My Happiness Is You

Happiness 4 : Awal Dari Segalanya

Bus yang membawanya menuju sekolah dipagi hari ini cukup ramai pemuda 16 tahun yang memutuskan untuk memilih naik bus daripada motor Ducati merahnya duduk manis menikmati perjalanan menuju sekolah. Ini pengalaman baru untuknya sangat menyenangkan banyak yang bisa diceritakan dari apa yang dilihatnya dijalan pada keempat temannya bahkan ayah dan adiknya. Dia mengingat kembali bagaimana dia meminta dibelikan motor pada Ayahnya dengan perjanjian tidak akan menggunakannya untuk hal-hal negatif. Chad, Uryuu, Grimmjow, Ulquiorra sangat sehati dengannya, mereka juga membeli motor dengan tipe yang mereka sukai. Kelima pemuda itu menjadi pusat perhatian disekolah dan membuat repot Kepala Sekolah karena guru-guru, sebagian murid-murid dan orang tua murid protes. Masalahnya, mereka diperbolehkan membawa kendaraan pribadi ke sekolah dengan harga cukup mahal apalagi saat itu para pangeran sekolah masih menjadi murid baru dikelas satu. Tak habis akal walau dilarang guru dan orang tua Ichigo, Chad, Uryuu, Grimmjow tetap ke sekolah dengan mengendarai motor dan agar tidak ketahuan mereka menitipkannya didepan café dekat sekolah. Sedangkan Ulquiorra memilih diantar dengan mobil pribadi ke sekolah. Senyum tipis tergurat dibibirnya setelah mengingat kejadian itu.

"Egh!" Seorang gadis menjatuhkan bukunya kepangkuan Ichigo yang membuatnya kaget dan tersadar dari ingatan lamanya.

Gadis dengan rambut hitam yang diikatnya dengan pita merah itu meminta maaf sambil tangannya mencoba mengambil buku dari pangkuan Ichigo tapi, saat mengambil tangannya bersentuhan dengan tangan pemuda tampan didepannya, tangan gadis itu menjadi gemetaran walau wajahnya pucat tapi pipinya menjadi sedikit pink karena malu. Ichigo yang melihatnya mengambil buku dipangkuannya dan memberikan pada gadis yang berdiri itu.

"Ma…f" Sekali lagi dia meminta maaf dengan suara yang hampir tidak terdengar kemudian dia mengambil bukunya dari tangan Ichigo dan masih terlihat jelas tangan gadis itu gemetar.

"Aku turun didepan" Ichigo berdiri dari duduknya kemudian mempersilahkan gadis bermata kuning kecokelatan itu untuk duduk.

Gadis itu hanya tertunduk tanpa berani melihat Ichigo yang berbicara padanya. Bus berhenti tepat didepan shelter Karakura, Ichigo perlahan berjalan menuju pintu bus untuk antri turun karena beberapa orang yang turun merupakan murid sekolah Karakura. Saat bunyi pintu bus terdengar menutup dan bus mulai berjalan kembali, gadis itu mengangkat wajahnya lalu dari sisi jendela diseberangnya ia melihat pemuda berambut oranye itu tersenyum pada seorang gadis cantik bermata indah yang melambaikan tanganya sambil membalas senyuman pemuda dihadapannya dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa didengarnya.

Sekolah menengah atas Karakura bukanlah sekolah elit dengan biaya pendidikan selangit walaupun ada sebagian murid-murid berstatus menengah keatas namun tidak membuat sekolah ini pilih kasih dengan murid-murid dari kalangan status biasa, semua sama rata untuk mendapatkan pendidikan dan fasilitasnya. Sekolah ini memiliki reputasi yang baik karena 90% para lulusannya berhasil masuk universitas bergengsi di Jepang maupun universitas terbaik di luar negeri. Jadi, tidak salah lagi kalau sekolah ini menjadi incaran murid-murid seantero Kota Karakura bahkan juga diluar dari Kota Karakura. Sekolah ini terkenal sangat ketat menyeleksi murid-murid istilahnya tidak boleh ada anak bodoh disini. Jika dibayangkan, mungkin sekolah ini dihuni oleh murid-murid yang memegang buku pelajaran kemanapun mereka pergi, tempat hiburan mereka adalah perpustakaan, menggunakan kaca mata berkaca tebal dan apabila mereka mengobrol yang dibicarakan ialah pelajaran. Semuanya salah, justru sebagian banyak murid-murid yang masuk sekolah ini merupakan murid-murid yang menikmati masa remajanya dan belajar dengan santainya.

