~Author Speech~

Vices: Allright, dua chapter langsung updated dengan kekuatan penuh. Uryaaa!

Yaya: Katanya Vices-kun nyelesain semuanya cuma modal kopi beneran, lho

Rima: Iya, lama-lama juga ntar mati dia

Vices: Eh serius deh, Rima. Lama-lama ngeselin lo ya -_- tapi Readers, ini bukan saatnya ngomongin si pendek satu itu. Sekarang sebaiknya lo semua alihin perhatian lo ke Readers gue yang keren dan mau-maunya buang-buang waktu mereka buat baca fic ini dan ngereview pula. Tepuk tangan buat TsukiRin Matsushima29 dan Matsushima Maiko bersaudara! (muterin suara tepuk tangan ala sitkom di background)

Amu: Makasih kalian berdua. Ternyata di Indonesia ini masih ada yang inget sama kami semua (netesin air mata)

Vices: Awww, udah dong jangan nagis gitu ah (ngelap air matanya Amu)

Ikuto: Nyentuh sekali lagi, tangan lo ilang sebelah

Vices: Bodo. Ngancem gue sekali lagi, bagian lo di fic ini bakalan gue ilangin total :p

Ikuto: Ukh...

Vices: Yaudah lah gak usah lama-lama. Satu pengumuman Readers, sesuai yang diminta Tsuki-san, grammar error udah dibetulin, disclaimer udah dipindah, dan sekarang udah pake warning. Semoga aja fic gue makin nyaman dibaca. Oke sekali-kali gue mau roll chapter ah, On The Go!

Disclaimer

Shugo Chara! itu punyanya Peach-Pit Sensei. Yang gue punya cuma fic ini, dan OC yang mungkin bakal gue masukin. Kalo kebetulan Peach-Pit Sensei khilaf dan ngasih lisensinya buat gue, Shugo Chara! bakalan gue bikinin episode yang ngalahin panjang episodenya sinetron jam 7 malem.

Warning

Bisa jadi fic ini susah dimengerti, belom juga grammar error yang kebanyakan. Hati-hati juga buat readers cewek, karena bisa dimodusin. Pokoknya lebih baik jangan dibaca kalo masih sayang mata kalian.

Chapter 4:

The Downfall of a Dreams

~Flashback~

"Gak! Kita bisa merubah kalau kita memang mau!" Tukasku. Aku menatap Ikuto yang diam tanpa ekspresi, "Apa semua orang bakal jadi dewasa seperti itu?" tanyaku padanya yang notabene sudah terhitung dewasa.

Ikuto mengangguk lalu menatapku dalam-dalam, "Beberapa orang memang berakhir seperti itu, kecuali mereka benar-benar yakin dengan cita-cita yang mereka impikan. Tapi lebih banyak yang menyerah daripada yang berhasil," jawabnya.

Aku diam sejenak memikirkannya, tapi pikiranku menolak menerimanya. "Tapi itu gak bisa dibiarin aja, 'kan?!" tanyaku entah sama siapa. Toh, gak ada yang bisa jawab.

"Apa gak ada yang bisa dilakukan?" tanyaku pada Tsukasa.

Tsukasa mengangguk, "Ada." katanya lalu berdiri. "Seperti katamu, kita bisa merubahnya. Itulah tugas kalian. Kalian bisa melakukannya kalau kalian bersedia buat sekali lagi jadi Guardian dan membantu mereka mengubahnya disana." ujarnya tersenyum lebar.

~End of Flashback~

Nagihiko's POV

Butuh waktu untukku buat memahami perkataan Tsukasa barusan. Aku menatap Rima yang berdiri di sebelahku dan melihat ekspresi kaget di wajahnya yang manis itu. Tiba-tiba dia menoleh menghadapku, dan otomatis aku memalingkan wajahku darinya. Aku gak mau dia menyangka aku diam-diam memperhatikannya.

"Hei, apa hal yang kupikirkan sama denganmu?" Tanyanya menyenggol tanganku.

Aku kembali menatapnya setelah mendengarnya bertanya. Huft, kukira dia akan akan marah−eh, bukan saatnya memikirkan itu, aku berusaha mengalihkan pikiranku dan berfokus ke pertanyaannya, "Ehm, mungkin kali ini iya."

"J-jadi Guardian sekali lagi?" tanya Amu dengan mata melebar.

"Benarkah itu, Tsukasa-san? Yaya gak salah dengar, 'kan?" seru Yaya antusias.

