Author's note: Drama, drama... Lulu-jiejie perasa sekali di sini. Maaf ya kalau father-son relationshipnya agak fail atau terlalu manis, juga dijelaskan dengan terlalu banyak kata. Saya akan menghargai kalau ada yang memberi review membangun ^^ Maaf nggak bisa balas satu-satu, tetapi beneran, saya selalu baca semua review dan mencoba membalasnya dengan chapter yang lebih baik.
.
.
I can't suppress missing you
I called you
Thinking of you, how long it's been since I've seen you
(SM The Ballad – Breath)
.
.
Lu Han masih dalam perjalanan menuju asrama pegawai di Xichang, space center di mana ia ditempatkan oleh kampus Beijing, saat ia mendapat pesan singkat dari Xiu Min. Deru taksi yang membawanya sudah hampir membuatnya tidur, padahal. Sayang, getar ponselnya menginterupsi dan membuatnya terpaksa mengecek pesan masuk.
'Kau tinggal di asrama pegawai Xichang, 'kan?'
Lu Han menatap pesan itu kosong. Seseorang sudah jadi stalkernya sekarang.
'Apa yang akan kau lakukan jika kau mengetahuinya?', balas Lu Han. Setelah mendapat delivery report, Lu Han meletakkan ponsel di sisinya, menunggu balasan. Semenit, dua menit, sepuluh menit, tak ada balasan. Lu Han hampir merasa lega pada menit ke-11, tetapi ternyata...
'Ayahmu ke Mo-bit tadi siang dan bilang dia akan ke Sichuan. Xichang ada di Sichuan, 'kan?'
Mata Lu Han seolah hampir lepas dari rongganya. Han Geng ke Sichuan? Untuk apa? Bukankah harusnya pria itu di Jiuquan untuk menyelesaikan proyek Marsnya? Jika benar Han Geng ke Sichuan, maka Lu Han tidak beruntung; ia memang menyewa apartemen di situ.
Namun, Lu Han berusaha agar tetap tenang dan berpikir jernih.
'Ada urusan apa dia ke Sichuan?', ketik Lu Han.
'Tidak tahu', balas Xiu Min kemudian, 'Dia hanya bilang mau ke Sichuan.'
Han Geng tak mengatakan apapun, rupanya. Dia bisa saja ke Sichuan untuk urusan pekerjaan, bukan untuk mencari Lu Han.
Sial. Tetap saja itu berarti Han Geng akan berakhir di Xichang untuk kunjungan kerja.
Pikiran Lu Han tiba-tiba kosong. Darah berebut mengalir naik ke kepalanya, menimbulkan sensasi kesemutan yang aneh. Tangannya agak gemetar. Buru-buru ia masukkan ponsel ke saku, lalu menyandarkan kepalanya ke kursi taksi dan menutup mata. Semua reaksi ini menunjukkan kegugupannya, hanya karena membayangkan dirinya bertemu dengan Han Geng di Xichang.
Dia tidak akan menemukanku di Sichuan atau Xichang. Tidak akan. Tidak akan, ulang Lu Han dalam hati. Pemuda itu mensugesti dirinya sendiri bahwa semua akan berjalan seperti seharusnya di Xichang. Ya, harapan yang ia ucapkan setiap malam untuk tidak ditempatkan di Jiuquan—satu space center dengan Han Geng—telah terkabul. Harusnya, pekerjaan di Xichang akan menyenangkan, bukan? Ia akan menjadi salah satu dari sangat sedikit astronot yang menerbangkan spacecraft dari landasan baru Xichang (selama ini, aktivitas penerbangan berawak berfokus di Jiuquan); itu pasti seru.
"Hei, Lu. Kau sudah coba landasan baru itu? Hebat! Aku tahu aku tak perlu mengkhawatirkanmu berlebihan karena kau bisa melakukannya, bahkan di landasan baru Xichang! Selamat untukmu!"
Argh!
Bukan menidurkannya, memejamkan mata malah membuat Lu Han membayangkan Han Geng lagi. Pria itu, dalam bayangan Lu Han, muncul setelah pendaratan Lu Han di Bumi. Kemudian, Han Geng memberi selamat pada Lu Han seperti dulu saat Lu Han meraih peringkat pertama seantero SMP untuk nilai ujian kelulusan. Menepuk bahu Lu Han seperti saat Lu Han masuk SMA. Memeluk Lu Han hangat seolah Lu Han masih anak polos berpiyama biru yang memandangi bintang-bintang dengan kagum.
Oke, Lu Han memang bukan anak-anak polos lagi. Ia juga tidak pernah tidur dalam piyama biru setelah dewasa...
...tetapi ia tetap seorang 'anak'.
Lu Han membuka matanya dan menghembuskan napas berat. Ia mengalihkan fokusnya ke luar jendela untuk menghilangkan Han Geng dari benaknya. Setelahnya, ia bertanya pada sopir taksi, "Maaf, apakah kita masih jauh?"
