Lu Han
Remake from Jang Ok Jung Living In Love Drama (Yoo Ah In & Kim Tae Hee)
Warning: Content boyxboy. Saya tidak bermaksud merubah sejarah Korea atau melecehkannya. Meskipun fanfiction ini adaptasi dari sejarah yang ada, namun seperti dramanya, fanfiction ini 100% fiksi di berbagai bagaian. Penggunaan gelar kebangsawanan bagi ratu dan anggota istana lainnya adalah untuk memudahkan pembaca dalam memahami cerita ini. Saya hanya meminjam dan mengubah beberapa hal untuk disesuaikan dengan pemain (HunHan). Saya memakai zaman pemerintahan Raja Hyeonjong (Raja ke-18 Joseon) dan mengubah, menambahkan, mengurangi beberapa hal seperlunya untuk keperluan cerita.
.
.
Hari Pemilihan Permaisuri sudah berlalu dua hari yang lalu, seperti yang telah di prediksikan bahwa Do Kyungsoo dan Inkyeong lah yang menjadi dua kandidat teratas. Hari ini Luhan kembali ke rutinitasnya, ia masih memusingkan lomba baju pelindung yang diselenggarakan oleh Kerajaan. Sampai hari ini lelaki cantik itu masih belum bisa mendesain baju pelindung terbaik seperti yang diharapkannya. Ternyata, membuat baju pelindung untuk perang ribuan kali lebih sulit dibanding membuat hanbok dengan bordiran yang rumit.
Luhan merasa dia harus terjun langsung ke medan tempur, tapi bagaimana bisa? Sampai hari ini semua negeri jajahan Joseon masih tunduk dibawah kekuasaan Raja Sukjong dan tak ada yang melakukan pemberontakan apapun jadi sudah pasti tidak ada perang yang dapat diikuti Luhan. Luhan mengetukkan jarinya ke meja, pikirannya berkelana mencari cara untuk menyempurnakan baju pelindungnya.
Tiba-tiba saja wajah Pangeran Jongin terlintas dipikirannya, membuat bibir kecil Luhan menyunggingkan senyum penuh makna. Luhan pikir Jongin adalah orang yang paling tepat untuk ia mintai tolong, membantunya untuk mendekati para prajurit. Luhan bergegas menuju kediaman Jongin.
"Luhan!" panggil Jongin. Tak perlu waktu lama untuk sampai di 'rumah kedua' Jongin. Jongin senang sekali menghabiskan waktu di perpustakaan pribadinya yang ada di tengah kota. Berbanding terbalik memang dengan wajah nakalnya, Jongin gemar sekali mengoleksi buku-buku langka yang ia dapat saat bepergian keluar negeri.
Luhan berlari mendekati Jongin lalu membungkuk memberi salam yang dibalas anggukan dan senyuman manis dari Jongin. Jongin yang melihat pujaan hatinya datang langsung menarik Luhan untuk duduk dan meminta pelayannya membuatkan teh untuk mereka berdua. Mereka duduk di teras perpustakaan, Jongin menunggu Luhan untuk menjelaskan maksud lelaki cantik itu menemui dirinya.
Luhan mengutarakan semua keinginannya pada Jongin tanpa malu-malu, "Latihan tempur seperti di perang nyata? Kenapa kau ingin melihat sesuatu seperti itu, Luhan-ah?" tanya Jongin penasaran. Untuk apa Luhan yang notabene seorang penjahit pergi melihat para prajurit latihan bertempur? Apa ada anggota prajurit yang mencuri hati Luhan? Jongin terus bertanya-tanya dalam hati.
"Aku ada alasan untuk itu. Karena kau adalah Tuan yang berpengaruh, aku akan mengesampingkan sopan santun untuk…"
"Benar aku tak perlu tahu alasanmu. Aku tidak bisa menolak untuk tidak memenuhi permintaanmu, Luhan. Aku berhutang banyak pada Paman Go saat aku berada di Cina. Baiklah, aku sendiri yang akan membawamu ke latihan tempur itu."
Luhan terkejut, ia tak mau merepotkan Jongin untuk mengantarkannya ke arena latihan tempur, "Kau sendiri?"
"Ya. Aku juga sering berlatih disana dan cukup membosankan jika berangkat sendirian. Bagaimana kalau kita berangkat lusa? Apa kau tak keberatan, Luhan?" Tawaran Jongin langsung dibalas anggukan cepat dari Luhan. Jongin tersenyum kecil melihat tingkah lucu Luhan, tangan lelaki berkulit tan itu tanpa sengaja bergerak ke arah pipi Luhan membuat Luhan terkejut dan menghentikan anggukannya.
Dapat Luhan rasakan telapak tangan hangat milik Jongin menangkup pipinya. Semburat merah keluar begitu saja tanpa bisa ia tahan. Mata Jongin terus menatap wajah Luhan intens,membuat pemuda manis itu tak nyaman dan memilih untuk memalingkan wajahnya. Jongin yang merasakan penolakan dari Luhan hanya mendengus kecil. Mungkin belum waktunya pemuda manis itu membalas cintanya. Mungkin besok. Atau, entahlah kapan.
"Tuan Muda, anggota kerajaan telah menunggu anda," ucap salah satu pelayan Jongin.
"Kalau begitu aku permisi," Luhan undur diri. Jongin hanya bisa tersenyum palsu melihat pujaan hatinya kembali pergi. Dan Jongin tidak sabar untuk kedatangan lusa dimana ia bisa menghabiskan banyak waktu dengan Luhan.
Hari yang ditunggu-tunggu Jongin pun tiba. Pangeran Jongin pergi ke arena latihan tempur bersama Luhan dengan kedua kuda miliknya. Luhan beberapa kali meminta maaf karena telah merepotkan Jongin tapi Jongin melarang Luhan untuk meminta maaf, ia tulus membantu Luhan. Saat sedang asyik berjalan, tiba-tiba saja rombongan Jongin diserang oleh bandit-bandit, rombongan mereka dihujani panah.
