In Your Arm Tonight
Disclaimer :
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
In Your Arm Tonight © Ryuukaze Hikari & Hyorikazu
Genre(s) :
Hurt/Confort
Romance
Rated :
T
Pair :
Akashi x Kuroko
.
Chapter 4 : Please..
"Tetsuya!" teriaknya frustasi
Mata emperor-nya sama sekali tidak bisa menemukan Tetsuya. Walaupun dia menggunakan kemampuan Missdirection, Emperor eyes miliknya akan tetap bisa menemukannya. Apa.. Tetsuya benar-benar tidak ada di rumah?
"Dimana kau?!" teriak Seijuurou sekali lagi.
Kuso!
Dimana dia?!
Tetsuya membuka kedua matanya sehingga menampakan iris babyblue yang indah. Cahaya matahari mulai menerobos dari sela-sela selambu dan berbondong-bondong masuk ke dalam retinanya. Tetsuya memustuskan untuk duduk dengan bantal sebagai sandaran punggungnya dan memperhatikan keadaan sekeliling.
"Ini.. bukan di kamarku?" tanyannya bingung
Tetsuya melihat sebuah tangan besar masih setia melingkar di pinggangnya dan sepertinya pemiliknya tidak terganggu sama sekali dengan gerakan Tetsuya barusan.
"Kagami-kun?"
"Uh? Ohayou Kuroko." Sapa Kagami dan mencium pipi kenyal Tetsuya sayang.
"Ini.."
"Ah! Kau kemarin ketiduran disini jadi aku bawa kau di kamarku. Maaf kamar yang sekarang bisa di pakai hanya kamarku saja. Kamar sebelah belum sempat aku bersihkan karena terlalu lelah." Jelas Kagami
"Apakah.. semalam.. aku dan Kagami-kun.."
"Go-Gomen! Aku tidak bisa kalau tidak tidur di kasurku sendiri. Ja-jadi semalam aku.." kata Kagami
Bukannya marah justru Tetsuya memeluk Kagami erat. Dirinya kembali menumpahkan airmata bahagianya. Akhirnya. Akhirnya setelah 12 tahun lamanya akhirnya mereka bertemu. Kerinduan yang membuatnya hampir gila kini bisa terbalaskan.
"Kuroko, boleh aku tanya sesuatu?"
"Hai. Semoga aku bisa menjawabnya."
"Um.." Kagami tampak menimbang-nimbang pertanyaan yang akan dilontarkan, "apa.. kau mencintai Akashi?"
Seketika itu Tetsuya membisu.
Tidak.
Sangat tidak.
Tapi bagaimanapun juga-
"Ah, kau pasti sangat mencintai suamimu ya.." Kagami menutup mata dengan telapak tangan, ia tersenyum perih. Kenyataan Tetsuya yang sudah memiliki suami itu bukan sekedar perkara konyol baginya. Siapapun tahu. Siapapun mengerti. Tidak ada yang boleh mengganggu hubungan rumah tangga seseorang. Apalagi mengambil salah seorang yang berperan penting dalam rumah tangga tersebut. Kagami sadar. Tidak ada lagi kesempatan-
"Tidak," -tapi kesempatan kedua mungkin ada. Pemuda itu menjauhkan tangan besarnya dari wajah.
"Apa maksudmu dengan 'tidak' Kuroko?" bermaksud mengklarifikasi kembali kata yang ia dengar. Mungkin hanya delusinya saja.
"Tidak. Sebenarnya.. aku.. aku tidak mencintai Akashi-kun. Tapi.. aku juga tidak menyalahkan Akashi-kun."
"Huh? Maksudmu?" pemuda jangkung itu mengerutkan kening.
"Ck. Kau itu, selalu saja membuat kata-kata yang membingungkan," lanjutnya sambil mendudukkan diri di sebelah Tetsuya supaya dapat mendengar perkataan pemuda itu dengan jelas.
Tetsuya menghela nafas pelan, "maaf, aku sudah mengecewakan Kagami-kun. Tapi.. andai aku sudah memiliki anak pun, sepertinya perasaanku terhadap Kagami-kun tidak mungkin hilang. Karena..."
Objek di sebelah Tetsuya itu menatapnya lekat. Dalam hati berharap mendapat jawaban yang 'pas'.
