Di sana, di tempat Six duduk. Ia dapat melihat gestur Six yang lugas. Mulai dari cara ia menyesap kopi dari gelasnya, cara ia duduk―semuanya. Atensinya langsung terfokus pada kedua iris Six yang tak begitu terlihat dikarenakan posisi laki-laki itu yang menyamping.

Dan kini ia melihatnya, sepasang iris nyaris semerah darah yang menatapnya. Tanpa intimidasi, tanpa tekanan. Terkesan santai dan kalem. Auranya berbeda dengan V yang pertama bertemu dengannya. Senyum simpul nampak dari balik gelasnya. Sementara iris cokelat yang terlihat semerah darah saat tertimpa sinar matahari iru terus menatapnya. Seolah mempelajarinya.

Oh Tuhan, tidak lagi.


Unravel

Cast: Jeon Jungkook, Kim Taehyung

Rated: M

Genre: Crime, Drama, Romance

Melihat kakakmu dibunuh dengan sadis di depan matamu merupakan hal yang sangat menyakitkan. Namun Jeon Jungkook, seorang psikolog harus berurusan dengan pembunuh kakaknya. Kim Taehyung, laki-laki yang mengakui dirinya dan rela ditangkap.

Inspired by Tokyo Ghoul and its soundtrack, Unravel


.

.

.


Onyx dan sepasang manik semerah darah bertubrukan. Kontak mata mereka tak terputus sekalipun Jungkook menutupi sebagian wajahnya dengan gelas cappuccinonyayang tengah ia minum.

"Jadi, Six. Kau―" Ucapan Jimin terputus saat Jungkook menyenggol lengan Jimin dengan sikunya. Jimin menautkankan alisnya dan memandang Jungkook heran. Sementara Jungkook hanya diam dan memberikan isyarat kepada Jimin untuk mengamati sosok Kim Taehyung baik-baik. Dan Jimin tertegun saat itu juga.

"Jangan menatapku seperti itu. Tolong." Gumam sosok itu risih. Kedua kakinya menyilang di bawah meja. Jari jemarinya bertautan dengan siku yang menumpu pada arm rest bangkunya. "Panggil saja aku Hansung."

Jungkook sedikit menahan napasnya. Perkiraannya benar, laki-laki dihadapannya bukan sosok Six ataupun V. Tapi kepribadian lain yang baru kali ini ia temui. Onyxnya tak melepas atensi dari sosok yang mengaku bernama Hansung itu. Menerka-nerka kepribadian seperti apakah laki-laki itu. Sementara Jimin terdiam, kehabisan kata-kata. Ini kali pertamanya melihat perubahan kepribadian seseorang. Dalam hati ia bingung, sekaligus takjub.

Jungkook berdehem. Berusaha mencairkan suasana. "Jadi, kau―Hansung? Kepribadian lain Tae-hyung?"

Hansung mengangguk konfirmatif. Ia menggasak poninya, membuatnya terlihat berantakan namun menambah kesan maskulin dari sosok itu. "Yap, katakanlah aku sebagai penengah diantara semua kepribadian di sini."

Holy shit, I got the jackpot. "Tunggu sebentar, jadi―kau tahu segalanya?" Jungkook menegakkan tubuhnya. Binar dalam onyxnya tak dapat berbohong jika ia luar biasa senang. Tanpa ia sadari tubuhnya sedikit condong ke arah laki-laki itu. Menyimak baik-baik tiap silabel yang keluar dari mulut Hansung. Dirinya bertekad untuk mengorek informasi sebanyak mungkin dari Hansung.

Hansung kembali mengangguk, membuat Jimin juga ikut mencondongkan tubuh ke arahnya. "Tanyakan saja. Aku tidak tahu harus mulai dari mana." Hansung duduk dengan canggung dengan dua laki-laki yang terus memandangnya seolah ingin menelannya bulat-bulat.

"Katakan, berapa kepribadian Tae-hyung sebenarnya? Dan sejak kapan? Tolong beritahu semuanya. Aku sangat perlu untuk tahu segalanya. Tae-hyung tak memberiku informasi yang cukup. Kau harus memberitahuku segala tentang―"

"Hey, hey. Pelan-pelan, pelan-pelan. Kau sangat out of character, man." Hansung tergelak melihat reaksi Jungkook yang di luar perkiraannya. Sejauh ia memperhatikan Jungkook dari dalam, baru kali ini ia melihat psikolog muda itu bereaksi berlebihan terhadap sesuatu. Kedua tangannya terangkat sebatas dada, berusaha menenangkan Jungkook yang terlalu excited.

"Sejauh ini, di tubuh ini ada 9 orang." Jungkook dan Jimin pun terkesirap. Kedua pasang kelopak mata mereka mengerjab cepat. Dengan isyarat matanya, mereka mendesak Hansung untuk melanjutkan penjelasannya. Tidak, mereka tidak pernah mengharapkan Taehyung memiliki kepribadian sebanyak itu. Ini benar-benar mengejutkan.

"Kim Taehyung, dia kepribadian utama. Sedangkan 8 yang lain hanya sosok kepribadian lainnya yang muncul karena siksaan, amarah, dan emosi lainnya yang tercampur aduk di dalam dirinya." Hansung kembali meletakkan sikunya pada arm rest, merilekskan dirinya sendiri. "V, sosok yang pertama kau temui." Iris semerah darah itu memandang Jungkook penuh arti, dan dengan kilat jenaka yang membuat Jungkook berdecih kesal. Kembali mengingat kejadian saat ia bertemu dengan sosok V pertama kali.

"Dia psikopat seperti yang kau tahu. Arogan, player sejati, jenius. Selain itu aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Bahkan kapan ia muncul akupun tidak tahu. Ia muncul sebelum aku ada di sini." Hansung menjeda penjelasannya dengan meneguk lattenya. "Lex. Aku yakin kau juga sudah pernah bertemu dengannya. Wanita menyebalkan itu sudah menggodamu, bukan? Kurasa kau tidak akan melupakannya."

Jimin melirik Jungkook tidak percaya. Sementara Jungkook mengedikkan bahu acuh, berusaha melupakan wanita yang menggodanya saat itu.

"Lex, wanita itu memiliki darah Amerika. Bahasa Koreanya kacau, tapi sedikit membaik belakangan ini. Well, she's the real bitch. Setahuku ia muncul sejak Taehyung berusia lima belas tahun. Taehyung sejak kecil mendapat perlakuan buruk, dan kau tahu, Lex muncul karena itu. Lalu, Six. Bocah sepuluh tahun yang muncul tadi pagi. Ia di sini sejak empat tahun lalu. Aku yang menamainya, Six, sesuai dengan usianya saat pertama muncul. Bocah itu pernah membuat masalah di kampus dengan mengacak-acak ruang seni rupa." Hansung tertawa kecil, mengingat memori saat awal Six bergabung ke dalam keluarga mereka.

"Dan aku, Hansung. Aku bahkan lupa sejak kapan aku ada di tubuh ini. Aku hanya memiliki ingatan sejak Taehyung berusia sebelas tahun. Selain kami, ada 4 orang lagi yang belum kau temui, Jungkook-ah." Kali ini Hansung memandang Jungkook dengan raut serius. Kedua tangannya bersilang di depan dadanya. Cangkir lattenya sudah kosong dan hanya menyisakan noda kopi di dinding cangkir.

