Seoul (19/02)Belakangan dunia entertaiment Korea Salatan kembali di kejutkan dengan beredarnya beberapa foto yang menyeret artis binaan Pledis ent yang paling bersinar.
Choi Seungcheol. Rapper muda tersebut tertangkap basah tengah berkencan dengan seorang pemuda yang diketahui menempuh pendidikan di sebuah universitas paling disegani di Seoul.
Beberapa foto yang disebar luaskan oleh salah satu website tersebut menunjukan bahwa pumuda berusia 21 tahun itu dengan lembutnya menuntun sang kekasih ke dalam mobilnya.
Sebagian lainnya menunjukkan bahwa keduanya sedang berjalan-jalan disekitaran sungai Han pada malam hari.
Rumor ini beredar semenjak salah satu fansite milik Seungcheol sendiri yang memposting beberapa foto sang idola yang tengah berlibur bersama seorang pemuda berambut sebahu di sebuah pantai.
Postingan tersebut tentu saja membuat para netizen berbondong-bondong memenuhi laman website milik Pledis ent hanya untuk menanyakan kebenaran dari foto tersebut.
"Aku merasa ini hanya sebuah settingan yang nantinya akan membuat karir Seungcheol yang sempat redup karena keberadaan Vernon kembali naik." komentar salah satu nettizen.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Tapi kuharap berita itu tidak benar." balas yang lain.
Sampai berita ini di turunkan belum ada kepastian yang di berikan oleh agensi tempat Seungcheol bernaung.
Hatefully Choice
Verkwan
Vernon x Seungkwan
Writted by
Gasuga
Mitakun
Ugii
Yaoi
Typo's
Enjoy
"Kau tidak bosan membaca berita seperti itu terus, Hao?" Seungkwan mendudukkan dirinya di samping Minghao yang bersandar pada kepala ranjang.
Minghao menggeleng sembari tangannya menggeser kursor laptop ke atas dan bawah, mencari berita serupa terkait skandal Seungcheol.
"Kau menyukai Seungcheol juga? Aku baru tahu. Kukira kau cuma tergila-gila pada si berengsek Hansol itu." Ujar Seungkwan cuek.
"Tidak juga. Aku cuma melihat-lihat sejauh mana skandalnya Seungcheol."
"Sama saja, berarti kau tertarik pada orang itu. Dia satu agensi dengan si idiot itu, kan?"
Minghao menoleh, menampilkan wajah lugunya yang terlihat heran. "Siapa?"
"Vernon tentu saja."
Dan Seungkwan harus ikhlas wajahnya dilempari tissue basah bekas Minghao.
"Yak kau kenapa sih Hao?!" Sebalnya.
Minghao memutar matanya, mendesis. "Aku ketularan sifat jelekmu, tahu!"
"Dasar tengkorang berjalan!" Seungkwan menimpukkan kembali tissue basah yang masih ada di genggamannya pada Minghao.
"APASIH, KAU PANTATBESAR?!" Maki Minghao.
Seungkwan diam. Matanya melotot. Bukan terkejut karena bentakan Minghao yang menyuruhnya diam. Dia sudah biasa dengan itu. Tapi karena sebutan tadi. Apa, Pantat Besar?
Ingatannya kembali pada pertemuan —rahasia—tidak sengajanya dengan si berengsek Vernon.
Orang aneh itu mengatainya.
Pantat besar.
Dan pria sialan itu juga bilang kalau Dia menyukai pantat Seungkwan.
Tapi bagi Seungkwan itu sebuah ledekan.
Penghinaan.
Jadi,
Seungkwan kesal.
"Kau mengataiku?!" Serunya. Kini dirinya sudah menindih tubuh kurus Minghao.
Laptop yang daritadi dipangku oleh Minghao sudah dia letakkan entah di mana. Membuatnya leluasa berbuat seenak hati kepada Minghao.
"Jangan mengatai pantatku!" Teriaknya sambil menggelitiki perut Minghao. Membuat Minghao kegelian sampai kakinya bergerak ke mana-mana.
"Aduh, Kwan, stop!" Minghao mencoba menangkap tangan Seungkwan, dan berhasil. Dia mendorong tubuh Seungkwan dengan kencang sampai pemuda itu jatuh ke belakang.
