Mungkin, ini hanya mungkin, ingatan Sehun tentang Luhan terekam dalam sebuah kaset, dan kaset yang berisikan ingatan Sehun hilang dicuri oleh seseorang. Maka dari itu, Sehun tidak dapat mengenal sosok Luhan. Kaset itu hilang, Ingatan Sehun tentang Luhan hilang. Tidak ada yang bisa disalahkan memang. Yang bisa Luhan lakukan hanyalah mencari pencuri itu dan merebut kaset itu kembali, agar semuanya kembali seperti sedia kala.

.

.

.

Chapter 4

Author : Xiaolulan

Rated : T

Genre : Angst, Drama, etc

Cast(s) : Oh Sehun, Xi Luhan, Wu Yi Fan, Kim JongIn, Do KyungSoo

Pair : HunHan/ SeLu

Warning : Typo(s), Bad summary, Bad story

Disclaimer : I'm not own anything except this story and the plot. They're belong to God and Themselves.

Summary : Ketika sebuah ingatan tentang orang yang dicintainya lenyap, ketika otaknya tak mampu mengingat Luhan. Namun hati Sehun masih mengenali Luhan. Melindungi dan Mencintai sosok itu- EXO - Sehun/Luhan - HunHan.

.

.

.

"Lu, aku mencintaimu," Ucap Sehun tersenyum lembut.

Luhan tercekat. Ia sama sekali tidak menyangka Sehun akan mengatakan hal itu. Luhan dapat merasakan wajahnya yang mulai memanas. Luhan senang, ya, sangat senang.

Ini kedua kalinya Sehun mengucapkan pernyataan seperti itu, dan situasinya masih sama. Hujan, dan mereka berada dibawah satu payung yang sama.

Tetes-tetes air mata itu semakin deras membanjiri pipi Luhan.

"Sehunnie, kau sudah berhasil membuatku terjatuh, bahkan sebelum kau mengucapkan kalimat itu,"

"Aku ju—,"

Luhan menghentikan ucapannya saat menangkap sosok Yifan yang memperthatikan mereka dari kejauhan melalui sudut matanya.

Yifan menyeringai.

1 detik, 2 detik, 3 detik...

Payung itu terlepas dari genggaman Luhan. Payung itu mulai hancur diterjang oleh kuatnya sang angin.

Tubuh Luhan bergetar, wajahnya mulai memucat. Ia lupa bahwa ia telah berjanji pada Yifan untuk tidak menatap Sehun lagi.

Sehun yang menyadari perubahan ekspresi wajah Luhan menjadi bingung.

"Lulu, kau kenapa? Kau sakit?," Tanya Sehun khawatir. Ditempelkannya dahinya pada dahi Luhan, mencoba mengecek suhu tubuhnya.

Refleks, Luhan mendorong tubuh Sehun sehingga ia terjatuh.

"S-Sehun...," Panggil Luhan

"Lu? Kau baik-baik saja?,"

"M-maafkan aku,"

Hanya satu kalimat itu yang mampu ia ucapkan sebelum Luhan berlari meninggalkan Sehun yang masih kebingungan.

Luhan tidak ingin menyerah. Tapi pada akhirnya ia tetap menyerah.

Seringaian kembali terlukis di wajah tampan Yifan.

.

Sudah 2 minggu mereka tidak berkomunikasi.

Sehun selalu berusaha menghubungi Luhan, namun sia-sia. Pesan singkat yang ia kirimkan tidak pernah terbalas. Panggilannya tidak pernah dijawab.

Sehun juga pernah mengunjungi kediaman Luhan, tapi percuma, Luhan sudah pindah dari apartemennya.

"Sial," Umpat Sehun pada tak seorangpun tapi dirinya sendiri.

.

Takdir selalu berbaik hati untuk mempertemukan mereka dalam sebuah kebetulan.

Sehun baru saja selesai dengan kegiatan di kampusnya. Ia kelaparan, dan rumahnya masih jauh. Karena itu ia memutuskan untuk mampir disebuah cafe yang ia lewati, bermaksud untuk memberi cacing-cacing diperutnya sedikit nutrisi agar diam.