Minggu-minggu pertama Lu Han di Xichang berjalan sangat baik. Pimpinan Xichang sangat menghargai Lu Han sebagai lulusan terbaik di kampusnya. Terlebih, Xichang masih cukup baru, sehingga tugas Lu Han di sana lebih ringan. Ia hanya perlu melakukan peluncuran beberapa satelit geosinkron[1] dan menganalisis data-data yang didapat dari citra satelit tersebut. Tugas itu tentu sangat mudah untuk Lu Han yang lebih dari siap untuk penerbangan berawak.
Pagi ini, Lu Han bersama si kembar Zheng, rekan-rekan barunya, melintasi beberapa peneliti wanita yang baru tiba dari Beijing. Melihat Lu Han, gadis-gadis muda cerdas itu tersipu dan memperkenalkan diri. Seperti biasa, Lu Han membalas dengan sama ramah.
"Kau benar-benar penyegar mata untuk pegawai-pegawai muda wanita di Xichang." Da Long, salah satu kembar Zheng, menyikut Lu Han dengan jahil. Lu Han tertawa. "Ada-ada saja kau ini, Ge. Prioritas mereka di sini bukan untuk cari pacar, tau."
"Kalau prioritasmu apa di sini?" Xiao Long, adik Da Long, ikut menggoda, "Pasti ada alasan khusus orang sehebat kau datang ke space center newbie seperti Xichang, padahal kau 'kan seorang expert."
"Xiao Long-ge jangan ikut-ikutan. Aku di sini sepenuhnya fokus untuk bekerja dan menggali potensiku di bidang astronomi. Tidak ada maksud lain."
"Kau salah tempat, Kawan. Xichang bukan tempat yang bagus untuk itu. Lihat kami berdua; kami mulai dua tahun lebih awal darimu, tetapi tetap ditempatkan di bagian analisis data satelit sampai sekarang." kata Da Long.
"Lain lagi kalau masalah cinta. Cerita kami lebih baik di situ. Waktu pertama masuk, aku dan Da Long langsung dapat satu gadis, masing-masing," Xiao Long, seperti seorang master cinta, menasehati juniornya, "Gadis cerdas banyak yang cantik, tetapi susah ditaklukkan. Karena kau punya dua pesona, kecerdasan dan ketampanan, kau bisa lebih mudah mendapatkan mereka."
"Yep. Kau tinggal pilih satu dalam kelompok tadi. Mereka pasti mau," Da Long menyampirkan lengannya di bahu Lu Han, "Jangan sia-siakan waktumu di sini cuma untuk kerja. Flirting sesekali boleh, kok. Ini 'kan Xichang, bukan Jiuquan."
Glk.
Lu Han menelan ludahnya sulit.
"Memangnya ada apa dengan Jiuquan? Apa bedanya dengan di sini?" Akting sempurna Lu Han menutupi hatinya yang tiba-tiba pedih.
"Tentu saja beda. Jiuquan itu space center yang setiap bulan meluncurkan astronot untuk penerbangan berawak, pantas untuk orang sepertimu. Sayangnya, bagian penempatan di Beijing melemparmu ke tempat yang salah." jawab Da Long.
"Tidak. Aku tidak salah tempat," Lu Han memaksa untuk melebarkan senyumnya, "Tempatku memang di sini, Da Long-ge. Aku masih belum siap untuk penerbangan berawak."
"Aku tak yakin kau belum siap," sangkal Xiao Long, "Ada isu bahwa Komandan Li dan Jiuquan menyiapkanmu untuk penerbangan berawak pertama dari Xichang. Wow, kau bisa langsung naik ke tingkat yang semua orang harapkan, Bocah!"
"Jika penerbangan berawak itu berarti aku harus ke Jiuquan..." sahut Lu Han, "...tidak, lebih baik aku tetap di sini."
Kembar Zheng saling pandang. "Kenapa kau begitu benci Jiuquan, padahal semua orang dari Xichang, Taiyuan, dan Wenchang ingin pergi ke sana?" tanya mereka hampir bersamaan.
Lu Han berhenti melangkah.
Hal bodoh apa yang harus aku ungkapkan supaya dua orang ini berhenti memburuku dengan pertanyaan-pertanyaan itu?
Tak lama, Lu Han menemukan jawabannya. Ia berbalik dan meleletkan lidahnya, pura-pura malu.
"Di sana, ada mantan pacarku."
"Astaga, bilang dari tadi, dong!" Kali ini, kembar Zheng menyampirkan tangan mereka ke bahu Lu Han. Karena beratnya tangan kembar Zheng, Lu Han sampai tersedak. "Kau benar-benar masih muda, ya! Sudahlah, lupakan masa lalu dan cari yang baru di sini! Move on! Anak sepertimu ganti pacarnya 'kan gampang!"
"Terima kasih sudah menyemangatiku, Ge. Kurasa aku memang mudah ganti pacar."
