A/N: Halo...udah bener nih laptopnya. Terimakasih buat kalian yang udah kasih komen atau membaca atau follow atau apapun itu. Kemarin ada yang bingung dengan siapa karakter yang ada di cerita ini. Jadi, author ambil karakternya dari weebtoon judulnya New Normal: Class 8. Kenapa? Karena ga mungkin author bikin karakter EXO jadi fanboynya Baekhyun. Kenapa lagi? Soalnya bagi author, mereka udah punya pasangan masing-masing. (Hunhan, Kaisoo, dll). Terus ada yang tanya Ayoung itu cewek atau cowok. Ayoung itu Cewek, dan di ff ini dia jadi pacar Chanyeol.

Jadi Chanyeol straight dong thor? Well, please keep up with the story, you'll find the answer..kkkkkkkk

Chapter 4

Setelah selesai jam makan, Chanyeol dan Ayoung pergi. Mereka bergandengan tangan dengan mesra, meninggalkan Baekhyun bersama Hyukjin. Baekhyun melihat mereka dengan tatapan iri, 'Mereka memang pasangan yang serasi...' pikir Baekhyun. (Terus dia nyanyi : Raisa-Jatuh Hati)

Baekhyun berjalan cepat ke kelas, karena bel masuk sudah berbunyi. Fanboy Baekhyun membuka jalan untuknya. Sepanjang lorong sekolah mereka berteriak-teriak dan menyingkirkan orang yang menghalangi. Baekhyun berulang kali minta maaf karena ulah para fanboy itu.

Akhirnya Baekhyun sampai di depan pintu kelas.

"Sampai jumpa Baekhyun" "Semoga harimu menyenangkan" "Kami akan mengantarmu pulang" "Kami mencintaimu" dan beberapa gumaman tidak jelas lainnya. Kemudian gerombolan itu pergi.

Baekhyun menghela nafas, dia masuk ke kelas bersama Hyukjin. Dan ternyata murid yang lain belum datang. Hanya ada guru Lau dan guru mapel selanjutnya, Pak Henim.

"Oh, kau sudah disini Baek. Aku ingin berbicara padamu sebentar." –Lau (nama panjangnya Henry Lau, dia guru kimia)

'Ah sial! Apa lagi sekarang..' pikir Baekhyun.

"Ada apa pak?" Tanya Baekhyun seraya mengikuti gurunya keluar kelas. Dia berpapasan dengan Chanyeol di ambang pintu.

Baekhyun mendengar hal buruk yang diutarakan oleh Pak Lau. Dia berteriak tidak percaya.

"Tidak!" Baekhyun berkata. "Ku mohon pak, jangan."

"Maaf Baekhyun, tapi itu harus dilakukan. Ini demi kebaikanmu sendiri." –Henry Lau, dia menepuk pundak Baekhyun dan berjalan pergi.

"Tidaaaak..." Baekhyun berteriak.

Baekhyun's POV

"Sekolah bodoh! Guru bodoh!" Aku menggumam sendiri dan buru-buru keluar dari kelas setelah pelajaran selesai. Aku segera pulang sebelum fanboy itu mengerumuniku lagi.

"Chanyeol bodoh!" Aku menggumam lagi, karena Chanyeol lebih memilih untuk pulang ke rumah Ayoung. "Dasar nenek lampir!"

Sudah lima menit aku menunggu bus, tapi tak kunjung datang. "Bus bodoh!" aku berkata cukup keras, dan membuat dua orang gadis di sampingku menengok ke arahku. Mereka menggunjingku, sepertinya. "Arrrrgggghhhhh..."

"Apa dia baik-baik saja?" tanya gadis itu pada teman di sampingnya..

"Apa kau? Gadis bodoh!" Aku berteriak dan teman gadis itu tertawa.

"Ssshhhh, jangan dihiraukan." Teman gadis itu berbisik padanya. Tepat sekali busnya sudah datang.