"Aku dengar kau mengundurkan diri dari komite disiplin?" tanya Ichigo yang berjalan perlahan disamping gadis pujaannya.

"Ee!" Orihime berhenti sejenak dari langkahnya kemudian menatap Ichigo "Darimana kau tau?".

Ichigo sedikit tertawa "Asano".

"Dasar mulut besar!" Orihime cemberut.

"Kau tidak usah kesal. Aku senang kau tidak jadi 'Si Penjaga Neraka' lagi" Ichigo tersenyum sambil menarik kedua pipi Orihime dengan gemasnya.

Orihime menyingkirkan kedua tangan Ichigo dari pipinya lalu berjalan meninggalkan Ichigo. Pemuda bermata coklat itu tertawa karena ekspresi wajah Orihime sangat lucu jika sedang kesal. Ichigo kemudian mengejarnya dan berjalan berdampingan disebelahnya.

"Sanaa…" Orihime mendorong pelan Ichigo yang terus membuntutinya. Orihime mempercepat langkahnya, Ichigo pun ikut mempercepat langkahnya. Orihime sedikit berlari dan si kepala jeruk mengikutinnya juga. Kali ini gadis berambut orange kecoklatan itu berlari dengan kencang, Ichigo tidak mau kalah bahkan berlari melewati Orihime. Mereka berdua saling kejar mengejar hingga kedalam sekolah.


Disalah satu studio didalam gedung KBM TV sedang berlangsung proses syuting untuk dorama akhir pekan. Set dengan bentuk apartment itu di buat sedemikian apik hingga terlihat persis seperti sungguhan.

"Cut! Cut!" teriak seorang sutradara yang terlihat marah "Hey, Rangiku-chan! Kau lupa cara berakting?!. Sudah berkali-kali kau mengulang adegan ini!" sutradara yang bernama Zaraki itu murka dibuatnya.

Aktris yang diminta untuk berakting kecewa lalu menangis itu tidak bisa memungikuti arahan dari sutradara. Berkali-kali ia mengulang kesalahan aktingnya tanpa mau berusaha memperbaiki. Tingkahnya bahkan sangat tidak sopan pada staff, aktris, produser bahkan sutradara.

"Aku ingin istirahat sebentar" tanpa rasa malu dan ragu Matsumoto pergi meninggalkan tempat syuting. Managernya mengejar mengikuti.

Gin sebagai produser yang dari tadi ada di lokasi syuting melihat apa yang baru saja terjadi juga merasa kesal dan pergi meninnggalkan tempat itu.

"Dasar pe… agh!" sutradara itu melempar kertas sekenario kelantai.

Ruangan yang cukup besar itu terlihat sangat rapih dinding putih dihiasi beberapa poster dorama yang sangat terkenal dimana sekenarionya ditulis olehnya dan satu poster idolanya bergaya popart, Takayuki Yamada. Meja persegi panjang putih serta kursi hitam, berfungsi sebagai tempat kerja. Didepannya Empat kursi kecil berwarna biru saling berhadapan, meja coffe bundar ditengahnya. Disebelah kanan meja kerjanya terdapat sebuah lemari berwarna putih tanpa kaca berisi buku-buku, sekenario dorama dan novel berbaris rapih. Tepat diseberang lemari ada jendela dan pintu yang terbuat dari kaca untuk menutupi ruangan tersebut.

"Sousuke!" teriak Gin saat memasuki ruang kerja partnernya "Kau harus bertanggung jawab. Ini salahmu memilih aktris tidak becus sepertinya!" Ia meluapkan kekesalannya sambil menunjuk jarinya pada Sousuke, mondar-mandir tak karuan kemudian mengacak-acak rambutnya.

Sousuke yang sedang mengetik sekenario untuk episode drama berikutnya sudah tahu bakal ada masalah jika ia memilih Matsumoto. Tapi, dirinya percaya seseorang akan berubah bila diberi kesempatan.

