Disclaimer: Them-self, God, Their Family, Their Management, AKB48, Their Fans

Author: Hasegawa Arisa

Genre: Romace, Friendship

Rated: T

Cast: Miyazawa Sae and Kashiwagi Yuki

Other Cast: Jo Eriko (as Yamamoto Eriko), Nonaka Misato, Ooya Shizuka, Nagao Mariya, Yamauchi Suzuran, Watanabe Mayu, Oshima Yuuko, Matsubara Natsumi

PoV for This Chapter: Miyazawa Sae

Summary: "Ohayou, Nonaka-sensei"/ "Ooya-san?"/ "Kalungku hilang ..."/Alisku bertaut/"Dari Suzuo-kun ..."/ "Waahh ... Kalau begitu semangat ya!"/ "Memangnya kapan pelajaran Miyazawa-sensei menyenangkan?"/ "Yukirin-chan. Rin-chan,"/"Baiklah, Sae-senpai,"/ "Yuuko, berhenti berteriak. Telingaku berdenging tahu,"/ "Sae-nii,"/"Kalau saat itu kau tidak meninggalkan rumah Paman―"/"Suzuki-san akan memarahimu," potongku cepat.

Warn: Switch-Gender, AKB48 fic, Typo(s)

Note: I hope you all know the cast or main cast at least. Or maybe the couple.

.

.

.

.

"Kenapa melamun terus dari tadi, Sae-nii?"

Eriko masih terus mengayuh sepedanya. Dia pasti heran melihatku yang agak melamun hari ini.

"Aku hanya berpikir tentang Ayah," sahutku "... tentang usahanya,"

"Hn?" Eriko bergumam bingung padaku.

Gadis mungil itu mengalihkan pandangannya dariku lalu jalan dan kembali padaku.

"Aku juga berpikir untuk menyelesaikan ini secepatnya," kataku lagi. Aku suka mengajar. Entah kenapa. Tapi aku rindu Kagekidan, rindu teman-temanku.

Eriko menggelengkan kepalanya, "Kau baru di sini seminggu, Onii"

Aku terkekeh. Gadis ini benar-benar manis. "Seingatku aku baru saja melihat seorang anak perempuan yang menangis karena bolanya hilang," kataku menggodanya.

Pipi Eriko memerah malu, "Ja- jangan ingat itu! Lagipula apa hubungannya dengan ini?" katanya kesal. Eriko benar-benar, "Rasanya waktu cepat sekali berlalu ya? Kemarin saja kau masih seorang gadis kecil," kataku.

Eriko menatapku aneh. "Jangan bicara seolah-olah kau ayahku dan aku akan menikah begitu!"

Aku kembali tertawa, "Memangnya aku kebapakan?"

Eriko mengangguk cepat, "Un. Kau mirip ayah dan Saya-nii. Tapi karena Sae-nii ..." Eriko mengadahkan kepalanya menatap langit pagi Kyoto, "... Aku jadi merindukan mereka. Apalagi Saya-nii,"

Aku tersenyum maklum. Pasti sudah lama Sayaka dan Eriko tidak bertemu. Memang Sayaka sih yang memutuskan untuk pergi ke Tokyo saat itu.

"Kau tidak ingin bertemu Sayaka?" tanyaku ragu. Eriko mendengus geli, "Tentu saja aku ingin bertemu dengannya. Dan apa-apaan itu? Jangan panggil orang yang lebih tua darimu seperti itu,"

Aku berbelok ke kanan, masuk ke wilayah Kyodai. "Kalau aku kembali ke Tokyo, ikutlah!"

Eriko yang menyusulku cepat, menoleh padaku, "Hah?"

"Bukankah kau ingin bertemu Sayaka? Lagipula aku bisa memberimu tiket cuma-cuma menonton pertunjukan comebackku di Kagekidan nanti," tawarku. Menggiurkan bukan? Saat ini banyak orang kehilangan kesempatan menonton Kagekidan karena tiketnya diundi, tahu.

"Akan kupertimbangkan," kata Eriko lalu berbelok ke parkiran sepeda. Aku mengikutinya.

Tepat saat aku turun dari sepedaku, sepeda lain sampai di sampingku. Aku menoleh untuk melihat.

Seorang gadis manis, cantik, berkulit putih dengan wajah tirus turun dari sepedanya. Dia menoleh padaku.

