Disclaimer : We don't own the character, they are belong to Masashi Kishimoto.
.
.
Naruto Masashi Kishimoto
.
.
—Mashiro+Kanojo—
nyan-himeko and Vanille Yacchan
"Sakura-chan,"
Emeraldnya itu menatap lurus pemuda berambut coklat di hadapannya. Tangannya yang besar mengelus lembut pucuk kepalanya. Dengan senyuman mengembang di bibirnya pemuda itu berkata, "Aku akan membuktikan akulah satu-satunya pacarmu."
Kemudian emeraldnya melirik seorang pemuda berambut emo yang berada di samping kanannya. Pemuda itu menggapai tangan mungilnya dan mendaratkan sebuah ciuman di punggung tangannya, "Aku akan mencurahkan seluruh jiwa dan tubuhku untukmu, hime-chan~"
Tiba-tiba ia merasakan seseorang memeluknya dari belakang, lengannya yang besar itu merengkuhnya dengan lembut. Pelukan itu sangat hangat. Sebuah suara berat mengalun dengan indah di gendang telinganya, "Aku tidak akan membiarkan orang lain memilikimu…"
"Senpai…" emeraldnya kembali bergulir, mendapati pemuda berambut putih di samping kirinya, "aku akan membuatmu jatuh cinta lagi denganku," tangannya terjulur, menyematkan sebuah bunga di telinganya. Lalu jari-jari panjangnya itu mengelus lembut pipi putihnya. "Kau cantik, senpai."
Sentuhan lembut di tangan kirinya sontak membuat emeraldnya kembali menoleh. Emeraldnya bersibok dengan sepasang mata sehitam jelaga. Indah. Satu kata itu yang bisa Sakura deskripsikan. Mata indah yang menatapnya penuh damba. Pemuda itu membuka mulutnya, "Kau dan aku itu satu…" ia meletakkan tangan besarnya dipermukaan telapak tangan Sakura kemudian ia menautkan jari jemarinya yang panjang, "Haruno… aku tidak akan melepaskanmu."
"Haruno Sakura," seseorang membisikkan namanya. Entah kenapa ia sangat menyukai ketika orang itu melontarkan namanya. Emeraldnya kembali bergulir mendapati seorang pemuda berambut hitam jabrik yang tersenyum lebar di samping kanannya.
Tiba-tiba ia menyandarkan kepalanya di bahu Sakura, "Haruno Sakura… kau seperti setengah bagian jiwaku. Kalau aku kehilanganmu rasanya… setengah bagian jiwaku akan mati."
Aneh.
Pemuda berambut hitam jabrik itu tidak seperti biasanya. Sakura menggeleng kuat. Ini mimpi!
Ini tidak mungkin!
Sontak kesadaran meliputi dirinya. Kalau dipikir-pikir ia seperti seorang playgirl yang dikelilingi keenam pacar tampannya. Segera gadis itu menghentakkan ke dua tangannya lalu melepaskan pelukan dan menjauhkan kepala pemuda hitam jabrik itu dari bahunya. Emeraldnya bergulir menatap satu per satu keenam pemuda yang kini memasang wajah bingung.
"Sakura-chan!"
"Haruno!"
"Sakura!"
"Haruno-senpai!"
"Haruno-chan!"
"Haruno Sakura!"
Bak paduan suara secara serentak keenam pemuda itu memanggil namanya. Sakura bergidik ngeri ketika keenamnya secara perlahan mendekat ke arahnya. Bola matanya berputar-putar berusaha mencari celah untuk melarikan diri.
Tapi nihil!
Ia benar-benar seperti anak ayam menyedihkan yang tertangkap oleh sekumpulan rubah yang mengerikan.
Bagaimana bisa jadi seperti ini?
Dikelilingi oleh keenam pemuda yang siap memonopolinya. Sakura hampir mati lemas.
Kumohon jika ini mimpi. Segera bangun bodoh!
…
…
"Sakura-chan hati-hati di jalan!" Wanita paruh baya di hadapannya memasang wajah khawatir seraya tangannya dengan cekatan merapikan pita hitam yang melingkar di lehernya.
"Benar kau tidak mau diantar?"
Sakura menggeleng lemah. Bibirnya mengembang menampilkan senyuman cerah. Berusaha meyakinkan ibunya kalau ia baik-baik saja.
"Ya, Bu! Aku masih sedikit ingat jalan menuju sekolah."
Bohong.
Sakura tidak ingin membebani ibunya ketika penyakit amnesia menggerogoti memorinya. Sakura akan memikirkannya nanti bagaimana ia akan mencari sekolahnya. Mungkin dengan aplikasi GPS di ponsel. Ngomong-ngomong memangnya ia punya ponsel? Ah—persetan dengan ponsel. Mungkin Sakura akan mengikuti orang yang mengenakan seragam yang sama dengannya. Voila ternyata ada cara yang lebih mudah. Yah… walaupun ia akan dicap seperti penguntit. Apa boleh buat.
Ibunya—Haruno Mebuki—menatap Sakura agak lama. Nampak ekspresi tidak percaya terpampang di wajahnya yang sedikit menua.
"Bu," tangan Sakura bergerak menyentuh lengan ibunya, "aku akan baik-baik saja. Tenanglah. Jangan mencemaskanku, oke?"
