A/N: Aw, maaf lagi karena lama apdetnya, Pembaca! Entah kenapa akhir-akhir ini luna jadi sibuk… ukh. Kerjaan memang selalu nggak ada habisnya! T_T Haah, coba kalau bisa full-time nulis fic, pasti asyik *sighs* Eniwei, karena sudah sampai sini, luna berhenti berceloteh sendiri deh! Makasih berat buat para pembaca yang sudah review! Luna cinta kalian semua! XD Lalu cookies buat yang sudah fave, alert dan baca! Semoga semua bisa menikmati cerita ini!
Nah, silakan dilanjutkan! XP
Hak Cipta: Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki
Peringatan: AU, Ooc, yaoi (be ware of increased level fan-service!), mistipo, dll…
Cerita Sebelumnya…
"Kagami-kun… apa kau ingat siapa aku?"
Kagami hanya bisa menatap anak kecil itu dengan tatapan sangat terkejut.
Janji di Bawah Bulan Purnama
© lunaryu~
Bagian 4: Masa Lalu (A)
Kuroko memiringkan wajahnya, menatap ekspresi syok Kagami dengan penuh arti.
"K-kau…!" Kagami mengerjapkan mata beberapa kali sembari menggelengkan kepala, sepertinya tak percaya dengan apa yang ia lihat. Mungkin ia merasa sangat kaget dengan sosok Kuroko. Mungkin ia ingat siapa Kuroko sebenarnya.
"K-kenapa…?" desis Kagami dengan nada tak mengerti. "Kenapa kau jadi cebol begitu?"
Kuroko kontan jatuh tersungkur secara komikal. Jadi itu yang membuatnya kaget, ya?
Kuroko bangun perlahan sementara Kagami mundur selangkah, tampak waspada. Namun, Kuroko tak memberinya kesempatan untuk lebih menjauh saat Kuroko tiba-tiba menyeruduk perut Kagami dengan kepalanya yang keras itu.
"Oof!" Kagami kontan jatuh terjerembab, sedangkan Kuroko hanya menatapnya tajam dari atas dengan kesal meskipun tak kentara di wajahnya yang notabene selalu datar itu. "A-apa, sih…?!" Kagami mendongak, menatap Kuroko, sepertinya bingung dengan serangan tiba-tiba itu.
"Salah Kagami-kun sendiri yang memanggilku begitu. Aku bukan cebol. Ini sosokku ketika masih anak-anak, Kagami-kun," lontar Kuroko sambil sedikit mendengus dan menyipitkan mata. Memang benar, Kuroko paling sebal kalau disebut kecil atau cebol. Seharusnya Kagami tahu itu.
Karena sejak dulu hingga sekarang… meskipun Kagami tak ingat lagi padanya, tak sedetik pun Kuroko melupakan Kagami. Seandainya ada secuil saja ingatan tentang Kuroko di benak Kagami… meskipun sepertinya mustahil, Kuroko ingin mengembalikan kenangan mereka berdua.
"Itu bukan alasan untuk menyeruduk tiba-tiba! Sakit, tahu!" Kagami lantas berdiri sambil memprotes, sebelum kemudian tersadar dengan situasinya dan menoleh ke kanan dan ke kiri dengan cepat mencari-cari petunjuk di tempat gelap yang tidak ia kenal itu. Wajahnya masih menyiratkan tanda tanya yang sangat besar. "Di mana ini…?" gumamnya heran. "Kalau tidak salah, tadi…!"
Kagami menghadap sekali lagi ke arah Kuroko dengan wajah kaget. "Kau…! Sayapku…?! Siapa kau sebenarnya?!" Alarm tanda bahaya mulai berkoar dari air muka Kagami, setetes peluh mengalir ke pipinya dan gejala-gejala panik mulai merebak darinya.
"Rupanya kau sungguh tak ingat. Padahal… ikatan jiwa kita sangat kuat, Kagami-kun." Kuroko sedikit menunduk. Ia tahu kalau kemungkinan Kagami mengingatnya sangatlah kecil. Ia paham… sebab kenangan Kagami akan dirinya sudah…
Tidak!–Kuroko mendongak sekali lagi menatap Kagami dengan yakin. Aku tidak boleh menyerah di sini. Aku tak akan pasrah. Kagami-kun adalah belahan jiwa yang susah payah kutemukan… mana mau aku mengalah hanya karena hal sepele begini?
"A-apa?" Kagami terlihat makin mawas diri saat Kuroko memandangnya dengan penuh tekad.
"Aku akan memperlihatkan sebuah memori padamu, Kagami-kun," sahut Kuroko tak menggubris pertanyaan Kagami.
"Hah?" Kagami mengernyitkan dahinya.
"Apa kau memiliki ingatan sebelum dirimu menjadi iblis, Kagami-kun?"
Kagami melebarkan matanya saat Kuroko mengungkit hal tersebut. "Apa… maksudmu?"
Kuroko mengepalkan tinjunya. "Sudah kuduga. Satan… menghapus ingatan manusiamu."
