Seharusnya kau mengetahuinya, bahwa ia butuh pegangan, ia butuh sandaran, bukan sebuah dorongan yang hanya akan membuatnya semakin terjatuh. Kau bodoh Ulqui, sangat bodoh. Sekarang kau tahu alasannya, mengapa orang-orang itu menyuruhmu menjauhinya, karena kau.. kau hanya membuatnya semakin terjatuh.

.

DISCLAIMER : TITE KUBO

PAIRING: ULQUIHIME

WARNING: AU, OOC, GAJE, ABAL, TYPO(S), ect

"SANDARAN"

.

'PLUK'

Sebuah pesawat kertas dengan tidak elitnya menabrak jidat Ulqui dan jatuh tepat di atas meja si empunya jidat, namun yang ditabrak jidatnya tidak bergeming sama sekali, apatis! Malah kelihatannya semakin asik menatap keluar jendela dengan dagu ditekuk dan tampang datar menatap kosong lapangan sekolah.

'SYUUUT'

Kali ini pesawat kertas yang kedua landing dengan mulus di atas kepala Ulqui. Lagi-lagi, tidak ada respon dari si empunya kepala.

"Oi..." sahut suara dari sebelah Ulqui.

"…"

Masih tidak mendapatkan tanggapan. Kali ini yang punya suara duduk tepat dibangku depan Ulqui.

"Hoooii… Masih hidupnya?" Grimmjow menatap sebal sahabatnya itu. "Hei, kau ini kenapa sih Ulqui?" tanyanya lagi sambil membeo mengikuti sikap tubuh Ulqui –menopang dagu dengan tampang sebal menatap nanar sahabatnya satu ini– lalu kembali berusaha membangunkan Ulqui dari dunia khayalnya. "Hei, kau sama sekali tidak cool tau! Teganya kau tidak memperhatikan aku!" sahutnya lagi semakin sebal. Yang disahut sama sekali tidak menanggapi, hal ini membuat Grimmjow semakin sebal saja. Tiba-tiba muncul ide usil si kucing biru satu ini. Dengan seringaiannya ia mendekatkan kepalanya ke salah satu sisi indera pendengaran Ulqui, kemudian dengan suara yang sangat sensual ia mendesahkan..

"Ulqui-kun.. Pulang yuuk~"

Ah, tiba-tiba saja lamunan Ulqui buyar kemudian digantikan dengan perasaan merinding mendapati suara yang sangat familiar tersebut mendesah dengan sangat tidak senonoh di kupingnya, dengan gerakan spontan Ulqui mencoba menjauhi sumber suara, alhasil ia malah terjengkang kebelakang –mengingat Ulqui duduk paling belakang— tentu tidak ada kursi lain yang akan menopangnya agar tidak terjatuh.

'BRUUUAAKK'

"Apa-apaan kau Grimm!" sahut Ulqui yang jatuh dengan posisi yang tidak sempurna. Yang ditanya malah tertawa, ia tentu tidak lupa membantu sahabatnya itu untuk kembali berdiri.

"Hahaha… Ini salahmu sendiri tau! Aku bosan menunggumu melamun tau! Ayo pulang!" sahut Grimmjow dengan rasa haru karena telah berhasil membangunkan sahabatnya dari lamunan panjang.

"He~ Pulang? Eh, kok sepi?" tanya Ulqui dengan polosnya seraya mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas yang kini kosong.

Yang ditanya malah menganga dengan tidak elitnya, sejurus kemudian.

'PLAAKK'

Beberapa buku dengan mulus menimpuk kepala Ulqui. "Baka Ulqui! Sudah 30 menit yang lalu seharusnya kita pulang! Apa sih yang sedang kau lamunkan, hargai sedikit usahaku untuk membangunkanmu! Kau itu salah makan apa sih!" keluh Grimmjow bertubi-tubi. Hei, Ulqui lihat kucing biru itu sudah mengeluarkan taring dan cakarnya. Baka!

"Aa.. Maaf. Hehe… Terima kasih sahabatku tersayang~ Ayo kita pulang." sahut Ulqui dengan nada manja. *Ah, OOC kali*

"Hei, jangan memanggilku begitu!" Grimmjow malah merinding mendengar kata-kata Ulqui.

'Sayang'

. . . .