Tsukasa tertawa kecil melihat reaksi Yaya. "Ya, benar. Kenapa? kau keberatan?" dia balik bertanya.

Rima mengangkat tangannya, "Tunggu sebentar, jadi maksudmu menyuruhku dan si kepala ungu ini pulang ke Jepang untuk ini?" tanyanya sambil menunjukku. Masih saja dia memanggilku begitu...

"Ya, benar. Kalian dibutuhkan untuk tugas ini. Itulah alasanku memanggil kalian kesini." Jawabnya tersenyum senang.

"Tapi Tsukasa-san, gimana dengan sekolah kami? Besok aku dan Rima sudah mulai bersekolah di sekolah kami di California. Dan gimana juga dengan keluarga kami? Kami gak bisa tiba-tiba memutuskan untuk gak pulang begitu saja," ujarku.

"Benar, Tsukasa-san. Lagipula, aku bilang ke orangtuaku hanya akan pergi selama 1 hari." Timpal Rima.

"Hal itu sudah kupikirkan sebelum memanggil kalian," jawabnya sambil duduk di atas meja kerjanya. "Ingat ucapanku saat aku bilang gak perlu memberitahu orangtua kalian? Aku sudah meminta izin pada orangtua kalian untuk mengizinkan kalian menetap disini selama waktu yang dibutuhkan. Dan soal sekolah kalian, kalian juga sudah didaftarkan untuk masuk ke Seiyo High School." Jelasnya masih dengan senyum yang sama.

Aku dan Rima hanya bisa diam mendengar penjelasannya. Gak kusangka dia sudah mempersiapkan semuanya sejak awal, bahkan sampai membuat kami menetap disini.

"Hei, Nagi. Sepertinya tawarannya keren, kau bahkan gak usah pusing memikirkan latihan menarimu," ujar Rythm mengacungkan jempolnya di depan wajahku. Tiba-tiba Temari memukul kepalanya dari belakang lalu membuatnya tersungkur menabrak hidungku.

"Temari, kau ini apa-apaan sih? Ini sama sekali gak keren!" gerutu Rythm sambil mengusap kepalanya yang benjol.

"Kau ini, itu bukan sisi positifnya," ujar Temari dengan dua tangannya di pinggang. "Kurasa tugas ini akan menyenangkan, Nagi. Kau bisa kembali berkumpul bersama teman-temanmu." Katanya tersenyum anggun.

Aku melupakan rasa sakitku karena ditabrak Rythm dan tertawa melihat kelakuan kedua Shugo Charaku, "Sebenarnya aku setuju dengan pendapat Rythm, tapi hal itu ada benarnya juga, Temari." Ujarku lalu menatap gadis manis di sebelahku. Ya, Rima Mashiro.

Aku menghampirinya lalu menyenggol bahunya, "Gimana menurutmu? Apa kau mau menerima tugas ini?" tanyaku.

Dia mengangkat bahu, "Entah, tapi aku juga gak terlalu ingin kembali ke California. Kurasa aku gak cocok disana." Sahutnya.

"Rima ingin kembali berkumpul dengan teman-teman," timpal Kusukusu tertawa di bahunya.

"Kali ini aku setuju denganmu," ujar Rima tersenyum padanya. Jarang sekali kulihat dia tersenyum semanis itu. Beberapa bagian pikiranku berharap senyum itu diarahkan untukku.

Normal POV

"Eh, tunggu. Gimana dengan kami? Maksudku, kau bilang tugas ini untuk Guardian. Tapi aku, Ikuto, dan pacarnya Tadase itu 'kan bukan Guardian. Ini sama sekali gak relevan." Seru Utau tiba-tiba.

"Benar juga, apa yang bisa kami lakukan kalau kami bahkan bukan Guardian?" timpal Lulu setuju.

Tsukasa menggeleng, "Lalu buat apa aku menyuruh kalian memakai seragam sekolah yang sama dengan Guardian? Lagipula, kalian sudah pernah melewati berbagai hal bersama mereka, ya 'kan?" ujarnya.

Utau tersenyum lalu mengangguk, "Kurasa itu masuk akal."

"Lalu aku? Apa yang bisa kulakukan? Aku bahkan sudah bukan murid sekolah lagi," Ikuto melipat tangannya di dada.

"Justru karena kau sudah bukan murid lagi, jadi guru cocok untukmu. Di tambah kau mengerti musik, kau bisa mengajar musik di sana." Ujar Tsukasa.

"Kedengarannya bagus untukku," Ikuto tersenyum tipis.