...tetapi tidak mudah berganti orang tua, Lu Han meneruskan kalimatnya dalam hati, Itu sangat sulit, hampir mustahil.
"Haah, kalian berdua, pergilah darinya!"
Kembar Zheng terkejut, menoleh, dan langsung membungkukkan tubuh mereka berkali-kali saat melihat pimpinan Xichang, Komandan Li. "Maafkan kami, maafkan kami, tolong jangan potong gaji kami dan jangan turunkan pangkat kami!" mohon mereka, tetapi kemudian Da Long menambahkan, "Dan jangan rebut pacar kami!"
Lu Han meringis menyaksikan tingkah konyol dua senior itu, sementara Komandan Li tampak bosan dengan mereka. "Ya, ya. Pergi dan sambutlah pegawai baru dari Beijing di ruang pertemuan. Aku ada perlu dengan Lu Han sebentar di pusat komunikasi. Hubungi aku jika ada apa-apa."
"Pegawai baru dari Beijing? Siap, Pak!"
Dalam sekejap, kembar Zheng menghilang dari pandangan untuk menemui gadis-gadis cantik yang baru mulai kerja itu.
"Nah, nah, mereka memang bodoh. Jangan dengarkan mereka; kau bisa mengembangkan potensimu di mana pun kau ingin." ucap Komandan Li. Lu Han mengangguk. "Oh ya, ada apa Komandan ingin bertemu saya?"
"Komandan Zhao dari Jiuquan ingin membicarakan tentang rencana penerbangan berawak mandiri Xichang. Kau salah satu kandidat kuat yang akan terbang karena kau lulusan terbaik dari kampus kami di Beijing. Track recordmu adalah yang terbaik dari semua karyawan di sini."
Lu Han sedikit salah tingkah karena dipuji. "Saya masih belum sebaik itu, Komandan Li... Saya belum berpengalaman sama sekali dalam penerbangan berawak."
"Justru karena kau belum berpengalaman, kau harus mencoba. Kau patut mencobanya."
Penghargaan dari pimpinan Xichang memang melambungkan hati, tetapi kata-kata itu akan lebih berarti bagi Lu Han jika Han Geng yang mengucapkannya. Lu Han tak mengungkapkan ini, tentu saja.
"Kau memang anakku!"
Betapa Lu Han merindukan pujian dari Han Geng. Sangat, sangat merindukannya, walaupun ia tahu ia tak pantas lagi mendapatkan itu. Tidak setelah Lu Han mengungkapkan kebenciannya yang begitu besar pada Han Geng, enam tahun silam.
Layar raksasa di ruang komunikasi menyala, menampilkan loading bar yang bergulung lambat. Kemudian... plop! Tayangan sebuah ruangan yang mirip seperti ruang pusat komunikasi Xichang muncul di layar. Beberapa orang berlalu-lalang di depan monitor, tetapi tak tampak orang yang harusnya mengajak mereka bicara.
"Oh? Sudah menyala, ya?"
Deg!
"Komandan Zhao, Anda bisa mendengar saya?" tanya Komandan Li sambil mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan dan membetulkan posisi mikrofonnya. Lu Han mendekat ke monitor dengan jantung berdebar-debar. Suara itu muncul lagi, suara yang sama dengan yang ia dengar di booth telepon depan Mouse and Rabbit.
Tidak.
Tidak.
Ti—
"Komandan Li? Maaf, sinyal di sini sedikit buruk."
Seorang pria berkemeja putih duduk di kursi kosong dalam layar. Ia memasang mikrofon, lalu mengatur beberapa tombol di sisi monitor, mungkin untuk mengatur tampilan layar yang buram.
Lu Han berharap layar raksasa di depannya akan selalu buram.
Harapan ini tidak terkabul.
Entah bagaimana, tampilan monitor yang semula sedikit bersemut dan bergoyang-goyang kini menjadi tajam. Pria berkemeja putih lega karena sudah bisa memperbaiki koneksinya dengan Xichang. Ia tersenyum senang.
"Komandan Li, saya Han Geng, mewakili Komandan Zhao dari Jiuquan untuk membicarakan perihal penerbangan berawak pertama Xichang."
Meskipun Lu Han berusaha sekuat tenaga untuk bergerak, tubuhnya tetap kaku.
"Oh, Anda mewakili Jiuquan hari ini? Komandan Zhao semakin sibuk saja menjelang penerbangan berawak ke Mars," Komandan Li beramah-tamah, "Ah, mari kita mulai saja. Sebelumnya, perkenalkan, ini kandidat penerbangan berawak dari Xichang yang pertama, Lu Han."
Lu Han maju selangkah lagi dan membungkukkan tubuhnya sopan. "S-saya Lu Han, Divisi P-Peluncuran dan Pengamatan Satelit Geosinkron."
Sial. Lu Han mengutuki dirinya sendiri yang gugup tak beralasan di depan ayahnya sendiri.
