"Apa tidak salah nih kita datang ketempat tes-nya Lee? Kalau lulus sih bagus.. kalau gagal lagi gimana?" Omoi menggaruk pelipisnya.
Sai tersenyum ramah. "Nggak ada salahnya juga menyemangati.. dia kan pantang menyerah."
'Ng?' Naruto menatap pemuda bersweater hijau keluar dari gedung. "Hey! Tuh orangnya keluar!"
"Lee! Bagaimana hasilnya?" tanya teman-temannya serempak.
"Ka.. Kalian datang ya.." Lee menangis terharu. "Aku lulus bro!"
Wooo~
Prok! Prok! Prok!
"Selamat!"
"Sukses Lee!"
"Selamat Lee!" Sorakan dan tepuk tangan begitu riuh didepan gedung tempat ujian SIM.
"Ka-Kalian.." Mata Lee berkaca-kaca dan tubuhnya bergetar manatap teman-teman satu kostannya. "WHOAAAAA." Lee berlari menerjang teman-temannya.
Glek!
Semua orang berlari terpencar karena tak mau mendapat pelukan Lee.
I Love You So Mad
Disclaimer © Masashi Kishimoto
Warning:
AU, OOC, Typo(s), Mainstream, Alur Cepat, EYD Amburadul, Dll.
"Gochisousamadeshita!"
"Ah kenyangnya.. thanks ya Lee!" Ajisai mengelap bibirmya dengan tisu. "Yakiniku-nya enak banget!"
"Thanks Lee!" Shion tersenyum ramah seraya meminum jus mangga-nya.
"Arigatou Lee!" Ucapan terimakasih menghujani Lee.
Lee tersenyum lebar. "Tenang aja! Aku traktir kalian karena aku senang banget hari ini!"
Restaurant Yakiniku-Q yang selalu ramai menjadi semakin riuh karena Lee dan teman-teman kostannya ada disana.
Naruto membungkuk-menyandarkan kepalanya dimeja. Wajahnya pucat. "U-Ughhh. Mual. Nggak enak badaaan."
Ajisai tertawa riang. "Hahaha. Salah siapa menantangku lomba makan."
"Kali ini kau harus kapok Naruto. Jangan pernah menantang lagi perut ember Ajisai." Sai menyodorkan segelas air putih pada Naruto. "Lihat! Karena keadaanmu begini, kau tak bisa masuk kerja hari ini."
"Oi! Oi! Oi! Apa maksudmu Sai?!" Ajisai tak terima dengan ucapan Sai.
Sai tersenyum penuh arti menanggapinya. Lee, Omoi dan Suigetsu ngakak. Shion tersenyum kecil. Sementara Gaara hanya diam dengan wajah stoic-nya menatap teman-temannya yang menurutnya pada rada-rada sinting.
(눈_눈)
Pagi-pagi, Ino sudah dikerubuti teman-temannya. Sakura menatap Ino heran sambil melipat tangannya di dada. "Jadi, kau masih belum berterus terang pada Naruto?"
Pembicaraan yang sama, topik yang sama, membuat Ino bosan. Ino menganggukan kepalanya. "I-Iya."
"Hhh." Tenten menatap Ino intens. "Sekarang apa lagi alasan yang membuatmu tak bisa mengatakannya?"
"E-Etoo." Ino tersenyum kaku sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Banyak hal terjadi."
"Kami kira kalian sudah putus." celetuk Hinata.
Ino menatap temannya bergiliran. Heran. "Kenapa kalian pikir begitu?"
"Kemarin saat distasiun, kami melihat dia lewat sambil bonceng cewek." jawab Sakura acuh.
"Eh?" Ino sedikit terkejut, petir kecil terasa menyambar jantungnya. "Beneran?"
Hinata mengangguk mengiyakan. "Dia sangat cantik."
"Gaya rambutnya seperti Hinata.. bedanya dia pirang." Sakura menambahkan.
"Sepertinya aku pernah melihatnya disekolah ini." Tenten meletakan tangan kanannya di dagu. Berpikir.
Hinata mengangguk-angguk. "Mungkin dia siswa sekolah ini juga."
"Nggak mungkin!" pekik Ino refleks. "Ah!" Ino langsung membekap mulutnya sendiri. 'Apa yang kukatakan?'
Sakura, Hinata dan Tenten menatap Ino heran.
Brak!
Hinata dan Ino terperanjat kaget karena tiba-tiba Sakura memukul meja Ino. Sakura menatap Ino tajam. "Jangan-jangan.. kau benar-benar menyukai si berandal itu?!"
"Ha-HAAAH?!" Ino kaget sekali mendengarnya. "Ja-Jangan bercanda! Tidak mungkin! Aku.. aku..." Ino terdiam sejenak tampak berpikir keras, wajahnya sedikit merona. ".. juga tidak tahu."
"Sudah kuduga." Sakura memutar bola matanya-bosan. "Kau pasti mulai suka padanya."
"Nggak mungkin!" seru Ino refleks.
Tenten terkikik geli. "Wajahmu yang udah kayak tomat gak bisa membohongi kami!"
"'Nggak deh! Beneran deh!" Ino terus menyangkal dan meyakinkan hatinya.
(눈_눈)
TENG TENG TENG
Bell tanda pelajaran telah berakhir bunyi. Tanpa diberi aba-aba, para siswa langsung membereskan alat tulis mereka.