"Ingatan… manusia?" Wajah Kagami terlihat makin kusut. "Apa maksudmu…?! Aku terlahir sebagai iblis, tahu! Jangan bicara sembarangan!" dan iapun berteriak. Suatu fondasi seakan goyah dalam dirinya, dan Kuroko tahu di mana ia harus 'mendorong' supaya tiang itu runtuh.
"Apa kau yakin? Bukankah iblis… tercipta dari jiwa manusia yang tersesat dan menyerahkan dirinya pada Satan?"
Kagami tampak syok selama beberapa saat, wajahnya memucat, tubuhnya gemetar. Kontan ia menutup telinganya sambil memejamkan mata. "Itu tidak benar! Aku… aku adalah…!"
Kemudian, Kuroko membesitkan sebuah kenangan pada Kagami, kenangan yang tadinya tidak ada dalam memori 'iblis' Kagami, kenangan masa kecil dan dirinya saat ia masih 'hidup' sebagai manusia….
~Kagami x Kuroko~
Lima ratus tahun lalu…
Kagami adalah seorang anak manusia berumur sepuluh tahun yang hidup sebatang kara. Orang tuanya meninggal karena peperangan dan karena warna mata dan rambutnya yang tidak seperti orang Jepang pada umumnya, penduduk desa tempat ia tinggal mengasingkannya.
Anak setan… begitulah orang-orang dewasa menyebutnya. Sepertinya bagi mereka yang berambut dan bermata hitam, anak campuran dianggap membawa sial. Kagami tak begitu mengerti apa maksudnya, tetapi mungkin karena ayahnya bukanlah orang Jepang, makanya ia mewarisi warna mata dan rambut yang aneh itu.
Merah bagaikan darah… warna yang ditakuti oleh manusia.
Karena itulah Kagami sering menyendiri. Ia tak memiliki teman karena anak-anak sepantarannya diperintah oleh orang tua mereka untuk tidak dekat-dekat dengannya. Terkadang, jika mereka melihat atau bertemu pandang dengan Kagami, mereka akan mengusirnya, melemparinya dengan kerikil atau batu, sambil meneriakkan kata-kata 'monster', 'siluman', atau 'jejadian'.
Padahal jika Kagami terluka, ia juga akan merasa sakit dan mengeluarkan darah seperti manusia lainnya. Lalu mengapa ia dianggap begitu berbeda? Meskipun Kagami sama sekali tidak mengerti dengan perlakuan orang-orang di sekitarnya, ia paham betul kalau dirinya 'dibenci' dan keberadaannya 'ditolak' oleh manusia di sekelilingnya.
Mungkin memang benar kata mereka. Mungkin Kagami bukan manusia biasa.
Walaupun demikian, Kagami bukanlah anak yang akan diam saja jika disakiti. Ia tidak membenci orang-orang yang mengatai dirinya anak iblis, tetapi ia juga tidak bisa menyukai mereka. Oleh karena itulah ia hidup menyepi di hutan, menghindar dari penduduk desa, berusaha bertahan hidup sendirian dengan berburu binatang dan memilih buah-buahan serta dedaunan untuk makan, meminum air sungai yang dimasak dengan bebatuan yang dipanaskan dengan api dari kayu bakar dan matahari.
Secara alami, Kagami tumbuh sehat dan kuat dengan alam sebagai ibunya. Ia bersahabat dengan hewan-hewan buas di hutan macam serigala dan harimau, sekaligus menjaga kemurnian hutan agar tidak dijamah manusia yang berniat merusaknya. Selama Enam tahun ia terus hidup di hutan tersebut, sekali-kali menampakkan diri di depan manusia untuk memperingatkan bahwa hutan itu adalah 'miliknya' dan tak seorangpun ia ijinkan untuk melintas jika mereka berniat buruk terhadap 'rumah'-nya tersebut.
Akibatnya, munculah desas-desus bahwa hutan tersebut 'angker'. Karena kabar angin dari mulut ke mulut bahwa ada 'penunggu' di hutan itu, para penduduk desa yang telah melupakan sosok pemuda bernama 'Kagami' yang mereka asingkan, menganggap anak itu sebagai 'lelembut' dari hutan tersebut.
Suatu ketika, tujuh tahun setelah Kagami mendiaminya dan menjadi 'penjaga' hutan itu, seseorang memasuki wilayahnya. Ia mendengar kabar bahwa hutan tempat ia tinggal akan dipangkas untuk memperluas daerah pemukiman. Kagami yakin para penduduk bermaksud mengusirnya dari tempat itu. Mereka yang salah paham bahkan membangun kuil di dalam gua dekat dengan air terjun di pedalaman yang berhubungan langsung dengan gunung.
Para cecunguk bodoh. Apa sekarang mereka akan menyembahku seperti dewa?—Kagami mencemooh dalam hati, sungguh tak paham dengan pemikiran orang-orang desa yang tak rasional itu. Ia bertaruh bahwa mereka bahkan tidak ingat kalau merekalah yang membuat Kagami memutuskan untuk mengungsi ke hutan itu.
