Just Warning, soalnya sudah implisit ke arah yang 'itu'
Char :
Sasuke Uchiha
Sakura Haruno
Kizashi Haruno
Mebuki Haruno
Madara Uchiha
Fugaku Uchiha,
SAVE HARU NO SAKURA
Dikediaman Haruno
"Apa kamu sudah siap-siap Sakura?" Mebuki, ibunya Sakura bertanya.
"Hai, okaa-san" jawab Sakura sambil memilih bebrapa gaun yang ada di depannya.
"Baiklah ibu tunggu di ruang tamu bersama ayahmu. Sepertinya ayahmu juga sudah siap." Lanjut Mebuki dan meninggalkan Sakura sendirian di kamarnya.
Menikah ya,satu kalimat yang melintas dikepala Sakura muncul. Sebenarnya ia menolak dengan acara pertunangan ini. Ia belum mau menikah sekarang di usianya yang menjelang delapanbelas tahun. Ia masaih belum siap menjalani kehidupan rumah tangga. Tapi ia juga tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Huuff! Ia hanya bisa menghela nafas membayangkan ia akan menjadi seorang isteri dari laki-laki yang ia belum kenal, apalagi ia cintai.
Sakura menggelengkan kepalanya, membuang semua fikiran jeleknya. Biar bagaimana ia harus percaya pada pilihan orangtuanya. Meski hidup bersama laki-laki yang ia tidak cintai, tapi ia tetap harus menjadi isteri yang baik.
Di ruang tamu.
"Ada apa Kizashi" Mebuki mendekati suaminya yang sedang kelihatan kurang tenang.
"Tidak apa-apa. Hanya saja saya mempunyai perasaan tidak enak, aku merasa kalau aku telah menjual Sakura." Kizashi menatap isterinya di samping. "Aku mau memenuhi usul perjodohan ini, karena Madara-sama mau membantu kita menyelesaikan masalah kita."
"Kenapa kau bilang seperti itu, bukankah Madara-sama tidak memaksa, dan jangan lupa siapa calon besan kita, mereka adalah sahabat kita. Kurasa tidak ada yang perlu kau sesali."
[FLASHBACK]
Fugaku tanpa sengaja lewat didepan kediaman rumah sahabatnya Kizashi Haruno, ia langsung mengajak Madara untuk bertamu di rumah sahabatnya itu.
Fugaku dan Kizashi memang sudah bersahabat baik sejak mereka masih muda. Ketika menikah barulah mereka mengetahui kalau ternyata isteri masing-masing itu juga bersahabat baik. Madara pun bisa dikatakan sudah mengenal Kizashi Haruno.
"Kenapa kau tidak mengatakannya sejak dulu kizashi, kalau tahu aku bisa membantumu" Fugaku berbicara saat Kizashi menceritakan masalah utang perusahaannya.
"Tapi Fugaku, aku sudah banyak merepotkanmu" sanggah Kizashi.
"Tapi Kizashi, mana mungkin aku akan membiarkan sahabat lamaku kesusahan, sudahlah, soal masalah utang piutangmu biar aku yang urus, kau tenang saja, serahkan semuanya kepadaku"
"Tadaimaa," seorang gadis rambut bersurai merah muda muncul didepan pintu.
"Okaeri Sakura-chan." Mebuki menyahut pada gadis yang baru datang.
Dengan senyum cerianya, Sakura berjalan melewati para tamu, tap ketika ia lewat disamping Madara, "Kakek Madara? Selamat datang, sudah lama?" ia menyapa dengan hangat dan ramah tak lupa juga senyum ramahnya sambil menundukan kepalanya memberi hormat.
"Belum lama Sakura, kami juga baru datang." Sahut madara tenang.
"Lho! Kamu kenal dengan Madara-sama, Sakura-chan". Tanya mebuki heran dan penasaran.
"iya. Dia adalah salah satu siswa yang magang di salah satu yayasan kesehatanku, katanya dia ingin menjadi dokter, aku mengenal Sakura. Bahkan ia sudah banyak belajar, dari para dokter yang berada di yayasanku. ia adalah siswi yang pintar, juga ramah." Madara memberi keterangan, yang dijawab dengan 'oh' oleh orang tua Sakura.
Mendapat pujian dari Madara, Sakura jadi salah tingkah,"i…itu..nggak benar kok, saya biasa-biasa saja, Madara-sama. Anoo, ayah, ibu, kakek Madara dan Paman. Saya permisi masih ada tugas yang harus segera kuselesaikan" lanjutnya berlalu, setelah mendapat anggukan dari keempat orang tua yang ada didepannya.
