I don't own Naruto.
Naruto is belong to Masashi Kishimoto.
But this story is mine. So, please enjoy. ^^
.
.
.
.
.
Summary: "Apa kau pernah membenci hidupmu, Dei-nii?"/ "Menikah itu bukan akhir dunia Naruto."/ "Bagaimana dengan Sasuke? Kau sudah memikirkan tentang dia?"/ "Kau ingin menolak permintaan Namikaze itu kan?..."/ "Bibi... Bibi yang baik... Apa Hikari anak yang nakal?"/ "Kalau begitu, apa Bibi mau menjadi Kaa-san untuk Hikari? Teman-teman Hikari memiliki Kaa-san. Dan Hikari ingin memiliki satu saja. Hikari akan menjadi anak yang lebih baik. Hikari berjanji."/
.
.
.
.
4. Greeting
Konohamaru merasa tidak sepenuhnya senang ketika kakaknya memberitahu dia memutuskan akan menerima lamaran dari keluarga Namikaze. Apa-apaan kakaknya itu? Kanapa harus repot-repot menerima semua itu tanpa memikirkannya berulang kali?
"Kau marah pada Nee-chan Konohamaru?"tanya Sakura. Kakaknya itu muncul dengan kimono sutra berwarna hijau dengan bordir gambar berbentuk bunga teratai dan obi berwarna kuning cerah. Rambut kakaknya yang berwarna merah muda itu sudah disanggul rapi dan diberi jepit berbentuk bunga sakura. Riasan tipis malah membuat kakaknya terlihat memukau.
"Aku tidak suka ini, Nee-chan. Apa Nee-chan tidak ingin hidup dengan cinta yang melimpah dari suami atau keinginan romantis lain yang diimpikan banyak wanita?"
"Nee-chan memutuskannya bukan tanpa alasan."
"Harusnya Nee-chan mempertimbangkan keputusanku juga!"
"Ayah juga sudah menyetujui keputusan Nee-chan ini."
Konohamaru menggigit bibir bawahnya. Berusaha menahan protes-protes yang ada di pikirannya. Dia tidak akan bisa mendebat kakak perempuannya yang keras kepala ini.
"Jangan lupa untuk bertanggung jawab dengan keputusan ini, Sakura. Jangan pernah menyesali keputusan yang kamu buat. Dan jangan lupa untuk bahagia."tutur Tsunade. Wanita berambut pirang dengan wajah yang luar biasa cantik itu memeluk Sakura.
"Terima kasih dukungannya Tsunade-sama."balas Sakura. Setitik air mata sudah membayang di sudut matanya. Wanita berambut pirang itu menghapus air mata Sakura dengan lembut dan mengecup dahinya.
"Bukan apa-apa. Aku tidak pernah menganggapmu orang lain, Sakura. Kau juga tidak perlu berterima kasih seperti itu. Bagiku, kau adalah putri terbaik yang pernah kudapatkan." Tsunade mengelus bahu gadis itu dan menatap Konohamaru yang berdiri di samping kakakknya. "Jangan berdebat dengan kakakmu soal ini, Konohamaru. Dewasalah. Suatu saat kau juga akan menikah dan tau bagaimana beratnya masa-masa sebelum pernikahan."
Pemuda berusia 17 tahun itu mengangguk pasrah dan berjalan mengikuti Tsunade dan juga Sakura menuju ruang tamu. Mereka sepakat untuk menerima kedatangan keluarga Namikaze di rumah Tsunade yang berperan sebagai wali mereka 3 tahun terakhir.
"Apa mereka tidak pernah menanyakan siapa dirimu sebenarnya Sakura?"tanya Tsunade. Wajahnya terlihat cukup khawatir.
Sakura menggelengkan kepalanya. "Tuan Namikaze bilang dia sudah tau latar belakangku dan tidak mempermasalahkan semua itu."
Tsunade manaikkan salah satu alisnya. Apa yang didengarnya cukup mengejutkan.
"Bagaimanapun ini mencurigakan, Nee-chan. Jangan-jangan Nee-chan memang sudah dijebak." Konohamaru bersikeras.
"Aku hanya tidak ingin Nee-chan terluka."tambah Konohamaru.
"Nee-chan akan baik-baik saja. Nee-chan janji."tukas Sakura, berusaha meyakinkan.
