginkan disana. Berjalan keluar dari ruangan itu bersama dengan Chrome dan juga Haru, "mungkin kamar Hayato atau Takeshi…"

Tsuna memasuki kamar bekas milik Yamamoto yang ditempati oleh Gokudera sekarang—yang sedang membaca buku yang ada di dalam rak kamar itu. menghentikan bacaannya saat melihat Tsuna seolah ia waspada dengan orang yang ada di depannya.

"Tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun," Tsuna berjalan begitu saja di lemari yang ada disana dan mencari-cari pakaian yang ingin ia gunakan. Sambil bergumam 'bukan ini' atau 'bukan itu'. Gokudera hanya mengerutkan alisnya dan menatap Haru yang hanya tertawa saja, "hm, apa di kamar Hayato ya…"

Tsuna berjalan dan meninggalkan ruangan itu sebelum berhenti dan menoleh pada Gokudera dari sudut bahunya.

"Ngomong-ngomong, kau pasti bosan berada disini. Bagaimana kalau kau ikut denganku Gokudera-san?" Gokudera semakin bingung dan menaikkan sebelah alisnya saat mendengar itu. apa ia tidak salah dengar kalau orang yang ingin menahannya malah mengajaknya untuk pergi?

"Kau bercanda bukan?"

"Mungkin aku juga akan mengajak Yamamoto-san…"

Tsuna berjalan kearah kamar Gokudera yang ditempati oleh Yamamoto yang sedang bermain dengan bat base ball di halaman yang ada di depan kamar itu. Dan sama seperti reaksi pemuda berambut perak itu, Yamamoto menatap Tsuna dengan bingung.

"Ah ini dia!" melihat salah satu celana hitam polos biasa yang dicari olehnya dan disaat itu Chrome datang memberikan kemeja putih pada Tsuna, "Yamamoto-san, Gokudera-san tunggu aku mengganti pakaian dan kita akan pergi…"

Yamamoto dan Gokudera yang tidak sempat mengatakan apapun hanya diam sebelum saling bertatapan dan Gokudera mendengus memalingkan wajahnya.

{4}

"Saya kira anda tidak ingat hari ini boss…"

"Tentu saja tidak Alfred, atau lebih tepatnya aku hampir melupakannya," Tsuna memasuki mobil yang sudah berada di depan mansion diikuti oleh Gokudera dan juga Yamamoto. Sang supir yang melihat dari balik spion mobil tampak sedikit terkejut walaupun ia sudah mendengar tentang tabrakan dimensi itu.

"Kemana sebenarnya kau berani membawa kami?"

"Panti asuhan, aku dan teman-temanku membuatnya 3 tahun yang lalu," Tsuna hanya bisa tersenyum dan menghela nafas. Ia ingat bagaimana semua orang menyetujui untuk membuat itu, menampung anak-anak korban dari kekerasan mafia, "setiap tanggal ini dan setiap bulan aku selalu mengunjungi tempat ini…"

"Itukah sebabnya kau memakai pakaian yang polos seperti ini?"

"Panti asuhan itu merawat ratusan anak korban kekerasan dunia mafia. Beberapa diantara mereka bahkan adalah korban dari kelompok Vongola. Apakah aku bisa menunjukkan diri sebagai seorang boss mafia?" Tsuna menatap Yamamoto yang tadi bertanya, "yang bersalah di dunia mafia ini adalah orang-orang dewasa yang egois. Mereka sama sekali tidak ada hubungannya…"

Baik Yamamoto dan Gokudera tampak hanya menatap Tsuna yang tidak menatap mereka dan hanya melihat kearah jendela. Berfikir bagaimana orang senaif dan sepolos pemuda ini bisa menjadi seorang boss mafia terbesar di dunia.

