Andai aku bisa mengulang waktu
Mengubah segalanya agar tidak menjadi rumit dan runyam seperti ini
Manakah yang harus aku pilih
Mencintai seseorang yang tak pernah melihat ke arahku, selalu memberikan rasa sepi, sakit serta luka
Atau
Menerima cinta seorang pria yang akan selalu menjaga, melindungi bahkan tak pernah membuatku menumpahkan air mata
Disclaimer : Tite Kubo
Rate : T
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family, Drama
Pair : Orihime Inoue x Ichigo Kurosaki x Ulquiorra Cifer
~ Love Me ~
WARNING : TYPO'S, OOC SUPER AKUT, OC, NO BAKU, EYD BERANTAKAN, ALUR KADANG LAMBAT DAN CEPAT, DLL
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
X0X0X0X0X0X0X0X0X00X0X0X0X0X0X
Tumpukkan dokumen menumpuk tinggi hampir menutupi tubuh, dering telpon juga beberapa kali terdengar namun semuanya diabaikan tak di pedulikan sama sekali, semua pikiran, tenaga bahkan waktu semua ia berikan pada tumpukan dokumen menggunung yang harus diselesaikan hari ini membuat kepala pusing dan hampir pecah. Tak jauh dari meja kerja, Renji sedang bekutat dengan setumpuk pekerjaanya sebagai seorang sekretaris, tumpukkan dokumen di atas meja pria bersurai mera dengan rambut di kuncir satu keatas itu dua kali lebih banyak karena sebelum diberikan untuk ditanda tangani, terlebih dahulu diperiksa apakah ada kesalahan atau tidak, jika pun ada bagian yang salah atau tidak sesuai akan segera dibenarkan mengingat pria bersurai orange dengan mata madu tersebut adalah orang yang sangat prefeksionis juga teliti jika menemukan kesalahan sekecil apapun pada pekerjaan pastilah pegawai itu langsung dipanggil untuk memperbaikinya saat itu juga sampai benar. Mengerjakan sesuatu dibawah tekenan terlebih diawasi sang bos tentu akan membuat susah berkonsetrasi karena rasa takut, gugup, cemas menguasai, otakpun jadi tak bisa berpikir dengan baik hal hasil pekerjaan menjadi berantakan.
Tak jarang para pegawai wanita berlari menangis keluar ruangan kerja Ichigo, menggenggam kertas dokumen lecek serta basah oleh air mata. Bukan rahasia lagi jika Ichigo, sebagai pemilik perusahaan adalah orang yang sangat galak, tegas juga disiplin dalam pekerjaan, semua pegawai begitu menghormati sekaligus takut pada sosoknya yang begitu menakutkan, julukan untuk sang bos pun terdengar sedikit lucu entah jika Ichigo mendengarnya marah atau tidak karena disebut sebagai Shinigami, dewa pencabut nyawa karena sosok, horor serta menyeramkan darinya. Tapi sebenarnya Ichigo tidak sejahat atau sekejam yang dipikirkan karena tugasnya sebagai sebagai pemimpin perusahaan, banyak tanggung jawab dipundaknya demi kelangsungan, kemajuan perusahaan serta kesejahteraan para pegawai membuatnya harus bertindak tegas juga berwibawa dihadapan seluruh pegawai, dan Renji memahami posisi Ichigo karena ia sangat tahu bagaimana sifat bosnya itu.
Jam dinding besar di dalam ruangan menunjukkan ke angka dua belas, sudah waktunya makan siang, mengisi perut kosong serta tenaga setelah bekerja dari pagi dengan sesuatu yang mengeyangkan agar bisa kembali bekerja. Menikmati satu porsi jumbo mie ramen di dekat persimpangan jalan mungkin akan terasa enak, pikir Renji membayangkan menyatap habis makan yang terbuat dari campuran tepung serta telur itu dengan kuah kental bewarna pekat yang mengluarkan aroma lezat. Tanpa sadar air liurnya jadi mengalir hanya membayangkan sudah membuat perut semakin lapar saja, jika saja hari ini pekerjaan di kantor tak padat, menumpuk mungkin ia dan sang bos bisa pergi kesana selama setengah jam menikmati makan siang, mengisi perut kosong mereka yang sejak pagi hanya di isi kopi tak ada camilan atau kue sebagai pendamping.
Mata Renji melirik ke meja sang bos, dan pria bersurai orange itu masih sibuk, fokus pada pekerjaannya tak memperhatikan dan menyadari kalau ini sudah waktunya makan siang.
