Night Melody
Opus 04: A Letter From A Far
Disclaimer:
Tsubasa Reservoir Chronicle © CLAMP
Dulu kukira tidak apa-apa selama aku punya Ayah dan Kakak…
Aku pikir, tidak masalah aku tidak bersama Ibu lagi…
Karena aku yakin Ibu menjagaku dari 'atas' sana…
Tapi sekarang, nyatanya aku 'sendirian'…
Tidak ada Ayah, Kakak, maupun Ibu…
Aku…
Sendirian.
Pagi-pagi buta, di kamar rawat 108 di rumah sakit kota, seorang gadis manis berambut pendek, terbangun dari tidurnya. Matanya basah dan napasnya tersengal-sengal. Dia berusaha mengatur napasnya, lalu melirik ke arah jam dinding. Pukul 3 pagi, batinnya. Lalu dia meraih boneka kecil berwarna oranye dan bersayap dari samping tempat tidurnya. Menatapnya lekat-lekat, lalu memeluknya. Tanpa sadar, air matanya mulai menetes.
"….ukh……. Ayah… Kakak… Ibu…!!"
Hari yang sama, siang harinya…
"Sakura-chan," Suster Kusanagi menatap khawatir anak perempuan yang sedang bengong itu. Sakura, tanpa menjawab, perlahan menoleh. Pandangannya kosong dan wajahnya tak berekspresi.
"Sakura, kamu kenapa? Kok lesu begitu?" tanya Kusanagi khawatir. Sakura menunduk, lalu menggeleng pelan. "Benar?" tanyanya lagi. Sakura mengangguk, lalu tersenyum tipis.
"Aku tidak apa-apa. Semalam aku mimpi buruk, jadi agak lesu. Maaf sudah bikin khawatir." Jawabnya sambil tersenyum menenangkan. Kusanagi menghela napas, lalu mengusap kepala Sakura. "Kalau tidak mau bikin aku khawatir, jangan pasang wajah seperti itu. Kalau ada apa-apa, bilang saja ya." Ujar Suster Kusanagi lembut. Sakura terdiam sesaat, lalu tersenyum dan mengangguk mengerti.
Setelah Suster Kusanagi keluar dari kamar rawatnya, Sakura mengambil boneka oranye bersayap itu dan sebuah foto dari laci meja di sebelah tempat tidurnya. Itu adalah foto seorang wanita cantik berambut ikal yang sedang tersenyum lebar. Yang tak lain merupakan Ibunda Sakura yang sudah meninggal.
"Ibu… aku….." Sakura mengusap foto itu, dan berbicara terbata-bata. "…apa aku…akan segera menyusul Ibu ya?" bisiknya. Sakura menggigit bibirnya, lalu mulai menangis lagi. Dia mendekap erat foto itu.
"…aku…sudah tidak dipedulikan lagi oleh Ayah dan Kakak… mungkin lebih baik kalau aku… menyusul Ibu. Ya 'kan?" ucap Sakura disela-sela tangisannya. Setelah cukup lama menangis, akhirnya Sakura terlelap. Dengan foto mendiang Ibunya, masih berada dalam dekapannya.
Masih dalam dunia mimpi, Sakura tidak menyadari adanya seseorang yang masuk kamar rawatnya. Seorang pemuda berambut hitam datang dan membawa buket bunga yang indah. Dia mendekati tempat tidur Sakura, lalu duduk di sebelahnya.
Pemuda itu menghela napas pendek, kemudian menyentuh rambut Sakura. Seulas senyum tipis mengembang di wajahnya. Dia menggenggam tangan Sakura, lalu menunduk.
"Maafkan aku, Sakura… sekarang, Kakak sudah datang." Bisik pemuda itu.
Tiba-tiba, mata Sakura basah. Air matanya mengalir. Melihat itu, Touya jadi merasa ingin ikut menangis. Dia menggenggam erat tangan Sakura, dan berjanji pada dirinya sendiri, untuk tidak meninggalkan Sakura kedua kalinya.
"…sudah…tidak apa-apa…" Touya terbelalak, lalu mengangkat wajahnya. Sakura sudah membuka matanya, mata yang masih basah karena air mata, tapi senyum mengembang sangat cantik di wajahnya.
"Tidak apa-apa... kok…" ucapnya terbata-bata karena menangis. Hati Touya seperti teriris-iris. Dia segera bangun dari kursi, lalu memeluk Sakura. Memeluknya erat, seakan-akan Sakura akan menghilang jika ia tidak melakukan itu. Tangan kanan Sakura terangkat pelan, lalu membalas pelukan kakaknya.
"Selamat datang… kakak…" bisik Sakura.
"Ya… aku pulang. Maaf membuatmu menunggu lama." Balas Touya. Air mata mulai mengalir dari sudut matanya.
"….Maaf. Maafkan aku… maaf ya… Sakura…"
Setelah pertemuan haru itu, Touya mulai menjelaskan apa yang terjadi selama ini. Ayah mereka pergi ke luar negeri untuk mencari rumah sakit dengan pengobatan lengkap untuk Sakura. Sementara Touya sibuk berusaha menggantikan Ayahnya di kantor. Berkali-kali Touya ingin menjenguk Sakura, tapi hatinya dipenuhi rasa sesal dan benci pada diri sendiri. Touya juga yakin bahwa Sakura sudah membenci dirinya.
Lalu Touya menyerahkan puluhan surat yang tidak jadi dikirim olehnya, dan satu surat dari Ayahnya. Sakura menerima semua itu dengan senyuman. Senyuman yang sangat lembut. Senyum yang memaafkan, dan membuat hati orang jadi lapang.
"Aku senang sekali, ternyata aku tidak dilupakan oleh kalian." Ucap Sakura. Touya tersentak, tapi tidak bisa berkata apa-apa. "Tapi biar bagaimanapun, hati kecilku percaya, kalian tidak mungkin begitu…" lanjut Sakura. "karena kalian… keluargaku yang tercinta."
"…Ya…" sahut Touya lembut. Dia tersenyum lalu mengusap kepala Sakura.
Setelah itu, Tomoyo, Fay, Kurogane dan Syaoran datang menjenguk. Sakura segera mengenalkan mereka pada Touya. Sore itu menjadi sangat ramai di kamar 108. Touya langsung menunjukkan sikap tidak suka pada Syaoran. Dan entah bagaimana, Touya bisa akrab dengan Kurogane.
Malam itu jadi sangat menyenangkan. Sakura tertawa dengan lepas dan riang. Dan tanpa mereka sadari, kondisi tubuh Sakura semakin turun dan turun. Perlahan tapi pasti, penyakit yang diderita Sakura mulai menggerogoti tubuhnya.
A/N:
Arigatou for reading, minna-saaaan~~~
Chapter kali ini singkat yaa. Tadinya mau dibikin lebih panjang sih, tapi nantinya jadi aneh kalo digabung. Jadi kuputuskan buat digantung (?) sampai sini aja :D
Akhirnya Touya muncul loh, kyaa kyaa~ xD terus… uhm… tolong baca ulang chapter tiga ya. Bagian penyakit Sakura-nya kuubah.
Ehm tolong reviewnya yaa~ sankyuu~ sankyuu~