"Teman bodoh! Apa kalian tidak punya kerjaan dan menggunjing orang huh? Bodoh! Kau juga bodoh mengenakan seragam bodoh, dari sekolah bodoh yang sama denganku, bodoh!" Aku berteriak lagi, menjulurkan lidahku ke arah mereka dan masuk ke dalam bus. (Oke, Baekhyun terlalu banyak menggunakan kata 'bodoh' saat dia sedang kesal)

Akhirnya aku sampai ke rumah bersamaan dengan kakakku.

"Baekhyun." Ryewook terkejut, tidak melihat Chanyeol pulang bersamaku. "Dimana Chanyeol?"

"Chanyeol yang bodoh itu sekarang berada di rumah nenek lampir bodoh melakukan hal-hal bodoh karena orang tuanya yang bodoh meninggalkan si bodoh itu di rumah sendiri, sehingga orang bodoh itu mengundang si bodoh yang lain kerumah bo-" Ryewook membungkam mulutku sebelum aku selesai bicara.

"Berhentilah mengumpat, bodoh!" Dia berkata dan melepaskan tangannya dari mulutku. "Kau ingin makan apa Baek?"

"Terserah." Aku memencet password untuk masuk ke apartemen kami, tapi selalu gagal. "Ah! Password bodoh!"

"Huft, kau mulai lagi. Apa yang terjadi huh?" Ryewook berkata dan menyuruhku untuk menepi. Dia mengetikkan passwornya dan ajaibnya berhasil.

"Guruku yang bodoh itu berkata kalau aku terlalu bodoh dalam mengerjakan soal kimia bodoh itu sehingga membutuhkan tutor untuk membantuku belajar." Aku berjalan masuk dan melempar tasku entah kemana, kemudian membanting tubuhku ke sofa.

"Baiklah Baek, kata 'bodoh'mu itu mulai mengganggu." Dia masuk dan menutup pintu. "Hey! Jangan melempar tas sembarangan!"

"Biarkan saja...aku tak peduli." Kataku dan menutup mataku. Hari yang melelahkan, ditambah harus mencari tutor.

"Biar ku tebak, kau gagal ujian pada ujian hari ini huh?" Aku berbalik ke arah suara itu. Chanyeol melepas sepatunya dan berjalan mendekatiku.

"Chanyeol!" Aku berteriak dan berlari melompat ke arahnya. Untungnya dia menangkapku.

"Jadi kau benar-benar gagal?" tanya Chanyeol dan membantingku lagi ke sofa.

"Ouch."

"Chanyeol, kau kembali dengan selamat dari rumah nenek lampir itu. Apa kau tidak apa-apa? Apa ada yang terluka? Tunjukkan padaku!"

"Kau lebay sekali Baek. Dan jangan panggil dia neneh lampir, dia pacarku tau.." Chanyeol tertawa.

"Benarkah? Kenapa kau pulang secepat ini? Aku pikir kau dan Ayoung akan melakukan itu-"

"Orang tuanya tiba-tiba pulang. Kejutan bukan? Sekarang aku dilarang untuk datang ke rumah mereka lagi." Kata Chanyeol dan duduk di kursi dapur melihat Ryewook membuat makan malam.

"Hahahhaha mampus kau!"

Ryewook tertawa bersamaku, kemudian dia berkata. "Baekhyun, berhentilah bertingkah seperti anak kecil dan pergilah ke kamarmu. Belajarlah sesekali."

Aku berlari ke arahnya dan menggoyangkan tubuhnya. "Ya! Kau siapa? Keluarlah dari tubuh kakakku sekarang! Pergilah kau setan!" Aku berkata sambil terus menggoyangkan tubuh Ryewook. Chanyeol tertawa terbahak.

"Hentikan Baek! Apa yang kau lakukan? Aku tidak bisa mengiris sayur dengan baik." Kata Ryewook

"Tidak-tidak. Siapa kau? Kakakku yang asli tidak pernah menyuruhku belajar." Kataku dan masih terus mengguncangkan tubuhnya.

"Chanyeol, berhentilah tertawa dan singkirkan orang aneh ini dariku." Ryewook berkata pada Chanyeol. Kemudian Chanyeol menyeretku menjauh dari Ryewook.

