Disclaimer: Not mine.
Warning : OOC (perhaps), Boring, esw.
Rated : Masih aman di tempatkan di T
...
Enjoy Yourself!
...
Luna Rossa
Beginning : Tre
...
Uzumaki Naruto mengintip dari balik pintu Hall yang menjulang tinggi, di sana telah banyak berkumpul sosok berjubah warna-warni. Ia menghela napas, dan kemudian berpikir kembali, ada apa gerangan sang High Lord memeritahkan para Srega, Undici, Umani speciali dan beberapa ras lainnya berkumpul di Hall? Ya, nampaknya dia harus menunggu hingga sang High Lord tiba di Hall, yang pasti dia tahu ini sangatlah penting.
Pemuda dengan rambut blondenya yang jabrik itu mendorong pintu Hall dan suasana bising menyambutnya. Tak ada yang menghiraukan kedatangannya, karena mereka sibuk dengam kegiatannya masing-masing. Bola mata turqoisenya memerhatikan sekeliling dan kedua sudut bibirnya tersenyum senang saat didapatinya seorang pemuda berjubah cokelat dan berambut yang diikat ke atas seperti nanas dan berwarna senada dengan jubahnya sedang duduk di kursi barisan dan terkantuk-kantuk. Naruto menghampiri temannya itu dan menepuk pundak pemuda itu setelah duduk di sebelahnya.
"Shikamaru!"
Pemuda bernama Shikamaru itu membuka matanya dan menoleh ke arah Naruto.
"Apa?" tanyanya malas sembari menguap.
Naruto memperlihatkan cengirannya. "Ah, tidak. Apakah kau tahu mengapa kit—"
Bersamaan dengan itu, pintu Hall terbuka dan seketika ruangan menjadi sunyi senyap saat didapati seorang pemuda berwajah datar dan mengenakan jubah berwarna hitam itu masuk. Hal yang sudah menjadi lumrah.
.
.
.
"Kurasa kalian sudah mendengar bahwa sang Principessa telah ditemukan. Dan juga mendengar bahwa beberapa Søkere hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk berhasil menemukan buku Mēnešus." Suaranya yang dingin itu menggema di dalam Hall. Obsidiannya memandang para sosok berjubah yang kini tengah menggumamkan sesuatu, entah itu kepada sosok berjubah yang berada di pinggirnya, di depannya, maupun di belakangnya. Kini sepasang bola mata obsidian yang tajam itu beralih ke sisi tempatnya duduk berada—ke tempat di mana para sosok berjubah lusuh dengan kerutan-kerutan di wajahnya karena termakan usia serta jenggot-jenggot putih yang menjuntai dari dagunya—tengah menggumamkan sesuatu dalam bahasa kuno.
Sang High Lord berdeham dan suasana dalam ruangan seketika menjadi sunyi kembali.
"Berdasarkan ramalan Chiyo, ketika seseorang dengan kekuatan besar akan lahir. Dan kekuatan itu akan mengubah segalanya jika sang pemiliknnya tak dapat mengontrol kekuatannya. Kini, sang pemilik kekuatan itu telah ditemukan—sang Principessa. Dan, Vesperia Lighting telah bergerak satu langkah lebih cepat dari yang kita kira."
"Apa rencana kita?" Sosok berjubah hijau angkat yang duduk di deretan tengah memecah kesunyian setelah sang High Lord berbicara beberapa detik yang lalu.
Sang High Lord terdiam sesaat.
"Pertanyaan yang sama yang dilontarkan Raven. Ya, kita hanya menunggu. Menunggu hingga Vesperia Lighting bergerak kembali. Aku yakin, mereka akan membuka pintu kekuatan sang Principessa. Untuk saat ini, kita amati terlebih dahulu rencana Vesperia Lighting. Setelah itu, saat waktunya tiba—" Sang High Lord mengibaskan jubah hitamnya, "—saat itulah kita bergerak."
.
.
.
"Ayolah, Ino. Aku sudah sehat, sangat sehat. Aku bosan berada di rumah terus menerus sepanjang hari," Haruno Sakura mendudukkan bokongnya pada sofa berwarna krem yang di belakangnya terdapat jendela besar dengan tirai putihnya di telinganya tersemat perangkat Bluetooth.