Renji mendesah berat, kembali megerjakan pekerjaannya yang tadi sempat tertunda sejenak, sudah bukan rahasia lagi kalau sedang ada pekerjaan sebanyak ini Ichigo selalu melewati jam makan siang, duduk seharian di kursi berkutat dengan pekerjaannya yang tiada habis. Ichigo akan ingat makan jika perutnya sudah terasa perih atau berbunyi meminta diisi sesuatu, dan karena kebiasannya itu dokter sudah mendiagnosanya terkena penyakit maag karena selalu telat makan.
Hanya menikmati secangkir Caffe Latte sudah cukup membuat perut Ichigo kenyang dan tenaga kembali terisi.
Suasana di ruang kerja Ichigo terasa hening, hanya terdengar suara ketikan keybord laptop atau sesekali gumaman kecil dari Renji entah merasa kesal, pusing dengan pekerjaan para pegawai yang dinilainya sangat kacau juga tak profesional karena banyak kesalahan dimana-mana.
CKLEK!
Tanpa ada ketukan atau ucapan sopan meminta ijin untuk masuk kedalam, pintu yang terbuat dari kaca di ruang kerja Ichigo tiba-tiba terbuka.
Reflek Ichigo dan Renji menoleh ke arah pintu, melihat siapa yang datang tanpa permisi.
Wajah tampan Renji yang sejak tadi berekspresi serius langsung memberengut tak suka, matanya memandang malas pada gadis bersurai megenta dengan iris senada warna rambutnya, gadis yang dikenalnya sebagai gadis manja, egois, bawel, genit sekaligus menyebalkan itu berjalan santai dalam balutan dress mini hitam polos, tas branded mahal merk terkenal ditentengnya, langkah kakinya terlihat angkuh, wajah sedikit mendongak keatas tak ketinggalan senyuman manis menghias wajah cantiknya menatap Ichigo.
"Gadis menyebalkan itu." Dengus Renji dalam hati.
Mata Renji mengikuti gerakan tubuh gadis itu seperti seekor elang yang tengah mengintai buruannya, tajam dan begitu mengawasi karena memang gadis itu memang berbahaya serta gangguan, tanpa diminta atau meminta ijin terlebih dahulu langsung duduk.
"Ichigo-kun" suaranya terdengar manja, ciri khasnya ketika memanggil pria bersurai orange itu.
Berpura-pura sibuk tak tahu kedatangan Riruka, Iris madu milik Ichigo melirik sebentar ke depan, menatap datar gadis bersurai megenta dengan rambut di kuncir dua itu yang tersenyum lebar.
"Oh, kau!" seru Ichigo datar.
Ichigo fokus dengan pekerjaannya kembali, mengacuhkan kehadiran gadis tersebut, tak mempedulikan gadis itu yang kedatangannya sama sekali tidak diinginkan apalagi harapkan, saat ini terlebih di saat sibuk seperi ini.
Tak menyerah dengan sikap dingin Ichigo, gadis manis ini mencoba kembali menggoda, "Ini sudah jam makan siang. Ayo kita makan siang bersama," ajaknya setengah merayu.
"Aku tidak lapar, kau makan saja sendiri atau ajak saja orang lain." Sahut Ichigo acuh.
Ichigo masih sibuk dengan dokumen-dokumennya tak begitu menanggapi karena tak penting. Dibaliknya kertas dokumen, melihat halaman selanjutnya dari neraca keuangan yang dibuat dari salah staff akunting menghitung pengeluaran perusahaan minggu kemarin.
"Huh! Menyebalkan!" jerit Riruka kesal dalam hati.
Kedua pipi gadis ini menggembung bak ikan fugu, salah satu kakinya dihentakan ke lantai marmer tanda kesal, Renji tertawa geli dari mejanya melihat tingkah lucu, aneh dari gadis bersurai megenta tersebut.
"Rasakan kau!" kikiknya pelan.
Baik Renji atau Ichigo bukan tidak mengenal baik gadis yang berada satu ruangan dengan mereka, Riruka Dokugamine, putri tunggal salah satu rekan bisnis perusahaan Ichigo. Menurut Renji, Riruka adalah gadis menyebalkan, selalu mengganggu, mengejar Ichigo bak seorang fans fanatik sejak tiga tahun terakhir, Riruka bertemu pertama kali dengan Ichigo saat acara pesta ulang tahun perusahaan di sebuah hotel bintang lima, bisa dibilang Riruka jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Ichigo yang dianggapnya sebagai pria dewasa tampan, keren dan mapan secara finansial. Moto hidup Riruka sendiri adalah menikahi pria kaya tampan agar hidupnya bisa enak juga bersenang-senang sampai tua, itu semua tak lepas dari didikan dari kedua orang tua Riruka yang sudah menanamkan pemikiran sempit serta materialistis pada sang anak. Sudah banyak pria-pria kaya dikenalkan oleh orang tua Riruka, tapi tak satupun dari mereka mampu merebut perhatian apalagi hatinya, standarnya untuk memilih pasangan sangat tinggi tak hanya sekedar tampan tapi harus lebih kaya dari sang ayah dan sosok itu ditemukan pada Ichigo Kurosaki, seorang CEO di perusahaan besar, putra pertama pasangan Masaki dan Isshin Kurosaki yang sangat terkenal dikalangan para pebisnis dengan perusahaan besar yang mereka miliki. Dimata Riruka sosok Ichigo bak seorang pangeran berkuda putih yang selama ini dicari, harapkan dan idam-idamkan. Tapi kenyataan pahit harus diterima Riruka karena Ichigo tak mau membuka hati untuk siapapun, cintanya hanya untuk gadis bersurai ungu bermata kuning besar bernama Sena yang sudah lama tiada karena kecelakaan mobil beberapa tahun lalu.