Keheningan langsung menyelimuti ruangan. 10 menit setelah itu, mobil sedan ferrari berwarna hitam memasuki halaman rumah Tsunade yang cukup luas. Keluarlah seorang laki-laki dengan rambut berwarna perak, kacamata bulat menggantung di hidungnya dan berwajah dingin. Laki-laki itu membukakan pintu. Dan keluarlah sang Namikaze senior. Diikuti dengan gadis berambut langit malam dan mata berwarna lavender pucat. Di lengannya ada sosok balita dengan rambut pirang. Balita itu tersenyum cerah. Lalu... Namikaze yang tidak pernah ditemui Sakura. Laki-laki bernama Naruto yang akan dinikahinya tak lama setelah ini.
Tsunade menyambut kedatangan tamu-tamunya dengan senyum. Mempersilahkan mereka masuk ke ruang tamu luas yang beralaskan tatami. Bergaya Jepang era zaman edo dengan beberapa lukisan pemadangan menggunakan cat air yang dipajang dengan artistik.
"Rumah anda sangat indah."puji Minato dengan tulus. Senyum tak pernah lepas dari wajah itu.
"Terima kasih. Kami meminta maaf kalau sambutan kami hanya seperti ini. Sejujurnya, saya dibuat sedikit terkejut dengan keputusan Sakura."
"Jangan begitu. Akulah yang menginginkannya sebagai menantu. Oh ya, maaf sebelumnya. Saya belum memperkenalkan diri. Saya Namikaze Minato. Di sebelah kiri saya ini, Putri saya Namikaze Hinata. Dan yang ada dipangkuannya adalah cucu saya, Namikaze Hikari. Sebelah kanan saya adalah putra yang akan saya jodohkan dengan Sakura, Namikaze Naruto. Hikari adalah putranya dari pernikahan sebelumnya. Dan yang duduk di sebelah sana, dia adalah asisten saya Kabuto."
"Senang berkenalan dengan anda semua. Nama saya Senju Tsunade. Saya untuk sementara ini adalah wali dari Haruno Sakura. Anda tentu sudah mengenalnya. Dan ini adalah adik Sakura, Haruno Konohamaru."
"Saya tidak ingin membicarakan panjang lebar soal ini, Senju-san. Saya ingin membahas soal rencana pernikahan Sakura dengan putra saya Naruto."
"Saya ingin Sakura menyelesaikan masa magangnya di Rumah Sakit terlebih dahulu. Sebagai pembimbing akademiknya juga, sangat disayangkan kalau hanya kerana pernikahan dia melupakan studinya yang tinggal sedikit lagi. Setelah ini dia akan mendapat lisensi sebagai dokter secara penuh. Tolong tunggu sekitar 2 atau 3 bulan lagi. Hanya itu saja permintaan saya. Soal tempat dan bagaimana acaranya, saya mempercayakan keseluruhannya pada anda, Namikaze-san."
"Berarti tidak ada masalah dengan keinginan kami. Saya akan mempersiapkan sisanya."
"Silahkan nikmati hidangan ini. Beberapa dari masakan yang ada di sini dibuat oleh Sakura sendiri."
"Benarkah? Patut di coba. Calon menantu yang baik pasti bisa memasak. Benar begitu kan?"
Obrolan dan candaan menghiasi suasana malam itu. Namun, Sakura merasa ada yang tidak benar ketika dia mentap wajah 'calon suami'nya. Laki-laki berambut pirang yang duduk di hadapannya itu hanya tersenyum lelah dan memakan hidangan yang ada di hadapannya dengan mengeryitkan hidung. Laki-laki itu terlihat tidak cukup bahagia.
Sakura mengalihkan pandangannya ke arah balita berusia hampir 4 tahun yang duduk di pangkuan Hinata. Balita itu tersenyum cerah ke arahnya dengan mengacungkan garpu yang digenggamnya erat-erat.
Ya, alasan inilah yang membuat Sakura ingin bertahan. Melawan nuraninya untuk menolak pernikahan ini. Balita itu harus bahagia. Sekalipun ini baru kedua kalinya dia bertemu dengan bocah itu, ada rasa sayang yang tidak bisa diucapkan olehnya.
Mengetahui kalau dirinya dipandangi, Hikari bangkit dari pangkuan Hinata dan berjalan munuju Sakura. Lengan kecilnya melingkari leher Sakura.
"Kaa-chan."panggil Hikari.
Sikap balita itu membuat keseluruhan ruangan menjadi senyap.
"Daisuki."ujar Hikari lagi sembari mengeratkan pelukannya.