"Aa― Ohayou, Miyazawa-sensei" katanya. Aku tersenyum dan membungkuk hormat padanya, "Ohayou, Nonaka-sensei"

Nonaka Misato, itu namanya. Dia dosen departemen ekonomi. Jurusan yang juga kugeluti. Yah ... Aku mengambil departemen management, accountancy juga departemen ekonomi. Yah ... Walau ketiganya sama-sama dari Fakultas Ekonomi sih. Haha ... Aku bahkan tidak pernah mengambil departemen seni. Di Todai tidak ada sih. Memang ada institut tersendiri untuk seni.

Sedikit banyak aku belajar juga dari Nonaka-san. Yah ... Lagipula Nonaka-san tidak segalak Nakamata-san. Oh ya, Nakamata Shiori itu dosen fakultas ekonomi yang mengajarku di Todai.

Eriko juga membungkuk pada Nonaka-san. Gadis yang sudah kuanggap adikku sendiri itu pamit pergi ketika melihat beberapa temannya.

Aku dan Nonaka-san berjalan bersama. Mengingat kami mengajar di fakultas yang sama, gedung departemen kami bersebelahan. Ngomong-ngomong, gedung departemen management dan gedung departemen accountancy jadi satu karena banyak yang mengambil dua departemen ini sekaligus.

Aku mulai bertanya beberapa hal pada Nonaka-san. Yah ... Sekaligus mengejar ketertinggalanku di Todai.

Nonaka-san mengajariku banyak hal tentang ekonomi.

"Ah! Sayang sekali kita tidak bisa bercerita lebih banyak, Miyazawa-sensei" kata Nonaka-san ketika kami sudah sampai di gedung. Nakatasuka-san sangat menyenangkan. Dia tidak pernah merasa sedang mengajar. Bahkan kudengar dari murid-muridnya, Nonaka-san mengajar seperti seorang teman yang saling mengobrol.

Aku membungkukkan badanku sedikit, "Haii''';ja'. Semoga hari Anda menyenangkan, Nonaka-sensei"

Ia tersenyum dan membalas, "Hariku selalu menyenangkan, Miyazawa-sensei" Lalu ia masuk ke gedung itu. Aku melanjutkan langkahku.

Hampir saja aku masuk ke gedung kalau tidak ada seorang gadis yang memangilku. Ah, aku ingat dia. Salah satu murid di kelas Katayama-sensei, yang berarti juga aku mengajarnya saat ini. Siapa namanya? Ah iya, Ooya Shizuka?

"Ooya-san?"

Gadis itu tersenyum cerah. "Hai', Miyazawa-sensei"

Aku membalas senyumnya, "Ada apa? Tiba-tiba saja memanggilku,"

Ooya-san memainkan kakinya, "Ehm ... Aku berpikir untuk mengambil kelas tambahan bersama temanku nantinya. Apa ... sensei bisa?" tanyanya. Aku kembali tersenyum, "Tentu. Silahkan datang nanti. Aku akan ada di ruang kelas yang biasa ditempati Matsui-san, Kashiwagi -san, Yokoyama-san dan yang lainnya,"

Gadis itu mengangguk. "Baiklah. Terima kasih, sensei." Ia membungkuk padaku lalu pergi setelah merasa aku mengijinkannya.

Aku kembali melanjutkan langkahku ke ruang dosen departemen ini.

"Ohayou gozaimasu," sapaku sesaat setelah masuk ke ruangan luas ber-AC itu.

Aku bisa melihat beberapa sensei―yang cukup banyak di departemen ini―tentu saja, Kyodai punya lebih dari dua ribu staff pengajar―sedang sibuk dengan bahan ajaran mereka masing-masing. Mereka semua menjawab sapaanku. Ramah sekali.

Mataku tertumbuk pada Mariya-san ketika aku melewati mejanya. Gadis―tidak, wanita itu membungkuk untuk mencari sesuatu di bawah mejanya. Aaaa ... Bukankah itu berbahaya sekali, untuk bayinya.

"Mariya-san ... Ada apa?" tanyaku sopan. Mariya-san menoleh padaku. Ia tersenyum―dipaksakan, aku yakin. "Kalungku hilang ..." katanya.

Alisku bertaut.

