Mohon maaf untuk keterlambatannya.
:(
Sasuke memutar kepala. Menoleh dengan wajah menghadap penuh ke arah Taijiki.
Pria dihadapannya bersuara, "Dari semua temanmu–termasuk temanmu yang berambut kuning itu, satu hal yang membedakan Sakura adalah bagaimana perasaannya padamu bertambah kuat tanpa alasan," tidak berkedip.
Sasuke memerhatikan dari sudut mata hitamnya. Suara daun bergesek dahan pepohonan mengisi di sekeliling. Ia melirik ke balik bahu Taijiki–terdengar suara lonceng dan sesuatu berdentum dari sudut lain desa.
"Ia tidak mengharapkan apapun, atau lebih tepatnya, siapapun selain dirimu," Taijiki tercekat, setengah terkekeh–menarik kembali pandangan Sasuke padanya.
"Tidak bahkan mengharapkan kau dapat melakukan hal yang sama." Taijiki menengadah ke arah angin yang menyusuri rambutnya pelan dari atas, senyumannya masih terlihat–samar dibalik gelap.
Tentu mata Sasuke dapat melihat setiap detailnya. Melihat rahangnya menegang dibalik rambut tipis yang menutupinya. Mendengar perbedaan nada yang keluar dari suaranya. Melihat tiap gerak jemarinya yang membuka dan menutup. Namun, tidak menyadari rasa kesal, sedih dan sedikit amarah yang dengan terlatih tertutupi menggunakan kedoknya sebagai seorang mantan ketua Anbu –menutupi emosinya.
"Keduanya memang menarik. Naruto, Sakura," lanjut Taijiki. Ia menarik napas perlahan, "Mengingatkanku bahwa di usiaku sampai saat ini... aku berharap memiliki satu diantara keduanya.
Sasuke hampir mendengus ke arahnya. Namun itu adalah hal yang akan Sasuke-lama berikan, tidak baginya yang sekarang. Ia kembali melirik ke balik bahu. Waktu berjalan cukup lama bagi keduanya. Tidak menghiraukan malam semakin gelap dan dingin.
"Pergilah walau sebentar. Setidaknya lakukan apa yang ingin kau lakukan," Taijiki memerhatikan mata hitam Sasuke yang entah tertuju kemana, bertanya-tanya apakah Sasuke mendengarkan perkataannya sedari tadi. Ia memasukan kedua lengan ke saku, mengambil langkah ancang-ancang "Meski apapun itu, mereka... akan tetap menerimamu. Ne, Sasuke?"
Senyuman. Sasuke melihat Taijiki tersenyum ke arahnya. Sasuke merasakan jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Itachi? Sekilas ia merasa Itachi merasuki pikirannya. Dan kata-katanya sekali lagi...
"apapun yang kau lakukan, aku tetap akan menyayangimu."
... membuat angin malam yang melewatinya menjadi dingin luar biasa.
Maaf, Itachi. Taijiki menghilang dari tempatnya berdiri. Hanya meninggalkan desah lembut angin yang terdengar dari balik punggung Sasuke.
.
.
.
Lelah. Mata Sakura menutup. Membuka kembali saat binar cahaya meletup dibalik jendela. Serpihan cahaya berwarna warni menghiasi pemandangan langit. Pias pantulannya jatuh ke dalam hijau matanya yang terasa semakin berat.
Ia tahu menanti adalah keahliannya. Dilihatnya lagi–mungkin untuk yang terakhir, pintu dari balik bahunya dengan sedikit menoleh ke sudut kiri ruangan. Nyeri di kepalanya menolak agar ia tidak terus menerus melakukan hal tersebut. Sakura mengernyit. Ia menghembuskan napas berat.