"Aku punya ide, agar tidak ada kecanggungan diantara kalian atas bantuan Fugaku, bagaimana kalau kalian menjadi satu keluarga saja" Madara menatap keluarga Haruno.
"Maksud Ayah?" fugaku menautkan alisnya tanda ia bingung.
"Bagaimana kalau, Sakura dijodohkan dengan salah satu cucuku." Kali ini Fugaku mengerti, ia juga mengerti cucu yang mana yang dimakasud, dia tidak lain adala si bungsu dalam keluarganya.
"Kami merasa sangat terhormat,Madara-sama tapi, mohon maaf hal ini harus tetap kami serahkan pada anak kami." Kizashi menjawab dengan takut-takut.
Dengan senyum wajar, Madara menjawab,"saya tidak menjadikan perjodohan ini sebagai persyaratan atas bantuan Fugaku, Haruno-san, ini hanya saran saja, agar tidak ada kecanggungan diantara kalian."
"I..iya. terima kasih atas sarannya Madara-sama" mebuki agak segan untuk menanggapi.
"Nah, bicarakanlah hal ini dengan putri kalian, silakan hubungi saya jika puteri kalian setuju, mengenai bantuan Fugaku yang tadi ia tawarkan, sepertinya saya tidak bisa ikut campur dalam hal ini."
"Baiklah Madara-sama"
"Baiklah Kizashi, begini saja bicarakanlah tentang perjodohan ini dengan putrimu, jika seandainya putrimu setuju hubungi kami, dan mengenai bantuanku, terlepas putrimu setuju atau tidak kau harus tetap menghubungiku, karena aku akan tetap membantumu."
[FLASHBACK END]
Kizashi menghela nafasnya, "Sakura memang anak yang baik, aku tahu sebenarnya ia keberatan dengan rencana perjodohan ini, tapi ia tidak berani menentang orang tuanya."
"Orang tua mana yang tak ingin anaknya bahagia, sekarang mereka yang menawarkan bantuan pada kita, mereka meminang anak kita, dan kita juga sudah mengenal Fugaku-san, aku yakin ia akan tetap membantu kita meski tanpa adanya acara perjodohan ini." Mebuki tetap berusaha menghilangkan kegalauan hati suaminya.
"iya,kau benar, aku memang sudah mengenal Fugaku orangnya seperti apa. Ketika ia tahu aku dalam masalah ia langsung menawarkan bantuannya. Sampai akhirnya muncul usul Madara-sama menjodohkan puteri kita dengan salah satu cucunya"
"Tapi, perjodohan kan tidak masuk sebagai persyaratan, Fugaku membantu kita sebagai sahabatnya tanpa syarat kan? Lagi pula alasan Madara-sama kan lebih masuk akal, untuk mempererat persahabatan kita" Mebuki menimpali. "Yang bisa kita lakukan sekarang adalah mempercayakan putri kita pada calon suaminya, jika memang tidak saling mencintai, kuharap minimal ia tidak menyakiti Sakura."
Sesaat setelah mebuki menyeelesaikan ucapannya, pintu rumah mereka didobrak dan masuklah beberapa orang pengawal semuanya memakai seragam hitam. Dibelakang mereka muncul seorang pria paruh baya berambut merah kecoklatan. Ia menatap sekeliling ia menatap sekeliling dan saat ia melihat foto Sakura ia menyeringai.
"Apa dia puterimu? Cantik juga." Tanyanya. "aku akan menghapus utangmu asal puterimu kujadikan isteriku."
Kizashi tentu saja tidak akan menyerahkan putrinya kepada bandot tua ini, lagi pula lamaran Madara disetujui oleh Sakura.
"Aku tidak setuju Akuma, mengenai utangku bukankah aku berjanji akan membayarnya tiga hari lagi, dan lagipula kau sudah setuju untuk itu."
"Aku mau sekarang!" pria tua yang dipanggil Akuma membentak. "tidak ada yang bisa melarang keinginanku. Dan aku mau sekarang adalah putrimu. Anak-anak!" perintahnya pada beberapa pengawalnya.
"Cari gadis itu, geledah seluruh ruangan disini. Cepat!" perintahnya lagi
"Brengsek kau Akuma sialan!," Kizashi segera menghalangi. "Aku tidak akan menyerahkan anakku padamu, ia sudah menjadi calon Istrei dari salah satu Uchiha."
