The Tears.
Chapter 4.
~oOo~ ~oOo~
"Ayo, kita tolong anak ini!" komando seorang pria.
"Dia 'kan?!"
L menatap orang-orang yang tengah membopong korban yang terluka itu menuju tepi.
"Light~," gumam L mengamati anak kecil berambut coklat muda yang tengah menangis kesakitan. Wajahnya nampak pucat dan matanya juga terlihat sembab.
~oOo~ ~oOo~
L segera berlari ke tepi menuju beberapa orang yang mengerumuni Light. Tentu saja ia tetap harus berhati-hati pada kendaraan yang berjalan merambat karena terjadi kemacetan kecil.
"Uh... ukh"
"Kita ke rumah sakit ya!".
Light menggeleng pelan.
"Lukamu harus diobati, nanti bisa bahaya". Light tak merespon ia terus saja menangis.
"Sudah angkat saja!" perintah seseorang.
Orang itu pun berdiri hendak menggendong dan membawa Light ke rumah sakit terdekat.
"Tidak mau, hiks. Itu tidak perlu!" sergah Light kecil diantara tangisnya.
"TAPI!!".
"Light, Kamu benar Light kan?" tanya L berjalan mendekati anak berambut coklat itu.
"Hn?!...".
"Ini aku, L~".
Begitu tau jika pemuda dihadapannya adalah anak yang ditolongnya waktu itu, Light langsung memeluk pemuda di depannya dan menumpahkan air matanya dibahu kurus L.
"Kau mengenalnya?" tanya seorang wanita.
"Hm!".
" Kalau begitu, cepat ajak dia ke rumah sakit, aku akan mengantar kalian!".
"Iya, L," mengangguk mantap.
"Ayo Light! Lukamu harus segera diobati," menggengam pergelangan tangan Light.
Light hanya menatap sendu wajah L.
"Ayo!".
"Tapi, janji kamu tidak akan meninggalkanku?" pintanya pelan.
"Yah, aku janji!" balasnya sambil tersenyum tulus.
~oOo~ ~oOo~
Benar saja, di rumah sakit, L terus berada disamping Light yang sedang mendapat perawatan. Tak sedikit pun ia melepaskan pandangan dari pemuda yang sangat baik padanya. Begitu pula sebaliknya.
"Terima kasih, Bi. Karena sudah menolong temanku," membungkukan badannya.
" Sudah, jangan dipikirkan. Bibi senang bisa membantu".
L tersenyum.
" Tapi maaf, Bibi tidak bisa mengantar kalian pulang," ucap wanita yang ternyata bernama Kyomi.
"Hmp, tidak apa Bi, biar saya yang mengantarnya pulang".
" Ya sudah, Bibi mau mengurus administrasi dulu".
" Iya~…".
Selang 5 jam kemudian, mereka pun meninggalkan rumah sakit.
~oOo~ ~oOo~
Sambil memapah Light, L bertanya, "rumahmu dimana? Biar aku mengantarmu?".
Light tak menjawab. Ia hanya terdiam. Dalam sesaat, bulir-bulir air mata kembali menggenang dipelupuk mata.
"Sebenarnya ada apa?!" tanya L bingung.
Hiks...hiks, ukh..., tangisan anak itu makin menjadi.
L yang tidak tau harus berbuat apa, ia hanya dapat merengkuh tubuh kurus di depannya itu dengan erat.
"Maaf sudah bertanya macam-macam. Sudah jangan menangis Light," bisik L ditelinga temannya.
"L~...".
~oOo~ ~oOo~
Dibangku taman, keduanya duduk di sana. Menikmati senja sambil memakan roti bakar yang yang L beli dari pedagang asongan yang tidak sengaja lewat, roti yang dia beli dengan sisa uang pemberian Watari kemarin.
"Ini, makanlah! Kamu pasti lapar. Tapi maaf ya, roti ini mungkin tidak seenak pemberianmu dulu," katanya agak malu.
Light memang menerimanya, tapi ia tidak segera memakan roti tersebut. Pemuda itu malah terdiam memandangi roti ditangannya dengan tatapan kosong. Sedang L kecil tidak begitu tau mengapa Light menjadi begitu. Yang ia tau, jika ia bertanya lagi, mungkin Light akan kembali menangis, dan ia tidak ingin hal itu terjadi.
"L~," ucapnya dengan suara serak.
Hmp?!.
"Walau aku tidak akan memberimu roti dan uang seperti dulu, apa kamu tetap mau jadi temanku?" tanyanya begitu lugu.
L terhentak, buru-buru ia menelan roti dimulutnya, lalu berkata, "Kenapa Light bicara begitu. Kamu sudah mau jadi temanku saja, sudah jadi hal yang menyenangkan buatku".