Ucapan Hikari yang polos, dan penerimaannya akan sosok Sakura membuat Sakura terharu. Direngkuhnya Hikari tanpa sadar. Setitik air mata yang sejak tadi ditahannya ketika melihat Hikari turun dari mobil menetes di kedua pipinya.
.
000
.
Selepas rombongan keluarga Namikaze pulang, Sakura tidak bisa memejamkan mata seperti yang harusnya dilakukan olehnya. Bayangan Ayah, Ibu, dan Sasuke membelit di otaknya. Seolah tidak pernah memberikannya celah untuk merasa tenang.
Sakura membuka lemari yang berisikan album foto. Diatatapnya foto kedua orang tuanya yang sedang tersenyum ketika acara perpisahannya di SMP. Dia ingat sekali Ayahnya sempat menitikkan air mata haru ketika Sakura berdiri di podium mewakili seluruh temannya untuk berpidato. Saat itu Sakura menyandang gelar lulusan terbaik.
Justru ketika tiba saatnya dia untuk menikah, Ayahnya tidak bisa hadir. Tidak bisa ikut mengantarkannya ke altar seperti pengantin putri lainnya. Sebelum ini, Sakura hanya bisa menjenguk Ayahnya di penjara dan meminta restunya.
Di saat yang bersamaan, muncul rasa sesal yang mendalam akibat keputusannya menerima lamaran keluarga Namikaze.
Bukan Sasuke yang akan ditemuinya ketika dia berjalan menuju altar. Bukan Sasuke orang yang akan mengucapkan janji suci pernikahan bersamanya. Bukan Sasuke orang yang akan menghabiskan waktu seumur hidup dengannya.
Laki-laki itu menghilang tanpa jejak. Bahkan di saat terakhir ketika Sakura berniat menjawab lamaran Tuan Namikaze padanya, dia masih mencoba menghubungi Sasuke. Dan nihil. Laki-laki itu seolah hilang ditelan bumi. Semua akses komunikasi yang menuju padanya terasa bagaikan ilusi.
"Sasuke, apa kau tau apa yang sedang kurasakan sekarang? Betapa bingungnya aku karena bukan kaulah orang yang akan kunikahi? Mengapa sulit sekali mencapaimu sekarang? Apa aku tidak memiliki arti lagi untukmu?"keluh Sakura dalam isaknya. Dia tau apa yang diucapkannya tidak akan pernah sampai pada laki-laki itu.
Hanya foto laki-laki itu yang tersenyum dengan latar belakang bunga sakura yang tengah mekar itulah yang menjadi suar hidupnya beberapa tahun ini. Namun foto tidak akan bisa bicara. Tidak akan pernah bisa menggantikan sosok aslinya.
"Aku akan menikah. Dan kau akan berubah menjadi salah satu kenangan. Hubungan kita tidak akan pernah sama lagi Sasuke. Dan hari ini... hubungan apapun yang ada dalam diri kita sudah berakhir."tukas Sakura.
Dimasukkannya kembali album foto itu ke dalam laci. Mulai hari ini, dia harus membuka lembaran baru. Tidak akan menjadi Sakura yang sama karena kali ini ada hati yang harus dijaga olehnya.
.
ooo
.
"Kenapa kau tidak pernah bilang kalau Uzumaki memiliki kaitan yang erat dengan Namikaze?"
Karin nyaris menumpahkan jus jeruk yang ada di tangannya. Di sampingnya, berdiri sosok laki-laki berambut merah dengan tato di dahi sebelah kiri. Laki-laki itu tengah menatapnya tajam.
"A...Aku tidak tau kalau akan be...begini jadinya."
"Harusnya kau katakan saja alasanmu tidak menyetujui pernikahan karena kau sepupu sang Namikaze. Beres kan? Sakura tidak harus mengalami hal menyedihkan seperti ini."tutur Gaara dengan nada yang amat dingin. "Aku benci membayangkan kehidupan seperti apa yang akan diderita oleh Sakura. Sebenarnya kau itu sahabatnya bukan sih?"
Karin menggenggam jarinya erat-erat. Berusaha menahan amarah yang menyusup akibat perkataan Gaara.
"Permisi."pamit Karin.
"Kau tidak akan bisa lari setelah turut andil dalam keputusan yang diambil Sakura, Uzumaki."
Karin berbalik. Menatap Gaara dengan tatapan nanar. Laki-laki ini sudah keterlaluan.