"... karena Kagami-kun adalah cinta pertamaku."
"So-Sou ka. Lalu.. Kalau kau tidak mencintai Akashi kenapa kau menikahinya?" tanya Kagami
"Itu karena.. Orangtua kami." jawab Tetsuya sambil menunduk
"Kalian menikah dengan di jodohkan begitu?"
"Kurang lebih seperti itu."
"LALU KENAPA KAU TIDAK MENOLAK DAN MENJELASKAN SEMUANNYA?!" Kagami berada di batas kesabarannya hingga berteriak tanpa sadar. Dia lelah.
"Sumimasen. Aku sudah menjelaskannya pada mereka. Tetapi, mereka tidak mau mendengarkan penjelasanku. Lagipula mereka adalah kedua orangtuaku yang sudah berjasa besar dalam hidupku jadi aku tidak bisa menolak." Jelas Tetsuya sambil menahan tangisannya
"Kau tahu?" kata Kagami
Tetsuya memperhatikan ekspresi wajah cinta pertamanya itu
"Aku sangat senang ketika aku di ijinkan oleh Alex untuk kembali ke Jepang. Banyak hal yang sudah aku rencanakan selama aku di Jepang. Yang pertama kali aku ingin lakukan adalah.."
Tetsuya tahu apa kalimat selanjutnya yang akan di katakan oleh Kagami
"... Bertemu denganmu." Kata mereka bersamaan
"Bahkan aku sama sekali tidak berniat meletakan barang-barang terlebih dahulu. Namun, akan merepotkan nantinya. Setelahnya aku segera menuju ke tempat kerjamu."
Kagami dan Tetsuya sama-sama terdiam
"Aku senang melihatmu baik-baik saja dan tidak jauh berbeda dari yang dulu." Lagi-lagi mereka mengatakannnya bersamaan.
"Kagami-kun.. Aku.."
"That's alright, Kuroko. But.. Let me tell you something." Kagami memberi jeda "I'll never let you go. Whatever the reason."
Tetsuya tidak bisa menahan rasa bahagianya lagi. Dengan segera berhamburan memeluk Kagami erat dan menangis. Kagami membalas pelukan Tetsuya tak kalah eratnya. Saling merasakan rasa bahagia yang melimpah bersama.
Drrrttt
Drrrrtt
Kedua orang itu melepaskan pelukannya dan sama-sama menoleh ke arah ponsel touch bewarna hitam di atas meja.
[Tetsuya! Kau dimana sekarang? Semalam kau kemana saja?]
"Cih dia pemaksa sekali. Aku yakin dia tidak memperlakukanmu dengan baik selama kalian menikah." Tebak Kagami
"Hai."
"Tidak aku sangka tebakanku benar." Kata Kagami sambil mengelus kepala Tetsuya untuk menenagkan sang babyblue
"Un."
"Kembalilah Kuroko." Kata Kagami
"Demo.."
"Bagaimanapun juga dia suamimu. Namun, aku tidak akan menyerah untuk melepaskanmu dari Akashi." Kata Kagami
"Wakarimashita. Aku pulang dulu." Pamit Kuroko lalu berlalu begitu saja tampa menolehkan kepalanya lagi ke Kagami
"Hai." Balas Kagami lemah dan sedih
Tetsuya membuka pintu rumahnya secara pelan dan hati-hati. Layaknya seorang penguntit atau pencuri yang menyelinap di rumah korbannya. Berharap sang suami, Akashi Seijuurou sudah berangkat ke kantor seperti biasa. Mengingat ia pulang dari rumah Kagami pukul setengah delapan pagi. Mungkin sekarang sudah hampir jam delapan karena jarak rumah mereka cukup jauh.
Pemuda itu menghela nafas pelan melihat suasana rumah yang tampaknya sudah sepi -atau masih sepi?-. Yah, semoga saja benar.
"Tetsuya~"
Sayang sekali, keberuntungan tidak memihaknya. Tubuh mungil itu begidik tiba-tiba karena mendengar suara orang yang paling tidak ingin ia dengar sekarang. Suasana di ruang tamu -tempatnya berdiri sekarang- semakin suram saja. Bodohnya ia tidak menyadari ada seseorang yang sedang membaca buku di sofa dengan posisi menghadap televisi yang sedang mati.