"Ayah" Suara teriakan Sakura meuncul tiba-tiba.
"Sakura-chan, lari!" teriak Mebuki saat melihat gelagat yang membahayakan puterinya.
"Tapi, ibu, kenapa?" Sakura masih kebingungan.
Mebuki segera bertindak ia menarik tangan anaknya lalu berlari. Sambil berteriak agar berhenti, Akuma segera memerintah anak buahnya menangkap Sakura. Kizashi tidak tinggal diam, ia meraih salah satu vas bunga dan menghantam salah seorang anak buah Akuma didepannya. Setelah mengahantam pria itu, Kizashi mencoba menerjang Akuma, tapi ia digagalkan oleh anak buah Akuma yang lain. Ia terpelanting setelah mendapat pukulan dari anak buah Akuma.
Kizashi bangkit dengan kepala pusing. Ia berlari mengejar mereka yang memburu anak-isterinya itu.
Dorrr!
Terdengar suara tembakan dari belakang Sakura dan Mebuki. Saat menoleh, ibu dan anak itu melihat Kizashi telah bersimbah darah. Keduanya menjerit histeris melihat pemandangan mengerikan itu. Mebuki sadar dengan cepat kalau Sakura masih terancam, dengan menahan seluruh perasaannya yang terpukul, ia menarik Sakura makin menjauh.
Tiba didepan pintu gerbang, Mebuki mendorong Sakura dan mengunci pintu gerbang dari dalam. Tak lupa juga ia melempar kunci pagar keluar.
"Sakura segeralah selamatkan dirimu, carilah Uch…..aaakkh," kalimat Mebuki terpotong oleh suara pistol dan jerit kesakitan Mebuki. Sakura hanya bisa histeris dengan keadaan ibunya lagi. "kau harus hidup anakku" kata terakhir yang Mebuki keluarkan dengan suara pelan.
Didepan Sakura kini muncul Akuma dengan seringai penuh kemenangan. Sakura menata tajam pria tua brengsek itu, ingin sekali rasanya ia mencakar wajah pria yang telah merampas nyawa kedua orang tuanya.
"He..he..he. sekarang kau akan menjadi milikku dan menjadi ratu di istanaku."
"Keparat kau" Sakura bangkit ingin menghajar Akuma, tapi sayangnya pintu gerbang sudah terkunci.
"Anak-anak tangkap gadis itu, aku ingin segera mencicipinya."
Sakura sangat jijik dengan pria didepannya ini. Tapi ia juga jadi takut ketika ia mendengar kata 'mencicipi' dari pria tua itu.
Kembali terngiang ucapan terakhir ibunya, ia mulai berfikir, jika ia tertangkap berhasil didapatkan oleh pria itu, jangan harap ia masih memiliki kehormatan. Bahkan jika ia mati pun, kemungkinan juga ia akan mati dalam keadaan terhina. Mati setelah diperkosa, bagaimana ia bertemu muka dengan kedua orangtuanya disana? Bukankah kedua orang tuanya mati demi dia?
Sakura memutar tubuh dan berlari 'maaf ayah, ibu'. Ia terus berlari sejauh-jauhnya.
Akuma sangat kesal mengetahui kalau ternyata pintu gerbang sudah terkunci dan tidak tahu dimana kuncinya. Dia sudah menggeledah mayat Mebuki tapi tidak menemukan kunci yang dicari. Mencari jalan lain? Rumah ini dikelilingi tembok yang tinggi. Sial!
..
..
..
Sasuke duduk di termenung didalam mobilnya. Ia kembali mengingat kembali pengusirannya dari klan, dan sekarang ia menjadi seorang Renegade. Ia mengacak-ngacak rambutnya frustasi, ini semua gara-gara adat konyol itu.
Ketika sedang berfrustrasi ria ia di kagetkan oleh seorang gadis bersurai merah muda muncul didepan kaca mobilnya.
"Tolong aku tuan! Tolonglah" ia menoleh kebelakang, tampaklah pengawal Akuma mengejarnya, kini turun dari mobil sport warna hitam. Melihat hal ini Sakura makin panik. "tolong, kumohon tolonglah aku tuan! Mereka ingin berbuat jahat." Sakura mencoba terus meyakinkan Sasuke. Tapi Sasuke mana peduli, ia sendiri dilanda stress gara-gara ia diusir dari klannya. Sasuke hanya terus mengamati Saskura yang ada di depannya.