Yang sama sekali tidak Kagami duga setelah ia mengintip 'kuil' yang dibangun penduduk tersebut, adalah adanya sesosok pemuda yang mungkin tak lebih tua darinya duduk bersimpuh di depan kuil itu. Wajahnya tampak tenang dan kalem, seolah ia memang sudah ada di rumah.
Kagami penasaran dengan jati diri pemuda itu. Apakah ia dikirim untuk bernegosiasi dengan Kagami? Ataukah ia sama dengan Kagami? Diasingkan karena warna rambutnya yang aneh…. Memang benar, warna rambut anak itu tidak biasa. Biru terang seperti langit pagi hari. Lalu, warna matanya juga… saat pemuda itu membuka mata, Kagami terkesiap melihat warna kristal yang berkilauan.
Warna yang sangat indah, seperti kemilau anemone di lautan pada malam hari….
Kagami hanya bisa terus mengawasinya selama beberapa waktu. Pemuda itu sama sekali tak beranjak dari tempatnya. Ia bahkan tidak makan maupun minum, hanya duduk termangu, seperti menantikan sesuatu.
Apakah ia sedang menunggu Kagami?
Akhirnya, sedikit memberanikan diri untuk membuat kontak dengan pemuda aneh tersebut, Kagami memasuki gua itu dan saat pemuda itu melihatnya, bukannya terkejut atau takut dan kemudian lari terbirit-birit seperti manusia lainnya, ia malah tersenyum kecil.
"Aku sudah menantikanmu," katanya lirih sebelum kemudian ia ambruk karena kekurangan cairan dan tidak makan selama beberapa hari. Kagami yang terlanjur sudah melihat dan merasa terpikat dengan senyuman lembutnya, tak tahu harus bagaimana menghadapi pemuda itu.
Pada akhirnya, Kagami merawat anak itu sampai ia kembali sadarkan diri dan ketika sekali lagi ia membuka mata serta mendapati Kagami yang duduk di sampingnya, ia tersenyum lagi dan mengucapkan salam, "Selamat pagi."
Kagami merasa kalau pemuda itu sungguh misterius. Ia tak yakin apakah ia ingin membalas sapaannya. Kagami hanya diam menatapnya dalam kesunyian sembari menyodorkan buah-buahan untuk dimakan dan air untuk diminumnya. Pemuda itu terlihat kaget sebelum senyuman indah kembali merekah di bibir mungilnya yang tampak lembut itu, meskipun saat itu rona kulitnya masih pucat dan kering karena kondisinya yang kurang minum.
"Terima kasih, Tuan Penunggu Hutan," kata pemuda bersurai biru itu dengan penuh khidmad, seolah sungguh mensyukuri pemberian dewa. "Itadakimasu (1)."
Pemuda itu makan dan minum dengan anggun, layaknya seorang bangsawan yang sudah dididik sejak kecil untuk memperhatikan tata kramanya. Melihat bahwa manusia yang satu ini cukup 'jinak' (artinya Kagami tak merasakan bahaya apapun darinya), Kagami memutuskan untuk 'bicara' padanya.
"Siapa namamu?"
Kagami nyaris terkekeh melihat anak itu hampir tersedak karena tercengang. Sepertinya ia tak menyangka kalau Kagami bisa berbicara bahasa manusia. Yah, ia tak menyalahkannya. Habis, Kagami sendiri memberi kesan kalau dia itu anak liar yang dibesarkan di hutan seperti Tarzan, sih.
"Ah… namaku Kuroko Tetsuya," kata anak itu dengan sangat sopan. Kagami jadi risih mendengar bahasa orang kalangan atas itu. Ia mendengus.
"Aku Kagami," sahut Kagami tajam.
"Ka-Gami?(2)" Kuroko memiringkan kepalanya dengan ekspresi terpukau, tetapi Kagami hanya menggeleng sebelum ia menulis di tanah dengan sepotong ranting.
"Kagami Taiga," ujar Kagami sebelum menunjuk Kuroko. "Bagaimana menulis namamu?"
Kuroko mengerjapkan mata sekali dengan teringa-inga sekarang, sepertinya ia tak mengira kalau Kagami bahkan bisa menulis! Yah, itu wajar jika melihat penampilan Kagami yang binal. Siapapun pasti tak akan menyangka kalau Kagami cepat menyerap pengetahuan. Dahulu saat ia masih tinggal di desa, ia sering diam-diam mencuri dengar serta melihat anak-anak yang bersekolah walaupun buntutnya ia pasti bakal diusir ke luar lingkungan pelajar itu. Ia belajar dari sana dan itu mudah saja bagi Kagami yang memiliki insting kuat seperti binatang.
Kuroko menggelengkan kepala sekali sebelum menulis di tanah juga dengan jarinya. "Kuroko Tetsuya (3)," ejanya perlahan.
"Nama yang kuat," komentar Kagami dan Kuroko kontan mendongak ke arahnya sebelum kemudian tersenyum tipis.
"Terima kasih," timpalnya terlihat senang.
Entah mengapa, saat melihat senyuman Kuroko tersebut, hati Kagami tergelitik. Padahal ia belum pernah memiliki pikiran akan bisa tergerak oleh perilaku manusia lain, tetapi benaknya membisikkan bahwa Kuroko adalah sesuatu yang berbeda.