Haruno Mebuki menghela napas merasa kalah dengan keyakinan yang ditampakkan di wajah putri satu-satunya, "Baiklah."
Sedetik kemudian Haruno Mebuki menggelengkan kepalanya. Sepertinya Haruno Mebuki masih merasa tidak yakin. Ia melepaskan sentuhan tangan Sakura lalu menggenggam tangan putrinya, "Apa perlu kubangunkan ayahmu? Dia sedang libur atau apa aku harus memanggil Sasori?"
Sasori.
Sontak bulu kuduk Sakura meremang mendengar nama itu. Gara-gara mimpi tadi malam Sakura terjaga sampai pagi. Sungguh mimpi buruk yang membuatnya tidak bisa melanjutkan tidurnya. Sakura berharap di saat jam pelajaran nanti ia tidak akan tertidur.
Semoga saja.
Dengan lembut ia melepaskan genggaman ibunya. Lalu mengecek jam tangannya. Memasang wajah pura-pura panik Sakura buru-buru berkata, "Ah… sepertinya aku akan terlambat, Bu! Tidak usah repot-repot membangunkan ayah ataupun memanggil… Sasori-nii," rasanya lidahnya terasa aneh ketika menyebut nama pemuda itu.
Ini semua karena mimpi sialan!
"Sampai jumpa! Aku berangkat, Bu!"
Sebelum ibunya menyahut Sakura buru-buru menyeret kakinya keluar pekarangan rumah. Sedetik kemudian Sakura membalikkan tubuhnya lalu melambai ke arah ibunya yang masih mengawasi di ambang pintu. Tak ingin membuang waktu Sakura memutar tubuhnya. Emeraldnya melirik sekumpulan gadis-gadis dengan seragam yang sama melewati rumahnya.
Lucky.
Dengan percaya diri gadis merah muda itu melangkah mengikuti mereka. Merasa jauh dari pandangan ibunya. Sakura menghela napas dalam. Kepura-puraan ini benar-benar menyiksanya. Tapi, ia harus berusaha tidak akan menyulitkan ayah dan ibunya hanya karena amnesia sialan.
Tiba-tiba pikirannya bergulir mengenai mimpi buruk semalam. Keenam pemuda yang akhir-akhir ini mengaku sebagai pacarnya.
Pacar, huh?
Tentu saja Sakura sama sekali tidak mempercayai pengakuan keenam pemuda itu. Dan sejujurnya ia benar-benar berharap semua ini hanya kebohongan semata. Ya—jika mereka berbohong pasti mereka memiliki alasan tersendiri, bukan?
Dan jika ini memang benar…
Dipastikan keenam pemuda itu memang benar pacarnya. Sakura berteriak histeris dalam hati. Jika memang benar begitu Sakura telah sukses menghancurkan perasaan keenam pemuda itu, tidak hanya Sakura yang melupakan tentang mereka tetapi yang lebih parahnya ada beberapa pemuda yang mengaku sebagai pacarnya juga.
Tiba-tiba muncul bayangan wajah kecewa keenamnya. Sontak membuat Sakura merasa bersalah.
Tanpa sadar gadis Haruno ini mengacak helaian merah mudanya. Apa yang harus ia lakukan nanti ketika bertemu mereka lagi di sekolah? Setelah terbangun dari mimpi sialan itu semalaman Sakura memikirkan solusi bagaimana menghadapi keenamnya. Tapi otaknya sama sekali tidak bersahabat.
Apakah aku harus minta maaf?
Tiba-tiba sebuah ide cemerlang terbersit di otaknya.
Benar juga! Minta maaf. Aku akan menemui mereka nanti.
Bibirnya mengembang memikirkan ide itu. Sakura masih berjalan santai mengikuti sekumpulan gadis-gadis berisik yang tak jauh darinya.
Pikirannya kembali bergulir, Sakura berpikir kejadian yang ia alami sekarang—dengan keenam pemuda tampan yang mengaku sebagai pacarnya—seperti mimpi di siang bolong.
Tidak realistis.
Memangnya apa yang mereka sukai dari Haruno Sakura?
Disamping gila belajar, Haruno Sakura sama sekali tidak memiliki kelebihan hormon feromon yang membuat setiap lelaki mana pun tergila-gila dengannya. Ia gadis biasa. Sangat biasa. Tidak ada yang menonjol dari segi penampilannya—terkecuali dengan warna rambutnya yang mencolok—dan kadang keberadaannya tidak bisa dirasakan
Kalau kau bertanya apa hobi gadis Haruno satu ini, ia akan sangat cepat merespon 'membaca'. Hobi yang sangat membosankan. Jadi, hal hebat apa yang membuat keenam pemuda itu sangat tergila-gila dengan Haruno Sakura sehingga otak mereka yang Sakura yakini masih sangat waras menjadi sinting karena mengaku sebagai pacarnya?
Sakura menghela napas dalam.
Cowok-cowok itu…
Sakura mengenang kembali bagaimana perawakan keenam pemuda tampan—yang mengaku sebagai pacarnya.
Inuzuka Kiba, rambutnya yang lembut berwarna coklat. Dua buah tato berwarna merah—yang Sakura yakini mungkin tanda lahir—yang menghiasi kedua belah pipinya. Inuzuka-kun pemuda yang paling berisik tapi selalu membuatnya tertawa dengan guyonan-guyonannya yang apik. Ia paling sering beradu argumen dengan Uchiha Sasuke.