Kali ini perjalanan pulang Ulqui jauh lebih ribut dari biasanya. Bagaimana tidak? Ulqui berjalan dengan Grimm sebagai dua arjuna, jika Ulqui berjalan dengan Orihime mungkin tidak akan seribut ini.

'Hime? Apa kabarnya?' gumam Ulqui dalam hati.

Setelah melewati blokade FG yang panjang, Grimmjow berdecak kesal. "Ck, menyebalkan sekali. Namamu tadi lebih banyak di serukan daripada namaku! Padahal kau sama sekali tidak pernah tersenyum pada mereka, apa sih menariknya? Hei, Ulqui apa dengan tidak tersenyum itu merupakan metode paling ampuh untuk mendapatkan FG yang paling banyak? Besok-besok aku cobalah!"

"…"

Lagi-lagi Grimmjow harus merutuki dirinya sendiri. Sudah capek ngomong panjang lebar, konon lagi mendapat sebuah sahutan didengarkan pun tidak. Untungnya Grimmjow mempunyai banyak stok kesabaran, sekilas ia melirik sahabatnya itu. Ia mengerti alasannya.

"Hhh.. Kau khawatir? Mulai jatuh cinta padanya eh?" tanya Grimmjow menggoda.

"Tidak," jawab Ulqui singkat. Beruntung Grimm, akhirnya pertanyaannya disahut oleh sahabatnya ini. Ia khawatir dengan kondisi sahabatnya? Ya, tentu saja.

"Hm, jangan bohong padaku Ulqui. Aku tahu bagaimana sifatmu. Berhentilah menyangkal, memangnya kau tidak capek apa?" sahutnya lagi prihatin.

"Tidak," jawab Ulqui singkat (lagi).

Grimmjow hanya menghela napas. Ulqui memang berbeda sifat dengan dirinya, Ulqui terlalu tertutup dan terkesan sangat naïf. Lagi, Grimmjow melirik sahabatnya seraya memikirkan kata-kata untuk membangkitkan kembali semangat Ulqui.

"Ooh.. Kalau kau tidak mau. Berikan saja padaku. Kulihat-lihat dia manis juga, seperti namanya 'Hime'. Bagaimana Ulqui? Dia itu seperti boneka," sahut Grimmjow. Eh? Pertanyaan apa itu? Apa itu bisa dikategorikan kata-kata pembangkit semangat? He?

Yang ditanya tiba-tiba menghentikan langkah kakinya. Dengan tampang seram pelan-pelan ia menoleh pada Grimmjow.

"Aku. Yakin. Dia. Bukan. Boneka." jawab Ulqui dengan penuh penekanan di setiap kata. Kemudian melanjutkan kembali langkah kakinya untuk pulang.

Grimmjow ingin sekali tertawa mendengar jawaban sahabatnya. Terlihat sekali, ia bahkan tidak rela bila Grimmjow mengambil kekasihnya itu. Kekasih? Ups, jangan sampai Ulqui dengar. Grimmjow mengerti, ia tersenyum kemudian menyusul langkah sahabatnya itu.

"Hei, bukannya kalian tetangga ya? Wah, enak dong bisa bertemu setiap hari ya?" sahut Grimmjow memancing.

Ulqui kembali menghentikan langkahnya. 'Bertemu?' gumamnya lagi.

Grimmjow melirik sedikit bagaimana perubahan raut wajah Ulqui. Lagi, ia tersenyum. 'Ah, Ulqui kalau kau mau jujur mana mungkin aku punya kesempatan untuk menggodamu seperti ini' gumam Grimm dalam hati.

"Kalau kau begitu mengkhawatirkan keadaannya kenapa tidak pergi saja menemuinya? Kau ini laki-laki kan? Seharusnya kau bisa menegaskan perasaanmu dan perasaannya. Mau sampai kapan terkatung begini? Sambutlah perasaan itu Ulqui, mungkin akan membuatmu merasa lebih baik."

'Menyambut perasaan ini?' tanya Ulqui dalam hati.

"Ah, itu dia. Aku pulang dulu ya Ulqui, bisnya sudah datang." Grimmjow menepuk pelan pundak Ulqui kemudian dengan cengiran khasnya ia meninggalkan Ulqui dan segera berlari menuju halte bis di seberang persimpangan yang mereka jalani.

Ulqui hanya menatap heran kepergian sahabatnya itu. Ia ingin bertanya lagi sebenarnya.

'Grimm.. Memangnya ini perasaan seperti apa?' tanya Ulqui dalam hati.