Tak pernah menyerah dan putus asa, Riruka selalu berusaha keras bahkan tak jarang berbuat hak nekat, ekstrim menarik perhatian Ichigo namun semuanya sia-sia, Ichigo tetap pada pendirian teguhnya tak mau membuka hatinya pada siapapun.
Mengerucutkan bibir, wajahnya tertekuk kesal memandang Ichigo, rengekan pelan keluar dari mulutnya berharap pria bersurai orange itu mau mendengarnya.
Ichigo menghirup nafas dalam-dalam, memejamkan mata sejenak dan berusaha fokus pada pekerjaannya tapi nyatanya tidak karena Riruka, sebenarnya ia malas meladeni Riruka yang sebenarnya kedatangan mengganggu, banyak pekerjaan penting yang harus diselesaikan.
Riruka mengerucutkan bibir, Ichigo mengacuhkan lagi, tidak menyambut kedatangannya dengan baik, padahal Riruka sengaja datang ke kantor untuk bertemu karena rindu tapi sikapnya malah seperti itu. Riruka benar-benar sangat sebal dengan sikap dingin juga cuek Ichigo. Apa selama bertahun-tahun ini hati Ichigo yang dingin bagaikan es itu tidak bisa meleleh juga dan melupakan Sena untuk selamanya.
Andai Ichigo tahu, banyak pria diluar sana berlomba-lomba mendekati dan berusaha mendapatkan hati Riruka bahkan para pria itu rela melakukan dan memberikan apapun yang diinginkannya hanya demi mendapatkan perhatian juga bisa dekat dengannya tapi hatinya sudah terpaut pada pria bersurai orange itu, membuang sikap angkuh, sombongnya sebagai Nona kaya keluarga Dokugamine, mencoba mendekati, bersikap manis bahkan manja tapi Ichigo selalu bersikap dingin bahkan selalu mengacuhkan.
"Aku sudah lapar, bagaimana kalau kita makan di restaurant mewah dekat sini." Ajak Riruka kembali dengan setengah merajuk berharap ke inginannya di penuhi oleh pria bermata madu tersebut.
Ichigo menghela nafas cepat, "Renji, tolong kau temani Nona Dokugamine makan siang." Ujar Ichigo dengan nada memohon pada sekretarisnya itu.
Renji memandang kaget pada sang bos tapi melihat tatapan Ichigo dengan tatapan memohon membuat Renji mau tidak mau luluh dan menuruti ke inginannya.
"Ah, tatapan itu." Batin Renji sebal.
Renji mendesah pasrah, di matikan komputer miliknya lalu berjalan ke arah meja kerja Ichigo. Dengan langkah kaki santai mendekat, kemudian berhenti tepat di samping Riruka yang menatap tajam, wajahnya memberengu sebal tanda tak suka dengan kehadiran Renji didekatnya.
Lagi-lagi Renji harus menemani gadis egois juga menyebalkan seperti Riruka, jika disuruh menemani seorang wanita cantik nan sexy untuk makan siang dengan senang hati akan ia lakukan tapi jika menemani Riruka makan siang itu sama saja seperti berada di neraka karena pastinya gadis itu akan terus mengoceh sambil merengek bak anak kecil saat makan karena tidak ditemani Ichigo.
"Kau mau makan dimana, gadis manja," tanya Renji dengan ekspresi wajah sebal.
Riruka memandang sinis, "Aku tidak mau pergi denganmu." Tunjuk Riruka.
"Pergilah dengan Renji, ia akan menemanimu makan siang sampai kenyang," sahut Ichigo dengan mata masih fokus pada dokumen.
"Tidak mau! Aku mau makan siang denganmu." Rajuk Riruka dengan mata berkaca-kaca.