"Kita sudah sampai boss," hanya butuh waktu beberapa saat untuk sampai di sebuah bangunan indah yang tampak cukup besar seperti sebuah mansion kecil. Berada di pinggir kota sicilly dan meskipun dari kasat mata tidak ada penjagaan sama sekali, beberapa orang yang memang ditugaskan Tsuna untuk menjaga tempat terlihat disana.

Tsuna mengangguk dan berjalan keluar saat pintu yang ada di sampingnya dibuka. Berjalan melewati pagar depan dan melihat beberapa anak yang sedang bermain di halaman depan yang langsung berhenti saat melihat pemuda itu.

"Ah itu Tsuna! Tsuna datang, hei!"

Beberapa anak yang mendengar itu segera mendatangi pemuda itu yang tersenyum lebar pada mereka. Tsuna memang selalu bersikap berbeda saat tidak berada di dunia mafia. Seperti dame-Tsuna dulu—yang tampak ramah dan sedikit ceroboh.

"Apakah kau datang bersama dengan—" anak-anak itu menoleh dan melihat Yamamoto dan Gokudera yang ada di belakang Tsuna, masih melihat sekeliling dengan tatapan bingung dan kagum, "ah! Tako Head nii-san! Yakyuu-nii-san!"

Tsuna hanya bisa menahan tawanya saat mendnegar panggilan yang diberikan oleh anak-anak itu yang selalu menjadi panggilan Gokudera dan Yamamoto di dimensi mereka. Mendengar panggilan itu, membuat Gokudera berkedut keningnya.

"Apa yang kau bilang?!"

"Ayo mainkan kembang api lagi, terakhir kali dua tahun yang lalu kau berjanji pada kami akan bermain tetapi tidak pernah datang lagi dengan Tsuna!" beberapa anak tampak tidak sama sekali takut dengan tatapan tajam dari Gokudera dan menarik tangannya.

"Ayo Yakyuu-nii, kita juga bermain base ball lagi!" Yamamoto yang melihat itu tampak sedikit tegang namun pada akhirnya hanya tersenyum saja. Tsuna melihat semua itu, dan senyumannya berubah menjadi sedih, pemandangan yang seolah menunjukkan kalau semua guardiannya masih ada disini.

"Maaf anak-anak tidak sopan dengan anda Signor Tsunayoshi," Tsuna menoleh pada orang yang ia percaya untuk menjaga tempat ini. Ia hanya menggelengkan kepalanya dan menghela nafas, "tetapi, apakah kabar burung yang saya dengar tentang kematian… guardian anda adalah berita bohong…?"

"Tidak, kalau mereka tidak tewas apa yang membuatku selama 2 tahun ini tidak pernah mengajak mereka bukan?"

"Lalu mereka—" orang itu hanya menatap Tsuna yang tidak menjawab pertanyaan sambil melihat kearah Gokudera dan juga Yamamoto. Ia tidak bisa dan tidak tega untuk bertanya lebih lanjut saat melihat tatapan Tsuna.

"Tsuna, ayo bermain dengan kami!"

Anak-anak yang melihat Tsuna sedang tidak bersama dengan mereka segera menghampiri dan menarik tangannya untuk bermain dengan mereka. Tsuna hanya tersenyum dan mengangguk, membiarkan mereka menariknya bermain dengan mereka.

"Ayo Tako-nii-san, Yakyuu-nii kita bermain lagi!"

"Sudah kukatakan untuk tidak memanggilku begitu!"

"Ahahaha, sudah sangat lama aku tidak bermain base ball!"

{4}

Suara nafas yang tampak tidak karuan itu memenuhi ruangan olah raga yang ada di Namichuu. Tampak sosok pemuda berambut elvis itu tergeletak dengan beberapa pukulan telak yang mengenai tubuhnya. Benar-benar keadaannya yang sangat kacau. Sementara Kusakabe dari dimensi yang lainnya tampak berada di depannya dan masih bisa berdiri tegap disana.