Jongin dengan cepat turun dari kuda dan menarik Luhan turun. Beberapa pengawal Jongin tewas karena panahan dari para bandit yang tak ada hentinya.
"Siapa kalian?!" teriak Jongin sambil berdiri didepan Luhan berusaha melindungi pemuda manis itu.
"Tinggalkan barang-barangmu dan pergi dari sini!" suruh salah satu bandit. Jongin menolak dan langsung menyerang bandit itu. Jongin bersama beberapa pengawalnya yang tersisa berusaha mengalahkan para bandit. Luhan yang sama sekali tak bisa berkelahi hanya terdiam di tempat dan ketakutan.
Melihat raut wajah Luhan yang ketakutan, membuat Jongin menarik Luhan ke arah pohon besar yang tak jauh dari sana untuk menyembunyikan Luhan, "Kau tak boleh meninggalkan tempat ini apapun yang terjadi, mengerti? Tunggu disini, aku akan kembali," ucap Jongin. Luhan mengangguk tanda mengerti, ia menyembunyikan tubuh mungilnya di balik pohon sambil berharap bahwa keuntungan berada di tangan mereka, berharap agar Jongin dan pengawalnya dapat mengalahkan para bandit itu.
Suara nyaring dari gesekan pedang terdengar jelas, Luhan tak sadar bahwa salah satu anggota bandit itu mengetahui tempat persembunyiannya. Lelaki bertubuh tambun dengan alis tebal berjalan mendekati Luhan dari arah belakang. Sayangnya, bandit itu menginjak ranting dan mengeluarkan bunyi yang cukup keras untuk di dengar Luhan.
Luhan terkejut melihat bandit itu dan langsung berlari menjauh dari tempat persembunyiannya, dengan segera Luhan bangkit dan berlari menuju ke arah tebing. Ia terdiam, kemana ia harus lari? Dibelakangnya sudah jurang yang cukup curam dengan sungai yang deras dibawahnya. Di depannya? Lelaki bertubuh tambun menghadangnya dengan pedang yang benar-benar terlihat runcing. Pikirannya kalut, ia ketakutan. Keringat sebesar biji jagung bergantian turun dari pelipis Luhan. Apakah ini akhir dari kehidupannya? Lelaki bertubuh tambun itu tertawa puas melihat wajah takut Luhan. Ia menodongkan pedangnya ke arah Luhan.
Jongin-ah tolong aku!
Seperti ada ikatan batin, tiba-tiba saja Jongin datang dan langsung berdiri di depan Luhan bermaksud untuk melindungi pemuda manis itu. Balik menodongkan pedangnya ke arah bandit tadi, dapat mereka lihat satu bandit lagi berlari ke arah mereka. Luhan yang semakin ketakutan memegang erat lengan Jongin yang satunya. Dapat Luhan lihat darah merembes ke pakaian Jongin dibagian perut, mungkin terkena sayatan pedang lawan-lawan Jongin tadi. Luhan meringis seakan-akan bisa merasakan perih yang dirasakan Jongin.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Jongin tanpa membalikkan badannya. Satu tangannya masih mengarahkan pedang ke arah si bandit.
"Aku.. aku baik-baik saja," jawab Luhan terbata-bata sambil mengeratkan pegangannya ke lengan Jongin.
"Beraninya kalian melukai anggota kerajaan? Kalian… lebih baik mati!" teriak Jongin keras pada dua bandit yang tersisa tadi. Jongin langsung memainkan pedangnya lagi bermaksud menghabisi kedua bandit itu. Tapi sayang, tenaga dua bandit itu jauh lebih besar daripada Jongin, terlebih Jongin harus menahan sakit di perutnya. Dengan mudah salah satu bandit menjatuhkan pedang dari tangan Jongin, Luhan yang melihat itu langsung berlari ke arah mereka bertiga untuk menyelamatkan Jongin.
"Tidak!" Luhan menarik-narik lelaki bertubuh tambun itu agar menjauh dari Jongin. Lelaki tambun yang merasa terganggu dengan tarikan-tarikan Luhan langsung saja menempis Luhan dengan cukup kuat. Membuat tubuh Luhan oleng dan terlempar jauh ke belakang lalu terjatuh dari atas tebing.
Jongin terkejut mendengar teriakan Luhan dan langsung menolehkan kepalanya ke belakang, dapat ia lihat tubuh Luhan terjatuh kebawah. Dengan segala kekuatannya, Jongin menusukkan pedangnya ke arah dua lelaki tambun itu. Darahnya mendidih, tangannya gemetar menahan amarah. Tidak. Tidak. Tidak boleh. Luhan…
Setelah memastikan kedua lelaki tadi benar-benar sudah tak bernyawa, Jongin langsung saja berlari ke pinggir tebing dan melihat ke bawah mencari tubuh Luhan. Nyatanya tubuh mungil Luhan sudah menghilang ke dasar sungai.
"Luhan! Luhan!"
Jongin berteriak kalap memanggil-manggil nama pemuda mungil kesayangannya itu. Ia berlari menuju kudanya untuk kembali ke kota dan mencari bantuan untuk menemukan Luhan. Segala cara akan ia lakukan untuk membawa Luhan kembali. Ia tak mau kehilangan pemuda manis itu, sedikit banyak pemuda berkulit tan itu berharap Luhan masih hidup dan berhasil selamat. Hanya saja, saat ini Jongin merasa gagal… gagal melindungi cintanya.
Kumohon… Kumohon bertahanlah.