Renji memutar mata bosan, seperti biasa Riruka pasti akan mengeluarkan jurus andalannya jika keinginannya tidak terpenuh yaitu merengek dengan mata berlinang air mata seperti anak kecil yang sedag merajuk meminta permen. Riruka tetap pada keinginannya mau makan siang bersama Ichigo tidak mau dengan Renji karena menurutnya tidak menyenangkan, pastinya pria bersurai merah panjang itu akan mengajak makan makan di restauran sederhana atau kedai kecil bukan di restaurant mewah berkelas juga mewah. Lidah Riruka tidak terbiasa dengan makanan yang disajikan di kedai atau rumah makan sederhana, mengingat setiap hari dirumah pasti koki selalu menghidangkan makanan berkelas dengan menggunakan bahan kualitas terbaik.
"Aku ingin makan siang bersama, Ichigo-kun." Rengek Riruka berharap pria tampan bersurai orange ini mau menerima ajakan darinya.
Renji merasa kesal dengan sikap kekanak-kanakan Riruka, rasanya ia ingin melempar jauh gadis bersurai merah muda tersebut, tapi ditahan karena sadar akan posisinya yang hanya seorang bawahan diperusahaan ini.
Merasa tetap diacuhkan, Riruka pun merebut map yang ada ditangan Ichigo dan itu sukses membuat pria bermata madu tersebut menoleh menatap Riruka.
Ichigo memutar mata kesal, menghela nafas sejenak, sangat memusingkan meladeni sikap manja dan seenaknya dari Riruka butuh kesabaran ekstra menghadapi sikap aneh darinya. Andai saja gadis bersurai magenta dengan rambut dikuncir dua ini bukan anak dari rekan bisnis penting perusahaan, sudah dari tadi Ichigo meminta penjaga mengusirnya atau melarang masuk ke perusahaan karena dianggap sebagai penggangu.
"Kembalikan itu, Riruka," pinta Ichigo dengan nada yang sangat datar berusaha menahan amarah pada gadis cantik dihadapannya saat ini.
"Tidak mau." Tolak Riruka masih memainkan dokumen ditangannya.
Merasa kesal dan jengah, dengan cepat Renji merebut cepat map itu dari tangan Riruka lalu memberikannya pada sang bos.
"Ayo kita makan siang, Nona manja." Renji menarik paksa tangan Riruka membawanya keluar ruangan meninggalkan Ichigo sendirian agar lebih bisa berkosentrasi bekerja tanpa harus diganggu.
Riruka berontak, berusaha melepaskan cengkraman tangan Renji pada lengan kanannya.
"Lepaskan aku." Ronta Riruka.
Namun cengkraman tangan Renji sangat kuat bahkan langkah kakinya cepat juga tergesa-gesa membuat Riruka agak sedikit kesulitan mengimbangi.
Ichigo menghembuskan nafas cepat, dilongarkan sedikit dasi yang melingkar di leher, tubuhnya dihempaskan kebelakang kursi merileksasikan tubuh serta pikiran sejenak.
Akhirnya sang pengganggu sudah pergi, Ichigo bisa melanjutkan pekerjaannya kembali dan berkutat dengan dokumen-dokumen di atas dimeja yang sejak tadi terus memanggil untuk segera diselaikan. Sepertinya hari ini Ichigo akan lembur dikantor atau bisa dibilang pulang malam mengerjakan semua dokumen agar bisa mengambil libur selam beberapa hari, mengingat bulan depan adalah hari kematian Sena, seperti tahun-tahun biasanya ia akan pergi ke makam Sena untuk ziarah. Tak ketinggalan sebuket bunga Lily akan ia bawa dan ditaruh dimakam sang kekasih.
~(0)-(0)~
Wajah ceria Orihime tidak terlihat siang ini, wajahnya tertekuk sedih, iris abunya menatap masam selembar kertas putih ditangan yang diterimanya beberapa menit lalu dari sang Sensei. Dua angka ditulis menggunakan spidol berwarna merah membuat wajah Orihime semakin sedih bahkan depresi karena lagi-lagi mendapatkan nilai jelek dalam ulangan bahasa Inggris dan ini bukan yang pertama kali. Orihime benar-benar merasa sangat frustasi dengan mata pelajaran dari Sensei tampan bermata Emerald tersebut, padahal ia sudah berusaha sekeras mungkin belajar dan menyimak pelajaran dengan baik agar lebih mengerti juga memahami, tapi tetap saja nilai ulanganya masih jelek walau ada sedikit peningkatan dari nilai 42 menjadi 49, tak banyak tapi bagi Orihime itu sebuah kemajuan.
Iris Emerald Ulquiorra melirik sekilas pada Orihime yang duduk di sudut kelas, karena bangkunya berada dibelakang dekat jendela, "Hasil ulangan kalian kali ini menunjukkan kemajuan tapi sayang masih ada yang mendapatkan nilai merah." Kata Ulquiorra ditengah-tengah kelas.