. . . .

Selanjutnya, sisa perjalanan pulang ke rumah harus dilalui oleh Ulqui sendirian. Rasanya perjalanan pulang ini memakan waktu yang sangat lama. Ya, sangat lama. Sebab ia sibuk berkutat dengan pemikirannya tentang sesuatu –ah, ralat– seseorang. Beberapa langkah lagi ia akan sampai di depan rumah, namun lagi-lagi ia harus menggalau, antara ingin berkunjung ke rumah Orihime terlebih dahulu baru pulang atau pulang dan tidak usah berkunjung. Lama ia berdiri menatap ke seberang rumah –rumah Orihime– dan menatap kembali ke sisi sebaliknya –rumahnya– begitu berkali-kali. Sampai ketika ia menemui kemantapan hati untuk berkunjung, terlihatlah dua orang insan berbeda jenis baru saja keluar dari pintu.

"Aku pulang dulu ya Hime," sahut suara laki-laki dari seberang.

"Terima kasih sudah datang," jawab suara perempuan dengan riang.

Lagi, kau terlambat Ulqui. Seharusnya kau langsung pulang saja, tapi entah mengapa saat ini kau merasa sesak. Melihat gadis manis yang biasanya tersenyum padamu, kini senyumnya tengah dinikmati laki-laki lain. Cemburu, he?

"Ah, tidak perlu mengantarku sampai gerbang. Kau cepatlah istirahat Hime," suara laki-laki itu terdengar perhatian.

"Hmm.. Baiklah pak dokter." jawab gadis itu patuh seraya tertawa mendengar pernyataan sahabatnya itu yang terkesan sangat protektif, kemudian mengambil langkah untuk masuk ke dalam rumah.

Sekarang kau hanya bisa sedikit mencuri pandang. Jauh di dalam hatimu kau sebenarnya ingin sekali mendekatinya. Meski dari jauh, ada setitik kelegaan melihatnya sudah bisa berdiri dan masuk ke dalam rumah dengan selamat. Kau tersenyum, sudah lama tidak lihat gadis surai oranye itu. Ingin sekali rasanya kau meneriakkan namanya kemudian berlari menghambur ke dalam pelukannya. Ah, tidak. Itu hanya akan membuatmu semakin OOC saja. Kau bahkan tidak sadar sekarang ada seorang makhluk tampan yang sedang menatapmu datar di balik kaca matanya.

"Ehm"

Suara deheman itu berhasil menyadarkan kembali pandanganmu. Kau melihatnya, pemuda Ishida itu menatapmu tidak suka. Kau juga membalas tatapannya dengan tatapan tidak suka, namun karena tidak ingin mengambil pusing kau kembali melanjutkan langkahmu pulang dan melakukan kebiasaan barumu sepertinya.

'BLAAAAMM'

Yah, membanting pintu akhir-akhir ini menjadi kebiasaan barumu. Apatis! Kau mengandalkan sifatmu yang ini untuk menghadapi pemuda Ishida itu.

. . . .

Setelah mandi akhirnya kau bisa makan siang. Makan siang hari ini pun masih sama seperti hari-hari kemarin. Kau habiskan sendiri di dalam keheningan, tidak ada gunanya meja makan sebesar ini bila hanya bisa kau gunakan sendirian. Sama seperti rumah ini, terlalu besar untuk kau tempati sendirian. Tidak heran bila kau memang menikmati ketenangan, sebab menjadi 'sendiri' adalah kebiasaanmu dari kecil. Hanya akan menjadi sesuatu yang unik darimu sebab kau bisa berteman dengan seorang Grimmjow yang super usil dan berisik itu. Hn, mungkin Grimmjow adalah pengecualian dan juga.. Orihime mungkin pengecualian juga. Suara dentingan sendok yang secara tidak sengaja bersentuhan dengan piringmu yang menjadi satu-satunya suara yang menemanimu di ruang makan ini.

'kimi no kokoro e, kimi no kokoro e—todoke, todoke, todoke—boku no kokoro ga—kimi no kokoro e—todoku you ni—utauyo'

Dan, eh.. Tungggu suara apa itu?

"Ya. Ayah?"

"Bagaimana kabarmu nak? Maaf Ayah belum bisa pulang dan menemanimu," sahut suara lelaki diseberang saluran.

"Tidak apa yah. Jangan khawatir aku baik-baik saja," jawab Ulqui.