Ia tidak sama dengan manusia lainnya.
Bagi Kagami yang sudah terbiasa hidup sendirian, kehadiran Kuroko di sisinya adalah sebuah perubahan drastis. Ia sering lupa kalau ada seorang manusia bersamanya sekarang, jadi ia juga lalai akan kebiasaannya untuk bicara dengan hewan atau tumbuhan yang telah hidup bersamanya lebih lama dibandingkan Kuroko.
Tampaknya, Kuroko yang mendapatinya berkomunikasi dengan alam menganggap bahwa itu sangat menakjubkan. "Kagami-kun hebat, ya. Bisa bicara dan berhubungan dengan hewan dan tumbuhan seperti sedang bersama manusia lain."
Pernah Kuroko memuji, dan Kagami di samping rasa kaget, juga merasakan perasaan aneh yang membuat wajahnya memanas. Mungkin itu yang disebut manusia dengan 'malu'. "Apa terlihat aneh?" tanyanya sedikit sadar diri, tetapi Kuroko hanya menggeleng dan tersenyum ringan.
"Luar biasa," katanya dengan penuh kekaguman.
Kuroko memang anak yang aneh. Biasanya ia sangat tenang dan pendiam, hawa keberadaannya bahkan hampir tak terasa, seperti menyatu dengan alam. Karena itulah Kagami bisa sering lupa kalau dia ada di sana sampai ia sesekali memberikan komentar tumpul yang kemudian mengejutkan Kagami. Selain warna rambut dan matanya yang tidak biasa, ia juga memiliki kebiasaan yang cukup menarik. Ia senang mengumpulkan bebijian dan bebungaan, serta rerumputan yang aneh.
Ketika Kagami menanyakan apa yang akan ia lakukan dengan itu semua, Kuroko mengulum senyum dan menjelaskan. "Untuk jaga-jaga, seandainya aku atau Kagami-kun sakit."
Sepertinya, Kuroko memiliki ilmu untuk mengobati. Bukan hanya dengan obat-obatan yang ia ramu dari tumbuhan-tumbuhan tersebut, tetapi juga kemampuan alaminya untuk menyembuhkan luka. Seperti ketika Kagami pulang bedarah-darah sehabis bertarung dengan macan untuk memperoleh kulitnya agar musim dingin tidak terlalu ganas bagi manusia ringkih seperti Kuroko, anak itu dapat menyembuhkan luka sayat di kulit dan otot Kagami akibat cakar macan tersebut hanya dengan menyentuhnya dan berdoa untuk kesembuhannya.
Sungguh suatu kemampuan yang ajaib.
"Apa Kagami-kun tidak jijik dengan kemampuan ini?" tanya Kuroko suatu ketika di malam hari, ketika mereka berdua hendak beristirahat sesudah menjalani hari yang cukup keras di hutan.
Kagami menatap Kuroko dengan aneh. "Kenapa aku harus merasa jijik dengan berkah yang sangat berguna begitu?" tanyanya balik, tak mengerti dengan rasio bocah bersurai biru tersebut.
"Yah… orang-orang desa menyebutku 'penyihir' saat mereka tahu aku bisa menyembuhkan luka hanya dengan menyentuh lukanya saja. Padahal, sejak aku kecil aku sudah sering dijauhi karena mereka jijik dengan penampilanku, tetapi sejak mereka tahu apa yang bisa kulakukan, rupanya rasa jijik mereka meningkat ke level yang menganggap kepalaku akan dihargai sangat tinggi kalau dijual ke tuan tanah atau keluarga bangsawan lain," desah Kuroko sambil menatap langit malam yang jernih dan bertaburan bintang itu dengan nada lesu.
Baru pertama kali Kuroko membicarakan dirinya sebanyak itu. Sebenarnya, Kagami tak ingin memotong, tetapi mendengar pengalamannya yang sedikit banyak mirip dengan Kagami sendiri, Kagami jadi ingin menanggapi. Ia juga menatap langit yang begitu luasnya itu sehingga merasa sedikit ringan untuk menceritakan pengalamannya sendiri.
"Aku juga begitu. Yah, minus soal dijualnya, sih… tetapi orang-orang desa juga takut padaku karena warna mata dan rambutku yang berbeda. Pembawa sial, monster, siluman, dan jejadian, katanya." Kagami mendengus pelan, kemudian menoleh ke arah Kuroko yang sepertinya sadar bahwa ia diperhatikan, dan lantas ia melirik Kagami. "Menurutmu bagaimana, apa aku menakutkan bagimu?" tanya Kagami serius.
Kuroko terdiam selama beberapa saat sebelum kemudian berkomentar, "Wajah Kagami-kun seram." Nyaris saja Kagami terjatuh dari tempat tidur yang terbuat dari jerami berbalut kulit binatang yang dikeringkan itu karena kaget, dan mungkin sedikit kecewa, tetapi sebelum itu sempat terjadi, Kuroko menambahkan, "-tapi aku suka warna mata dan rambut Kagami-kun. Bola mata Kagami-kun indah, berkilat seperti batu permata rubi dan rambut Kagami-kun terlihat membara seperti api. Melihatnya selalu membuatku bersemangat untuk terus menjalani hidup."