"Jadi, kau benar-benar gagal?" Chanyeol bertanya sekali lagi.

"Ya, Mr. Park, aku gagal menjawab lima soal ujian tadi dan pak Lau bilang aku membutuhkan tutor." Aku menjelaskan. "Ah...Bagaimana kalau kau jadi tutorku?"

Chanyeol berpikir sejenak, "Tidak, aku tidak mau."

"Apa?! Kenapa? Yoda!" Aku menjulurkan lidahku.

"Hey..jangan pangan aku Yoda!" Chanyeol menjitak kepalaku.

"Awwwwwww."

"Kau tidak memperhatikanku saat kita belajar bersama." Dia berkata dan mengambil buku PR dari dalam tasnya.

"Aku akan mendengarkanmu kalau kau membuatnya menarik. Selama ini caramu membosankan sekali." Kataku dan melempar kedipan ke arahnya.

"Misalnya seperti apa?" tanya Chanyeol yang mengeluarkan pena dari tasnya, kemudian mengerjakan PR nya. Dia tidak melihat kedipanku tadi, ahhh sia-sia sudah.

"Aku tidak tahu..mungkin kita bisa belajar sambil buka baju, Yoda.." Aku berkata, dia masih fokus pada PR nya. Selang 10 menit kemudian.

"Baiklah, ayo kita mulai." Dia menutup bukunya. Wow cepat sekali. Eh? Tunggu..

"Apa?" jantungku seperti berhenti berdetak, apa kita akan belajar sambil buka baju?

"Aku bilang, ayo kita mulai sekarang." Kata Chanyeol dan menarik tanganku, kemudian berjalan ke kamarku. Apa dia benar-benar serius?

"Ya, aku akan menjadi tutormu." Katanya, aku merasa agak kecewa mendengarnya.

Kami masuk ke kamarku. Dia mengambil buku paket kimia dan beberapa lembar kertas hvs kosong.

"Baek, kita mulai dengan bab senyawa organik oke?" Dia berkata dan membuka halaman 147. Bab senyawa organik. Bab ini aneh sekali, kenapa molekul memiliki rumus? Bagaimana sebenarnya bentuk molekul itu? Dan Chanyeol mengumpamakan kalau atom-atom ini memiliki tangan untuk bergandengan. Aku benar benar tidak paham.

"Nah, atom karbon atau C memiliki empat elektron valensi. Itu berarti untuk mencapai konfigurasi elektron stabil (oktet) dia membentuk empat ikatan kovalen. Saat dia berikatan dengan atom karbon yang lain, nama panggilannya akan beda-beda. Misalnya primer jika Cuma mengikat satu, skunder jika mengikat dua atom karbon lain, tersier, dan yang terakhir kuartener jika ke empat tangannya digunakan." Dia menjelaskan dengan menggambar C yang memiliki empat tangan. Aku melihatnya dengan seksama, dia terlihat keren saat serius seperti ini. Dan bibirnya...

"Baek, apa kau mendengarkan?" Aku tersadar dari lamunanku.

"Eh? Apa yang aku lewatkan?" Tanyaku dan mulai fokus lagi, wow, dia sudah membuat rantai C panjang sekali, dan ada atom hidrogen (H).

"Aku bilang, kalau senyawa karbon ada bermacam-macam. Nah yang aku gambar ini adalah alkena. Dimana memiliki rumus CnH2n. Jadi jumlah atom hidrogen dua kalinya atom ka..." Aku mulai tidak mendengarkannya, merasa bosan dengan cara belajar seperti ini.

Pikiranku mulai melayang kemana-mana, mulai dari mengganti warna rambut sampai membayangkan melumat bibir Chanyeol yang kelihatannya enak.

"Jadi, kau akan terus membayangkan tentang aku atau kita akan benar-benar belajar huh?" Chanyeol menjentikkan jarinya di depan mukaku. Membuatku tersadar dari lamunanku lagi.

"Maaf, aku tidak tertarik." Aku memanyunkan bibirku.

"Byun Baekhyun. Kau gagal dalam ujian bab ini." Dia mengingatkanku, tidak mempedulikan ekspresi dramatisku. "Kau akan belajar. Aku tidak peduli kau tertarik atau tidak, tapi kau harus belajar!"