Sementara Jungkook dan Jimin tertegun. Keduanya saling bertatapan dengan ekspresi tak terbaca. Hingga sudut-sudut bibir mereka tertarik lebar dan secara bersamaan menoleh kepada Hansung. Dengan senyuman lebar, dua psikolog itu mendesak Hansung dengan binar dari tiap-tiap manik mereka. Membuat Hansung menggeleng heran. Tapi berakhir dengan melanjutkan penjelasannya tentang kepribadian-kepribadian yang dimiliki Taehyung.

"Pertama, Gabriel. Dia laki-laki. Jika kau membuat Taehyung marah, Gabriel yang akan muncul. Jangan heran jika ia bisa benar-benar mengamuk saat itu. Gabriel terbentuk karena kemarahan yang selalu dipendam oleh Taehyung. Dia berbahaya, hanya itu yang perlu kau tahu. Jangan sekali-kali membuat Taehyung marah, okay?

Lalu, Kevin. Hh, bocah ini terlampau hiperaktif. Aku sendiri tidak tahu harus mengatasinya dengan cara apa. Sama sekali tidak berbahaya, tapi, yah, akan membuatmu pusing dengan kehadirannya di sekitarmu.

Terakhir ada Theo dan Eva. Mereka berdua kembar. Tenang saja, mereka jarang muncul. Hanya saja akan merepotkan saat keduanya muncul bersamaan. Kau tahu, anak kembar. Mereka akan berbicara bergantian dan membuatmu bingung.

Dan dari awal kau tahu, cara membedakan kami semua, bukan? Yap, yang paling mudah adalah dengan melihat warna mata kami. Taehyung memiliki mata sewarna hazel, V gelap seperti obsidian, Lex abu-abu seperti kebanyakan orang bule, lalu Six dengan mata birunya. Aku, yah, seperti yang kau lihat. Cokelat, tapi akan memerah saat terkena cahaya matahari. Gabriel memiliki mata persis denganmu, Jungkook-ah. Kevin memiliki bola mata cokelat, lalu Theo, caramel, dan Eva seperti Harry Potter, emerald."

Holy shit.

Jungkook dan Jimin terdiam. Melongo di tempat dengan wajah bodoh mereka. Seketika otak mereka memproses dengan lambat semua informasi yang baru saja diberikan oleh Hansung. Hingga Jungkook berdehem dan mengontrol ekspresinya. Ia buru-buru menenggak cappuccinonya sampai tak bersisa.

Sedangkan Jimin tetap memasang wajah bodohnya. Ia baru tersadar saat Jungkook menyenggol lengannya cukup kencang. Ia mengerjabkan mata sipitnya cepat. Lalu mengusap wajahnya sekilas. Ekspresinya masih menunjukkan bahwa ia masih tak percaya dengan semua penjelasan itu.

Tidak, bukan hanya Jimin. Jungkook juga masih setengah percaya. Dirinya dibuat benar-benar bingung dan terperangah oleh Hansung―Kim Taehyung. Ia ingin menyembuhkan Taehyung, tapi hal ini membuatnya tak yakin. Taehyung memiliki banyak kepribadian, dan dua diantaranya amat bahaya. V dan Gabriel. Ia memang belum pernah bertemu, tapi dari penjelasan Hansunglah Jungkook bisa menyimpulkan.

Jungkook memijit pelipisnya. Ia merasa senang, senang karena dapat menemukan kasus yang tergolong langka di dunia ini. Tapi ia kembali berpikir untuk benar-benar melakukan hal ini. Apa membebaskan Taehyung dan menjadi psikolog pribadi Taehyung adalah hal yang terbaik? Entahlah. Jungkook mulai meragukan dirinya sendiri. Apakah dirinya mampu?


.

.

.


Min Yoongi bersumpah jika dirinya benci dengan tugas lapangan. Terutama dengan tugas berpasangan. Dan terkutuklah sang inspektur yang kini duduk di sebelahnya sembari meneguk kopinya. Persetan dengan laki-laki Kim yang menjabat sebagai inspekturnya. Yoongi sungguh membenci hal ini.

"Demi Tuhan, Kim. Ini hari libur. Dan kau menyuruhku―memaksaku untuk bekerja? Brengsek." Terutama dengan pekerjaan di hari liburnya. Demi apapun Yoongi ingin tidur di kasurnya saat ini juga.

"Diamlah, hyung. Kita tidak sedang bekerja, kita sedang berlibur. Tanamkan itu di otakmu."

"Kau sebut mengintai terdakwa yang bebas karena kelainan jiwa sebagai liburan? Dasar sinting."

"Berhentilah mengumpat, hyung."

Yoongi semakin menggerutu di dalam hatinya. Keduanya tengah berada di dalam mobil milik sang inspektur, dengan Inspektur Kim sendiri yang berada di belakang kemudi. Dan dirinya sendiri yang duduk sembari meminum kopi hitamnya ogah-ogahan.

Jemarinya mengetuk-ngetuk dashboard mobil malas. Namun, kedua obsidiannya memandang awas ke arah kafe klasik itu. Mengawasi ketiga orang yang tengah sibuk mengobrol. Sebenarnya hanya satu orang yang berbicara, sementara dua orang lainnya fokus mendengarkan dengan wajah yang sulit diartikan.

Min Yoongi menyugar surai hitamnya. Ia baru saja mengganti warna rambutnya beberapa hari lalu, salahkan inspektur sial yang memaksanya untuk ikut mengganti warna rambutnya. Tapi yang membuatnya bahagia adalah ia menang taruhan dengan sang inspektur yang berakhir dengan rambut pirang itu berubah menjadi warna ungu memalukan.

Keduanya bertaruh apakah Kim Taehyung akan dibebaskan atau dipenjara. Dan Yoongi menang. Taruhan sederhana yang membuat seluruh staf kepolisian menahan tawanya melihat penampilan baru sang inspektur di keesokan harinya. Sementara dirinya mengubah rambutnya menjadi seperti semula, hitam. Dan banyak yang menyanjungnya amat pas dengan warna hitam, hingga beberapa staf wanita mendekatinya bahkan dengan percaya diri memberikan nomor telepon mereka pada Yoongi. Yang tentunya sama sekali tak dipedulikan oleh laki-laki pucat itu.

Inspektur Kim, atau Namjoon sendiri kini juga tengah mengawasi kafe itu. Tatapan matanya seolah-olah ingin melahap sosok bersurai lilac yang telah membuatnya menahan malu sejak beberapa hari yang lalu. Membuatnya kalah taruhan dengan bawahan sekaligus sahabatnya sendiri. Salahkan juga bocah Jeon yang membebaskan Kim Taehyung itu. Dirinya menjadi menderita seperti ini. Sungguh, Kim Namjoon bersumpah akan melakukan sesuatu kepada dua orang itu suatu hari.

Kedua maniknya terus terfokus pada ketiga laki-laki itu, mengamati tiap gerak-gerik mereka sekecil apapun. Dirinya melirik ke arah Yoongi saat melihat ketiga laki-laki itu berdiri dan mulai berjalan keluar dari kafe. Mereka berdua segera menaikkan jendela mobil dan mengawasi dari dalam, berharap salah satu dari ketiga laki-laki itu tak menyadari kehadiran mereka.

"Tunggu dulu, sepertinya aku mengenal mobil itu." Jungkook mengerutkan dahinya dan perlahan berjalan mendekati Range Rover putih yang terparkir tepat di depan kaca besar dekat mereka duduk tadi. Meninggalkan Hansung dan Jimin yang memandang heran pada dirinya.

