CHAPTER 4

"Xi Luhan!" Luhan menoleh.

"Ah, Lee Seonsaengnim. Ada apa?" ia membungkuk hormat setelah menyadari orang yang memanggilnya adalah wali kelasnya. Lee Seonsaengnim menepuk pundak Luhan pelan.

"Senang bertemu kau di sini. Aku harus membicarakan tentang tugas akhir semester depan denganmu. Ada waktu?"

Luhan mengangguk mantap dan mengikuti gurunya itu sampai ke kantornya. Lee Seonsaengnim lalu menggiring Luhan menuju mejanya. Meja Lee Seonsaengnim penuh dengan berkas-berkas dan map yang Luhan yakini beberapa adalah berkas miliknya. Setelah dipersilakan, Luhan duduk di hadapan Lee Seonsaengnim dan menunggu gurunya itu memulai sebuah pembicaraan yang pastinya berkaitan dengan nilai sekolahnya. Memang agak sulit menjadi siswa pindahan.

.

.

.

Ia seharusnya tahu kalau pembicaraannya dengan Lee Seonsaengnim akan menjadi sangat panjang. Yang ia sesalkan ialah sebagian besar dari pembicaraan yang mereka lalukan sebenarnya bukan merupakan hal yang penting atau menyangkut masalah nilai Luhan. Jika saja mereka hanya membahas mengenai masalah nilai Luhan, dia yakin dia tidak mungkin terjebak bersama gurunya di sini sampai harus menahan kantuk. Urusan nilainya sebenarnya sudah selesai berjam-jam yang lalu. Walaupun Lee Seonsaengnim memberinya kopi gratis, Luhan tetap saja mengantuk. Pembicaraan orang dewasa memang selalu membosankan.

Luhan baru dipersilakan keluar dari pintu ruangan Lee Seonsaengnim setelah gurunya itu mendapat sebuah panggilan dari atasannya–dilihat dari bahasa formal yang digunakan gurunya. Mungkin kepala sekolah, Luhan tidak tahu.

Sekali lagi ia mengumpat dalam hati ketika mendapati langit di luar sudah berganti warna menjadi gelap. Sial. Berapa lama mereka –atau gurunya itu– berbicara?

Setelah Lee Seonsaengnim mengunci ruangannya, dia langsung berjalan dengan langkah lebar menuju ke suatu tempat sambil terus meletakan ponselnya di telinga. Luhan hanya menganga meratapi kesialannya. Dia ditinggal sendirian, di sekolah, malam-malam... great!

"Adakah hal yang lebih buruk lagi dari ini?"

STUPID!

Dia lupa takdirnya. Dan Luhan benar-benar menyesali perkataan bodohnya. Ketika lampu di lorong itu berkedip beberapa kali Luhan memeluk tubuhnya dan menggigit bibirnya. Kumohon jangan lagi.

Sssrrreekk..

Sssrrreekk..

Mati kau, Lu!

Suara itu Luhan yakin adalah suara seretan kaki. Dia membeku. Keringat dingin kini membanjiri pelipisnya. Sosok itu di belakang. Luhan bisa merasakan bagian belakang tubuhnya mendingin. Ini pertama kalinya ia membenci dirinya sebagai seorang Xi Luhan.

Sssrrreekk..

Sssrrreekk..

Bodoh. Kakinya tidak bisa digerakkan dan tubuhnya gemetar hebat. Mata rusanya juga sudah berkaca-kaca menahan tangis.

BLAM!

Sebuah lampu di lorong paling ujung mati. Luhan bisa mendengarnya. Dua lampu berikutnya juga mati. Semakin lama suara korsleting listrik lampu-lampu yang mati di belakang Luhan semakin dekat seiring jua dengan suara seretan kaki seseorang –atau apa pun itu yang membuat bulu kuduk Luhan meremang.

"Lu.."

Eomma!

Demi apapun itu suara yang paling menyeramkan yang pernah menyerukan namanya. Luhan semakin yakin jika sosok dibelakangnya itu adalah Byun Baekhyun. Siswa yang meninggal satu minggu yang lalu. Hantu yang selalu mengganggunya bahkan sejak pertama kali ia pindah ke sekolah ini.

"LU.."

"B-berhenti! Kumohon!" Luhan menutup telinganya. Cairan bening di sudut matanya sudah mengalir entah sejak kapan.

Luhan meneguk ludahnya kasar sebelum memberanikan diri memutar tubuhnya.

"J-jangan-"

DEG.

Mata Luhan membulat.