"Baiklah, pelajaran hari ini sampai disini. Kerjakan soal-soal dihalaman akhir bab 12. Sampai jumpa minggu depan." Guru berambut hitam panjang nan bergelombang tersebut mengakhiri pelajarannya.
"Baik!" jawab para siswa serempak.
Ino selesai membereskan alat tulisnya, dia menatap bangku Naruto yang cukup jauh dengannya. Kosong.
"Hari ini Naruto nggak masuk ya?"
"Hegh!" Ino terlonjak kaget karena tiba-tiba Sakura berbisik ditelinganya.
Sakura senyam-senyum penuh arti melihat tingkah Ino. "Cieee."
"Apaan sih!" dengus Ino kesal.
Hari itu Ino terus digoda alias dibully habis-habisan oleh teman-temannya. Mereka terus meyakinkan sekaligus mengejek perasaan Ino pada Naruto yang terus disangkalnya.
"Sebelum pulang, kita karokean yuk!" ajak Tenten sambil menghampiri Ino dan Sakura.
"Boleh. Sudah lama kita tidak jalan-jalan." Hinata menyetujui usul Tenten.
"Bagaimana denganmu Ino?" Sakura menatap Ino yang masih duduk dibangkunya. "Mumpung pacarmu nggak masuk, kau jadi bisa pulang bareng kami." Sakura mengedipkan sebelah matanya-genit.
"Haaa?" Ino kesal mendengar ocehan Sakura tentang Naruto. 'Sepertinya dia seneng banget biar aku gak ganggu dia deketin Sasuke.' Ino menarik nafas panjang. "Ayo.. boleh juga.."
"Yosh!" Tenten mengepalkan tangannya didada layaknya prajurit(?).
"Hei! Kami ikut donk!" Choji menghampiri mereka diikuti Kiba, Shikamaru dan Sasuke.
Tenten menatap Choji tajam. "Haa? Kenapa kalian harus ikut dengan kami?"
"Kita kan udah lama gak jalan-jalan bareng kalian." Kiba nimbrung seraya menatap Sasuke. "Ne Sasuke?"
Sasuke mengangguk mengiyakan. "Hn."
Melihat reaksi Sasuke membuat Ino dan Sakura menjadi bersemangat.
"Yosha ayo kita buat hari ini menyenangkan!" seru Sakura penuh semangat.
"Yeah!" respon Ino dan yang lainnya-semangat.
(눈_눈)
"Tadaima!" Shion terburu-buru masuk kedapur.
Terlihat Naruto tengah duduk sambil menikmati jus jeruknya. Dia menatap Shion ramah. "Yo Shion! Okaeri!"
"Naruto ikut aku!" Shion menarik kaos orange yang dipakai Naruto.
"Eh kemana?" tanya Naruto bingung.
"Ke supermarket!"
"Ogah! Males banget!" Naruto mencoba melepas tangan Shion dari bajunya.
Gret!
Shion mempererat genggamannya pada baju Naruto.
"Hey! Lepasin!"
Shion menatap Naruto tajam. "Nggak sebelum kamu mengantarku ke Byakumart-Gan!"
"Tsk!" Naruto mendecakkan lidahnya. "Shion yang cantik, baik hati dan tidak sombong. Hari ini aku nggak masuk sekolah, masa aku keluyuran sih?!"
Shion menatap Naruto memelas. "Pleaseeee. Hari ini mulai dari jam tiga ada diskon sampe 50% lhoo! Dan hari ini juga doujin ya-oi anime 'borutal' karya Konan Tenshi-sama rilis! Aku mau membelinya sebelum kehabisan! Aku nggak mau nebeng baca punya Ajisai seperti buku sebelumnya."
Naruto sweatdrop mendengarnya. "Nggak mau! Kau suka lama kalo belanja! Aku juga harus kerja!"
"Pleaseee. Aku janji deh bakal selesai sebelum jam 4!" Shion menatap Naruto dengan puppy eyes no jutsu andalannya.
Naruto menarik nafas panjang. "Hhh. Baiklah.. tapi jangan lama ya?"
"Iyaa.. iya!" Shion meyakinkan.
"Janji?!"
Shion memutar bola matanya-bosan. "Iya! Aku juga traktir kamu soft cream jeruk kesukaanmu deh!"
"Eh beneran?" Naruto yang beraut muram karena merasa terpaksa berubah jadi sumringah. "Yosh! Bentar ya! Aku ngambil jaket dan kunci motor dulu." Naruto berlari ke kamar bernomor 5-kamarnya.
"Cepetaaaaan!"
"Iya!" Naruto keluar dari kamar seraya menguncinya. Dia menghampiri Shion sambil memakai jaket hitam corak orangenya. "Ayo!"
"Lets go!"
(눈_눈)
Sakura merentangkan tangannya didepan gedung karokean. "Menyenangkan sekali!" Sakura menatap teman-temannya bergantian. "Selanjutnya kemana?"
"Game center yuk!" ajak Kiba antusias.
Tenten menggeleng-geleng kepala sambil menatap Kiba heran. "Hhh. Kita udah dua jam ditempat karokean Kiba!"
Ino tersenyum ramah pada Sasuke. "Bagaimana menurutmu Sasuke-kun?"
"Hn. Aku lapar, cari makan yuk." ucap Sasuke menjawab datar.