Diparkirnya motornya di sebuah cafe yang cukup ramai oleh para pembeli, dilepaskan helm-nya, kemudian dilangkahkan kakinya menuju cafe itu. cacing-cacing diperutnya sudah tak sabar lagi untuk diberi makan.

Dibukanya pintu cafe. Ada, ada seseorang di meja kasir yang sedang sibuk menunduk menulis pesanan pembeli yang mampu membuat nafas Sehun terhenti selama beberapa detik. Mata Sehun tak pernah lepas darinya, seolah seseorang itu telah berhasil menjerat Sehun.

Luhan.

"Selamat datang! Anda ingin memesan a –," Luhan mulai mengangkat kepalanya dan mengulas senyum saat pembeli berikutnya datang, namun senyum itu hilang saat dilihatnya siapa yang datang.

"Sehun...,"

Luhan hendak saja menghindari Sehun untuk kesekian kalinya, namun dengan cepat Sehun menjerat tangannya.

"Ada sesuatu yang ingin kubicarakan denganmu, Luhan," Ucap Sehun langsung.

"A-aku sedang bekerja, ja—,"

"Akan kutunggu,"

"Aku tidak ingin kehilangan jejakmu lagi. Jangan menghindariku lagi, tolong. Kau tahu kau bisa membicarakan segalanya denganku, aku akan mendengarkanmu. Jika aku yang salah, kau boleh menghina atau memakiku, kau juga boleh menamparku. Tapi tolong, jangan hindari aku seperti ini, Lu," Lanjut Sehun.

Ada sebongkah batu sangat besar yang menyerang Luhan. Sakit. Sakit mendengar Sehun berkata seperti itu.

"Tidak saat ini, aku selesai kerja nanti malam. Kita bisa bicara esok hari," Tolak Luhan.

"Tidak, harus hari ini. Kau bisa saja pindah kerja, dan esok hari aku tidak akan berhasil menemukanmu disini lagi. Tenang saja, akan kutunggu kau sampai jam berapapun itu,"

Sehun mengedarkan pandangannya kesekitar, mencari sebuah meja kosong yang tidak terhampiri oleh pengunjung lain. Dan ada sebuah meja dengan kursi kosong di sudut ruangan.

"Akan kutunggu kau disana, Lu,"

Setelahnya Sehun berjalan menuju sebuah kursi kosong disudut ruangan dan duduk disana. Menunggu dan mengamati Luhan dari sudut ruangan.

.

Jam tangan Luhan menunjukkan jam 8 tepat. Itu artinya jam kerja Luhan sudah berakhir. Itu artinya iya harus menyiapkan hatinya untuk bertemu dengan Oh Sehun.

Luhan menyeret langkahnya menuju meja tempat Sehun menunggunya.

Sehun disana. Dengan kedua tangan diatas meja, dan kepala menelungkup pada kedua lengan panjang itu. Suara deru nafas yang dihasilkan Sehun terdengar damai. Ia tertidur.

Dielusnya rambut hitam Sehun dengan lembut, membuat Sehun sedikit melenguh dalam tidurnya.

"Sehun," Panggil Luhan sembari menarik kembali tangannya.

"Em...," Sehun mulai membuka matanya. Wajahnya terlihat sangat mengantuk. Dengan malas dikucek matanya dengan sebelah tangannya.

"Aku sudah selesai,"

Kantuk Sehun sirna saat dilihatnya Luhan berdiri dihadapannya.

Ditariknya sebelah tangan Luhan berjalan keluar, seolah takut Luhan akan menghindarinya lagi. Malam ini masalah ini harus selesai, batin Sehun. Dilepaskannya jaket yang membungkus hangat tubuh Sehun, kemudian diberikannya jaket itu pada Luhan.

"Pakailah, malam ini dingin sekali,"

"Aku tidak mau,"

"Pakailah," Paksa Sehun.

"Tidak mau. Kau saja yang pakai,"

"Jangan keras kepala, Lu. Aku yang mengajakmu untuk bicara di malam hari yang dingin seperti ini. Jadi aku yang harus bertanggung jawab supaya kau tidak kedinginan,"

Luhan cemberut. Dengan malas dipakaikan jaket Sehun itu ditubuhnya. Kedua sudut bibir Luhan sedikit terangkat keatas saat hidungnya menangkap aroma yang ia rindukan. Wangi itu masih sama.