Matanya kembali menutup perlahan. Berulang kali ia meyakinkan diri bahwa ia tidak mungkin keluar dari ruangan sebelum pagi–atau Sasuke tidak mungkin masuk melewati pintu itu. Siapa yang diharapkannya, Uchiha Sasuke tidak memenuhi harapan seseorang begitu saja. Tidak juga mungkin mendatanginya di tengah malam entah bagaimana. Sakura melipat tangan kanannya untuk menumpu sisi kanan kepalanya dengan mata masih rapat terpejam.
Hitungan detik saja dunia di sekitarnya menjadi senyap–Sakura jatuh tertidur lelap. Ia berharap hari cepat berlalu. Sebelum ia merindukannya lebih lagi.
.
.
.
Terpejam.
Ia berharap.
Pagi cepat datang–beralih hari, berapapun lamanya nanti...
"Tidak sekalipun–
Tidak akan pernah."
Aku akan tepat dengan perasaanku. Sama.
.
.
.
.
.
(Dua hari sebelumnya) – Yusagakure.
"Aku pergi dulu," Shikamaru menarik tas ranselnya dari atas tanah.
"Ya, berhati-hatilah," Jawab teman di sampingnya yang sibuk meneropong dari balik persembunyiannya tanpa menoleh.
Beberapa detik berlalu dan Shikamaru kembali dengan wajah tidak menyenangkan. Sai beranjak dari posisinya untuk memastikan keadaan.
"Mereka menolak. Sial!" Shikamaru setengah berlari membereskan tempat persembunyian. Menendang tanah ia melompat jauh ke atas pohon. Sai hanya mampu menaikkan alis melihatnya.
"Sai kita harus kembali!" teriak Shikamaru dari balik dahan.
Saat Shikamaru memanggil namanya dengan suara tinggi, Sai sudah mengeluarkan tinta dan buku lukisnya. Ia menggores dengan cepat tintanya. Tidak lebih dari dua detik burung besar berwarna putih hitam muncul ke hadapannya. Mengepakkan sayap meninggalkan tanah, Sai menyusul Shikamaru yang sudah berlari di antara dahan pohon.
"Cari Sakura! Aku akan tangani yang dibelakang!"
"Baik."
Burung yang Sai tumpangi meninggi melewati pepohonan di sekelilingnya. Sai menengok sekali ke arah Shikamaru. Dari bawah jurang yang mengelilingi hutan terlihat rombongan orang-orang yang serampangan berlari ke arah Shikamaru. Mereka tidak lain adalah pemberontak desa Yusagakure yang terprovokasi untuk mendapatkan perhatian di daerahnya. Sebagian adalah pria-pria masih belia yang usianya jauh dibawahnya. Tetesan hujan terasa menusuk ketika Sai mempercepat gerakan burung tinta miliknya.
Dari kejauhan orang-orang berlarian menghilang kebalik gubuk-gubuk tempat tinggalnya masing-masing. Tiga orang pria bertubuh besar berdiri di hadapan Sakura sementara ia berusaha melindungi para korban yang mencoba membelanya di balik tubuhnya. Tiga pria itu membentaknya.
"Kalian pikir dengan melakukan ini akan mengembalikan ketentraman di desa kami!" urat-urat di leher mereka mencuat.
"Kau pikir kau siapa!" Salah satu dari tiga pria itu menendang peralatan medis yang berada di pinggir kakinya. Menginjaknya hancur.
Tangan Sakura mengepal. Kesal bukan main.
"Kalau mau melawanku tidak usah melibatkan mereka!" Jawab Sakura. Mata hijaunya menantang ketiganya.
Beberapa korban berbisik dan mulai ribut untuk membelanya. Mengatakan bahwa mereka harus menerima keadaan, bahwa mereka seharusnya berterima kasih pada Sakura karena sudah datang untuk mengobati seluruh warga yang membutuhkan perawatan di desa. Selama mereka berbicara kepala terasa berputar. Entah gempa bumi atau bukan, Sakura berdiri dengan kedua tangan masih terbuka lebar mencoba menyeimbangkan diri.