"Baiklah, sudah cukup kau menghormat begitu. Kau bukannya sedang menghadapi raja." canda Komandan Li. Terdengar tawa lembut dari seberang. Kikuk, Lu Han menegakkan kembali tubuhnya yang terasa berat seperti papan.
Di monitor, Han Geng tersenyum hangat pada Lu Han.
"Saya Han Geng, Divisi Astrobiologi[2]. Senang berkenalan dengan Anda. Semoga kita bisa menjalin kerja sama yang baik."
Lu Han hanya bisa mengangguk dengan pikiran terfiksasi pada mata Han Geng yang sama berbinar.
"Nah, jadi..." Han Geng menarik kursinya maju, lalu menumpukan sikunya di meja dan menautkan jemarinya, "...mari kita dengarkan apa yang dimiliki astronot muda kita ini. Lu Han, sebutkan kenapa kau berhak menjadi bagian dari penerbangan berawak Xichang yang pertama."
Lu Han terkejut setengah mati. Ia mengalihkan pandang pada Komandan Li dengan ekspresi bengongnya. Komandan Li memberinya isyarat untuk melakukan presentasi singkat. Ini buruk. Lu Han tak mempersiapkan apapun untuk wawancara semacam ini!
"Baba, Baba, aku sudah bisa menulis! Aku sudah bisa menggambar dan juga pidato! Aku bahkan mengajari Yi Xing membaca! Aku hebat, 'kan? Aku hebat!"
"Bagus sekali, Lu! Teruslah belajar, nanti kamu akan jadi semakin baik!"
Benar. Mengungkapkan kebolehan di depan pimpinan Divisi Astrobiologi Jiuquan Space Center memang butuh keberanian besar, tetapi bukankah Lu Han kecil begitu cerewet menceritakan apa yang baru dipelajarinya pada ayahnya? Kenapa tak anggap perwakilan Divisi Astrobiologi satu ini ayahnya?
Lagipula, Han Geng memang ayah Lu Han.
Lu Han menarik napas, lalu memulai. "Dari sisi pengalaman, saya masih berada di tingkatan paling rendah, tetapi saya menjalani pelatihan penerbangan berawak selama satu semester di Beijing. Saya sempat pula direkomendasikan di Jiuquan karena excellence certificate dari sana. Saya juga bisa ditempatkan pada space station; saya memiliki basis yang cukup baik pada operasinya."
Han Geng mengangguk-angguk. "Xichang sudah mengirim curicullum vitaemu pada kami. Baguslah, penjelasan singkat darimu mengkonfirmasi apa yang tertulis di sana. Kau melebihi ekspektasi kami, tetapi kau tentu tahu bahwa penerbangan pertama untuk astronot baru memiliki resiko yang sangat tinggi, ke manapun tujuannya. Kau yakin untuk mengambil resiko ini?"
Komandan Li agak heran melihat wajah pucat Lu Han berubah sangat merah seperti orang demam. Untuk sejenak, Komandan Li mengira Lu Han sakit mendadak, tetapi pikiran itu terhapus saat Lu Han angkat bicara.
"Saya yakin. Ini adalah kesempatan baik yang tidak boleh saya sia-siakan. Jiwa saya ada di bidang ini, maka saya akan bersungguh-sungguh untuk menjalankannya."
Komitmen. Lu Han sudah menawan hati komandannya dengan satu hal itu...
...sementara Han Geng memikirkan hal yang lain.
"Bahkan kalau mengambil misi ini berarti meninggalkan orang-orang yang kau sayangi?"
Nah. Pertanyaan ini yang ingin Lu Han hindari. Bagaimana caranya menjawab hal ini di saat ia sendiri masih terombang-ambing dengan rasa rindunya sesudah pergi dari rumah? Tentu akan sangat sulit meninggalkan orang-orang yang ia sayangi.
Ah, tunggu.
Orang di dalam layar, pewawancara Lu Han, sudah mengajari mengenai hal ini beberapa tahun lalu.
Lu Han menjawab tegas, masih dengan wajah memerah karena tegang. "Aku akan tetap mengambilnya. Aku akan berusaha dengan keras supaya bisa menjalankan misi ini dengan lancar... dan pulang dengan selamat untuk orang yang kusayangi."
Han Geng menahan senyum bangganya untuk putranya yang sudah mulai bisa berpikir panjang. Ia sekali lagi mengangguk-angguk. "Komandan Zhao harusnya melihat presentasimu yang penuh rasa percaya diri ini, Nak. Dia pasti akan sangat senang." katanya saat mencentang—atau menulis, entah—sesuatu di atas kertas. Mungkinkah itu lembar penilaian tertentu? Lu Han tak peduli berapa nilainya. Ia hanya peduli pria itu memanggilnya 'nak', seolah ia masih anaknya. Memang masih anaknya.
