Sudah beberapa hari berhembus kabar-kabari soal kedekatan Kagene Miku dan bos besar Hatsune.
Luki yang asyik sruput-sruput teh oolong di halaman belakang gedung terpaksa mendengar ocehan-ocehan itu sambil menautkan alis. Bahkan rumor beredar bahwa mereka; Kagene Miku dan Hatsune Mikuo terindikasi KKN, tapi bukan yang akronim Kuliah Kerja Nyata, lho. Terima kasih untuk Akita Neru dan Kagamine Lenka yang setia mengoceh di kanan-kirinya. Mattaku...
"Menurutmu bagaimana, Luki-san? Apa kau gak curiga hubungan mereka?" Neru memanasi berlandas provokasi. Tapi, Luki bukan orang yang mudah terpancing kekepoannya(?)
"Bukan urusan saya." Luki sruput teh lagi sambil menyembunyikan manik miliknya.
"Gak apdet." Lenka malah kibas-kibas rambut. Katanya sih biar seksi ―darimananya ,coba?
Sudah beberapa hari Kagene Miku tidak masuk kerja. Diyakini merawat aniki-nya di rumah ―karena mereka melihat Miku menerima telpon dengan nada panik seminggu lalu ketika bersama Neru dan Lenka. Lalu keesokan harinya ia mengirim e-mail meminta ijin merawat aniki satu-satunya itu. Kok pihak gedung gak nanya-nanya gitu, ya? Ya, selama Miku menyelesaikan target sih... yes. Dan kecurigaan mereka adanya indikasi KKN pun semakin besar ―minus Luki.
Luki meletakkan cangkirnya dramatis.
"Kalau kalian segitu ingin tahunya, bukankah sebaiknya kalian ke rumahnya?"
Masuk akal dan tepat.
Neru dan Lenka bertukar pandang sebentar.
"Nanti di interkom bisa-bisa dia sudah memasang 'penangkal' agar wajah kita dikira maling." Lenka mendengus pesimis.
"Kau gak tau ya, Luki? Kudengar walaupun hanya sidik jari dan interkom, tapi banyak bom tersebar di pekarangannya! Salah melangkah kita end. Gak lucu, tahu." Neru menimpali dengan gelora hiperbola. Luki mengernyit. Kenapa segitunya sih ingin mengurus masalah orang lain?
.
.
.
.
.
Miku sedang me-las beberapa bagian mesinnya setelah mengganti beberapa komponen dasar yang diyakini akan meningkatkan efektivitas benda temuannya ini.
Rei yang baru baikan dari sakit tempo hari mendadak jantungan imajiner setelah melihat saldo rekeningnya bertambah drastis ―jelas, sumbernya adalah bos Hatsune; kalau bukan dia siapalagi. Setelah Miku menjelaskan, barulah Rei paham.
Tidak berhenti sampai disitu, kabarnya mobil pemberian bos Hatsune akan tiba besok. Rei kena serangan jantung season dua dan pingsan selama setengah jam saking syoknya. Miku menambahkan, sepeda elektriknya sudah dijual sebelum Mikuo mengantarnya pulang malam itu.
Terlalu banyak kejutan di hidup Rei. Ya ampun...perasaan dia gak ngapa-ngapain dan dapat rejeki melimpah begini.
Uang hasil penjualan penelitian Miku seharusnya banyak. Seharusnya. Dan Miku tidak membuka rekening sendiri serta memilih dijadikan satu dengan Rei.
Lalu?
Tentu saja, uang Miku yang begitu banyak terpaksa dihabiskan olehnya, meski ia sendiri juga terkadang tidak ingin. Tapi, ia membutuhkannya. Untuk pengobatannya. Alasannya tidak ikut rapat ke Miyagi bersama Mikuo karena ia sakit keras. Ia sudah lama menderita penyakit ini, dari kecil. Dan saat sakitnya kambuh kemarin, Rei berpesan kepada Miku agar mengatakan pada bosnya bahwa dirinya sakit demam.