"Naiklah, Lu,"

Luhan mengangguk mengerti dan menaiki motor Sehun.

"Kita mau kemana?," Tanya Luhan.

Sehun menghiraukan pertanyaan Luhan dan mulai melajukan motornya. Menerjang dinginnya angin malam.

.

Taman itu lagi.

Motor Sehun berhenti di sebuah taman yang sudah tidak asing lagi. Luhan turun dari motor Sehun dengan sedikit melompat, menghasilkan suara debuman kecil saat sepatunya menginjak permukaan tanah yang berdosa.

Luhan duduk di sebuah kursi di taman itu, Sehun mengikutinya dan duduk disebelah Luhan. Saat ini keheningan menjadi orang ketiga diantara mereka. Tidak ada yang berniat untuk membuka pembicaraan. Tidak ada yang berniat mengusir keheningan yang ada diantara mereka. Hanya ada Xi Luhan, Oh Sehun, dan keheningan yang transparan.

"Bicaralah. Bukannya ada sesuatu yang ingin kau bicarakan," Luhan adalah orang pertama yang mengusir keheningan.

Oh Sehun meneguk air ludahnya sebelum berkata.

"Lu, kemana saja kau selama ini?,"

"Tidak kemanapun,"

"Kenapa kau menghindariku?,"

"Aku tidak menghindarimu,"

"Kenapa kau mengganti nomor ponselmu, Lu?,"

"Tidak apa-apa,"

Sehun menggeram pelan, sedikit kesal dengan jawaban asal Luhan.

"Luhan, aku tidak butuh jawaban asal seperti itu!," Sehun tidak sadar bahwa ia telah menaikkan nada suaranya.

Luhan terperanjat, kaget dengan suara tinggi Sehun.

"M-maafkan aku," Ujar Luhan menundukkan kepalanya.

Sehun menghembuskan nafasnya berat, kemudian ditariknya tubuh mungil Luhan kedalam pelukannya. Luhan sedikit kaget saat Sehun tiba-tiba memeluknya, tapi beberapa detik kemudia ia bisa beradaptasi. Sehun mengistirahatkan dagunya pada puncak kepala Luhan.

"Tidak. Maafkan aku karena sudah berteriak tadi," Ucap Sehun pelan

"Bahkan kau sampai pindah apartemen. Aku juga tidak pernah menemukanmu di taman ini lagi. Selama ini kau dimana, Lu?,"

"Di apartemen Yifan. Aku tinggal disana sekarang, dan aku tidak punya urusan lagi untuk berada di taman ini lagi,"

Yifan. Sehun agaknya lupa bahwa Luhan adalah kekasih Yifan. Ini berarti salahnya karena ia jatuh cinta pada orang yang salah, pikir Sehun.

"Jadi, Yifan yang melarangmu untuk bertemu denganku? Apakah ini karena aku menyatakan perasaanku 2 minggu yang lalu? Hingga kau mengganti nomor ponselmu, pindah tempat tinggal, dan menghindariku?,"

"Maaf, Lu. Maafkan aku. Maafkan aku karena menyatakan perasaanku di hari itu. Maafkan aku karena aku jatuh cinta padamu, aku jatuh cinta pada orang yang salah, Maafkan aku Luhan," Lanjut Sehun.

Luhan melepaskan pelukan Sehun. Sakit, terlalu dalam rasa sakit yang ia rasakan saat Sehun mengucapkan kalimat itu. Sakit mendengar Sehun meminta maaf karena ia jatuh cinta padanya. Dan puncak rasa sakit itu adalah saat Sehun mengucapkan ia jatuh cinta pada orang yang salah, pada Luhan.

Air mata itu sudah membanjiri pipi mulus Luhan dengan derasnya.