"Hey, tenang. Aku akan menyelesaikan masalahnya" Sousuke bergegas meninggalkan pekerjaannya dan segera menemui Matsumoto.

Asap rokok yang keluar dari mulut seorang wanita berlipstik merah terang mengepul ke udara. Matahari hangat dimusim semi beserta pohon-pohon hijau dan bunga yang akan mekar diawal musim hujan nanti membuat hatinya sedikit nyaman. Wajah yang cantik diangkatnya kelangit, matanya dipejamkan, pikiran memutar memori sedih dan bahagia dalam hidupnya. Rasanya ingin menangis tapi tak setetespun air matanya keluar. Suara pintu besi yang cukup berat terdengar bergeser. Matsumoto tahu pasti ada yang mecari dirinya setelah apa yang telah dilakukannya.

"Apa semua baik-baik saja?" Sekaleng beer disodorkan pada wanita yang sedang berdiri menghadap pemandangan kota yang dilihatnya dari taman yang berada di rooftop gedung tersebut.

"Heh! Kau tahu aku sedang syuting, kan?" Wanita berambut blonde itu menolak sambil menghisap rokoknya.

"Ayolah. Sekaleng saja tidak membuatmu mabuk" Sousuke masih memegang kaleng beernya.

"Ck! Baiklah" Diambilnya kaleng beer itu kemudian dibuka lalu diteguknya.

Sousuke berdiri beberapa jarak disampingnya dengan memegang kaleng beer yang sudah ia buka sebelumnya.

"Aku dengar kau yang memilihku untuk bergabung di drama ini?" Mata birunya tetap menatap kedepan, diantara jari-jari tangan kanannya terselip rokok dan tangan kirinya megenggam kaleng beer.

"Ya. Kau sangat pantas untuk karakter ini" Sosuke mencoba menjelaskan alasannya.

Matsumoto tertawa meremehkan maksud baik Sousuke.

Dengan suara beratnya dan tanpa melihat lawan bicaranya ia berkata "Dengar. Aku tidak kasihan padamu karena skandal yang kau buat sendiri dan aku juga tidak ingin tahu apa yang kau lakukan. Dari sudut pandangku yang kulihat, kau adalah orang yang diberi kesempatan menjadi lebih baik lagi bukan untuk kedua kalinya tapi berkali-kali kesempatan selagi kau bisa melihat langit" Sousuke memandang kelangit biru mensyukuri dirinya yang masih juga diberi kesempatan.

Setelah mendengar apa yang Sousuke katakan, pikirannya tidak bisa menolak tentang perkaraan itu. Matsumoto menoleh kesamping kirinya melihat Sousuke yang sedang memandangi langit, rambut coklat bergelombangnya menari-nari ditiup angin.

"Kau benar aku masih memiliki kesempatan" Bisik Matsumoto dalam hati.


Matanya terbuka perlahan ruangan yang tidak asing lagi baginya, berkali-kali ia selalu melihat atap putih itu jika ia terbangun sehabis jatuh dari tak sadarkan diri. Diingatnya beberapa belas menit yang lalu ia sedang berdiri membaca buku setelah diperintah Sensei pada pelajaran sejarah Jepang, tiba-tiba gelap menghampiri dan tak ingat apa yang terjadi. Saat ini tubuhnya begitu lemah sampai-sampai ia tidak sanggup untuk bangun ke posisi duduk. Seseorang datang membantunya untuk duduk.

"Senna-chan, Ibumu akan segera menjemput" wanita berambut panjang hitam dikepang itu memberi tahu.

"Hai. Terima kasih" gadis itu tersenyum pada dokter sekolah.

"Dibulan ini kau lebih sering tidak sadarkan diri. Apa yang terjadi? Jika ada yang ingin kau bicarakan tentang masalahmu katakan padaku" Wanita itu meraih tangan muridnya dan mengelus lembut.

"Aku baik-baik saja, Unohana Sensei" Senna meyakinkannya dengan meremas pelan tangan wanita itu.

Dengan tatapan lembut dan senyuman dibibirnya ia percaya bahwa Senna adalah anak yang kuat.


