Voca hell! Err... House!
Disclaimer: vocaloid milik yamaha dan rekan-rekannya.
Guest: err... Kalau soal itu Mikan belum tau. Mikan udah tau endingnya bakal gimana tapi Mikan belum memutuskan di chapter berapa cerita Mikan akan berakhir. (.w.;)
Rilliane Lourage: ehe, Mayu kan memang ada untuk itu owo
Guest: oke!
PX-20 Neko Len-chan: #nangis sama-sama
Len: jangan peluk Rin x(
Mikan juga suka bagian itu. Entah kenapa tapi membuat Kaito tersiksa itu menyenangkan!
Benarkah? QwQ senangnya!
Guest: maaf, maaf ;w; fakta tentang Len itu masih jauh di chapter berikutnya
Kagamine Mikan: uwaah? Benarkah?
Mikan akan usaha! *jangan-jangan kita kembar?* XP
...
Huh? Kemana benda itu?
Rin memeriksa seluruh bagian meja itu dengan teliti. Dia mencari dari atas sampai bawah, setiap laci yang bisa dia temukan di benda berbentuk balok itu. Tapi sama sekali tidak ditemukannya kotak musik yang tadi malam menemani tidurnya.
Rin menggigit bibirnya dan melihat meja itu sekali lagi. Hanya ada lampu meja, perangkat komputer, tumpukan buku tulis dan sebuah novel dengan cover anak perempuan berambut merah yang tersenyum dengan lebarnya disana. Rin sempat mengira Len itu pedofil saat melihat covernya, tapi setelah membaca sedikit dari isinya Rin menyadari untuk tidak menilai orang dari cover buku yang dibacanya.
Dengan sedikit menghempaskan diri Rin duduk di kursi di depan meja dan mulai mengingat ingat. Apa tadi malam itu cuma mimpi? Bagaimanapun juga ingatannya di malam itu samar-samar. Tapi suara kotak musik itu masih bisa Rin ingat dengan baik. Suaranya seperti kotak musik yang pernah ibunya berikan padanya saat dia berumur tujuh tahun. Sayangnya dia merusaknya dan sejak saat itu kotak musik itu tidak pernah dia temukan lagi.
Dan tadi malam dia mendengar suara yang sangat dirindukannya itu.
Aha, Len pasti tahu letak kotak musik itu!
Suara pintu yang terbuka dan tertutup dengan cepat tertangkap oleh telinga Rin.
Dan Len datang tepat saat Rin membutuhkannya.
Rin berdiri dan membalikkan badan, bersiap untuk bertanya saat pemandangan di depannya membuat matanya membulat. Rin melihat, untuk beberapa detik. Kemudian dengan jeritan kecil dia menutup wajahnya, berjongkok dan menjerit lagi, kali ini lebih keras.
Setelah jeritannya berhenti, Rin tidak mengatakan apapun lagi. Lebih tepatnya tidak dapat menemukan kata yang harus diucapkan. Kepalanya dipenuhi oleh apa yang baru saja dilihatnya. Kenapa ini bisa terjadi? Dia tidak seharusnya melihat itu. Tidak boleh! Dia sudah bersumpah pada dirinya dan Rinto-niichan untuk tidak melihat hal-hal seperti itu sampai dia menikah. Dan Len itu! Seharusnya dia menutup dirinya dengan celana, handuk, kain lap, daun juga boleh! Kenapa dia tidak mengatakan apapun?
Dia mengaduh saat merasakan poninya ditarik oleh Len. Tapi dia tetap tidak menurunkun tangannya.
"Gomen ne, aku lupa membawa handuk."
Suara langkah kaki Len yang melewati Rin terdengar, diikuti suara pintu lemari yang terbuka. Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, akhirnya Rin membuka matanya. Dengan langkah cepat dia menuju pintu. Tapi saat hendak keluar, suara Len menghentikannya.
"Tolong bawakan buku-buku di atas meja itu ke perpustakaan. Kokone sensei sudah menunggu kita disana."
Rin menoleh dengan ragu-ragu. Yang pertama Rin lihat adalah rambut belakang Len yang berantakan. Dia sudah memakai celananya dan sepertinya sedang sibuk mengancingi kemejanya. Dan telinganya merah sekali. Sepertinya dia juga malu dengan apa yang terjadi barusan.
Rin mengangguk sebelum berjalan cepat menuju pintu.
...
Uh, buku –buku ini berat sekali! Apa mereka akan mempelajari semua ini?
"Ohayou Rin-chan!"
Rin menjerit kecil. Dia menoleh, melihat Mayu dan Teiru berjalan menuju dirinya. Mayu memberikan senyuman cerah, dan menyamakan kakinya dengan Rin. Dia sama sekali tidak mempedulikan Teiru yang membawa setumpuk buku dengan agak kesusahan. Mayu melihat buku-buku ditangan Rin, dia menggigit bibir merah mudanya dan bertanya dengan nada polos ditambah matanya yang bulat dan besar melihatnya dengan penuh harapan.
"Buku- buku ini kelihatan berat, apa Rin-chan butuh bantuan?"
Rin hampir mimisan. Hampir. Kata-kata seperti 'aku bukan yuri' dan 'aku bukan pedofil' menjadi mantra di kepalanya yang terus berputar-putar. Rin tertawa hambar sebagai jawaban.
"E, err.. Tidak apa-apa Mayu-san, aku baik-baik saja."
Tidak ada gunanya. Mayu telah mengambil novel yang berada di tumpukan paling atas, melihat kulit luarnya lalu melihat Rin lagi dengan mata besarnya itu. "Aku tidak tau kalau Rin-chan suka novel membosankan seperti ini." Ujarnya.
