Rain
Disclaimer : Fujimaki Tadatoshi
Pair : Murasakibara Atsushi x OC
Genre : Romance, Slice of Life
Enjoy~
Difference
Perbedaan memang kerap kali menyatukan dua kutub yang berlawanan.
Dan cinta menjadi salah satu faktor yang menyatukannya.
Kita tidak akan pernah tahu pada siapa akan jatuh cinta, atau akan mencintai siapa.
Karena hati yang memilih, meskipun kerap kali mengecewakan dan bukan pada orang yang tepat...
Kali ini aku biarkan hatiku memilih lagi, untuk yang terakhir kalinya.
.
.
.
Hujan belum juga reda, halte bus masih saja ramai dengan orang berlalu – lalang. Ditanganku ada sebuah permen kapas berbentuk bunga mawar berwarna ungu, warna kesukaanku. Sebenarnya aku juga suka warna pink, tapi aku cenderung lebih tertarik pada warna yang satu ini, sementara sahabatku [Name] adalah seorang pink holic. Hampir sebagian besar benda yang dimilikinya tidak jauh – jauh dari warna pink. Baiklah, saat ini aku merasa sayang untuk memakan permen kapas yang sangat artistik ini. Siapapun pasti tahu permen kapas, tapi permen kapas yang ini sangat berbeda dan unik. Aku tidak pernah tahu kalau di sekitar halte bus ada penjual permen kapas seperti ini, dan Murasakibaralah yang mentraktirku permen ini.
"Linda-chin, kenapa permenmu tidak dimakan?" tanyanya sambil sibuk memakan segumpalan super besar permen kapas yang juga berwarna ungu.
"Ah, aku hanya merasa sayang kalau permen ini dimakan..." jawabku menatap permen yang masih ku pegang.
"Cepat dimakan, nanti permenmu debuan..." ucapnya lagi, masih sibuk melahap permen yang menurutku itu untuk ukuran raksasa.
"I... iya, akan ku makan sekarang. Mura-san, terimakasih ya." Aku mulai mengigit sedikit demi sedikit permen kapasku. Rasanya terlalu manis, tapi aku menyukainya. "Mura-san, boleh aku tanya sesuatu?" lanjutku kemudian.
"Yaaa..." jawabnya sambil membersihkan sekitar bibirnya yang belepotan permen.
"Kau lancar sekali berbahasa Indonesia, kau campuran?" aku pura – pura sibuk dengan permenku, lalu meliriknya sekilas.
"Tidak, sepupuku yang campuran..." jawabnya sekedar.
"Kau belajar dari dia ya? Untuk apa?" cercaku tidak puas dengan jawabannya tadi.
"Karena setiap liburan sekolah aku selalu kesini, pamanku orang asli Indonesia..." jelasnya masih tidak peduli.
"Memangnya sekarang kau kelas berapa?" jujur aku memang penasaran sekali dengan usianya.
"2 SMA..." jawaban singkat yang benar – benar membuatku terpana seketika. Ternyata kita sama. Akupun menunduk demi menyembunyikan wajahku yang mungkin saja sudah merah padam. Perasaan berdebar ini belum sepenuhnya kumengerti, mungkinkah hanya sekedar rasa kagum atau yang lainnya. Entahlah.
"Ohh, sama denganku... berapa lama kau disini Mura-san?" saat ini aku benar – benar ingi mengenal laki – laki ini lebih jauh, meskipun itu artinya aku harus bersabar untuk tidak cepat jengkel lantaran dijawab seadanya dan terlalu singkat.
"Aku kemari bukan hanya untuk liburan, tapi juga untuk istirahat. Lihat lututku, 3 bulan yang lalu aku cidera saat bertanding basket untuk Winter Cup. Dokter bilang setidaknya aku harus istirahat selama 3 bulan..." ungkapnya menatap balutan perban di lutunya.
"Apa cideramu ini tergolong parah?" aku memandang lututnya yang diperban itu. Harus istirahat selama 3 bulan untuk penyembuhan cidera, mungkin saja cideranya tergolong berat, apalagi di lutut.
"Begitulah... harusnya aku tidak boleh bermain basket selama masa penyembuhan itu, tapi aku sering diam – diam berlatih, walaupun tidak lama..." ia mulai memutar – mutar bola basketnya dengan satu jari.
"Hei, nanti cideramu tidak sembuh – sembuh Mura-san. Bagaimana nanti kalau tambah parah? Bukan hal yang mustahil kalau nantinya kau tidak akan bisa bermain basket lagi. Ikutilah saran dokter dan istirahatkan kakimu dengan baik..." cercaku tidak sadar, aku langsung menutup bibirku karena secara tidak langsung aku lancang ikut campur urusannya.