"Aku tidak meminta kau untuk jatuh cinta padaku Oh Sehun. Maaf, karena aku adalah orang yang salah. Maaf karena aku adalah orang yang salah itu, maaf karena aku adalah orang yang kau jatuh cintai. Dan maaf, karena aku dengan bodohnya mencintaimu sejak awal. Walaupun aku sudah menjadi orang asing bagimu, aku dengan bodohnya masih tetap mau mencintaimu. Aku benci kau dan penyakit amnesia bodohmu itu,"

Luhan menarik kerah kemeja Sehun, dan mempertemukan kedua bibir mereka kilat.

"Aku benci pada kau, Oh Sehun!"

Luhan berlari meninggalkan Sehun tanpa memberikan kesempatan bagi Sehun untuk berbicara. Luhan tidak ingin mendengar ucapan Sehun yang menyakitkannya lagi.

Mungkin memang Sehun adalah seorang yang bodoh, sangat.

.

Di luar hujan dan hari sudah menunjukkan jam 1 dini hari, tapi Luhan belum juga kembali. Yifan sudah berkali-kali mencoba menghubungi Luhan, tapi sia-sia. Ia khawatir.

'Tingtong~,'

Suara bel. Yifan bangkit dari duduknya dan membuka pintu, berharap itu adalah Luhan.

Dan tepat, orang yang menekan bel barusan adalah Luhan. Kondisi Luhan sangat kacau. Tubuhnya basah kuyup karena hujan, matanya memerah dan sembab, tubuhnya bergetar kedinginan, bibirnya pun mulai membiru.

Dengan cepat, ditariknya Luhan ke dalam apartemen mereka. Dibiarkannya Luhan mengganti pakaiannya yang basah kuyup itu. Yifan menaikkan suhu pemanas ruangan dan memberikan Luhan segelas coklat panas.

"Luhan, ada apa?,"Tanya Yifan lembut.

Luhan hanya diam.

Air mata itu masih mengalir. Air mata itupun sudah mampu menjelaskan bagaimana sedihnya Luhan.

"Tidak apa-apa, aku ada disini," Yifan memeluk Luhan dan menepuk-nepuk punggungnya pelan, menenangkan tangisan Xi Luhan.

Luhan membalas pelukan Yifan dengan erat, menumpahkan tangisannya disana.

.

"Sehun, ada apa denganmu? Kau terlihat seperti mayat hidup akhir-akhir ini," Tanya Kyungsoo, teman Sehun, khawatir.

Bohong namanya kalau Sehun saat ini terihat sehat-sehat saja, sedangkan pada kenyataannya ia memang terlihat seperti mayat hidup. Sehun terlalu sibuk menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian semalam, sibuk memaki-maki dirinya yang terlalu bodoh. Sehun kehilangan keberadaan Luhan, lagi.

"Menyingkirlah, hyung," Jawab Sehun sembari duduk di kursinya.

"Wow wow, jangan berkata seperti itu pada kekasihku, Sehunna," Ujar JongIn, atau yang biasa disapa Kai, teman Sehun yang lainnya sembari menarik Kyungsoo ke pangkuannya.

"Jangan sedih Kyungsoo hyung, mungkin Sehun hanya sedang mengalami masa sulitnya," Lanjut Kai sambil mengusap rambut Kyungsoo.

"Yuck kalian berdua, berhenti bertingkah menjijikkan seperti itu di hadapanku," Balas Sehun.

"Dia hanya iri pada kita, hyung. Jangan dipikirkan," Balas Kai lagi menyeringai. Sedangkan Kyungsoo hanya memutar kedua bola matanya malas, sudah terbiasa dengan situasi duo maknae ini.

"Hey kalian berdua, mau ke kantin? Kelas masih 1 jam lagi sebelum dimulai," Ajak Kyungsoo.

Duo maknae itu menganggukkan kepala mereka dengan kompak, kemudian mereka beranjak menuju kantin.

Sudut mata Sehun menangkap keberadaan Yifan. Tidak, tidak ada Luhan, hanya Yifan.

"Hey, tunggu, aku ada urusan sebentar," Pinta Sehun pada Kaisoo.

Dengan ragu dihampirinya Yifan yang tengah berdiri menatap papan pengumuman di samping kelasnya, bermaksud menanyai keadaan Luhan.

"Hey Yifan," Panggil Sehun.

Yifan menoleh, penasaran dengan siapa yang memanggilnya. Sedetik kemudian, pandangan matanya menajam saat menyadari yang memanggilnya adalah Sehun.