Di tempat lain, temannya Ino berdecak kesal. "Sekali tidak tetap tidak! Kau harus memanfaatkan sisa liburanmu, Sakura. Dan, mengapa kau tak keluar kota saja? Kurasa itu bisa mengatasi kebosananmu."
Tangan Sakura terjulur ke tirai dan menariknya ke pinggir sehingga dia dapat melihat keadaan di luar. Di luar tampak sepi—mungkin jika di kota cuaca cerah saat ini, orang-orang akan berkumpul di kafe dan memesan minuman dingin, berenang mungkin, ataupun bersantai-santai di taman kota dan duduk di bawah pohon rindang sembari mendengarkan alunan lagu dengan genre yang beragam—, karena memang rumahnya berada agak jauh dari pusat kota.
"Aku tak ingin membuang-buang bensin mobilku, Ino. Aku sedang berhemat," Dia mengambil cangkir berisi Moccachinonya dari atas meja yang dibuatnya sebelum dia mendapat telepon dari teman berambut blondenya itu. Tiba-tiba matanya menangkap sebuah siluet yang berdiri di bawah pohon yang berada di seberang pagar rumahnya. Dia mengerjap-ngerjap untuk mengusir bintik-bintik hitam yang menari-nari di depan mata karena cahaya hangat berawarna kuning itu terpantul ke matanya, dia menyaksikan sosok orang berdiri di sana. Rambutnya berwarna merah dan berantakan.
"Hei, Sakura! Kau mendengarku?" suara dari seberang itu membuat dia mengalihkan pandangannya.
"Ah, iya. Sudah ya, nanti kutelpon lagi. Bye!" Sakura menutup telepon, melepas earpiece-nya. Kemudian, dia memandang kembali sosok yang masih berdiri di seberang pagar rumahnya.
Ada sesuatu...
Sakura tak yakin dengan apa yang dipikirkannya. Tapi, ia merasa ada yang janggal. Dia tersentak saat tiba-tiba seseorang itu menatapnya.
Oh tidak, ia tak yakin apakah sosok itu memang melihatnya—memandangnya, di balik kaca yang memantulkan sinar terang dari matahari.
Tetapi, untuk sekejap ia memang merasa bahwa pandangan mereka saling bertemu. Seketika bulu-bulu halus lengannya meremang. Sakura bergidik. Kontak mata mereka hanya berlangsung selama beberapa detik sebelum wajah sosok itu berpaling. Dan Sakura harus meyakini bahwa untuk sesaat tadi mereka melakukan kontak mata.
.
.
.
Sakura menenteng kantong plastik berisi beberapa sayuran dan buah-buahan. Dia baru saja keluar dari salah satu supermarket. Dia merogoh saku jaketnya, mengambil kunci mobil, tetapi saat hendak menekan tombol, dia mengurungkan niatnya dan menyimpan belanjaannya di atas aspal, kemudian berjongkok dan menggerutu kesal saat didapati ban mobilnya kempis. Padahal sebelumnya, dia telah mengecek keadaan mobilnya—hal yang biasa dia lakukan sebelum bepergian kemanapun—dan mobilnya dalam keadaan baik-baik saja. Dia berdiri dan mengeluarkan ponsel flipnya. Dia menekan tombol dial setelah terlebih dahulu mencari nama kontak Ino di ponselnya.
Sakura menutup ponsel flipnya dengan kasar saat suara mesin penjawab telepon yang mengangkatnya. Hingga sebuah tepukan mendarat di bahunya membuat dia terlonjak kaget dan membalikkan badan ke belakangang.
Di sana, berdiri seorang pemuda dengan bola mata jadenya yang memandang Sakura bingung. Rambut merah batanya yang berantakan seakan mengingatkan sesuatu pada ingatan Sakura.
"Butuh bantuan?" tawarnya.
Sakura memandang pemuda berambut merah bata itu dengan bingung. Sekilas, dia dapat mencium aroma Sand dan Cinnamon merambat ke indera penciumannya.
Sakura tersenyum kikuk ke arah pemuda itu. "Err... ban mobilku kempis."