"Memang sih... tapi aku tidak tahan kalau tidak bermain, atau paling tidak aku harus melihat seseorang bermain basket didepanku. Baru aku merasa tenang." ujarnya masih sibuk dengan bolanya. "Tiap pagi aku selalu bermain di lapangan basket dekat toko roti Miccele itu..." lanjutnya kemudian.
"Oh, jadi kau sering latihan disana... apa kau tidak pernah melihatku pulang? Aku kan pasti melewati tempat itu..." aku menatapnya lekat, menunggu jawabannya.
"Aku selalu melihatmu kok Linda-chin, kau selalu pulang bersama temanmu..." ungkapnya tetap acuh, sementara itu jantungku bergemuruh lebih cepat dari sebelumnya, kali ini sampai tangankupun ikut bergetar. Jadi, selama ini Mura-san memperhatikanku? Oh tidak bagaimana ini, kumohon jantung jangan copot sekarang.
"Ooh, begitu... kenapa kau tidak menyapaku?" pancingku kemudian.
"Aku tidak yakin kalau itu kau Linda-chin..." jelasnya sambil menatapku.
"Hah?" ungkapku kecewa. Aku terlalu berharap pada orang secuek ini.
"Yah... karena kau saat itu tidak bersayap..." sekarang, aku mulai tidak mengerti dengan arah pembicaraannya.
"Bersayap?" ulangku sedikit jengkel.
"Iya, karena saat aku pertama kali bertemu denganmu, aku melihat kau punya sepasang sayap di punggungmu. Lalu kemana sayap – sayap itu Linda-chin?" ia mulai bertanya dengan serius padaku, lalu bagaimana aku bisa mencerna kalimat ini, apa ini lelucon? Kalau iya, ini sama sekali tidak lucu Mura-san...
"Kemana ya? Aku juga tidak tahu... hahahahahaa.." demi apapun saat ini ekspresi wajahku benar – benar garing maksimal, dan kenapa juga aku harus tertawa enggak jelas begitu. Belum tentu Mura-san ingin melucu. Hari ini memang aku sedang tidak beres.
"Oh ya? Baru pertama kali ini aku melihat bidadari sepertimu tanpa sepasang sayap. Makanya aku sempat ragu saat itu, tapi ternyata bidadari tanpa sayap itu, memang dirimu..."
"Haaaa?" aku mematung seketika.
.
.
.
Malamnya aku benar – benar tidak bisa berhenti tersenyum, kalimat yang dilontarkan Mura-san tadi siang membuatku nyaris terkena serangan jantung, rasanya saat itu juga jantungku seperti berhenti berdetak. Untung busku segera datang, kalau tidak suasana mungkin akan sangat canggung, dan bisa saja kalau aku memang benar – benar terkena serangan jantung. Bidadari katanya? Ah, aku masih tidak mengerti Mura-san, apa maksudnya dia mengatakan hal itu padaku. Apa dia tertarik padaku? Atau dia menyukaiku? Apa aku berhasil memikatnya dengan pesonaku? Yaampun asumsiku saat ini sudah tidak terkontrol lagi. Sejenak aku lupa total dengan kejadian disekolah yang membuat hancur moodku, bertemu dengan Mura-san membuatku merasa sangat lebih baik. Ah, iya aku ingat sesuatu, segera ku raih ponselku dan memencet nomer seseorang.
"Halo, kenapa Lin?" saut seseorang dari seberang telpon,
"Halo Din, maaf aku nelpon tiba – tiba. Kau lagi sibuk?" tanyaku padanya. Maklum Dina tergolong murid yang sibuk kesana – kemari.
"Enggak Lin, santai aja... kenapa emangnya?" aku menghela nafas yakin.
"Bisa gak, kau ajarin aku main basket?" sebenarnya aku agak ragu dengan rencanaku ini, tapi tidak ada salahnya juga jika dicoba.
"Lho... kok tumben, bisa aja sih... kapan?" nada bicara Dina terdengar sangat penasaran.
"Yaaa, ada deh pokoknya. Beneran nih bisa? Mulai besok sore deh jam 5, di lapangan basket deket toko roti Miccele gimana?" tanyaku bersemangat, Yes! Dina akan ku rekrut menjadi pelatih basket pribadiku. Dina Mayana adalah salah satu temanku yang merupakan seorang atlet basket di sekolah.