Ino dan Sakura menatap Sasuke takjub. Yeah! Ini pertama kalinya Sasuke mengutarakan pendapatnya dan mengucapkan kalimat yang cukup panjang.
"Makan kemana?" tanya Hinata yang sejak tadi diam saja.
"Kalau mau yang dekat, kita bisa ke supermarket itu." Shikamaru menunjuk supermarket yang berada didepannya yang dipisahkan oleh jalan raya. "Aku ingin segera pulang setelah membeli roti dari sana."
"Ah kau benar." Kiba menatap supermarket tersebut. "Hm?" Kiba menyipitkan matanya. Fokus. "Hey! Bukankah itu Naruto?" Kiba menunjuk dua orang pirang yang keluar dari supermarket.
Seorang pemuda berpakaian jaket hitam dan jeans biru longgar dengan kedua tangannya penuh oleh plastik besar berisi belanjaan dan seorang gadis cantik berseragam Konoha Gakuen yang tengah memegang soft cream dan sebuah kantong plastik kecil. Semua orang menatap kedua orang itu yang tengah berjalan sambil berbincang.
"Wahh kau benar! Dan bukankah cewek itu Shion?" Choji membenarkan sekaligus menebak.
"Iya.. sepertinya dia Shion." ucap Shikamaru.
Para gadis manatap Shikamaru dan yang lainnya heran. "Kalian mengenalnya?" tanya Tenten.
Kiba mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Tenten. "Tentu saja. Dia anak kelas satu yang cukup populer loh! Dia pintar dengan nilai yang selalu teratas, ramah pada siapapun dan jago basket."
"Hoo." Tenten mengangguk-anggukan kepalanya. "Pantas saja aku merasa pernah melihatnya."
Ino hanya diam terpaku menatap Naruto berjalan bersama orang lain.
Gret!
Pegangan pada tas selempangnya mengerat saat melihat Shion menyodorkan es krim yang dipegangnya dan dengan senang hati Naruto menjilatnya. Ino terus menatap Naruto yang semakin menghilang dari pandangannya saaat dia belok ke belakang supermarket yakni tempat parkir.
"Sebaiknya kita kesana saja! Saat ini aku sangat lapar."
"Hn."
"Kau benar Choji, aku juga sudah sangat lapar." Kiba mengikuti Choji yang berjalan menuju perempatan untuk menyebrang di lampu merah diikuti teman-temannya.
"Ino?"
"E-Eh?" Ino menatap Hinata yang menatapnya heran. "Ya?"
"Kenapa melamun? Ayo!"
"A-Ah baik!"
Ino dan Hinata berjalan bersampingan menyusul teman-temannya menuju supermarket.
"Wah supermarketnya penuh orang!" seru Kiba takjub saat mereka baru sampai pintu masuk.
"Mungkin karena diskon hari ini cukup besar." Shikamaru menunjuk plang diskon dipinggir pintu otomatis supermarket.
"Ah kau benar." Choji mengeluarkan uang dari ransel hitamnya. "Biar aku saja yang masuk. Kalian tunggu di bangku taman." Choji menunjuk taman kecil yang tak jauh dari sana. "Kalian mau nitip apa?"
"Aku roti daging." Shikamaru memberikan sejumlah uang pada Choji. Dia tak suka berhutang.
"Aku juga." Kiba menambahkan. "Bagaimana denganmu Sasuke?"
"Sama."
"Oke.. kalau kalian?" tanya Kiba.
"Aku sama seperti Sasuke." Sakura menyahut antusias.
"Aku roti melon." Tenten melirik Hinata dan Ino. "Kalian?"
Hinata menunjuk dirinya sendiri. "Aku ingin roti coklat."
"Aku juga. Coklat." tambah Ino.
"Baiklah.. sudah kucatat." Ternyata Choji mencatatnya di kertas kecil. "Kalau minumannya?"
"Terserah kau saja." Ino menyahut acuh.
"Kami juga." Sakura menambahkan, sementara yang lainnya mengangguk.
"Baiklah kalau begitu." Choji langsung masuk kedalam supermarket tersebut sementara teman-temannya berjalan menuju taman.
(눈_눈)
Setelah berpisah dengan Sasuke dan teman-temannya, Ino beserta teman-temannya berniat pulang. Mereka berjalan menuju stasiun.
"Ah tadi menyenangkan sekali! Tak terasa sudah jam 5!" Sakura menatap Ino, Hinata dan Tenten sumringah-dihiasi bunga-bunga imaginer kecil yang betebaran disekitarnya. "Lain kali kita ke taman bermain yuk!"
"Oh boleh juga." sahut Tenten tertarik.
"Iya." Hinata menatap Ino berdiri disebelahnya. "Iya kan Ino?"
"Hng? Ah iya." Ino menjawab acuh seraya menuruni tangga stasiun.
Sakura, Tenten dan Hinata menatap Ino heran.
"Kau kenapa Ino?" tanya Tenten.
Ino menoleh pada teman-teman dibelakangnya. "Aku kenapa emang?"
"Kau terlihat aneh." jawab Hinata.
Ino menghentikan langkahnya sambil menatap teman-temannya bingung. "Aneh gimana?"
"Ah!" Sakura tersenyum penuh arti menatap Ino. "Jangan-jangan kau lagi mikirin Naruto ya?"