BLAM

BLAM

BLAM

"KYAAAAAAAAAAA!"

Luhan berlari sekuat tenaga. Beruntung ia tidak jatuh pingsan ketika melihat sosok yang ternyata benar-benar berada di belakangnya. Itu benar Baekhyun. Dengan keadaan sama persis seperti saat mayatnya ditemukan. Dengan tengkorak yang remuk dan kaki yang patah dan mengeluarkan banyak darah. Luhan yakin Baekhyun mengikutinya, suara kaki Baekhyun yang diseret terdengar jelas di telinganya.

Lampu lorong di belakangnya juga terus padam seiring Luhan berlari. Dan dia mengutuk keadaan sekolahnya yang begitu sepi. Di mana murid yang lain? Apa tidak ada kegiatan klub? Siapa pun tolong aku!

BRUGGH.

"Kyyaaa!" tubuh Luhan menubruk entah apa. Dan Luhan menjerit histeris karenanya.

"YA! Apa yang kau lakukan?!"

"OH SEHUN!"

Greb.

Luhan langsung menerjang siswa berkulit pucat di depannya. Sehun berkedip beberapa kali, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Ia hendak mendorong bahu Luhan tapi anak itu menggenggam erat baju seragamnya sambil terisak. Kemudian ia menghela napas pasrah dan membiarkan Luhan terus memeluknya. Dia akan meminta penjelasan dari Luhan nanti.

"B-Baekhyun!" racau Luhan yang membenamkan kepalanya di dada Sehun.

"Itu Byun Baekhyun!"

Sehun mendengus sebal ketika mendengar nama yang tidak asing itu diucapkan Luhan. Kali ini dia mendorong bahu Luhan dengan kasar. Tapi cengkraman tangan Luhan lebih kuat dan pemuda cantik itu menggeleng kuat di dada bidang Sehun.

"Kumohon! Aku takut."

Sehun kembali mendengus. Ia rasakan kemeja bagian depannya basah, menjelaskan bagaimana keadaan anak yang memeluknya itu.

Dia membicarakan orang itu lagi.

Sehun melirik lorong di belakang Luhan. Luhan berlari, berteriak, dan menangis sebelum bertemu dengannya. Jika memang yang menyebabkan anak itu histeris adalah sosok Baekhyun yang menampakan diri, Sehun berpikir untuk apa Baekhyun mendatangi Luhan yang notabennya hanya seorang murid pindahan.

"Aku tidak akan tertarik dengan cara murahanmu mendekatiku." Ujarnya kemudian.

Luhan tidak berkata apapun, tapi napasnya yang semula memburu perlahan kembali normal. Sehun menyimpulkan bahwa pemuda yang lebih pendek darinya itu jauh lebih tenang saat ini. Cengkraman tangan Luhan perlahan mengendur. Luhan menunduk dan menarik mundur langkahnya. Tapi tangannya masih menggenggam ujung kemeja Sehun.

"Aku tidak berbohong!" ujar Luhan lemah.

Sehun sedikit iba mendengar suara Luhan yang serak dan hidungnya yang memerah. Pemuda blonde itu lalu menggenggam tangan Luhan dan menariknya untuk pergi.

"Kau butuh istirahat. Aku akan mencarikanmu taksi!"

Luhan menahan geraknya dan Sehun menoleh. Bingung. Luhan menatapnya tepat di mata, kemudian menggeleng.

"Aku tidak mau pulang. Baekhyun akan ada di sana saat aku pulang."

Rahang Sehun mengeras. Kenapa kau selalu menyebut namanya, Xi Luhan?

Sehun ingin sekali menyentak tangan Luhan dan meninggalkannya sendirian. Dia tidak peduli. Apapun itu! memangnya siapa Luhan? Kenapa dia harus peduli? Kenapa seorang Oh Sehun harus peduli? Dia bahkan hanya seorang siswa pindahan yang mencoba mencampuri urusan pribadinya.

"Antar aku ke apartemen Yixing!"

Namun ketika mata coklat sang rusa kecil memohon padanya, tatapan Sehun melembut. Dia kembali menarik tangan Luhan dan mengajaknya pergi.

Malam itu pada akhirnya Sehun sendiri yang mengantar Luhan sampai ke tempat Yixing. Sampai ke depan pintu apartemen Yixing. Dia bahkan tidak tahu kenapa ia mau melakukannya. Luhan mengucapkan terima kasih dan Sehun langsung meninggalkannya bersama Yixing yang tidak berkedip melihatnya.