"Dari Suzuo-kun ..." katanya lagi. Matanya sedikit berkaca-kaca. Dasar ibu hamil.

"Benarkah? Mau kubantu? Aku mengajar agak siang hari ini. Lagipula kasihan bayi kalian kalau kegencet nanti, Mariya-san" Aku tersenyum melihat raut Mariya-san yang mencerah dan beralih ke sebelahku, membiarkan aku mencari kalungnya.

Aku menelusup ke bawah meja Mariya-san. Setelah meraba-raba lantai, aku menemukan sebuah kalung. Indah ... Berbentuk seperti irama musik, melodi.

Kepalaku menyembul keluar lalu aku berdiri, sedikit membersihkan debu di kakiku.

Matanya Mariya-san berbinar melihat kalungnya ditemukan. "Arigatou, Sae-kun" ucapnya lalu berlari kecil ke arahku. Aku hanya tersenyum dan menyerahkan kalungnya, "Douita, Mariya-san"

Ketika aku menyerahkan kalung yang kubentangkan itu, Mariya-san tampak sangat cerah lalu meraih kalungnya.

"Ehem ..."

Seseorang berdehem cukup keras sehingga aku dan Mariya-san menoleh untuk mengecek. Di pintu masuk, tampaklah Yamauchi -san yang sedang mendelik pada ehm aku. Aku meneguk ludahku paksa lalu tersenyum canggung padanya dan membungguk hormat.

Beneran, aku tidak ada maksud menggoda Mariya-san.

Ngomong-ngomong, Mariya-san malah ...

"Suzuo-kun ..."

... Berlari ceria pada Yamauchi-san seperti anak kecil.

Aku duduk di mejaku, mulai mempersiapkan bahan-bahan untukku mengajar. Tapi percakapan Yamauchi-san dan Mariya-san malah membuatku tertawa kecil, geli.

"Apa yang dia lakukan padamu?" Yamauchi-san agak menyudutkan Mariya-san. "Apa? Dia membantuku menemukan ini," jawab Mariya-san sambil menunjukkan kalungnya.

"Tapi kenapa wajahmu seceria itu?" tanya Yamauchi-san gusar. "Ehm? Aku senang kalung ini ketemu. Bagaimana kalau tidak? Aku bisa tidak mau kembali ke rumah untuk mencarinya," kata Mariya-san lagi.

Yamauchi-san menghela nafas, seperti kehabisan kata-kata. "Jangan begitu! Kau ini sedang hamil, Maricha. Aku tidak mau kau kenapa-napa," Mariya-san cemberut, "Kau jadi makin protective padaku, Suzuo-kun"

Yamauchi-san menghela nafas lebih panjang. Pasti sulit menghadapi istri yang sedang hamil. "Usia kandunganmu masih rawan, Maricha. Walaupun aku bukan dokter kandungan, setidaknya aku mengerti. Aku sangat khawatir, tahu"

Aku kembali tersenyum melihat Mariya-san tertawa kecil lalu mencium pipi Yamauchi-san. Gaaahh ... Ini masih di kantor lho. Dasar Mariya-san. Aku bahkan bisa melihat beberapa dosen lain geleng-geleng kepala melihatnya.

"Aku tahu. Terima kasih ... Apa kau tidak punya jadwal mengajar, Suzuo-kun?" Sedetik kemudian Yamauchi-san menepuk dahinya. Haaah ... Yamauchi-san.

Yamauchi-san kemudian berpamitan dan mencium pipi gembil Mariya-san kilat. Aku geleng-geleng kepala melihatnya.

Kuangkat buku-bukuku untuk kubawa ke kelas yang akan ku ajar, kelas yang ditempati Takajo-san dan Kuramochi-san.

"Aaa- Miyazawa-sensei sudah mau mengajar?" Aku menoleh dan tersenyum membalas senyuman Umeda Ayaka-san, salah satu dosen juga. "Hai'"

"Waahh ... Kalau begitu semangat ya!" Umeda-san mengangkat tangan salah satu tangannya tinggi dan tangan yang lain ditekuk dengan lompat-lompat kecil. Manis sekali ...

Beruntung sekali dosen di sini punya orang seperti Umeda-san. Hihi ... Harusnya dia jadi pemandu sorak.