Terdengar pelan suara buku cukup tebal ditutup.
"Jangan menyelinap seperti pencuri di rumah sendiri, Tetsuya. Gayamu sungguh tidak elit," pemuda berambut merah terang berdiri dari duduknya. Membuat pemuda yang lain reflek mengambil langkah mundur walau hanya sedikit.
Ia melihat. Tatapan heterochrome yang mengintimidasi. Seolah-olah sedang mengorek informasi tersembunyi dalam pikiran Tetsuya. Membuat pemuda yang disebut mundur kembali hingga punggung bersambut tembok pastel nan dingin. Satu yang ada di benaknya..
Seijuurou murka.
Bodoh. Tetsuya sangat bodoh. Hari ini adalah hari minggu. Pantas saja suaminya santai-santai di rumah. Andai saja dia menginap di rumah Kagami sehari lagi, pasti-
"Kemana saja kau semalam Tetsuya? Apa kau tahu aku mencarimu kemana-mana?" -pasti suaminya lebih murka dari ini.
Kedua tangan Seijuurou mengangkat tangan Tetsuya di samping kepalanya. Mencengkram tangan seputih porselen itu dan mengunci pergerakannya.
"S-Seijuurou-kun.."
Seijuurou sama sekali tidak mendengarkannya. Satu tangannya yang bebas digunakannya untuk mencengkram pipi Tetsuya. Dengan kasarnya mencium bibir Tetsuya hingga menimbulkan luka gores dan lebam di sekitar bibir merah Tetsuya.
"Se.. Seijuurou-kun.. Yamette!"
"Kau kemana saja hingga semalam tidak pulang?" tanya Akashi dengan nada sakarstik
"Aku.. Aku menginap di rumah teman." Balas Tetsuya
"Siapa?"
"Kagami-kun."
"Eh~ Taiga rupanya. Fufufuufufu~ Ada perlu apa hingga kau mengingap di rumahnya tanpa memberiku kabar?" tanya Seijuurou sambil mempererat cengkraman kedua tangannya
"Dia baru saja kembali dari Amerika dan dia ingin bercengkrama denganku." Jawab Tetsuya sambil menahan semua emosinya
"Hingga kau tidak pulang?"
"Ya. Karena keasikan mengobrol hingga lupa waktu dan aku juga sangat lelah sehingga aku ketiduran."
BRAK!
Seijuurou melempar badan Tetsuya ke lantai dengan sadisnya. Kepala dan badannya terantuk dan terbentur lantai beberapa kali bahkan sempat terbentur meja beberapa kali. Tetsuya berteriak kesakitan beberapa kali bahkan hingga meneteskan airmata namun sama sekali tidak bisa mencairkan hati milik Seijuurou.
"Sudah berani kau melawanku sekarang, Tetsuya?" tanyanya lagi dengan nada yang berat dan suasananya semakin mengerikan.
Tetsuya sama sekali tidak bisa bergerak. Cengkraman Seijuurou semakin erat dan erat bahkan dia yakin ada bekas membiru disekitar pergelangan tangannya. Kepalanya terangkat melihat ponsel hitamnya bergetar menandakan panggilan masuk. Di tajamkan lagi matanya agar bisa melihat tulisan yang tertera disana.
Taiga-kun is calling...
'Taiga-kun!'
Batinnya menjerit keras memanggil nama dari cinta pertamanya. Dia butuh perlindungan dan perhatian dari seseorang. Dia kira dengan kembali Seijuurou-kun yang dia sayang dan dia hormati kini menyakitinya. Hatinya teriris sakit. Sangat sakit sekali hingga tidak kuat menahannya lagi.
Seijuurou menggunakan tali yang berada didalam jangkauannya untuk mengikat tangan Tetsuya ke kaki meja terdekat. Lalu dirinya mulai pergi mencari sesuatu di kamar milikknya untuk menghukum Tetsuya.
Kedua kaki Tetsuya yang bebas digunakan untuk mengjangkau ponselnya yang jatuh ke lantai yang disebabkan terbenturnya kepala Tetsuya ke meja. Begitu dapat ibu jarinya digunakannya untuk menyentuh icon hijau.
/Moshi-moshi? Kuroko?/
"Taiga-kun.."
/Kuroko? Kuroko? Ada apa? Dimana kau sekarang?/
"Ta.. tasukete.. hiks.. Tasukete.. Taiga-kun.."