"Tapi tidak untukku." Tukas Amu.

Ikuto mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa? Kita 'kan bisaterus bersama. Aku akan jadi guru khususmu, Amu-koi." Ujar Ikuto sambil menepuk kepala Amu.

"Berhenti menepuk kepalaku! Dan aku gak butuh guru khusus!" seru Amu jengah.

"Tapi, tapi, Yaya dan Kairi gimana? Kami 'kan masih Middle School, kami gak bisa jadi Guardian juga dong?" tanya Yaya dengan suara terisak.

"Benar, King pertama. Padahal aku juga ingin berpartisipasi dalam tugas ini." Kata Kairi sambil berusaha menenangkan Yaya yang hampir menangis.

"Iya, Tsukasa. Tanpa Yaya dan Kairi, Guardian bukanlah Guardian." timpal Amu sedih.

Tsukasa tersenyum mengerti, lalu menghampiri Yaya dan mengusap rambutnya dengan lembut. "Justru itu, Yuiki-san, kau dan Sanjou-kun mulai besok akan jadi murid High School. Besok kau akan sekelas dengan teman-temanmu." Ujarnya.

Yaya mendongak menatap Tsukasa dengan mata melebar, "Sungguh?! itu berarti Yaya dan Kairi bisa ikut tugas ini?" serunya.

"Tentu saja," jawab Tsukasa sambil mengedipkan sebelah matanya. "Jadi, apa kalian semua setuju dengan tugas yang kuberikan ini?" tanyanya pada semua.

"Aku setuju. Masalah ini memang harus diselesaikan secepatnya sebelum terlambat." Ujar Amu bersemangat.

"Aku terserah Amu saja." Sahut Ikuto merangkul bahu Amu.

"Ya! Yaya akan berjuang sekuat tenaga! Benar 'kan Kairi?" seru Yaya sambil menggenggam tangan Kairi. Itu membuat Kairi kaget dan rona merah muncul di pipinya.

"E-eh, ya benar, Ace−eh, Yaya." Ujarnya terbata-bata.

"Aku sih setuju, entah kalau Rima," Nagihiko bersiul.

"Apa maksudmu? Tentu saja aku setuju. Kau pikir aku gak punya perasaan lihat orang-orang menyedihkan itu?" Rima menatapnya sebal. Nagihiko cuma mengangkat bahu.

"Aku ikut deh. Tadase juga 'kan?" Lulu tersenyum pada Tadase.

"Tentu saja." Tadase balas tersenyum.

"Kau gimana, Kukai. dari tadi kau diam saja?" Tanya Utau heran melihat sikap diam Kukai.

Kukai gak melihat kearah Utau. Dia melihat Daichi dengan cemas. "Kenapa?" tanya Daichi.

Kukai menggeleng, "Gak apa-apa," dia berjalan menghampiri Tsukasa. "Maaf, Tsukasa-san. Kurasa aku keberatan dengan tugas ini." Ujarnya sambil tertunduk lesu.

Kukai's POV

Teman-temanku menatapku kaget. "Hei, Kukai-chi, kau bercanda? Kita jadi Guardian lagi, lho!" seru Yaya seakan gak percaya dengan apa yang kukatakan barusan.

Aku menghela napas pelan, memberiku waktu sejenak untuk menjelaskan situasinya pada mereka, "Gak semudah itu, Yaya. Aku sudah 2 tahun bersekolah disana, dan aku sama sekali gak menyukai apa yang kulihat." jelasku sambil teringat hari-hari memuakkan yang kujalani di sana.

"Benar juga, kau sudah 2 tahun disana. Tapi apa yang sebenarnya terjadi sih, sampai kau menolak tawaran menjadi Guardian?" tanya Nagihiko.

"Iya, Kukai. Kita 'kan sudah pernah melakukannya, apa sulitnya melakukannya sekali lagi? Asal kita yakin-"

"Cukup!" seruku memotong perkataan Amu barusan. Amu terlihat kaget akan reaksiku.

"Kau kenapa, Kukai? Apa ada yang salah?" tanyanya khawatir.

"Bukan begitu, Amu. Kau gak tau situasinya," jawabku sambil dengan frustasi menggelengkan kepalaku, "Semuanya gak semudah yang kau bayangkan, mereka sama sekali gak bisa di tolong lagi. Bahkan atmosfernya saja sudah membuatku muak!" ujarku kesal. Aku sadar ucapanku barusan membuat teman-temanku cemas. Biar saja, aku gak mau membuat teman-temanku berurusan dengan orang-orang itu dan kehilangan mimpi seperti mereka. Seperti yang hampir terjadi padaku dan membuat Daichi jadi menderita.