Jangan heran, mereka sudah sering berkelahi seperti itu.
"Aduh,"
"Aduh,"
Rintihan keduanya beradu bersamaan. Seungkwan yang memegangi tangannya, sedangkan Minghao yang memegangi perutnya.
"Aduh, sakit." Rintih Minghao lagi dengan wajahnya yang sudah memerah.
Seungkwan panik melihatnya. Dengan segera dia meraih pundak Minghao. "Kenapa, Hao?"
"Perutku, Kwan. Dari semalam rasanya seperti ditusuk-tusuk, sekarang rasanya makin perih. Tadi pagi sudah tidak, tapi sekarang sakit lagi. Aduuuuh."
"Berbaring dulu." Seungkwan menuntun Minghao untuk berbaring. Kemudian dia turun dari ranjang, berlari cepat keluar kamar Minghao dan mencari Mama sahabatnya itu.
.
.
.
Gebrakan meje membuat seorang pria berjas lengkap dengan kacamatanya terlonjak.
"Kenapa bisa terjadi eoh?!"
"Maaf Sajangnim, ini di luar kendali saya."
Si pelaku penggebrakan meja mematai pria tadi dengan tatapan tajam menusuk.
"Manager Gong, harusnya anda tau dengan apa yang terjadi pada anak asuhmu."
Pria berkacamata itu kembali menunduk di katai demikian.
"Bukankah Seungcheol anak asuhmu yang paling kau banggakan? Lantas kenapa kau tak tau menahu tentang ini?!" Presdir Han, selaku CEO dari Pledis ent tesebut melemparkan surat kabar yang melampirkan foto-foto si bintang Kpop dengan seorang pemuda berambut sebahu. Mereka tengah bergandengan menuju ke dalam mobil.
Meski orang awam sekali pun, mereka bisa melihat tatapan penuh cinta di kedua mata insan-insan tersebut.
"Maafkan saya sekali lagi Sajangnim. Saya benar-benar tak tahu menahu soal hal ini. Seungcheol tak pernah bercerita apa-apa mengenai kisah asmaranya pada saya."
"Tentu, tentu saja ia tak akan bercerita padamu. Dan seharusnya kau sendiri yang bisa mencium sikap anak itu."
Lagi-lagi pria itu tersudut dengan mulut pedas sang atasan.
"Aku tidak mau tau. Segera lakukan sesuatu yang berguna untuk menutupinya."
Manager Gong menelan ludahnya kasar. Kalau sudah Presdir Han bersuara, ia harus melakukan apa yang pria itu katakan. Karena jika tidak, jangan harap ia masih menerima gajinya bulan depan.
Belum sempat manager Gong membuka mulutnya, sebuah ketukan menghentikan diskusi keduanya.
"Maaf Sajangnim, ini saya sekertaris Shin."
Presdir Han nampak tidak kerasan dengan kedatangan sekertaris Shin ke ruangannya di saat ia dan Manager Gong tengah membicarakan hal-hal penting. Namun pria paruh baya tersebut tetap mengijinkan sekertarisnya untuk masuk ke dalam ruangannya.
"Ada apa?" tanya sang CEO dengan tatapan tak berminat.
"Begini, salah satu fansite Vernon menyebarkan sesuatu." ucap sekertaris Shin hati-hati.
Dia tau apa yang terjadi antara Presdir Han dan manager Gong. Maka ia harus se halus mungkin memberi taukan hal ini pada CEOnya tersebut. Karena bisa jadi ini akan menjadi masalah yang sama besarnya dengan masalah Seungcheol.
"Apa itu?"
Wanita berbalut busana warna merah menyala ini lantas mendekatkan pc yang sedari tadi ia dekap ke arah Presdir Han. Dan diam-diam manager Gong ikut melirik ke arah benda tersebut.
Sebuah lampu terang menyala di kepala pria tersebut.
"Pak, saya rasa saya memiliki ide."
.
.
.
Minghao masuk rumah sakit, dokter mengatakan kalau lambung Minghao terkena infeksi serta perlu perawatan lebih intensif di rumah sakit.