Parah, bahkan saat kumat kemarin ia hampir tak bisa bergerak. Ia mengalami penyakit aneh, Von Hippel-Lindau atau biasa disingkat VHL. Penyakit ini menyebabkan berbagai tumor tumbuh di organ dalam seperti otak, retina, pankreas, dan lain-lain. Sejauh ini baru ada tumor di salah satu ginjal dan di bagian sumsum tulang belakangnya. Kadang-kadang ia merasakan sakit teramat sebab keberadaan tumor yang mendiami tubuhnya. Obat yang dibelikan Miku di apotik pun hanya mampu menghambat pertumbuhannya.
Menghambat, bukan menghilangkan.
Pernah Miku menyarankan agar Rei kemoterapi saja tapi ditolak mentah-mentah oleh Rei. Kalau ia sampai kemoterapi, nanti jam kerjanya akan menghilang. Mau ditaruh mana mukanya sebagai seorang kakak? Tidak ada yang tahu soal ini selain Miku ―dan tentu saja Mikuo selaku teman masa mudanya dulu. Jadi lebih baik membeli obat pereda rasa nyeri dari apotik, walau mahal karena sekali beli langsung beberapa dus sebagai persediaan.
"Onii-chan? Kau sedang apa? Sup-nya hampir dingin..." Miku mengingatkan agar Rei segera memakan sup tofu di meja. Sementara Miku sibuk berlalu lalang membereskan peralatannya. Rei menatap nanar pada sup tofu di depannya. Dia ingin hidup lebih lama lagi, lebih lama hingga ia yakin Miku takkan membutuhkannya.
Terlalu.
Ia menyayangi Miku sepenuhnya. Bahkan masih bertahan hidup sampai sekarang adalah berkah luar biasa dari Tuhan.
Tapi rasa nyeri kembali menyerang perutnya. Rei sampai harus menggigit bibir bawahnya. Oh Tuhan, mengapa ia mendapat penyakit seperti ini? Apakah Tuhan mulai membencinya?
Mikuo merasa pusing hari ini. Ia harus mengurusi segunung dokumen tadi ditambah ocehan dari Rin sejak setengah jam lalu mengenai laporan bulan ini, mulai dari pemasaran, akunting, dan sebagainya.
"Dan begitulah, Hatsune-san. Ada pertanyaan?" Rin yang telah selesai membacakan jadwal bos-nya ,bertanya.
―sungguh, ini lebih mirip seorang guru yang bertanya pada muridnya.
Mikuo menyandarkan punggungnya yang pegal ke bantalan kursi di belakangnya. Hah, ya ampun. Mikuo merasa pening. Seminggu ini benar-benar padat. Ia lelah.
"Terimakasih, Kagamine.." Mikuo mematikan hologram yang menghubungkannya dengan Rin. Telewicara yang menyenangkan, bukan. Rin tadi langsung pulang begitu mendapat sebuah pesan entah apa, jadilah mereka menggunakan hologram sebagai media.
Bulan ini tidak ada masalah. Tapi, dokumen segunung ini seolah menghantam bos besar Hatsune di atas kepala. Mana Rin cabut lagi.
"Sialan!"
Mikuo mengacak rambutnya, frustrasi.
Mikuo hendak menelpon Rei dari kantornya, ingin menanyakan keadaan Rei apakah masih sakit atau sudah sehat. Kalau sudah sehat, bisa tolong bantu dia mengerjakan semua ini?
Memang itu pekerjaannya, kan.
Sialan Kagamine Rin itu. Dasar asisten banyak alasan.
'Moshi-moshi..' Sebuah suara perempuan menyahut panggilan Mikuo. Oh..apa ini Miku ya?
"Oh, halo Kagene-san? Ini Hatsune..apa Rei ada?"
"Wah, sebentar Hatsune-san..onii-chan! Ada telpon da― onii-chan! Onii-chan!"