"Yang memutuskan menikah bukan aku. Lagipula, sekalipun Naruto adalah sepupuku, aku tidak akan memihak siapapun di sini. Pernikahan ini murni keputusan mereka. Aku sudah mengatakan apa yang kurasakan sebelum pengambilan keputusan itu. Jangan menuduhku seolah aku orang yang paling bersalah Sabaku no Gaara!"
Karin meninggalkan Gaara tanpa menoleh. Selama beberapa saat, Gaara menatap sosok gadis bergaun merah muda itu menghilang.
"Sial! Apa yang tadi kukatakan?!" Gaara merutuki dirinya sendiri. Kalau saja dia bersikap lebih tenang dan tidak melibatkan perasaan pada kata-katanya, mungkin dia akan menemukan lebih banyak hal tentang siapa sosok Namikaze sebenarnya.
.
ooo
.
"Karin!"
Wanita berambut merah itu menoleh. Matanya mengerjap tidak percaya ketika melihat tampilan Sakura yang luar biasa. Gadis berambut merah muda itu mengenakan kimono pernikahan yang terbuat dari sutra berwarna merah dengan bordiran emas berbentuk merak di seluruh permukaannya. Obi berwarna emas melingkari pinggang rampingnya. Wajahnya dirias dengan sempurna. Rambut merah mudanya tertutupi oleh topi tsuni kakushi. Selama beberapa detik, Karin hanya diam sembari memandangi sosok sempurna di hadapannya.
"Aku seperti melihat putri Kaguya yang melompat keluar dari lukisan. Kau cantik sekali, Sakura."puji Karin. Air mata membayang di sudut matanya.
"Terima kasih."balas Sakura . "Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan denganmu."
"Ada apa?"
"Kau tadi berlari setelah berbicara dengan Gaara-kun. Ada apa? Kalian tidak bertengkar kan?"
"Ma...mana mungkin kami bertengkar di hari bahagiamu Sakura? Ini kan pernikahanmu?"
Sakura mengangguk dan menatap ke arah suaminya. Laki-laki itu tengah memakai hakama pernikahan berwarna biru gelap dengan bordiran berwarna perak. Mereka baru saja mengganti pakaian pernikahan mereka. Tapi laki-laki itu masih terlihat acuh dengannya.
Melihat Sakura tidak merespon ucapannya, Karin mengguncang lengan sahabatnya sedikit. Sakura menoleh ke arahnya kembali dengan pipi yang bersemu merah.
"Aa...Aku tidak memandanginya."ujar Sakura terbata-bata.
"Aku tidak mengatakan apa-apa soal memandangi."
"Eh?"
Panas tubuh Sakura meningkat. Sekarang, wajahnya sudah memerah secara sempurna. Pemandangan itu tentu saja membuat Karin tertawa setelah menyadari siapa objek yang tengah dipandangi Sakura selama beberapa saat tadi.
"Aku tau sepupuku itu tampan. Tapi aku tidak menyangka kau akan mengira aku sedang mengingatkanmu kalau kau sudah memandanginya selama beberapa menit."jelas Karin disela-sela tawanya. "Kau tadi ingin mengucapkan sesuatu padaku kan?"
"Etto... Aku... Karin! Jangan tertawa terus. Semuanya akan memandangiku kalau kau tidak menghentikan tawamu. Aku sudah cukup malu menjadi tontonan hari ini."seru Sakura panik.
"Kau sudah menjadi tontonan seharian. Tidak akan ada bedanya kalau kali ini kau menjadi tontonan lagi. Kau kan menikah. Sudah sewajarnya kan kalau semua mata memperhatikanmu?"
"Karin..."
Sakura memukul-mukul bahu sahabatnya itu dengan ringan. Berharap tawa yang menghiasi wajah sahabatnya itu menghilang sebelum banyak pasang mata teralih perhatiannya padanya. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian setelah upacara pernikahan di kuil tadi.
"Nah, apa yang ingin kau bicarakan denganku?"tanya Karin setelah tawanya reda dan amukan Sakura karena malu juga turut berkurang.
"Aku tidak suka melihatmu tidak akrab dengan Gaara-kun akhir-akhir ini. Kalian seperti berselisih paham terhadap banyak hal. Padahal, kalian cukup akrab selama SMA. Aku juga ingin kau memberikan restu atas pernikahanku dengan seorang Namikaze. Kau terlihat sangat keberatan kalau hal ini terjadi. Aku tidak ingin hubungan kita semua menjadi renggang, Karin. Lagipula, kau jahat sekali. Kenapa baru memberi tahu tadi pagi kalau kau sebenarnya sepupu keluarga Namikaze?"