Hm… Uchiha Sasuke.
Pemuda itu sama sekali tidak ada manis-manisnya, sepertinya mulutnya memang didesain selalu mengeluarkan kalimat-kalimat tidak menyenangkan. Sakura tidak yakin sebelum ia mengalami amnesia apa ia cukup akur dengan pemuda satu itu. Yang paling Sakura kagumi dari Uchiha Sasuke adalah dua pasang matanya. Onyxnya yang sehitam jelaga itu sungguh indah.
Lalu…
Utakata-senpai. Pemuda satu itu memang sangat hobi melontarkan kalimat-kalimat aneh yang Sakura yakini kalimat rayuan untuk menaklukkan lawan jenis. Tampangnya yang super keren—dengan gaya rambut emo—menambah poin plus di mata makhluk bergender hawa. Walaupun Utakata-senpai begitu, ia sedikit banyak membuat hari-hari membosankan Sakura di rumah sakit menjadi lebih berwarna.
Otsutsuki Toneri… pemuda berambut putih yang selalu memanggilnya senpai dengan wajah riang. Pemuda yang selalu bercerita mengenai karya tulis Haruno Sakura yang luar biasa mengangumkan, sehingga membuat Sakura selalu tersenyum ketika mendengar Otsutsuki Toneri menceritakannya dengan antusias. Sifatnya yang lugu dan polos sungguh menggemaskan. Tak heran selalu menjadi bulan-bulanan Utakata-senpai.
Akasuna Sasori, ibunya bilang Sasori merupakan teman masa kecilnya. Haruno Sakura sudah ia anggap sebagai adiknya yang manis. Sifatnya yang tenang, perhatian, dan cerewet mirip seperti ibu-ibu ketimbang kakak laki-laki. Sepertinya ketika Sakura mengalami koma. Akasuna Sasori selalu ada di sampingnya.
Dan yang terakhir…
Uzumaki Menma.
Apa yang Sakura dapat dari pengamatannya selama di rumah sakit, Uzumaki Menma tidak terlalu banyak bicara—Sakura juga tidak yakin apa Uzumaki Menma memang sengaja menutup mulutnya karena tidak biasa dengan kelima pemuda lainnya—. terkadang ada di antara kelima pemuda yang melontarkan ejekan kepadanya, spontan pemuda berambut hitam itu mengeluarkan aura tidak menyenangkan. Sepertinya pengendalian dirinya sungguh menyedihkan. Kalimat-kalimat yang ia lontarkan tidak lebih sama seperti Uchiha Sasuke. Tapi, Sakura yakin dibalik sifat Uzumaki Menma yang terlihat keras, sebenarnya pemuda itu menyembunyikan sifat lembutnya. Sakura bisa melihat dari tatapan matanya yang selalu mengarah kepadanya.
Gadis merah muda itu kembali menghela napas.
Setelah serentetan pemikiran memenuhi otaknya. Sakura menyimpulkan bahwa situasi yang ia alami sekarang benar-benar tidak jelas dan rumit. Sakura mendesah, sepertinya terlalu banyak berpikir membuat kepalanya agak pusing.
Salahkan keenam pemuda itu yang membuatku seperti ini.
Tiba-tiba emeraldnya mendapati bangunan besar yang berdiri kokoh di hadapannya. Tidak salah lagi bangunan besar ini SMA Konoha. Ia bisa melihat siswa—dengan seragam yang sama—berjalan memasuki gerbang sekolah. Sakura menelan ludahnya kuat. Reflek tangannya bergerak mencengkeram ujung rok hitam kotak-kotak. Hatinya benar-benar tidak siap. Emeraldnya menyapu sekeliling. Sepertinya siswa yang berjalan melewatinya sama sekali tidak menyadarinya. Sakura menarik napas pelan. Lalu kembali melangkah menuju gerbang sekolah.
Bersikaplah seperti biasa.
Chapter III : Dating – Inuzuka Kiba
Betapa mengejutkan!
Apa yang terjadi pada SMA Konoha? Apakah sekumpulan alien pernah menginvasi sekolahnya dan memakan otak semua siswa dan guru kemudian menggantinya dengan otak tiruan?
Sakura dibuat bingung dengan sikap acuh tak acuh mereka, bahkan teman-teman sekelasnya—kecuali Inuzuka Kiba dan Uchiha Sasuke yang selalu meliriknya tetapi Sakura berusaha mengacuhkan tatapan kedua pemuda itu—mereka bersikap seolah-olah kejadian yang menimpa Haruno Sakura tidak pernah terjadi. Saat jam pelajaran berlangsung Kakashi-sensei sama sekali tidak mengatakan 'selamat bergabung kembali di kelas Haruno Sakura'. Semuanya berjalan normal bagi mereka. Tapi, tidak bagi gadis merah muda itu. Jauh di lubuk hati Sakura, ia mengharapkan teman sekelasnya dan Kakashi-sensei menanyakan keadaannya.
Sekarang Sakura menyadari kehidupannnya sebelum amnesia benar-benar menyedihkan.