Entah menyadari atau tidak tapi wajah Orihime tiba-tiba berubah pucat pasi karena merasa termasuk dari murid yang mendapatkan nilai jelek di kelas.
Ulquiorra menatap penuh arti pada Orihime yang wajahnya terlihat lesu sekaligus sedih, "Orihime," panggilnya.
"Y-ya," sahut Orihime seraya menoleh ke arah sang Sensei.
"Hanya kau yang mendapatkan nilai dibawah 50, aku akan memberikan bimbingan khusus padamu karena jika terus dibiarkan kau tak akan pernah bisa lulus dari mata pelajaranku." Ujar Ulquiorra dengan nada khawatir.
Wajah Orihime menegang kaku dengan mulut sedikit terbuka, kaget sekaligus syok mengetahui hanya dia saja yang mendapatkan nilai jelek dikelas terlebih harus mengikuti pelajaran tambahan dari Ulquiorra, ibaratkan pepatah ia seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Sudah mendapatkan nilai jelek harus mengikuti pelajaran tambahan bersama sang Sensei berhati dingin tersebut. Padahal Orihime berpikir setidaknya ada beberapa temannya mendapatkan nilai merah sama sepertinya, tapi nyata tidak hanya ia saja. Seketika Orihime merasa menjadi murid paling bodoh dikelas, mempertanyakan kemana kepintarannya selama ini karena selalu mendapatkan peringkat tiga besar di sekolah tapi sangat lemah di mata pelajaran bahasa Inggris.
"Ya, Tuhan!" jerit Orihime dalam hati.
Sementara Orihime menjerit sedih dalam hati lain hal dengan para gadis yang merasa kecewa, sedih tidak bisa mengikuti pelajaran tambahan dari sang Sensei tapi mereka juga merasa cemburu sekaligus iri pada Orihime karena bisa mendapatkan pelajaran tambahan khusus dari sang Sensei dimana pastinya bisa berdekat-dekatan juga memandang wajah pria bermata Emerald itu dari dekat.
Para gadis menjerit iri dalam hati dan menangis sedih karena tak bisa dekat-dekat dengan Ulquiorra.
Andai saja teman-teman dikelas Orihime tahu posisinya bisa ditukar maka akan ia lakukan.
Seulas senyuman menghiasi wajah tampan Ulquiorra karena bisa menghabiskan waktu berdua juga berdekatan dengan Orihime selama jam pelajaran tambahan, untung saja nilai ulangan gadis bersurai oranye kecokelatan itu 49 hampir 50, dewi fortuna sedang berpihak pada Ulquiorra karena satu-satunya murid dikelas ini yang mendapatkan nilai dibawah 50 hanya Orihime saja.
"Pelajaran hari selesai." Kata Ulquiorra menyudahi pelajarannya.
Tak lama setelah sang Sensei keluar para gadis langsung mengerumuni Orihime, bak seekor pemangsa yang tengah mengepung buruannya, Orihime terjebak dan terjepit dala kurungan teman-teman sekelasnya, menatapnya dengan tatapan iri, marah, cemburu, benci semua begitu jelas terlihat di mata.
Mencoba tersenyum namun gagal, Orihime malah terlihat aneh karena rasa takutnya lebih besar daripada keberaniannya menghadapi mereka yang jumlah lebih banyak darinya, jika pun nantinya Orihime dikeroyok ramai-ramai bisa dipastikan mendapatkan luka cukup parah berupa cakaran, jambakan atau pukulan. Membayangkan hal itu membuat Orihime ketakutan bahkan tubuhnya gemetar disertai keringat dingin.
"Ka-kalian kenapa?!" tanya Orihime takut, dalam posisi bertahan mencoba menahan serangan takut jika mereka menyerang tiba-tiba.
"Kau curang, Orihime!" teriak salah satu teman perempuan Orihime dikelas.
"Apakah kau sengaja mendapatkan nilai jelek dalam ulangan kali ini agar bisa berduan dengan Ulquiorra Sensei," tuduh Ryou menatap sinis Orihime.
"Tidak." Orihime membela diri karena memang tidak berniat mendapatkan nilai jelek untuk bisa berdekatan dengan Sensei tampan tersebut.
Sehari sebelum ulangan Orihime sudah belajar agar nilainya membaik tidak mendapatkan nilai merah tapi apa daya, ia memang lemah dengan mata pelajaran dari Ulquiorra Sensei. Jika menelan kamus bahasa Inggris yang tebelnya beberapa inci itu bisa membuat Orihime pandai berbahasa Inggris makan akan ia lakukan tapi tak ada cara instan seperti itu, semuanya butuh waktu. Dan mungkin Orihime membutuhkan sedikit banyak waktu karena otaknya tak bisa menangkap dengan baik pelajaran dari Sensei tampan tersebut, padahal semua mata pelajaran dikuasai bahkan olahraga.