"Ibu Naruto adalah adik dari ayahku. Kami memang sepupu. Aku mengenal keluarga Namikaze hampir sama banyaknya dengan aku mengenal keluarga Uzumaki. Ada banyak hal yang tidak bisa kukatakan karena aku tidak ingin membuat masalah. Tapi aku merestui hubungan ini selama alasan yang kau bawa untuk menikah dengannya cukup kuat. Kau sampai meninggalkan kenanganmu soal Sasuke. Tapi apapun itu, aku hanya ingin kau bahagia. Soal hubunganku dengan Sabaku-san... kurasa kami memang tidak memiliki banyak kecocokan. Itu saja. Jangan terlalu khawatir soal itu. Kami akan baik-baik saja."
"Kau tau aku juga menyayangimu, Karin. Kalau memang ada sesuatu yang memberatkan bagimu, ceritakan saja."
"Lupakan soal itu." Karin berusaha menenangkan Sakura. "Jadi, apa alasanmu sampai berani meninggalkan kemungkinan bersama dengan Sasuke dan memilih sepupuku Sakura?"
"Kau benar-benar ingin tau?"
"Tentu saja. Aku harus tenang melepasmu karena sepupuku yang satu itu sangat merepotkan. Aku tidak ingin berusaha membelanya."
"Sasuke tidak pernah memberi kabar soal keberadaannya. Aku tidak memiliki cukup alasan untuk mempertahankan laki-laki yang keberadaannya saja aku tidak tau. Lagipula, dia sudah pergi selama 3 tahun. Aku sudah melepaskan keberadaannya."terang Sakura. "Dan lagi, aku tidak ingin Hikari mengalami kesepian yang kurasakan ketika awal-awal ibu meninggal dunia, Karin. Bagiku itu sangat menyakitkan. Tapi Hikari... dia harus kehilangan sosok orang tuanya di usianya yang masih 4 tahun. Dialah alasan terkuatku untuk melakukan semua ini. Soal sepupumu yang merepotkan, semua orang akan menjadi seperti itu karena ditinggalkan."
Sakura tersenyum getir dan berusaha menahan air matanya. Payah. Padahal dia berjanji dia tidak akan menangis selama hari pernikahannya.
"Kau akan bahagia. Aku berjanji aku akan membantumu untuk mewujudkannya, Sakura."
.
ooo
.
Kiba merangkul pinggang Tenten. Memimpin wanita manja yang tengah hamil 3 bulan itu menuju mempelai yang berdiri tak jauh dari mereka. Laki-laki bertato segitiga di kedua pipinya itu mengeratkan pelukannya.
"Hai pengantin baru."sapa Kiba kepada sahabat berambut pinknya itu. Sakura tersenyum menyambut uluran tangan Tenten yang langsung memeluknya.
"Terima kasih sudah datang."
"Tentu saja kami datang, forehead. Bagaimana mungkin kami melewatkan pernikahanmu? Kami juga tidak akan melewatkan pernikahan Shikamaru, Karin, Sasuke, Gaara, dan juga Ino. Sama seperti ketika kalian datang di pernikahan kami." Tenten menepuk pipi Sakura. Pandangannya teralih ke arah Naruto.
"Salam kenal Namikaze-san. Aku Inuzuka Tenten. Dan ini suamiku Inuzuka Kiba."
"Namikaze Naruto. Salam kenal juga."
Kiba menepuk bahu Naruto dan menampilkan senyum terbaiknya. "Tolong jaga sahabatku ini baik-baik, Namikaze-san. Dia sudah melalui banyak hal yang tidak akan membuat siapapun merasa senang jika ada di posisinya. Dia gadis yang sangat baik. Kau sangat beruntung menikahinya. Sama beruntungnya denganku yang menikahi Tenten."
Naruto tersenyum kecut dan menatap 'istri'nya itu. Dia tidak suka wanita sebesar rasa tidak sukanya terhadap pernikahan. Kenapa dia harus repot-repot menjaga wanita itu? Dia tidak butuh didampingi (meminjam istilah dari ayahnya. Bagi Naruto, dengan menikahkannya berarti ayahnya menginginkan babysitter gratis untuk Hikari dan juga dirinya).