Seungkwan masih melamun di luar ruangan ICU bersama Junhui dan Mama Minghao, sambil menunggu dokter melakukan pemeriksaan pada Minghao kembali. Wajahnya sudah seperti akan menangis lagi. Yapa benar. Dari tadi, sejak Minghao diangkat ke mobil Junhui untuk dibawa ke rumah sakit, dia sudah menangis dengan sangat kencang.
Mungkin merasa bersalah karena dirinya lah yang sudah membuat perut Minghao sakit lagi—dia menggelitikinya tadi—.
"Cengeng sekali kau, Kwan. Sudah. Jangan menangis terus. Kau sudah jelek, nanti tambah jelek kalau mukamu kusut begitu." Junhui dengan wajah tanpa dosanya berusaha menasehati sahabat kekasihnya, atau malah meledeknya.
Tidak, tidak, Junhui tidak salah dengan apa yang sudah dikatakannya barusan. Seungkwan dengan pipi berminyak serta bekas air mata, dan ekspresi seperti menahan poop. Itu jelek sekali, sangat jelek sekali.
"Aku yang menyebabkan Minghao sakit, Ge." Bibirnya melengkung ke bawah, sudah akan menangis lagi jika saja Mama Minghao tidak mengusap kepalanya lembut.
"Bukan salahmu, Kwan. Kau juga cuma menggelitikinya saja kok, kalian sudah sering melakukannya, kan. Minghao memang sudah dari kemarin malam mengeluh sakit perut." Mama Minghao menjelaskan.
Seungkwan memeluk wanita cantik di sampingnya yang sudah dia anggap seperti ibunya sendiri. "Tapi sakitnya kambuh lagi karena aku, Ma. Aku jahat teman yang jahat sekali."
"Kau baru sadar kalau jahat?" Junhui mengerlingkan matanya, berniat mengejek Seungkwan.
"Kau yang jahat padaku, Ge!" Dengan tangannya yang masih seringan kapas, Seungkwan menggeplak lengan Junhui. Cukup kencang hingga membuat Junhui mengaduh kesakitan.
.
Seungkwan duduk di kursi samping ranjang tempat Minghao berbaring. Tangannya terus menggenggam tangan Minghao yang bebas dari selang infus. Minghao sudah di pindahkan ke dari ruang ICU.
Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan kamar rumah sakit. Junhui sedang pulang ke rumah Minghao bersama Mama untuk mengambil beberapa perlengkapan. Sedangkan barusan, sekitar lima belas menit lalu Ibu Seungkwan datang, mengambilkannya beberapa baju ganti dan memberinya uang. Beliau mengancam Seungkwan untuk minta maaf kepada Minghao dan bersedia melakukan apa pun yang Minghao inginkan.
Ck, tanpa diancam pun Seungkwan sudah tahu harus bagaimana. Dia juga masih tahu diri dan punya malu.
Walau memang benar ini semua bukan salah Seungkwan sepenuhnya, tapi tetap saja. Jika ia tidak bertindak brutal dengan menggelitiki perut Minghao, mungkin jadinya tak akan seperti ini.
Maka dengan ini Seungkwan janji akan melakukan apa saja untuk Minghao asalkan dia dimaafkan. Setidaknya itu akan membuatnya lega.
.
Pukul sebelas malam, dua jam setelah Minghao dipindahkan ke kamar inap, jarinya bergerak. Dengan perlahan matanya ikut terbuka.
Tatapan polosnya mengarah pada Seungkwan yang wajahnya masih sangat kusam, kotor, dan kusut. Minghao menatap bingung pada wajah kusam sahabatnya. Dia mulai ngga konek lagi.
"Apa?" Tanyanya.
Jelas bukan itu yang sebenarnya ingin dia tanyakan. Melainkan kenapa, ada apa, di mana, bagaimana, dan sedang apa. Tapi karena terlalu banyak, Minghao menyimpulkan, lagian Seungkwan juga sudah sangat paham dengan apa yang dikatakan Minghao. Ia tau Minghao luar dalam.
"Kau baru siuman, lambungmu infeksi, ini di ruang inap rumah sakit, tadi kau pingsan waktu di bawa ke sini, dan aku sedang menjagamu."
