Balas ripiu dulu!

Snowsparklegems: Ya sesekali yg berwajah imut mmiliki sifat yg jhat, kan seru. Kaya saea… :D *dipenggal*. Yups emang Lenny sexy… X3. Trus klo Neru, dia sih emang pntes dpet pran gtu.. *digorok*

Shii-chii: Ah, Lenny langsung ngibrit tuh… sama kaya guru sma , mreka gx kra2 ngsih tugasnya…. Hau… =A="

Chisami Fuka: eh? Lenny manis ya? Nanti cba q jilat dia deh… :D /plakplak/

Karin Miyuki: aww, makaseeh… =w=/ Ni saea apdeto….

.

.

Okay, tanpa banyak cingcong….

Happy Reading….

.

.

Disclaimer : Kalo vocaloid milik saea, item Rin ama Len saea rubah jadi jengkol dan pete juga traktor sawah… :D *dibonyokin* (Len: berapa lapis?, Rin: ratusan…) =_="

Genre : Romance, angst, hurt/comfort (maybe)

Rating : T

Warning : abalistis, gajelistis, mas-mas typo (bosen miss terus), alur ngebut, chara baru berterbangan, bhasa kasar, TWINCEST.

Pairing : Len x Rin, Miku x Mikuo, Kaito x Meiko, dkk

Summary: Rin dan Len memulai hubungan terlarangnya. Disisi lain, Neru, perempuan yang pernah ditolak Len ingin membalaskan dendamnya pada Len. Dia melakukan segala cara untuk membuat Rin dan Len menderita. Akankah mereka bertahan menghadapinya? #satu lagi, summary gagal#

.

.

.

.

~Don't Like? Don't Read!~

.

.

.

.

Chapter 4

"Mulai dari sini, cinta kita akan menghadapi rintangan. Akankah kita bisa bertahan melewati semua itu?Aku ingin kamu berjanji untuk tidak pernah terpisah dariku. Maka aku pun juga akan berjanji, tidak akan membiarkan siapapun melukai dirimu. Dua hal yang bisa melindungi kita dari rintangan itu, rasa percaya dan saling mendukung."

Len PoV

Pagi hari, aku berangkat ke sekolah seperti biasa. Bersama Rin dan temanku yang lain, Miku dan Mikuo. Hanya saja Kaito dan Meiko tidak bisa berangkat bareng karena mereka ada piket hari ini. Disekolah, aku merasakan aura yang aneh. Hampir seluruh siswa yang berada di gerbang sekolah melihat ke arahku dan Rin dengan tatapan yang menjijikan. Kami yang diperhatikan terus berjalan tanpa memperdulikan tatapan mereka. Tapi, Miku yang juga merasa ditatap seperti itu hanya bergumam.

"Kenapa sih mereka semua? Mereka menatap kita seperti kita seorang penjahat saja!"

"Sudahlah, lebih baik kita cepat ke kelas saja." Ucap Mikuo. Kami berempat menuju ke gedung sekolah. Kami melihat Kaito dan Meiko berlari kearah kami seperti sedang dikejar sesuatu. Mereka berhenti didepan kami dengan nafas yang terengah-engah. "Kalian kenapa?" Tanyaku. Kaito dan Meiko masih mengatur nafas mereka yang masih sesak dan mencoba berbicara.

"I.. ini gawat Len… di… didalam sekolah… penuh dengan…" Kaito terbata-bata.

"Penuh dengan apa?"

Ketika masuk ke dalam sekolah, kami dikagetkan dengan foto-fotoku dan Rin kemarin. Foto-foto kami yang sedang berciuman di halaman belakang sekolah. Foto-foto tersebut tidak hanya menempel di papan pengumuman, tapi juga di seluruh kelas. Aku geram, aku mencabut semua foto itu. Aku berlari ke kelas dan mendobrak pintu kelas. Rin dan yang lain menyusulku dari belakang.

"SIAPA YANG MENEMPELKAN FOTO-FOTO INI?" bentakku. Seluruh siswa yang ada di kelas kami hanya saling berbisik. Rin memegang tanganku, mencoba menenangkan aku yang sangat kesal. Aku sangat geram, tapi aku mencoba untuk menahan amarahku. Kaito menepuk pundakku dan memberi isyarat untuk ikut dengannya. Aku menurut dan mengikuti Kaito, Mikuo juga mengikuti kami.

