Terimakasih sudah membaca fanfic saya sebelumnya,saya berterimakasih kepada _- LavenderSun, Satoshi 'Leo' Raiden, twins shinobi, aeni hibiki, min-kun, dee-chaan, satsuki sanada, murni, Saras SasuSaku-chan
_ -Terimakasih sudah mampir dan mereview. Dan Trimakasih kepada semuanya yang telah membaca ^^
.
.
.
Perhatian ! Cerita ini hanya fiksi belaka dan semua character kepunyaan om Masashi. Mengandung Typos,OOC dan EYD yang kurang saran dan kritikan menggunakan bahasa yang sopan .
-UNLIKE?JUST ONE CLICK ICON "BACK".
.
.
.
"I Just Need Your Honesty"
.
.
.
Summary:
*tuk..tuk..tuk*
Terdengar suara batu yang dilempar dari luar jendela,
"Hinata,tidak usah dibalas. Aku disini.."
"Pulanglah, sudah malam."
"Aku punya sesuatu untukmu,aku manjat ya."
"J-jangan Naruto,aku akan turun."
"Tidak usah,kau sedang sakit. Tunggu ya
Hinata aku cari tambang dulu."
.
.
.
"Hinata ! Tangkap ini,"
Pria berambut kuning dan bermata biru saphire itu melemparkan seutas tali tambang yang ia temukan didekat gudang kediaman Hyuga. Ia mencoba untuk masuk kedalam kamar gadis berambut indigo itu untuk menjelaskan semuanya.
"Hn,tapi Naruto.. A-aku ti-tidak y-ya-yakin tali ini akan kuat.."
"Tenang saja ini pasti kuat,kau pegang dengan kuat yaa.."
"T-tapi Naru.."
"Su-sudah Hinata kau pegang kuat-kuat yaa."
Dengan tatapan harap-harap cemas, Hinata memegang kuat seutas tali itu,
"Naru,hati-hati"
"Hn,tenang saja Hinata-chan."
Dugaan gadis berambut indigo itu benar,tenaganya tidak kuat untuk menarik seutas tali ,dirinya yang kini dudukdi kursi roda itu justru terbawa arus gaya gravitasi yang diberikan oleh tali tersebut,
"Naru,hati-hati talinya sudah tidak kuat dan aku tidak kuat lagi untuk menahannya. U-ugh"
"Hina-chan bertahanlah! sebentar lagi aku sampai, atau ikatkan pada barang yang kuat saja Hinata."
"U-ugh,t-tidak bi-bisa Naru,aku dikursi roda dan aku tak bisa berjalan."
Apa yang tidak diinginkan terjadi,tubuh mungilnya terhempas keluar jendela,matanya membulat, letak kamarnya yang berada dilantai tiga membuatnya ketakutan setengah mati.
"Aaa,"
"Hinata,aku akan menangkapmu."
Naruto yang sudah jatuh tersungkup di tanah, berusaha untuk bangkit dan menangkap tubuh mungilnya yang baru saja keluar dari jendela.
"Kau tak apa Hinata?"
"Nar-naruto,,"
"Hinata? Hinata? Bangun"
Pria itu membawa gadis berbadan mungil itu kearah gazebo disekitar lingkungan Hyuga.
"Hei Hinata?"
"emmh,Nar-naruto.."
Gadis itu mencoba untuk berdiri namun usahanya gagal, kakinya belum pulih total dari kecelakaan kemarin.
"ugh,"
"Jangan memaksakan diri Hinata, oh ia aku ingin bicara sesuatu."
"Hn,apa itu?"
"Ku harap kau jangan salah paham Hinata,"
"Apa maksudmu?"
"Sebenarnya..."
Belum sempat pria pecinta ramen itu melanjutkan kata-katanya,dari arah selatan kediaman Hyuga terdengar suara seorang pria yang bisa dibilang sudah memasuki umur setengah abad.
"Hinata! Kau dimana?"
"Otousan,Naru cepat kau pulang otousan sudah kemari."
"Ta-t-tapi Hina-chan?"
"Sudahlah kau pulang saja.."
"Baiklah, ini untukmu. Semoga membantu.."
"A-arigatou Naruto-kun,"
"Hn,semoga kau besok bisa menggunakannya.. Aku pulang dulu jaa.."
Sebelum melangkahkan kaki jenjangnya kearah gerbang kediaman Hyuga Naruto membisikkan sesuatu dan mengecup kening gadis mungil itu dengan penuh kasih sayang.
"I Love You Hinata Hime,kalo bisa kau buka hadiahku untuk sebuah alasan ke Otousanmu."
"E-eto b-ba-baiklah,"
"Aku pulang,Jaa"
Gadis itu membuka hadiah yang diberikan Naruto kepadanya, ia sangat terharu dan segera memakainya.
"Hinata! Sedang apa kau malam-malam disini,tidak baik wanita keluar malam,"
"E-eto otousan,a-aku sedang berlatih dengan tongkat yang ku beli tadi."
"Oh,kakimu kenapa? Kenapa kau memakai tongkat?"
"E-eto,tadi siang kertasku terbang keluar jendela. Dan aku berusaha untuk mengambilnya,namun kakiku tersangkut dimeja dan terkilir. Ya terkilir,hehe"
Ia ketakutan jika otousannya mengetahui kejadian sebenarnya,
"Lain kali kau jangan ceroboh,tadi otousan mendengar suara orang jatuh dari lantai 3."