"HAAAA?"
Tuk!
"WAAA!"
Gubrakk!
Ino terkejut mendengar ucapan Sakura hingga tak memperhatikan langkahnya dan terantuk kakinya sendiri.
"Ino kau tidak apa-apa?" Dengan raut khawatir, Sakura menuruni tangga menyusul Ino yang terjerembab-jatuh-terduduk dikuti Tenten dan Hinata.
Ino menundukan kepalanya sambil memegang kakinya. "Ino kau tak apa?" tanya Tenten setelah berjongkok didepan Ino.
Clak.
"Eh?" Tenten melihat tetesan air jatuh ke lantai. Ino menangis. "Sesakit itukah?"
"I-Ino.." Hinata menepuk bahu Ino khawatir.
"Hiks."
"Ayo kita antar ke dokter." Sakura membantu Ino berdiri.
Ino meletakan tangannya di matanya. "Hiks. Sakit.. HUAAAAAAA! SAKIT BANGET! KAA-SAAAAN. HUWAAAA~!"
Tangis Ino meledak di stasiun yang ramai-membuat orang-orang menoleh padanya sejenak.
"Aku antar dia ke dokter dulu!" Tenten meraih tangan kiri Ino kemudian mengalungkannya di bahunya.
Hinata membawakan tas Ino. Dia menatap Ino penuh arti. 'Kau menangis sakit kaki atau sakit hati melihat Naruto bersama gadis lain? Kau aneh dari tadi.' batin Hinata tapi tak berani mengutarakannya karena takut malah dimarahi. Hinata cukup tahu aja.
(눈_눈)
"Ino sayang!"
Tok! Tok! Tok!
Ino membuka matanya karena mendengar ketukan di pintu kamarnya. "Masuk aja Kaa-san!" Ino bangun kemudian duduk di sisi ranjang sambil merapikan kaos putihnya yang kusut dan rambutnya yang acak-acakan.
Krieet!
"Ada Naruto menjengukmu nih." Sumire membuka pintu kamar Ino dihiasi seyum penuh arti.
Dengan cepat Ino langsung mengalihkan pandangannya pada ibunya. Dibelakang ibunya, terlihat Naruto yang masih memakai seragam sekolah tengah tersenyum padanya. "Na-Naruto." ucap Ino parau.
Sumire menatap Naruto dihiasi senyuman lembutnya. "Masuk aja nak! Ibu buatkan teh dulu!"
"Arigatou Sumire-san." Naruto mengangguk hormat.
Sumire hanya tersenyum menanggapinya kemudian meninggalkan Naruto dan Ino-menuju dapur.
"Ojamashimasu." Naruto masuk kekamar Ino kemudian duduk disampingnya. "Kau tak apa-apa Ino?"
Ino menggeleng pelan.
"Aku membawakanmu jeruk segar nih." Naruto mengeluarkan kantong plastik putih berisi jeruk dari ranselnya kemudian memberikannya pada Ino.
"A-Arigatou." Ino menaruh jeruk tersebut disampingnya.
Naruto menatap Ino tajam seraya mengelus rambut Ino yang tak diikat seperti biasanya. "Matamu sembab. Apa kau menangis?"
Ino kembali menggeleng. Dia menatap Naruto dari ekor matanya. "Na-Naruto.."
"Ya?" Naruto menatap Ino antusias.
Ino ragu untuk menanyakannya. "Ke-Kemarin kau tak masuk? Ke-Kenapa?"
"Ah.. semalaman aku tak enak badan, jadi bangun kesiangan.." Naruto tersenyum penuh arti. "Apa kau khawatir padaku?"
Ino salah tingkah, dia mencubit ujung celana jeans biru selututnya. "E-Entahlah.."
"Hmm." Naruto tersenyum geli melihat tingkah Ino.
"Aku bosan.." gumam Ino pelan.
"Apa kau ingin kesuatu tempat?" Naruto menggenggam tangan Ino.
Ino menggeleng. "Tidak."
"Kalau begitu, kuajak kau ke suatu tempat.. mau?"
"Eh? Ta-Tap-"
"Bentar ya! Aku mau minta izin dulu pada orang tuamu." Naruto memotong ucapan Ino seraya berdiri dan berjalan menuju pintu.
Cklek!
Naruto terkejut saat membuka pintu karena Sumire tengah berdiri didepan pintu sambil memegang nampan berisi teh dan cemilan. "Eh, Sumire-san.. saya mau mengajak Ino keluar sebentar.. apakah diizinkan?"
"Yahh. Sayang donk ini teh-nya." Sumire terlihat sedikit kecewa.
Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Ah kalau tak diizinkan pun tak apa kok!"
"Bukan begitu." Sumire masuk kedalam kamar Ino seraya meletakan nampan teh dan cemilan di meja belajar Ino kemudian menatap Naruto dihiasi senyuman lembutnya. "Kalian boleh pergi, tapi harus diminum dulu suguhannya."
Naruto tersenyum kaku. "Ah baiklah."
"Sini duduk!" Sumire menepuk-nepuk kursi belajar Ino-memberi isyarat agar Naruto duduk disana.
"I-Iya." Naruto duduk di kursi belajar Ino.
"Cobalah."
Naruto mengangguk kaku. "Itadakimasu."
Sumire senang melihat Naruto mencicipi masakannya. "Bagaimana rasanya? Ini pretzel pertamaku. Ehehehe."