"Ingat Inoue, kau harus selalu mengecek barangnya dan menghitung ulang kembali" Gadis yang selalu dikuncir dua itu mengingatkan partner barunya untuk teliti.

"Hai, Riruka-Chan" Orihime menganggukan kepalanya.

Hari ini adalah hari kedua Orihime bekerja di sebuah konbini. Sebenarnya anak sekolah sepertinya dilarang bekerja part time tapi semenjak ada peraturan diperbolehkan bekerja dengan syarat tidak lebih dari lima jam dan hanya tiga hari kerja dalam seminggu, itu tidak akan jadi masalah. Setiap hari rabu, kamis dan jumat adalah jadwal Orihime bekerja mulai dari pukul enam sore hingga sebelas malam dan dengan upah 1200 yen/per jam. Walaupun tidak banyak, dirinya tetap bersyukur bisa menambah pemasukan untuk kebutuhan sehari-hari.

"Selamat datang!" teriak Orihime dengan semangat dan senyum hangat menyapa pembelinya.

Riruka merapatkan tubuhnya dan berbisik "Kau semangat sekali".

"Oopss!" Orihime menutup mulutnya dengan kedua tangannya kemudian melepaskannya "Apa terlalu kencang?" bisiknya. Riruka tertawa pelan melihat raut wajah Orihime yang lucu. Sejak hari pertama Orihime bekerja Riruka lah yang membimbingnya oleh sebab itu mereka sudah begitu akrab.

Orihime melanjutkan kembali pekerjaannya mendisplay makanan yang sudah habis di rak dan minuman di lemari pendingin.


Cahaya yang terpancar dari lampu-lampu jalan, perkantoran, hotel, toko-toko, apartment dan kedai-kedai membuat kota Karakura pada malam hari menjadi begitu menawan. Sejauh mata memandang bangunan dengan berbagai macam architecture modern saling berhimpitan dalam kerumunan manusia yang berjalan tanpa henti.

Disudut kota, Yatai dengan tenda yang lumayan besar ini cukup ramai dikunjungi. Tepatnya diujung jalan seberang shelter bus Minamikawase tidak jauh dari rumah Sousuke hanya butuh waktu 15 menit. Yatai yang buka dari pukul 7 malam sampai dengan 3 pagi Ini merupakan tempat favorit Sousuke jika ia sedang lapar. Menu makanan yang dijual ada ramen dan Oden. Gin mengajak sahabatnya itu untuk makan bersama dan ia yang akan mentraktirnya.

"Aah..aku benar-benar lelah hari ini" keluh Gin sesaat setelah meneguk segelas sake "Hey, Sousuke apa yang kau katakan pada Matsumoto?" Tanya Gin penasaran.

"Aku hanya merayunya" canda Sousuke sambil menikmati semangkuk ramen.

"Benarkah?!" Gin pura-pura takjub "Woow, kau memang si mulut manis. Aku jadi takut jika jatuh cinta padamu" Gin menaruh kedua telapak tangannya dipipi dan bergaya manja layaknya wanita.

"Dasar bodoh!" Sousuke memukulkan sumpit ke kepala teman karibnya itu.

Selagi Gin berteriak marah karena rambutnya terkena bubuk cabai yang menempel pada sumpit dan Sousuke tertawa kegirangan, seseorang sedang menyaksikan dari dalam sebuah mobil yang berhenti tidak jauh dari yatai. Terlihat kaki yang jenjang keluar dari balik pintu mobil kemudian perlahan berjalan menghampiri.

"Nemu-chan!" panggil Gin seraya melambaikan tangan dan tersenyum.

Sousuke yang awalnya sedang tertawa tiba-tiba diam ketika melihat wanita itu mendekat. Sousuke yakin kalau karibnya itu diam-diam yang memberi tahu dimana sekarang ia berada, oleh sebab itu Nemu bisa menjumpainya.

"Hey.." sapa Sousuke dengan senyum tanpa arti.

"Aku senang melihatmu tertawa seperti tadi" wanita berponi itu tersenyum kemudian menarik sebuah kursi dan duduk dekat dengan Sousuke "Aku ingin kau selalu tertawa seperti itu bersamaku" tangannya meraih tangan Sousuke menggenggamnya erat.