Semua itu Kuroko katakan dengan senyuman lembut yang sepenuhnya menerima sosok dan keberadaan Kagami dalam hatinya. Meskipun situasi mereka berdua mirip, baru pertama kali Kagami mendengar seseorang menganggap dirinya 'indah'. Meskipun tidak ada bukti konkrit bahwa kata-kata Kuroko adalah 'benar', tetap saja nurani Kagami bergejolak. Kagami tahu benar gelagat manusia yang 'menyembunyikan sesuatu', tetapi Kagami tidak melihat secuilpun tanda-tanda keraguan di setiap kata Kuroko.
Semua yang Kuroko katakan adalah kejujuran yang berasal dari hatinya yang lugu. Kagami bisa merasakan betapa Kuroko menghargai kehadirannya di tempat itu pada saat itu juga, dan Kagami juga merasakan hal yang sama untuk Kuroko.
"Terima kasih, Kuroko."
Hari itu, untuk pertama kalinya Kagami tersenyum, dan itu bukanlah senyum simpul atau beringas yang biasa ia perlihatkan di kesehariannya. Senyum Kagami malam itu adalah senyum lebar yang seolah-olah akan membelah pipinya jadi dua; senyum penuh kegembiraan dan kebahagiaan.
#
Hari demi hari yang dilalui Kagami dan Kuroko di hutan menjadi suatu pengalaman berharga bagi keduanya. Kagami mengajari Kuroko cara berburu dan melindungi diri di dalam hutan yang penuh mara bahaya seandainya terjadi kecelakaan dan mereka terpisah sehingga Kagami tak bisa melindungi Kuroko. Sebaliknya, Kuroko mengenalkan Kagami pada tanaman-tanaman obat seandainya ia terluka dan Kuroko sedang tak ada di sampingnya untuk mengobatinya.
Mereka berdua hidup saling melengkapi hingga hari mencapai bulan dan musim pun silih berganti. Hampir setahun Kuroko dan Kagami hidup berdampingan. Meskipun hidup mereka jauh dari kata layak untuk ukuran manusia, keduanya sudah cukup bersyukur karena bisa bertahan hidup sampai dengan detik berikutnya. Kagami sudah menganggap Kuroko sebagai keluarganya dalam hutan tersebut, dan Kuroko juga tidak hanya bergantung dan berlindung pada Kagami, tetapi juga membantunya agar mereka bisa bertahan hidup bersama-sama.
"Kagami-kun, aku ke sungai dulu, ya. Aku ingin menangkap ikan untuk makan malam hari ini," pamit Kuroko sambil mengambil tombak tipis yang Kagami buat dari bambu dan tulang binatang, khusus untuk menangkap ikan di sungai.
"Iya, hati-hati, ya!" Kagami melambai, bertolak pinggang beberapa saat kemudian setelah bayangan Kuroko menghilang dari layang pandangnya. "Kalau begitu aku akan cari kayu bakar untuk memasak ikan-ikan itu nanti, sekalian mencari buah untuk kudapan." Lalu dengan semangatnya ia pergi juga untuk mengerjakan niatnya.
Asyik dengan kegiatannya mencari kayu bakar dan berbagai buah segar yang sudah ranum di pepohonan, tak terasa hari sudah mulai sore. Matahari pertengahan musim semi mulai berubah warna menjadi jingga dan bayangan penghuni hutan pun mulai memanjang. "Wah, lupa waktu deh," celetuk Kagami sambil terkekeh ringan.
Namun tak apa, sebab Kagami sudah mengumpulkan banyak buah kesukaan Kuroko. Ia pasti senang. Ia juga berharap kalau Kuroko sudah mendapatkan ikan yang cukup untuk makan malam mereka. Semoga saja ikannya banyak, sebab Kagami tak akan puas kalau hanya makan seekor atau tiga. Mungkin ia bisa menghabiskan sepuluh ekor sendirian!
Sambil bersenandung ria, Kagami kembali ke tempat tinggal sementaranya dan Kuroko. Sungguh mengherankan ketika Kagami mendapati bahwa Kuroko belum kembali. Pasti dia juga keasyikan main di air.
Kagami tahu benar kalau Kuroko suka berenang. Lain dari Kagami yang merasa cukup dengan mandi sekali sehari, Kuroko senang mandi pagi dan sore. Padahal, kalau musim dingin kan, pasti dingin sekali. Sekalipun saat ini sudah musim semi, udara sore menjelang malam masihlah terlalu dingin untuk bermain air.
Kagami menghela nafas panjang, lantas menyusul Kuroko, sebab ia tak ingin Kuroko jatuh sakit karena kedinginan atau terkena flu. Saat ia sampai di tepi sungai, Kagami melihat banyak ikan segar yang masih menggelepar-gelepar di daun lebar yang sepertinya Kuroko siapkan untuk tempat membawa mereka pulang nanti, tetapi ia tidak melihat Kuroko di sekitar situ.