"Dia sahabat kami yang berharga. Air matanya adalah penderitaan bagi kami semua."
Tenten melepas pelukannya dan menatap Kiba. "Kami pulang dulu Sakura, Namikaze-san. Kami doakan kalian hidup berbahagia sampai ajal memisah."
"Terima kasih doanya."
Kiba berbalik. Tangannya masih merangkul Tenten dengan mesra dan meninggalkan pasangan pengantin yang terlihat kaku dan tidak bersahabat itu. Sakura ingin merutuki dirinya karena tidak mampu membuka komunikasi yang wajar dengan suaminya.
Sementara dia sibuk memikirkan kebodohan demi kebodohan yang mungkin dilakukannya setelah pernikahan, sosok laki-laki berkuncir tinggi berbentuk nanas, berwajah kaku, dan memakai setelan mahal datang menghampiri Sakura dan Naruto.
"Sakura."panggil pemuda nanas itu. Mata onyx itu memandang sendu Sakura sebelum mengalihkan pandangan pada sosok laki-laki di samping sahabatnya.
"Shikamaru. Kau datang juga?"
"Tentu. Kau terlalu berharga untuk dilewatkan. Dan ini pernikahanmu. Aku harus datang kan?"
"Kau ini... Kalau kau bicara seperti itu terus, semua orang akan melihat kemari dan mengira kau memiliki sesuatu yang spesial denganku. Bodoh."ujar Sakura sembari menjitak kepala nanas di hadapannya.
"Aku tau." Shikamaru tersenyum tipis dan menepuk kepala Sakura yang tertutup dengan topi. "Semoga kau bahagia. Aku hanya mengharapkan air matamu tidak turun lagi setelah ini."
"Berlebihan. Dasar!"
"Namikaze-san."
Naruto menoleh.
"Jaga dia. Selain kedua orangtuaku, dia orang yang cukup penting dalam hidupku. Satu tetes air matanya turun karena perlakuanmu, kau akan menerima akibatnya."
"Terserah saja."balas Naruto tanpa berpikir panjang. Teman-teman gadis yang dinikahinya itu mengganggu. Mereka semua memperingatkan Naruto untuk tidak menyakiti. Lalu bagaimana dengan kemungkinan Naruto yang akan tersakiti dengan tingkah wanita ini? Tidak ada yang memperingatkan soal sifat 'istri'nya.
"Forehead!"pekik seorang gadis dengan surai pirang yang panjang. Gadis bermata biru langit itu berlari menuju Sakura.
"Ino-pig!"
"Maaf aku terlambat. Nyaris saja aku melewatkan pernikahanmu. Ayahku membuatku sakit kepala semalaman karena memintaku membantunya mengurutkan materi yang akan diajarkan pagi ini. Yang benar saja. Dia membuatku sibuk di hari penting."
Sakura tertawa dan memeluk sahabatnya itu. "Kau tidak ketinggalan banyak hal. Kecuali Kiba dan Tenten yang sudah pulang. Karin ada di deretan keluarga kalau kau mau mencarinya. Gaara masih berbicara dengan Tsunade-sama di sana. Dan ada Shikamaru di sini."
Ino melihat ke arah yang ditunjuk Sakura dan tersenyum memandang mata onyx milik Shikamaru. Laki-laki itu mendengus sebal dan melemparkan pandangannya ke arah lain.
"Oh, maaf Shika. Aku tadi hanya melihat Sakura."
"Cih! Mendokusai!"
"Hei, kau marah? Kau kan tau bagaimana ayahku Shika. Dia tidak akan membiarkanku menganggur. Dan ayahku orang yang paling keras kepala yang pernah ada."
"Lupakan. Kita bisa membahasnya nanti." Shikamaru menghentikan pembicaraan dengan Ino. Kembali menatap ke arah Naruto yang saat ini tersenyum dingin. "Ingat pesanku tadi Namikaze."
"Ah! Aku juga ingin mengatakan sesuatu padamu Namikaze-san. Sebagai sahabat Sakura, aku memintamu menjaganya. Dia cukup rapuh dalam beberapa hal. Tapi kau harus banyak waspada karena dia orang yang sangat merepotkan. Dan jangan mencoba untuk menyakitinya. Dia akan sangat menyebalkan kalau ada seseorang yang mengganggunya. Selain itu, aku juga akan menghajarmu kalau sampai dia menangis karena kau sakiti."pesan Ino dengan senyum jahil.