"Kau diterima," Han Geng menyimpulkan hasil wawancaranya, "Setelah Jiuquan memastikan Xichang layak untuk penerbangan berawak secara mandiri, kami akan menugaskanmu untuk penerbangan pertama ke—tujuan dekat dulu—Bulan. Data-data yang kami butuhkan adalah komposisi bebatuan Bulan dan hubungannya dengan gravitasi serta cuaca."
Kembali kepala Lu Han terangguk kosong.
"Ada lagi yang ingin kau katakan? Aku merasa ada kata-kata yang tertahan darimu, Lu Han. Katakan, apa kau merasa ragu akan misi pertama ini?"
"Ah, eh... hm... saya sedikit..." –berantakan sudah kalimat Lu Han—, "...gugup. Saya baru beberapa minggu bekerja di sini dan tiba-tiba... sudah mendapat pekerjaan besar ini."
"Hei, hei, ke mana optimisme yang tadi?" Komandan Li menepuk bahu Lu Han yang tampak menyempit, "Tuan Han, sepertinya ia perlu mendengar pengalaman penerbangan pertamamu."
"Begitu?" Han Geng tertawa kecil, lalu menengok ke kanan dan kiri, dan kembali fokus ke monitor, "Komandan Zhao belum datang. Bagus. Aku akan bercerita sedikit. Duduklah dan santai saja, Lu Han."
Seperti boneka otomat, Lu Han melaksanakan saja apa yang diminta Han Geng.
"Aku pertama kali mengambil misi ke Bulan di usia yang lebih tua darimu, 26 tahun. Atau 28? Lupa. Yang jelas, aku berangkat tepat seminggu sebelum istriku melahirkan anak pertamaku."
Lu Han memekik kaget dalam hati. Penerbangan pertamamu... sebelum kelahiranku?
"Saat itu, aku sangat enggan meninggalkan rumah, juga gugup untuk dua hal: penerbangan pertamaku dan anak pertamaku, yang sangat kuharapkan kehadirannya. Istriku mendorongku untuk tetap pergi, tetapi aku dengan sangat kekanakannya meminta tinggal. Dia tidak setuju dengan ide itu dan memintaku berjanji untuk kembali."
Komandan Li masih terheran dengan wajah Lu Han yang lebih merah dari sebelumnya. Ia sungguh tak tahu bahwa Lu Han sedang sangat bahagia, mendengarkan cerita tentang hari-hari sekitar kelahirannya.
"Pikiranku sangat kacau saat aku berangkat. Aku takut istriku tiba-tiba jatuh di tangga dan keguguran saat aku tak ada. Ada yang menggantikanku mengawasinya, tetapi tetap saja aku tak tenang."
Kesimpulan yang Lu Han tarik, Han Geng benar-benar berada di rumah selama Li Yin mengandung. Artinya pula, Lu Han selalu bersama Han Geng saat masih berada dalam kandungan. Mungkin, kesetiaan Han Geng ini yang menyebabkan Lu Han tidak bisa mencari sosok ayah baru.
"Akan tetapi, kalau aku tidak konsentrasi, kemungkinanku untuk pulang dengan selamat dan menemui anakku sangat kecil, bukan? Jadi, aku mencoba untuk mengesampingkan semua pikiran dan fokus dengan misiku. Data terkumpul dengan baik. Tim kami bahkan menemukan bahwa Bulan memiliki lapisan oksigen tipis pada atmosfer lunarnya."
Fokus. Sementara mengesampingkan orang-orang tercinta. Mendapatkan hasil terbaik. Dan kembali lagi ke Bumi. Itu kunci dari kesuksesan di space center.
"Aku pulang dan panik saat tahu istriku belum melahirkan. Dokter mengusahakan yang terbaik dan aku terus menunggu, terus berdoa, berharap istri dan anakku baik-baik saja."
Lu Han jadi tegang mendengar kisahnya sendiri. Lalu apa yang terjadi selanjutnya, Baba?
"Dan dia, putra sulungku, lahir sebagai anak laki-laki yang sehat. Istriku, walaupun lemas, masih cukup kuat untuk bercanda tentang anakku. 'Dia menunggumu pulang', katanya. Kurasa istriku benar karena anakku tenang sekali dalam pelukanku."
Mulut Lu Han membulat tanpa sadar, sebulat matanya.
"Pengalaman pertama itu mengajarkanku bahwa kadang-kadang, kita harus meninggalkan orang yang kita cintai untuk sebuah urusan, tetapi bukan berarti kita harus terus khawatir. Seperti katamu tadi, kita akan tetap kembali, setidaknya berusaha untuk kembali, jadi kita harus maksimalkan misi kita. Setelahnya, kita bisa menghabiskan waktu dengan mereka yang selalu kita pikirkan itu."
Jeda. Han Geng menoleh ke samping, bicara dengan staf di sebelahnya, lalu fokus lagi pada Lu Han. "Dua tahun setelah itu, aku punya anak lagi, tetapi dia lebih beruntung. Aku tidak sedang dalam misi, sehingga dia tidak pernah kutinggal selama di kandungan. Aku menyayangi keduanya dalam porsi yang sama, tetapi kelahiran anak pertamakulah yang lebih berkesan.
