Hahaha~ Sorry membuat kalian semua lama sekali menunggu berhubung akhir-akhir ini kembali lumayan lurus jalan pikiranku, makanya semacam kekurangan ide gila (dan karena banyak ulangan-ulangan bikin rontok rambut).

Anyway, cerita ini sejujurnya masih panjaaaang sekali karena masih banyak komplotan-komplotan yang belum muncul, jadi maaf karena telah menipu saudara-saudara sekalian dengan status complete berhubung cocok sekali dengan endingnya Chapter 3 ;;)

Disclaimer: Sekali lagi, saudara-saudara sekalian… Dalam berbagai bentuk dan perkara apa pun, KHR! bukan milik orang yang bikin fanfic nda jelas ini.


Chapter 4

Setelah mengalami trauma untuk tujuh turunan kemarin malamnya, Tsuna kembali ke studio dengan amat sangat berat hati dan dengan langkah yang berat karena takut dihantui sama lelaki berpakaian serba hitam yang menjadi penyebab ketidakstabilan jiwa, mental, nasrani, jasmani, dan spiritualnya (dia sampai berdoa semalaman full setelah sampai di rumahnya kepada semua Dewa dan Tuhan yang dikenal oleh manusia).

Pas saat 'akhirnya' dia sampai di depan pintu masuk studionya, tiba-tiba ada sesuatu yang mencengkeram kakinya.

Tsuna serasa sudah bisa melihat surga.

Pelan-pelan dia melihat 1ke bawah dan mendapati si rambut pirang yang gayanya seperti orang sudah setengah tahun tidak makan.

"T-Tsuna…" panggil Giotto dengan lemas sekali.

Tsuna yang juga sudah hampir mati, tiba-tiba jadi shock dan penuh kehidupan lagi (kembali ke dirinya yang biasa) melihat Giotto terkapar kayak mayat hidup di tanah.

"HIIEE! Kau kenapa, Giotto?!"

Entah bagaimana caranya setelah ditanya, tiba-tiba Giotto bangkit berdiri dengan kecepatan yang bikin kaget dan menarik nafas dalam-dalam dengan keras sambil mencengkeram pundak Tsuna sebagai penopang sebelum kembali menarik nafas dengan ricuh.

"K-kenapa kau bernafas seperti orang yang habis lari dari belahan bumi Selatan ke Utara…?" tanya Tsuna yang sweatdrop.

" $ ! & % / # ? ! ^ * () + {} \ [] ; = -.-' " (menandakan betapa padat, tidak jelas, dan ngawurnya apa pun yang dibilang oleh Giotto).

"Maksudmu?!" Si rambut coklat jadi tambah panik.

"Kan tadi pagi… saya terinspirasi… sama siaran radio… yang bilang kalau kita… harus bersikap ramah sesering mungkin, jadi… saya coba-coba kayak begitu-" dia berhenti sejenak untuk tarik nafas lagi, "-waktu jogging tadi pagi…, saya sapa semua orang…, termasuk orang gila yang lagi sibuk ambil mangga di pohon… Tahu-tahunya malah dikejar sama itu orang… keliling Tokyo…"

"EH?! Keliling Tokyo?" tanya Tsuna dengan shock.

"Setelah saya cari tahu…" lanjut Giotto dan membuat Tsuna kembali perhatian lagi sama dia, "…ternyata orang gilanya… bekas pelari marathon."

"P-pelari marathon…?" itu yang dikatakan Tsuna dengan ekspresi tidak bisa berkomentar karena tidak bisa berpikir lancar akibat shock, tetapi jawaban yang ada di pikirannya itu beda jauh dan menurutnya lebih rasional, 'Ternyata orang gila jaman sekarang sudah kreatif, ya…' (Yup. Benar-benar rasional dan masuk di akal.)

"T-terus, orang gilanya di mana sekarang…?"

"…Untung… ujung-ujungnya… saya berhasil… sembunyi… di pohon mangga… yang dia berdiri di bawahnya… sebelumnya…." jawab Giotto. (Ironis, bukan?)

"O-Oh, begitu… Um, sampai kapan kau mau bergaya kehabisan nafas terus?" tanya Tsuna.

"Eh? Betul juga. Haha… Untung kau kasih tahu, Tsuna. Thanks, bro." balas Giotto yang menepuk pundak Tsuna sambil mengacungkan jempol dengan muka-muka meyakinkan dan sudah kembali semangat seakan-akan sama sekali tidak lari keliling Tokyo.