Luhan juga berpikir bagaimana bisa orang yang menolongnya itu adalah Oh Sehun. Memangnya untuk apa Sehun masih berada di sekolah pukul tujuh malam?

Luhan tidak mau ditinggal sendirian. Tapi Yixing harus berangkat ke sekolah. Yixing menyuruh pemuda cantik itu untuk istirahat di apartemennya sampai ia kembali. Yixing juga meminta bantuan sepupunya yang lebih tua, Minseok, untuk menjaganya. Tapi tetap saja, yang lebih cantik menolak. Luhan memilih untuk ikut ke sekolah. Pada akhirnya Yixing hanya bisa menurut dan memberikan Luhan setelan seragamnya.

Luhan tidak bersemangat. Wajahnya juga pucat sejak semalam. Tapi Yixing tidak tahu sebab pastinya karena Luhan menolak menceritakan padanya. Yang dia tahu Luhan pulang bersama Sehun sudah dalam keadaan seperti itu.

"Kau tidak apa-apa?"

"Hm." Luhan hanya menggumam, masih dengan membaringkan kepalanya di atas meja. Yixing menghela napas berat. Dia tidak suka melihat Luhan seperti ini.

"Lu, biar kuantar ke ruang kesehatan-"

"Sudah kubilang aku tidak ingin sendirian. Aku..." Luhan memutus ucapannya. Menelungkupkan wajahnya di balik lipatan tangannya.

"Aku tidak mau bertemu dengannya lagi."

Yixing mengernyit. Bertemu dengannya? Sepertinya dia harus bicara dengan Sehun.

.

.

Yixing meneriaki nama Sehun berkali-kali tapi si empunya nama malah terus berjalan dengan langkah lebar. Pada saat pemuda manis itu berhasil meraih tangannya, Sehun buru-buru menepisnya dengan kasar.

"HEY!"

Keduanya menoleh. Sehun berdecih ketika melihat seniornya yang berbadan jauh lebih kecil darinya memandangnya geram.

"Apa yang kau lakukan pada Yixing-ku, huh?" Junmyeon –pemuda itu– menarik tangan Yixing untuk berada jauh dari Sehun.

"Hyung!" Yixing menarik lengan seragam Junmyeon, memintanya untuk tetap tenang.

"Dia yang menarik tanganku." Ujar Sehun tanpa penyesalan. Dia bahkan bersidekap dada di depan seniornya.

"A-aku hanya ingin menanyakanmu satu hal." Yixing langsung berbicara sebelum kekasihnya kembali memaki Sehun.

"Aku tidak punya waktu." Sehun dengan angkuh berjalan meninggalkan keduanya.

"YA!" Junmyeon meneriaki.

"Ini tentang Luhan. Kau bersamanya semalam. Aku hanya ingin menanyakan apa yang terjadi semalam dengan Luhan. Apa kau tahu sesuatu?"

Sehun berhenti sejenak tetapi tetap pada posisi membelakangi Yixing dan Junmyeon. Dia tertawa mengejek, menyelipkan tangannya di saku celana, kemudian kembali berjalan dengan angkuh.

"Dia datang memelukku dan memintaku untuk mengantarnya pulang." Ujarnya kemudian. Cih. Dasar murahan!

.

.

.

Luhan ditinggalkan. Sendirian. Oleh Yixing. Yixing pamit ke toilet setelah membelikannya jus melon. Dia bahkan belum menyentuh minumannya sendiri. Junmyeon, seniornya, yang tadi bersamanya juga menghilang entah ke mana.

Luhan mendesah kecewa. Apa mungkin Yixing merasa direpotkan dengan tingkahnya? Tetapi Luhan yakin Yixing bukanlah orang yang seperti itu. Sekali lagi ia mendesah. Meninggalkan jus melonnya dan pergi berkeliling sendirian. Pada akhirnya pun dia kembali sendirian seperti biasanya.

Tapi Luhan sudah bilang dia tidak ingin sendirian. Maka ia berjalan menuju lapangan outdoor dan melihat beberapa siswa bermain basket. Setidaknya dia tidak sendirian. Ini lebih baik ketimbang dia harus berjalan dan tersesat di suatu tempat di sekolahnya yang sangat luas ini. Atau bahkan lebih buruk lagi. Tidak! Dia baru mengalami hal yang paling buruk dan dia tidak mau lagi. Dia tidak mau.. bertemu dengannya lagi. Tidak.

Csss..

"Akh." Luhan berjengit ketika benda dingin tiba-tiba saja menyentuh kulit wajahnya.