Naruto melahap kue berbentuk simpul tiga tersebut. "Enak kok Sumire-san."
"Ah syukurlah." Sumire tersenyum malu-malu.
"Kaa-san.. maaf, tolong ambilkan cardigan ungu-ku di lemari." Ino menunjuk lemari bajunya.
"Ya sayang." Sumire membuka lemari tersebut seraya mengeluarkan cardigan ungu pucat kemudian memberikannya pada Ino.
Ino langsung memakainya. "Arigatou kaa-san."
"Ya.." Sumire tersenyum lembut. "Kalian boleh pergi." Sumire keluar dari kamar Ino.
"Ugh!" Ino mencoba berdiri tapi kakinya masih ngilu.
Melihat tingkah Ino, Naruto menghampiri Ino. "Masih sakit kah? Aku angkat ya!" Naruto meletakan kedua tanganya di pingggang Ino kemudian mengangkatnya seperti mengangkat anak-anak.
"Hey!" Ino protes karena tidak suka diperlakukan seperti anak-anak yang bermain takai-takai bersama ayahnya. "Kau membuatku terlihat seperti balita!"
"Ahahaha. Maaf." Naruto menurunkan Ino.
Sret!
Ino digendong ala bridal style. "Kali ini kau takkan protes kan? Sweetheart?" tanya Naruto dihiasi senyuman lembutnya.
Blushhh.
Ino merona seketika. "He-Hey! Turunkan aku! Ini memalukan bodoh!"
"Diamlah! Kalau kau berontak malah terlihat seperti ayah yang memaksa anaknya untuk berhenti bermain.. bukan pangeran yang mengangkat seorang putri dipangkuannya." Naruto tertawa geli dengan ucapannya sendiri.
"Huh! Ngaco!" Ino tak lagi berontak.
Setelah sampai halaman rumah, Naruto menurunkan Ino dengan hati-hati. "Tunggu disini sebentar ya!"
Ino mengangguk. "Ya."
Naruto membuka pagar rumah Ino kemudian menstater motornya dan melajukan motornya ke depan luar pagar. Naruto kembali menghampiri Ino kemudian menggendongnya kembali ala bridal style seraya berjalan menuju motor dan mendudukkan Ino di jok motor.
Naruto menutup pagar rumah Ino kemudian menaiki motornya. "Kau siap?"
"Ya."
"Peluk yang erat ya."
"Hn." Ino meniru trade mark Sasuke seraya memeluk Naruto dari belakang.
Naruto menstater dan melajukan motornya menjauh dari rumah Ino.
(눈_눈)
Sudah 15 menit Naruto dan Ino melesat dengan kecepatan tinggi. Ino mengeratkan pelukannya pada Naruto. "Naruto! Jangan ngebut!" Ino sedikit berteriak.
Naruto menurunkan kecepatan motornya. "Iya maaf! Aku hanya ingin cepat sampai!"
"Memangnya kita mau kemana?"
Naruto menatap Ino lewat kaca spion. "Tempat yang keren. Hehehe." Naruto nyengir kuda dibalik helmnya.
Ino mulai khawatir karena mereka telah melewati perbatasan kota dan tengah masuk kejalan yang melewati hutan yang terkenal angker. Orang-orang di Konoha sering menyebutnya 'hutan kematian'.
Ckit!
Naruto mengerem motornya. "Nah disini."
"Eh?" Ino heran karena Naruto berhenti di pinggir jalan tepat ditengah hutan kematian.
Naruto mematikan motornya kemudian turun. "Yosh! Ayo!"
"Eh? Kenapa kita berhenti disini?" Raut khawatir tercetak jelas diwajah Ino. "Apa kau mengajakku masuk kedalam hutan?"
Naruto menganggukan kepalanya dihiasi senyuman penuh arti. "Hm."
Ino bergidik takut. "Aku nggak mau!"
Naruto menatap Ino dengan tatapan memohon. "Oh ayolah! Kita sudah sampai sejauh ini!"
"Ta-Tapi.."
"Come on.." Naruto kembali menggendong Ino ala bridal style.
"Hey turunkan aku! Aku tak mau kesana!" protes Ino sambil berontak.
"Tck." Naruto berdecak kesal. "Diamlah Ino. Kau membuatku terlihat seperti pemerkosa."
Ino langsung diam.
Naruto berjalan di jalan setapak yang ada dihutan rimba tersebut. Suara serangga terdengar saling bersahutan menyambut kedatangan mereka.
"Kita sampai!"
"Eh." Ino tersadar dari lamunannya, tersadar dari lamunan membayangkan berbagai pikiran negatif yang tengah berkeliaran di otaknya.
Naruto menurunkan Ino di padang rumput yang tak cukup luas. "Lihat kesana Ino!"
Ino langsung mengalihkan pandangannya ketempat yang ditunjuk Naruto. "Waaah!" Ino berdecak kagum melihat danau kecil dengan air yang sangat jernih dikelilingi padang rumput dan beberapa bunga liar yang tumbuh disana. Ino sangat kagum dengan pemandangan danau berdiameter kurang lebih 20m di tengah hutan mengerikan tersebut.
"Nah sekarang ayo duduk disini!" Naruto menepuk-nepuk batu besar yang bertengger dibelakang Ino.