"Apa urusanmu?," Tanya Yifan tajam.

"Ck, tenanglah. Aku hanya ingin bertanya padamu, bagaimana keadaan Luhan? Apakah ia baik-baik saja? Semalam dia—"

'Brugh!'

Yifan tidak memberikan kesempatan bagi Sehun untuk menyelesaikan kalimatnya. Yifan sudah tau biang dari tangisan Luhan semalam.

Pukulan itu mendarat dengan mulus di pipi kanan Oh Sehun.

"Oh, jadi kau yang membuat Luhan menangis semalam?!,"

"B—,"

"Jangan pernah menemuinya lagi. Jangan pernah menemuinya lagi sebelum ingatanmu kembali! Kau yang sekarang hanya menyakitinya saja, tidakkah kau sadar?!,"

Ada kata-kata Yifan yang menjadi tanda tanya besar bagi Sehun.

'Brugh!'

Pukulan lainnya berhasil dilayangkan Yifan. Sehun sudah jatuh saat ini, dan Yifan memukulnya bertubi-tubi.

"H-hey, apa yang kau lakukan pada Sehun?!," Teriak Kai dan Kyungsoo, berusaha menjauhkan Yifan dari Sehun.

'Brugh!'

Pukulan yang kesekian kalinya.

"Y-yifan! Hentikan!,"

Luhan.

Sehun dapat mendengar suara Luhan mendekati mereka. Sehun dapat merasakan pukulan Yifan sudah terhenti. Sehun dapat merasakan pandangannya mulai memburam. Dan segalanya terlihat hitam.

.

"Sehunnie, kita akan selalu bersama kan?," Tanya seorang namja.

"Tentu saja hyung. Tidak ada yang tega memisahkan kita berdua, bahkan kematian pun tak tega," Jawab Sehun.

Namja itu tersenyum manis.

"Tapi, bagaimana kalau kita terpisah? Bagaimana jika ada sesuatu yang dengan teganya memisahkan kita? Atau bagaimana jika kau melupakanku? Aku pasti akan sangat sedih,"

Sehun mengusap rambut namja itu penuh sayang.

"Tidak hanya kau yang sedih, hyung. Akupun akan merasa sedih. Tidak bisa mengingat, padahal kau ingin sekali mengingatnya, terutama itu adalah sesuatu yang kau butuhkan dan kau kasihi. Hal itu sungguhlah terasa sesak. Bukankah itu menyedihkan?," Ujar Sehun.

Namja itu terlihat menganggukkan kepalanya pelan.

"Dan lagi, seberapa jauhnya kita berpisah, bagaimanapun kita saling melupakan, kita selalu berada di sebuah payung yang sama. Langit," Sehun tersenyum lembut.

Sehun membuka matanya perlahan. Ia dapat merasakan rasa sakit pada pipi, dan tulang hidungnya.

Sebuah mimpi.

Mungkin mimpi ini seperti putaran kaset masa lalunya yang terputar dalam sebuah video. Tapi Sehun tidak bisa mengingat siapa namja itu sebenarnya.

'Ckit'

Sakit. Ia memegangi kepalanya yang terasa sakit. Rasanya seperti kepalanya sedang dipukul benda berat dan besar.

"... Dan maaf, karena aku dengan bodohnya mencintaimu sejak awal. Walaupun aku sudah menjadi orang asing bagimu, aku dengan bodohnya masih tetap mau mencintaimu. Aku benci kau dan penyakit amnesia bodohmu itu,"

"Jangan pernah menemuinya lagi. Jangan pernah menemuinya lagi sebelum ingatanmu kembali! Kau yang sekarang hanya menyakitinya saja, tidakkah kau sadar?!,"

Kedua kalimat Luhan dan Yifan tersebut berputar-putar di kepala Sehun.

Sehun merasa ia sudah tertinggal terlalu jauh. Ada sesuatu yang ia lewatkan, ada sesuatu yang sudah ia lupakan. Tapi apa?

.

.

.

Even if we were to go on loving each other like this,
We both know that it wouldn't go on after the end,
So now, now, with our hands clasped together,
I just gazed into your eyes.