"Tentu, Umeda-san"

Aku lalu berbalik dan pergi. Namun samar-samar aku tersenyum mendengar gerutu Umeda-san

"Sudah kubilang jangan panggil aku Umeda-san. Panggil saja Ayaka atau Ume-chan. Hei! Sae-sensei!"

.

.

Aku memutar-mutar pena yang kupegang. Tiga puluh menit dan belum ada mahasiswa yang datang. Kelas ini sudah mulai sepi. Tinggal dua orang pemuda yang baru beres-beres sambil berbincang, juga Kashiwagi-san yang masih belum selesai membereskan perlengkapannya yang sedikit itu.

"Sensei?"

Aku mendongak dan menatap Kashiwagi-san yang masih berada di tempat duduknya. Ah! Dua pemuda tadi pergi ke mana?

"Hn?"

Kashiwagi-san berkedip dua kali, "Kenapa masih di sini? Ada urusan ya?" katanya lalu berdiri. Sepertinya hendak meninggalkan ruangan.

"Hn. Pelajaran tambahan akan diberikan di kelas ini," jawabku santai. Kedua alis Kashiwagi-san bertautan, "Pelajaran tambahan?" yang hanya kubalas dengan anggukan.

Kashiwagi-san menghentikan langkahnya menuju pintu keluar. Sepertinya ia sedang berpikir sesuatu.

"Apa ..."

Aku melirik pada Kashiwagi-san.

"... aku boleh ikut pelajaran tambahanmu besok?"

He? Apa katanya? Ikut pelajaran tambahan? Yang benar saja! Kashiwagi Yuki? Mimpi apa aku tadi malam?

Tapi aku tetap tersenyum, "Tentu, Kashiwagi-san. Semoga besok pelajaranku menyenangkan,"

Kashiwagi-san tersenyum remeh padaku, "Memangnya kapan pelajaran Miyazawa-sensei menyenangkan?"

Aku hanya terkekeh karenanya. "Berusahalah lebih keras, Kashiwagi-san"

Dan gadis itu benar-benar pergi.

Beberapa menit menjelang dan akhirnya beberapa mahasiswa berdatangan. Ah! Ternyata Ooya Shizuka-san dan hmm ... Iwasa Misaki-san?

Aku masih belum memulai sampai kelas ini sudah terisi lebih dari separuh. Dan akhirnya pelajaran dimulai.

"Kalian ingin management atau accountancy duluan?"

.

.

Hari ini minggu dan aku memutuskan pergi ke toko buku sendirian. Eriko bilang, dia akan pergi bersama teman-temannya. Entah ke mana.

Memangnya ... mahasiswi satra itu butuh banyak referensi ya?

Yah ... Sebenarnya tidak benar-benar ke toko buku. Aku mampir ke perpustakaan untuk beberapa jam.

Sebenarnya masih satu minggu aku di sini, tapi aku sudah melewati dua hari Minggu. Aku datang di hari Sabtu, jadi melewati dua hari Minggu.

Aku sedang melihat-lihat beberapa buku untuk referensiku ketika seseorang memanggil namaku.

"Miyazawa-sensei?"

Aku menegakkan badanku dan menoleh pada ... eh? Kashiwagi-san?

"Woa ... Konnichiwa, Kashiwagi-san. Ah, jangan memanggilku Miyazawa-sensei, ini di luar Kyoudai," sapaku. Kashiwagi-san tersenyum aneh padaku.

"Kalau begitu juga jangan memanggilku Kashiwagi-san! Ini bukan kagekidan," Aku terkekeh mendengarnya.

Kuulurkan tanganku padanya, "Kalau begitu, panggil saja Sae selama tidak di Kyoudai,"

Kashiwagi-san menjabat tanganku, "Baiklah, Sae -senpai. Panggil saja Yuki. Teman-teman dekatku memanggilku Yukirin,"

Aku menaikkan sebelas alisku setelah jabatan tangan kami lepas, "Apa Watanabe-san protective?" tanyaku. Hanya teringat pada Yamauchi-san.