Gadis Haruno itu mendesah. sembari menumpu wajah dengan satu tangan. Emeraldnya melirik sekumpulan gadis-gadis yang tertawa—menurut Sakura sedang membicarakan sesuatu yang lucu—dari balik jendela perpustakaan. Buku yang sedang ia baca seakan tidak memiliki gairah lagi, emeraldnya lebih memilih menatap sekumpulan gadis-gadis itu.
Aku harap aku punya teman.
Tiba-tiba pikiran aneh menerjang otaknya.
Sakura menggeleng lemah. Sepertinya keinginannya yang cukup sederhana itu tidak akan pernah terjadi. Emeraldnya bergulir kembali menatap buku yang terbuka lebar di depannya. Ia membalik-balik lembaran buku dengan wajah bosan.
Masalah yang dihadapinya tidak hanya itu saja. Sakura sengaja berada di perpustakaan selama beberapa jam—bahkan rela membolos—hanya untuk menghindari mereka.
Ya… keenam cowok itu!
Niat Sakura untuk meminta maaf kepada keenamnya benar-benar pupus. Gara-gara mimpi terkutuk itu, menatap mereka saja Sakura tidak berani. Ketika jam pelajaran Kakashi-sensei selesai Inuzuka Kiba dan Uchiha Sasuke memanggilnya. Seakan menulikan telinganya, Sakura bergegas keluar kelas. Nasib buruk masih menimpanya, tepat di koridor Sakura bertemu Utakata-senpai, Akasuna Sasori, dan Otsutsuki Toneri. Mereka hendak menyapa gadis merah muda itu. Spontan Sakura membalikkan badannya dan tanpa berpikir panjang ia menyeret kakinya cepat-cepat.
Sepertinya nyalinya benar-benar tidak bisa diharapkan!
Haruno Sakura mendecakkan lidahnya. Otaknya yang bisa dikatakan sangat pintar itu benar-benar tidak kuat menampung solusi untuk menghadapi keenam pemuda itu. Sakura melirik sekilas jam tangannya. Emeraldnya membulat sempurna. Beberapa menit yang lalu sekolah sudah usai. Sakura mengerling ke arah penjaga perpustakaan yang sepertinya terus-terusan menatapnya. Kemudian gadis itu menyapu pandangan di sekelilingnya.
Kosong.
Hanya tinggal Sakura yang berada di perpustakaan—dan petugas perpustakaan tentunya. Segera ia bangkit dari duduknya, menaruh buku di rak yang tidak tertata rapi. Tersenyum kikuk ke arah petugas perpustakaan, Sakura bergegas keluar dari tempat pelariannya.
Hari yang benar-benar melelahkan.
Haruno Sakura melangkah terburu-buru menuju kelas. Ketika tangannya menggeser pintu kelas langkahnya terhenti. Emeraldnya mendapati seorang pemuda berambut coklat dengan dua tato berwarna merah menghiasi kedua belah pipinya. Salah satu biang permasalahan yang sedang ia hindari.
Inuzuka-kun.
Mata hitam itu beradu dengan emeraldnya. Bibirnya mengembang melihat Haruno Sakura yang masih memasang wajah kaget.
"Ah! Sakura-chan!"
Inuzuka Kiba sambil menenteng tas birunya berjalan mendekati Sakura yang kini memasang wajah gugup.
"Aku khawatir sekali tahu! Aku kira kau sakit atau kenapa?" Tidak disangka tangan besar Inuzuka Kiba menyentuh lengannya. Sakura berjengit. Kiba yang menyadari ketidaknyamanan Sakura segera melepaskan sentuhannya. "Maaf!" Kemudian ia tersenyum kikuk.
"Uchiha sekarang sedang mencarimu. Aku heran ada apa dengannya? Tiba-tiba saja ia…" spontan Kiba mendekap mulutnya. Lalu menggeleng kuat.
"Lu-lupakan saja apa yang kubicarakan tadi!"
Sakura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia merasa sangat penasaran dengan kelanjutan kalimat yang akan dikatakan pemuda Inuzuka itu.
"Nee Sakura-chan," nada serius Inuzuka Kiba tiba-tiba membuat Sakura takut, "ada apa denganmu? Sebenarnya… apa yang membuatmu… seperti menghindari kami?"
Sakura menelan ludahnya. Ia mengalihkan pandangannya. Tidak sanggup menatap mata hitam itu, "Tidak ada apa-apa," sahutnya sedikit gugup.
Tidak mungkin kanSakura menceritakan mimpi absurdnya kepada Kiba? Akan dipastikan pemuda berambut coklat itu menganggapnya gila.
Haruno Sakura mendengar pemuda di hadapannya itu menghela napas.
"Aku tidak keberatan kalau Sakura-chan belum siap menceritakannya," Sakura sedikit terkejut, emeraldnya kembali menatap mata hitam itu, dan mendapati Inuzuka Kiba tersenyum kecil. Lalu pemuda itu menyodorkan sebuah tas berwarna biru—yang diyakini Sakura merupakan tas miliknya—ke arahnya. "Aku akan menunggu, kalau Sakura-chan siap menceritakannya. Aku akan jadi pendengar yang baik. Ehehehehe…"
Tangannya bergerak menyambut tas itu. Sakura bergumam 'terima kasih'. Entah kenapa tiba-tiba darahnya memanas. Ia tidak paham dengan reaksi tubuhnya yang tiba-tiba.