Dari balik pepohonan yang mengelilingi desa muncul dua baris pria lainnya yang bertubuh sama besar. Para korban berlarian ketika satu persatu ditarik paksa mengikuti pria-pria bertubuh besar tersebut. Sakura bersiap menolong salah satu korban terdekatnya, ketika pria besar di hadapannya membenturkan tubuh ke arahnya sekaligus ke arah para korban di belakangnya. Ia terhempas beberapa meter dengan kepala membentur tanah terlebih dahulu. Aliran hangat terasa di pelipis matanya.
Sementara pria bertubuh besar lainnya langsung menarik para korban yang berjatuhan–wanita, anak-anak, dan orangtua yang sudah renta sekalipun–menyeret mereka entah kemana. Sakura memenjamkan mata mencoba menyingkirkan rasa pusing di kepalanya. Ia merasa tanah di bawahnya bergetar. Penglihatannya berputar. Masih pria besar yang sama, berlari sekuat tenaga mengepalkan tangannya yang terlihat dua kali lebih besar bahkan dari tubuh Sakura, ke arahnya. Ke atas kepala Sakura, lebih tepatnya.
Giginya bergemeletuk ketika mengeluarkan sisa cakra untuk memukul mundur tiga pria besar yang mengelilinginya dengan sekali pukulan. Sakura memicingkan mata, "Babi hutan." Ia bergumam dengan napas tersengal.
Sakura memutar kepala. Mencari seseorang. Pria tua renta yang ditemuinya pertama kali. Pria yang sama yang dengan berani menentang kelompok pemberontak di desanya.
"Abe! Kakek Abe!" Pria tua yang dicari Sakura tergeletak di bawah kaki salah seorang pria bertubuh pendek yang membawa pemukul kayu. Ia berlari semakin cepat meski dengan pandangan tertutup aliran merah yang turun dari pelipisnya.
"Kakek pikun! Renta! Bodoh! Kau sudah bau tanah, tidak perlu memusingkan kelangsungan desa sepertiku! Aku tidak akan memaafkan mereka yang sudah memanfaatkan warga desa ini untuk berperang, namun tidak berbuat apa-apa untuk desa kita yang hampir punah ini!" Teriak pria pendek itu tepat di hadapan wajah Kakek Abe. Pemukul kayunya mengayun kesana kemari.
"Perdamaian adalah apa yang sudah mereka berikan! Tidak, kah itu cukup bagimu untuk hidup tenang beberapa tahun ke depan, Ghou?" susah payah Kakek Abe menjawabnya dari balik batuk dan sakit di dadanya yang tertindih.
Belum sempat pria pendek yang dipanggil Ghou tersebut membuka mulut, Sakura datang dengan tangan yang sudah ancang-ancang tertarik ke belakang. Mulut Ghou tidak akan mampu menyebut satu kata pun lagi setelah tinju Sakura melayang tepat ke arah bibirnya. Melemparnya terguling ke dahan pohon beberapa meter di belakangnya.
"Sakura-chan?"
Sakura berdiri di tengah-tengah kerumunan pria bertubuh besar. Mengelilinginya dengan senyum keji terpasang jelas di setiap wajahnya.
"Apa yang kalian inginkan?" Teriak Sakura ke hadapan semuanya. "Apakah menyakiti warga desa kalian sendiri termasuk dalam keinginan yang kalian ajukan!?" Ia merasakan wajahnya memanas karena amarah. "Kalian tentu tahu aku akan sangat mudah mengabulkannya!"
"Tentu kami tahu! Kalian Shinobi hanya tahu tentang itu! Kalian hanya tahu berperang!" Salah satu pria di kiri Sakura meludah ke arahnya. "Jangan berlagak seperti kau tahu bagaimana rasanya tinggal di desa yang akan punah seperti kami!"
"Lalu apa kalian tahu bagaimana rasanya berjuang antara hidup dan mati!" Suara seseorang memekik dari belakang kerumunan.