Nah, aku berharap kau juga punya pengalaman yang seru nanti pada penerbangan pertamamu."
Lu Han tersenyum getir. "Iya, saya juga berharap begitu."
"Itu cerita yang menyentuh," Komandan Li menyandarkan punggungnya, "Kebanyakan lelaki di space center bukan kepala keluarga, sih, jadi jarang ada cerita seperti itu. Aku punya anak lelaki, tetapi hubungan kami tidak 'seromantis' itu."
Han Geng tertawa. "Hubungan romantisku juga hanya dengan istriku, Komandan Li. Anak bungsuku manja, tetapi tidak cukup manis untuk membualkan kata-kata cinta. Anak sulungku apalagi. Dia sangat strict."
Bohong, aku tidak strict! Tapi benar sih, aku tidak suka membual tentang cinta, protes Lu Han.
"Hal yang bagus adalah keluarga kalian masih harmonis."
Samar, Lu Han menggeleng. Komandan Li, kau salah besar.
Lu Han tidak sadar bahwa ia menggumamkan isi pikirannya. Komandan Li yang mendengar gumaman Lu Han berpaling. "Kau mengatakan sesuatu?"
"Ah, ti-tidak." jawab Lu Han, tertunduk sedikit.
"Kau bagaimana? Kau sudah punya istri dan anak juga, barangkali?" tanya Komandan Li lagi. Lu Han menggeleng lemah dan Komandan Li memandangnya aneh. "Tadi, kau bilang kau punya orang yang kau sayangi."
"Iya, itu maksudnya... eum..."
Pemuda yang strict ini sebentar lagi akan bersikap romantis.
"...maksudnya adikku, ibuku, dan...," Lu Han berdehem; kerongkongannya tiba-tiba kering, "...ayahku."
Ekspresi Han Geng berubah—terkejut—tetapi cepat ia tersenyum untuk menutupinya. "Seorang pemuda yang menganggap keluarga kecilnya penting akan menjadi ayah yang baik, aku yakin itu. Komandan Li, kalau ada karyawan baru yang cantik, kau bisa langsung rekomendasikan padanya."
"Beres, beres." Komandan Li tergelak. Wajah Lu Han memerah sampai telinga.
Jeda lagi. Han Geng dipanggil salah seorang staf. "Ya, aku mengerti. Itu di komputer pusat, telusuri saja datanya di sana," katanya, lalu memutar tubuhnya menghadap monitor lagi, "Kurasa hari ini cukup dulu. Selamat datang di proyek penerbangan mandiri Jiuquan-Xichang, Lu Han. Sekali lagi, aku berharap kita bisa menjalin kerja sama yang baik. Bekerja keraslah dan semoga sukses."
Han Geng membuka wawancara dengan senyuman, jadi ia mengakhirinya dengan senyuman yang sama.
Pet! Koneksi diputus secara sepihak dari seberang.
Komandan Li menggeleng-geleng heran. "Pria yang ceria, berlawanan sekali dengan Komandan Zhao. Kau beruntung diwawancara oleh orang itu, Nak; dia tidak banyak bertanya dalam wawancara, tetapi tahu mana orang yang memiliki kapasitas cukup dan yang tidak. Dia juga tidak pernah membuat orang lain merasa terintimidasi, tetapi kelihatannya kau malah sangat terintimidasi tadi."
Lu Han mengusap tengkuknya kikuk. "Tidak, saya hanya terlalu gugup karena kurang persiapan."
Tentu saja itu dusta. Lu Han sudah biasa menghadapi situasi formal—pidato, wawancara, memberi informasi pada media mengenai proyek Xichang—tanpa persiapan. Yang membuatnya gugup hanya satu: Han Geng. Itu saja. Anehnya, tidak seperti kebanyakan orang gugup, Lu Han masih mengingat dengan jelas apa-apa saja yang dikatakan Han Geng.
Tentang anak pertama yang begitu Han Geng tunggu.
Tentang fokus dalam pekerjaan, baru mencinta.
Tentang kembalinya kita pada orang-orang yang kita sayangi.
Tentang pemuda, keluarga, dan ayah yang baik.
Ayah yang baik?, Lu Han menertawakan dirinya sendiri, Bagaimana aku bisa jadi ayah yang baik jika aku tidak bisa menghargaimu sebagai anak yang baik, Baba?
Sore. Lu Han sudah berada di kamarnya, di asrama pegawai. Ia duduk di atas ranjang, merenung. Apa yang ia lihat siang ini di monitor pusat komunikasi sedikit mengejutkan, setelah Lu Han pikir-pikir lagi. Bukan hanya karena itu Han Geng, tetapi ada juga alasan lainnya.
Waktu cepat sekali berjalan, batin Lu Han.