Seungkwan tersenyum. Matanya sudah berkaca-kaca lagi. Ah, cengeng sekali, sih, orang ini.
Minghao mengangguk sekali. Kemudian wajahnya terlihat murung.
"Aku harus di sini untuk berapa hari, Kwanie?"
Seungkwan menggaruk pelipisnya mencoba mengingat perkataan dokter dua jam lalu. "Sekitar empat sampai lima hari, Hao. Tergantung perkembangan kesehatanmu."
"Yaaaaaaaaaaaah." Dan Minghao merengek panjang.
Dia cemberut, memaju-majukan bibirnya sambil meremas tangan Seungkwan yang digenggamnya.
"Kenapa sih, Hao? Seharusnya kan kau senang tidak usah sekolah sampai selasa depan. Ish."
Minghao menghempaskan tangan Seungkwan dengan kesal.
"Ambilkan aku minum, Kwan. Aku haus."
Seungkwan mencibir, tapi tetap mengambilkan apa yang Minghao minta.
Selesai meneguk seluruh air pada gelas, Minghao lagi-lagi memasang wajah kesal, campur sedih, campur malas, campur tidak nyaman.
"Sabtu besok ada fanmeetingnya Vernon, Kwan. Aku sudah beli tiket~" Minghao merengek.
Seungkwan berdecak. "Hao, kau itu baru sadar. Kenapa kau langsung mengingat dan mencemaskan hal tidak masuk akal seperti itu, sih?"
Tepat setelah itu pintu ruang inap terbuka, menampakkan Junhui yang menyeret ransel besar dengan Mama di belakangnya membawa plastik berisi makanan.
"Minghao sudah sadar?" Mama Minghao menghampiri sembari berlari kecil.
"Mamaaaaa,"
Minghao memeluk Mamanya, masih mengeluarkan suara rengekan seperti tadi.
"Kenapa, nak?" Tanya Mamanya yang sudah tidak tahan mendengar rengekan anaknya.
"Sabtu besok, kan, fanmeetingnya Vernon. Aku kan sudah beli tiket, yang seat S, lagi. Spesial." Bibirnya dimanyunkan lagi.
"Oh iya Mama lupa. Tapi Minghao, kan, sedang sakit, harus istirahat. Jadi tidak apa-apa, ya, tidak usah nonton dulu?"
Gelengan sekuat tenaga Minghao keluarkan. Enak saja. Dia sudah susah payah berebut tiket dengan ribuan fans lainnya, masa hanya karena sakit tiket itu harus terbuang percuma, sih?
Minghao jelas tidak ikhlas.
Lalu otaknya yang untuk sekarang sedikit sulit diajak berpikir, menemukan ide.
Minghao menatap Seungkwan, lalu tersenyum lebar.
Seungkwan yang ditatap seperti itu seketika mundur selangkah menjauhi ranjang Minghao. Merasakan adanya ketidak-beresan dari senyum lebar tersebut.
"Apa?"
"Kau harus menggantikanku datang ke fanmeeting itu, Kwan. Kau kan yang membuat perutku sakit lagi."
Seringai lucu Minghao terlihat. Sunggung baru kali ini Seungkwan merasa ketakutan oleh sahabatnya sendiri.
Dan apa tadi katanya?
Dia?
Datang ke fanmeeting?
Fanmeetingnya Vernon?
"Tidak! Terima kasih!" Dia menyuarakan isi kepalanya.
"Aku tidak mau tahu." Minghao bersikeras.
"Tidak mau, Hao. Aku tidak suka dia!" Seungkwan juga bersikeras.
Minghao diam, menatap Seungkwan dalam diam, lalu tiba-tiba berbaik memunggungi ketiga orang yang ada di sana.
"Yasudah, sana. Jauh-jauh dariku!" Minghao menarik bantal di sampingnya. Menutupi kepalanya dengan benda empuk itu.
"Minghao sayang.."
"Aku marah pada Seungkwan, Ma. Sudah, aku mau tidur."
Bicara Minghao ketus.
"Hao, jangan se—"
"Pergi, kau! Aku malas padamu. Hiks."