Kulihat wajah herannya, tapi ia tetap menjawab, "Sedikit. Tapi tidak seberlebihan Suzuo-sensei,"

"Aaa ... Naruhodo. Kalau begitu aku akan memanggilku Rin-chan,"

"EH?" Ia terkejut melihatku. Kubalas dengan senyuman khasku, "Yukirin-chan. Rin-chan,"

"Aaa ..." Kashi―maksudku Yuki mengangguk-angguk paham, "Baiklah, Sae-senpai,"

"Jaa, Rin-chan kenapa kau ada di toko buku?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. "Mencari referensi," jawabnya singkat.

Alisku bertaut. Mimpi apa Yuki mencari buku referensi?

Yuki menoleh padaku dan cemberut, "Jangan berpikir aku sedang mimpi apa!" Upss, sudah terlanjur. Hehe ...

"Aku Cuma ingin berubah," katanya. "Eh?"

"Mayuyu pernah bilang begitu, Sae-senpai juga. Bahkan pelayan pribadiku, Nakayan," Aku hanya mengangguk-angguk mendengarnya.

"Naruhodo ... Tapi kurasa Rin-chan sudah punya tujuan," kataku. Yuki kembali menoleh menatapku, tapi aku tidak berpaling dari buku yang kubaca sekarang. "Apa Rin-chan mau melanjutkan setelah lulus nanti?" tanyaku.

Yuki terlihat berpikir, "Kurasa begitu. Bagaimana dengan Sae-senpai?" Yuki terlihat sudah mendapat buku yang dicarinya.

"Tentu saja. Rin-chan mau melanjutkan ke mana?" tanyaku lagi. Apa gadis satu ini belum menentukan jalan hidup yang mau ia ambil?

"Entahlah. Kalau Sae-senpai ke mana?" tanyanya balik. Aku menatap jauh ke atas, "Kalau tidak lanjut di Todai, mungkin aku akan ke Soudai. Tergantung peluang yang aku punya. Prestasi Soudai juga bagus. Lagipula akhir-akhir ini prestasi Todai mulai turun sih,"

Ia menganggukkan kepalanya, "Eh? Tapi kenapa swasta? Kenapa tidak ke Kyoudai saja? Yang negeri,"

"Kyoudai kan lebih bagus untuk anak kedokteran. Lagipula Soudai juga masih di Tokyo, tidak jauh," jawabanku kembali dibalas dengan anggukannya. "Kupikir ..."

Kali ini aku menoleh untuk mendengar lanjutannya, "... Waseda Daigaku juga bagus untuk senpai. Tapi kan, Soudai itu kan swasta,"

Aku tersenyum mengerti maksudnya, "Aku sudah menabung kok,"

Aku nyengir melihat Yuki yang sedang malu. Hehe ...

"Kau mau jadi wanita karir ya nantinya?" tanyaku mengalihkan pembicaraan. Dengan cepat Yuki mengangguk, "Iya. Pasti menyenangkan"

Aku tersenyum.

"Kenapa berpikir begitu?" tanyaku lagi. Yuki tersenyum antusias, "Entahlah. Aku memang suka di rumah, tapi kurasa di kantor kita akan lebih baik dan seru," katanya agak ragu.

Aku hanya mengangguk-angguk, "Kalau aku lebih suka mendirikan usahaku sendiri," kataku mengutarakan.

Kali ini ganti Yuki yang mengangguk, "Oohh. Sae-senpai mau memberi lapangan kerja ya?"

Aku menggaruk kepala belakangku malu, "Begitulah,"

Kami terus mengobrol sampai Yuki melihat Watanabe-san menjemputnya. Aku ikut menoleh pada Watanabe-san saat Yuki berjalan ke arahnya.

HIEE ... Tatapan Watanabe-san mirip Yamauchi-san. Yang benar saja ...

Aku hanya tersenyum padanya dan menunjukkan dua jariku yang terkatup, menggerakkannya dari kepalaku lalu menjauhkannya. Kalian mengerti? Seperti saat seorang pemuda berkata, "Yo!" pada temannya.

Aku menunjukkan cengiranku ketika melihat Watanabe-san salah tingkah melihat sikap sok akrabku.

Yah, aku segera melanjutkan kegiatanku memilih buku. Kau mengerti? Daripada mengganggu orang pacaran bukan? Hehehe ...

Aku baru akan mengambil sebuah buku kalau saja ponselku tidak berdering.

Dengan cepat aku mengangkatnya dan ... "Moshi-mosh―"

"SAETANNN~"

Aku menjauhkan ponsel dari telingaku seketika. Gila saja, suara Yuuko itu.