*Markas Rahasia Prajurit*
Hari sudah cukup malam. Membuat kapten markas itu sesegera mungkin merebahkan tubuh lelahnya ke atas futon yang tidak lebih empuk dari kasur di rumahnya. Penerangan dari cahaya lilin sudah ia matikan, tubuhnya juga sudah tertutup selimut tipis. Matanya baru saja terpejam berusaha untuk tidur, sebelum akhirnya ia dikejutkan dengan seseorang yang mengarahkan pedang ke lehernya.
Secepat kilat ia menangkis serangan dan bertarung memakai beberapa jurus dengan penyusup itu. Ia sendiri kesulitan melihat wajah dari sang penyusup karena memang penerangan dekat futonnya sudah ia matikan sejak tadi, tersisa lilin kecil di sudut ruangan. Demi melihat wajah dari penyusup itu, ia berlari ke sudut ruangan untuk mengambil lilin dan mengarahkannya ke wajah si penyusup.
Astaga! Itu Yang Mulia Oh Sehun!
Sehun menyeringai.
Kapten bernama Hyeon Mu itu langsung saja berlutut untuk memberi hormat, "Yang Mulia, bagaimana kau bisa datang kemari?"
Sehun hanya diam lalu mengeluarkan sebuah kotak besar kehadapan Hyeonmu. Hyeonmu membukanya, kapten markas itu melihat beberapa senapan diantara tumpukan jerami-jerami yang menyembunyikan keberadaan senjata itu. Senapan? Dari mana semua senapan ini? Apa majikannya ini baru saja bepergian ke luar negeri? Sampai saat ini senapan berisi peluru dan mesiu itu belum pernah ada di Joseon.
"Yang Mulia—"
Sehun melipat kedua tangannya didepan dada dan menyenderkan badannya ke tiang kayu. Mata elangnya masih menatap Hyeonmu lalu berkata, "Ku pikir kau akan membutuhkan ini. Kau dan aku juga."
Hyeonmu terdiam mendengar perkataan Sehun, matanya kembali menatap senapan dihadapannya lekat-lekat.
Luhan membuka matanya perlahan-lahan. Tubuhnya benar-benar terasa seperti remuk, sakit sekali. Ia berada di pinggir sungai dimana batu-batu besar berada di sekelilingnya, aliran airnya pun sudah tak sederas tadi. Sudah berapa lama ia tak sadarkan diri? Sudah seberapa jauh ia terpisah dari Jongin? Luhan berusaha bangkit dan berjalan ke arah daratan. Hal pertama yang ia lakukan adalah memeriksa tasnya dan buku desainnya. Untung saja buku merah itu masih ada dan tidak basah karena disimpan dalam tabung bamboo yang ditutup rapat. Luhan lega, lalu berjalan pergi. Entah kemana kedua kaki mungilnya itu akan membawanya.
Setelah berjalan cukup jauh, tiba-tiba saja dari kejauhan Luhan mendengar suara tembakan senapan. Dengan segera pemuda mungil itu mempercepat langkahnya mendekati arah suara senapan. Dapat Luhan lihat dari balik tembok batu yang tidak terlalu tinggi, ada sebuah markas tempur kecil. Beberapa prajurit yang berada disana terdiam menghadap ke arah—yang Luhan pikir—pemimpin mereka.
Orang itu memakai pakaian yang berbeda warna dari prajurit-prajurit lainnya. Luhan berjalan ke sisi lainnya dari tembok itu, berusaha melihat lebih jelas lagi pakaian yang dipakai para prajurit itu. Ternyata ada sebuah jalan tembus untuk masuk ke arena markas itu. Dengan perlahan-lahan Luhan berjalan dan memasuki arena, mencari tempat yang paling strategis untuk melihat para prajurit itu namun berusaha untuk tetap tidak terlihat.
Luhan mengeluarkan buku desain dan pensilnya lalu mulai menggambar. Ia mulai menggambar dari sepatu yang mereka pakai, rompi yang mereka pakai, bagaimana mereka bergerak sehingga Luhan bisa menyesuaikan pakaiannya. Luhan tersenyum senang. Akhirnya!
Luhan semakin bersemangat menggambar, tanpa terasa ia bergerak ke samping untuk mendapatkan view yang lebih jelas. Tiba-tiba saja,
Prang!
Lutut Luhan menyenggol tutup gentong sehingga menimbulkan suara yang cukup keras. Membuat para prajurit menghentikan latihannya. Pemimpin mereka yang ternyata adalah Sehun langsung saja mengarahkan senapan ke sumber suara gaduh tadi.
Dorr!
Sehun melepaskan pelurunya ke sumber suara tadi dan hampir saja mengenai Luhan. Tapi untung saja tembakan itu meleset ke kayu besar disebelah Luhan. Luhan yang terkejut juga tidak bisa menahan teriakannya. Hyeonmu dan dua prajurit lainnya yang mendengar suara teriakan dan mengetahui ada penyusup langsung berlari ke arah tempat persembunyian Luhan.
"Beraninya kau! Kau punya nyawa cadangan?" bentak Hyeonmu pada Luhan. Luhan hanya bisa terjongkok sambil menutup kedua telinganya tanpa berniat menjawab Hyeonmu. Sehun dari kejauhan masih penasaran dengan sosok penyusup itu.
"Apa yang kalian lakukan disana? Angkat dia sekarang!" perintah Sehun.
"Baik!" jawab ketiga prajurit itu yang langsung menarik Luhan ke tengah lapangan dimana Sehun berada. Hyeonmu menuduh Luhan sebagai mata-mata. Sehun terkejut melihat sosok yang belakangan ini mencuri hatinya berada dihadapannya sekarang. Dengan keadaan yang err… cukup berantakan. Hati Sehun berdebar, perutnya terasa aneh seperti ada ribuan kupu-kupu yang beterbangan disana. Tapi sebisa mungkin Sehun bersikap biasa saja. Kita bertemu lagi.
"Kau?"