Para pria bertubuh besar menoleh bersamaan. Menunduk melihat pria kurus, berwajah pucat, menatap garang ke arah mereka. Dari sudut matanya yang gelap mereka melihat keganjilan dari ekspresi wajahnya yang seakan tersenyum keji.
"Apa yang kalian perjuangkan untuk desa kalian sendiri?" Sai memiringkan kepalanya, "Tidak ada, kan?"
Sakura menarik kakek Abe berdiri dari tanah. Ia memerhatikan kerumunan di hadapannya tidak bergerak, atau tidak berani, melihat Sai dengan wajah datar yang selalu diperlihatkannya dulu berdiri tegap tanpa berkedip.
Sakura membopong kakek Abe ke tempat yang aman. Ia menemukan rumah warga yang cukup besar untuk mengistirahkatnnya.
"Maki... Shou..."
Sakura memastikan tidak ada pemberontak lain di sekitarnya, "Aku akan kembali mencari mereka." Ia berlari kembali ke tempat pria-pria bertubuh besar–yang masih mengelilingi Sai–berdiri tidak menyadari keberadaannya sekarang. Ia menyelinap secepat mungkin untuk membantu pasien-pasiennya keluar dari kerumunan. Ketika Sai kembali berbicara–ketika cakra Shikamaru terasa tidak jauh darinya, Sakura meninggalkan tempat pemberontakan mengarah ke pengungsian lain yang tidak terlalu jauh.
"Aku mengenal seseorang yang mengorbankan nyawanya berulang kali–tidak bahkan puluhan dari kalian mampu menggantikannya–hanya untuk menegakkan perdamaian, untuk kalian semua yang bahkan tidak mengetahui pengorbanannya," Sai menarik perlahan kuas dari balik sakunya.
Sakura mendengar suara orang-orang berteriak dari balik punggungnya. Ia menoleh hanya untuk memastikan Shikamaru sudah sampai untuk membantu Sai. Lega. Mereka berdua membuat suara gemuruh dari tubuh pria-pria besat itu berjatuhan–menabrak rumah-rumah kayu juga pepohonan di sekitarnya.
Tempat pengungsian yang Sakura tuju tidak tersentuh sama sekali. Sebagian sudah pergi entah kemana, sisanya masih disana dengan pintar menyelinap ke balik rumah-rumah untuk menghindari amukan para pemberontak. Sakura memastikan dengan cakranya yang tersisa–menangkap aliran-aliran cakra di sekitarnya yang masih terasa utuh–baik baik saja. Ia memutuskan untuk membantu Sai dan Shikamaru. Kurang dari tiga detik, tanda kotak kecil di dahinya muncul. Sakura berharap tidak berlebihan baginya untuk menggunakannya. Atau, ia berharap tidak menggunakannya secara berlebihan.
.
Sai dan Shikamaru melangkah keluar–dari bawah penanda desa Yusagakure. Sai menoleh ke belakang untuk memastikan keberadaan Sakura.
"Apakah kau akan baik-baik saja? kalian bertiga?" Kakek Abe dan kedua cucunya, Maki dan Shou–yang memeluk Sakura dari kanan dan kiri, mengantar Sakura sampai ke perbatasan desa.
Sakura mengangguk cepat. Kebahagiaan jelas terpancar dari wajahnya ketika melihat tidak ada korban yang terluka terlalu parah. Terlebih karena para pemberontak telah dipukul mundur dan menyadari kesalahpahaman yang terjadi antar mereka sendiri.
"Maki, Shou, kemarilah! Sampaikan salamku pada Nona Tsunade," Sakura melepaskan pelukan pada keduanya dan mengangguk lagi.
"Baiklah, aku pergi, ya!" Sakura berdiri menyamakan posisi dengan kedua anak di hadapannya. "Kalian harus berjanji menjaga desa baik-baik," katanya seraya mengelus pipi keduanya bersamaan.