[Kumo no Kakera - Sachi Tainaka feat. Jyukai]

.

.

KAYAKNYA PAPA YIFAN GAK SADAR KALAU YANG BUAT HUNHAN MENDERITA DAN TAK DAPAT BERSAMA TUH KARENA DIA ... ;;;A;;;

Jangan salahin papa Yifan.. salahin aja authornya ;; /tabok diri sendiri/

.

.

Balasan review -^^-

Guest : Iya, maunya gitu (?) :D

Siap! Ini sudah dilanjutkan ^^

Makasih sudah baca fic ini dan ngereview! :)

ohristi95: Iya! Kan selalu ada perjuangan untuk mendapat sesuatu yang diinginkan :"D /apanya

Aduh kayaknya kalau buat bikin readers nangis aku belum mampu deh ;; , feelsnya masih belum bagus ;A; orz

Iya! Makasih udah baca, ngereview dan semangatnyaaa! :D

(Rambut mereka lucu ya _)

dianhaniehunie: Aku ga tega jadinya mau happy ending _ tp liat aja nanti ya eheheh xD

Aduh jangan emosi, dukung HunHan terus ya xD /?

Makasih udah baca dan ngereview ya :D

0312luLuEXOticS: Papa Kris gak jahat kok, dia cuma jatuh cinta ama Luhan .. jangan salahkan orang yang jatuh cinta, tp salahkan cintanya ... /gagitu

Luhannya terlalu takut, Sehunnya juga bodoh sih T_T /digeplak

Oke, siap! :D

Makasih udah baca dan ngereview yaa :DD

rinie hun : HunHan emang selalu sweet xD ~

iya ini udah lanjut kok :3

makasih udah baca dan ngereview ya :D

baby reindeer : Manusia itu memang egois :"3 /teruskenapa

lanjutannya gini, tapi ga nyambung kayaknya.. maaf T_T

makasih udah baca dan ngereview :D

fieeloving13 : Iya.. aku juga ngerasa papa Kris cocok jadi orang ketiga ;;

Iya ini udah dilanjut kok :D

Makasih udah baca, ngereview dan semangatnya :D

baekyeolssi : ... kok kayaknya seneng Kris jadi orang ketiga ;u;

HunHan-nya sudah tersiksa ;u; gak tega orz ;;

Makasih udah baca, ngereview dan semangatnya! :3

Oh Hyunsung: Kris itu punya Zitao :33

Luhannya gak bisa jawab pernyataan Sehun, jadi kamu aja yg jawab deh xD /lah

Iyaa ini udah lanjut, makasih udah baca dan ngereview ya :33

MeeChan Hikaru: Iya makasih ya :)

Ini sudah dilanjut kok. Makasih udah baca dan ngereview ya :D
lisnana1 : waaa HunHanKris-stan :D

Biasku Luhan Chanyeol, tapi sesjujurnya aku suka semua.. gak bisa milih ;;u;; /bah

Tapi mereka masih belum bisa bersama orz ;u;

Aw makasih! {}

Makasih juga udah baca, ngereview dan semangatnya :)

Rin Rin Kim ChenMin EXOtic : PAPA KRIS GAK JAHAT KOK! DIA CUMA MENELUSUP KARENA SEHUN AMNESIA T_T /?

JANGAN BENCI PAPA KRIS, HIDUP KRISIS! /?

HAPPY ENDING GAK YO? :B

MAKASIH UDAH BACA DAN REVIEWNYA YA :))

asroyasrii: iya aku bitha baca kok :))

thebenernya aku juga gak tega memithahkan Luhan dan Thehun.. tapi mau gimana lagi ya T^T

Aku bitha baca kok :B

Makasih udah baca dan ngereview :D

.

.

Aduh kalian semua makasih banyak udah baca dan ngereview ya T_T

Readers setiaku dan pendatang baru, terimakasih banyak! {} sungguh aku terharu loh ;:^;;

Aku siap nerima saran kritik kalian kapanpun dimanapun :D

Tunggu chappie selanjutnya ya! :))

Mungkin aku bikin sampe chappie 5-6 aja kali ya ._.

Jja! 3