"Sakura-chan," Kiba kembali memanggilnya, "kau punya waktu sebentar?" Kiba sama sekali tidak menunggu respon yang akan dilontarkan gadis itu. "Aku punya ini!" Ia merogoh sesuatu di kantung celananya, "nah… ini dia!" Dua buah tiket berada di tangan Kiba.
"Kemarin ayahku menang lotre. Ia mendapatkan dua tiket ke taman bermain. Karena ayahku sibuk, ia memberikanku dua tiket ini kepadaku. Jadi… karena aku pikir Sakura-chan pacarku, mungkin kau… bersedia?"
Apa? Ini sama saja dengan ajakan kencan, kan?
Sakura berteriak dalam hati. Tidak mungkin! Tidak mungkin! Ia harus menolaknya! Berada bersama dengan salah satu biang permasalahan yang sedang ia coba hindari akan menambah buruk trauma gadis itu.
"Inuzu…"
"Araara… belum juga beberapa menit kami tinggal. Kau sudah mencuri start duluan ya, Inuzuka!"
Sebuah suara berhasil menginterupsi, Sakura menoleh dan mendapati ke lima pemuda lainnya sedang berdiri di belakangnya. Sekilas ia bisa mendengar Kiba bergumam 'dasar pengganggu'.
"Yo! Haruno-senpai!" Otsutsuki Toneri melambai ke arahnya.
"Inuzuka, kau tidak bisa dipercaya!"
"Diam kau Uchiha!"
"Sakura… kami mendengar kabar kau bolos, dan sekarang… kau mau diajak kencan dengan bocah anjing ini?"
Perempatan sudut muncul di jidat Kiba. Berani-beraninya senpai jelek berambut merah itu menghinanya. Memangnya siapa dia?
"Haruno Sakura… kau… tidak apa-apa?" Sebuah nada khawatir dari Uzumaki Menma membuat emerald Sakura menatapnya.
Kalau dipikir-pikir selama masa pelariannya dari keenam pemuda itu, ia sama sekali tidak bertemu dengan Uzumaki Menma. Wajar saja dilihat dari ekpresi wajahnya, pemuda itu memasang wajah paling khawatir dengan keadaan Sakura.
Ia menggeleng lemah dan bergumam 'tidak apa-apa'.
"Yup! Sudah diputuskan! Senpai, kami juga akan ikut menemanimu ke taman bermain itu!" Ucapan tiba-tiba Toneri membuat ke lima pemuda lainnya—termasuk Sakura—membulatkan mata tidak percaya.
"APA!?"
Otsutsuki Toneri mengerutkan keningnya. Mata silvernya menatap satu per satu ke lima pemuda lainnya, "Kenapa? Kalian tidak suka?"
Sama sekali tidak mendengar penolakan. Toneri meloncat kegirangan dan berseru, "Taman bermain I'M COMING!"
Ini neraka!
Benar-benar di luar dugaan!
…
…
"Haruno-senpai! Haruno-senpai! Woaah… lihat! Ada permen kapas yang warnanya mirip seperti rambutmu!"
"Otsutsuki-kun bisa sejenak kau mengunci mulutmu?"
"Mou~~ Utakata-buchou! Kau tidak asyik!"
"Mulutmu itu membuat perhatian semua orang tertuju ke arah kita. Aku tidak mau dicap sebagai kumpulan orang aneh."
"Kalau tidak mau. Pergi saja sana!"
Haruno Sakura mendesah lemah. Ia berusaha menolak ajakan kencan keenam pemuda itu. Tapi, Toneri yang ternyata lugu itu sangat pandai mengancam, membuat nyalinya menciut. Dan sekarang di sinilah ia, berjalan tepat di tengah-tengah keenam pemuda—bagai barikade—yang notabene mengaku sebagai pacarnya.
Sakura menundukkan wajahnya, pengunjung taman bermain yang melewati rombongannya selalu menatap aneh ke arah mereka.
Tentu saja!
Satu gadis dikelilingi enam pemuda, hal sangat ganjil yang jarang ditemukan di area taman bermain. Sakura merutuki nasib malangnya.
"Mulut kalian tidak bisa diam, ya!?"
Kalimat menusuk itu membuat Utakata gerah, "Apa maksudmu Uchiha!? Kau menuduhku seolah-olah aku juga yang membuat onar, huh?!"
"Utakata… sudahlah."
"Tidak bisa Sasori! Orang ini memang benar-benar menyebalkan!"
"Cih… aku tidak habis pikir kenapa Haruno bisa jadi pacarmu!?"
kesabaran Utakata benar-benar di ambang batas. Uzumaki Menma yang sudah tidak tahan dengan keributan yang ditimbulkan Utakata dan Sasuke, segera membuka mulutnya, "Kalian benar-benar seperti bocah. Tidak heran otak kalian yang sempit itu tidak bisa membedakan di mana tempat yang pantas untuk berisik."
"APA!?"
Sontak saja keempat pemuda yang merasa hinaan Uzumaki Menma ditujukan untuk mereka, tersulut emosi. Yah… bisa kalian bayangkan sebuah drama dadakan akan segera dimulai.