"Itu mimpimu!" matanya menatap bosan pada lawan bicaranya. Sousuke menarik tangannya perlahan menghindari genggaman tangan Nemu dan lanjut berbicara "Sekarang aku memiliki seseorang dan hanya dia yang bisa melihatku tertawa bahagia".

"Heh! Anak ingusan yang selalu membuntutimu itu? Itu kekasihmu?" wanita itu berbicara dengan tawa yang meremehkan.

Dengan nada dingin Sousuke bicara "Dia lebih baik darimu. Asal kau tahu, aku tidak main-main mencintainya dan aku tidak akan segan-segan untuk melukai siapapun jika ada yang menyakitinya" mata coklatnya menusuk tajam rasa takut terlihat jelas diwajah Nemu.

Gin yang merasa harus cepat mencairkan suasana memutar otaknya berfikir tepat "Aah..Nemu-chan, apa kau sudah makan?".

Nemu menggeleng cepat "Aku dengar ramen disini enak…?" ia juga berusaha menghilangkan ketakutannya.

"Apa mau aku pesankan?" Tanya Gin sambil tangannya mengambil botol sake didepannya tapi belum tangannya menggapai, Sousuke lebih dulu mengambil botol sake itu tanpa gelas langsung meminumnya hingga habis dari botol.

Gin menelan ludahnya dan Nemu diam tanpa kata. Sousuke berdiri dari kursinya kemudian berpamitan pada Gin dan pemilik yatai.

"Aku antar kau pulang" Nemu mengajukan diri mengantar Sousuke.

Sousuke sedikit menyinggungkan senyum "Tidak perlu rumahku dekat" lalu ia berjalan pergi.

"Ak-" Nemu ingin bangkit dari duduknya namun Gin mencegah dengan memegang tangannya dan memberi gelengan kepala supaya Nemu yang bersikeras ingin mengantar dapat mengerti perasaan Sousuke.

Berjalan menuju kerumah yang jaraknya tidak begitu jauh dari yatai membuatnya mengurungkan niat untuk cepat-cepat sampai disana. Sebuah taman dimasukinya kemudian Sousuke duduk disebuah ayunan, tangannya merogoh kedalam kantong celana diambilnya sebatang rokok dari bungkusnya lalu disulut dengan korek hingga terbakar. Dihisapnya dalam-dalam kemudian dibuangnya asap itu perlahan. Dirinya mulai tertarik dengan ayunan yang didudukinya, awalnya hanya mengayunkan tubuhnya perlahan lama-lama semakin kencang hingga suara denyitan besi terdengar merintih. Menyadari dirinya yang sudah dewasa seperti anak kecil dengan kakinya ia menghentikan ayunannya.

"Ck! Apa yang aku lakukan?" tanpa sadar ia tertawa sendiri lalu terdiam dan kembali menikmati rokoknya.

Musim panas empat tahun yang lalu saat berjalan pulang sehabis melatih baseball dirinya melihat seorang gadis yang lain dari yang pernah ditemuinya. Rambut panjang bergelombang diujungnya, begitu halus tergerai serta bercahaya terkena sinar matahari sore, kulit putih seperti porcelain, mata besar yang cokelat, buah dada yang ukurannya paling disukai laki-laki, tubuh ideal dengan lekukan sempurna yang dibalut dress berwarna kuning dengan floral print, bulu mata panjang juga lentik dan bibir merah mungilnya sedang mencari sesuatu pada rumput hijau dipinggir sungai. Wajahnya begitu cemas, melihat keadaan seperti itu naluri sebagai lelaki yang harus melindungi dan menolong wanita muncul. Setelah dirinya tahu yang dicari adalah kunci rumahnya buru-buru ia ikut mencari, hampir setengah jam menyisir rerumputan saat setitik cahaya menyilaukan matanya kemudian ia menghampirinya. Benar saja itu benda yang dari tadi dicari. Senyum bahagia penuh dengan kehangatan membuat jantungnya berdegup kencang. Gadis itu berkali-kali mengucapkan rasa terima kasihnya dengan sedikit memaksa menyuruh dirinya untuk ikut ke sebuah taman yang terdapat penjual es krim. Dia akan memberi tahu namanya jika es krimnya sudah habis dimakan. Sebenarnya dirinya tidak bisa makan-makanan yang dingin dan manis tapi baginya ini tantangan. Dimakannya es krim itu sampai habis hingga akhirnya dirinya tahu siapa nama gadis itu, Inoue Orihime.