"Oke deh kalau gitu..." jawabnya menyetujui ajakanku,
"Okeee, makasi banget lho Dinnn... maaf jadi ngerepotin kau..." ujarku girang,
"Santai saja, kan sekalian sama jadwal latihan aku... Lin, kalau gak ada yang mau diomongin lagi ku tutup ya?"
"Iya Din... daaa..."
.
.
Semoga rencanaku bisa berhasil, aku mungkin akan susah mempelajari basket, yah karena aku memang tidak terlalu suka dengan yang namanya olahraga. Tapi, kali ini berbeda, aku paling tidak harus bisa mendrible bola dan mengeshootnya ke ring. Ini kan hanya untuk sementara, aku tidak berniat menekuni olahraga ini, apalagi ikutan bertanding. Bukan, aku hanya ingin membuat seseorang sembuh. Esoknya kuceritakan rencanaku untuk bermain basket pada [Name].
"Haaa? Main Basket? Kok tumben?" sudah ku dunga responnya akan seperti itu, [Name] memandangku dengan tatapan -elo pasti bercanda kan?- aku terkekeh melihat ekspresinya,
"Beneran, nanti sore aku mau latihan di lapangan basket deket toko roti Miccele itu... mau ikutan?" aku menawarkan [Name] untuk ikut berlatih bersamaku.
"Ah, enggak deh Lin, aku temenin kau sama Dina latihan aja deh. Aku mau beli roti di Miccele sambil liatin kalian latihan..." tolaknya sambil tertawa. Aku juga tahu kalau dia akan menolak, kan kami setipe. Kalau bukan karena orang itu, mana mau aku latihan basket begini. Mendingan menggambar di tempat biasa.
"Emangnya kenapa sih kok tiba – tiba banget?" [Name] mulai benar – benar penasaran dengan perubahanku yang mendadak ini. Lalu kubisikkan saja rencanaku padanya.
"Ooh... jadi gitu yaa.. apa kan aku bilang Lin, jodoh itu enggak mengenal batas negara, apalagi ras. Oh iya aku baru inget, si Sera kan pacarnya Kise..." ujarnya bersemangat.
"Ehh iya ya... si Kise kan dari Jepang... sial kenapa aku bisa lupa sama dia ya?" aku baru menyadarinya, sebab begitu naik kelas 11 Kise Ryota pindah ke negara asalnya karena pekerjaan orangtuanya.
"Heii, ngapain kalian ngomongin pacarku hah?" tiba – tiba Sera sudah berada diantara kami. Anak ini memang ahlinya berbaur dengan orang – orang tanpa disadari.
"Eh Ser, gimana kabarnya Kise? Kau masih sama dia kan?" tanyaku tanpa basa – basi.
"Masihlah... dia baik – baik aja sih, kemarin baru aja aku skype-an sama dia. Kalian ngapain ngomongin dia?" tanyanya balik.
"Enggak kok Ser, aku hanya ingin memastikan kalau jodoh itu kan enggak terpaut ras atau negara..." [Name] melirikku sambil senyum – senyum mengejek.
"Ya iyalah, memang sih aku enggak tahu bakalan kayak gimana nanti sama Kise, tapi yang jelas kita serius kok..." ungkapnya percaya diri.
"Oh ya? Terus gimana caranya kau tahu kalau Kise enggak selingkuh sama cewek lain di Jepang? Cewek – cewek disana kan cantik semua Ser, mana ada cowok yang enggak suka cewek cantik. Apalagi Kise termasuk cowok ganteng." pancing [Name], sementara aku mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakan si pinky girl ini.
"Pokoknya kita saling percaya, walaupun sih kadang pasti pernah aja curiga atau khawatir kalau dia ada apa – apa sama cewek lain. Tapi itu balik lagi sih sama pribadi orangnya, tergantung gimana kau nyikapin asumsi yang belum terbukti, kalau aku sih biasanya beralih aja ke G-Dragon wahahahaha..." jelasnya antusias.
Aku dan [Name] saling berpandangan begitu mendengar jawabannya.
.
.
.
.
.
A/N : Disini cerita si Sera sama Kise bakalan ada *tebar bunga*, nanti giliran Kise yang ke Indonesia... Nah, pertemuan si Kise sama Sera ini waktu mereka kelas 1 SMA (sebelum Mura sama Akashi ke Indonesia) detailnya sekalian aja ya nanti di ceritanya XD. Arigatou bagi yang sudah menyempatkan diri untuk membaca cerita ini...
Mind to Review?