Isakan kecil, tapi bisa didengar oleh Seungkwan.
Setidak-tidak pekanya, dia juga tidak akan tega membiarkan Minghao menangis seperti itu. Apalagi hanya karena hal sepele. Fanmeeting.
Maka dari itu Seungkwan mendekat, menarik bantal Minghao dari atas kepalanya.
"Iya, iya, aku yang datang."
Lalu secepat kilat Minghao berbalik, mengabaikan perih di perutnya yang masih terasa.
"Benarkah?" Tanyanya riang.
Seungkwan mengangguk, antara ikhlas tidak ikhlas. Tapi harus diikhlas-ikhlaskan. Tentu saja.
Dia sendiri yang tadi sudah berjanji akan mengabulkan semua permintaan Minghao.
Yah, walaupun untuk menghadiri fanmeeting orang yang paling dibencinya.
Vernon Chwe.
Lelaki idiot mesum tidak punya otak, yang mengatai pantatnya besar.
Nah, kalau ada kesempatan nanti, Seungkwan akan mencakar wajahnya. Pasti.
Jadi, tunggu saja, Vernon. Siapkan wajah sok tampanmu untuk menjadi korban kuku-kuku cantik Seungkwan.
.
.
.
Hansol bergidig, seketika bulu kuduknya meremang. Dingin menyapa tenguknya.
"Kau kenapa?"
"Whaaaaaa" teriakan Hansol menggema saat ia menengok kebelakang dan mendapati wajah Mingyu begitu dekat dengannya.
"Aaaisssh, kau berteriak seperti hendak ku perawani saja." Mingyu kembali mundur dan menyesap segelas kopi yang berada di genggamannya.
Sedangkan Hansol melanjutkan kegiatannya kembali dengan ponselnya.
Tiba-tiba pintu studio terbuka. Wonwoo disana dengan dua buah cup coffe latte.
Pumuda dengan wajah darat itu menghampiri Hansol dan meletakkan salah satu cup tersebut di dekat paha Hansol.
"Hehe terimakasih Hyung."
"Milikku mana Hyung?" rengek Mingyu.
"Di tanganmu Kim Mingyu."
Hansol terkikik geli dengan ekspresi kedua Hyung nya ini. Wonwoo yang berwajah datar dan Mingyu yang pura pura merajuk.
Ketiganya kini lagi lagi tengah duduk-duduk sambil menikmati suara desiran Air Conditioner yang menyapu kulit ketiganta sejuk.
Sudah biasa. Di jam jam seperti sekarang ini, ketiganya telah terbiasa dengan kegiatan seperti ini.
Hansol yang setiap paginya selalu dia awali dengan kegiatan ke artisannya selalu di dampingi Wonwoo, atau Mingyu. Bahkan fans-fans nya saja sudah hafal kedua orang itu. Dan katanya Kim Mingyu bahkan punya fans sendiri. Namun tak jarang, jika Wonwoo ada kelas maka hanya Mingyu yang menemani, begitu pula sebaliknya. Hanya jika keduanya sedang ada urusan berdua maka Hansol harus rela di tinggalkan.
Seperti hari itu. Hari dimana ia bertemu dengan pemuda gembul yang mengaku sebagai Hatersnya.
Menyebalkan sih, mendapat pengakuan seperti itu di depan wajahnya langsung. Tapi melihat bagaimana binar mata si pemuda padanya membuat senyum Hansol tak bisa lari.
Pesona pemuda itu terlalu kuat untuk di tinggalkan. Tapi sayang, selain bokong besarnya, Hansol tak punya ingatan apa apa lagi mengenai sosok tersebut.
Seperti no ponsel? Hell namanya saja Hansol tak tau.
"Yak Hansol-ah kau tak salah membawa bawa sepatu buluk macam ini di tas mahalmu?"
Sepatu?!
Tunggi sebentar!
Hansol berbalik ke arah Mingyu yang sudah mengobrak abrik tas ransel endors nya.
"Hyung, letakkan lagi. Tak sopan sekali sih kau ini." Hansol mulai mencak mencak di hadapan Mingyu yang seolah tak melihatnya.