Naruto membantu Ino duduk di batu tersebut. "Arigatou." Ino kembali menatap danau tersebut. "Kenapa kita tak melihatnya lebih dekat? Hah? Jangan-jangan disana ada buaya?!" Ino menatap Naruto dan danau bergantian was-was.
Naruto terkikik geli sambil menggelengkan kepalanya. "Bukan. Bukan. Lihat aja nanti!" Naruto melihat jam tangan hitam yang melingkar di tangan kirinya. "Sebentar lagi kau akan terkejut." Naruto mengeluarkan handphonenya. "Sip! Handpone sudah siap!"
"Eh?"
PYUUUURRRR!
Air menyembur hampir setinggi 5 meter dari tengah danau tersebut.
"Lihat Ino!"
Ino menatap tiang air yang ditunjuk Naruto-kagum. "Apa itu? Air mancur?"
"Itu geyser Ino! Nah ayo kita foto!" Naruto menotak-atik handphone-nya.
Ckrek! Ckrek!
Naruto memoto geyser tersebut seraya berdiri kemudian mengulurkan tangannya pada Ino. "Ayo foto bersama."
"Ya." Dengan senang hati Ino menerima uluran tangan Naruto seraya berdiri dibantu kekasihnya.
"Nah ayo senyum!" Naruto memfokuskan kamera handphone-nya pada Ino dengan background geyser.
Ckrek! Ckrek! Ckrek! Ckrek!
Naruto mengambil gambar Ino lebih dari sekali kemudian menghampiri Ino dan merangkul bahunya.
Ckrek! Ckrek!
Mereka selfie bersama dengan berbagai gaya. Setelah merasa puas, mereka berdua kembali duduk di batu besar yang beberapa saat lalu mereka duduki. "Naruto-kun.. kau tahu darimana tempat keren seperti ini?"
Naruto tersenyum lima jari. "Dari Sai-teman kostanku."
Ino merogoh saku celananya. "Boleh aku minta foto-fotonya?"
"Tentu saja!" Naruto menerima handphone Ino seraya mengotak-atiknya kemudian menunjukannya pada Ino. "Ini nomorku! Hubungi aku kalau ada sesuatu atau kangen ya!"
Ino memutar bola matanya-bosan. "Whatever."
"Aku juga akan save nomormu." Setelah Naruto menyimpan nomor Ino, dia mengirimkan foto-foto mereka tadi lewat bluetooth.
Ino menatap geyser yang ketinggiannya mulai menyusut. "Ne Naruto.. sampai kapan semburan air ini berlangsung?"
"Menurut Sai, sekitar duapuluh menit." Naruto menatap geyser tersebut takjub sebelum menghilang.
Ino mengangguk mengerti seraya menatap Naruto antusias. "Kenapa bisa ada geyser disini? bukannya geyser sering muncul di kota Amegakure atau daerah yang bercuaca ekstrim? Apakah besok akan muncul lagi?"
"E-Etoo. Pertanyaanmu kebanyakan Ino. Aku kurang tahu juga sih. Hehehe." Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Tapi katanya dibawah sana ada saluran air bawah tanah yang besar. Tiap musim dingin, saluran air tersebut akan membeku dan saat musim panas seperti sekarang, mereka akan mencair dan menyembur hingga membentuk danau. Jadi kejadian ini hanya terjadi di musim panas dan menurut perkiraan Sai, geyser disini akan terjadi pada tanggal 20an.. eh ternyata tebakan Sai benar!"
Ino tesenyum geli mendengar Naruto yang berusaha menjelaskan sebisanya. "Oh begitu."
"Ya.." Naruto kembali memfokuskan pandangannya pada geyser yang tingginya sudah kurang dari setengahnya saat pertama kali menyembur. Danau kecil tersebut menjadi luas. Saat ini mungkin sudah berdiameter 30m.
Ino menatap Naruto intens. Dia kembali teringat dengan kejadian kemarin saat melihat Naruto dengan seorang gadis. 'Naruto.. siapa gadis pirang yang bersamamu kemarin?'
"Hng?" Naruto mengalihkan perhatiannya pada Ino. "Ada apa Ino?"
Refleks Ino membuang muka. Dia malu ketahuan tengah menatap Naruto. "Ti-Tidak." Wajah Ino sudah memerah sempurna.
Naruto mendekatkan wajahnya pada Ino.
Cup.
Naruto mencium bibir Ino sekilas.
"Eh?"
Blushhh.
Wajah Ino yang sudah merah semakin memerah saking terkejutnya. 'I-Itu ciuman pertamaku!'
Naruto mendekatkan wajahnya ke telinga Ino. "I Love You So Mad."
Dada Ino bergemuruh mendengar ucapan Naruto. "Pftt. Apaan tuh I love you so mad? Mad? Maksudnya gila?"
Naruto mengangguk mantap seraya menatap Ino dihiasi senyuman lebarnya. "Aku cinta gila deh sama kamu. Benar-benar gila banget! Tiap liat kamu rasanya aku bakal gila! Pokoknya gila deh!"
"Ahahahaha. Apa-apaan tuh." Ino tertawa geli seraya mencubit pinggang Naruto pelan. "Gombal!"
"Ehehehe." Naruto nyengir kuda.
Ino meletakan tangannya di pipi Naruto-menatapnya penuh arti. "Arigatou.. Naruto-kun."