Mungkin Kuroko ada di muara. Ikan di tempat itu kan besar-besar. Apalagi musim begini, barangkali ia ingin mendapatkan ikan salmon yang masih bertelur—pikir Kagami dengan polosnya.
Lalu ia memulai perjalanannya menyusuri tepi sungai menuju ke muara. Untung saja area itu sudah resmi bebas beruang (sebab Kagami sudah menandai wilayahnya seperti binatang buas dengan cakar harimau yang ia kalahkan untuk dijadikan senjata), kalau tidak, Kuroko harus berperang dengan mamalia omnivora itu dalam hal berebut tempat yang paling strategis untuk mendapatkan salmon.
Benar saja, ketika Kagami sampai di muara, ia segera mendapati Kuroko yang bertelanjang dada, tengah berkecimpung di air sambil memeluk ikan-ikan salmon besar di kedua belah tangannya. Ia sampai harus membungkuk karena sepertinya kedua ikan itu terlalu berat untuk diangkut lengan kecilnya itu bersamaan.
"Dasar, ia tak pernah pikir-pikir dulu kalau menginginkan sesuatu," Kagami tertawa tertahan melihat wajah Kuroko yang terlihat tunggang hati itu. Jarang-jarang ia berekspresi secara terbuka seperti itu. Mungkin itu karena Kuroko merasa sedang sendirian, jadi ia bisa melepaskan semua tata krama yang masih mangikatnya sampai sekarang, bahkan saat berbincang dengan Kagami. Padahal Kagami sudah bilang kalau Kuroko harus lebih santai.
Ketika Kagami sibuk memperhatikan ekspresi Kuroko yang begitu hidup itulah, ia merasakan sesuatu dalam hatinya. Semburat cahaya senja yang menyelimuti Kuroko dan air di sekitarnya membuat anak itu terlihat lebih berkilauan. Padahal namanya 'Kuroko', tetapi bagi Kagami, saat itu ia menyadari betapa terangnya Kuroko, dan arti Kuroko dalam dirinya.
"Kagami-kun adalah cahayaku."
Pernah suatu ketika Kuroko tiba-tiba berkata demikian, membuat Kagami heran bukan kepalang. Padahal Kagami itu orang yang pikirannya sederhana, mana bisa ia mengerti saat Kuroko sedang dalam suasana hati untuk bermain kata-kata yang sukar dimengerti maknanya?
Kuroko yang sepertinya memahami kebingungan kagami tertawa pelan. "Saat malam yang gelap dan dingin, ketika aku merasa takut serta kehilangan arah, aku hanya perlu mengingat bahwa Kagami-kun ada di sisiku. Lalu, kontan aku merasa aman dan hangat sebab… Kagami-kun pasti akan membimbingku melalui jalan penuh cahaya yang mengobarkan semangat," lanjut si surai biru terang itu dengan mudahnya. Bola mata aquamarine-nya menatap Kagami lurus tanpa keraguan, dan saat itu juga Kagami berjanji bahwa itulah yang akan ia lakukan untuk menjawab kepercayaan Kuroko tersebut.
Namun, waktu itu Kagami juga menganggap bahwa Kuroko adalah 'langit'-nya. Kalau dia adalah cahaya bagi Kuroko, maka Kuroko adalah langit di mana cahaya itu berpendar. Tanpa Kuroko, Kagami tak akan bisa bersinar dengan bebas.
Mengingat itu membuat Kagami ingin tersenyum lagi. Tadinya ia ingin memanggil Kuroko untuk menepi, tetapi Kagami membatalkan niatnya. Makan malam masih bisa menunggu. Ia memutuskan untuk bergabung dengan Kuroko, bergelimang di tengah cahaya yang menyilaukan itu.
"Kagami-kun?" Kuroko sepertinya menyadari keberadaan Kagami saat ia menoleh ke arahnya. Kagami hanya tersenyum lembut sembari menanggalkan pakaiannya yang akan terasa berat kalau basah.
Kuroko sedikit melebarkan matanya menatap Kagami yang berjalan perlahan memasuki sungai, mendekatinya, tanpa melepaskan pandangan matanya dari manik Kuroko. Pemuda belia bersurai biru terang itu pun hanya bisa terus mengawasi Kagami yang kini hanya berjarak beberapa senti di depannya.
Kagami mengangkat tangan kanannya perlahan, mengusap helai poni Kuroko yang menutupi dahinya dengan lembut. "Kau tidak kedinginan?" tanya Kagami dengan suara yang direndahkan. Tangannya kini membingkai pipi kiri Kuroko yang halus, tatapan matanya pun bergeser ke bibir mungil Kuroko yang sewarna dengan kelopak bunga sakura dan sedikit terbuka itu.
Tak sengaja, Kuroko menjatuhkan salmon-salmon tangkapannya kembali ke air. "Eh?" Rona kemerahan menghiasi pipi Kuroko saat mata rubi Kagami kembali fokus pada manik aquamarine-nya lekat-lekat. "Ka-… Kagami-kun…?"