"Herbivore…"

"K—yo…san," Kusakabe melihat kearah Hibari yang hanya menatapnya dengan tatapan datar dan juga dingin. Sebelum Kusakabe bisa mengatakan apapun lagi, tiba-tiba saja tubuhnya terlihat transparent, bahkan membuat yang bersangkutan terkejut dengan apa yang terjadi, "ke—kenapa…"

Bahkan saat Hibari dan Kusakabe yang berasal dari satu dimensi yang sama dengan Hibari saat itu tidak melakukan apapun, namun tubuhnya tampak semakin menghilang dan terus menghilang hingga akhirnya tidak membekas sama sekali.

"Apa itu tadi…?" Hibari hanya diam dan menatap kearah dimana tadi Kusakabe terbaring dan menghilang begitu saja. Menoleh pada tangan kanannya, yang tiba-tiba saja terdiam dan terlihat terkejut seolah merasakan sesuatu yang tiba-tiba muncul, "Tetsu…"

"Ma—maaf Kyo-san…"

"Kau ingin tahu apa yang terjadi Hibari Kyouya?" suara yang tiba-tiba muncul membuat Hibari dan Kusakabe menoleh dan menemukan seorang yang datang dengan jubah berwarna hitam serta wajah yang tertutupi oleh bayangan dari hoodie jubah itu.

"Siapa kau…?"

"Untuk saat ini, aku tidak bisa mengatakan apapun padamu. Aku tahu suatu saat kau akan bertemu dengannya," pemuda itu tersenyum dan berjalan mendekati Hibari yang ada di tengah aula itu, "terserah padamu untuk mengikutinya atau tidak. Tetapi, untuk sekarang aku hanya akan mengatakan satu hal…"

"Yang terkuat adalah yang menang—dan yang lemah akan menghilang. Itu yang akan terjadi saat dua buah dunia parallel bertabrakan dan dua orang yang sama bertemu serta bertarung," Hibari hanya diam dan mendengarkan apa yang dikatakan pemuda itu, "ingatan mereka akan berakhir pada yang kuat. Dan kau bisa merasakannya bukan? Kusakabe Tetsuya?"

{4}

"Aku tidak tahu kalau boss Vongola di dimensi ini akan bersikap menyenangkan sepertimu Sawada," Yamamoto dengan sifat easy goingnya, ia tidak pernah berhenti untuk tersenyum saat melihat senyuman itu. Meskipun itu bukan Yamamotonya, namun senyumannya itu sama saat ia berhadapan dengan permainan yang dulu menjadi dunianya.

"Tsuna, kau bisa memanggilku Tsuna Yamamoto-san," Tsuna tersenyum dan menatap Yamamoto yang hanya terdiam dan mengangguk. Gokudera sendiri hanya bisa diam dan berdecih kesal sambil memasukkan tangannya pada kantung celana, "kau juga bisa memanggilku seperti itu Gokudera-san."

"Che, seperti aku akan melakukannya saja…" Gokudera memalingkan wajahnya dan tampak masih berjalan diantara lorong mansion Vongola itu. Tsuna hanya tertawa melihat bagaimana kelakuan dari Gokudera. Yamamoto berbicang dengan Tsuna seperti mereka bukanlah musuh sebelumnya dan Gokudera hanya diam tidak menghiraukan mereka. Tsuna menghela nafas dan menatap kearah lorong dimana Chrome tampak berjalan dengan terburu-buru.

"Ada apa Chrome?"

"Salah satu dari anak buah Vongola mencoba untuk mencuri Vongola Gear dan hampir memberikannya pada musuh boss," Tsuna yang tadinya tampak tersenyum tipis berbicara dengan Yamamoto terlihat begitu saja berubah raut wajahnya menjadi datar dan juga dingin, "aku sudah membereskan musuh yang akan mengambil Vongola Gear itu…"

"Lalu bagaimana dengan penghianat itu?" Tsuna berjalan bersama dengan Chrome menuju ke depan, ke sebuah ruangan yang berada di lantai paling bawah mansion. Mereka bahkan tidak sadar saat Yamamoto dan juga Gokudera mengikuti mereka dengan tatapan bingung.