Ia mengetuk jendela mobil itu, menunggu hingga sang pemilik mobil menurunkan jendelanya. Dirinya tak terlalu terkejut saat melihat sosok Min Yoongi tengah bersandar malas pada jok mobil. Tapi ia berusaha mati-matian untuk menahan tawanya kala melihat sang inspektur dengan surai ungunya tengah berada di belakang kemudi.

"Inspektur Kim, Officer Min. Selamat pagi. Apa yang kalian lakukan di sini?" Jungkook tengah berusaha menahan tawanya selagi menyapa mereka berdua. Dan jangan lupakan Hansung dan Jimin yang juga menahan tawanya kala melihat sang inspektur.

"Pagi, Jeon Jungkook-ssi. Kau tahu, kami hanya melakukan beberapa hal di sekitar sini." Namjoon mengulas senyum formalnya, diliriknya sosok Kim Taehyung dan laki-laki pendek yang hanya beberapa langkah di belakang Jungkook. "Yeah, beberapa hal." Sahut Yoongi. Laki-laki itu memilih untuk keluar dari mobilnya dan berjalan mendekati Taehyung.

"Pagi, Kim Taehyung-ssi. Masih mengingatku?" Yoongi menjulurkan tangannya yang dibalas dengan jabatan tangan oleh Hansung. Hansung tersenyum ramah dan mengangguk pasti. "Officer Min, bukan? Tentu saja saya masih mengingat anda."

"Jadi, kau yang mana hari ini, Kim Taehyung-ssi. Aku belum pernah bertemu dengan kepribadianmu yang sopan seperti ini." Sudut bibir Yoongi tertarik beberapa milimeter. Secara tiba-tiba dirinya melupakan kekesalannya beberapa saat lalu terhadap inspekturnya. Ia telah menemukan hal menyenangkan bagi dirinya. Sosok Kim Taehyung.

Hansung tetap mempertahankan senyumannya. Dirinya telah mengamati selama beberapa hari, mengamati apapun dan siapapun yang berhubungan dengan orang-orang di dalam tubuh itu. Dirinya mengenal betul sosok laki-laki pendek nan pucat di hadapannya. Seseorang berlidah pedas yang pertama kali menginterogasi Taehyung di kantor polisi.

"Hansung. Anda bisa memanggil saya seperti itu."

Hansung tidak pernah memperkenalkan dirinya pada siapapun. Jungkook dan Jimin adalah yang pertama mengenalnya. Tapi mungkin ia bisa membuat pengecualian terhadap laki-laki di hadapannya. Toh untuk apa ditutupi? Min Yoongi sudah mengetahui sosok seperti apa Kim Taehyung itu.

Yoongi mengangguk-angguk. Mengamati sosok Hansung dari ujung kepala hingga kakinya. Sedikit mengernyit melihat penampilan laki-laki yang menurutnya tidak sesuai dengan usianya.

"Bagaimana perkembangannya, Jungkook-ssi?" Namjoon pun memilih untuk turun dari mobilnya juga dan mendekati Jungkook. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana jeansnya. Yah, karena ini hari libur jadi ia dan Yoongi memilih untuk memakai pakaian kasual dan menanggalkan seragam mereka sejenak.

"Sejauh ini baik-baik saja. Kim Taehyung masih bisa mengontrol dirinya sendiri. Dan yang terpenting, kepribadian V-nya belum muncul lagi sampai saat ini. Walaupun ia masih sering berganti kepribadian selama beberapa jam sekali."

Namjoon mengangguk-angguk mengerti, atensinya terfokus kepada sosok Kim Taehyung atau Hansung yang tengah mengobrol dengan Yoongi. Mengabaikan laki-laki pendek bersurai oranye di sebelahnya.

"Tapi dilihat-lihat, sepertinya penampilanmu," Yoongi menjeda kalimatnya dan kembali mengamati sosok Hansung yang hanya mengenakan kaus putih dan blue jeans pendek. Sementara Hansung tertawa kecil menanggapi ucapan Yoongi. "Ah? Ini, sebenarnya ada anak kecil yang muncul sejak pagi sebelum diriku. Yah, seperti inilah."

"Anak kecil?"

"Ne, Yoongi-ssi. Kim Taehyung tidak hanya memiliki dua atau tiga kepribadian," Jungkook merubah rautnya menjadi lebih serius kini. Ia membiarkan Yoongi menatap tepat ke matanya dan mencoba membaca dirinya. Mendesak dirinya untuk melanjutkan kalimatnya dengan raut yang tak kalah serius.

Jungkook merubah arah pandangannya kepada Hansung. Sementara Hansung mengangguk konfirmatif. Dirinya menghela napas dan kembali melanjutkan kalimatnya. "Kim Taehyung memiliki 9 kepribadian termasuk dirinya sendiri, sang kepribadian asli."

Dan saat itu Yoongi mematung. Ia mengikuti arah pandangan Jungkook ke arah Hansung. Dirinya kembali meneliti laki-laki itu dari ujung rambut hingga ujung kakinya, dan terus begitu. Tanpa sadar dirinya sedikit membuka mulutnya, mengeja wah tanpa suara dengan pandangan seolah ingin menerkam Hansung. Membuat laki-laki itu makin risih. Ayolah, sejak pertama kali dirinya menjelaskan, ia selalu mendapat pandangan seperti itu baik dari Jungkook maupun dari Jimin. Dan sekarang Yoongi pun juga memandangnya seperti itu.

"Kau sungguh mendapat bahan penilitian bagus, Jeon Jungkook-ssi." Yoongi berdecak. Sementara Namjoon terdiam tak mengerti tapi berusaha menggunakan ekspresi semeyakinkan mungkin. Dirinya tidak mungkin tiba-tiba bertanya apa maksud dari itu semua. Cukup gunakan ekspresi datar dan berpura-puralah jika kau mengerti, Kim Namjoon.

"Yah, mungkin kau benar, Yoongi-ssi."

"Ekhem. Apa kalian sungguh akan mengabaikanku?" Kemudian keempat pasang mata di sana sontak menoleh kepada Jimin yang tengah menunjuk dirinya sendiri dengan wajah sebal. Dan Hansung pun langsung merangkulnya dengan tawa kecil.

"Ah, benar. Inspektur Kim, Yoongi-ssi, ini temanku sesama psikolog. Park Jimin." Dan kedua petugas kepolisian itu langsung menjabat tangan kecil Jimin. Saat itu Jimin terpaku. Tangannya enggan lepas dari tangan pucat itu. Dirinya tidak mengerti, sejak dulu ia hanya akan tertarik dengan laki-laki atau wanita berparas imut dan manis. Dia akui Yoongi memang berwajah manis, namun ia sama sekali tak memiliki aura manis dalam dirinya.

Sialnya dirinya merasa tangan itu benar-benar melingkupi tangannya dengan amat pas. Dan sialnya ia merasa nyaman dengan kehadiran laki-laki yang bahkan tak lebih tinggi darinya itu. Jimin menggigit pipi dalamnya saat Yoongi meremas tangannya, menatapnya intens dengan sepasang mata elang itu. Tidak, Jimin tidak terpesona. Tidak.


.

.

.


Jungkook terdiam. Sejak mereka bertemu dengan Inspektur Kim dan Yoongi, menceritakan beberapa hal tentang Kim Taehyung dan gangguan kepribadiannya, Jungkook langsung meminta izin untuk pulang setelah Jimin berlari pulang terlebih dahulu dengan alasan ia ada kelas siang ini. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya. Disampingnya, Hansung berjalan dengan santai sambil bersiul-siul kecil.