"Pig! Kau membuatku terdengar seperti monster."
"Sudahlah. Yang terpenting buatku kau bahagia. Harus setimpal dengan keputusan ini. Kau cukup berani dengan menggadaikan sesuatu yang penting."
Sakura mengangguk. Dipeluknya Ino sembari menyembunyikan air mata yang sejak tadi pagi berusaha ditahannya. Entah apa yang akan terjadi setelah pernikahan ini berlangsung. Apakah dia bisa menjalani pernikahan yang bahagia seperti yang selama ini ia impikan?
.
ooo
.
Naruto memandang langit-langit kamar tempatnya menginap hari ini. Moncoba untuk memahami apa yang terjadi selama beberapa jam terakhir. Dia sudah menikah. Lagi. Dengan seorang wanita yang lebih mengganggu dari istri pertamanya.
Dalam kondisi tenang seperti ini, Naruto merasa bodoh karena menuruti apa yang ayahnya putuskan. Dia tidak akan bahagia dengan sebuah pernikahan. Dan gadis yang menikah dengannya juga tidak akan bahagia. Lalu untuk siapa pernikahan ini berjalan?
Ckrek!
Sosok berambut merah muda muncul. Rona merah menghiasi wajah, telinga, dan juga lehernya. Gadis itu memakai kimono mandi dan tanpa alas kaki. Normalnya, Naruto akan langsung menarik wanita dengan tampilan seperti itu ke ranjangnya tanpa berpikir. Namun kali ini Naruto lebih memilih untuk memandangi gadis itu.
"Ke... Kenapa... me...memandangku seperti i...itu? Membuatku gu... gugup saja."ujar Sakura. Dia tidak pernah memiliki kekasih kecuali Sasuke. Dan selama mereka bersama-sama, Sasuke hanya memeluk, menggenggam tangannya, dan mengecup bibirnya singkat ketika Sasuke akan berangkat ke Maroko. Tidak pernah melakukan sesuatu yang lebih seperti kebanyakan pasangan lainnya. Bodohnya dia... kenapa tadi dia tidak menanyakannya kepada Tsunade-sama tentang apa yang harus dilakukan setelah menikah?
"Apa motivasimu menikah denganku? Apa karena uang?"tanya Naruto dingin. Matanya yang berwarna biru seolah membekukan ruangan dan membuat Sakura terpaku. Uang? Apa laki-laki itu menanyakan soal uang dan 'kerjasama' pernikahan?
"A...Apa maksudmu?"
"Semua gadis yang mendekatiku hanya memiliki motivasi yang terbatas. Kalau bukan karena uang, mereka senang aku 'membantu' menghangatkan ranjang mereka. Atau mereka mengincar status sosial dariku. Yang mana yang menjadikan motivasimu sampai kau ingin menyerahkan tubuhmu dalam pernikahan yang tidak ada gunanya ini?"
Mati-matian Sakura menahan emosi yang tiba-tiba memuncak. Apa-apaan laki-laki ini? Kenapa harus bersikap sedingin ini? Tidak bisakah dia berkata yang baik kalau dia memang tidak bisa bersikap selayaknya suami?
"Aku tidak butuh uang. Status sosial bisa kudapatkan sendiri tanpa harus menikah dengan seorang Namikaze. Aku hanya ingin menyelamatkan balita yang merupakan putra tunggalmu itu dari ketidakpedulian ayahnya."
"Cih! Kau tau apa soal kehidupanku? Bersikap sok baik seperti itu tidak akan membuatku merasa senang. Kau benar-benar memuakkan, Nona."
"Aku tidak membutuhkan penilaianmu Tuan Namikaze. Kalau kau memang ingin mengajakku bertengkar hanya karena fakta yang tidak kau ketahui, lebih baik aku tidur saja. Lusa aku ada keperluan di kampus dan... Kyaaa!"
Jeritan Sakura tidak membuat Naruto menghentikan aksinya. Gadis itu terbaring di bawahnya dengan tubuh mereka yang berhimpit. Tangan kirinya mengunci pergerakan kedua tangan Sakura tepat di atas kepala gadis itu.
"Kalau memang motivasimu bukan uang dan status sosial, pilihan lainnya hanya satu. Apa ini karena seks, huh?"
