"ㅡdia itu dingin. Sedingin salju di musim dingin. Apa hangatnya perapian bisa membantu untuk menghangatkan?"
.
Pagi ini, sama seperti pagi sebelumnya. Datar.
Tidak banyak yang berarti. Hanya ketika Hyunjin bangun terlalu pagi dan bersiap untuk pergi sekolah, dan ya, jangan lupakan sarapan yang amat sangat sederhana.
Selain malam, Hyunjin juga menyukai fajar. Dimana angin sejuk menyapanya dan udara yang segar. Seakan-akan Hyunjin menemukan energinya di dini hari.
Ya. Energi untuk melewati -pastinya- hari yang begitu melelahkan. Secara fisik dan mental.
Hyunjin tidak pernah untuk berhenti. Yang ia inginkan hanya menunggu. Menunggu hingga dimana semua akan berhenti dengan sendirinya.
Selagi ia menunggu, sudah pasti akan banyak datang hal-hal yang mungkin bisa membuatnya senang. Dan bisa jadi pula hal itu termasuk dalam daftar kebenciannya.
Permasalahannya, Hyunjin sedang kewalahan mengatur pemikirannya.
Dalam hal ini, apakah ia harus meletakkan nama itu dalam daftar kebenciannya, atau mungkin dalam daftar kebahagiaannya?
Sebentar.
Ada yang salah.
Seorang Hwang Hyunjin sedang kewalahan?
Cih. Biasanya, ia akan dengan mudah menetapkan. Jika menurutnya itu menganggu, maka nama itu mutlak terletak di daftar kebenciannya. Dan, apa ini?
Mengapa nama itu sangat sulit untuk dia tentukan? Padahal, sudah jelas. Ia membenci.
Bodoh.
.
Tujuan Hyunjin hari ini; menghindari seseorang yang bernama Kim Seungmin.
Hyunjin bahkan sudah menyusun rencana. Di sekolah nanti, jangan biarkan Seungmin melihatnya. Jangan sampai ia bertatap muka dengan Seungmin. Jangan sampai terjadi.
Hah. Hyunjin mencoba mengelak dari takdir, huh?
Berapa kali kita harus mengatainya bodoh?
Lagian, siapa juga yang bisa menentang garis takdir yang jelas–jelas sudah tertata. Sama saja dengan menentang Sang Pencipta.
Lihatlah, sebentar lagi ayo tertawa. Hyunjin tidak akan pernah berhasil. Karna,
"Berangkat di jam ini, apa kau berubah jadi murid rajin, Hyunjin?" Baiklah. Senyuman itu menyambut pagi Hyunjin.
Hyunjin terlonjak sedikit tentu saja. Ia membalik badan setelah menutup kembali pagar rumahnya. Melihat Seungmin yang juga sudah lengkap dengan seragam sekolah mereka.
Helaan napas berat Hyunjin menjadi jawaban bagi Seungmin. Bukannya ia tersinggung, yang ada, pemuda yang hilang beberapa hari itu malah tetap tersenyum.
"Hyunjin, kau tidak rindu padaku? Ha! Kau pasti mencariku kan? Ayo jujur!"
Hyunjin menatap ke arah lain. "Siapa juga yang rindu padamu. Menggelikan sekali ketika kau berkata dengan begitu percaya diri."
Bohong lagi.
Seungmin mendekat, "benarkah? Lalu kenapa ibuku bilang kau selalu berdiri di balkon kamar dan menatap jendela kamarku? Tidak mungkin ibu berbohong padaku."
Hah. Tertangkap.
Hyunjin gelalapan. Mencoba tenang dan memikirkan jawaban untuk mengelak.
Seungmin tersenyum. Ia merasa puas.
"Aku hanya berkunjung ke rumah nenek di desa. Tidak usah rindu begitu."
Hyunjin mendecak, merasa muak sekaligus jijik. "Kau-" Menarik napas lalu menghembuskannya kasar. "Jangan pernah mengharap aku akan merindukanmu. Karna aku membencimu. Ingat itu."
Setelah itu, Hyunjin pergi.
Senyuman Seungmin memudar. Kedua bahunya menurun. Angin dingin di pagi hari menusuk hingga tulang. Namun, hati Hyunjin lebih dingin. Hangatnya perapian bahkan tak lagi bisa menenangkan.
Seungmin harus bagaimana? Bagaimana cara meluluhkan hati dingin Hyunjin? Bagaimana cara menghilangkan kebencian?
Seungmin hanya ingin—
ia hanya ingin, Hyunjin bisa bahagia. Sebelum semua akan berakhir, dan keinginannya untuk membuat Hyunjin bahagia belum tercapai.
Seungmin selalu berdoa, agar semua tidak cepat berlalu. Meminta agar waktu diperlambat saja. Biarkan ia melakukan keinginannya, sebelum semua terlambat.