"Bla bla bla bla..." Aku meniru mimiknya. "Bisakah kau membuatnya menarik Yoda? Aku bisa mati karena bosan."

"Kau lebay sekali, kebosanan tidak akan membunuhmu. Dan jangan panggil aku Yoda, kau sudah ku peringatkan." Dia memukulku dengan buku paket kimia yang sangat tebal itu.

"Baiklah, kau ingin belajar dengan cara menyenangkan?" –Chanyeol, aku mengangguk. Kemudian Chanyeol membuka halaman di buku paket itu lagi.

"Kau kerjakan latihan ini. Kerjakan empat soal dulu. Setiap kau menjawab dengan benar aku akan memberikan kesempatan untuk bertanya apapun kepadaku. Oke?" Dia menjelaskan. Sepertinya menarik.

"Tapi bagaimana jika aku menjawab salah?"

"Kau bisa skip ke pertanyaan selanjutnya, dan tidak bisa bertanya." –Chanyeol

"Oke, mana soalnya." Kataku dan mengambil buku paket dan kertas hvs kosong lagi. Aku mulai mengerjakan soal pertama. Ini susah sekali. Setelah sekian lama aku berkutat akhirnya selesai.

"Haha, kau salah Baek. Lanjut ke soal berikutnya."

Ah sial! Kemudian mengerjakan soal yang kedua.

"Bagus, jawabanmu benar. Jadi kau mau tanya apa?" Kata Chanyeol saat mengoreksi jawabanku.

"Benarkah? Aku menjawab benar?" Dia mengangguk. "Kalau begitu, emmmm." Ini kesempatanku untuk bertanya padanya. "Kapan kau akan putus dengan Ayoung?"

"Kau bertanya itu? Kau yakin?" dia balik bertanya padaku. "Kau menanyakannya setiap hari Baek. Hahahahhaha. Lain kali pilihlah pertanyaan yang lebih bermutu." Dia mengejekku dan menyodorkan lagi kertas jawabanku tadi.

"Ya, siapa tahu kau menjawabnya dengan jawaban yang berbeda." Aku manyun dan mulai mengerjakan pertanyaan ketiga.

"Ini." Aku menyodorkan lagi kertas jawabanku padanya. "Sekarang pertanyaanku adalah...Apa kau yakin kau bukan gay?"

"Oke, pertama kau menjawab salah. Kedua, aku benar-benar yakin." Dia tertawa dan mengembalikan kertasku. "Tinggal satu pertanyaan lagi. Jawablah dengan benar."

Ah, pertanyaan yang ketiga sangat mudah, kenapa aku tidak membaca dengan cermat. Baiklah aku harus mengerahkan tenagaku di pertanyaan terakhir ini. YOSH!

"Yap! Kau jawabanmu benar lagi. Kau mulai bisa huh?" Katanya dan mengacak rambutku.

"Benarkah? Itu berarti aku bisa bertanya lagi." Dia mengangguk, meletakkan kertas jawabanku.

"Pernahkah kau berpikir, mungkin kau bi-sex? Mungkin bagian itu belum muncul." Aku bertanya dengan serius.

Dia menghela nafas panjang. "Baekhyun, menyerahlah. Tidak satu bagianpun dalam diriku ini gay."

"Mungkin kau hanya membohongi dirimu sendiri. Dan sebenarnya kau adalah gay hanya untukku."

"Stop dreaming Baek." Dia membuka halaman buku paket lagi. "Selesaikan ini dengan benar, dan aku akan memberitahumu sebuah rahasia." Dia berdiri. "Aku akan keluar sebentar, melihat apa yang makan malam yang dibuat Ryewook sudah siap."

"Aku tidak mau mengerjakan soal lagi. Kepalaku sudah pusing."

Dia berjalan ke pintu, membukanya, dia berbalik ke arahku dan bertanya. "Apa kau tidak ingin mengetahui rahasiaku Baek?" kemudian dia menutup pintu itu.

Rahasia?

~To be continue~