Kaito membawaku ke toilet laki-laki. Tidak adakah tempat lain yang lebih baik dari pada toilet? Kalau ingin berbicara, kenapa nggak di halaman atau atap sekolah saja? Dasar pecinta toilet. Kaito masih terdiam, aku dan Mikuo saling tatap. Kaito mengambil nafas dan menghembuskannya. Anak ini sepertinya ingin menguju kesabaranku. Niat tidak sih dia berbicara? Lebih baik aku saja yang mulai.

"Kau mau ngomong apa BaKaito? Jangan menguji kesabaranku."

"Ini tentang insiden foto itu."

"Kau tau siapa pelakunya, kan?"

"Ya, dia Akita Neru dari kelas XI IPA 8. Anak dari direktur sekolah ini."

"Kenapa dia melakukan itu?"

"Kamu ingat pernah menolak seorang perempuan ketika pelajaran olah raga?"

"EH? Jadi itu Akita Neru?"

"Jadi kamu lupa siapa yang menembak kamu?" aku mengangguk, Kaito sweatdrop.

"Dia ingin membalaskan dendamnya karena kau menolak dia. Dia ingin kamu merasakan apa yang dia rasakan. Begitulah yang kudengar."

"Dan lagi, dia juga berniat menyakiti orang yang kamu sayang." Kaito mengakhiri pembicaraannya. Aku kaget mendengar kata-kata terakhir Kaito. Dia ingin menyakiti Rin? Sudah cukup! Aku tidak mau berkompromi jika ada orang yang ingin menyakiti Rin. Amarahku mulai meluap lagi. Aku mendobrak pintu toilet dan berjalan menuju kelas XI IPA 8. Di lorong, aku melihat Rin sedang jalan dengan Meiko dan Miku. Aku terus berjalan dengan cepat tanpa memperdulikan Rin yang melihatku dengan wajah –kamu-kenapa-Len?-.

Sampai di kelas Neru, aku –lagi-lagi- mendobrak pintu kelas itu dengan kasar. Semua siswa yang ada disitu kaget dan langsung terdiam. "Dimana Akita Neru?" tanyaku kasar. Orang yang mempunyai nama itu hanya mengangkat tangannya tanpa mengalihkan pandangannya dari HP yang ia pegang. Aku menghampirinya dan menanggalkan kerah bajunya sehingga ia terpaksa berdiri. Aku menatapnya tajam, dia menatapku datar, siswa yang lain melotot.

"Kau… Apa maksudmu memasang foto ini?"

"Hanya bersenang-senang." Neru tersenyum sinis.

"Khh!" aku kembali menanggalkan kerahnya lebih kasar.

"Hei! Beraninya jangan sama perempuan donk!" bela Yuki, teman Neru.

"Diam! Kamu… KALAU KAMU MEMBENCIKU, KAMU TIDAK PERLU MEMBAWA RIN KEDALAM MASALAH ITU!" amarahku sudah mencapai puncak. "Lepaskan tangan kotormu dari sepupuku!" ujar seorang laki-laki yang terlihat seperti Neru sambil menepis genggamanku dari kerah Neru. Aku semakin geram, Aku ingin menonjok laki-laki ini. Tiba-tiba seseorang memelukku dari belakang, "Hentikan Len! Jangan lakukan itu!" ternyata Rin. Aku langsung mengurungkan niatku untuk memukul Nero. Aku melihat sekeliling, kelas XI IPA 8 sudah penuh dikelilingi siswa-siswa dari kelas lain. Mikuo dan yang lain menghampiriku, membantu Rin menenangkanku.

"Inikah perempuan yang menyebabkan pernyataan cintaku ditolak olehmu mentah-mentah? Tak kusangka seleramu rendah sekali Len-kun. Belum lagi, yang kau sukai itu kembaranmu sendiri. Apa kau tidak tahu hubungan dengan saudara sedarah itu terlarang?" Neru memanasi suasana.