Naruto mendekatkan wajahnya pada Ino seraya mencium bibirmya lembut. Ino memejamkan matanya sambil mengalungkan tangannya di leher Naruto-menikmati dan membalas ciuman sang pacar.
(눈_눈)
Naruto Point Of View: On
"Ada angin apa nih? Dari kemarin makan bareng kita terus."
"Mana pacarmu?"
"Apa sekarang kau udah kembali jomblo?"
"Kenapa gak bawa pacarmu kemari?"
Aku mengacuhkan pertanyaan-pertanyaan gak bermutu teman-teman kostanku. Aku melahap roti yakisoba dengan santainya, kutatap langit biru yang indah dilangit Konoha sambil kusandarkan punggungku dipagar besi atap gedung sekolah.
"Oi Naruto!"
"Apaan sih?" tanyaku jengkel menanggapi seruan berjamaah Gaara, Lee, Ajisai dan Shion.
Lee berdiri disampingku sambil menyedot kotak susu coklatnya. "Ayolah bro! Kapan kau akan kenalkan Sakura-san padaku?"
"Apa yang kau katakan?" Aku mengangkat sebelah alisku. "Aku belum berkenalan dengan teman-teman Ino."
"Huuu! Payah ah!" cibir Lee.
Aku kembali menengadahkan kepala-menatap langit. "Kalau dipikir-pikir, aku juga belum mengenalkan kalian padanya."
"Lalu, kapan kau akan mengenalkan kami padanya?" tanya Shion sedikit antusias.
Ajisai menepuk bahuku pelan. "Apa dia suka cerita boys love? Kalau suka, kita bakal dapat partner baru buat berbagi! Benarkan Shion?!"
"Yeah!" Shion mengangguk mantap.
Aku menatap mereka ngeri. "Oi! Oi! Oi! Jangan coba-coba kotori pikiran pacarku!"
Shion dan Ajisai memutar bola matanya-bosan.
"Jadi.." Gaara menegak jus apelnya. "Kenapa kau tak makan bersamanya? Apa dia masih sakit dan tak masuk sekolah?"
Aku menggeleng pelan. "Nggak! Tadi Ino kuajak makan bersama tapi dia bilang kalau dia ingin makan bersama teman-temannya dan menyuruhku untuk makan dengan teman-temanku yang biasa. Makanya aku makan bareng kalian."
"Apa-apaan itu? Bersiaplah Naruto! Kau akan segera dicampakkannya." Ajisai nyeletuk seenak jidatnya.
"Nggak lah! Enak aja! Dia bilangnya malu-malu gitu loh!" sahutku menyangkal.
Ajisai menarik nafas panjang seraya menghempaskannya kasar. "Terserahlah."
(눈_눈)
TENG TENG TENG
Bell tanda pelajaran berakhir bagaikan panggilan surga untukku. Aku sangat senang pelajaran membosankan ini berakhir. Aku langsung membereskan alat tulisku.
"Yosh anak-anak! Pelajaran hari ini berakhir. Kumpulkan buku paket yang tadi sensei bagikan!" Sensei berambut perak dengan mata seperti mengantuk tersebut mengakhiri pelajaran sejarahnya.
"Baik Kakashi-sensei!" sahut para siswa serempak.
Kakashi-sensei menatapku yang telah beres mengepak alat tulisku. "Uzumaki-kun! Tolong bawakan buku-buku paket ini ke meja saya ya!"
"Eh?" Aku menunjuk diriku sendiri. "Ah baik!"
Aku melangkahkan kakiku menuju meja guru kemudian mengambil buku paket tipis yang bertumpuk di meja. Aku menatap Ino sejenak sambil mengisyaratkan agar dia menungguku dikelas. Aku tersenyum lega karena dia mengangguk tanda mengerti. Aku berjalan mengikuti Kakashi-sensei ke ruangan guru.
"Taruh disini." Kakashi-sensei mengetuk mejanya.
"Baik." Aku menaruh buku tersebut dimejanya. "Kalau begitu, saya permisi sensei."
Kakashi-sensei menganggukan kepalanya. "Hm."
Aku langsung melesat keluar dari ruangan tersebut menuju kelas. Sesampai disana kulihat Ino masih duduk di bangkunya sambil berbincang-berbincang dengan teman-temannya. 'Apa mereka membicarakanku?.' Karena penasaran, aku menahan langkahku masuk kelas dan menguping didepan pintu kelas.
"Kemarin Naruto menanyakanmu Ino. Apa dia datang kerumahmu?" tanya gadis berambut coklat cepol dua. Aku yakin namanya Tenten.
"Ya." Ino mengangguk pelan.
"Aku salut hubunganmu dengannya cukup lama." Sakura si gadis berambut pinky menambahkan sambil duduk di meja Ino.
"Apa sekarang kau menyukainya?" tanya Hinata si gadis bersuara lembut yang memiliki rambut biru donker dengan style seperti Shion.
"A-Apa yang kau katakan?!" pekik Ino.
Reaksi Ino cukup membuatku terkejut. Aku mencoba menahan agar tak segera masuk kedalam kelas.
Tenten menarik nafas panjang sambil menatap Ino heran. "Ino kenapa kau belum juga mengaku pada Naruto kalau kau menyatakan cinta pada Naruto karena kau kalah taruhan?"