Sakura hanya bisa menangis sambil memohon agar Sasuke sudi menolongnya, ia membayangkan perlakuan yang akan didapatnya jika tertangkap. Pengorbanan orang tuanya agar ia selamat akan menjadi sia-sia. Sementara jika lari, selain terlambat ia juga sudah merasa tak punya tenaga untuk berlari.
Saat para pengejar mendekat Sakura hanya pasrah, sambil terus menangis memohon pada Sasuke.
"Ada apa kalian menangkapnya, heh?" Sasuke tiba-tiba keluar dari mobil dan membentak kepada pengejar tadi. Melihat hal ini, secercah harapan Sakura akan selamat.
"Sebaiknya jangan ikut campur, gadis ini telah dibeli oleh Boss kami, dan ia melarikan diri."
"Cih. Lagi-lagi wanita murahan" dengus Sasuke.
"Tidak tuan, kumohon pecayalah padaku! Aku bukan wanita rendahan!" Sakura berteriak saat mulai diseret oleh para pengejarnya tadi.
"Tuan tolong!, mereka membunuh orang tu….hmmpppp" Sakura dibekap mulutnya, dan dipaksa masuk mobil. Sasuke hanya melihat Sakura sekilas lalu menoleh kearah lain.
….
Beberapa saat setelah mobil yang membawa Sasuke, menjadi bingung. Kenapa bayangan gadis cantik itu justru melintas dikepalanya. Saat gadis itu dengan expresi ketakutan minta tolong. Saat gadis itu berderai air mata. Dan yang terakhir adalah rambutnya yang unik senada dengan warna permen kapas. Tatapan matanya yang sendu memohon saat terakhir sebelum dipaksa masuk mobil.
Sial! Makinya dalam hati.
Tak mungkin ia menyukai wanita bayaran itu. Yah dia hanya kasihan, sebagai manusia ia juga punya rasa kasihan. Sasuke tetap menyangkal perasaan anehnya yang seperti membuat degup jantungnya berdebar.
Sasuke mulai memikirkan detil kejadian demi kejadian yang ia saksikan. Jika ia memang penjajah kenikmatan kenapa ia musti lari?. Kenapa juga harus takut? Kenapa dan kenapa? Banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Sasuke, dan yang terakhir yang membuat adalah perkataannya terakhir sebelum dipaksa masuk mobil, mereka membunuh? Orang tu….? Mungkinkah gadis itu maksudnya membunuh orang tuanya? Yah itulah alasan kenapa Sasuke ingin menolong gadis itu.
Sasuke segera menyusul mobil yang membawa Sakura, beruntunglah karena mobil yang membawa Sakura tidak melaju terlalu kencang, hingga berapa saat kemudian Sasuke dapat melihat mobil itu dari jauh. Tapi, ada yang membuat Sasuke tak bisa segera menyusul mobil didepannya karena lalu lintas yang lumayan padat. Sasuke jadi panik ketika mobil itu membelok ke arah lain, sementara ia sendiri masih berada di jalur lalu lintas padat. Sial! Ia mengumpat. ia tidak bisa berfikir lagi, satu yang ada dalam fikirannya sekarang adalah menyelamatkan gadis itu. Saat melihat tempat parkir, Sasuke memarkirkan mobilnya lalu kembali kejalan. Ia lalu menghadang seorang pengendara motor.
"Kawan pinjamkan aku motormu, aku butuh untuk mengejar kawanku yang diculik."
"Tapi aku tidak…" terpotong oleh bentakan Sasuke.
"kau fikir aku menipumu, hah? Lihatlah." Sasuke menekan tombol alarm keamanan mobilnya. "itu mobilku, itu jaminannya bodoh."
Melihat amarah Sasuke, lelaki pengendara motor itu mengangguk takut.
Sasuke langsung mengendarai dan terus melaju bermanuver, melewati setiap kendaraan. Sasuke makin bingung ketika ia kehilangan buruannya.
….
Ditempat penyekapan Sakura.
Begitu anak buah Akuma datang, Akuma menyambut Sakura dengan tawanya, sementara Sakura sendiri hanya bisa menangis pasrah. Ia menarik Sakura dengan paksa. Akuma tanpa basa-basi merobek gaun yang dikenakan, hingga dalam waktu singkat semua pakaian luarnya lepas, menyisakan pakaian dalam, Sakura berusaha menutupi tubuh terbukanya dengan kedua tangannya. Sementara Akuma sendiri belum melepas satu pun pakaiannya. Sakura terus memohon, agar minta dilepaskan meski tahu itu adalah hal yang mustahil.