Tidak berbeda jauh dengan Sehun, Luhan terkejut melihat pemuda tampan yang tempo hari membantunya di istana sedang berdiri tegap dihadapannya."Kepala pengawal istana?" ucap Luhan kaget. Selama ini yang Luhan tahu, Sehun adalah seorang kepala pengawal istana, tapi nama kepala pasukan kerajaan itu siapa saja Luhan masih tidak tahu.
Hyeonmu menarik buku yang digenggam erat oleh Luhan dan membukanya lembar per lembar, "Kenapa kau menggambar ini dan bagaimana kau bisa kemari? Kau pasti penyusup!"
"Saya tidak bermaksud datang kemari, tapi saya kehilangan teman seperjalanan saya. Dan alasan kenapa saya menggambar baju pelindung itu karena saya penasaran bagaimana bajunya bergerak." Jawab Luhan jujur.
Sehun terdiam mendengar jawaban Luhan, lelaki itu pun sebenarnya menebak-nebak apa alasan Luhan menggambar baju pelindung itu. Apa Luhan bermaksud mengikuti lomba yang ia selenggarakan? "Ketua, kadang mata-mata menemukan jalan mereka kemari." Hyeonmu berusaha menjelaskan pada Sehun bahwa jawaban Luhan tadi bohong adanya.
"Sebentar. Kau ingin melihat pergerakan dari baju pelindung? Untuk apa?" Tanya Sehun langsung pada Luhan.
Luhan tersenyum lalu menjawab, "Sebenarnya saya ingin mendesain pelindung baru, tapi jika saya mengganggu pelatihan kalian, aku minta maaf."
"Pelindung baru?"
"Saya dalam persiapan mengumpulkan pelindung baru untuk Biro Persenjataan. Pelindung terbaik akan diberikan kontrak pemesanan." Ternyata benar dugaan Sehun, pemuda cantik itu pasti menggambar untuk mengikuti lomba yang diselenggarakan istana.
Sehun tersenyum ke arah Luhan, "Tapi kau benar-benar berniat untuk melihat pelatihan yang sebenarnya hanya untuk membuat baju pelindung?"
"Ya, saya harus mempertimbangkan pergerakan dan berat baju pelindung dalam melakukan gerakan. Seperti yang tadi saya jelaskan, saya tersesat dan akhirnya sampai disini. Jika tidak begitu merepotkan, bisakah anda memperkenankan saya tinggal di sini sehari dan melihat. Kalau anda masih curiga pada saya, anda bisa memeriksa lukisan saya sebelum saya pergi."
Hyeonmu langsung saja menyuarakan ketidaksetujuannya. Bagaimana kalau pemuda manis dihadapannya itu berbohong? Namun Luhan tetap memohon dan memohon. Luhan menjelaskan pada mereka bahwa sesuatu yang berharga bergantung pada izin mereka. Sehun heran. Sesuatu yang berharga?
"Apa yang berharga bagimu?"
"Hidup dan mimpi saya." Jawab Luhan mantap.
Hyeonmu kelihatan sangat keberatan. Sehun mengajak Hyeonmu berbicara berdua saja di tempat yang agak jauh dari Luhan. Hyeonmu memohon agar Luhan tidak diperbolehkan berada di area markas. Tapi Sehun menjelaskan pada Hyeonmu bahwa sosok manis itu tidaklah berbahaya dan tidak memiliki maksud jahat apapun dan Sehun bisa menjamin itu. Namun tetap saja Hyeonmu masih tidak setuju.
Sehun kembali membujuk pengawal kepercayaannya selain Kasim Shin itu, "Dia ingin membuat baju perang terbaik, kau dan pasukanmu juga yang akan mendapatkan manfaatnya, kan?"
"Tapi tetap saja—"
"Sebenarnya, aku pernah bertemu dengannya beberapa kali—" ucapan Sehun terhenti sebentar hanya untuk menoleh kebelakang melihat Luhan. Luhan yang melihat itu langsung membungkukkan badan dan memberikan senyum yang menurut Sehun adalah senyum terindah yang pernah ia lihat sepanjang hidupnya. Sehun menghadap ke arah Hyeonmu lagi, "Dia menjadi gila ketika ada kain di tangannya. Dia ada di dunianya sendiri jika dia punya kain, jarum, dan gunting. Tangannya bahkan tak kalah dari tangan wanita," jelas Sehun panjang lebar pada Hyeonmu.
Hyeonmu terdiam sambil menatap wajah Sehun dengan tatapan yang tak jelas. Apa majikannya ini tertarik dengan pemuda itu? Selama dekat dengan Sehun tak pernah ia mendengar Sehun membicarakan seseorang sedetail ini, "Apa? Ada sesuatu di wajahku?" Tanya Sehun pada Hyeonmu, tak suka dengan tatapan menyebalkan dari Hyeonmu.
"Kau tak punya perasaan lain padanya, bukan?"
Sehun tergagap, "Aish, pe-perasaan lain apa?" Apa-apaan si Hyeonmu itu?
Hyeonmu tesenyum kecil. Di dalam hatinya ia sudah bisa menebak jika ada yang lain dari Sehun saat melihat Luhan. Hyeonmu membungkuk ke arah Sehun lalu berjalalan menuju Luhan yang masih setia menunggu. "Baik, aku akan memberikan izin. Tapi kau tidak boleh mengatakan pada siapapun apa yang kau lihat di sini. Apa yang kau catat akan diperiksa sebelum kau pergi dari sini," ucap Hyeonmu pada Luhan yang dibalas anggukan-anggukan lucu dari pemuda manis itu.
Sehun tersenyum kecil melihat tingkah Luhan saat mengucapkan terimakasih pada Hyeonmu. Luhan yang sadar diperhatikan oleh Sehun langsung menatap balik ke arah Sehun. Cepat-cepat Sehun memalingkan muka dan berjalan pergi. Bodoh kau, Oh Sehun!