Pemuda itu mendekati mobil Sakura dan berjongkok melihat keadaan ban itu.
"Sepertinya bukan kempis tapi bocor. Hm, di sini tak ada bengkel yang dekat. Bagaimana jika kau pulang bersamaku?" tawarnya lagi.
Sakura menimbang-nimbang. Hei, dia baru saja bertemu dengannya. Bukankah dia orang asing?
"Bagaimana?" tanyanya sembari tersenyum tipis ke arah Sakura.
"Ugh... baiklah."
Pemuda itu tersenyum—menyeringai lebih pas—lalu, menarik lengan Sakura menuju tempat parkir mobilnya sebelum terlebih dahulu membawa belanjaan Sakura.
.
.
.
"Terima kasih, ehm..."
"Sabaku Gaara."
Sakura menganggukkan kepalanya, "Ya. Terima kasih, Sabaku-san."
"Gaara saja."
"Oh, oke."
Keadaan menjadi hening. Dan Sakura tak suka. Dia melihat ke arah luar jendela mobil yang bergerak. Dia masih bingung, mengapa dia mau saja diantar oleh seseorang yang tak dia kenali? Entahlah, tapi dia merasa bahwa orang ini—Gaara—tak akan menyakitinya. Oke, mungkin itu hanyalah presepsi sesaatnya. Tapi, tetap saja meskipun dia merasa jika orang ini tak akan menyakitinya. Ada sesuatu... ada sesuatu yang terasa janggal. Dia menggelengkan kepalanya, membuat pemuda yang duduk di balik kemudi itu meliriknya dengan pandangan heran.
"Kau tak apa?" tanya Gaara.
"Eh? Ah iya, aku tak apa-apa." Sakura tersenyum malu.
Kemudian mobil itu berhenti bergerak tepat di depan pagar rumahnya. Sakura membuka pintu mobil dan turun diikuti dengan Gaara yang setelahnya membuka pintu mobil belakang dan membawa belanjaan Sakura.
"Terima kasih, Gaara. Aku tertolong sekali."
Gaara hanya tersenyum simpul dan mengucapkan sama-sama.
"Aku harus segera pergi. Senang berkenalan denganmu, Haruno Sakura," ucapnya sebelum ia masuk ke dalam mobilnya dan melajukan mobil fordnya itu dan Sakura meresponnya dengan anggukkan dan senyuman.
Sakura membuka pagar rumahnya dan masuk ke dalam.
Setelah menyimpan belanjaan, dia segera duduk di teras belakang rumah. Dan tiba-tiba sesuatu menghantam kesadarannya. Ya, kejanggalan lagi yang dia dapat.
Mengapa Gaara tahu alamat rumahnya dan namanya padahal dia belum mengatakannya sama sekali sepanjang perjalanan menuju rumahnya bahkan saat di parkiran pun. Dia berani bersumpah bahwa dia belum pernah mengatakan identitas dan alamat rumahnya pada Gaara. Sakura merasakan pelipisnya berkeringat, ia mencoba menenangkan jantungnya yang kini berdetak lebih cepat. Dia memejamkan matanya, semoga ia salah. Semoga.
...
To be continued
...
Author Talks:
Whoaaaaaa... akhirnya bisa update juga. maaf lama sekali. Yang chap ini pasti membosankan. *pundung* Oh iya Happy Birthday buat si Sasu-ayam. Telat 5 hari. hihi... terus, terus, semoga masih ada yang menunggu update-an fict ini. Rie harap semoga gak terlalu mengecewakan. Gak akan banyak yang akan di tulis di AT ini. Chap depan akan di jelasin tentang sebutan-sebutan yang aneh-aneh itu dengan seiring dengan berjalannya plot. hehe~~~ Semiga chap ini gak parah-parah banget ya? :3
Mille Grazie buat :
Sasusaku, me, Rizuka Hanayuuki, vvvv, debooohhh, Maemi Ayabito, 4ntk4-ch4n, Violet7orange, Kim Geun Hyun, Sasusaku, Kazuma B'tomat, 7color,
Mille Grazie juga buat yang ngefave dan sider. :3
Maaf gak bisa balesin Reviewnya. *ojigi*
Thanks udah ngeluangin waktunya. ^^