Tsuna sweatdrop lagi, "I-Iya, sama-sama…"

"Oh iya, ngomong-ngomong kenapa kau datang ke sini? Lagi libur sekolah?"

"Sekarang kan masih jam 7 pagi… L-Lagian disuruh datang hari ini sama R-Reborn…" jawab Tsuna yang merinding karena tiba-tiba teringat kejadian yang tidak baik untuk kesehatan dan masa depan penerus bangsa tadi malamnya.

"Hm? Apa kau bilang tadi di akhir-akhirnya?" karena Tsuna seakan berbisik di kalimat terakhirnya, Giotto jadi tidak terlalu dengar dan jadi penasaran.

"T-Tidak, kok… Bukan sesuatu yang penting…" balas Tsuna yang memutuskan untuk tidak kasih tahu supaya tidak terlalu lama lagi dibicarakan.

Si rambut pirang bersikap skeptis, tapi dia kepikiran kalau sebaiknya tidak menanyakan Tsuna lebih lanjut lagi. (Oh, coba saja kalau kau tahu apa yang dialami Tsuna, Giotto…)

"Kalau begitu, bagaimana kalau kita masuk saja daripada berdiri di sini terus kayak penagih utang?" usul Giotto.

'Bukannya penagih utang biasanya bakalan masuk sampai ke meja resepsionis?' "Uhn, ayo masuk." jawab Tsuna dengan mengangguk.

Saat masuk ke dalam gedung, si rambut pink yang sudah tidak asing lagi menyambut mereka.

"Yo, Giotto! Bagaimana? Enak tidak dikejar sama orang gila?" sambutnya sambil ketawa terbahak-bahak.

Tsuna hanya bisa sweatdrop, sedangkan Giotto sudah semacam mau smack down teman masa kecilnya langsung di tempat.

Untungnya sih tidak. Tetapi yang dilakukannya berikutnya justru lebih parah dan bikin masalah.

"Oh… Jadi begitu kata-kata orang yang kemarin habis berhadapan langsung sama Reborn setelah main dengan pemantik api lumayan besar (dia bilang begitu karena lupa apa nama barangnya). Seharusnya saya yang tanya balik ke kau. Bagaimana? Enak tidak?" balasnya dengan muka-muka ngejek dan penuh rasa bangga.

Mengingat kejadian perusak harga diri dan imej kemarin, G. langsung mengancam Giotto, "Giotto, jangan kau coba-coba-"

"Wah, ide yang bagus, G! Apalagi kalau saya kasih tahu ke cewek idamanmu. Muhahahaha~ !" Si rambut pirang cepat-cepat mengambil HP-nya dan menekan beberapa kombinasi tombol dan nomor dengan kecepatan kilat sehingga tidak bisa ditahu apa-apa saja yang ditekan.

Alhasil, mereka malah lari keliling ruangan karena G. yang berusaha untuk mengambil HP Giotto dan orang berambut pirangnya sendiri yang tidak mau kasih karena dia sadar dengan sepenuh jiwa dan hati kalau kemungkinan besar barang elektroniknya akan kembali menyatu dengan tanah (Jadi abu, maksudnya).

Tsuna hanya menghela nafas, tidak bisa berbuat apa-apa yang masuk akal dan rasional di pikirannya untuk menghentikan kedua orang stress tersebut. Saat dia mau berbalik untuk cari tempat duduk, tiba-tiba saja ada orang yang memegangnya pas di bahu (persis seperti yang terjadi tadi malam).

"Haha… Saya tidak menyangka kamu datang sepagi ini. Ada kelupaan sesuatu, Tsuna?" kata orang tersebut yang ternyata Asari sambil tertawa kecil.

Saat seseorang mengalami sesuatu yang sangat ditakutinya dan baru terjadi beberapa jam yang lalu, antara mereka berteriak, pingsan, kencing celana, mengeluarkan kata-kata 'mutiara', pura-pura mati, segera menghubungi pengacara, telpon klinik Tong Fang, dan yang selebihnya kira-kira semacam begitulah.

Tapi rupanya Tsuna berhasil menemukan alternatif baru karena ceritanya dia lebih kreatif: Dia ceritakan kembali film seri Barat yang sebenarnya sudah tamat tapi diulang kembali yang ditontonnya dua hari yang lalu di TV dengan kecepatan tinggi.