'Eh taruhan? Aku? Apa aku hanya bahan taruhan? Ino bilang suka padaku karena terpaksa? Dia tak pernah menyukaiku?' Aku merasa seluruh tubuhku lemas.
"E-Etoo. Banyak hal terjadi.. sulit sekali mengaku padanya kalau a-"
Brakk!
Aku membuka pintu kelas dengan kasar sehingga membuat Ino dan teman-temannya terperanjat.
"Ah Naruto-kun!"
Kuambil tas ranselku kemudian keluar kelas tanpa mempedulikan Ino yang memanggil-manggil namaku.
"Naruto-kun! Tunggu!"
Aku terus berjalan. Berpura-pura tak mendengar panggilannya. Kulirik dia lewat pantulan kaca jendela kelas yang kulewati, dia berlari sambil terpincang-pincang. Sebenarnya aku tak tega tapi amarahku lebih besar dari simpatiku.
Brukk!
Aku mengentikan langkahku seraya menoleh pada sumber suara. Sudah kuduga. Ino terjatuh. "Hhh." Aku menarik nafas panjang seraya menghampirinya. Kuulurkan tanganku agar dapat membantunya berdiri.
"A-Arigatou." Ino menerima uluran tanganku seraya berdiri. Setelah Ino berdiri, aku langsung melepas genggamanku.
"Kau." Aku menatapnya sinis. "Semua ini.. semua yang kita alami.. semuanya karena kau taruhan?"
Ino menundukan kepalanya. "Ma-Maaf."
"Kau.. aku benar-benar tak percaya.." Aku menarik nafas panjang seraya menghempaskannya perlahan. Try to calm down. "Apa yang kulakukan selama ini?" Aku tertawa getir. "Kau pasti selalu menertawakannya.. maaf.. sepertinya aku yang terlalu bermimpi."
"Se-Sebenarnya.. sudah lama aku ingin mengaku padamu.. tapi banyak sesuatu terjadi.." Ino meremas rok-nya kuat. "Aku selalu menundanya.. karena aku sadar a-"
"Cukup!"
Ino menatapku sendu. Matanya berkaca-kaca. "Na-Naru-"
"Kau cewek mengerikan."
Aku berjalan pergi secepat mungkin agar segera menjauh darinya. Sesampai di parkiran, aku langsung menstater motorku dan melajukannya dengan kecepatan tinggi. Caci maki dan umpatan para pengendara yang kusalip tak kupedulikan sama sekali. Kuparkir sembarang motorku dihalaman kostan. Aku masuk kamarku tanpa membalas sapaan teman-temanku yang sedang duduk santai di ruang televisi. Lelah, aku pun terhuyung. Merebahkan diriku diatas kasur sambil memejamkan mataku.
Die!
Just die!
You are Scum!
You are filth!
Choke on blood as your knife ends the show!
Writhe in pain you thought you'd never know!
(Alesana-Annabel)
Suara parau dari ringtone panggilan masuk sangat menggema seolah mengejek kebodohanku. Dengan malas, aku merogoh saku celanaku-melihat nama yang tercantum dilayar handphone-ku.
My Ino Calling...
Klak.
Kubuka tutup handphone-ku seraya melepas baterainya. Kamarku kembali sunyi tanpa suara. Aku kembali menutup mataku dan mengistirahatkan pikiranku.
Naruto Point Of View: On
To Be Continued
(눈_눈) Nell Note:
Halo apa kabar? Kembali lagi dengan lanjutan cerita gaje saya ^-^)/
Gimana chapter ini? Moga aja kalian suka hhe.
Sorry kalau masih banyak typo dan EYD yang gak pas.
Thanks buat visitor yang mau baca cerita mainstream dan membosankan ini, baik itu yang meninggalkan jejak ataupin tidak.
Special thanks buat riviewer chapter sebelumnya yakni: tamiino, Pie Chocolate, Chimi Wila chan, Namikaze Sholkhan, ai chan, Fina, David997, INOcent Cassiopeia, xoxo, luna, hana109710 Yamanaka, Guest, Cinnamons tea, Guest, angels0410, Ahmad MahMudi, Guest & Raffie D'RocketRokers.
Thanks banget feedback-nya sangat membantu saya untuk tetap berkarya. See you next week. (눈_눈)
#Scroll kebawah masih ada omake.
Omake
-Special Lee & Gaara-
Lee dan gaara memasuki sebuah restaurant cepat saji bergaya eropa. "Welcome!" sambut gadis pirang cantik memakai pakaian khas butler.
"Saya ingin memesan-"
"Tunggu Gaara!" potong Lee.
"Haa?"
"Biarkan aku yang memesan." Lee menatap pelayan tersebut. "Excuse me. Badababa boobie?"
"Apa yang kau katakan Lee?" tanya Gaara heran.
Lee tersenyum bangga. "Tentu saja memesan dengan bahasa Inggris."
Pelayan tersebut menatap Lee dan Gaara bingung. "What are you talk-"
"Badababa baba baba."
"What are -"
"-Boobs. Bubi bada baba. Bapi pupi badabi bubi bada baba! Bupi kalipatupala malapigulali"
"-What the fuckin' asshole! No sell boobs in here! Damn damn damn damn damn you!"
Gaara menepuk jidatnya sendiri mendengar Lee dan pelayan yang tengah bicara tak nyambung satu sama lain.
-Omake End-