Luhan mulai mengamati dan menggambar seragam militer di markas Hyeonmu. Pria manis itu hanya bisa menonton dari pojokan ditemani buku merah dan pensilnya. Matanya benar-benar hanya tertuju pada gerakan-gerakan dari para pasukan itu, sedangkan jari-jarinya menari indah di atas kertas melukis puluhan bentuk pakaian yang akan ia buat.
"Istirahat!"
Perintah Hyeonmu pada seluruh pasukan, dengan segera para pasukan duduk dan mengambil makanan mereka masing-masing untuk dimakan. Luhan ikut duduk diantara para pasukan lalu melihat kembali lukisan-lukisannya, bibirnya mengerucut lucu, "Aku berharap aku bisa mencoba memakainya." Luhan menggerutu pelan, ia hanya merasa kurang puas dengan lukisannya.
"Kalau begitu, cobalah. Akan kupinjamkan milikku," tawar seorang pasukan yang tak sengaja mendengar gerutuan Luhan. Dengan segera prajurit itu berdiri dan menyopot semua perlengkapan perangnya dan memberikannya pada Luhan untuk dicoba. Luhan tersenyum lebar dan segera memakaikan baju yang cukup berat itu ditubuh mungilnya.
Luhan mencoba seragam militer dan mencoba menggerakkan pedang dengan seragam itu, tapi gerakannya seperti main golf. Sehun yang memang sedari tadi memperhatikan Luhan dari kejauhan hanya bisa terkekeh. Bagaimana bisa Luhan masih terlihat cantik dan lucu dalam balutan seragam militer itu? Ditambah dengan gerakan lucunya saat memainkan pedang.
Sehun segera berlari menghampiri Luhan, "Kau seharusnya mengayunkan pedangnya. Bagaimana bisa kau menebas apapun jika pedangnya yang mengayunmu?" ejek Sehun. Luhan cemberut.
Sehun memajukan tangannya ke arah dua tangan Luhan yang sedang memegang pedang, bermaksud membetulkan bagaimana cara si pria manis memegang senjata tajam itu, tangan mereka bersentuhan. Luhan terkejut dengan gerakan Sehun yang terlalu tiba-tiba, jantungnya berdegup keras.
"Lihat? Pegang seperti ini. Kenapa berlatih bila kau bahkan tidak bisa memegang pedang? Coba lagi," perintah sehun. Sehun mengeluarkan pedangnya sendiri dan mencotohkan bagaimana caranya mengayunkan senjata tajam itu dengan benar. Luhan memperhatikan baik-baik lalu mencoba mengayunkan miliknya juga.
Sehun mengeluh melihat gerakan lambat Luhan, "Kau sangat lambat. Tenagamu benar-benar seperti wanita. Kau menebas dengan pedang, bukan memukulkannya," ejek Sehun.
Luhan kesal. Bagaimana bisa ia yang seorang pria sejati disama-samakan dengan wanita? Bukannya ia lemah, tapi memang pakaian militer dan pedang itu benar-benar terasa berat ditubuhnya. Jadi harusnya pria tampan dihadapannya ini menyalahkan pakaiannya bukan tenaganya!
Dasar sombong! Lihat saja, habis ini kau pasti terkejut melihat tenaga ku! Batin Luhan. Pemuda manis itu mengayunkan kembali pedangnya. Namun sayang, Luhan mengayunkannya terlalu kuat sampai-sampai pedang itu terlepas dari jemarinya dan mengenai kepala salah satu prajurit yang sedang duduk beristirahat. Detik itu juga prajurit malang itu tak sadarkan diri.
Ouch!
Luhan ketakutan. Sehun hanya bisa nyengir dan melihat prajurit malang korban Luhan tadi dengan tatapan iba. "Bagus sekali. Entah itu pedang maupun tombak, kau pastinya sudah membunuh musuh. Musuh akan terkena bagian belakang mata pedang. Hahah," Luhan kesal menatap pria tampan disebelahnya. Pria ini sedang memuji atau mengejeknya?
Hari itu Luhan terus berlatih dengan Sehun. Masih dengan keadaan yang sama, tanpa mengetahui nama satu sama lain. Luhan berlatih dan terus berlatih. Sepertinya gerakannya sudah lebih baik daripada yang tadi. Luhan merasa sudah lumayan, ia sudah latihan sampai….mungkin lebih dari seratus kali?
"Aku sudah berlatih lebih dari seratus kali. Kapan aku bisa mendapat pasangan lawan?' Tanya Luhan pada Sehun.
Sehun berdecih geli, "Kau sudah mau ingin mendapat lawan?"
"Karena aku sudah mengerti dasarnya, aku ingin maju ke tahap berikutnya," jawab Luhan sambil tersenyum.
Sehun menawarkan diri untuk menjadi pasangan lawan Luhan yang langsung disambut baik oleh pemuda manis itu. Luhan berlonjak kegirangan. Saat berlatih berpasangan dengan Luhan, Sehun tidak mengerahkan kekuatan penuh dan membiarkan pemuda manis dihadapannya ini menang. Setelah cukup lama berlatih mereka beristirahat di ujung lapangan sambil melihat prajurit lainnya berlatih.
Sehun menatap lekat pemuda manis yang terduduk disampingnya sedangkan Luhan masih fokus menatap ke arah para pasukan yang berlatih di lapangan. Tiba-tiba saja Luhan bertanya, " Haruskah mata bergerak lebih cepat atau tangan yang lebih cepat?"
Sehun ikut melihat ke arah lapangan sebelum menjawab, "Tentu saja mata harus bergerak lebih cepat dari tangan."