Pemuda berkulit tan tersebut malah memainkan sepatu berwarna hitam tersebut di tangannya.
"Ini milik siapa umm?" tanya Mingyu dengan wajah jahil jenakanya. Halisnya di naik turunkan, membuat Hansol jijik ingin muntah.
"Letakan kembali Mingyu-yaa, kau membuat uri Hansol-iie malu." sahut Wonwoo, yang walau dengan wajah datar tapi tetap saja nada bicaranya seolah menggoda. Menggoda untuk Hansol penggal kepalanya.
Untung mereka berdua sahabat kentalnya, jika tidak sudah di pastikan esok hari akan bermunculan berita tentang rapper idol yang mendekam di penjara karena menusuk mata kedua temannya dengan sumpit
Tidak elegan sekali.
"Kalian, kumohon kembalikan." Hansol kini merangkak menuju ke arah Mingyu.
Sungguh, sesi latihannya baru saja di mulai. Dan Wonwoo apalagi Mingyu tak mau mengalah padanya.
Apalagi Mingyu yang dengan beraninya melempar-lempar sepatu tersebut.
"Jawab dulu ini milik siapa euuum."
"Wonwoo Hyung!"
"Jawab saja pertanyaan Mingyu, aku juga penasaran."
"Eoh, eoh dari SMU S. Kau punya kenalan di sana?"
Mingyu mematai logo yang terdapat di sepatu tersebut sebelum menyeringai bak psikopat.
"Ini milik pacarmu yaaa?"
"Mwo?!" bukan Hansol yang berteriak. Ia bahkan hanya membuka mulutnya saja. Yang tedengar malah pekikan Wonwoo.
"Kau, kau punya pacar Hansol?" tanya Wonwoo tak percaya.
"Kenapa kalau dia punya pacar Wonu sayang, itu artinya kini kita bisa bebas tanpa bayi besar ini kan?"
Plak
Hansol hampir tertawa terbahak bahak melihat Wonwoo menempeleng kepala Mingyu dengan sadisnya.
"Bebas bagaimana? Ini justru masalah. Kau tau apa yang akan terjadi jika fans Hansol tau jika idol kesayangannya telah memiliki kekasih?"
"Bukan hanya karirnya yang terancam, tapi juga pacarmu itu akan kena bully habis habisan. Aku hanya kasihan pada orang itu."
Suara Wonwoo agak memelan di akhir kalimatnya. Hansol tau, ia tau betul apa yang di khawatirkan Wonwoo. Ia juga sama sama takut akan hal ini. Tapi ini bahkan terlalu dini.
Hansol saja belum tau siapa nama pemuda pemilik sepaatu ini, bagaimana untuk menjadikannya pacar? Haah yang benar saja.
"Hyung, sudahlah. Toh aku pun tak tau siapa pemiliknya. Aku hanya menemukannya di jalan. Dan karena desainnya bagus ku bawa saja untuk contoh sepatu yang ingin ku order pada temanku." kilah Hansol, ia hanya benar benar tak mau Wonwoo kelewat khawatir jika ia menceritakan semuanya.
"Yatuhan Hansol, aku tau prinsip orang ganteng bebas itu menjadi kiblatmu. Tapi,setidaknya kau jangan bersikap seperti pengepul barang bekas begini." ucap Mingyu juga mencoba mencairkan suasana.
Wonwoo tertawa mendengar seloroh kekasihnya tersebut. Tapi ada yang lain yang mengusik hatinya.
"Hansol-ah, bukankah SMU S itu yang mengundangmu menjadi bintang tamu di festival tahunan mereka?" tanya Wonwoo.
"Benarkah? Waah kalau itu memang benar, alangkah menyenangkannya."
Siapa tau aku bisa bertemu lagi dengannya. Iner Hansol meliar
Yaaah kita lihat saja
Tbc
...
Holla semuaaaaa kembali lagi dengan cerita kami.
Maaf updatenya telat, author-authornya sedang ada urusan masing-masing.
Sok sibuk memang. Tapi di sini saya datang membawa kelanjutan kisah mereka.
Semoga berkenan dengan ceritanya. Pintu kritik selalu terbuka dari kami.
Mitakun Bow
.