"Mereka benar-benar biang masalah," Sakura melirik Inuzuka Kiba yang menggeleng tidak percaya. Mata hitamnya itu bersibok dengan emerald Sakura. Ia tersenyum kecil. "Ayo kita pergi dari sini. Bukankah kita ke sini untuk bersenang-senang? Bukan menonton acara keributan seperti ini!"
Segera Kiba menggandeng—atau lebih tepat dikatakan menyeret—Sakura tanpa sepengetahuan ke lima pemuda lainnya. Kiba tidak akan membuang-buang waktunya untuk memanfaatkan kesempatan emas sekali seumur hidup seperti ini.
…
…
"Woaaahahahaha… Sakura-chan bagaimana roller coaster tadi!? Luar biasa sekali, bukan!?" Kiba berteriak antusias.
Inuzuka Kiba dan Haruno Sakura setelah berhasil melarikan diri dari ke lima pemuda lainnya, dengan secara sepihak Kiba memutuskan mencoba permainan roller coaster. Terus terang saja, sekarang Sakura benar-benar ingin memuntahkan isi perutnya. Permainan roller coaster membuatnya cukup trauma.
Ini tidak akan terjadi lagi!
Sakura membungkuk dan memegangi perutnya. Kiba yang menyadari keganjilan sikap Sakura, segera membopong gadis merah muda itu ke sebuah bangku.
"Sakura-chan kau tidak apa-apa? Maafkan aku! Aku tidak tahu ternyata kau tidak kuat naik roller coaster!"
Sakura menggeleng lemah. Gadis Haruno itu kemudian menyandarkan tubuhnya.
"Benar kau tidak apa-apa, Sakura-chan?"
Wajah khawatir Kiba benar-benar membuat Sakura bersalah. Gadis itu kembali menggeleng, "Jangan menyalahkan dirimu. Aku sudah cukup baikan, Inuzuka-kun!"
Kiba menghela napas dan segera mengambil tempat duduk di sebelah Sakura, "Syukurlah… aku pikir, Sakura-chan akan membenciku lagi."
Sakura menoleh menatap Kiba bingung. Sejak kapan ia benci dengan pemuda berambut coklat ini?
Ah… benar juga. Sejak aku mencoba menghindari keenam pemuda ini.
"Ah! Lihat Sakura-chan!" jari panjangnya itu menunjuk sebuah permainan yang cukup bersahabat dengan keadaan Sakura. "Ayo kita naik itu!" Inuzuka Kiba bangkit dari duduknya. Tangannya terulur ke arah Haruno Sakura. "Aku yakin, Sakura-chan akan senang."
Sakura menatap lama uluran tangan Kiba. Kemudian dengan ragu ia menyambut uluran tangan itu. Kiba menarik Sakura, dan seketika membuat gadis itu tegak bertumpu pada kakinya. Lalu Kiba menyeret Sakura menuju permainan yang bernama bianglala.
Setelah memasuki bianglala. Kiba mengambil tempat duduk di seberang Sakura. Bianglala itu dijalankan dan berputar naik pada porosnya.
"Waaa… keren!" Teriak Kiba. "Itu keseluruhan kota Konoha!" Ucap Kiba antusias sambil menunjuk-nunjuk.
"Yang di sana kota Ame! Yang di sana kota Suna!"
Sakura menatap ke arah yang ditunjuk pemuda Inuzuka itu. Sakura mengerutkan keningnya. Dari sini ia hanya bisa melihat pepohonan rimbun sepanjang mata memandang. Tidak ada tanda spesial yang bisa membedakan batas kota yang telah disebutkan Kiba.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
Kiba menoleh, matanya membulat seketika, "Eeh?" kemudian ekspresinya berubah tersenyum, Kiba menaruh jari telunjuknya di depan bibir, "Itu rahasia… Sakura-chan."
Gadis merah muda itu mengerutkan keningnya. Lagi-lagi Kiba bersikap seperti ini. Membuatnya rasa penasarannya tergelitik.
"Yang jelas semua ini ada hubungannya denganmu…" Kiba memalingkan wajahnya seketika. Ia dapat melihat rona merah menjalar di pipi pemuda itu. Entahlah ia sama sekali tidak paham dengan ucapan yang baru saja dikatakan Kiba. Tapi, jika dilihat dengan sikap yang ditunjukkan Kiba, sepertinya sebelum ia mengidap amnesia Sakura memiliki hubungan spesial dengan Kiba. Hatinya sedikit menghangat.
Kembali mata hitam itu beradu dengan emeraldnya. Menatap intens. Dengan cengirannya, pemuda itu berkata, "Sakura-chan… terima kasih."
"Eh?"
"Setelah kau sembuh dari amnesia, kau pasti tahu apa maksudku. Ah! Bianglalanya sudah berhenti! Ayo kita turun!"
Sebelum Sakura dapat mengatakan sesuatu, lagi-lagi Kiba kembali menyeretnya. Kali ini langkah kaki panjang Kiba membawanya ke sebuah tebing yang dibuat khusus untuk menikmati pemandangan kota Konoha dari atas. Genggaman tangan itu terlepas. Inuzuka Kiba melipat kedua tangannya di atas pagar besi yang mengelilingi tebing.
Matanya memandang dengan senang.
"YEAYY! KONOOOHAAAA!"