Tiba-tiba saja angin berhembus dengan kencang, membuat debu beterbangan dan mengenai mata Luhan. Luhan reflek memalingkan kepalanya lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Sehun. Menggenggam erat tangan Sehun seperti mencari perlindungan. Angin di sore hari memang menyebalkan.
Luhan merasa malu dan dengan cepat melepaskan tangannya. Sehun hanya bisa terdiam karena terlalu terkejut dengan tingkah tiba-tiba Luhan. Suasana jadi benar-benar canggung dan hening. "Maaf," ucap Luhan memecah keheningan di antara keduanya.
Sehun tersenyum, "Tidak apa-apa. Bukankah kau sudah menyentuh seluruh tubuhku dengan alasan sebagai penjahit dulu? Ini hanya tangan.."
Luhan tediam mendengar jawaban dari Sehun. Jadi, pria tampan itu masih ingat jelas pertemuan pertama mereka? Oh, Luhan benar-benar malu sekarang. Sehun yang melihat Luhan hanya bisa terdiam mendengar jawaban frontal darinya langsung mencari cara untuk mengembalikan keadaan.
"Kami akan berburu besok, jadi ikutlah dengan kami jika kau ingin melihat yang sebenarnya."
Luhan tampak senang, "Benarkah?"
Sehun tak menjawab dan langsung berjalan pergi tanpa melihat ke belakang. Sehun mengepalkan tangannya yang tadi disentuh Luhan sambil tersenyum penuh kemenangan. Dari kejauhan Hyeonmu mengamati interaksi Luhan dan Sehun, dan ia terlihat…kurang senang.
Keesokan harinya Luhan berburu bersama Sehun dan pasukan Hyeonmu. Luhan mengamati semua gerakan prajurit dari atas kudanya, ia berjalan agak dibelakang terpisah dengan Sehun dan yang lainnya. Luhan memperhatikan baik-baik bagaimana seragam militer mereka bergerak sesuai dengan gerakan mereka. Sehun menghentikan kudanya sebentar lalu berkata pada Hyeonmu bahwa ia akan memisahkan diri. Lalu Sehun pergi ke suatu tempat.
Luhan masih sibuk mengamati pasukan dan sadar ia tidak melihat sosok tampan itu lagi. Hanya ada Hyeonmu dan pasukannya.
Kemana dia?
Di tempat lain Sehun memacu kudanya ke tepi sungai yang sunyi. Ia menemui seorang pemancing ikan.
Bagaimana mungkin seorang yang seharusnya memimpin pemerintahan hidup bersembunyi seperti ini?
Sehun membatin. Pria itu adalah Heo Jeok. Sehun dimintai tolong oleh ayahnya untuk membujuk Heojeok kembali ke istana. Raja benar-benar membutuhkan pertolongannya untuk mengembalikan keadaan istana seperti dulu tanpa ada pengkhianat dimana-mana. Heojeok yang menyadari ada orang lain di dekatnya langsung berdiri dan melihat ke arah Sehun. Ia mengenali sosok gagah dihadapannya ini. "Yang Mulia Putra Mahkota/" Heojeok langsung membungkuk.
Sehun tersenyum, "Kau mengenaliku?"
Pria tua itu tersenyum kecil.
Kembali ke Luhan. Luhan terpisah dari pasukan. Ia berkuda di wilayah yang sepi. Pemuda manis itu tertarik untuk melihat bunga kecil berwarna-warni. "Ah, bunga-bunga itu sempurna sekali untuk mewarnai kain,"
Luhan langsung turun dari kudanya dan mulai mengumpulkan bunga. Tanpa ia sadari ada segerombolan perampok lewat dan mencuri kuda Luhan. Luhan yang mendengar ringkikan kudanya langsung menolehkan kepalanya. Ia terkejut melihat ada segerombolan orang tak dikenal. Luhan ketakutan dan langsung melarikan diri. Perampok itu mengejar Luhan, Luhan berteriak-teriak mencari pertolongan.
"Tangkap! Tangkap dia!" ucap salah satu perampok itu.
Sehun yang kebetulan berkuda di sekitar situ, berniat kembali ke rombongan Hyeonmu pun mendengar teriakan Luhan. Sehun langsung memacu kudanya bergerak ke arah teriakan itu. Perampok itu berhasil menangkap Luhan dan memegang keras kedua tangan Luhan agar tidak kabur.
"Wah, walaupun kau pria tapi bagaimana bisa secantik ini? Tubuhmu indah juga, sayang. Bagaimana kalau kita cicipi bersama?" ucap salah satu perampok pada teman-temannya. Perampok lainnya tertawa setuju dan menatap Luhan dengan pandangan mesum. Luhan benar-benar ketakutan.
Tiba-tiba saja Sehun datang dan menghadang mereka. Luhan langsung memanggilnya, "Kepala pengawal istana!"
Sehun turun dari kuda, "Apa yang kalian inginkan? Lepaskan dia!"
Kepala perampok itu memegang dagu Luhan, Luhan tidak bisa berbuat apa-apa karena kedua tangannya masih dipegang erat oleh kedua perampok lainnya. "Kekasihmu cantik juga. Boleh buat kami saja? Untuk seorang pengawal istana, pasti mudahkan dapat penggantinya?"
"Tidak! Ku bilang lepaskan dia!" teriak Sehun.
Kepala perampok tadi tersenyum licik, "Ah, sepertinya dia benar-benar berharga ya? Kalau begitu, kau berikan kami sebatang emas dan kami akan mengembalikan pria cantik ini padamu. Bagaimana?" tawarnya.
Sehun mengambil panahnya, membuat para perampok itu sedikit ketakutan. Dua perampok yang masih memegang Luhan langsung mengarahkan pedang tajam mereka ke leher putih milik pemuda manis itu. Sehun mengarahkan panahnya ke arah Luhan dan kedua perampok itu, "Dasar bodoh. Keinginan kalian hanyalah sebatang emas?"