"Hahaha.." dan kini lelaki bertelinga lebar sedang tertawa di atas penderitaannya. Luhan mendengus kesal kemudian menggeser duduknya, memberikan tempat untuk pemuda itu duduk.

"Kaleng.."

"Eh?"

"M-maksudku Chanyeol!" Luhan menahan tawanya, dia bahkan lebih ingat kaleng minuman Chanyeol ketimbang namanya. Chanyeol dan kaleng seperti tidak bisa dipisahkan.

"Kau tertawa?"

"Tidak." Dan melihat Chanyeol mengingatkannya pada sosok Baekhyun. Bukan dalam keadaan yang menyeramkan. Baekhyun yang waktu itu adalah Baekhyun yang seperti siswa biasa. Manis namun agak pucat.

Mereka lalu berdiaman beberapa saat. Menonton permainan basket yang dilakukan para seniornya di tengah lapangan.

"Kau bisa bermain basket?" tanya Luhan kemudian.

"Bisa!" Chanyeol meneguk minuman kalengnya, "Tapi sudah lama sekali."

"Kau berhenti?"

"Aku bosan." Kemudian Chanyeol meremas kaleng minumannya. Sama seperti waktu itu. Ekspresi wajahnya juga. Redup dan tidak bersemangat.

"Hey, yang kemarin itu tempat apa? Bagaimana kau bisa menemukannya?" Melihat ekspresi Chanyeol yang berubah tiba-tiba, Luhan memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan mereka.

Chanyeol tertawa kemudian memandang Luhan.

"Yang kemarin itu tempat spesial."

"Aku yakin kau sering memanfaatkan pintu rahasia itu pada saat terlambat atau kabur dari sekolah." Luhan memukul kepala Chanyeol dan Chanyeol hanya tertawa sekilas. Kemudian diam.

"Dulu mungkin iya."

"Apa maksudnya?"

"Sekarang sudah tidak spesial. Itu hanya seperti pintu tua biasa. Jika kau lihat, di dekat sana ada perpustakaan tua yang tidak terurus."

"Perpustakaan?"

Chanyeol mengangguk, "Sepertinya hanya kami satu-satunya murid yang pernah ke sana."

"Kami?" Chanyeol melirik ke arah Luhan yang menatapnya dengan alis yang bertautan dan mata yang membulat.

"Hahahaha.." Chanyeol mengusap wajah Luhan dengan telapak tangannya yang besar.

"YA!"

"Kau ini banyak tanya! Banyak bicara. Cerewet. Kau itu mirip-" Chanyeol menghentikan ucapannya. Juga tertawanya. Lagi.

Ekspresi itu. Luhan kenal. Dan kalimat yang akan keluar dari mulut Chanyeol, mungkin juga sama.

Luhan itu..

"Rusa!"

"Eh?" Luhan menatap bingung Chanyeol yang kembali tertawa.

"Kau mirip rusa! Jelek dan pendek!"

"Mwo?" Mata Luhan melebar. Hampir saja kaleng Chanyeol melayang ke pemiliknya sendiri. Beruntung si tinggi itu sudah melesat pergi. Dan bel berakhirnya istirahat pun berbunyi. Luhan juga harus masuk kelas.

Luhan itu..

Mirip Byun Baekhyun.

"Aku sedang mengerjakan tugas sekolah dan aku baik-baik saja. Jangan khawatir, Ok?" Luhan memasukkan stik kentang ke dalam mulutnya, menjepit ponselnya di bahu sambil membolak-balik buku pelajarannya. Yixing menelpon karena khawatir. Luhan tahu itu. Dia memang baik hati.

"Aku tutup ya! Aku tahu Junmyeon sunbae-"

-"Lu?"-

"Ya?"

-"Aku berbicara dengan Sehun tadi."-

"A-ah?" Luhan menaruh kembali stik kentangnya dan mulai fokus pada pembicaraan Yixing. Sehun?

-"Ini soal kemarin."-

"Sehun bicara apa?"

-"Tentang kau yang memeluknya. Apa itu benar?"-

Luhan tertawa, dan Yixing langsung menambahkan, -"A-aku tidak percaya, Lu! Sungguh. Sehun itu memang-"-

"Tidak. Itu benar, Yixing-ah."

-"Benarkah?"-

Luhan hanya mengangguk yang pastinya tidak dapat dilihat oleh Yixing.

"Apa Sehun hanya mengatakan itu?"

-"Dan memintanya mengantarmu pulang.''-

"Hanya itu?"

-"Apa ada lagi?"-

"Ah, t-tidak. Hanya itu."