Ketika Orihime tahu jika dirinya sakit karena memakan es krim kemudian tidak bisa mengikuti ujian masuk perguruan tinggi dan harus mengulang ditahun depan, perasaannya sangat bersalah. Orihime berjanji akan melakukan apapun untuknya karena apa yang telah dilakukannya menghambat masa depan orang lain. Sudah puluhan kali ia menjelaskan bahwa teman barunya tidak bersalah karena ia yang menginginkan sakit itu datang. Tapi Orihime tidak percaya begitu saja, ia datang kerumah dan mengerjakan pekerjaan rumah yang sebenarnya sudah ada yang melakukannya seorang asisten rumah tangga yang telah ditugaskan mengurus rumah sebab dirinya memilih tinggal di Jepang daripada bersama orangtuanya yang sibuk mengurus bisnis hotel di Newzeland.

Dari hari ke hari Sousuke merasa nyaman bersama Orihime banyak cerita yang didengarnya tentang harapan, mimpi, kebahagiaan, kesedihan dan cinta. Ingin rasanya Orihime selalu disisinya menyenandung untuknya hingga dirinya terlelap dipangkuannya, memasak makanan kesukaannya, mendengarkan musik yang sama, atau membaca buku bersama. Namun sepertinya Orihime hanya menganggap dirinya sebagai kakak laki-laki tidak lebih dari itu.

"Orihime…aku sangat mencintaimu" bisiknya pada langit malam.


"Orihime.." seseorang memanggil namanya sesaat ia keluar dari tempatnya bekerja.

"Eeh! K-Kurosaki-kun. Darimana kau…" ekspresinya kaget karena Ichigo datang padahal ia tidak pernah memberi tahu dimana ia bekerja dan ekspresinya senang karena Ichigo memanggilnya dengan, Orihime.

"Asano!" Ichigo cepat-cepat menjawabnya.

"Asano lagi.." Orihime memajukan bibir mungilnya.

"Apa kau tidak senang aku jemput?" Ichigo pura-pura kecewa.

"Tidak! Tidak! Bukan begitu maksudku" Orihime menggeleng-gelengkan kepalanya.

Tanpa basa-basi Ichigo meraih tangan kanan Orihime "Kalau begitu ayo kita pulang!".

"Kurosaki-kun.."

"Kenapa? Kau tidak ingin kita bergandengan tangan? Kau malu?" Ichigo sedikit kesal.

"K-kau menggenggamnya terlalu erat. Lukaku baru saja sembuh" Orihime memberi penjelasan.

"Maafkan aku.." Ichigo melepaskan genggamannya.


Kamar yang hanya diterangi cahaya dari lampu yang ditaruh disamping tempat tidurnya. Gadis itu duduk diatas tempat tidur empuknya, badannya disenderkan ketembok, kedua kakinya diluruskan kedepan dan tangannya memegang buku novel. Tanpa dibaca ia hanya memperhatikan sampulnya Crying 100 Times,Nakamura Kou. Raut wajahnya berubah sedih ketika mengingat kejadian pagi tadi. Ditarunya novel itu diatas meja dekat lampu, ditariknya selimut berwarna biru yang tebal dan lembut kemudian ia mematikan lampu. Matanya dipejamkan dan suara berbisik keluar dari mulutnya.

"Kurosaki Ichigo…"


Gin berusaha menyeimbangkan diri saat membopong tubuh Nemu agar tidak jatuh menuju mobilnya. Wanita itu mabuk berat, sepuluh botol sake diminumnya tanpa henti. Pikirannya kacau, ocehannya tidak jelas. Gin mendudukan Nemu dikursi penumpang bagian belakang dan ia duduk didepan untuk menyetir mobil.