Saat itu, Jungkook menghentikan langkahnya. Membuat Hansung memandangnya heran dan ikut berhenti. Jungkook terdiam selama beberapa saat. Jujur saja ia masih memikirkan tentang semua yang dijelaskan oleh Hansung di kafe tadi. Dirinya masih tidak percaya, walaupun jelas ada yang mengalami kasus yang sama―bahkan lebih parah dari Taehyung. Tapi, entahlah. Ia hanya tiba-tiba merasa bebannya bertambah berat.

Jungkook kembali melanjutkan langkahnya tanpa mengatakan apapun. Hansung terus memandangnya heran, tapi enggan bertanya. Ia sadar dengan sikap Jungkook sedari tadi. Dari ekspresinya sudah menggambarkan jika laki-laki yang lebih muda darinya itu sedang memikirkan banyak hal.

Dalam diam keduanya berjalan beriringan. Jarak kafe dan taman tadi memang tak jauh dari rumah Jungkook, cukup dengan berjalan selama lima belas menit. Jungkook berhenti di depan pintu rumahnya, dengan helaan napas berat ia membuka kunci pintunya. Dan saat itu juga dirinya terdiam. Ia memandang ruang tamunya, secara refleks kepalanya tertunduk dan menatap lantainya. Jungkook meringis, kembali mengingat bekas seretan darah yang amat sulit hilang dari sana. Lantainya tak lagi putih, warna kemerahan masih tersisa di sana.

Dengan enggan ia melepas sepatunya dan melenggang masuk. Tubuhnya tersentak saat Hansung menyentuh bahunya. Ia menoleh dan menemukan raut bersalah laki-laki itu. Hansung menghela napas, menggumamkan maaf pelan namun masih dapat ditangkap Jungkook dengan jelas. Jungkook mengangguk, seulas senyum ia paksakan di wajahnya. Walau bagaimanapun, Jungkook tetap tak bisa menghilangkan ingatan tentang malam itu. Malam saat ia bertemu dengan sosok Kim Taehyung untuk pertama kalinya. Malam saat kakaknya dibunuh.

Ia menghempaskan dirinya ke sofa, disusul oleh Hansung.

"Hansung-hyung. Apa aku bisa berbicara dengan Tae-hyung?" Ujarnya. Ia menyandarkan punggungnya, merilekskan diri dan berusaha melepas penat di kepalanya.

Hansung mengangguk. Ia memejamkan matanya, tubuhnya mulai rileks. Saat itu Hansung berdiri dari kursinya. Menghampiri sebuah pintu dan membukanya perlahan. Taehyung ada di sana. Duduk diam dengan kedua mata yang tengah terpejam. Ia menghampiri Taehyung, menyentuh bahunya dan mulai menuntun Taehyung untuk berjalan ke arah kursi yang tadi ia duduki. Taehyung terlihat seperti mengalami tertidur sambil berjalan. Tidak, Taehyung hanya dalam keadaan setengah sadar. Ia mendudukkan Taehyung di sana. Helaan napas meluncur dari bibirnya. Diusaknya rambut Taehyung sekilas sebelum ia berjalan menjauh dari ruangan itu.

Taehyung tersentak dari duduknya. Refleks kepalanya menoleh kesana kemari, hazelnya bergerak-gerak panik. Napasnya berderu tak karuan. Keadaannya persis seperti orang yang baru saja terbangun dari mimpi buruk. Hal itu sontak membuat Jungkook bangkit dari sofanya dan menghampiri Taehyung. Berusaha menenangkan laki-laki itu.

"Hyung. Hey, kau tidak apa-apa?"

"Aku―aku, ini dimana?" Taehyung menggigit bibir bawahnya kuat. Tangannya meremas pakaian Jungkook. Keringat sebesar butir jagung mengaliri pelipisnya. Sementara Jungkook terus mengusap bahu Taehyung, menenangkan. Ia sendiri bingung, baru saja ia melihat Hansung memejamkan matanya, beberapa detik kemudian ia melihatnya membuka mata dengan panik dan melupakan segala hal. Apa ini proses pergantian kepribadian yang biasa Taehyung alami?

Taehyung mulai tenang dan Jungkook memutuskan untuk mengambilkan air untuk laki-laki itu. Taehyung meneguknya perlahan. Hazelnya masih bergetar memandang Jungkook. Binar dalam hazel itu penuh dengan pertanyaan, dan mau tak mau Jungkook harus menjelaskan semuanya dari awal. Sejak Taehyung beralih menjadi Lex, Six, hingga Hansung.

"Ini rumahku, hyung. Kau masih mengingatnya bukan?" Taehyung mengangguk pelan, sesekali masih meminum airnya. "Kau―mengalami pergantian kepribadian sejak kemarin. Saat kau kembali ke apartemenmu dan mengambil beberapa barang."

"A―apa?" Hazel itu semakin bergetar ketakutan. Buku-buku jarinya memutih saat ia meremas gelas di tangannya. Bibir bawahnya ia gigit semakin keras hingga tanpa sadar setetes dari mengalir dari bibirnya. Jungkook kembali menghela napas, entah sudah berapa kali ia melakukan hal itu hari ini. Ibu jarinya perlahan mengusap darah itu, dan kembali berusaha untuk menenangkan Taehyung dengan menggumamkan tidak apa-apa, kau sama sekali tak membuat masalah, hyung secara terus menerus.

"Kurasa aku harus memberi tahumu semuanya. Tapi aku rasa saat ini bukan waktu yang tepa―"

"Kumohon katakan. Aku―aku perlu tahu tentang diriku sendiri." Bibir itu bergetar. Bahkan gelas yang ia pegang ikut bergetar. Taehyung ketakukan dan Jungkook tahu itu. Ia membantu Taehyung untuk meletakkan gelas itu di meja dan memandang Taehyung serius.

"Kau yakin?" Dan Taehyung mengangguk.

"Kau memiliki 9 kepribadian dalam dirimu, hyung." Taehyung terdiam, dirinya tak mengerti dan meminta Jungkook untuk melanjutkan penjelasannya. "Kau mengerti tentang kepribadian ganda, bukan? Mungkin kebanyakan orang menganggap kepribadian ganda hanya memiliki dua kepribadian. Namun tidak. Aku yakin kau tahu kasus Billy Miligan yang terkenal beberapa belas tahun lalu. Ia memiliki 24 kepribadian. Kasusnya tidak jauh berbeda dengan kasusmu. Melakukan hal kriminal, namun bukan kau yang melakukannya. Tapi dirimu yang lain. Saat Miligan mempunyai 24 kepribadian, bersyukurlah kau hanya memiliki 9 kepribadian. Walau aku yakin itu bukan hal yang harus kau syukuri. Aku bertemu dengan 3 kepribadianmu yang lain sejak kemarin, hyung. Aku telah berbicara dengan salah satunya yang mengetahui segalanya tentang dirimu. Namanya Hansung. Dia menjelaskan semuanya padaku."

Dan siang itu Jungkook habiskan dengan menjelaskan tentang semua kepribadian Taehyung kepada laki-laki itu. Sedangkan Taehyung terdiam dan khusyuk mendengarkan tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Pandangan matanya kosong. Jungkook menghela napas dan mengusap pelan bahu Taehyung, berusaha menguatkan laki-laki itu. Ia tahu jika ini juga merupakan beban berat untuk Taehyung.

"Hyung, aku ingin menanyakan sesuatu padamu."