Seakan sedang dirasuki sesuatu. Inuzuka Kiba berteriak dengan girang. Haruno Sakura tiba-tiba memasang wajah khawatir, emeraldnya memandang sekeliling. Beberapa pengunjung menatap mereka tidak suka.
"I-inuzuka-kun… sebaiknya kau jangan berteriak…" bisik Sakura.
"Hm…? Sakura-chan cara yang tepat untuk menikmati pemandangan bagus seperti ini adalah dengan meneriakkan kesenangan kita!"
Sakura sweatdrop mendengar ucapan Kiba. Sejak kapan ada tradisi seperti itu?
Sejenak keheningan melanda keduanya.
Tiba-tiba pemuda Inuzuka itu menoleh memandang Sakura agak lama. Sakura yang merasa dipandangi sedikit gugup. "A-ada apa?"
"Sakura-chan coba tutup matamu!"
"Eh? Menutup mataku?"
Inuzuka Kiba menegakkan tubuhnya dan berbalik menghadap Sakura, "Iya, pejamkan, ya! Ayo cepat!"
Mendesah pelan, Sakura menuruti perintah Kiba. Ia menutup kelopak matanya, "Memangnya ada apa?"
"Tutup terus. Sampai kuperintahkan boleh membuka matamu!"
Memangnya ada apa?
Tiba-tiba saja hati gadis merah muda itu dilanda ketakutan.
Apa yang akan dilakukan Inuzuka-kun?
Terdengar pemuda di depannya sedang merogoh-rogoh sesuatu. Kemudian sebuah sentuhan di kepalanya membuat Sakura cukup kaget.
Inuzuka Kiba tertawa kecil, "Maaf! Bikin kaget ya!"
"Apa sekarang aku boleh membuka mataku?"
"Waaa… tunggu-tunggu!" nada panik menghiasi suara pemuda berambut coklat itu. "Sekarang silahkan buka matamu!"
Perlahan kedua kelopak mata itu terbuka. Menampilkan emeraldnya yang indah. Tiba-tiba sebuah suara 'clik' terdengar. Emeraldnya membulat sempurna. Di hadapannya Inuzuka Kiba memegang ponsel dan memotretnya.
"Waaaa… apa yang kau lakukan!? Inuzukan-kun kau memotretku!?" Haruno Sakura benar-benar panik.
Kiba tertawa girang, "Maaf! Tapi, coba kau lihat wajahmu Sakura-chan, lucu sekali!" Kiba memperlihatkan hasil foto di ponselnya.
Sakura meringis melihat potret dirinya yang sedang panik. Lalu tertawa keras karena merasa lucu, "Kau benar, Inuzuka-kun. Aku lucu sekali."
"Syukurlah Sakura-chan… akhirnya kau bisa tertawa!"
"Eh?" seketika gadis merah muda itu menghentikan tawanya.
"Sebenarnya… sejak kami mengajakmu ke taman bermain, kau terus-terusan terlihat murung. Aku berusaha untuk membuatmu tertawa…" bibir pemuda itu mengembang, "dan… sekarang aku berhasil membuatmu tertawa."
Ada sedikit perasaan bersalah ketika mendengar pengakuan Inuzuka Kiba. Anehnya tiba-tiba hatinya berdesir melihat senyuman pemuda itu.
"Tapi, untunglah jepit itu cocok untukmu."
"Eh?"
Sakura kembali memandang foto dirinya di ponsel Kiba. Benar! Ada sebuah jepit silver berbentuk bunga sakura tersemat di rambut merah mudanya.
Sangat cantik.
Spontan gadis merah muda itu tersenyum, "Terima kasih, Inuzuka-kun!"
Sakura tidak tahu jika kalimat sederhana seperti itu membuat wajah Kiba bersemu merah. Pemuda itu memalingkan wajahnya, menutup sebagian wajah merahnya dengan punggung tangan.
Kiba benar-benar mati kutu.
"Ehem! Tidak disangka kau benar-benar licik, Inuzuka!"
Sebuah suara familier menembus indra pendengaran Kiba dan Sakura. Ya, tepat sekali ke lima pemuda kita yang lainnya berdiri tegak memasang ekpresi galak ke arah Inuzuka Kiba yang berani-beraninya mengambil kesempatan ketika mereka sedang lengah.
"Apa? Itu salah kalian sendiri!"
"WOOOAAA! Haruno-senpai! Siapa yang memberikan jepit itu padamu!?" Toneri yang seakan sadar dengan perubahan tampilan Sakura tiba-tiba berteriak histeris. Kontan ke empat pemuda lainnya menatap sebuah objek yang tersemat di rambut merah muda Sakura.
Sakura mengelus jepit rambutnya, ia sedikit tersenyum, "Jepit ini dari Inuzuka-kun!"
Ke lima pemuda itu melemparkan deathglare ke arah Kiba. Seketika pemuda Inuzuka itu menghentikan senyuman kemenangannya, "Apa?"
"Inuzuka-senpai, sepertinya rasa hormatku sudah tidak ada lagi. Dasar bocah anjing pengkhianat!"
"Hei! Kau yang bocah! Aku senpaimu tahu!"
"Hump… dalam mimpimu!"
Mendengar adu mulut kedua pemuda itu, membuat Uchiha Sasuke tertawa.
"Diam kau Uchiha! Tidak ada yang menyuruhmu untuk tertawa!"