Ryou memukul keras meja, "Jangan bohong pada kami!"
"Hentikan ulah kalian." Kata Rukia dingin menyela tindakan mereka yang sudah mulai anarkis menurutnya.
Mata Rukia menatap nyalang pada kerumunan gadis yang mengepung temannya, langkah kaki Rukia tergesa-gesa menghampiri Orihime, ditarinya lengan Orihime membawanya keluar dari kelas meninggalkan keruman fans fanatik Sensei bermata Emerald tersebut.
"Jika kalian ingin marah dan protes, katakan pada Ulquiorra Sensei. Kenapa kalian tidak isi saja ulangan kemarin agar bisa mendapatkan nilai jelek dan bisa mengikuti pelajaran tambahan." Kata Rukia sinis sesaat sebelum keluar dari kelas menarik tangan Orihime.
Semua orang diam, menutup mulut rapat-rapat tak bisa juga berani membalas perkataan Rukia karena perkataannya memang benar adanya.
"Rukia-chan."
"Aku lapar. Ayo kita makan siang bersama diluar."
Orihime merasa sangat senang sekaligus haru memiliki seorang teman yang sangat baik juga peduli padanya, bahkan mau membela didepan teman-teman sekelas. Rukia sendiri merasa kesal dan tak terima melihat sahabatnya diperlakuan seperti itu terlebih karena alasan sepele, ia tahu kalau Orihime bukan orang yang seperti dituduhkan, setiap hari pasti Rukia selalu ditanya mengenai pelajaran bahasa Inggris jika ada yang tidak mengerti. Jadi ia yakin kalau nilai merah Orihime bukan di sengaja karena memang dia belum mengerti dan lemah dalam pelajaran bahasa asing tersebut.
~(-_-)~
BRUUUUUM
Suara mesin mobil terdengar memasuki pekarangan rumah keluarga Kurosaki. Mobil bewarna merah dengan lambang seekor kuda didepan melaju pelan di pekarangan lalu masuk kedalam garasi atau bisa dibilang seperti ruangan karena ukurannya cukup besar, mampu menampung sepuluh mobil.
Pria bersurai orange, bermata madu dalam balutan kemeja abu-abu dengan dasi polos berwarna hitam berjalan masuk kedalam rumah, dengan langkah kaki terlihat lesu, wajah lelah sekaligus mengantuk terlihat jelas di wajah. Hal pertama yang ingin di lakukan setelah sampai di rumah adalah berendam air hangat, merileksasikan tubuh serta pikiran, setelah seharian penat dan pusing mengurus pekerajaan di kantor yang tidak pernah ada habisnya malah selalu bertambah. Membuka pintu perlahan, lalu menutupnya pelan agar tidak menimbulkan suara berisik, suara sepatu pantofelnya terdengar menggema di sepanjang koridor rumah, melirik sebentar jam dingding besar ditengah ruangan, jarum jam tepat menunjukkan pukul satu malam pantas saja suasana rumah sudah sepi juga gelap hanya diterangi lampu dingding disepanjang koridor sebagai penerang jalan.
Kaki jenjangnya melangkah pelan menaiki anak satu satu persatu menuju lantai dua, ke kamar tidur. Dalam benaknya sang istri pasti sudah tertidur pulas, mengingat ini sudah lewat tengah malam dan semua orang juga sudah beristirahat termasuk para pelayan. Di dorongnya pelan pintuk kayu besar bergagang emas, melangkah masuk Ichigo mendapati keadaan kamar masih terang, dahi Ichigo berkerut bingung apa Orihime lupa mematikan lampu mencoba melihat keadaan sang istri diatas ranjang nyatanya tak ada sosok gadis bersurai oranye kecokelatan yang biasanya tidur di atas ranjang berukuran kingsize itu, bahkan tak ada tanda-tanda bekas tidur sama sekali. Masih rapih bahkan bantal juga selimut masih berada di posisi semula.
Berpikir positif, Ichigo mencari sang istri ke kamar mandi, mungkin Orihime sedang melakukan aktifitas kecil pribadinya.
Mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali seraya memanggil karena tak mungkin langsung masuk kedalam, namun tak ada sahutan atau tanda-tanda sang istri berada di dalam. Penasaran sekaligus cemas Ichigo membuka pintu kamar mandi, melongok kedalam sang istri tak ada sama sekali didalam kamar mandi seperti perkiraannya.
"Kemana dia." Gumamnya cemas.