"Seperti biasa dan yang anda inginkan boss, kau yang berhak untuk mengadilinya…"

Tsuna mengangguk dan membuka satu-satunya pintu yang ada di lantai itu. Menemukan ruangan yang ada di depannya adalah ruangan remang yang tampak dipenuhi oleh beberapa anak buah dari Vongola yang berbaris dengan rapi saat melihat Tsuna memasuki ruangan itu.

Orang yang dikatakan oleh Chrome saat itu tampak berada di depan sebuah kursi, terikat dengan semua Vongola Gear yang dicurinya berada di depannya. Tsuna segera bergerak duduk di kursi itu sementara Yamamoto dan Gokudera tampak berdiri diantara anak buah Vongola—melihat apa yang akan dilakukan pemuda itu.

"Kau tahu, sudah kukatakan kalau kau boleh mencoba untuk membunuhku, ataupun mencoba untuk menghancurkan tempat ini," Tsuna duduk dengan memangku kakinya pada kaki satunya, dan memangku dagunya dengan sebelah tangan. Haru berdiri di samping kanan Tsuna, melihat dengan mata kosong, "tetapi satu hal yang membuatku harus mengadilimu secara langsung—adalah karena kau mencoba untuk berhianat dan juga mencoba untuk mencuri benda milik Guardianku…"

"I—ia mengancamku, karena mereka akan membunuh keluargaku kalau aku tidak melakukannya!"

"Lalu, apakah aku pernah tidak membantu semua anak buah Vongola saat kalian diancam seperti itu?" Tsuna menghela nafas dan menatap kearah orang itu yang mengeratkan giginya. Gokudera dan Yamamoto tidak bisa mengelakkan matanya dari pemandangan itu.

Pemandangan dimana sesaat pemuda yang merupakan boss dari mafia Vongola bersikap layaknya anak kecil atau minimal pemuda yang normal, dan sekarang yang mereka lihat adalah seseorang yang berbeda. Bermata dingin dan bersikap seperti boss mafia. Benar-benar seperti orang lain yang tidak mereka kenal.

Tsuna mendekat dan berjalan, memegang dagu orang itu dan menatapnya dengan tatapan tajam penuh benci.

"Apa yang harus kulakukan untuk menghukum orang sepertimu…?" memegang leher orang itu dengan erat, tidak perduli saat orang itu mencoba untuk meronta dan melepaskan diri. Bahkan saat itu tangan Tsuna tampak mengeluarkan flame dan membeku menjadi sebuah es yang sangat dingin.

"AAAAAH!" teriakan kesakitan yang dirasakan karena cengkraman dan juga cekikan dari pemuda itu tidaklah membuat Tsuna melepaskan tangannya. Dan semua orang yang melihat itu tidak bisa melakukan itu dan hanya bisa diam memperhatikannya.

"Apakah aku harus memotong satu jarimu?" Tsuna memegang sebelah tangan pria itu dan tampak memegang sebuah pisau lipat di tangannya, "tenang saja, kalau aku bisa memastikan kalau kau tidak akan bisa mengambil apapun dariku, aku akan melindungimu dan keluargamu…"

Pisau itu tampak menggores jemari orang itu, dan Tsuna sama sekali tidak memperdulikan teriakan kesakitan yang diteriakkan oleh orang itu.

"Ku—Kumohon ampuni aku!"

"Permintaan ampun dari musuh hanyalah sebuah ucapan. Mereka tetaplah bahaya bagi orang lain," Tsuna tidak sama sekali perduli saat darah dari sebuah jari pemuda itu terpotong begitu saja menggenangi tangannya. Ia memegang dagu pemuda itu dan menatapnya dengan senyuman dan tatapan dingin, "mungkin dengan memotong lidahmu, aku bisa mempercayai dan mengampunimu…"

Saat Tsuna mencekik dengan semakin erat hingga lidah orang itu terjulur karena oksigen yang masuk semakin menipis, baru saja ia bersiap dengan pedang itu saat dua buah tangan tampak menepuk pundaknya, mencoba untuk menghentikan pemuda itu.