-"Oh, atau jangan-jangan kalian..."-

"Apa? Jangan berpikir yang macam-macam!"

-"kau datang dengan keadaan kacau, Lu!"-

"Itu bukan berarti aku dan dia- Akh, sudahlah! Kami hanya kebetulan bertemu. Dia menyelamatkanku dan mengantarku pulang, mengerti?"

-"Eh?"-

"Kututup, Ok?"

-"Lu-"-

"Jalja!"

PIP.

Luhan meletakkan ponselnya di atas meja. Dia sudah tidak mood untuk belajar. Jadi dia menutup bukunya dan memberesi alat tulisnya.

"Tentang kau yang memeluknya. Apa itu benar?"

Luhan tertawa dan menepuk-nepuk wajahnya yang tiba-tiba panas.

"Aku ketakutan setengah mati. Makanya aku memeluknya." Ujarnya dengan bibir mengerucut.

"Dia bahkan tidak menolak."

Kali ini Luhan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Kenapa ini? Luhan bersemu?

"Aarrgh.. apa yang kau pikirkan, Xi Luhan? Dia itu pria jahat yang tidak punya hati! Bukankah kalian saling membenci beberapa hari yang lalu, eoh?"

Luhan menarik langkahnya menuju tempat tidur. Membaringkan tubuhnya di sana. Menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi bintang-bintang plastik yang menyala jika gelap. Sayang dia takut gelap jika sedang sendirian. Bintangnya tidak menyala. Dia menggembungkan pipinya.

Luhan melirik jam waker-nya. Dia sudah mengganti baterainya. Dan sekarang pukul sebelas malam. Mengapa di langit Seoul malam cepat sekali berlalu? Tiba-tiba saja Luhan merindukan kampung halamannya. Dia rindu ibunya. Mereka memang sering melakukan video call, tetapi Luhan tetap merindukan ibunya. Luhan lalu kembali mengambil ponsel di meja belajarnya dan mengetik beberapa message untuk ibunya.

Luhan menceritakan segalanya kepada ibunya. Tentang Yixing, Kyungsoo, dan seseorang bernama Sehun. Tapi dia tidak menceritakan perihal Baekhyun kepada ibunya. Dia hanya berkata jika ada teman sekelasnya yang meninggal. Ibunya pasti mengira anaknya sudah gila jika ia menceritakan bahwa dirinya dimintai tolong oleh hantu teman sekelasnya.

Luhan duduk di kursinya dan membuka laci tempatnya menyimpan buku harian Baekhyun.

"Ring? Aku lupa Baekhyun memberikanku ini." Luhan meraih cincin perak yang ia letakkan di atas buku bersampul putih itu. Tanpa berpikir, Luhan langsung memasangnya di jari manisnya.

"Eh? Ukuran jari Baekhyun sama denganku."

Dengan cincin yang melingkar di jari manisnya, Luhan mulai membuka buku harian Baekhyun. Entah sudah lembar ke berapa. Tetapi anehnya, semua yang ditulis Baekhyun di sini adalah tentang Sehun. Tidak ada Kyungsoo atau pun Chanyeol –Luhan menduga mereka juga dekat.

Jumat

Sehun tidak lagi menggenggam tanganku. Tidak lagi berdiri di sampingku. Aku jadi ingat ketika ia mengatakan akulah cinta pertamanya. Anak kecil itu. Tahu apa tentang cinta pertama? Haha.

.

Senin

Orang tua kami memutuskan tanggal pertunangan. Hari ini Sehun tidak masuk kelas seharian. Aku tahu dia di atap. Aku menyuruh Jongin untuk menemaninya. Aku juga tahu dia akan mengusir jika itu aku. Atau bahkan memukulku lagi.

.

Selasa

Ibuku bertanya perihal lebam di bibirku. Ini ulah Sehun. Tetapi aku harus menjaga nama baik Sehun di depan orang tuaku. Itu harus. Jadi aku memutuskan untuk berbohong. Sehun adalah anak yang baik. Dia hanya sedang kesal.

.

Luhan ketakutan setengah mati beberapa waktu yang lalu. Tetapi ia tidak pernah merasakan tidur senyenyak malam ini sebelumnya.

.

.

.

TBC

Aku update! Aku update! Hoho.. *jogetjoget*

Sebelumnya author minta maaf jika sampai detik ini pun kalian belum menemukan titik terang cerita ini. *bow

maklumin aja ya, authornya sedikit lemot. hehe

but, thanks buat yang udah ngikutin storynya sampai detik ini, aku seneng banget liatin review kalian /

Last, RnR Juseyo~