"Apa kau ingin… kuhangatkan?" bisik Kagami dengan suara dalam, membuat tubuh Kuroko bergelenyar sesaat di bawah sentuhan tangan kanan Kagami, yang entah sejak kapan telah melekat di pertemuan pundak dan lehernya.
"Eh… tu-tunggu, Kagami—!"
Suara Kuroko tercekat ketika Kagami mendekap tubuhnya erat-erat. Degup jantungnya bergemuruh di rongga dada dan menjalar sampai telinganya, tetapi ia juga bisa merasakan sensasi debar jantung Kuroko yang semakin cepat dan keras dalam lengannya. Kulit Kuroko yang seputih salju terasa agak dingin karena ia lama berada di air, tetapi Kagami percaya diri panas tubuhnya akan bisa menaikkan suhu tubuh Kuroko juga, apalagi di saat seperti ini.
"Kagami-kun… kenapa…?" bisik Kuroko lirih, suaranya gemetar, terdengar sedikit takut.
"Aku juga tak tahu... yang kutahu sekarang adalah aku ingin memelukmu," aku Kagami perlahan.
"Eh?" Kuroko sepertinya masih belum mengerti.
"Kalau kau tak menginginkannya, kau harus melawan dengan lebih keras, Kuroko… Kalau tidak, aku tidak akan berhenti," lanjut Kagami sambil berbisik juga, mengeratkan pelukannya di tubuh Kuroko yang lebih kecil dan ramping darinya itu. "Aku… tak akan melepaskanmu meskipun kau memohon, Kuroko. Jadi… pukul dan tendang aku kuat-kuat kalau kau memang benar-benar tak menyukainya."
Kagami menarik tubuhnya sedikit, merengkuh bagian belakang kepala Kuroko yang matanya masih terbellak itu, dengan tangan kanannya sebelum mendekatkan wajahnya ke wajah Kuroko dan kontan melumat bibirnya dengan lembut. Tangan Kirinya melilit pinggang Kuroko dengan erat, merapatkan tubuh bagian atas mereka yang tak berbusana, menghimpitkan kulit mereka untuk bertukar bara.
Lalu Kagami menunggu dan menunggu hingga pemudia kecil yang ada dalam dekapannya itu bereaksi, entah itu untuk menghantamnya atau mendendangnya. Sesungguhnya Kagami tidak tahu apa yang ia lakukan. Ia hanya menginginkan Kuroko. Ia sangat mengidamkan Kuroko sampai ia tak tahu harus bagaimana.
"Nnh…!" Kuroko yang tadinya tak mampu bergerak karena sangat terkejut dalam rangkulan penuh hasrat Kagami lalu melenguh, mendesah perlahan seraya menutup mata dan hanya bisa mengangkat kedua tangannya sebelum kemudian melingkarkan lengannya di leher Kagami, menariknya untuk lebih mendekat lagi, mempersempit jarak mereka sampai tak tersisa semilimeter pun.
Ia membalas ciuman Kagami dengan gairah yang tak kalah dengan renjana yang Kagami persembahkan untuknya. Kagami tersenyum tipis dan lega dalam ciumannya, merasa bahwa perasaannya untuk Kuroko berbalas. Bermaksud memperdalam hubungan mereka dengan memanfaatkan organ pengecapnya untuk menjilat bibir bawah Kuroko, ia meminta sang kekasih untuk membuka mulut kecilnya yang hangat.
"Ah," Kuroko terhenyak sejenak, tanpa sengaja membuka mulutnya, menyanggupi permohonan tersirat Kagami dan mempersilakan lidah Kagami masuk untuk menginvasi dan menjelajah ke dalam dirinya, menyentuh kelembutan muara wicara Kuroko dari atas ke bawah, dari langit-langit ke gigi, lalu ke gusi, serta mencicipi kelezatan yang belum pernah Kuroko izinkan siapapun kecuali dirinya untuk mengecapnya. Kagami serasa melayang di awan, sungguh keracak bahwa ia adalah yang pertama bagi Kuroko dan Kuroko adalah yang pertama baginya.
Lidah Kagami terus berulah, menggeliat dalam mulut Kuroko, membuat Kuroko berdesah dengan nafas-nafas pendek yang memburu dan membuat erangan-erangan tertahan yang begitu seksi di telinga Kagami. Ia juga membujuk dan menggoda lidah Kuroko untuk bergerak bersamanya. Dengan malu-malu, akhirnya Kuroko mengikuti contoh Kagami dan menggoyang lidahnya, memelintir dan memutar, menyentuhkannya dengan milik Kagami, layaknya mengikuti irama dansa Waltz yang penuh makna dan gairah sehingga esensi mereka membaur. Lelehan saliva bergulir dari sudut bibir Kuroko yang masih dikuasai Kagami, menandakan betapa panas dan dalamnya ciuman mereka.
Keduanya tak ingin memutuskan ikatan penuh hasrat dan kenikmatan tersebut. Namun, apa daya manusia yang membutuhkan respirasi untuk bertahan hidup. Kebutuhan oksigen yang seolah-olah membakar paru-paru mereka memaksa Kagami dan Kuroko untuk memisahkan hubungan setersebut, sebelum kembali menautkan bibir mereka dengan gairah baru yang lebih membuncah dan memanas.