"JadiceritanyaituJohnnypertamaketemuCathydihalte
buswaktulagimakankacanghijausambilbicaratelpondan
jadikeselektapiuntungnyaCathybantukasihkeluardan
merekapergisama-samanaiktaksiketamandannaikperahu
bebeksambilbicaratentanggorilla…." (disingkat segitu saja daripada chapter ini jadi tentang Tsuna yang berceramah nda jelas).

Asari hanya terdiam dan mengedipkan mata beberapa kali mendengar kata-kata si rambut coklat. Tapi setelah sadar apa yang Tsuna bilang dari tadi, ekspresinya langsung berubah jadi bahagia kembali, "Oh, ternyata kamu nonton juga, ya. Itu salah satu film seri favoritku, loh… Apalagi episode yang waktu Johnny manjat lewat jendela untuk ke apartemennya Cathy tapi malah dikira gorilla yang lepas dari kebun binatang sampai-sampai dipanggil banyak sekali pawang untuk tangkap dia. Hahaha… Padahal hanya gara-gara dia pakai baju serba hitam waktu itu."

"Eh, bukannya itu episode yang ke-10? Yang dia mau ketemu sama Cathy tapi karena pemilik apartemennya lagi ada jadi Johnny terpaksa lewat jendela, kan? Haha.. Memang paling lucu bagian yang dia mau ditangkap sama pawangnya." lanjut Tsuna yang dengan cepat mengikuti arus pembicaraan dan jadi ikut-ikutan bicara tentang film serinya. (Perasaan baru semenit yang lalu waktu Tsuna bergaya orang stress tingkat kabupaten).

Beribu-ribu menit pun berlalu dan diakhiri Tsuna dan Asari yang masih sibuk bicara tentang Johnny sama Cathy sampai titik darah penghabisan (tidak bisa terbayangkan pikiran Tsuna saat dia sadar kalau ternyata tidak bakalan ketemu Reborn di hari itu dan memang setelah tahu dia langsung menyesal datang karena tidak jadi nonton film seri kesukaannya yang lain yang hanya main pagi-pagi).

Dan akibat karena keasyikan bicara, dia langsung tancap gas ke sekolah dengan kecepatan yang bikin pembalap-pembalap F1 malu, tapi sebelum pamit kepada Asari (satu-satunya orang lagi di tempat yang normal tingkah lakunya), G. dan Giotto yang masih gila-gilaan sendiri.


(Time Skip)

Waktu istirahat di sekolah…

Tsuna terpaksa makan sendiri karena Gokudera dan Yamamoto dihukum sama guru penjas gara-gara terlalu berisik waktu pelajarannya.

Si rambut coklat hanya bisa menghela nafas mengingat kejadian itu. Mengambil HP-nya, dia log in di Facebook dan melihat Giotto yang baru saja meng-update statusnya: Bah, semua orang tahu kalau kau itu kayak Gayus, pa'ricuh sekali pergi bangga-banggakan jadi orang -_- lebih baik jadi Tambunan saja. (Ceritanya Giotto habis baca berita Indonesia tentang korupsi, makanya kayak begitu.)

Tsuna memutuskan untuk kasih comment.

Tsuna: "Kau kenapa, Giotto? -_-' "

Giotto: "Aih kutanyako gurunu kau tdk belajarko pi ko buka fb kau, ai tunggumi pi ka ke skolahmu" (Aih, saya tanya kau ke gurumu kau tidak belajar kau pergi buka fb kau, ai tunggu kau, saya pergi ke sekolahmu)

Melihat reply Giotto, Tsuna sweatdrop.

Tsuna: "Um, sekarang lagi waktu istirahat dan bukannya kau punya peran untuk dimainkan?"

Giotto: "Oh, iya... Bye."

Giotto langsung log out tanpa basa-basi selanjutnya.

'Cepat banget gerakannya…' pikir Tsuna yang masih sweatdrop. Karena tidak ada lagi yang menarik di Facebook selain statusnya Reborn (yang jelas-jelas dia tidak berani komentari), dia log out dan kepikiran untuk mengecek kedua teman baiknya yang dihukum di gedung olahraga.

Tapi salah satu hal yang Tsuna selalu tidak mengerti adalah kenapa orang dengan muka-muka tidak berdosa seperti dia yang memiliki niat baik, tidak sombong, dan rajin menabung selalu saja mendapat masalah di sekolah seperti dibully atau kena sial tiba-tiba (terpeleset lantai, dan lain sebagainya).