Taehyung menoleh. Pandangan matanya masih sama, kosong. Seperti kehilangan minat untuk hidup. Dirinya mengangguk, mempersilahkan Jungkook untuk berbicara.

"Kau tahu, saat aku bilang ingin menyembuhkanmu, aku sungguh ingin menyembuhkanmu. Tapi, gangguan identitas disorder ini bukan suatu hal yang bisa disembuhkan. Aku hanya bisa meminimalisir dan hanya bisa membantumu untuk mengontrol kepribadian lain dalam dirimu. Juga aku bisa membantumu melewati terapi, dan beberapa obat. Tapi, apa kau mau menjalani terapi? Maksudku, di rumah sakit. Bukan di sini. Yah, panti rehabilitasi tempatku bekerja. Kau bersedia?"

Taehyung tetap terdiam, dan Jungkook juga memandangnya penuh harapan. Tanpa ia sadari tangannya menggenggam kedua tangan Taehyung dan mengusapnya lembut. Taehyung menghela napas. Ia memejamkan matanya dan berusaha berpikir jernih. Kepalanya pening setelah mendengar semua penjelasan Jungkook.

Taehyung kembali mengingat kenapa dirinya bisa mengalami semua hal ini. Ia memutar kembali memorinya saat ia kecil dulu. Saat keluarganya melakukan hal-hal buruk padanya. Membuahkan rasa trauma yang masih membekas hingga kini. Ia juga ingat Jungkook sempat mengatakan jika penyebab seseorang dapat memiliki gangguan kepribadian adalah karena perlakuan tidak baik saat usia dini. Dan ia ingat itu juga terjadi pada dirinya. Perlakuan tidak baik saat ia kecil yang ia dapatkan dari keluarganya mengakibatkan trauma, juga membuat dirinya membuat sistem pertahanan diri dalam otaknya dan membuat kepribadian lain terbentuk dalam dirinya sendiri.

"Apa aku bisa sembuh, Jungkook-ah?" Putus asa. Itu yang ia tangkap dari nada bicara Taehyung. Ia meremas lembut tangan Taehyung. "Bukan sembuh, hyung. Aku hanya bisa membantumu untuk mengontrol kepribadianmu. Dan jika aku bisa―pasti aku usahakan, aku akan membuat semua kepribadianmu itu menyatu. Aku akan melakukannya, hyung. Kau percaya padaku?"

Taehyung terus menatap kedua onyx itu. Ada suatu hal dalam manik itu yang membuatnya percaya dengan sang psikolog. Ia ingin meyakini apa yang Jungkook katakan. Ia ingin mempercayai Jungkook. Ia ingin sembuh. "Kenapa?" Gumamnya.

"Kenapa kau ingin menyembuhkanku, Jungkook-ah?"

Karena aku tidak ingin melihatmu hancur, hyung.


.

.

.


Jungkook terdiam di bangkunya. Sejak dulu dirinya membenci keramaian. Apalagi tempat yang penuh sesak dengan orang dan debuman musik yang memekakkan telinga. Jungkook sungguh membencinya.

Namun di sinilah ia. Duduk di belakang meja bar dengan seorang bartender yang tengah meracik sebuah minuman dengan gelas-gelasnya. Alunan musik up beat dengan puluhan orang yang menari bebas di lantai dansa. Ia meneguk whiskynya ganas. Membiarkan rasa pahit dan membakar di mulut dan tenggorokannya.

Ia memandang sekelilingnya. Menemukan beberapa pasangan yang tengah bercumbu di beberapa sudut bar. Jungkook mengernyit aneh, namun menemukan hal seperti itu di sebuah bar seperti ini bukan lagi hal yang aneh. Ia pun menyadari, inilah tempat yang biasa didatangi oleh kakak perempuannya. Jungkook sedikit mengulas senyumnya, tangannya menopang dagunya dan satu tangannya memainkan gelasnya.

"Hi. Orang baru?" Seorang bartender berperawakan sedang dengan kulit tan yang begitu kentara datang menghampirinya. Dengan cairan kecokelatan yang kembali ia tuangkan pada gelas kecilnya. Jungkook tersenyum dan mengangguk. Ia kembali meneguk whiskynya tanpa tersisa.

"Tapi sepertinya wajahmu familiar. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Sang bartender tertawa kecil dan meletakkan botol whiskynya di meja. Ia melipat tangannya di atas meja, menopangkan tubuhnya pada sikunya. Jungkook dapat melihat senyuman menggoda terulas di wajah laki-laki itu. Jungkook hanya menggeleng acuh.

"Kau terlihat seperti―entahlah. Momo?"

Jungkook mematung dan memandang bartender itu dengan kedua manik yang membola. "Kau kenal Momo nee-san?"

Bartender itu mengangguk. "Hampir setiap hari dia ke sini. Mana mungkin aku tidak kenal? Dia sepertimu, menghabiskan lebih dari satu botol whisky dan sama sekali tidak mabuk. Wanita itu. Aku sering melihatnya melakukan balapan dengan Ninja putihnya di luar. Dia wanita yang keren."

"Apa semuanya mengenal Momo nee-san di sini?" Jungkook memandang laki-laki itu dengan penuh harap. Ia benar-benar butuh banyak informasi tentang kakaknya. Dan ia sangat bersyukur saat bartender itu mengangguk mengiyakan.

"Tidak semua, tapi sebagian besar, iya."

"Apa kau mengenal laki-laki berambut ungu pucat yang sering bersama Momo?" Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya kuat. Sungguh, ia sama sekali tak berniat untuk mabuk atau apapun di sini. Ia hanya ingin melepas sedikit penatnya dan mengorek beberapa informasi tentang kakaknya di sini. Dan bingo, Jungkook mendapatkannya. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

"Ah, maksudmu V? Ya, aku mengenalnya."

Sungguh Jungkook ingin bersyukur saat ini. "Kau sungguh mengenalnya?" Dan sang bartender kembali mengangguk.

"Maksudmu laki-laki berambut ungu pucat yang duduk di meja nomor 5 yang terus menatapimu seperti singa kelaparan? Ya, aku sangat mengenalnya."

"Apa?!"

Sontak, kepalanya menoleh ke berbagai arah demi mencari sosok yang dibicarakan oleh dirinya dan bartender itu. Dan di sana, tepat di meja nomor 5. Kedua obsidian itu menatapnya, dingin dan kosong. Sudut bibir laki-laki itu terangkat membentuk sebuah seringai miring yang nampak mengerikan saat dilihat dalam kegelapan seperti saat ini. Jungkook mengutuk dalam hatinya. Ia merasakan tubuhnya terpaku. Bokongnya seolah tak ingin lepas dari bangku keras itu sekalipun otaknya berkali-kali memerintahkan dirinya untuk pergi. Ia tak tahu kenapa. Mekanisme mempertahankan dirinya mengatakan seperti itu.

Terutama saat sosok itu mulai bangkit dan berjalan perlahan mendekati meja bar. Mendekati dirinya. Dengan setelan kaus hitam polos yang ditutupi dengan bomber putih juga jeans hitam belel. Jangan lupakan sepasang boot hitam mengkilat yang menjadi alas kaki laki-laki itu. Surai lilacnya ditata sedemikian rupa hingga menyisakan kesan berantakan namun maskulin dan seksi di saat bersamaan ditambah dengan headband hitam polos yang terikat di kepalanya. Bangsat.