"Ah, kapan kau ujian akhir nak? Ayah akan urus beasiswamu jika kau lulus dengan nilai terbaik,"

"Ujiannya minggu depan," jawab Ulqui datar.

"Kalau begitu kau harus sungguh-sungguh belajar. Ayah akan mendukungmu dari sini,"

"Baik. Terima kasih,"

"Ah, sudah dulu ya. Ayah mau menghadiri pertemuan. Jaga dirimu baik-baik ya, nak." sahut lelaki itu dengan suara yang terdengar terburu-buru.

"Baik..

'KLIK'

"…Ayah juga. Hati-hati," sambung Ulqui. Tepat setelah percakapan ditutup.

Yah, mau bagaimana lagi Ayahnya terlalu sibuk sebagai duta besar Las Noches. Sebagai anakpun, ia tidak ingin mengganggu pekerjaan Ayahnya. Meskipun sebenarnya ia sangat, kesepian.. Sekilas ia melirik pada sebuah figura, di sana terlihat figura seorang wanita yang amatlah cantik dengan senyum yang indah dan manik hijau dengan pancaran sinar kasih sayang yang begitu menghangatkan hati sang pemuda. 'Ibu' gumam Ulqui, ada setitik kerinduan jika menyebut panggilan itu.

Setelah menyelesaikan kegiatan makan siang yang kemudian dilanjutkan dengan mencuci piring akhirnya ia bisa mengistirahatkan tubuhnya sejenak dengan menikmati secangkir ocha sambil membaca buku di ruang tamu. Ruang tamu Ulqui menghadap ke arah jendela besar yang menyuguhkan pemandangan di depan rumah Ulqui yang berisi taman yang tidaklah terlalu luas, namun cukup hijau untuk menyegarkan mata. Otomatis dari jendela besar itu bisa dilihat gerbang rumah Orihime –mengingat mereka tetangga yang hanya berseberangan–, yah tidak lihat orangnya minimal lihat pagar rumahnya pikir Ulqui. Selagi asik Ulqui menikmati bacaan dan keheningannya, tiba-tiba..

'KRIIEEETT'

Sebuah suara pintu pagar mengusik ketenangannya. Akhirnya ia pun mencari arah dari mana sumber suara berasal. Dan suara tersebut berasal dari pintu pagar rumah Orihime. Eh, Orihime? Alis Ulquiora menaut di tengah. Ia pun berdiri dan sedikit menyingkap gorden jendelanya, mengintip untuk memastikan bahwa orang yang membuat keributan itu adalah Orihime. Dan, yak benar sekali. Terlihat gadis bersurai oranye itu sedang keluar dari pagar, namun sejurus kemudian ia kembali masuk dan menutup pintu pagar masuk ke dalam rumah kemudian keluar lagi membawa sebuah kotak makan yang dibungkus kain hijau. Gadis itu terlihat ragu untuk membuka pintu pagar, namun akhirnya ia buka kembali pintu pagar, setelah keluar dari pagar gadis itu terlihat sedang menatap ke arah rumah Ulqui kemudian berbalik lagi hendak menutup pintu pagar namun kembali gadis manis itu terlihat ragu. Setelah beberapa saat berdiri di depan pagar, akhirnya dengan menghela napas ia memantapkan hati untuk menutup pintu pagar. Bersiap untuk menyeberang, gadis itu terlebih dahulu menoleh ke kanan dan kiri.

Sadar akan kemana arah tujuan gadis itu melangkah, Ulqui sedikit panik dan berlari menjauhi jendela tempat tadi ia mengintip. Ia kemudian menunggu suara bel rumahnya yang akan berbunyi atau minimal suara gadis itu yang memanggilnya. Dengan bersiap berdiri di depan pintu Ulqui terlihat sudah menyiapkan mentalnya dan beberapa susunan kata-kata yang akan dikatakannya nanti. Namun,…

TBC

. . .

Ampun, maafkan Author nista ini yang kelamaan update

T..T

Gomenasai

LovyS : Wah, makasih sudah review ya, pengennya cepet update si tapi semester ini sangatlah sibuk. Maaf ya..

Kuro Nami : Maaf, gak bisa update cepat-cepat ya. Terima kasih banyak dah mau setia review..
*terharu*
JejeJeyhan: Makasih udah review ya. Maaf gak bisa update kilaat.. Maaf..

Mohon Kritik dan Saran yang membangun