Tak mau membuat keributan terlebih panik orang dirumah ditengah malam seperti ini, Ichigo berusaha mencari ke tempat lain yang biasa di datangi Orihime saat berada di rumah salah satunya ruang perpustakaan kecil di lantai satu dekat dengan ruang tamu. Menahan rasa kantuk yang mendera, Ichigo berjalan di koridor rumah yang remang menuju perpustakaan dengan penuh harap jika sang istri berada disana.
Mendorong cepat pintu kayu berwarna hijau gelap tersebut, Ichigo melangkah masuk ke dalam dengan tergesa-gesa.
"Orihime!" panggilnya seraya mengedarakan pandangan mencari sosok sang istri.
Iris madu Ichigo menangkap sosok seorang gadis bersurai oranye kecokelatan di sudut ruangan, tengah meringkuk tidur dengan menjadikan buku tulis miliknya sebagai alas tidur.
Ichigo mendesah pelan, senyuman tipis menghias wajah tampannya yang nampak lelah. Orihime tengah tertidur lelap dengan posisi kepala ditaruh diatas meja, beberapa buku terlihat berserakan disekitarnya, alat tulis berupa pensil masih berada ditangan. Apakah Orihime kelelahan belajar hingga membuatnya ketiduran.
Melepas kemeja abu-abu miliknya, Ichigo memakai kemeja kerjanya pada sang istri, dirapihkan semua buku serta peralatan tulis yang berserakan diatas meja disaat tengah sibuk dengan aktifitas membereskan tanpa sengaja iris madu Ichigo menangkap kertas ulangan milik Orihime yang mendapatkan nilai 49 dengan menggunakan spidol merah. Sesaat Ichigo tersenyum lalu memandang ke arah Orihime yang terlelap tidur, buku-buku yang dirapihkannya tadi ternyata kamus bahasa Jepang-Inggris serta modul bagaimana cara berbahasa Inggris dengan lancar dan cepat.
"Kau sudah berjuang dan belajar dengan baik." Diusapnya pelan puncak kepala sang istri.
Ichigo menggendong tubuh sang istri ala bridal sytle, membawanya ke kamar untuk membaringkan diatas ranjang agar tidurnya lebih nyaman juga hangat. Saat melewati dapur tanpa sengaja Ichigo berpapasan dengan sang ibu yang baru selesai minum.
"Ichigo!" seru Masaki.
Masaki melirik ke arah Orihime yang berada dalam gendongan sang anak, "Kenapa Orihime-chan?" tanya Masaki dengan setengah berteriak.
"Tenanglah ibu, Orihime tak apa-apa. Tadi aku menemukannya tertidur di perpustakaan," jelasnya.
"Oh. Kalau begitu cepat bawa dia ke kamar, ibu akan membuatkanmu secangkir teh,"
"Terima kasih, ibu."
Satu demi satu anak tangga Ichigo tapaki seraya menggendong tubuh sang istri yang masih terlelap tidur, ini pertama kalinya ia menggendong Orihime ternyata berat tubuhnya sedikit lebih ringan dari Sena. Melewati kamar tidur kedua orang tuanya, Ichigo masih harus berjalan beberapa menit lagi untuk sampai di kamar pribadinya. Keadaan rumah yang remang-remang membuat Ichigo harus lebih sedikit berhati-hati takut kakinya menyenggol sesuatu atau koleksi guci, vas mahal milik sang ibu jika sampai pecah bisa-bisa nanti ia digantung. Setelah masuk ke kamar, Ichigo membaringkan perlahan tubuh Orihime diatas kasur, lalu menyelimutinya hingga sedada. Tak lama suara pintu terbuka, Masaki menyembul masuk ke dalam kamar membawa nampan berisikan segelas teh panas untuk Ichigo.
Cangkir putih keramik dengan hiasan bunga teratai itu diataruh diatas meja kecil dengan ditemani beberapa camilan ringan sebagai pelengkap, mendekap nampan kecil yang dibawa Masaki berjalan menghampiri Ichigo yang sibuk membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Apa ada pekerjaan penting, sampai kau pulang selarut ini?" Masaki melirik sedih ke arah sang menantu karena selama ini tidak terlalu di perhatikan oleh sang anak.
"Ya, semua pekerjaan harus aku selesaikan, bulan depan aku ingin ke makam Sena," Ichigo membuka kemeja putihnya lalu menaruhnya ke dalam keranjang baju kotor agar besok bisa diambil oleh pelayan untuk di cuci.
Wajah Masaki memberengut tak suka mendengar Ichigo menyebut nama mendiang wanita bersurai ungu tersebut, "Kau masih memikirkannya!?"
"Ya, aku tak akan pernah bisa melupakan Sena," sahut Ichigo sendu.
Masaki mendesah pelan, "Apakah kau tak ada perasaan pada Orihime, walau hanya sedikit?" tanya Masaki mencoba memancing kejujuran hati Ichigo.