"Apa maksudmu?" Tanya Rin.
"Ah.. jadi dia tidak menceritakan padamu apa yang terjadi antara aku dan Len? Kau benar-benar kejam Lenny…~" suasana dikelas itu sudah pada puncaknya. Aku benar-benar ingin membunuh perempuan ini. Tapi ruang gerakku ditahan oleh Kaito dan Mikuo. Neru terus memandang kami dengan nanarnya. "Hei, Rinny! Mungkin kau akan tertarik mendengar ceritaku ini." Ujar Neru dengan devil smile-nya.

Neru menceritakan masa lalunya yang membuat dia membenciku. Rin dan yang lain hanya terdiam mendengar cerita Neru. Aku membuang mukaku ketika Rin menatapku dengan pandangan tak percaya. Memang benar aku menolak Neru, tapi apakah itu salah? Aku menolaknya dengan halus kok. Dianya saja yang terlalu perasa dan salah dia menembakku ketika orang lain masih bisa melihat dan mendengar pernyataannya.

Neru mengakhiri ceritanya. Aku menarik Rin berdiri di belakangku. Aku takut Neru melakukan sesuatu pada Rin. Dari tadi dia terus memandang Rin dengan tajam seolah ingin membunuhnya. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke aku, aku membalasnya. Selama 30 detik kami beradu pandang. Aku mulai muak melihatnya.

"Aku tidak akan membiarkan hidup kalian bahagia."

"Berani kau menyentuh Rin, aku akan membunuhmu!"

"Permainannya besok Lenny. Tunggu saja." Neru tersenyum sinis.

"Khh!" Aku keluar dari ruangan itu sambil menarik Rin dengan kasar. Miku, Mikuo, Kaito, dan Meiko mengikuti dari belakang.

"Le..Len… sakit." Ringis Rin

"Ah, maaf." Aku melepaskan genggamanku. Rin terus menunduk, dia seperti takut melihatku. Apa perbuatanku tadi menakuti Rin? Bukan maksudku membuatnya seperti ini. Aku memeluknya, Rin kaget. "Maaf Rin perbuatanku tadi pasti membuatmu takut." Aku memperdalam pelukanku dan Rin pun membalasnya.

Pulang sekolah aku benar-benar dibuat pusing oleh kejadian tadi pagi. Karena menyebabkan kerusuhan, aku di panggil ke ruang konseling. Neru selamat dari tuduhan itu karena dia anak direktur sekolah. Aku dihukum membersihkan toilet dan kolam renang. Belum lagi ancaman Neru yang akan melakukan sesuatu besok. Aku khawatir dia akan melakukan hal buruk pada Rin. Aku harus siap menghadapi hari esok.

~ESOKNYA~

Meskipun sedikit khawatir, aku dan Rin memberanikan diri ke sekolah. Walau aku takut Neru akan melukai Rin. Tapi Rin terus memaksa ikut ke sekolah. Baru sampai depan gerbang sekolah tiba-tiba…. Plash….Plash….Plash…! balon berisi air dilemparkan oleh beberapa siswa kearah kami. Membuat sekujur tubuh kami basah.

"Khh, sudah kuduga!" geramku dalam hati. Rin menarikku menuju sekolah, aku menurut saja. Sesampainya di toilet, aku langsung mengeringkan diriku dengan sapu tangan. Aku mengganti seragamku dengan seragam cadangan. Rin juga sedang mengeringkan dirinya di toilet perempuan ditemani Miku dan Meiko. Kebetulan aku bertemu mereka ketika menuju toilet. Aku meminta mereka menemani Rin, aku takut suruhan Neru melukainya. Sebenarnya aku ingin mengantar dia, tapi seorang laki-laki tidak bisa masuk ke toilet perempuan, kan? Begini juga aku masih punya harga diri. Meskipun aku sangat khawatir sesuatu yang buruk terjadi pada Rin.

Brakk!

Aku mendengar suatu benturan keras dari luar toilet. Dengan cepat aku keluar dari toilet dan melihat apa yang terjadi. Ternyata beberapa siswi mendorong Rin dan membuat ia tersungkur ke lantai. Miku memaki siswi yang mendorong Rin, Meiko membantu Rin berdiri. "Itu pantas buat pelacur seperti dia!" ucap salah satu siswi tersebut. Aku langsung menuju ke tempat Rin. Aku memandangi siswi yang mendorong Rin tadi dengan tatapan tajam. Mereka pun meninggalkan kami tanpa merasa bersalah. Aku memastikan keadaan Rin, hidungnya mengeluarkan darah!