Gokudera dan Yamamoto bahkan sama sekali tidak sadar apa yang mereka lakukan saat mereka berjalan dan menghentikan Tsuna. Tsuna yang merasakan itu tampak menatap mereka berdua dengan tatapan yang kosong—tidak ada yang berbicara selama beberapa waktu.

"A—ah, maksudku sebaiknya kau melepaskannya Tsuna… kufikir ia sudah jera dengan apa yang ia lakukan," Yamamoto menatap Tsuna, mencoba untuk menghentikannya. Semua orang disana tampak simpati, karena tidak ada satupun bahkan Haru yang bisa menghentikan Tsuna saat menghukum seseorang dan semuanya akan berakhir hampir sama dengan penghianat itu, "kumohon Tsuna… tanganmu gemetar kau tahu?"

Mata Tsuna membulat saat itu, sebelum ia menepis tangan Yamamoto dan Gokudera yang tadi tidak sempat mengatakan apapun pada Tsuna. Ia tahu kalau tangannya saat itu gemetar, namun ia tidak mau seseorangpun tahu tentang hal itu.

Mengambil Vongola Gear yang tergeletak begitu saja dan berdiri dengan terburu-buru hingga Buckle Storm Guardian terjatuh begitu saja di depan Gokudera. Melihat benda yang terjatuh itu, Gokudera segera mengambilnya hanya untuk membantunya.

"Hei benda ini—" matanya membulat saat tangannya menyentuh langsung buckle yang ada di depannya. Seolah sesuatu tampak ia sadari secara tiba-tiba. Dan sebelum ia bisa bereaksi lebih jauh, Tsuna segera mengambil Buckle itu dan berbalik meninggalkan mereka sebelum berhenti sejenak.

"Penjarakan dia… aku akan memanggil Bermuda untuk membawanya…"

Dan semuanya tampak mengangguk, membawa tahanan itu untuk dijaga ketat. Sementara Haru dan Yamamoto masih berada disana bersama dengan Gokudera yang hanya menatap tangannya dengan tatapan bingung dan terkejut.

"Hahi, kau tidak apa-apa Hayato?"

'Sampai kapanpun, aku akan tetap berusaha untuk menjadi tangan kananmu Juudaime!'

.

'Aku akan melindungimu, sebagai tangan kananmu, dan juga sebagai sahabatmu…'

Semua bayangan yang bermunculan saat ia menyentuh benda itu, benar-benar membuatnya tidak bisa mengatakan apapun. Bayangan dirinya, dengan kenangan yang tidak pernah ia alami sebelumnya, dan ia yakin hal itu.

"Oi Gokudera, kau tidak apa-apa?"

.

.

.

"Apa itu tadi…?"

{To be Continue}

Memang dari awal anenya ga mau bunuh Dino (dulu) kok, dia cuma koma doang, walaupun ada juga kemungkinan kalau dia ga bisa bangun lagi. Dan ada seseorang yang muncul bersama dengan Hibari? Hilangnya Tetsu setelah bertarung dengan dirinya di dimensi lainnya dan kalah? Kenapa ingatannya malah beralih pada orang yang memenangkan pertarungannya itu? Dirinya dari dimensi lainnya sementara dia malah ngilang.

Pokoknya teka tekinya semakin terbuka, dan satu per satu teka tekinya bakal dipecahin juga ;) disini ada dark!Tuna lagi, apa sudah cukup dark ya kali ini? :/

Ya udah deh, pokoknya review ya kalau bisa ^^ ga maksa sih, tapi review benar-benar memacu saya untuk menulis ._. So~

{RnR}