"Yuuko, berhenti berteriak. Telingaku berdenging tahu," protesku padanya.

"Nee! Aku sangat~ merindukanmu, Saetan. Apa kau baik-baik saja?" katanya seakan mengabaikan protesanku. Aku tersenyum diam-diam.

"Tentu. Ada Eriko di sini. Bagaimana kagekidan?" kataku menjawabnya.

Mungkin aku tidak lihat, tapi aku tahu Yuuko sedang cemberut saat ini, "Mou! Tidak adakah yang lebih penting dari pertanyaan tentang kagekidan, Saetan?"

"Ayolah ... Aku sangat merindukan kagekidan saat ini," Aku membela diri. "Apa kau tidak merindukanku?"

Aish, sial. Kenapa dia harus menanyakannya? Aku kan jadi tidak enak.

"Te- Tentu saja aku juga merindukanmu. Maksudku, aku tentu saja merindukan kagekidan. Omong-omong, apa Tanigawa berperan dengan baik?" Aku berharap pertanyaanku bisa mengalihkan topik ini.

Benar saja, Yuuko langsung bersemangat. Dasar gadis ini ...

"Tentu saja. Dia berperan sangat bagus. Perkembangannya sangat pesat. Kau harus melihatnya sendiri, Saetan. Dia bahkan bisa saja melampauimu," katanya. Aku tersenyum.

Dasar Yuuko. Tentu saja aku tahu. Siapa yang tidak sadar bakat besar Tanigawa. Makanya, aku memilihnya menggantikanku.

"Ya, ya, ya! Oh ya, apa kau tidak ada jadwal latihan saat ini?"

Aku bisa mendengar tepukan keras Yuuko pada dahinya, "Oh iya! Ada latihan kagekidan. Hehe ..."

"Dasar! Cepat sana berangkat. Nanti Takamina memarahimu lagi," nasehatku. Takamina memang paling sering memarahi Yuuko sih.

"Hehe ... Iya, iya. Aku berangkat, Pak Wakil Ketua"

Dan dengan sepihak, Yuuko memutus sambungan telepon. Dasar seenaknya sendiri.

Aku geleng-geleng kepala lalu memutuskan untuk pergi ke kasir, menanyakan buku yang sebenarnya kucari.

"Matsubara-san," panggilku. Matsubara-san menoleh lalu menunjukkan senyum ramahnya. "Hai'?"

"Apa ada buku yang ..."

.

.

"Sae-nii ..."

Aku menoleh walau pandanganku masih pada kertas yang sedari tadi kucoreti, "Ya? Ada apa, Eriko?"

"Aku ... Aku akan ikut denganmu ke Tokyo nanti," katanya dengan nada semangat. Aku menoleh sempurna.

"Baguslah. Kau bisa beberapa lama tinggal di Tokyo," jawabku padanya. Eriko tersenyum lebar, tapi kemudian seakan memperhatikanku. "Apa?"

"Etto ... Apa itu tugas-tugas dosen, Sae-nii?" tanyanya dengan nada heran yang imut. "Yeah, begitulah. Naze?"

Eriko menggelengkan kepalanya. "Iie. Apa Sae-nii tidak pusing menghadapi semua ini?"

Aku menaikkan satu alisku. "Tidak. Memangnya kenapa?"

Eriko menengakkan tubuhnya kembali, "Yaa ... Bukankah Sae-nii sedang mengerjakan skripsi juga?"

Aku tersenyum melihat mata Eriko yang melirik ke laptop hitamku yang menyala, menampilkan sebuah program pengetikan kata.

"Aku hanya sesekali mengerjakannya. Harus fokus pada tugas ini dulu,"

Eriko menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hidupmu pasti rumit,"

Aku tertawa mendengarnya, "Apanya yang rumit?"

Gadis manis itu mendengus, "Kau itu terkenal di kagekidan, jadi dosen pengganti jurusan Management dan Accountancy, tapi mengerjakan skripsi Ekonomi,"

Tawaku semakin keras, "Aku bahkan baru tahu kalau hidupku serumit itu,"

Eriko mengerucutkan bibirnya. "Dasar Sae-nii!"