"Eeh…bagaimana dengan mobilku?" Tanya Gin pada dirinya sendiri setelah tahu ia membawa mobil juga. Gin mengambil smartphone-nya mencoba menghubungi Sousuke tapi tidak ada jawaban.

"Ck! Bagaimana ini?" Gin mulai berfikir. Ia keluar dari mobil kemudian menemui pemilik yatai.

"Tessai-San, bisa aku menitip mobilku sebentar? Disana…" Gin menunjuk mobil Toyota Aqua warna putih miliknya "Aku akan mengantar temanku" Gin menerangkan alasannya.

Pemilik yatai itu melirik sebentar kearah yang ditunjuk kemudian kembali membuat ramen dan mengizinkan "Silahkan. Tapi aku tidak bertanggung jawab jika lebih dari jam 3 nanti".

Gin melihat jam ditangan kanannya sebelas lebih tiga puluh satu menit "Ini tidak akan lama" terangnya lagi. Ia dapat kembali kemari dengan taxi.

Setelah mengucapkan terima kasih, Gin segera mengantar Nemu menuju apartmentnya dipusat Karakura. Butuh waktu 35 menit bisa sampai kesana dan Gin melaju dengan cepat.

"Kenapa ia begitu dingin padaku? Aku kembali untuknya. Aku bercerai karenanya.." Suara Nemu yang terdengar lirih menyiratkan kesedihan.

Gin yang mendengarnya hanya terdiam dan tetap konsentrasi menyetir.

Nanagi Nemuri, Mahasiswi berprestasi dikampusnya Karakura University. Wanita dengan keanggunan serta kepandaiannya membuat siapapun menginginkannya. Tapi dihatinya hanya ada satu cinta, Aizen Sousuke. Ketika mengenal Sousuke pertama kali saat Gin memperkenalkan sahabatnya itu pada pesta penyambutan anak baru untuk club theater disebuah izakaya. Sousuke adalah adik kelasnya namun ternyata mereka memiliki usia yang sama 18 tahun. Sousuke menunda studinya satu tahun, bisa jadi mereka akan satu angkatan jika Sousuke tidak menundanya. Sousuke memiliki daya tarik yang lebih dibanding pria lain, ia sangat perhatian, tidak sungkan untuk menegur orang lain lebih dulu, mempunyai banyak teman, berwawasan luas, pengertian, selalu menerima saran dan kritikan orang lain, bijaksana tapi kadang sangat serius. Nemu benar-benar tertarik padanya sampai-sampai tidak bisa dibendung lagi rasa cintanya untuk Sousuke. Setelah menunggu sekian lama, dirinya menyatakan perasaannya dan cintanya terbalas. Sousuke menerimanya sebagai kekasih. Hari-hari keduanya diisi seperti layaknya sepasang kekasih tapi semakin lama hubungan mereka sangat membosankan. Suatu hari Nemu bertemu dengan kakak kelasnya yang bekerja sebagai produser berita untuk BBC London, dirinya disarankan untuk pindah studi ke UK dan akan diberikan kesempatan untuk bekerja pada stasiun berita tersebut. Demi ambisinya menjadi News Anchor tercapai Nemu lebih sering jalan bersama kakak kelasnya daripada bersama Sousuke kekasihnnya. Nemu memilih memutuskan pergi ke UK lalu mengakhiri hubungannya yang hampir satu tahun berjalan itu dan ia mengatakan akan menikah disana. Tiga tahun setelah kepergian Nemu, kini ia kembali.


Ichigo dan Orihime berjalan santai menikmati malam, kebersamaan mereka sebagai teman mulai terbangun dan sedikit demi sedikit saling mengenal.

"Mm..Kurosaki-kun. Aku akan mengganti uang taxi mu dibulan depan"

"Kapan saja bisa kau ganti, Orihime" Ichigo berjalan perlahan mengikuti langkah Orihime, kedua tangannya dimasukan kedalam masing-masing kantung jeans-nya.

Orihime tersenyum sambil mengaitkan rambutnya kebelakang telinganya "Kau orang yang baik".

Dengan nada bercanda Ichigo berkata "Kau benar-benar tahu siapa aku".

Orihime yang mendengar itu tertawa kecil dan Ichigo sangat senang melihat wajah cantiknya.