Belum sampai Sakura menanggapi kalimat hinaan itu, sesuatu yang lembut membentur bibirnya. Selama beberapa detik, Sakura hanya bisa mengerjapkan mata sementara bibir Naruto melumat bibirnya. Gerakan bibir Naruto begitu kasar sampai sudut bibir Sakura terluka. Sakura berusaha meronta dan melepaskan kungkungan tak nyaman dari Naruto.
"Hen... hentikan..."gumam Sakura.
Laki-laki yang menindih tubuhnya secara sempurna itu tidak melepaskan lumatannya. Bahkan tangan kanan laki-laki itu ikut bergerilya meraba seluruh lekuk tubuh Sakura yang hanya tertutup kimono tipis dan pakaian dalam.
"Apa alasanmu memintaku berhenti? Apa kau merasa diperkosa nona? Ingin melaporkannya? Hah! Lucu sekali. Kau bahkan akan menjadi bahan tertawaan semua orang yang menginap di hotel ini kalau kau sampai menceritakannya. Suami mana yang akan dihukum ketika meniduri istrinya sendiri?"ucap Naruto disela-sela kegiatannya menelanjangi Sakura.
"Sa...Sakit... Kau... Tanganmu membuatku kesakitan... Ka... Kalau kau me... meminta hakmu sekarang...bisakah... kau... pe... pelan-pelan?"
Naruto menjauhkan wajahnya sedikit. Menatap Sakura yang terlihat berusaha menahan sakit dari perlakuannya. Sudut bibir gadis itu berdarah.
"A... Aku tidak tau se...sebenarnya ba... bagaimana caranya melakukan seks. Ta...tapi... kalau yang se...seperti tadi a... aku..." Sakura berusaha mengatur nafasnya. "Kau yang pertama u...untukku Naruto. Jadi... bersikaplah lembut. Kumohon."
Sakura berusaha menguatkan dirinya untuk menatap Naruto. Tatapan laki-laki itu begitu menusuk. Semakin parah ketika Sakura menyebutkan bahwa Naruto adalah laki-laki pertama baginya.
"Naruto?"
Sepasang mata safir itu menjauh. Bersamaan dengan bangkitnya tubuh si pemilik. Naruto merapikan bajunya dan menatap kondisi Sakura dengan nanar. Wajah gadis itu memerah. Sudut bibirnya berdarah. Rambut merah mudanya berantakan dan justru membuat penampilannya terlihat jauh lebih seksi. Kedua manik jade itu menatapnya dengan tatapan bingung. Kiss mark nyaris menutupi semua permukaan kulit gadis itu selain bagian yang ditutupi dengan selimut. Laki-laki pertama? Di usia yang sudah nyaris 25 tahun? Apa gadis itu bercanda? Bukankah umum wanita yang menikah di Jepang setidaknya sudah melakukan seks beberapa kali sebelum terikat?
"Jangan mencariku."putus Naruto tanpa melihat reaksi apa yang ditimbulkan kata-katanya kepada Sakura.
Blam!
Pintu kamar tertutup.
Laki-laki itu hilang dari pandangan Sakura. Apa yang dilakukan Sakura sampai laki-laki itu berhenti melakukan apa yang dipaksakannya tadi? Apa... Apa dia terlalu menjijikkan sebagai wanita? Apa Sakura adalah gadis paling hina yang pernah laki-laki itu temui?
Air mata turun membanjiri kedua pipi putih itu. Sakura berusaha menaikkan selimut hingga menutupi lehernya. Sekalipun mencoba untuk terlelap, kantuk tidak kunjung membuainya. Bahkan hingga matahari memunculkan sinarnya kedua mata indahnya tidak bisa terpejam. Apa yang harus dilakukannya setelah ini?
.
ooo
.
.
.
.
Hai Minna! Hahaha... Maaf ya lama nggak update. Bukan tanpa maksud lho. Kemarin saya sibuk UAS dan ngumpulin tugas-tugas yang perlu revisi (ceritanya curhat). Saya juga minta maaf buat yang review. Saya nggak bisa bales soalnya saya nggak mau PHP bakal update. Dan... Ehm... Puasa-puasa saya update yang beginian. Hadeh... Sempat mikir mau ganti rate nya biar aman. Tapi yah, kalau emang ada yang saran ganti rate entar saya ganti kok. Beneran deh. ^^
Yap, saya berharap semua puas sama edisi up nya. Saya nggak bisa janji buat update selancar 3 chapter sebelumnya karena tuntutan jurusan yang saya pilih. Makasih atas dukungannya. Mind to review?