"Jika dia mati, kau pasti akan terluka," ancam salah satu perampok yang memegang Luhan. Pedang tajamnya sudah benar-benar menempel dengan kulit Luhan.
"Meskipun begitu, aku takkan bernegosiasi dengan pencuri seperti kalian!" Luhan benar-benar ketakutan. Takut dengan dua perampok disampingnya dan juga busur panah milik Sehun. Bisa saja panahan Sehun meleset dan malah mengenai dirinya, kan? Sehun langsung membidik mereka.
Luhan memejamkan kedua mata rusanya karena ngeri. Sehun melepaskan anak panahnya dan mengenai lengan perampok itu. Sehun bertarung dengan dua perampok itu dan hampir tidak menyadari bahwa Luhan dibawa lari oleh kepala perampok dengan kuda Luhan yang tadi mereka curi. Luhan berteriak ketakutan sambil terus memukuli perampok itu dengan tangan mungilnya.
Sehun melumpuhkan dua perampok itu dan mengejar Luhan dengan kudanya. Sehun berkuda disebelah kuda perampok itu dan dengan cepat menarik Luhan kembali ke kudanya. Sehun merangkul Luhan dengan erat agar pemuda manis itu tidak jatuh. Si kepala perampok melarikan diri dengan kuda Luhan.
Luhan masih dalam kondisi histeris dan syok. Matanya masih terpejam dalam pelukan seseorang yang sampai saat ini ia tak tahu siapa. Entah itu si kepala pengawal istana atau perampok lainnya. Tapi ia sendiri sudah benar-benar pasrah jika ia kini sudah dibawa lari perampok lainnya. Matanya menolak untuk sekadar melihat siapa sosok yang merangkulnya ini. Terlalu takut jika memang nasib buruk yang malah ia dapatkan.
Luhan mendorong keras sosok yang merangkulnya itu dan segera turun dari kuda. Hati kecilnya mneyuruhnya untuk terus berlari dengan kencang tanpa melihat ke belakang. Sehun yang terkejut karena penolakan dari Luhan langsung ikut turun dari kuda dan mengejarnya.
Sehun dengan mudah mengejar Luhan dan menarik pemuda manis itu ke pelukannya. Luhan dengan mata yang masih terpejam dan menangis mulai memukul dan menendang Sehun sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri. "Ini aku! Aku! Ini aku!" ucap Sehun lembut ditelinga Luhan sambil mengeratkan pelukannya. Tak peduli dengan rasa sakit di kakinya karena sedari tadi Luhan tendangi.
Luhan mendengar suara yang cukup familiar itu akhirnya menghentikan pukulan dan tendangannya. Memalingkan wajahnya ke sosok yang memeluknya itu. Mata mereka saling bertemu. Mata elang milik sosok itu seakan-akan berbicara pada Luhan dan meyakinkannya bahwa ia sudah aman. Luhan akhirnya bisa ditenangkan dan sadar kalau dia sudah benar-benar aman. Tiba-tiba sajaLuhan mendorong tubuh Sehun, melepaskan diri dan mengatur napasnya.
Melihat air mata Luhan, Sehun mengejek, "Mengejutkan, bayi cengeng. Kau pria. Ku pikir kau tidak takut apapun."
Luhan tersinggung dengan perkataan Sehun. Apakah pria itu tidak tahu bahwa ia benar-benar ketakutan? Apa ia tidak boleh merasa takut saat ada dua orang menyeramkan yang hampir saja membunuhnya dengan pedang tajam? Apakah pria tidak boleh takut dan menangis? Jadi siapa yang harus disalahkan disini? Hatinya yang terlalu rapuh ini? Atau mentalnya yang lemah?
Luhan yang marah segera melangkahkan kakinya berjalan menjauhi Sehun. Sehun yang tidak terima langsung mengejarnya dan menarik tangan Luhan. "Aku tidak melakukannya untuk mendengar ucapan terima kasih, tapi tetap saja aku menyelamatkan nyawamu. Apa kau tidak terlalu kasar?"
"Dia menaruh pedang di leherku, tapi kau tetap menembakkan panah. Aku hampir kehilangan nyawaku karena keberanianmu yang konyol!"
"Tetap saja aku menyelamatkanmu!" ucap Sehun tak mau kalah.
"Bagaimana jika tadi meleset?"
"Aku tak akan pernah melakukan apapun yang aku sendiri tidak yakin," ucap Sehun. Luhan menghela napas kasar dan berbalik untuk meneruskan jalannya. Sehun naik ke atas kuda dan mengikuti Luhan dari belakang. Pemuda manis itu sudah berhenti menangis tapi tetap marah pada Sehun.
"Kau tidak mau naik? Perjalanan kita masih jauh," tawar Sehun dari belakang. Luhan tidak menjawab dan tetap melangkahkan kakinya. Sehun yang tidak tahan diacuhkan seperti itu langsung turun dari kuda lalu berjalan mendekati Luhan. Setelah cukup dekat dengan Luhan, ia langsung menggendong Luhan dan berniat membawa pria cantik itu ke atas kudanya. Luhan hanya bisa diam dan pasrah dalam gendongan Sehun. Mata rusanya menatap lekat wajah sosok yang menggendongnya ini. Diam-diam memuja ketampanan Sehun.
Sehun menaikkan Luhan ke atas kudanya. Ia bahkan berlutut dan meletakkan kaki ramping Luhan ke pedal kuda. Sehun menarik kudanya dan lebih memilih berjalan disamping Luhan. Jika berkuda bersama, Sehun takut pria manis itu akan mendengar hatinya yang berdebar cukup keras. Lalu mereka melanjutkan perjalanan.
"Aku akan pulang besok pagi."
"Apa kau pikir kau akan membuat baju pelindung yang hebat?" tanya Sehun.