"Sampaikan salam kami pada Naruto-niichan," Shou memekik tersenyum.
Sakura tersenyum lebar. Ia menepuk kepala bocah berusia 5 tahun dihadapannya, bermata bulat hitam pekat, sehitam rambutnya yang menjutai menutup pandangannya. Sedikit cerita heroik tentang Naruto mampu membuat Shou percaya bahwa pahlawan itu nyata. Sakura tidak tahu ia dapat memaparkan cerita akan sahabatnya itu dengan begitu antusias dan bangga. Membuat kedua anak di hadapannya memiliki semangat akan masa depannya. Sakura menarik senyum lebar.
"Sampai nanti!" Sakura berlari meninggalkan ketiganya, ke arah Sai dan Shikamaru.
Alis Shikamaru meninggi sebelah.
"Kenapa?" tanya Sakura saat ia berdiri tepat di sampingnya.
Selama beberapa detik Shikamaru memandanginya. Kemudian alisnya kembali turun. Ia memalingkan wajah ke arah Sai dan bergumam "Tidak," sambil meneruskan langkah, "Ayo, sebelum hari gelap."
Sai dan Shikamaru bertukar pandang sebelum akhirnya ketiganya meninggalkan tanah dan berlari di antara dahan pepohonan hutan Yusagakure yang pekat.
Di tengah perjalanan seperti yang ditakutkan oleh Shikamaru, ketika hari gelap dan perbatasan Konoha hanya kurang dari tiga jam, Sakura kehilangan kendali akan tubuhnya. Shikamaru mendengar gesekan daun dari arah belakang, mengisyaratkan bahwa sesuatu terjadi. "Sai!" katanya memekik.
Sakura kehilangan kesadaran. Ia terjatuh dengan kepala mengarah ke tanah terlebih dahulu, jika bukan karena Sai yang sudah bersiap di bawah menangkapnya.
Sai menyerahkan Sakura ke atas punggung Shikamaru dengan wajah datar, "Instingmu seram juga, ya."
Shikamaru menghela napas panjang, "Keluarkan alat lukismu."
.
.
.
Sakura tertidur menghadap jendela dengan telapak tangan menumpu pipi kanannya.
Matanya.
Sasuke mendaratkan kakinya satu persatu ke atas lantai tanpa suara. Mata hitamnya tidak berkedip. Memerhatikan kelopak mata Sakura masih tertutup rapat ketika ia mengambil langkah mendekat.
Sasuke berhenti. Ia berdiri beberapa langkah dari pinggir kasur–di balik hitam bayang tirai jendela–tanpa menghalau cahaya bulan yang masuk.
Bulu matanya.
Tidak bergerak. Sasuke masih memerhatikan tubuh yang terbaring tenang di hadapannya. Memerhatikan Sakura dengan seksama. Perban di sisi kiri kepalanya–serta rambutnya yang menempel. Helaian rambut–yang jatuh menutupi lekuk wajahnya–pink pucat di dalam kegelapan.
Sasuke melangkah. Melewati gelapnya bayangan tirai. Memerhatikan Sakura lebih dekat.
Tatapannya turun menuju bibir merah muda milik Sakura. Lekuk leher. Lengan. Jemarinya yang kurus–goresan luka berwarna merah melukis hampir di setiap lekuknya. Sasuke meraih–dengan ujung jemarinya–menyentuh salah satu dari beberapa–mungkin lebih–goresan di tangannya.
Hangat.
Kulit mereka bersentuhan tidak lebih dari tiga detik. Sasuke merasakan hangat dari ujung jarinya. Ia menaruh kembali lengannya kebalik jubah.
Kepalanya membayangkan skenario terburuk yang dapat mengakibatkan Sakura terbaring di hadapannya–juga luka di keningnya. Sasuke tahu. Ini bukan lah skenario terburuk. Dirinya adalah skenario terburuk bagi Sakura.