Utau's POV

Baru kali ini aku melihat Kukai seputus asa itu, beda sekali dengan sifat optimis yang biasa dia tunjukkan. Aku gak tahu apa yang terjadi di sekolah itu, tapi yang jelas, kalau keadaan di sana bisa membuat Kukai jadi seperti ini, aku sendiri pun gak yakin apa kami semua mampu menjalankan tugas yang Tsukasa berikan ini.

"Memang benar apa yang dikatakan Souma-kun, ini bukan tugas mudah. Kalian sekarang sudah tahu situasi apa yang kalian hadapi. Sekarang kalian mau menerima tugas yang kuberikan atau keberatan, itu semua terserah kalian." Ujar Tsukasa.

"Utau-chan, apa kau masih mau meneruskan tugas ini? Kurasa ini gak gampang," ujar Eru di telinga kananku

Aku mengangkat bahu, "Entahlah, aku masih belum yakin," Lagipula, setelah melihat yang lainnya, kurasa mereka juga masih bingung mau berkata apa.

Tapi entah kenapa aku merasa perlu untuk terus melanjutkan tugas ini, meskipun aku belum seratus persen yakin akan keputusanku. Ini semua mengingatkanku pada saat aku masih bekerja pada Easter, saat itu Amu menolongku lepas dari mereka dan membantuku meraih mimpiku untuk menjadi penyanyi seperti sekarang ini. Dan kurasa sekarang saatnya aku menolong orang lain meraih mimpi mereka.

"Iru, Eru, apa kalian tetap bersamaku apapun yang terjadi dan apapun yang kuputuskan?" tanyaku pada kedua Shugo Charaku.

Keduanya tersenyum lalu menjawab, "Tentu saja, Utau-chan!" aku balas tersenyum pada mereka. Mereka tahu keputusan apa yang akan kuambil.

Setelah menghela napas dalam-dalam, aku maju kehadapan Tsukasa. "Tsukasa-san,"

"Ya, Hoshina-san?" sahutnya tersenyum, seolah mengetahui apa yang akan kukatakan.

"Aku akan melakukan tugas ini sampai selesai."

Kukai's POV

Apa? Utau setuju dengan tugas ini? "Tunggu Utau, yang benar saja? Aku gak mengizinkanmu!" seruku. Aku nggak bisa membiarkannya, itu akan berakibat buruk baginya dan Shugo Charanya. Seperti yang terjadi pada Daichi sekarang ini.

"Terserahku, dong. Lagipula, kenapa aku harus dapat izin darimu?" Ujarnya acuh.

Ugh, terkadang dia membuatku kesal, "Bukan begitu, aku hanya gak bisa membiarkanmu-" ucapanku terhenti karena Utau menempelkan telunjuknya di bibirku. Entah kenapa kurasa wajahku berubah merah.

"Diam. Sekarang jelaskan padaku kenapa kau gak bisa membiarkanku melakukannya." Ujarnya tegas tepat didepan wajahku.

Aku gak tahu harus bilang apa padanya. Aku gak mau dia tahu apa yang terjadi padaku dan Daichi, tapi kalau aku gak menjelaskannya dia akan tetap pada pendiriannya untuk melakukan tugas sial ini. Gak, dia gak boleh melakukannya.

"Karena aku gak mau kau dan Shugo Charamu berakhir sepertiku dan Daichi!" Jelasku sedih.

Daichi lalu terbang ke tengah-tengah kami berdua, "Hei, Kukai, biarkan saja Utau-chan melakukannya. Justru kita butuh orang sepertinya untuk merubah situasi di sana... Ukh," tiba-tiba tubuhnya lemas dan terjatuh.

"Daichi!" dengan tepat waktu aku menangkap tubuhnya sebelum terhempas ke lantai, "Hei, kau gak apa-apa? Sudah kubilang jangan banyak bergerak!" seruku dengan khawatir memeriksa setiap bagian tubuhnya.

"Daichi! Apa yang terjadi?" Ran dan para chara menghampiri kami berdua dengan wajah khawatir dan takut, "Kukai, apa yang terjadi padanya?!" tanya Utau sedih melihat kondisi Daichi yang lemah.

"Aku gak apa-apa, Utau-chan..." ujar Daichi sambil tersenyum lemah.

"Gak, kau bukan gak apa-apa! Maaf Daichi, ini semua salahku!" aku merasakan sebutir air mata jatuh melalui pipiku.