/Oi! Kau dimana sekarang? Aku kesana sekarang!/
"Aku.. Dirumah.."
/Bertahanlah aku segera kesana!/
"Wah wah.. Aku terkesan dengan tindakan heroikmu, Taiga~"
Tiba-tiba Seijuurou merebut ponsel Tetsuya
/Akashi!/
"Ara~ Aku membuat seekor macan mengamuk rupanya~"
/Cih! Aku kira kau bisa menjaga Kuroko dan ternyata aku salah besar, eh?/
"Aku menjaganya~ Dengan caraku sendiri."
/Dan caramu sama sekali tidak benar!/
BRAK!
"Akhirnya kau datang, Taiga~"
Pintu rumah keluarga Akashi terbuka lebar. Tampak siluet seseorang dengan tubuh jangkung berdiri di ambang pintu sambil mengumpulkan nafas karena susah payah mendobrak pintu hingga terbuka.
"Sei?!" pemuda itu berjalan ke ruang tamu dengan gerak tergesa. Pemuda tan dengan pakaian polisi berwarna biru gelap lengkap dengan topinya.
"Se-Sei.." si pemuda tan terkejut dengan pemandangan di depannya saat ia sampai di ruang tamu. Meja yang berantakan. Pemuda berambut biru cerah yang terkapar dengan kedua tangan ke atas. Tampak sebuah tali mengikat tangan porselen -yang membiru- dengan kaki meja. Pemuda lain berambut merah cerah yang menggerayangi wajah pemuda biru tadi dengan gunting merahnya.
"A-apa yang kau lakukan padanya Sei?!"
Yang dipanggil mendecak karena perkiraannya salah, "kenapa kau kesini Daiki?"
"Ck lupakan itu dulu. Yang terpenting, kenapa kau melukai Tetsu seperti itu hah?!"
"Kenapa eh? Aku hanya memberikan hukuman bagi Tetsuya yang nakal ini." jawab Seijuurou sambil melanjutkan aksi menorehkan garis di tubuh putih itu
Daiki berjalan cepat menuju kedua pemuda itu lalu menjauhkan Seijuurou dari Tetsuya. Pemuda berkulit tan itu terbelalak kaget atas ulah kekasihnya itu.
Tubuh putih itu banyak sekali terdapat goresan-goresan luka yang bisa dibilang cukup dalam. Darah menetes dari setiap goresan luka itu. Mulai dari pipi, dahi, leher, dada, perut, tangan, paha, betis, punggung. Ya, hampir seluruh jengkal tubuh itu penuh dengan luka.
Daiki sama sekali tidak bisa membiarkan kegilaan kekasihnya itu melukai orang yang dulu pernah dia buang dan juga pernah dia cintai. Lengan panjang milik pemuda itu memeluk erat tubuh Seijuurou yang dirinya masih dalam mode Yanderenya itu. Sudah biasa buat Daiki untuk menenangkan kekasihnya.
Tetsuya membuka matanya perlahan. Dengan mata kepalanya sendiri Tetsuya melihat Daiki memeluk erat Seijuurou. Kedua orang yang sama-sama telah menyakitinya dan kedua orang yang sangat dia sayangi membuka rahasia besar mereka didepan matanya.
"Tetsu.."
Tiba-tiba panggilan yang sama sekali tidak ingin dia dengar lagi dari mulut mantan cahayanya itu dia dengar kembali. Membuka luka yang telah tertutup walau tidak sepenuhnya.
"Gomen.. Tidak seharusnya aku melakukan hal ini."
Tidak. Tetsuya sama sekali tidak mau mendengarkan suara baritone itu lagi. Sudah cukup kenanangan masa lalu yang teramat sakit hanya karena pemuda itu. Tidak. Kumohon tidak.
"Maaf kami menyembunyikan hal ini darimu, Tetsu."
~ To be Continue ~
Arigatou buat review, favorite dam follownya :3
Dan ucapan terimakasih untuk Hyorikazu-okaasan yang sudah mau colab bikin fict ini dengan saya *hagu*
Aku harap chapter ini tidak mengecewakan para reader sekali.
Baiklah~ sampai jumpa di chapter depan ne~
Regards,
Ryuukaze Hikari