"A, sebenarnya itu novel milik Len..."
Seketika wajah menggemaskan Mayu berubah suram. Dengan kaku dia melemparkan novel itu ke tumpukan buku di tangan Teiru dan berjalan cepat menuju perpustakaan. Rin hanya melihatnya dengan tatapan melongo. Dia tidak mendengar Teiru yang mengeluarkan desahan panjang.
"Mayu-sama..."
...
Kokone sensei itu persis seperti apa yang Rin bayangkan. Tinggi, langsing, rambut coklat yang lurus dan panjang dan wajah tirus yang cantik dihiasi mata coklat yang memukau, bulu mata lentik, bibir merah muda yang seksi, hidung yang pas dan senyum yang membuatmu lupa akan siapa dirimu. Dan dia sangat ramah dan baik. Rin langsung menyukai guru itu di pertemuan pertama mereka.
Bukan 'suka' yang seperti itu! Rin itu masih normal, dan kata-kata 'aku bukan yuri' telah menjadi mantra sejak pertama kali dia menginjakkan kaki di rumah ini.
Tapi, sesempurna apapun Kokone sensei pasti ada satu hal yang membuat Rin berubah pikirannya.
"Nah, x tidak sama dengan nol, jadi..." Bla bla bla. Sebesar apapun rasa suka Rin pada Kokone sensei tetap saja tidak akan merubah rasa bencinya pada matematika. Oh, kenapa Kokone sensei harus mengajari matematika?
Rin melihat teman-temannya. Mereka semua mendengar penjelasan Kokone sensei dengan serius, dan mereka memberikan jawaban yang tepat. Bahkan Mayu yang masih kelas dua SMP saja bisa menjelaskan cara penyelesaian soal-soal yang Kokone sensei berikan secara detil dan tanpa kesalahan.
Sekarang Rin merasa dia adalah manusia terbodoh di muka bumi ini.
Sungguh.
Kokone sensei melihat Rin, memberikan senyuman tipis dan menyuruh mereka beristirahat sebentar. Rin menghela nafas panjang. Merasa sedikit bersalah karena menyusahkan mereka. Tapi sejak dulu matematika memang bukan subjek yang dia kuasai.
"Hm...? Kalian semua kelihatan lesu. Bagaimana kalau kita menyanyi saja?" Tawar Kokone sensei.
Yang pertama kali menyetujuinya adalah Luka. Dia berdiri di atas meja di tengah-tengah mereka. Beruntung dia memakai celana training hari ini jadi tidak ada hal yang tidak patut dilihat dari atas sana. Dia menarik nafas panjang.
"Lagu ini kupersembahkan untuk Miku-chi~"
Kokone sensei hanya tersenyum, tidak memberikan respon apapun terhadap sikap Luka yang terang-terangan itu. Sedangkan Miku yang menjadi sorotan memberikan senyuman lebar dengan rona merah menjalari pipinya.
Ah, itsuka eien no
Nemuri ni tsuku hi made
Douka sono egao ga
Taema naku aru you ni
Tepukan riuh dari Gakupo justru membuat Miku memukul kepala ungu itu. Rin melihat itu semua, heran dengan respon Miku itu. Gakupo kan hanya memberikan tepukan dan meneriakkan kata-kata I lov- oh begitu.
Kaito, yang tampaknya sangat bersemangat untuk menyanyi (dia selalu bersemangat untuk apapun sepertinya) segera naik ke atas meja dan tersandung sesuatu, membuat dia terjatuh di hadapan Gumi. Dan karena Gumi yang sedari tadi mendongak melihatnya tidak sempat mengelak, kecelakaan pun tidak dapat terhindarkan.
Mereka berciuman.
.
.
.
"Itai! Kau menggigit hidungku! Bakaito sialan!"
Eh, sepertinya narator salah.
Rin menundukkan wajah, dan mengeluarkan tawa kecil di balik mulutnya yang tertutup telapak tangan. Di satu sisi dia kasihan melihat Kaito, tapi di sisi yang lain dia menyukai, menikmati aksi Kaito yang bersusah payah meminta ampunan dari kemurkaan Gumi. Hal ini membantunya melupakan masalah yang dihadapinya saat ini.
Hah, seandainya dia bisa keluar dari sini.
Eh, bukannya Len mengatakan kalau dia akan membantunya keluar?
Rin melihat Len, Len bertepuk tangan menikmati lagu yang Kaito nyanyikan. Dia mencoba memanggil Len, tapi Len mengisyaratkan Rin untuk diam.
"Ini kejadian langka. Sebaiknya kita nikmati ini selagi masih bisa." Ujarnya.
"Tapi-"
"Sst."
Rin menghela nafas. Mungkin setelah ini.
Oide kono ude no naka
Acchi no yami wa nigai zo
Kimi wa madoi yurameku
Yagate eien ni naru
Kocchi no yami amai zo
Boku wa fukaku tsukisasu
Hik. Lagu apa ini? Kenapa kedengaran seram begini? Ah, Kaito kan memang aneh. Biarkan saja.
...
... Hik.
Setelah berjam-jam hasilnya cuma filler chapter kayak gini, maafkan Mikan T.T
Disclaimer II: lagu yang dinyanyikan Luka itu dari anime Inuyasha (Dearest) dan lagu yang dinyanyiin Kaito itu dari anime Shiki (Kuchizuke) Mikan iseng masukin lagunya karena Mikan lagi asik nonton dua anime ini. X-X;