Bagaimana waktu tidak berjalan cepat? Han Geng sudah lama tidak muncul di hadapan Lu Han, dan sekalinya muncul di monitor, yang Lu Han lihat adalah gurat-gurat halus di tepi mata Han Geng, juga di tangan. Wajar, sih. Pria itu sudah 52 tahun. Bukan hanya Han Geng yang begitu: Li Yin pun sama, biarpun usianya masih belum memasuki kepala lima. Masih segar di ingatan Lu Han beberapa garis tipis keperakan di belantara rambut Li Yin yang terlihat saat ia memeluk wanita itu di acara kelulusan.
Astaga.
Lu Han baru sadar bahwa kedua orang tuanya menua—dan itu berarti waktu Lu Han dengan mereka semakin sempit.
Berapa lama lagi Lu Han akan menunda kepulangannya? Hingga mereka berdua terbaring tenang untuk selamanya?
Lu Han menggeleng-geleng cepat. Rasanya menyesakkan baginya saat membayangkan Han Geng dan Li Yin yang telah terbujur kaku tanpa dirinya di sisi mereka. Ya, orang tua bisa pergi tanpa pesan dan Lu Han akan benar-benar menyesalinya jika itu terjadi.
Cepat Lu Han menyambar ponsel di meja nakas.
Kurasa aku akan pulang dan meminta maaf...
Lu Han membuka keyguard ponselnya dan menemukan satu pesan dari nomor tak dikenal. Lu Han membuka kotak masuk dan membaca pesannya.
Dan tertegun.
Niat baik Lu Han rupanya bersambung dengan seseorang di seberang.
'Jadi, kita berbaikan? Atau kau akan memblokir nomorku lagi? –Han Geng'
Seperti anak perempuan yang baru menerima pesan dari kekasihnya, Lu Han kebingungan sendiri. Biasanya, ia langsung memasukkan nomor yang Han Geng gunakan untuk menghubunginya (nomor siapapun itu) dalam black list. Akan tetapi, Lu Han sudah memutuskan untuk kembali pada keluarganya dan berhenti lari. Dari sini, muncul lagi masalah; Lu Han sudah terbiasa tidak 'bicara' dengan Han Geng, sehingga sulit untuk membangun komunikasi lagi. Bisakah ia membalas pesan itu tanpa melukai Han Geng?
Terlepas dari itu, Lu Han mencoba praktis, Baba hanya menginginkan jawabanku, 'kan? Kujawab apa adanya saja, kenapa repot?
Lu Han mengetikkan dua kata di ponsel dan mengirimnya. Ada rasa canggung sekaligus bahagia dalam diri Lu Han saat membaca kembali pesan yang ia kirim.
'Kita berbaikan.'
Akhirnya, dua kata itu tersampaikan juga. Ponsel memang tak bisa mengirimkan perasaan, tetapi Lu Han berharap Han Geng akan mengerti perasaannya melalui pesan itu.
Kerinduannya.
Sesalnya.
Cintanya.
Satu, dua menit, belum ada balasan. Lu Han yang semula duduk di tepi ranjang mengubah posisinya jadi berbaring. Ia terus menunggu dalam pasang-surut perasaannya.
Ponsel Lu Han menyala. Si empunya cepat-cepat mengecek inbox.
'Selamat datang kembali untukmu, Nak. Ah, aku bingung harus menulis apa, hahaha...'
Lu Han tertawa kecil. Ini benar-benar Baba: polos sekali jawabannya. Kau pikir aku sendiri mengerti apa yang kutulis?, batinnya, geli dengan sikap ayahnya.
Sekaligus terharu.
Lu Han jadi makin ingin pulang.
Pesan Han Geng masih ada lanjutannya.
'Dan jangan tidur-tiduran dengan wajah bimbang selagi menunggu balasan pesan dariku! Baca buku dan pelajari dasar-dasar untuk misi pertamamu!'
Terkejut, Lu Han terlonjak dan segera menyahut manual penerbangan berawak edisi pertama terbitan Jiuquan di atas meja.
'Bagaimana kau tahu aku sedang tidur-tiduran dengan wajah bimbang?'
Lho, tunggu. Lu Han baru sadar ada yang salah dalam pesan yang baru ia kirim.
Memang aku pasang wajah bimbang? Untuk Baba? Maaf saja, ya.
Oh, Lu Han, kau sungguh seorang penipu.
'Kau selalu melakukannya saat gugup menunggu sesuatu. Menunggu pengumuman pemenang lomba astronomi SD, pengumuman penerimaan di klub sepak bola, pengumuman online nilai ujian fisika, dan juga menunggu balasan dari gadis-gadis yang dulu kau 'tembak'.'
Lu Han termangu.
'Kau masih mengingat itu?'
'Aku ayahmu, Lu. Aku tahu segala tentangmu, kecuali di mana kau berada sekarang.'