Jungkook mengalihkan pandangannya kembali ke arah bartender itu. Ia sungguh tak tahan berlama-lama beradu pandang dengan sosok itu. Tatapan matanya terlalu mengerikan, dan Jungkook benar-benar mengakui itu. Tangannya meremas gelas kecil yang masih setia ia genggam sedari tadi. Jungkook sungguh terdiam.

Saat lengan kurus itu mengalung di bahunya dengan begitu akrab. Saat tubuh itu condong ke arahnya hingga punggungnya menempel dengan dada bidang sosok itu. Saat suara berat itu menggelitik telinganya, tepat di samping telinganya. Jungkook terdiam. Bangsat, sekali lagi.

"Mr. Jeon. Anda tak seharusnya meninggalkan pasien anda hanya untuk datang ke bar, bukan?"

Jungkook merasa bulu kuduknya berdiri. Nada bicaranya, suara beratnya, hembusan napas hangatnya. Jungkook sungguh dibuat bungkam oleh sosok ini. Dalam jarak sedekat ini ia dapat membaui parfum yang digunakan oleh laki-laki itu. Parfumnya. Namun saat sosok itu yang menggunakannya, entah kenapa aromanya terasa lain. Lebih maskulin, dan lebih menggairahkan. Bangsat, bangsat, bangsat. Jungkook kembali mengumpat dalam hatinya.

"Bukankah aku sudah meminta kalian semua untuk tetap tinggal di rumah?" Ia menahan getaran dalam suaranya. Ia sungguh tak ingin kalah dengan dominasi sosok itu. Remasannya pada gelasnya mengerat. Dirinya gugup entah kenapa.

Sosok itu hanya menyeringai. Jemari lentiknya bergerak, mengisyaratkan sang bartender untuk membawakannya minuman. Ia makin merendahkan tubuhnya, memerangkap Jungkook. Ia tahu tubuhnya tak lebih besar dari laki-laki itu. Tapi ia juga tahu, laki-laki itu luar biasa ciut di bawah kuasanya.

"Menyingkir dariku, sialan."

Sosok itu terkekeh, dengan santai mendudukkan diri di sebelah Jungkook dan melepaskan kungkungannya. Bukan karena ia patuh pada laki-laki itu. Hanya saja, minumannya sudah datang dan ia tak ingin menyia-nyiakan waktunya untuk berdebat dengan Jungkook. Sebotol vodka lengkap dengan gelasnya. Ia langsung menuangkan vodkanya dan meminumnya dalam sekali teguk.

"Mencari tahu tentang Momo, hm?"

Jungkook mengendikkan bahu acuh. Ia mengambil botol whisky yang masih di meja dan langsung menuangnya ke dalam gelas. Diteguknya whisky itu brutal. Berusaha mengalihkan perhatiannya dari laki-laki itu.

"Tak ingin menanyakannya langsung padaku?" V menopangkan dagunya. Seringai tipis terukir di wajah tampannya. Ia mengamati Jungkook dari ujung rambut hingga kakinya. Penampilannya simple, namun atraktif. Dengan jaket kulit hitam yang menutupi kaus marunnya juga jeans hitam ketat. Ia memilih sepasang Puma hitam sebagai sepatunya dan Cartier sebagai arlojinya.

Jungkook tetap acuh. Ia sangat bersyukur karena sejak beberapa hari yang lalu V tidak muncul dan mengganggunya, namun sepertinya Tuhan ingin mengujinya lagi. Ia menghela napasnya. Bangkit dari bangkunya dan sengaja mengacuhkan V dengan melenggang pergi meninggalkan sosok itu.

V mengendikkan bahunya acuh. Membiarkan laki-laki itu menerobos lautan manusia dan tetap mengamatinya dengan sepasang obsidiannya. Seringai tipis tetap menghiasi wajahnya. Sosok itu sungguh menarik perhatiannya. Jungkook memang sosok laki-laki yang maskulin. Namun akan berbeda 180 derajat jika berada dalam kungkungannya. Dan V menyukai itu. Jungkook sangat mirip dengan kakaknya yang dulu sempat bersamanya. Sempat mengisi hatinya.

Bohong jika V membunuh Momo hanya karena bosan. Tapi hingga sekarang, V enggan mengemukakan alasannya di hadapan siapapun.

"Mainan barumu, V?"

V menoleh, mendapati bartender tadi tengah mengamati Jungkook yang menghilang di balik lorong dengan tanda toilet di atasnya. Ia hanya terkekeh dan kembali meneguk vodkanya. Ekor matanya melirik ke lorong itu, menanti Jungkook untuk keluar dari sana.

"Asal kau tahu saja, dia adiknya Momo."

Sang bartender terdiam. "Wah, kali ini sepertinya aku juga tidak dapat mendekatinya." Bartender itu mengangkat tangannya sebatas dada. Wajahnya menyiratkan ketakutan terutama saat melihat seringaian V.

"Kau memang seharusnya tidak mendekatinya, Kai." V kembali meminta satu botol vodka dari laki-laki itu. Yang langsung dituruti Kai dan segera mengambilkan satu botol lainnya.

"Omong-omong, kau tahu di mana Momo? Sudah lebih dari satu minggu dia tak kemari. Apa dia sibuk?"

"Dia dalam tanah."

Kai membeku. Ia menggenggam leher botol kuat-kuat. Ia tahu betul maksud ucapan V. Dengan gerakan kaku ia meletakkan botol yang sudah ia buka tutupnya. Membiarkan V meminumnya dengan dirinya yang masih memasang ekspresi tak percaya. Ia amat mengenal V. Ia tak tahu alasannya, tapi ia marah. Sangat.

Ia marah karena nada bicara V yang amat santai, seolah tak menanggung beban apapun. Ia marah karena ia tak dapat menjaga Momo. Ia marah karena V-lah pelakunya. V-lah yang telah membunuh Momo.

Tanpa berpikir panjang, Kai menarik kerah bomber V. Ia menggeritkan giginya, rahangnya mengeras. Ia sungguh merasakan amarah membumbung dalam dirinya. Ia sungguh tak bisa berpikir jernih. Ia tak peduli dengan siapa dan sosok seperti apa laki-laki di hadapannya ini. Buku-buku jarinya memutih, terlalu keras menggenggam kerah V.

"Hm? Kau marah?"

V mengangkat wajahnya. Menampakkan ekspresi dinginnya. Kedua obsidiannya menusuk sepasang manik kelam yang menantangnya. Dengan mudah ia menyingkirkan tangan Kai dari pakaiannya. "Bukankah seharusnya aku yang marah?"

"Apa maksudmu?" Kai mengerutkan dahinya. Tidak mengerti dengan ucapan laki-laki bersurai lilac di hadapannya.

"Aku tidak bodoh, Kai. Aku tahu kau mendekati Momo. Dan segala hal yang kalian lakukan, di belakangku. Ayolah." V tertawa. Sedangkan Kai memucat. Seluruh darahnya seolah tersedot turun ke mata kakinya. "Setelah semua itu, kau tahu bukan apa yang terjadi? Dan kau tahu, bahwa bisa saja kau yang selanjutnya, bukan?"

Kai masih terdiam saat tanpa aba-aba V menarik kerahnya. Memelantingnya hingga jatuh tersungkur. Ia bahkan tak sadar ia sudah berada di luar mejanya. Ia berusaha bangun, namun tangan V yang mencekal kakinya benar-benar kuat. Ia ingin menendang wajah dingin itu, namun cekalan V sungguh kuat dan meremukkan. Tangannya menopang tubuhnya, ia berusaha melepaskan diri. Namun entah kenapa ia tak bisa.