Akuma terus tertawa kegirangan melihat ketakutan Sakura, ia memerintahkan dua orang untuk memegang tangan Sakura. Akuma lalu merobek sisa pakaian yang tersisa, sehingga tampaklah seluruh kulit putih mulus dari Sakura.
Akuma kembali meminta agar melepaskan pegangan anakbuahnya terhadap Sakura. Rupanya ia ingin mempermainkan Sakura terlebih dahulu sebelum menikmati tubuhnya. Tawa keras yang ramai dalam ruangan yang diiringi dengan ratapan Sakura.
Permainan Akuma dan anakbuahnya terus dilanjutkan, mereka mengelilingi Sakura, bergantian mencubit dan memplintir puting payudara sakura dengan, kadang menyentil klitoris Sakura sehingga Sakura menggelinjang kesakitan.
Setiap kali Sakura hendak melarikan diri ia ditahan dan didorong kembali ke tengah-tengah mereka. Disela perbuatan mereka itu, ratap pilu Sakura meminta agar dilepaskan bahkan minta dibunuh saja. Sakura kini benar-benar sepert tikus yang dipermainkan sekelompok kucing liar.
Pada acara puncak Akuma membuka satu persatu pakaiannya, tapi perlahan sehingga semakin membuat rasa takut Sakura makin meningkat. Akuma berjalan kearah Sakura yang kini duduk sambil memeluk kedua lututnya. Suaranya semakin serak karena dari tadi ia hanya menangis dan berteriak saat dipermainkan oleh Akuma.
Gluduk!
Saat Akuma berjongkok hendak menarik kaki Sakura, tiba-tiba dibelakang terdengar suara jatuh. Mereka semua menoleh dan tampaklah salah seorang yang disuruh menjaga diluar. Ia tergeletak dengan leher tergorok, bersimbah darah. Saat kekagetan mereka belum reda, muncullah Sasuke dan berdiri menatap tajam kearah mereka.
"Rupanya kau, brengsek!" Salah seorang yang tadi menjemput Sakura rupanya masih ingat wajah Sasuke.
Dorrr!
Tringg
Suara tembakan dan peluru yang melesat berhasil dibelokkan Sasuke hanya dengan menggunakan pisau komando.
Semua yang ada disitu menyaksikan jadi terpana minus Sakura yang tampak menundukan kepalanya sambil memeluk lututnya.
Sasuke melihat ada kesempatan saat semuanya terpana. Ia bergerak dengan cepat kearah laki-laki yang memegang pistol. Laki-laki itu cepat menyadari, ia bereaksi dengan mengacungkan kembali pistolnya tapi terlambat. Sasuke meraih tangannya dan menikam pisaunya dibawah ketiaknya sehingga tangan yang memegang pistol jadi terkulai lemas. Sasuke meraih pistol yang diegang laki-laki tadi.
Dorr..dor..dorrr
Terdengar beberapa kali tembakan membuat semua anak buah Akuma ambruk dan belum sempat melakukan apa-apa. Tinggallah Akuma seorang diri, kejadian yang sangat cepat terjadi depannya sehingga ia tidak sempat memakai pakaiannya.
"A..am..m..am..puni a..a..aku." Akuma sangat ketakutan melihat Sasuke bisa menghabisi seluruh anakbuahnya dengan cepat. "A..aku a..akan mebayarmu jika kau mau melepaskanku."
"Apa yang telah kau lakukan pada gadisku itu, keparat!"
"k..ku m..mohon" gilirannya sekarang yang meratap. "Percayalah aku b..belum ."
Sasuke menoleh ke Sakura.
"Baiklah. Aku tidak akan membunuhmu" Hanya itu tanggapan Sasuke. "tapi sebelumnya angkat tanganmu"
"Ta..tapi kau tidak akan membunuhku kan?" Akuma berharap.
"Tentu saja aku tidak akan mencabut nyawa busukmu." Bentak Sasuke. "Angkat saja tanganmu, cepat!"
Dengan takut-takut Akuma mengangkat kedua tangannya.
Ckrasshh….
Aaaaaarrrrrghhhh.
Akuma melolong sambil memegang selangkangnya , rupanya Sasuke telah memotong alat kelaminnya.
"Aku memenuhi janjiku tidak akan membunuhmu." Sasuke tersenyum sinis. Ia membiarkan Akuma menggelinjang, seperti cacing kepanasan. Ia terus berguling-guling sampai akhirnya terhenti.