Mikuo menautkan alisnya.
"Hei, ada a―"
"Onii-chan! Onii-chan!"
Firasat Mikuo tidak enak. Apa terjadi sesuatu disana? Tapi, ia masih harus menyelesaikan semua ini. Jangan-jangan, Rei kambuh lagi? Keparat. Di saat seperti ini Rin justru pulang. Akh!
Persetan, dia harus ke rumah Kagene sekarang juga!
Miku menjerit histeris melihat kakaknya tak sadarkan diri. Rei terjatuh dari kursi makan. Sup-nya terlihat masih utuh. Mata Rei yang terpejam membuat Miku panik. Ia mengguncang tubuh kakaknya. Miku teringat tadi ada telfon dari Mikuo. Gagang telfon masih tergantung di bawah meja. Ia segera meletakkan gagang itu ke telinganya, berharap Mikuo masih ada disana. Namun ternyata telah diputus. Ah, Miku tak punya nomor ponsel Mikuo. Ia hanya bingung, bingung harus menghubungi siapa.
Miku kembali mengabaikan gagang telpon itu begitu mendengar kakaknya berteriak kesakitan. Dengan panik, ia mengambil ponselnya di saku, tapi ponselnya mati. Ia lalu mencari ponsel Rei di atas meja nakas yang tak jauh darinya, namun keadaannya sama saja; sekarat.
Dengan penuh keyakinan, ia memberanikan diri mengangkat tubuh Rei yang lemah itu. Namun, dasarnya kekuatan perempuan dan lelaki itu berbeda, Miku sangat kesulitan. Ia berusaha sekuat tenaga, tapi tetap tidak kuat mengangkatnya. Ia tidak tahu...tidak tahu harus berbuat apa...
Tak lama kemudian, ia mendengar suara bel berbunyi. Miku langsung melesat berharap bantuan dari orang yang bertamu ke rumahnya itu.
Miku membuka pintu tanpa mengecek interkom, namun ia beringsut mundur mendapati siapa yang menekan bel rumahnya. Ia lupa, seharusnya tidak ada orang yang bisa melewati pagar sebelum sampai ke depan pintu, bodoh...ia tak melihat interkom.
"Hai, Kagene Miku."
Mikuo mempercepat laju mobilnya ke kediaman Kagene. Kendaraan beroda empat itu seakan membelah jalanan. Mikuo menatap fokus pada arah depan dan sesekali melirik speedometer-nya. Hampir menembus angka 200. Ia harus cepat sebelum Rei kenapa-napa.
Mikuo tiba di depan kediaman Kagene dan langsung mengerem dengan kuat. Membuat suara gesekan menyakitkan telinga dalam radius beberapa meter.
Ia heran melihat pintu yang terbuka. Alat keamanan di pagar depan pun terlihat rusak. Ia turun setelah mematikan mobil ―dan segera, Mikuo berlari ke dalam rumah Rei. Apa mereka tahu, alat keamanannya rusak?
Sebuah pemandangan tak terduga menyambutnya begitu masuk ke dalam sana.
"Kenapa kau bekerja untuk orang itu, Miku?"
Miku tak menjawab. Ia masih memikirkan kakaknya yang ia tinggalkan tak berdaya di rumah. Ia khawatir, takut terjadi apa-apa dengan Rei. Bagaimana ini? Adakah yang akan menolong kakaknya? Miku berdoa dalam hati. Semoga saja...ada seseorang...
"Miku, kau mendengarkanku atau tidak? Hatsune hanya memanfaatkanmu.."
Sigh.
"Memanfaatku atau bukan, tapi ia menghargaiku..tidak sepertimu, Shion-san.."
Ya, benar. Setidaknya Mikuo lebih menghargainya.
Yang disebut Shion tertawa renyah. "Aku minta maaf sudah memecatmu sebagai manajer personalia perusahaanku. Tapi, kurasa kita bisa adakan kontrak kembali, bukan begitu?"
