takdir
naruto©masashi kishimoto
EPILOG
.
.
.
.
.
Menikah dengan orang yang sama sekali belum dikenalnya itu mempunyai sensasi tersendiri. Butuh penyesuaian untuk saling memahami. Tak seperti yang lainnya yang berpacaran sebelum menikah, mereka justru pacaran setelah menikah. Namun hal itu tak membuat diri mereka merasa menyesal, justru itu adalah hal yang menyenangkan. Karena semua dilakukan untuk ridho Allah. Semuanya sudah halal. Bebas melakukan apapun berdua.
Sakura tersenyum sumringah ketika menyambut kedatangan Sasuke. Ia berdandan secantik mungkin, berpakaian sebagus mungkin, hingga rasa lelah Sasuke hilang ketika melihat istrinya tersebut.
"Mas, mau makan dulu? Atau mau mandi dulu? Atau …," ucapan Sakura terputus ketika Sasuke meraih tangannya dan membawa dirinya menuju sofa. Sakura menatapnya penuh tanya namun tetap tersenyum. Dirinya duduk bersamaan dengan Sasuke.
"Aku … mau memandangi istriku yang cantik ini dulu," jawab Sasuke dengan tatapan penuh cinta yang membuat hati Sakura seakan meleleh. Semburat merah di pipinya malah membuat Sasuke gemas. Pria itu pun menyentuh pipi Sakura, memandanginya dalam ke dalam mata hijaunya. Sakura tersenyum malu-malu.
Beberapa menit dalam posisi seperti itu, tangan Sasuke pun kembali beralih menyentuh tangan Sakura. Ia memandangi cincin di jari manis Sakura. Senyumnya mengembang, membuat wajahnya terlihat semakin tampan.
"Aku menyukai cincinnya," ucap Sakura. Sasuke mengangkat wajahnya dan menatap lurus mata Sakura. Istrinya itu tersenyum lembut. "Tapi … aku lebih menyukai orang yang memberikannya padaku," lanjut Sakura lembut. Wajahnya berseri. Sasuke tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya kala mendengar ucapan Sakura. Sebagai seorang laki-laki, ia merasa sangat tersanjung. Dan sebagai seorang suami, ia merasa begitu dihargai dan dicintai oleh istrinya tersebut.
…
Tepat hari Minggu ketika Sasuke libur dari pekerjaannya, ia mengajak Sakura jalan-jalan. Karena kebetulan semenjak mereka menikah, ia sama sekali belum pernah membawa Sakura bepergian. Sasuke sibuk dengan proyek yang sangat membutuhkan perhatiannya. Namun hal itu tak membuat Sakura menghalangi Sasuke. Wanita itu sangat pengertian terhadap suaminya hingga suaminya sendiri yang akhirnya merasa tak enak hati.
"Aku akan membawamu pergi kemana pun yang kau mau," kata Sasuke sambil menggandeng tangan Sakura. Keduanya sedang berada di taman memandangi anak-anak yang sedang bermain.
Sakura tersenyum di balik cadarnya. Ia menatap Sasuke . Tatapannya lembut hingga rasanya Sasuke tak ingin sekalipun berpaling dari tatapan itu.
"Aku akan menuruti semua ucapan suamiku. Aku akan taat padanya," kata Sakura. Sasuke terlihat berpikir sejenak. Lalu ia tersenyum.
"Aku akan membawamu ke surga. Dan di sana kehidupan kita akan abadi."
…
Sakura tak henti tersenyum sejak kepulangan Sasuke setelah tiga hari suaminya itu pergi ke luar kota karena pekerjaannya. Hal itu membuat Sasuke heran. Bukannya ia tak senang melihat senyum Sakura, hanya saja ia merasa ada yang aneh dari istrinya tersebut. Bahkan istrinya itu seperti tak ingin jauh darinya.
"Sakura, ada apa?" tanya Sasuke pada akhirnya. Sakura mendekati Sasuke dan meraih tangan suaminya itu. Ia menatap Sasuke dalam-dalam.
"Kita … kita akan memiliki anak, Sayang." Sasuke terdiam beberapa saat kala mendengar ucapan Sakura. Rasanya campur aduk hingga ia tak tau bagaimana harus mengungkapkannya. Sakura terkekeh pelan melihat ekspresi suaminya tersebut. Ia pun meletakkan tangan Sasuke di perut ratanya untuk merasakan kehadiran calon buah hati mereka.
"Sakura …," sebut Sasuke. Suaranya bergetar. Sakura tersenyum. Dan tak lama kemudian Sasuke menariknya ke dalam pelukan. Setetes air membasahi punggung Sakura.
Sakura terdiam. Ia membalas pelukan sang suami.
"Alhamdulillah. Terima kasih banyak, Ya Allah," ucap Sasuke. Sakura kembali tersenyum dalam pelukan Sasuke. Tak lama Sasuke pun melepaskan pelukannya. Ia kembali menatap Sakura dan kali ini ia tersenyum. Sisa airmata itu sudah tak ada.
"Alhamdulillah."
"Kita akan mendidiknya menjadi anak yang sholeh dan sholehah, yang kelak akan berjuang untuk agama Allah," ucap Sasuke. Sakura mengangguk sambil tersenyum.
Keduanya bahagia. Semua karena Allah. Allah-lah yang memberikan segala nikmat kepada mereka. Dan mereka berdua bersyukur, berjanji bahwa segala macam nikmat yang mereka dapatkan tak akan membuat mereka lalai dalam menjalankan perintah-Nya. Justru semua itu menambah kecintaan mereka kepada Allah subhanahu wa ta'ala
.
.
.
.
end - 631 words
.
.
.
Bismillah.
Terimakasih untuk yang sudah membaca, meriview, fave, follow, silent readers juga, semuanya pokoknya. Terimakasih banyak... :)
Maaf gak bisa balesin satu-satu. Tapi saya benar-benar berterimakasih :)
Dan epilog ini sebagai penutup. Dah kelar cerita ini... :)
Maaf bila ada kekurangan...
Sekali lagi terimakasih. :)