Selama ini V tidak pernah bertindak hanya karena perasaan semata. Namun ini lain. Ia marah. Ia benci dikhianati. Ia benci saat seseorang menyentuh apa yang menjadi miliknya. Ia benci saat miliknya kotor karena orang lain. Ia benci siapapun yang menyentuh miliknya, dan ia benci miliknya yang sudah kotor. Dan ia selalu dapat dengan mudah menyingkirkan apa yang ia benci.

Dengan santai ia menyeret Kai di lantai. Mengabaikan orang-orang yang memandangnya takut. Mengabaikan Kai yang terus meronta. Ia menyeret Kai ke lorong, kemudian ke tangga darurat. Tanpa perasaan ia membiarkan tubuh Kai terbentur tiap anak tangga yang ia naiki. Tangannya menarik kaki itu kuat, bahkan V menancapkan kuku-kukunya pada kulit tan itu.

Ia menoleh, mendapati Kai dengan memar hampir di sekujur tubuhnya. Satu tangannya yang bebas bergerak untuk membuka pintu di hadapannya. Rooftop. Tempat favoritnya sejak dulu. Ia kembali menyeret tubuh Kai. Tak mempedulikan kepala laki-laki itu yang terantuk pintu. Di sana, V terdiam. Dilepasnya cengkeramannya pada kaki Kai dan dengan sengaja ia membantingnya.

"Kai, kau benar-benar memilih lawan yang salah."

V membalikkan badannya. Ia menundukkan kepalanya hanya untuk melihat Kai yang tengah meringis kesakitan. Seluruh tubuhnya ngilu. V menyeretnya dari lantai dasar, hingga ke rooftop yang notabene berada di lantai empat.

V merogoh sakunya, namun ia kembali terdiam saat itu. Ia tak menemukan apa yang ia cari di saku bombernya. Pisau lipatnya. Ia yakin sudah mengambilnya dari laci kamar Jungkook. Ia yakin sudah membawanya kemari. Tapi ia tak menemukannya di manapun. V menggeram. Ia tahu pasti, Jungkook sudah mengambilnya kembali. Saat ia mengungkung laki-laki itu. Saat itu Jungkook tahu, V mencurinya dari kamarnya. Dan yang Jungkook lakukan adalah mencurinya kembali dari V. Jungkook tahu V akan melakukan sesuatu dengan pisaunya.

Dengan membumbung angkara, ia menonjok rahang Kai. Kai yang sudah sulit bergerak hanya meringis kesakitan. Seluruh tubuhnya luar biasa ngilu. V tak main-main saat menyeretnya di tangga tadi, laki-laki itu sengaja membenturkan tubuhnya pada dinding dan anak tangga. Tinjuan bertubi-tubi menghampiri wajahnya. Sedari awal ia tahu akan seperti ini akhirnya. Sedari awal ia mendekati Momo, ia telah membuat kesalahan. V benar, ia memilih lawan yang salah.

"V! Hentikan!"

Jungkook di sana. Berdiri di ambang pintu rooftop dengan kedua onyx yang memandang tajam pada V. Napasnya terengah-engah. Ia berlari dari lantai bar hingga sampai di rooftop. "Hentikan, sialan. Aku membebaskanmu bukan untuk membiarkanmu membunuh orang lagi."

Dengan langkah tegas ia berjalan ke arah kedua laki-laki itu. Ia menarik bahu V dan berusaha menjauhkannya dari Kai. Namun, menghalau V bukan perkara mudah. Dirinya berakhir dengan dicekal oleh laki-laki itu. Jungkook mencoba melepaskan diri. "Jangan membunuh orang lagi, V. Sial―cukup kakakku. Dan hentikan semua ini!"

V benci dibentak.

Tanpa aba-aba tangannya beralih mencengkeram leher Jungkook, mencekik laki-laki itu. Jungkook semakin meronta. Ia dapat merasakan tubuhnya melayang beberapa centimeter. Ia berusaha melepaskan diri, namun nihil. V jauh lebih kuat dibanding dirinya.

"V―h-hentikan. Kali ini saja―"

"Kau membela keparat ini? Dia yang membuatku harus membunuh kakakmu, kelinci manis. Apa kau tidak ingin aku untuk menghabisi laki-laki ini? Kau tahu? Semua ini berawal dari keparat ini dan juga kakakmu sendiri."

10 detik. Jungkook merasakan kepalanya pening dan dadanya panas. V enggan melonggarkan cengkeramannya dan membiarkannya berbicara. Dengan seluruh kekuatannya, ia mengumpulkan suaranya. "V―sial, k-kumohon―"

Di detik ke 13, V terdiam. Ia memandang sepasang onyx yang memerah dengan air mata yang berkumpul di kelopaknya. Ia mendecih. Berusaha tak luluh dengan laki-laki itu. Tapi sialnya, mata itu sama dengan mata yang selalu ia tatap. Mata yang sama dengan mata yang selalu menatapnya dengan kerutan di ujungnya. Dengan senyuman. Mata yang sama dengan mata yang dulu dimiliki oleh seseorang yang menjadi kelemahan terbesarnya. Mata yang juga dimiliki oleh laki-laki dalam cengkeramannya kini.

Detik ke 18, V melepaskan cengkeramannya dari Jungkook. Membiarkan laki-laki itu jatuh dan terbatuk-batuk. Jungkook mendongak, berusaha memandang V yang tengah membuang mukanya dengan penglihatan yang mengabur. Ia baru saja merasakan bahwa laki-laki itu akan membunuhnya. Namun, saat ini laki-laki itu tengah menunduk dan enggan menatapnya. Entah kenapa.

"Kau memintaku untuk tidak membunuhnya?" Jungkook tersentak saat suara berat itu terdengar. Tanpa sadar ia mengangguk. Tenggorokannya masih terasa perih, bernapaspun ia masih kesulitan. "Pergi dari sini sekarang. Aku boleh melakukan apapun asal aku tidak membunuhnya, bukan?"

Jungkook hendak melayangkan protes. Namun sepasang obsidian yang menggelap dengan pupil mata mengecil itu membungkamnya. V tak ingin dibantah saat ini, dan Jungkook amat paham. Ia memilih untuk bangkit dan berjalan meninggalkan rooftop dengan patuh dibanding membantah laki-laki itu, yang berakhir dengan dirinya yang dibunuh. Tidak, walaupun begini, Jungkook masih ingin hidup.

Sepeninggalan Jungkook, V kembali mendekati Kai. Laki-laki itu masih meringis di tempatnya. Tak dapat bergerak dengan seluruh tubuh yang nyeri.

"Sayangnya Jungkook memintaku untuk tidak membunuhmu. Bajingan. Jadi aku hanya akan membuatmu sekarat. Sounds good enough?" V kembali menyeringai. Salah satu kakinya menginjak dada laki-laki itu. Ia membungkukkan tubuhnya hanya demi melihat ringisan kesakitan Kai di bawahnya.

"Menurutmu, apa arti sekarat itu?" Laki-laki itu terdiam, lalu menggeleng pelan. Tenaganya habis, memar di beberapa bagian tubuhnya luar biasa nyeri. Walaupun ia yakin, V belum melakukan segalanya untuk menghabisinya.