"Mungkin hanya perasaan saja otousan,"
"Mungkin,ayo kita masuk. Sudah malam,hati-hati."
Didalam hati kecilnya ia merasa lega karena alasannya berhasil dan mendapat tongkat cantik berwarnakan ungu,warna favorit ia.
.
.
.
"Permisi,"
"Hai Naru,ada apa?"
"Neji apa Hinata ada?"
"Ya,biar ku panggil dulu ya.."
"Hn,arigatou."
Setelah menunggu lama,wanita cantik itu keluar. Ia tak dijuluki nona kursi roda lagi,karena kini ia dapat berjalan namun menggunakan alat bantu.
"Sini biar kubantu,"
"T-tidak usah,aku bisa."
"Baiklah,ayo kita berangkat."
Pria dengan gaya khasnya pun sangat bingung ketika melihat Hinata mematung dihadapannya.
"Kau kenapa Hinata?"
"A-no,a-aku berangkat sendiri saja. Lagi pula aku tak bisa naik motormu yang tinggi "
"Tenang saja,aku bawa mobil kok. Jadi mau ya?"
"Tapi, a-aku..."
"Ayolah ku mohon,"
"Hn,baiklah jika kau memaksa."
Merekapun segera berangkat menuju sekolah, waktu menunjukan pukul 7 kurang 10 menit, apa yang tidak diinginkan terjadi.
"Sial, kenapa macet begini ! Tidak biasanya,"
"Naru b-bagaimana ini? Kita pasti telat. 10 menit lagi bel akan berbunyi,"
"Baik kita putar balik,aku akan menggunakan rute yang biasa ku lewati."
Mobil mereka pun berbalik arah dan melaju dengan kecepatan 80km/jam.
"Naru,jangan terlalu kencang."
"Tenang saja,aku sudah biasa kok."
Apa yang tidak diharapkan pun terjadi lagi,rute yang mereka lewati lebih parah kemacetannya.
"Argh! Sial, aku lupa Hinata.. Jam segini memang selalu terjadi kemacetan."
"Lalu ba-bagaimana ini?"
"Dari sini rumahku tidak terlalu jauh,kita kerumahku dulu untuk mengambil motor."
"Tapi aku bagaimana?"
"Tenang Hinata aku akan menggendongmu untuk naik keatas motor."
"Hn,baiklah."
Mereka pun memotong jalan menggunakan jalan tikus untuk mengambil motornya.
"Akhirnya Hinata kita sampai, hati-hati."
"Dimana motormu?"
"Arggh,aku lupa! Motorku dipinjam Menma."
"B-bagaimana ini? Aku tidak mau bolos."
"Aku ada motor satu lagi,hanya saja itu tidak cocok denganmu. Aku tidak ingin kau menaiki motor lamaku."
"Apapun itu,bersamamu aku sudah cukup bahagia Naru."
"Benarkah? Baiklah Hime biar kuambil motorku dari garasi."
Mereka pun berangkat bersama,menggunakan motor lama milik Naruto,sesampainya disekolah bukan ucapan selamat pagi yang diucapkan,melainkan umpatan dari guru yang bertugas sebagai kesiswaan.
"Kalian! Bukannya datang lebih pagi,malah terlambat. Kau juga Hinata,kau sudah sangat sering terlambat akhir-akhir ini."
"m-maafkan aku sensei,"
"Hukuman untuk Naruto,kau harus keliling lapangan sekolah 15x dan kau Hinata, kau akan ku jemur hingga jam pelajaran usai."
Pria berambut kuning itu mengelak dan membela gadis yang akan dihukum lebih berat darinya.
"Sensei,kau apa-apaan biar aku yang melaksanakan semua ini! Dia sedang sakit lihat itu! Kau buta?"
"Sudah Naru tak apa,"
"Tapi Hinata.."
"Sekarang cepat lakukan apa yang aku suruh!"
"Osh,"
Merekapun menjalankan hukuman mereka, namun Naruto sudah selesai dengan hukumannya.
"Hinata,kau masuk kelas saja. Biar aku yang menggantikanmu,"
"Ti-tidak u-usah Naruto-kun,aku baik-baik saja."
"Tapi kau sedang sakit,wajahmu sudah pucat."
"Kau ini, ini memang warna kulitku baka!"
"Tapi ini berbeda, baiklah akan aku belikan air untukmu."
"Ar-ariga..."
"Hinata, bangun.."
Pria itu membawa Hinata kedalam ruang UKS, ia merasa bersalah pagi ini. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Hime bangun,jangan seperti ini."
Tangannya terus memberikan aroma teraphy ke penciumannya. Sejam pun berlalu kelas pun hampir usai,
"Naruto-kun,"
"Hoamm,Hinata akhirnya kau sadar, aku menghawatirkanmu."
"A-aku harus ke lapangan,"
"Tidak usah,kau itu jangan memaksakan diri."
"Tapi,,"
"Sudahlah,aku sudah bilang dengan guru sialan itu! Oh ia apa aku boleh mengatakan sesuatu?"
"Apa itu Naru? Katakan saja"
"Sebenarnya.."
"..."
.
.
.
Hoaam akhirnya chapter 4 ini selesai juga, haduh ngantuk banget membuat ff ch.4 ini.. Tolong Review ya ^^