Aku memberikan sapu tanganku kepada Rin. Menyuruhnya mengusap darah yang masih mengalir dari hidungnya. Setelah itu aku langsung membawanya ke UKS diikuti Miku dan Meiko. Di UKS, Kiyoteru-sensei yang kebetulan ada disana memeriksa hidung Rin dan membersihkan lukanya. Heran juga, Kiyo-sensei itu guru matematika, tapi kami selalu menemukannya ditempat yang tidak terprediksi. Ya seperti di UKS ini, kadang dia ada di gedung olahraga, gudang sekolah, dan tempat lain yang rasanya kurang masuk akal seorang guru matemetika berada disitu.

"Ini pasti ada hubungannya dengan Akita-san, kan" Tanya Kiyo-sensei.

"Heh?"

"Satu sekolah sudah tau tentang hubungan kalian dan dendam Akita-san pada kalian."

"…" kami hanya bisa diam.

"Sudah selesai. Kau harus berhati-hati jangan sampai hidungmu berdarah lagi." kata Kiyo-sensei sambil tersenyum.

Aku dan Rin kembali ke kelas, sementara Miku dan Meiko pergi ke ruang guru mengambil hasil ulangan Fisika. Aku dan Rin duduk di tempat kami masing-masing. Keadaan ruang kelas ini tidak menyenangkan. Teman-teman sekelas kami menatap kami dengan tidak bersahabat, kecuali Kaito dan Mikuo.

"Gawat! Miku dan Meiko…" seorang siswa masuk ke kelas dengan tergesa-gesa.

"Kenapa dengan Miku dan Meiko?" Tanya Kaito.

"Mereka menyiksa Miku dan Meiko di halaman belakang. Aku tadi dari sana dan melihat kejadian itu!"

"Siapa yang melakukannya?" Mikuo geram.

"Teman-teman Akita Neru, kalau aku tidak salah mereka Teto dan Yuki!"

Akita Neru! Dia mulai berani menyakiti teman-temanku juga. Perempuan itu sudah gila! Aku melihat Kaito dan Mikuo juga sama geramnya denganku. Mereka tidak terima pacar mereka disakiti. Yang lebih mengagetkan lagi, Rin berlari keluar kelas. Aku, Kaito, dan Mikuo mengejarnya.

Kami sampai di halaman belakang dan melihat Miku dan Meiko yang babak belur dikelilingi Teto dan Yuki. Teto dan Yuki mengangkat Miku dan Meiko berdiri dan menampar wajah mereka. "HENTIKAAAAN!" Rin menghampiri mereka, mendorong Teto dan Yuki. Miku dan Meiko tersungkur di tanah. Aku, Kaito, dan Mikuo datang menolong Miku dan Meiko.

"Kenapa kalian melakukan ini?" Rin menangis.

"Kami hanya melakukan perintah Neru, lagipula kami tidak peduli kesalahan apa yang dilakukan Miku dan Meiko pada Akita." Jawab Teto datar.

"Bilang pada Neru, jika dia ingin menyiksaku, lakukan langsung padaku! Jangan-"

.

.

BRAAAAAKKK….!

.

.

Mataku terbelalak. Rin terjatuh di tanah saat beberapa siswa menjatuhkan sebuah pot bunga tepat di kepalanya. "RIN!" aku meraih tubuh Rin yang pingsan. "Kita pergi saja!" Teto dan Yuki pergi meninggalkan kami berenam. Aku melihat darah menetes dari kepala Rin. Aku membawa Rin ke runah sakit yang tak jauh dari sekolah kami. Kaito dan yang lain juga ikut, sekalian mengobati luka Miku dan Meiko.

Rin telah diperiksa dan untunglah hanya luka luar saja yang ada di kepalanya, tidak mempengaruhi fungsi otaknya. Di dalam kamar 25 Rin terbaring, aku duduk disampingnya yang masih tak sadarkan diri. Luka Miku dan Meiko pun telah diobati perawat. Aku tidak enak pada Miku dan yang lain, mereka jadi ikut kena imbasnya karena masalahku.

"Hei, lebih baik kalian pulang saja."

"Hah? Sudahlah, kami akan menemanimu sampai Rin sadar." Tolak Miku.

"Aku tidak membutuhkan kalian lagi." ucapku sedikit kasar.