Hanya dengan membaca pesan dari Han Geng, Lu Han bisa membayangkan Han Geng tersenyum getir, menahan pertanyaan yang mungkin akan sulit Lu Han jawab: di mana kau?
Bahkan saat jauh, Han Geng tetap menjadi ayah yang pengertian. Ia menghargai keputusan Lu Han jika Lu Han belum ingin ditemui.
'Aku tinggal di asrama pegawai Xichang.'
'Kau tidak menyewa apartemen, rupanya. Bolehkah aku datang ke sana?'
Tentu saja boleh.
Namun, Han Geng sudah cukup tua, rentan terkena sakit jika harus menempuh perjalanan jauh Jiuquan-Xichang. Lu Han harus menjemputnya, tetapi ia masih sangat sibuk.
'Maaf, aku masih belum bisa menjemput Baba ke sini, jadi untuk sementara, Baba tidak usah kemari. Jiuquan dan Sichuan sangat jauh. Itu akan sangat merepotkanmu, 'kan?'
Pesan terkirim dan Lu Han berharap pesan itu tidak melukai hati Han Geng. Lu Han tidak ingin menghancurkan bangunan yang baru ia perbaiki.
'Sebenarnya, aku tidak keberatan untuk pergi ke sana, tapi jika kau bilang begitu, baiklah. Aku boleh meminta satu hal sebagai gantinya?'
Firasat Lu Han bilang Han Geng akan meminta sesuatu yang baik.
'Apa itu?'
'Izinkan aku menghubungimu lewat pesan, jika itu tak mengganggumu.'
Permintaan Han Geng sederhana saja, tetapi tak pernah bisa terwujud selama enam tahun belakangan karena egoisme Lu Han. Bukan egoisme, sih; lebih tepatnya harga diri yang kelewatan. Mau dikemanakan muka Lu Han jika menerima perhatian dari orang yang 'sedang dia benci'? Yah, bagusnya, isu harga diri itu sudah jadi nonsens bagi Lu Han kini. Anak tetaplah anak; untuk apa menolak kasih sayang orang tuanya?
'Tentu, Baba. Terima kasih mau memperhatikanku, anakmu yang kurang ajar ini. Aku benar-benar menyesal pernah marah padamu.'
Lu Han menatap monitor ponselnya. Pesan itu belum ia kirim karena belum lengkap. Ada satu hal lagi yang ingin Lu Han sampaikan, yang tidak bisa ia katakan langsung. Ia mengetuk-ngetuk keypadnya ragu dan akhirnya mengetikkan lanjutan pesan itu.
'Aku minta maaf...'
Terkirim. Lu Han lega. Ia sulit mengaku bersalah secara lisan dan pesan singkat itu sangat membantunya, tetapi ia sadar tak bisa terus begini. Sebagai lelaki, Lu Han harus menghadapi Han Geng dan mengungkapkan apa yang penting, bukannya terus bersembunyi di balik keypad.
Sekitar satu menit kemudian, Lu Han mendapat balasan dari Han Geng.
'Kau tahu apa jawabanku, 'kan? Bukankah lebih enak jika mendengarnya langsung dariku?'
Tentu saja, batin Lu Han, memutuskan untuk mengakhiri percakapan, Tentu saja lebih enak mendengarkan suaramu. Mengamati bintang denganmu. Berada di rumah hangat itu denganmu. Dan menenggelamkan semua masa laluku sebagai anak durhaka. Seandainya semuanya semudah itu.
Lu Han mengetikkan pesan singkat terakhirnya dengan canggung.
'Benar, lebih enak mendengarnya langsung. Kurasa aku sangat merindukan suaramu, Baba, apalagi saat kau mengucapkan selamat malam untukku. Hehe, konyol, 'kan?'
Dan Lu Han berhenti mengirim pesan atau menunggu balasan setelahnya. Ia langsung pergi tidur setelah melempar ponselnya ke sembarang arah (masih di atas tempat tidur, kok, jadi tidak pecah), lupa pada misinya menuntaskan panduan penerbangan Jiuquan. Ia terlalu malu untuk melihat lagi pesan yang baru saja dikirimnya atau membaca balasannya. Seorang pria tidak pernah meminta ucapan selamat malam dari ayahnya, 'kan? Lu Han baru melakukannya dan tiba-tiba merasa kekanakan. Buat apa aku ketik itu?, sesalnya.
Ponsel Lu Han bergetar saat Lu Han sudah terlelap. Ada pesan masuk, tetapi bukan pesan teks, melainkan pesan suara yang dikirim dengan senyuman.
"Selamat malam, Nak. Tidur yang lelap dan jaga kesehatanmu."
[1] astronomi: satelit yang setiap saat hanya mengamati satu sisi bumi karena memiliki periode rotasi yang sama dengan Bumi
[2] astronomi: bidang yang mempelajari kehidupan di luar angkasa
Author's note (lagi): Kembar Zheng itu TASTY, yah ^^ Duonya Woollim Ent.