Luhan terdiam sebentar, "Mungkin? Ah tidak, aku pasti akan membuat baju pelindung yang hebat untuk kalian."
Sehun bertanya mengapa Luhan tertarik menjadi penjahit dan membuat bermacam-macam baju. Luhan terrsenyum sebentar lalu menjawab bahwa menjadi penjahit adalah mimpinya, "Orang memakai pakaian yang kubuat agar terhindar dari cuaca dingin dan kadang-kadang menghadiahi kekasih mereka dengan pakaianku. Bukankah itu menakjubkan?"
"Aku hanya berpikir pakaian adalah sesuatu yang dipakai, aku tak pernah berpikir kalau akan bermakna seperti itu. Lalu, apa kau mencapai impianmu sebagai pembuat pakaian sekarang?" ucap Sehun sambil mengadahkan kepalanya ke atas untuk menatap Luhan.
"Masih belum. Aku ingin membuat pakaian terbaik suatu hari nanti," jawab Luhan mantap.
Sehun lantas bertanya lagi. Bagaimana jika Luhan gagal? Gagal karena kurang bakat atau kurang beruntung? Tapi Luhan menjawab bahwa ia punya senjata rahasia. Sehun menghentikan langkahnya dan membalikkan tubuhnya ke arah Luhan. Penasaran dengan jawaban Luhan.
"Senjata rahasia?"
Luhan mengangguk lalu menunjukkan tangannya pada Sehun, "Yang ada di tanganku, tidak pernah menyerah, senjata rahasia itu adalah harapan. Aku punya senjata berupa harapan, dan selama aku terus berusaha aku percaya aku pasti bisa mencapai impianku."
Sehun terlihat berpikir sebentar, "Impian?"
"Ya, impian. Apa impianmu, Dasanggwan-nim?" tanya Luhan pada Sehun.
"Impianku? Impianku…adalah melihat semua orang di Joseon tidak kelaparan," jawab Sehun.
Luhan mengerutkan dahinya, "Orang bilang bahkan Kaisar saja tidak bisa menolong yang miskin. Bagaimana kau bisa memimpikan itu?" Tanya Luhan penasaran.
"Benar. Aku ingin membuatnya terjadi meskipun Kaisar tidak bisa. Ambisi yang besar dan kennyataan yang membuatku frustasi, kurasa aku hanya ingin melupakan kecemasanku saja." Jawab Sehun pada Luhan.
Luhan heran, "Kecemasan?"
Sehun mengangguk, "Iya, kecemasan. Siapa yang tidak memilikinya? Apa kau pernah berpikir untuk menikahi seseorang yang tidak kau sukai? Nah, itu kecemasanku."
Luhan merasa jika dilihat dari tradisi Joseon selama ini, pernikahan seperti itu bisa saja terjadi. Tapi Luhan berkata bahwa jika pernikahan seperti itu akan membuat dirinya sendiri tidak bahagia maka sampai kapanpun ia tidak akan melakukannya. Sehun tersenyum mendengar jawaban Luhan. Ia semakin tertarik dengan pria cantik itu.
Semakin lama Sehun memandang mata indah itu, semakin dalam pula Sehun jatuh dalam pesonanya. Ia tidak bisa berbohong. Ia sudah benar-benar jatuh cinta dengan pria mungil dihadapannya. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Sehun tertarik.
"Apa kau mau melihat matahari terbit denganku besok? Ada pemandangan luar biasa hanya sepuluh meter dari sini. Lalu aku akan memberitahumu impianku yang sebenarnya dan siapa aku sebenarnya," ucap Sehun. Ia sudah memantapkan hatinya bahwa ia akan jujur tentang siapa dirinya sebenarnya. Entah mengapa, hati kecilnya menyuruhnya untuk jujur pada pria pencuri hatinya ini.
Luhan mengangguk mengiyakan ajakan Sehun. Setelah mendapat jawaban dari Luhan tentang tawarannya untuk melihat matahari pagi esok hari, Sehun menarik kudanya sambil tersenyum dan berjalan lagi. Mengingat hari semakin gelap dan tidak seharusnya mereka masih di luar markas.
Mereka kembali melanjutkan perjalanan tanpa saling mengetahui satu sama lain bahwa hati mereka sama-sama berdebar dengan keras.
.
.
TBC
Jreng-jrenggg! Chapter 4 sudah hadir! Sehun udah mau ngaku nih.. Oh ya, maaf ya kalian harus nunggu lama banget. Jujur aja, belakangan ini saya sibuk karena udah deket sama UAS. Keadaan mengharuskan saya untuk fokus belajar dulu hehehe. Chapter ini emang sengaja saya bikin panjang buat ngebales kebaikan hati kalian karena udah nunggu lama fanfic ini. Moga puas ya bacanyaa. Kemungkinan besar baru bisa lanjutin bulan depan, liburan natal ini bener-bener full saya pake buat travel ke Korea jadi kemungkinan besar gak ada waktu buat lanjutin. Sekalian refreshing saya nya hehehe. Makasih banget juga buat yang udah review chapter kemarin, saya udah baca semuanya kok. Kalian bikin saya senyum-senyum sendiri liat review kalian, udah saya bales juga lhoo. Oh ya, siapa yang nonton MAMA kemarin? Duh, saya bangga banget EXO menang Album Of The Year untuk yang ke-4 kalinya. Saya sama ibu saya bener-bener teriak kenceng kesenengan pas nama EXO dipanggil, bener-bener feel so proud! Ya walaupun rada kesel juga sama MAMA tahun ini gara-gara rada gak fair gitu ;( Tapi yaudahlah mau gimana lagi. Duh saya bawel banget ya, udah ah klo gitu mau cuap-cuap mulu daripada nanti kalian malah bosen sama saya, moga suka chapter ini. Dan sampai ketemu lagi di chapter depan! See ya! *salam kecup dari saya*