"Ah, ahah… Ka- ah!- gami-kuhn…!" Kuroko mengerang lagi dengan suara rendah yang sangat menggiurkan, membuat Kagami makin mabuk kepayang. Ia pindahkan ciuman-ciuman terbuka dari bibir ke pipi, ke dagu, lalu ke bawah dagu di mana Kagami menemukan pulsasi di leher Kuroko sebelum kemudian ia menggigit ringan dan mengisap kulit sensitif tersebut. "Aaahn!"
Kuroko merintih keras, tubuhnya menegang saat sepertinya ia merasakan sensasi kenikmatan yang membuatnya merinding dan Kagami makin bernafsu untuk berlaku lebih jauh dalam menyentuh dan menjamah tubuh belianya yang indah dan masih suci itu.
"Hah, ah… Kagami-kun… ah!"
Suara-suara sengal dari tenggorokkan dan hembusan-hembusan nafas seksual yang cepat terus menemani pergerakan gejolak mereka, bahkan sampai menimbulkan riak-riak kecil di permukaan air sungai selagi mereka memadu cinta. Kuroko menggantungkan diri sepenuhnya pada kekuatan dekapan Kagami karena Kakinya sedikit goyah, lututnya gemetar seolah tiada kekuatan yang bisa menopang berat badannya lagi.
"Kuroko…" Di tengah-tengah kegiatan mendebarkan penuh kasih dan birahi itu, Kagami mendesahkan nama Kuroko dengan sayang, memanjakan tubuh dan hati Kuroko dengan ungkapan-ungkapan cinta melalui tindakannya, mengklaim Kuroko sebagai miliknya dan hanya miliknya seorang.
"Aku mencintaimu, Kuroko…"
Kagami tidak tahu apakah itu ungkapan perasaan yang tepat untuk menggambarkan hasratnya terhadap Kuroko, tetapi ia tak terlalu peduli dengan hal itu karena memang pada saat itulah Kuroko telah menjadi seseorang yang paling penting dan berharga dalam hidup Kagami di dunia fana ini. Arti keberadaan Kuroko di sampingnya adalah sesuatu yang nyata ia butuhkan, dan Kagami tak ingin… tak akan kehilangan Kuroko untuk alasan apapun.
"Tetaplah di sisiku…"
"Ah, ahn~ Kagami-kun!"
Ketika Kagami menghujamkan pedang kejantanannya dan menorehkan warna benihnya dalam diri Kuroko untuk pertama kalinya, Kuroko menjeritkan namanya dengan eloknya, bagaikan bunga yang mekar dengan cantiknya di musim semi, dan selayaknya Kagami menandai Kuroko dengan lebam-lebam kiss-mark di seluruh tubuhnya, kuku-kuku tumpul Kuroko juga terbenam dalam kulit punggung Kagami, menggoreskan luka cakar yang menjadi pertanda bahwa Kagami juga adalah miliknya seorang.
Aku tak akan pernah melepaskanmu…
Itulah janji Kagami dalam hatinya ketika ia menjadi satu dengan Kuroko. Di bawah tetesan cahaya lembut bulan purnama yang kini merekah di selimut gelap bernama langit malam, cinta kedua insan berpadu, menjadikan malam itu sebagai momen terindah yang sangat agung bagi keduanya…
Bersambung…
Catatan tambahan:
(1)Itadakimasu: ekspresi 'itadakimasu' adalah kependekan dari sebuah doa agama Shinto yang artinya jauh lebih dalam, yaitu 'terima kasih atas nyawa yang dikorbankan untuk aku makan dan nyawa tersebut akan menjadi bagian dari diriku untuk terus menjalani hidup'.
(2)Ka Gami: Kanji huruf Kagami juga bisa dibaca sebagai 'Api' dan 'Dewa'.
(3)Kuroko Tetsuya: Kanji Kuroko artinya 'orang hitam' atau 'pakaian hitam', sedang Tetsuya adalah nama yang sangat maskulin, dalam tulisan lain 'tetsu' juga bisa berarti 'besi' atau 'kesetiaan baja' (keterangan diambil dari wikipedia).
A/N: Uh, baiklah. Luna mengaku kalau luna terlalu terbawa suasana dalam membuat fan-servis KagaKuro (habis luna demen pairing ini!). Maaf bagi yang bukan penggemar smut tersirat. Luna sungguh tak bisa menulis dengan lebih subtle lagi dari ini. Kalau bahasanya terlalu vulgar, apa boleh buat, luna minta maaf. Luna naikkan rating fic ini jadi M khusus untuk bagian ini saja. Ahem, karena di capter ini penjelasan siapa Kuroko masih belum jelas, akan dilanjutkan di capter selanjutnya… mohon ditunggu saja yah, heheh. Nah, sekarang feedback time, readers! Luna baru bisa semangat nulis kalau ada pendapat dari para pembaca juga! XD