Pemuda tampan ini terlihat terkejut sesaat, kedua matanya melebar sempurna, pertanyaan sang ibu membuatnya kaget sekaligus bingung harus menjawab apa, ia sendiri masih tidak mengerti dengan perasaannya pada sang istri, suka atau tidak. Sementara itu sosok Sena masih terpatri kuat dihati tak bisa tergantikan dengan siapapun termasuk Orihime.
Mengepalkan tangan dan mengungatkan hati, Ichigo menjawab penuh keyakinan, "Tidak."
"Kenapa?" tanya Masaki penuh rasa penasaran.
"Aku tak bisa ibu," jawab Ichigo jujur.
Masaki geram dengan jawaban sang anak, "Sampai kapan kau mau..."
"Cukup ibu!" sela Ichigo dengan nada sedikit tinggi.
Masaki mendelik takut menatap sang anak karena tak biasanya membentak, dan ini pertama kalinya terjadi.
Raut wajah Ichigo nampak serius, "Aku menikahi Orihime demi keluarga ini, namun jangan paksa aku untuk mencintainya karena aku tidak bisa melakukannya ibu. Hanya Sena yang aku cintai dan inginkan menjadi istri juga ibu dari anak-anakku bukan dia." Kata Ichigo sendu, pandangan matanya penuh luka menatap sang ibu.
Kedua mata Masaki berkaca-kaca mendengar pengakuan sang anak, betapa miris serta sedih hatinya memikirkan nasib sang menantu yang tak akan pernah bisa mendapatkan cinta, hati dari Ichigo karena semuanya hanya untuk Sena, andai saja memiliki seorang putra lain maka Orihime akan ia nikahkan kembali agar bisa hidup bahagia serta dicintai tidak seperti ini disia-siakan, tak dianggap bahkan tak pernah diharapkan kehadirannya dalam hidup Ichigo.
"Kau jahat, Ichigo! Ibu menyesal sudah mempercayakan Orihime-chan padamu." Masaki keluar kamar dengan berlinang air mata.
Hatinya benar-benar sedih, walau bukan ia yang mengalami tapi penderitaan, rasa sakit sang menantu ikut dirasakan juga karena orang yang pantas disalahkan adalah Masaki karena dirinyalah yang memaksa Ichigo untuk menikah dengan Orihime. Berharap nantinya Ichigo akan melupakan Sena dan memulai kehidupan baru bersama Orihime namun sayang harapannya sia-sia bahkan hancur saat ini karena pengakuan putra semata wayangnya tersebut.
"Maafkan ibu, Orihime-chan." Isak Masaki.
Tanpa sepengetahuan Ichigo maupun Masaki, gadis bermata abu-abu itu mendengar semua perbincangan antara ibu dan anak tersebut. Orihime sudah terbangun saat Masaki berteriak di dapur, tak ingin membuat kaget atau merusak moment indah bersama sang suami, ia memilih berpura-pura tidur, menyender nyaman dalam dada bidang sang suami, hidungnya bisa mencium jelas aroma parfum serta tubuh dari Ichigo yang membuatnya tenang serta nyaman. Saat itu Orihime merasa sangat senang, bahagia tapi semua itu tak berlangsung lama, Ichigo menghancurkannya dalam sekejab bahkan menyakiti hati, perasaannya yang memang sudah tersakiti sejak awal.
Orihime menangis dalam diam mendengar semua pengakuan juga isi hati sang suami yang tidak bisa mencintai juga menganggapnya sebagai seorang istri maupun perempuan.
"Ichigo-sama." Lirih Orihime dalam hati.
TBC
A/N : Tadinya niat ingin melanjutkannya habis lebaran tapi mumpung ada waktu luang dan mood sedang bagus saya mempublish kelanjutan Fic ini sekaligus hadiah ulang tahun untuk seseorang yang selama ini sudah mensuport untuk terus menulis, melanjutkan Fic yang masih banyak terbengkalai dan belum selesai. Terlebih saya hampir kehilangan minta menulis Fic dengan pair ini karena ada yang membuat saya sedih tapi berkat 'dia' saya kembali bersemangat untuk menulis&lebih mencintai pair ini^^
Terima kasih yang sudah memberikan Riview serta semangatnya, saya sangat senang dan lebih bersemangat melanjutkan Fic ini sampai tamat. Untuk kelanjutannya tetap akan saya lanjutkan setelah lebaran walau saya sudah mengetik chapter berikutnya ditengah-tengah waktu luang.
Fic ini jauh sekali dari kata bagus apalagi sempurna karena banyak kekurangannya, mungkin tidak terlalu menarik tapi saya sangat berteima kasih kepada siapapun yang sudah mau membaca Fic ini dan jika berkenan memberikan Riview serta tanggapannya.
Ogami Benjiro II