Kini giliran Light yang terkejut karena perkataan anak berbaju putih kumel di sebelahnya.
"Karena Light adalah teman pertamaku, yang berharga," lanjut L dengan wajah bahagia.
~oOo~ ~oOo~
"L~…".
" Iya?".
" Aku, sebenarnya, hidupku tidak sebaik dulu," tangisnya kembali pecah.
Deg.
"Seminggu yang lalu, rumahku terbakar, tidak ada satupun yang tersisa".
L terperanjat kaget mendengar pengakuan anak manis itu.
"Semua lenyap hanya dalam hitungan menit, semuanya… juga keluargaku," memelankan kata 'keluargaku'.
"Jadi?!!".
"Iya, orang tua dan adik perempuanku meninggal, cuma aku yang selamat karena kebetulan tidak berada dirumah. Semua begitu cepat, sampai terkesan seperti mimpi bagiku," mencoba menyembunyikan air matanya yang tak pernah berhenti mengalir sejak hari itu.
L menelan ludah, nafsu makannya yang lahap mendadak lenyap. Ia ikut terlebur dalam kepedihan Light.
~oOo~ ~oO~
"Dalam hidupku, orang tua dan adikku adalah orang yang paling aku sayangi, mereka sangat berarti buatku. Mereka selalu membuat perasaanku senang dan tenang, juga ketika aku bertemu denganmu waktu itu. Ntah mengapa, aku merasa sangat bahagia waktu mengenalmu, dan sejak hari saat itu, aku berjanji pada diriku untuk menjadikanmu orang yang paling berharga buatku, sama seperti keluargaku, menunduk sambil mengcengkram ~...," gumam L sedih.
"Aku takut sendirian, dan aku tidak mau hidup sendiri. Makanya, setelah kejadian itu, aku langsung mencarimu. Tapi, saat itu kamu tidak ada. Aku takut tidak dapat bertemu kamu, aku takut sekali," katanya sesenggukan. "Setelah beberapa hari aku mencarimu, tetap saja aku tidak dapat menemukanmu, aku hampir putus asa, L. Dan, semua berlanjut dipagi tadi-....," Light diam sejenak.
"A-aku senang ketika melihatmu, aku senang kita dapat bertemu kembali, hahaha, walau ternyata, yang menemukanku ternyata adalah kamu," menatap L sambil tertawa.
"Aku juga senang dapat bertemu kamu lagi, Light".
"L, aku ingin kamu janji kalau kamu akan selalu didekatku, kamu mau 'kan?" pintanya.
"Hmmp! Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu. Aku akan selalu disampingmu, menemanimu! Itu janjiku Light," ucapnya jauh dari perkiraan.
Waktu L berkata itu, terasa getaran didada Light, seperti suatu pertanda jika L akan benar-benar menepati janjinya. Lalu...
"Terima kasih, L. Aku juga janji akan selalu ada untukmu," menggenggam jemari L.
"Tapi kamu juga harus janji tidak akan bersedih lagi, apalagi kalau sampai menangis, karena aku bingung harus berbuat apa kalau kamu menangis begitu".
"Iya, aku janji, L. Maafkan aku sudah membuatmu cemas," memeluk anak berambut hitam itu erat-erat.
~oOo~ ~oOo~
Matahari perlahan tapi pasti mulai terbenam. L sadar jika sekarang waktunya untuk pulang. Ia tidak ingin Damegawa memarahinya lagi. Ia bangkit dan berjalan tergesa meninggalkan Light yang tertegun menatap punggung L.
Tapi, belum 2 meter anak itu berlari, ia langsung membalik badannya dan menatap Light yang tertegun memandangnya.
"Light, aku tidak yakin kamu mau ikut atau tidak, soalnya rumahku kecil, sempit dan berantakan. Lagipula, ada Paman Damegawa yang orangnya kasar dan pemarah," jelasnya dengan wajah memerah. "Itu juga terserah kamu mau tinggal dirumahku atau tidak".
Light tersenyum, "Aku tidak peduli dengan penjelasanmu tadi, asal ada L, aku tidak ada masalah".
Grep.
L meraih tangan anak kecil itu dan berjalan bergandengan menuju rumah kecil milik Damegawa, tempat tinggal L.
"Kalau begitu, ayo kita bergegas, karena hari sudah mulai malam!".
"Iya....".
"L, terimakasih. Maaf ya, aku sudah merepotkanmu...".
~oOo~ ~oOo~
Tbc...
~oOo~ ~oOo~
Wow, akhirnya chapter ini selesai juga. Mungkin, The Tears akan tamat dichapter 5, masih mungkin sih. Oya, maaf telat update-nya. Maaf kao hasilnya ancur sekali lagi, saia tunggu kritik dan sarannya lewat REVIEW, thanks all...