"Artinya setengah mati. Jadi, kurasa seseorang harus melakukan setengah tindakan yang bisa membunuh seseorang." V menjeda kalimatnya. Bootnya semakin ia tekankan di dada laki-laki itu. Membuat laki-laki di bawahnya meronta dan terbatuk-batuk. "Anggap saja menghancurkan seluruh tubuh sebagai kematian. Maka, jika kita pisahkan bagian tubuh atas dan bawah, dampaknya akan jauh berbeda pada kedua sisi. Kau masih akan hidup tanpa tubuh bagian bawahmu. Tapi jika aku menghancurkan bagian atas tubuhmu, kau akan mati."

Kedua obsidian itu memandang dingin laki-laki di bawahnya. Sementara itu, Kai membulatkan matanya. Ia tak ingin mati, sungguh. Ia ingin memohon. Namun semua itu percuma jika dihadapkan pada sosok laki-laki bersurai lilac ini. Semua rintihan, teriakan, cicitan memohonnya akan terdengar seperti simfoni bagi V.

"Bagaimana jika organnya? Aku sempat berpikir seperti itu. Tapi, dengan begitu aku masih harus memikirkan nilai penting masing-masing organ. Sialnya memisahkan organ itu sulit. Contohnya otak, apakah keseluruhannya bisa disebut sebagai satu organ? Atau harus kupisahkan menjadi cerebrum, cerebellum, dan hippocampus? Itu merepotkan."

V mendecih. Ia terus menatap mangsanya. Membiarkan laki-laki itu tenggelam dalam terror ketakutan saat ia menjelaskan cara membuatnya sekarat dengan tepat.

"Jadi, aku memilih tulang." Dan saat itu, seringai V melebar. Membuat kedua manik di bawah sana semakin membulat. Kai semakin meronta. Tak peduli dengan tubuhnya yang terasa makin nyeri. Tapi V mengangkat kakinya dan menginjak dadanya lagi. Kali ini lebih keras. Membuatnya terbatuk dengan darah yang mengalir hingga dagunya.

"Manusia memiliki 206 tulang dalam tubuh mereka. Saat semuanya hancur, maka manusia akan mati. Dan semua tulang itu simetris, jadi membaginya setengah adalah hal yang mudah."

V makin menekan kakinya sepelan mungkin agar tulang-tulang laki-laki itu tidak patah sekarang juga. Tapi di sisi lain, seringaiannya tetap terpasang di wajah tampannya. "Dan dengan kata lain, aku akan mulai menghancurkan 103 tulang di tubuhmu."

Tangannya terulur. Ia menarik tangan laki-laki itu paksa. "Dimulai dari lengan.

Pertama lengan atas dan depan, lalu tangan. Ada satu tulang yang bernama humerus di lengan atas. Lengan depan sendiri tersusun oleh dua tulang."

1

"Tulang yang baru saja kupatahkan di kelingking adalah ulna. Tulang pada jempol yang akan kupatahkan ini bernama radius."

2

"ARGH!"

"Tulang lengan dibagi menjadi 3; carpus, metacarpus, dan phalanges. Dalam grup carpal atau carpus, ada 8 tulang; pisiform, triquetrum, lunate, scaphoid, hamate, capitate, trapezoid, dan trapezium. Mereka bergerombol menjadi satu, jadi bisa dihancurkan secara bersamaan."

KRAK

10

"AARRGHHH!"

"Metacarpal atau metacarpus terdiri dari 5 tulang."

KRAK

15

"Lalu ada 3 macam tulang yang membentuk phalanges. Proximalis, distalis, dan media. Jika dikalikan dengan 5 jari, maka seharusnya ada 15 tulang. Tapi ibu jari tidak memiliki tulang distal. Sehingga ada 14 tulang yang membentuk phalanges di dalam satu lengan."

KRAK

KRAK

KRAK

KRAK

KRAK

29

"Ditambah dengan humerus,"

KRAK

30

"Maka ke-30 tulang di dalam lengan sudah selesai."

"AARRGGGHHH! KEPARAT! BAJINGAN!"

"Selanjutnya, kaki.

Jika femur juga dihitung, maka akan terdapat 30 tulang penyusun kaki seperti lengan. Tapi, jika sesamoid juga dihitung, maka jumlahnya menjadi 32."

KRAK

KRAK

KRAK

62

"Lalu masing-masing terdapat 2 tulang pada scapula, clavicle, nasal, sternum, lacrimal, dan palatine."

KRAK KRAK KRAK KRAK KRAK

74

"Tulang rusuk sendiri terdiri dari 24 tulang."

98

"Lalu maxilla dan mandible tersusun atas 2 tulang."

102

"Terakhir tulang ethmoid dan tulang sphenoid."

103

"Anjing bangsatkkhhh"

V melebarkan seringainya. Kedua obsidiannya berkilat memandang tubuh yang terbujur lemas di bawahnya. Dengan langkah santainya, ia berjalan meninggalkan Kai. Ia tahu Kai masih sadar, namun ia sungguh tak peduli. Dengan kekehan senangnya, ia memasukkan tangan ke saku celananya. Tanpa menoleh ke belakang, ia menutup pintu itu dan menguncinya.

BRUK


.

To be continued…

.


A/n :

Hollaaaaaaaa~ Anyone miss me?
Anyone? Anyone? /gakada

Sudah berapa lama saya menghilang btw? Setahun ya? Dan saya nongol lg dengan gak tau dirinya /digampar

Sorry for the very very very very very *nyanyi very very very – IOI* late update
I'm sowwy guys

Ada yg masih inget ff ini? Semoga masih. /sebenernya gak ada /nanges di pojokan

Dan jawaban kalian tentang berapa jumlah kepribadian Taehyung di sini udah kejawab semuanya. Dari semua tebakan kalian, I'm sorry for it kkkkk

Buat kalian yg kangen V karena chap kemaren gak nongol sama sekali, here he is! Plus bonus psycho nya kumat. Sip. Hope you like it!
psst, ini words nya udah dipanjangin loh ya wkwk

p.s.: bagian V matah-matahin tulang diambil dr manga Tokyo Ghoul which that's my favorite part

And anyway, thanks for all my amazing reviewers yang pada nagih-nagihin ff ini, saya terhura. Maaf karena gak bisa balesin kalian satu-satu, hiks.

Last, mind to give it a review?

Also, special thanks to all my amazing reviewers :

Icha744, , rssk. Baby-Army, nik4nik, chocotae, Kim taeru, kkumkkuja, milkycreamy, an.2794, gbrlchnerklhn, hellozuan, wulancho95, Averlie, Nana Huang, KPOPfics, Taekooks'cream, vanillatae, Jeon Cookies, Gijeon, Tipo, notgraybutfade, kuebrownies, exoinmylove, hsandra, huhuhu, leehyoae, YuRhachan, peachpeach, Guest, TaeKai, Kookie, kyuminmi, kimxjeon, Tofu Enak, dila kim, , HyeraSung, Kyubear9597, aestaee, mooitrey, mineeeyyyy98, Y BigProb, Melinda Jikook9597, hazel1996, Haemi KimTae Kook, kiyurakaso, Kimikazu, BabyJeonKookie, yukenflai, shiroohan, Xcuuuch, jungkookie, xxtaekooktrash, chuacu, flyingmin, jaectyong, applecrushx, Sebastian Michaelis Em'Bangtan, ara'seo, Wafa Nabila, Cloverssi, qyncha127, yeoNa95, jii-chan O3O, Hastin99, Guest, Guest, Albus Convallaria majalis, TanteCans, jenbwi, Kris hanhun, KimJeon69, pinkimchi, TaeJeon.

And also all who favorite and follow my ff,
thank you so much

Best regards,

Red Parfait