Miku kesal melihatnya. Dulu ia bekerja di Shion Corporation pada awalnya, sebagai manajer personalia. Tapi itu hanya tiga bulan, karena ia dipecat tanpa alasan yang jelas.
"Sayang sekali, aku telah terikat kontrak dengan Hatsune Mikuo untuk penemuanku." ―padahal tidak juga. Mikuo hanya berbicara empat mata, tanpa bukti hitam di atas putih. Namun setidaknya Mikuo lebih menghargainya dan memberikannya kesempatan untuk mengembangkan penelitiannya.
"Kakakmu akan mati.."
Sialan.
"Diam kau, Shion Kaito! Kau tak berhak bicara begitu!"
Mengabaikan amarah Miku, justru Kaito kembali mengeluarkan kalimat yang membuat gadis itu semakin menatap benci ke arahnya.
"Racunnya mungkin telah menyebar. Cepat katakan persetujuanmu dan akan kuberikan penawarnya." Kaito menyalakan recorder di jam tangannya.
"Katakan..Kagene Miku.."
Miku bimbang. Ia tidak mungkin bekerja untuk Kaito lagi; mengingat dimana ia bekerja saat ini hanya di lembaga pemerintah―dan mungkin Mikuo.
"A-aku.."
Tidak.
"Aku..akan.."
Tidak.
Ini tidak benar.
Kaito lah yang lebih memanfaatkannya daripada Hatsune Mikuo.
Ia juga yang membuat Rei sempat koma beberapa tahun lalu.
Dia juga yang menghancurkan semua penemuan Miku sebelum Miku bergabung ke institusi legal milik Mikuo.
―benar, semua berubah ketika Hatsune Mikuo hadir dalam kehidupannya serta sang kakak.
Shion Kaito adalah mimpi buruknya.
Hatsune Mikuo adalah penyelamat hidupnya.
Dan fakta itu tak akan berubah sampai kapanpun.
"Cepat katakan, kau tahu..obat penawarnya hanya ada padaku, bukan?" Ancam Kaito.
Miku terjepit. Ia..haruskah ia memilih? Tapi..mana yang harus ia pilih?
Terlalu lama berpikir, membuat Kaito kesal juga. Ia ingin menampar gadis itu. Namun sebuah tendangan telak mengenai ulu hatinya.
"Shion!"
Penawar itu terjatuh. Miku memberanikan diri menampakkan maniknya. Hanya demi melihat adegan heroik ala bos besar Hatsune.
Iya, Mikuo yang menendang Kaito.
Miku tak berbicara apa-apa. Ia diam saja ketika Mikuo menghajar Kaito hingga babak belur. Ia diam ketika melihat mereka saling enggan mengalah. Dan ia juga diam ketika mobil polisi datang.
Mikuo lebam di pipi kirinya, juga kedua lengannya. Membiru dan terlihat sakit.
Miku juga diam tatkala Mikuo memeluknya dan membisikkan sesuatu kepadanya.
"Kakakmu di rumah sakit sekarang. Ia koma."
Miku tanpa sadar membalas pelukan Mikuo dan menangis keras.
Tsuzuku
Lah kok jadi surem amat ini wwwww kecepeten pula orzorz
Waow tenang aja mbak Yana, ini gabakal belok ke romens. /5 #pembelaandiri# dan mulai sini semua akan jadi lebih serius, dan santai saja..alurnya tetep sama seperti yang kau rikuesin :") /maungemasojuga
Apa cerita saya terlalu bertele" ? Kalo iya mohon dimaafkan :") niatnya bikin foreshadow tapi jatuhnya makin gajelas orzorz
thanks buat dwinur. halifah. 9, Rika Miyake, sarah. maula. 1,sieg2013 saya akan kirim pm ya buru2 ini aplodnya wkkwwkwk
Panda Dayo, de wa.