Sasuke berjalan kearah Sakura sambil melepaskan jaketnya dan menutupi seluruh tubuh Sakura. Sakura menjerit histeris saat Sasuke melampirkan jaket ditubuhnya. Rupanya ia sangat syok.
"Tenanglah! Aku datang menolongmu, kau sudah aman sekarang." Ia memeluk dan menenangkan Sakura yang berteriak-teriak sambil meberontak, ingin melepaskan diri. Sasuke membisikan kata-kata lembut agar Sakura tenang, lama-kelamaan Sakura berhenti perlahan dan akhirnya diam. Ia pingsan.
..
..
..
"hnnggg…"
"Kau sudah bangun?"
"Kyaaa… tidak!... lepaskan aku… toloooooong!"
"Hei, tenanglah! Aku bukan mereka, kau sekarang aman." Sasuke menenangkan Sakura.
"Sekarang kau tidak apa-apa, kau sudah aman, mereka belum menyentuhmu, percayalah!" Sasuke bingung bagaimana menenangkan Sakura yang tampak masih syok.
"K..kau?" Sakura menatap Sasuke.
"Hn" Sasuke mengangguk. "Maaf, telah mengabaikanmu"
Sakura terdiam, ia meneliti tubuhnya, ia bingung bagaimana ia berganti pakaian.
"Oh iya. Sepertinya pakaiannya terlalu besar ya."
"Ini…."
"Aku yang menggantinya…. Hei, tenanglah aku tidak mengambil kesempatan saat memakaikanmu pakaian itu! Percayalah". Sasuke meyakinkan Sakura, saat Sakura melotot kearahnya.
"Sa..sakiiit." Sakura meringis kesakitan karena Sasuke memegang bahunya terlalu keras.
"Maaf"
.
.
.
Sekian lama mereka saling mendiamkan, akhirnya Sasuke membuka suara dengan bertanya, "rumahmu dimana, biar ku antar pulang, orang tuamu pasti menunggu." Ia malah mendapati Sakura justru menunduk dengan bahu yang bergetar, Sasuke melihat Sakura menangis.
Plakk!
Sasuke menepuk jidadnya. Sasuke baru ingat kejadian yang lalu ketika Sakura ingin mengatakan kalau mereka telah membunuh orang tua gadis itu.
"Maaf"
Kembali mereka terdiam. Sasuke terus membawa Sakura bersamanya Sementara Sakura juga tidak menolak atau memberontak. Sakura merasa kalau ia tak punya tempat untuk pulang.
"Apa tidak sebaiknya kau atau kita ke rumahmu, bukankah kedua orang tuamu dibunuh, lalu siapa yang mengurus jenazah mereka?" Sasuke mengusulkan, saat Sakura telah menceritakan kejadian yang menimpa diri dan kedua orang tuanya.
Sakura mengangguk menyetujui usul Sasuke. melalui petunjuk Sakura, mereka meuju rumah Sakura. Tapi begitu mereka tiba di kediaman Haruno, antara kaget dan senang karena orang tua Sakura sudah selesai di urus oleh orang yang mereka tidak tahu siapa.
Sasuke hendak pamit dan meninggalkan Sakura, tapi sebelum Sasuke melakukan hal itu. Sasuke justru mendapati Sakura dalam keadaan yang kacau. Di mata Sasuke, tampak jelas kalau perasaan Sakura saat itu bercampuraduk, kesedihan dan duka beserta syok masih tergambar di wajah Sakura.
Entah dorongan dari mana, Sasuke menarik tangan Sakura untuk ikut bersamanya. Entah kenapa pula, Sasuke tidak tega meninggalkan Sakura dalam kondisi yang terpuruk. Dalam hatinya, ia ingin sekali melindungi gadis bubble gum itu.
Sementara saat Sakura ditarik Sasuke untuk ikut bersamanya, Sakura tidak menolak. Bahkan jika Sasuke mau memperhatikan, akan tampak sedikit wajah tenang Sakura. Dan bagi Sakura, ia menemukan sedikit rasa aman bersama pria menawan yang berwatak es itu.
TO BE CONTINUE
Bacot lagi dari author…
Yooo….. double chap lagi nih yang di publish, sengaja biar Sakuranya cepat muncul. Pengennya sih Sakura muncul di chap 2. Cuman, kalau begitu, satu chapternya jadi sekitar 7 ribu kata dong. Aduh bosen bacanya kalo terlalu panjang. makanya di pendekin, yah, antara 3 K sampai 4 K kata per chapter.
Yosh thx yang udah review, udah di bales kan.. :D