"Apa maksudmu?" Tanya Mikuo, yang lain kaget.

"Lebih baik kalian tidak perlu berada didekatku dan Rin lagi. Aku tidak ingin kalian juga terkena imbasnya hanya kalian berada disekitar kami. Jadi lebih baik kalian pergi saja dari sini."

GRAK… BUAK! Sebuah pukulan yang keras mendarat di pipiku. Aku tersungkur ke lantai, pipiku sakit sekali. Entah kenapa tiba-tiba Kaito memukulku. Miku, Mikuo, dan Meiko terbelalak dan mematung ditempatnya melihat perbuatan Kaito. Kaito memandangku dengan tajam, dia mendekatiku. Dia menanggalkan kerah bajuku dengan kasar sehingga aku berdiri menghadap kearahnya.

"Kamu pikir kami ini siapa tega meninggalkan sahabatnya yang sedang kesusahan? Jangan seenaknya menyuruh kami pergi dari sini! Kamu sendiri yang bilangkan? 'Jangan pernah meninggalkan teman ketika mereka sedang kesusahan'. Aku kenal kamu sejak lama, kamu tidak pernah putus asa terhadap apa pun. Karena itu, untuk masalah ini pun kamu tidak boleh putus asa dengan mudahnya. Kami akan tetap membantumu sampai masalah ini selesai meskipun nyawa kami taruhannya. Itu arti dari persahabatan, kan?" ucap Kaito.

Aku tersenyum padanya dan mengangguk pasti. Kaito melepaskan genggamannya dari kerahku dan mengulurkan tangannya. Aku yang mengerti gaya uluran tangannya langsung menjabat tangan itu, kami pun saling berpelukan. Kaito menepuk punggungku aku pun membalasnya. Dia memang sahabat yang paling bisa mengembalikan semangatku. Aku bersyukur punya sahabat seperti dia.

"Terima kasih. Kalian yang paling the best."

"Ya, kau tidak perlu khawatir Len. Kami pasti akan membantumu." Ujar Mikuo

"Hmn! Kami tidak akan meninggalkan kamu dan Rin sendirian." Kata Miku

"…Len…?"

"Ah, Rin. Kau sudah sadar?"

"Len? Pipimu kenapa? Apa Teto dan Yuki juga memukulmu?" Tanya Rin khawatir.

"…"

"HAHAHAHAHA!" Aku, Kaito, Mikuo, Miku dan Meiko tertawa mendengar omongan Rin tadi. Tidak mungkin kan kedua perempuan itu bisa membuat pipiku seperti ini? Rin bingung melihat kami yang tertawa. "Tidak kok, tadi aku hanya dihajar monster biru pecinta es krim." Jawabku terkekeh, Kaito meninju pelan bahuku, Rin tambah bingung. Untuk hari esok pun pasti, aku akan berani menghadapinya karena aku punya sahabat yang selalu mendukungku.

Rin PoV

Kepalaku sakit sekali, Len bilang salah satu suruhan Neru menjatuhkan pot bunga tepat ke kepalaku sehingga aku pingsan. Aku tak percaya mereka sampai melakukan hal itu. Apakah kesalahan Len yang dia lakukan pada Neru itu sangat fatal? Bukan! Apakah suatu yang salah jika Len menolak perasaan Neru? Aku bingung. Neru sampai melakukan suatu yang bisa dibilang criminal hanya karena Len menolaknya.

Pasti Neru sangat mencintai Len. Tapi kalau memang dia mencintai Len, seharusnya dia tidak perlu melakukan hal ini juga, kan? Ahh, kepalaku tambah pusing memikirkan hal itu! Lebih baik aku makan jeruk yang dibelikan Miku dan Meiko saja. Aku mengambil sebuah jeruk dari keranjang, mengupas kemudian memakannya.

Aku ditinggal sendirian di kamar rumah sakit tempat aku dirawat. Miku dan Meiko membeli minuman karena mereka haus. Wajar saja karena mereka menemaniku yang sedang pingsan selama 1 jam. Sedangkan Len, Kaito dan Mikuo pergi mengurus administrasi. 15 menit kemudian, Len kembali ke kamarku.

"Kata dokter kamu sudah boleh pulang."