Jadi waktu dia sampai di gym dengan niat baik untuk mengecek keadaan temannya, kita semua sudah bisa membayangkan bagaimana keparahan kondisinya sendiri setelah berkali-kali kesabet sial (Yang pastinya jauh lebih parah dari yang biasa muncul di film aslinya).

Hanya untuk melihat pemandangan Gokudera dan Yamamoto yang entah kenapa dan memang Tsuna berharap tidak tahu kenapa karena saking horrornya, seperti berniat sekali injak kaki satu sama lain (terutama Gokudera).

Si rambut coklat hanya bisa hening cipta di tempat sampai Gokudera, yang setelah melihat Tsuna yang datang ke gym, segera lari ke arahnya dengan muka yang berbinar dan gaya semacam berlebihan seperti yang biasa dibikin di pentas opera.

"Jyuudaime! Kau tidak tahu betapa bahagianya saya melihat kehadiranmu di tempat tidak penting ini hanya untuk mengunjungiku!"

'Kebahagiaanmu sudah jelas-jelas terlihat kok, Gokudera-kun…' pikirnya sambil sweatdrop. "S-sebenarnya kalian lagi bikin apa…?"

"Haha… Kami lagi main pus langkah, nih!" sahut Yamamoto.

"P-Pus langkah?" Tsuna langsung teringat kalau orang yang main pus langkah itu seharusnya berlomba-lomba sampai ke garis finish duluan dan bukannya siapa yang pertama bisa injak kecoa, "B-Bukannya kalian lagi dihukum…?" tanya Tsuna yang betul-betul tidak mengerti kenapa mereka begitu gayanya.

"Dihukum? Kami hanya disuruh bersihkan seluruh gedung ini sampai mengkilap, kok. Coba lihat betapa mengkilapnya bola basket ini!" jawab Yamamoto yang memamerkan betapa mengkilapnya bola tersebut dan membuat Tsuna jadi sweatdrop lagi.

"Um, iya… Kerja bagus, Yamamoto." puji Tsuna supaya temannya tidak sakit hati, "Jadi ceritanya sekarang kalian jadi main pus langkah karena sudah selesai bersihkan, begitu? Kenapa tidak langsung kembali ke kelas saja?"

"Gara-gara si bodoh ini, Jyuudaime… Sampai kami berdua mendekap di sini terus." kata Gokudera yang memberikan pandangan sinis pada Yamamoto.

"Hahaha… Saya kan hanya bilang kalau saya bisa sampai 1 meter dengan sekali langkah jauh. Tidak disangka juga kalau kami malah bertanding siapa yang paling jauh langkahnya." lanjut si rambut hitam dengan girang.

"Tch, itu karena kau terlalu bangga, baseball freak!" balas Gokudera.

'Saya curiga pasti karena ada taruhannya.' pikir Tsuna. (berhubung Gokudera tinggal sendirian di apartemen dan mengalami kesusahan membayar sewa bulanan, masuk akal kan kalau manusianya agak gila uang?)

"Uh, bagaimana kalau kita kembali saja sekarang? Sebelum bel masuk bunyi..." saran Tsuna.

"Kalau begitu, kita tunda bertandingnya dulu sampai besok ya, Gokudera!" ujar Yamamoto.

Gokudera hanya menggerutu sambil berjalan pergi dan Tsuna yakin kalau dia mendengar beberapa kata yang berbunyi "Tunggu kau besok, baseball freak, bakalan kuhantam kau" keluar dari mulut si rambut pirang dan menyebabkan Tsuna kembali sweatdrop kenapa kedua temannya itu tidak bisa akur secara normal.

Bel masuk pun berbunyi pas mereka sampai di kelas, dengan guru bahasa inggris yang tidak lama kemudian masuk dan menunjuk beberapa murid untuk menjawab pertanyaan di papan tulis.

Tsuna mendapat pertanyaan yang mengharuskan dia untuk translate kalimat 'Ini adalah pensil' dari bahasa jepang ke inggris, yang ujung-ujungnya membuat hampir seluruh penghuni kelas ketawa terbahak-bahak karena dia salah translate jadi, "I am a pencil." apalagi ditambah dengan efek terbata-batanya Tsuna.

Si rambut coklat serasa ingin terjun bebas dari atap sekolah saking malunya.