Semua teman-temanku menatapku dan Daichi dengan cemas, akhirnya mereka semua tahu keadaanku dan Daichi yang kusembunyikan dari mereka selama ini. Entah gimana aku memperbaiki semuanya.

"Sekarang, lebih baik kau jelaskan apa yang terjadi padamu di Seiyo High School, sampai Daichi jadi seperti ini." Tegas Utau.

Sepertinya aku gak punya pilihan lain. Semuanya menungguku bicara, sementara para chara memeriksa kondisi Daichi, "Kelihatannya aku gak bisa menyimpannya lebih lama lagi dari kalian." Ujarku tersenyum lemah. "Baiklah, aku akan menceritakannya. Tapi kita kembali dulu ke saat aku baru masuk Seiyo High School," aku menarik napas panjang, bersiap menceritakan masalahku.

"Seperti yang kalian tahu, aku mendaftar ke sana karena ingin masuk klub sepak bolanya yang terkenal hebat. Aku dan teman-temanku yang juga menyukai sepak bola sepakat mendaftar kesana setelah lulus Middle School demi meraih mimpi kami menjadi pemain sepak bola profesional. Awalnya gak ada yang salah dengan semuanya, bahkan kami sempat masuk ke final kejuaraan nasional antar sekolah. Tapi kami kalah di final, dan sejak itu teman-teman satu klub ku kehilangan semangat. Aku sudah berusaha mengingatkan mereka bahwa jalan masih panjang, dan kita baru memulai semuanya. Tapi mereka malah bilang gak ada gunanya mengejar mimpi, itu semua hanya sia-sia saja. Sejak saat itu, gak ada lagi yang main sepak bola di sekolah itu." Jelasku panjang lebar.

Semuanya terdiam mendengar ceritaku. Nagihiko yang pertama kali bicara, "Tapi itu cuma terjadi pada klub sepak bola 'kan?" tanyanya.

"Gak, bukan itu saja. Hampir setiap orang yang kutemui sepertinya sudah kehilangan minat pada apapun di dunia ini." Jawabku sambil menggeleng lemah.

"Tapi apa hubungannya semua itu dengan kondisi Daichi?" tanya Rima.

"Memang sepertinya gak ada hubungannya, aku juga baru tahu soal ini setelah bertanya pada Tsukasa-san," kataku disusul anggukan Tsukasa-san. "Kondisi chara di pengaruhi oleh hati pemiliknya. Jika pemiliknya yakin akan mimpinya dan gak pernah putus asa, maka charanya akan terus bersamanya dan menjadi kuat bersamanya pula. Sebaliknya, jika si pemilik mulai putus asa dan kehilangan keyakinan akan mimpinya, itu akan berpengaruh pada kondisi charanya dan membuatnya lemah sebelum akhirnya menghilang." Ujarku lesu lalu memutuskan untuk duduk di lantai. Teman-temanku saling melihat satu sama lain dengan bingung.

"J-jangan bilang kau..." Utau gak bisa melanjutkan ucapannya. Tubuhnya gemetar dan kelihatannya sebentar lagi dia akan menangis. Gak, dia gak boleh menangisiku. Aku menghampirinya lalu mengusap rambutnya dengan sayang, seperti yang biasa kulakukan padanya kalau dia punya masalah.

"Ya, Utau. Aku mulai kehilangan keyakinan akan mimpiku sendiri." Aku menggenggam tangannya dan kurasakan tangan itu gemetar, "Keadaan di sana sudah begitu parah, sampai bisa mempengaruhiku seperti ini. Karena itu aku gak mau kau pergi kesana dan mengalami hal yang sama denganku," ujarku tersenyum lemah lalu mengusap airmata yang menetes ke pipinya.

Aku menatap Daichi yang sedang berbaring lemah dikelilingi para chara yang khawatir. Maafkan aku, Daichi. Ini semua gara-gara kebodohanku.

"Tapi setidaknya mimpi itu masih ada 'kan?" tiba-tiba Amu menghampiriku dengan senyum terkembang di wajahnya. Entah gimana, tapi aku merasa melihat cahaya terang yang memancar dari dirinya. Dalam sekejap, aku merasa semangatku yang sempat hilang kini mulai menjalari tubuhku.

~Author Speech~

Vices: Gak pake banyak omong. Chapter 5 langsung bisa dibaca \m/ Amu, bisa ingetin Readers kita yang baik buat apa?

Amu: Please RnR semuaaaa :D