"Kalau begitu sekarang saja, aku bosen berada disini." Kataku. Len hanya tersenyum, kemudian dia membereskan barangku sambil menunggu Miku dan Meiko kembali. Setelah Miku dan Meiko kembali, kami langsung menuju apartemen kami ditemani sahabat-sahabat kami. Ketika sampai di apartemen, kami kaget melihat pintu apartemen kami terbuka. Apartemen kami begitu berantakan seperti kapal pecah. Barang yang seharusnya berada ditempatnya, bergeletakan dengan sembarang.

Len memeriksa kamar. Pakaian kami yang tadi berada di lemari berhamburan di lantai dan diatas kasur kami. Di cermin kamar kami ada sebuah tulisan 'KELUARGA KAGAMINE PEMBAWA SIAL. MEREKA MENJALIN HUBUNGAN YANG TERLARANG'. Len hanya diam di tempat sambil memandangi cermin tersebut. Dia mengepalkan tangannya, aku bisa merasakan aura yang tidak enak disekitar Len. Aku memberanikan diri mendekati Len. Kutarik ujung lengan baju Len. Dia menoleh ke arahku, tersenyum sambil mengusap kepalaku.

"Sebaiknya kita bereskan dulu rumah ini." Kata Len.

"Hei, biar kami bantu." Ucap Miku.

"Baiklah. Tolong ya."

Kami pun membereskan rumah kami dibantu Miku, Meiko, Mikuo dan Kaito. Aku, Miku, dan Meiko membereskan pakaian yang berserakan dan membersihkan beberapa perabotan yang pecah. Sementara Len, Kaito dan Mikuo mengangkat dan menata ulang kembali sofa dan meja kembali ke keadaan semula. Setelah selesai, Len, Kaito, dan Meiko membuatkan kami cemilan dan minuman. Kami membicarakan hal ini diruang tamu.

"Dia sudah kelewatan. Sampai-sampai melakukan hal ini!" ucap Miku.

"Tapi kenapa Neru harus melakukan hal ini?" aku tertunduk.

"Dia tidak akan pernah merasa puas sampai kalian benar-benar menderita."

"…"

"Sebaiknya kalian pulang, sudah malam. Besok kita harus sekolah." Kata Len.

"Ya, kau benar. Oh ya, Kalian berdua harus kuat menghadapi cobaan ini."

"Benar kata Kaito dan tenang saja kami akan tetap mendukung kalian." Ucap Meiko.

"Kalau begitu kami pulang dulu. Jyaa ne~"

Len mengantar mereka sampai didepan apartemen. Aku membereskan piring dan gelas bekas cemilan tadi ke dapur. Setelah selesai aku rebahan diatas sofa, tak lama kemudian Len kembali. Mukanya tampak suntuk, sepertinya dia lelah menghadapi kejadian-kejadian hari ini. Dia mendekat kearahku dan duduk di tepi sofa tempat aku rebahan. Dia mengelus rambutku, "Kalau kepalamu masih sakit, lebih baik tidur saja." Katanya. Aku mengangguk kemudian pergi ke kamarku, mengganti pakaianku kemudian tiduran diatas kasur. Aku memikirkan apa yang akan dilakukan Neru berikutnya besok. Semoga saja dia tidak menyakiti sahabat-sahabatku lagi.

~oOo~

V

V

V

V

V

Chapter 4

End

.

Miku: Akh.. kok kita babak belur gini sih?

Meiko: nasib kita madesu banget ya Miku…

Rin: Kalian sih mending, kepalaku kejatuhan pot bunga nih…

Miku: ini gara2 author sengklek bkin crita yg ngenes kya gni.. *nyiapin linggis*

Author: eh… kok saea? Kan si Neru yg nyiksa klian.. *nunjuk Neru*

Neru: *asik maenin HP yellowberry-nya(?)*

Rin, Miku, Meiko: woy Neru! Sini lo! *ngejar sambil bwa linggis, obor, dan pacul*

Neru: *ngacir sambil bikin stat: tolong! W di kejar buruh yg lgi demo!*

Author: *nonton sambil mkan banana ice cream + taburan negi = ?*

Len: ah… Banana

Kaito: ah… es krim

Mikuo: ah… negi

Author: ah… gua geplak juga lu… =_="

Akhir kata

.

.

.

.

R 'n R please!