Enam tahun. Yang diberikannya hanya kebencian. Namun, apa didapatkannya tetap kehangatan yang sama.
Saat Sasuke menatap kembali ke arah tubuh yang melekuk di balik selimut–di hadapannya, ia yakin bahwa dadanya berdenyut nyeri. Nyeri yang sama ketika memandang ke arah lengan kanan Naruto. Sasuke tidak berani melepaskan pandangannya. Memastikan rasa nyeri itu benar nyata. Sasuke memahaminya–menyadari sesuatu.
Kemudian ia menemukan dirinya berharap–dengan mata terpejam. Sekian lama. Akhirnya ia menemukan sesuatu yang berharga–yang sebenarnya sedari awal sudah ada dan tidak pernah hilang. Menantinya untuk tersadar. Sasuke berharap ketika ia kembali dari perjalanannya nanti, nyeri itu akan hilang. Tergantikan dengan rasa hangat yang sama yang lengan Sakura mampu berikan pada ujung jarinya. Meski sedikit–sebatas kulit yang saling bersentuhan. Dan ia akan mampu memberikan apa yang seharusnya Sakura dapatkan. Sedari dulu.
Bola mata hitam terlihat dari balik kelopak mata yang terbuka perlahan. Ia mengurungkan niatnya untuk menyentuh helaian rambut pink di depan matanya meski sesaat. Tubuhnya berbalik cepat. Sasuke menghilang dari tempatnya. Dibiarkannya Sakura tertidur di bawah remang cahaya bulan, jendela yang terbuka serta wangi malam menjelang pagi yang menyelinap masuk.
.
.
.
Taijiki melihat bulir air mata dari sudut mata hijau.
"Berapapun lamanya jangan pernah berubah...
...tetaplah menjadi dirimu...
...mencintainya bahkan tanpa syarat apapun."
Taijiki mematahkan harapannya,
Memiliki seseorang seperti Sakura baginya mungkin sudah jauh terlambat. Ia tahu rencananya berjalan lancar. Tujuannya akan tercapai. Sasuke akan berubah. Sasuke akan menyadarinya...
Konoha.
Naruto.
Sakura.
Bahkan Kakashi.
Adalah apa yang seharusnya berharga baik dalam–sharingan atau rinnegan–pandangannya miliknya.
Sakura menarik senyum.
Membuat pria di sampingnya tidak mungkin untuk tidak melakukan hal yang sama.
"Tidak sekalipun–
tidak akan pernah."
Penulis sedang sibuk-sibuknya persiapan akhir semester. Mohon dimaklumi ya :') dibalik itu, membuat chapter ini butuh revisi yang luar biasa. Tidak mudah membuat Sasuke tetap Sasuke, dan memberikan alur cerita yang smooth sampai akhirnya ia menyadari perasaannya sendiri.
Semua sadar kan, ya? kalau disini Sasuke mengakui perasaannya? hehehe
Seperti biasa sedikit penjelasan jalan cerita :
1. Latar belakang di chapter ini adalah festival tahun baru, masih dalam rangkaian acara tahun baru di Konoha. Sebelumnya penulis mau buat scene obrolan Taijiki dan Sakura, namun takut terlalu bertele tele jadi hanya di buatkan dialognya saja
2. Di chapter sebelumnya misi kakashi yg di kakashi hiden sudah selesai, saat pengumuman kebebasan sasuke hari itu juga kakashi menerima keputusan untuk menjadi hokage keenam. inget di chapter 699 kakashi sudah menjadi hokage, namun ia belum sah dilantik.
3. Disini sebenarnya pengin dikasih liat kalau Taijiki punya ketertarikan lebih sama Sakura. Tapi mungkin penulis buat dilain waktu aja. Atau mungkin penulis buat epilog terpisah gitu kali ya hehe.
Yaaa walaupun chapter ini singkat semoga menghibur sasusaku semuanya. Review pleaseeee :D