"Cih… kau memang pantas disebut bocah anjing yang licik dan egois."
Sasori, Utakata, dan Uzumaki Menma mengangguk setuju.
Yah… bisa kalian bayangkan lagi-lagi drama perebutan kekuasaan seorang putri cantik akan segera dimulai. Haruno Sakura yang melihat wajah memerah kiba—menahan amarah—benar-benar sangat lucu. Kontan gadis itu tertawa. Tawa riang Sakura membuat ke enam pemuda itu menatap aneh Sakura.
Di sela-sela tawanya, gadis itu berkata, "Maaf…!"
"HAH!?"
"Maaf sudah menghindari kalian! Maaf sudah membuat kalian seperti ini! Maaf sudah menyusahkan kalian!" Sakura mengusap air mata yang keluar gara-gara tawanya. "Untuk Inuzuka-kun, aku akan menjaga baik-baik jepit ini. Terima kasih!" Senyuman tulus mengembang di bibirnya.
Haruno Sakura akhirnya berhasil mengatakan apa yang ia rasakan. Sekarang ia menyadari keenam pemuda itu tidak semengerikan seperti di dalam mimpinya. Mereka benar-benar peduli dengannya.
"Ya, terima kasih Sakura-chan."
"Jangan menghindari kami lagi, itu membuatku takut Sakura."
"Haruno-chan, jika ada yang membuatmu takut. Jangan sungkan-sungkan kau katakan padaku!"
"Utakata-senpai! Seharusnya kalimat itu bagianku!"
"Berisik kau Otsutsuki-kun!"
Uchiha Sasuke mendesah. Ia menggelengkan kepalanya melihat dua senpai-kouhai absurd itu. Mata sehitam jelaga itu menatapnya, "Aku tahu amnesia itu membuatmu kebingungan. Aku akan berusaha menuntunmu mengingat memorimu yang lama. Jadi… tetaplah bersamaku!"
"Hei! Uchiha! Yang benar 'tetaplah bersama kami'!"
"A-aku juga akan berusaha membuatmu mengingatku kembali… Haruno Sakura," Uzumaki Menma mati-matian mengatakan kalimat itu. Wajah memerahnya pasti membuatnya terlihat sangat lucu.
Gadis merah muda itu kembali menyunggingkan senyuman, "Aa! Terima kasih semuanya! Aku tidak sabar menanti hari di mana ingatanku akan kembali lagi."
Benar…
Hari di mana aku tahu sebuah kebenaran yang sesungguhnya.
TBC
Pojok Balas Review :
nchie. ainie : Yup! Penantian kamu udah ada di chapter ini. Maaf menunggu lama~~
hanazono yuri : Ini udah lanjut! Maaf menunggu lama yah! Eeehhh… dari komik special A toh. Ehehehehe… arti namanya bagus.
Bluepink Cherrytomato : Saya juga mau diposisi Sakura Nyahahahaha… iyah… keenam cowok keren kita bakal saingan. Woah… ngedukung Sasu ama Menma yah… sifat mereka emang beda-beda tipis sih di fict ini. Maksudnya doyan ngelontarin kata-kata kasar. Yah, walaupun ceritanya di sini Menma itu… tsundere *saya kasih bocoran*. Waduhh… 5k atau 10k1!? *pingsan di tempat* banyak banget itu… saya belum pernah ngetik sampai segitu wordnya hahaha… Okey, sama-sama. Woaahhh makasih banyak nih bakalan mau ngereview terus *hiksu* bahkan kamu review dua kali pakai akun Hyemi761. Saya bakalan terus semangat ngelanjutin fict ini walaupun telat publish. Maaf yah~~
Akane : Terima kasih dibilang bagus. Iya dong harus kompak.
…
A/N
WOOOOAAAHHHHH! MAAFKAN SAYA! Gara-gara saya ffnya jadi delay! Waktu itu saya bener-bener selalu gak sempet ngebikin lanjutan MasKano *Mashiro Kanojo maksudnya* pasti kalau pulang kerja capek banget, terus ngantuk lah, sekarang saya gak bisa begadang lagi *hiksu*. Sebenernya ada sih pengganti delay ff MasKano kemarin. Judulnya Paradox Spiral. Pairingnya SasuSaku. Kalau pada penasaran kalian bisa cek di akun saya. Vanille Yacchan. Saya gak tanggung sih pas udah ngebaca kalian bakal mengalami keanehan. Karena alurnya lumayan absurd. Nyahahaha… Terus chapter ini… aakkkhh… saya gak bisa bikin romens yang doki-doki. Jadi, kencanya KibaSaku yaah begitulah… pokoknya gak ada romantis-romantisnya *hiksu*. Oke, tak henti-hentinya saya selaku author mengucapkan terima kasih banyak buat yang udah review, follow, favorit juga. Kalian penyemangat kami! Yoooshhh… ditunggu chapter MasKano selanjutnya, yah~~ bubye
…
Himeko desu! Ketemu lagi dichapter tiga. Ah, saya lagi terserang flu dadakan -_- maaf banget karena delay ya, tehee. Duh, chapter depan saya yang nulis ya -_- doakan semoga tidak terkena wb karena minggu depan itu sibuk-sibuknya RL. Oke, terimakasih sudah membaca #ojigi