Aku kembali tertawa lalu mengetuk-ngetukkan penaku ke meja. "Apa kau tidak ada tugas atau mungkin bertemu dengan Suzuki-san?"

Tiba-tiba saja mata Eriko membulat, "Oh iya!" Dan dia langsung meninggalkanku sendiri.

Haah, aku heran dengan mahasiswi sastra yang hobi bermusik itu.

"Sae-nii,"

Aku menoleh ke pintu dan melihat Eriko yang ternyata belum meninggalkan apartemen ini sepenuhnya.

"Kalau saat itu kau tidak meninggalkan rumah Paman―"

"Suzuki-san akan memarahimu," potongku cepat. Dan sontak saja Eriko berlari panik.

Aku tersenyum diam-diam, "Tentu aku akan kembali. Suatu saat nanti ..."

Kualihkan mataku pada langit biru di belakang kursiku.

"Saat aku sudah bisa membanggakan mereka," tekadku bulat.

To Be Next Stage

Waa ... Pendek dan gaje sangat nyaaann . Semoga ini nggak aneh un #plakk

Tapi saya lagi demen-demennya Misacchi (Micha aka Nonaka Misato) nyaaan :P

Sebenarnya latar di sini bulan Juli, un. Dan karena saya tidak mempertimbangkan ulang tahun Rin-chan, jadilah spesial ulang tahun Rin-chan tahun depannya lagi. Ehehe ... nyan ._.v

Di chapter ini sih lebih ke 'Wanita di sekitar Sae' nyaann. Mengalir aja karena saya dapat beberapa foto Sae bersama anggota lain un. Ingat kan, dia danso terlaris XDD

Mungkin mulai chapter 5, PoVnya nggak Cuma Sae sama Yuki aja un. Dan mereka juga nggak terus-terusan main PoV. Tetap dari sisi mereka, tapi bukan PoV nyaaann. Dan sebenarnya un, masih ada pengumuman lain nyaan. Tapi berhubung masalahnyaaann belum ada un, pengumumannyaann diundur sampai chapter enam atau tujuh ya un. Tentang Mayu sih nyaan. Ada yang bisa nebak un?

Ngomong-ngomong un, saya baru dapat ide AiJo. Tapi nyaann ... ratednya mendekati . Bukan mereka sih, tapi senior-senior mereka :P

Dan saya minta maaf sekali nyaann ... Hontou ni gomenasai un . Saya baru tahu tentang jurusan-jurusan di universitas. Awalnya saya mau bikin Erikocchi itu mahasiswi seni. Tapi berhubung di Kyoudai maupun Todai ternyata tidak ada, saya masukin sastra aja nyaann .

Oh iya, chapter ini pasti membosankan padahal molor un. Ini gara-gara saya lagi kerajingan Vampire Knight nyaaann. Dari sana belajar banyak sih un. Author di sana keren-keren un. Pengen deh kayak gitu nyaaann. Bisa membawakan komedi tapi tata bahasa yang pas. Nggak ancur-ancuran un. Nyaaann ... iri deh . Saya akan berusaha lebih keras lagi :D

Dan lagi, saya lambat dapat ide untuk judulnya nyaaann. Juga, ada satu kalimat yang harusnya Erikocchi bicara un, tapi saya lupa. Saya sudah ingat tapi nggak ketemu juga nyaan . Jadi ... Ya sudahlah.

Kalau SuzuYagi malah udah jadi XDD Tapi sayangnya akhir-akhir ini Suzuo makin feminine ya un

Jaa ... Saatnya membalas review :D

Waa ... Bahasa Inggris saya ancur-ancuran, Anonym-san . Pengen sih nyaann. Dulu juga kepikiran. Tapi grammar saya mengecewakan, un Ehehe ...

Twintail -san ... Teruslah me-review. Kamu semangat saya :') #eeaa Nyahaha ... Mayu ganteng abis . eh iya, saya baru tahu kalau tidak tampil. Ehehe ... coba deh ke arisas-fanfict. Arinyan? Kebetulan sekali itu juga salah satu nickname saya, un

Nyaaann ... saya kemarin lupa memberikan ini. Makanya saya sekarang berikan. Yeyy! *Bawa pompom dan pake kostum Dakishimechaikenai*

Gimme .R.

Gimme .E.

Gimme .V.

Gimme .I.

Gimme .E.

Gimme .W.