"Orihime.." Ichigo menghentikan langkahnya, Orihime yang berada disampingnya ikut menghentikan langkahnya lalu menatap pemuda yang berdiri didepannya "waktu aku bertemu denganmu dimalam itu... Apa yang kau lakukan disana?" Ichigo mengingat kejadian dimalam dimana ia melihat Orihime sedang berjibaku dengan penjahat. Setelah kejadian itu Ichigo begitu penasaran kenapa Orihime bisa berada disekitar Minamikawase, tempat tinggalnya. Sedangkan jarak rumah Ichigo dan Orihime di Sakurabashi butuh 20 menit dengan naik bus.

"Maksudmu kejadian waktu itu?" Mata coklat mudanya digerakan kesudut kanan atas mencoba mengingat kembali peristiwa itu.

"Emm.." Ichigo menaikan keningnya cepat dibarengi anggukan pelan.

"Aku mengunjungi temanku" Orihime memberi penjelasan.

"Temanmu?" Tanya Ichigo dengan suara beratnya.

"Dan kau?" Orihime balik bertanya karena ternyata ia juga penasaran mengapa bisa bertemu Ichigo disana.

"Aku?!" Ichigo sedikit terkejut dengan pertanyaan itu "Aku mengunjungi teman" Ichigo menarik kedua tangannya dari kantong dan meliipatnya didepan dada bidangnya "Chad. Aku mengunjungi Chad" Terangnya pada Orihime "Teman mu?" Ichigo ingin mengetahui siapa yang ditemui Orihime.

Orihime terlihat panik karena jika ia memberi tahu bahwa yang ditemuinya seorang laki-laki dan pulang dari rumahnya dimalam hari apa yang dipikirkan Ichigo. wajahnya akan memerah dan darahnya akan berdesir kuat dari kepala hingga kaki apabila ia mengingat Sousuke.

Ichigo menarik tubuh Orihime dan memeluknya, kedua mata mereka saling bicara. Mata yang bicara kecemburuan dan mata yang bicara ketakutan.

"Aku ingin tahu siapa temanmu?" Ichigo hanya tahu Asano Keigo dan Kojima Mizuiro adalah sahabat karibnya dan jika itu salah satu dari mereka Orihime akan cepat menyebutkan namanya tapi, ia malah bersikap aneh "Seorang pria atau wanita?" Tanya Ichigo lebih spesifik.

"P-p-pria" Jawab Orihime sambil menutup matanya kemudian tertunduk.

Ichigo melepaskan pelukannya lalu meraih kedua tangan mahluk cantik didepanya. Tangan yang kecil dengan jari-jari lentik digenggam oleh tangannya yang besar dan hangat.

"Kau tau saat telunjukmu menyentuh dada ini" Ichigo menaruh kedua telapak tangan Orihime didadanya "Aku mulai menyukaimu".

Orihime mengangkat kepalanya yang tertunduk dan mata besarnya membulat setelah mendengar perkataan Ichigo.

"Aku mencintaimu, Orihime"

-TBC-

Arigatoooo yang masih sabar menunggu ^_^

Oktober yang menyibukan untukku sampai-sampai tidak sempat mengupdate tapi rasanya senang bisa menyelesaikan fanfic ini. November datang special update, 2 chapter sekaligus untuk My Happiness Is You & Silent And Sound. Seperti rencana awal dua minggu sekali fanfic realist apadaya hanya bisa sebulan sekali #Sumimasen


Terima Kasih untuk INOcent Cassiopeia, Ade854, Rude, Grimmy Kitty, Rovvxhyo80 dan 486 viewes yang aku tidak tahu namanya *Kirei*

Baca juga Fanfic Kanoko Tada lainnya Silent And Sound

Rekomendasi buku : Crying 100 times oleh Nakamura Kou

Happy Reading ^^


Yatai : Warung/kedai/gerobak makanan pinggir jalan. Kadang juga ada pada saat festival-festival

dengan menjual makanan seperti okonomiyaki, taiyaki, apel yang diberi gula, souvenir, dll.

Izakaya : Tempat minum-minum sake/beer dan menjual makanan dengan porsi yang besar dan bisa

disantap bersama-sama.