Kepalanya ia sandarkan pada dinding yang mendekati kondisi buruk. Tubuh lemahnya ia biarkan bersandar dan tergeletak sebagian di atas tanah tanpa mempedulikan hawa dingin. Bau tajam darah masih memenuhi penciuman dan membuat kepalanya tak berhenti berputar karena sakit. Perutnya yang hanya berisi cairan, bergolak ketika kedua matanya membuka dan melihat pemandangan di sekitarnya. Ia tak lagi berada di dalam ruang gelap bawah tanah yang hanya bisa membuatnya merasakan lewat indra penciuman dan peraba. Sekarang ia berada di atas tanah merah akibat ternoda darah, sedikit merasakan sinar matahari dan dapat melihat dengan samar.

Perutnya kembali bergolak melihat pemandangan tadi terlintas di kepalanya. Tak jauh dari hadapannya, seorang anak laki-laki yang seumuran dengannya tampak tergeletak tak berdaya dengan punggung menghadap ke atas. Wajahnya yang dipenuhi luka memar dan beberapa luka sayat mengarah kepadanya serasa memohon pertolongan. Mata hitamnya tak dapat tertutup sempurna karena lebam dan dari mulutnya masih keluar darah segar. Yang jelas, tubuh kecil itu tak bergerak lagi.

Mengalihkan pandangannya, ia sedikit mendongak ketika bunyi decitan pintu besi terbuka dan terdengar suara teriakan lemah. Penglihatannya masih tak jelas ketika bayangan seseorang mulai mendekat ke arahnya. Ia memejamkan mata menahan sakit ketika dirasakannya satu tangan besar dan kasar mulai menarik paksa lengannya. Tubuh mungilnya sama sekali tak bisa melawan ketika orang itu membawanya ke tempat biasa. Di dalam hati, ia selalu memohon kepada Tuhan untuk mengakhiri hidupnya saja. Ia sama sekali tak tahan jika harus melewati proses yang sama setiap hari. Ia tak tahan untuk melihat keadaan yang sama ketika ia membuka mata di tempatnya beristirahat, mayat anak lain yang kemarin diketahuinya masih hidup terpampang tak bernyawa di hadapannya.

Sering ia bertanya pada dirinya sendiri untuk apa orang-orang itu melakukan hal seperti ini. Ia hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa. Anak kecil korban perang yang tak memiliki apa-apa. Ia tak tahu lagi kemana harus melampiaskan kemarahannya. Tuhan yang ia percaya sejak kecil kini mengabaikan permohonannya, hingga kini ia tak percaya apapun mengenai hal yang disebut agama.

Hampir saja ia terjatuh ketika tangan besar tadi mendorongnya ke dalam arena. Di sana sudah terkumpul anak-anak lain yang sebagian tak tahu apa-apa, sedangkan sebagian lain mengerutkan wajah dalam ketakutan. Yang ia pikirkan sekarang, cepat selesaikan semuanya dan segera keluar dari sini. Ia meraih sebuah wakizashi yang dilemparkan orang besar tadi dan mulai bersiap.

Satu yang perlu ia lakukan, ia hanya harus menghabisi mereka yang menghalangi jalannya.


Bleach © Tite Kubo

Kieli © Yukako Kabei & Shiori Teshirogi

Chapter 4: The Man

A/N: yang di atas kembali lagi ke empat belas tahun lalu. Emang saya sengaja gak ngasih tahunnya biar anda bingung dikit di awal. Khukhukhu… #plak Oh, ini ada dua—atau mungkin tiga—sudut pandang, tentu masih dengan orang ketiga.

ChappyBerry lover: ohooo~ update datang. Ah, permintaan update kilat itu menyiksa saya. ==' #plak Ehehe… mungkin di chapter ini bisa 'reveal' sedikit. :P

Rukippe: ah, setelah saya baca lagi chapter tiga, ternyata ada typo nyempil. Maklum, saya suka update malem2. :D Cerita yang menjurus romance ya? Mungkin gak terlalu kelihatan, tapi pasti ada kok. Saya usahain buat lanjutin. Gak ada niatan buat discontinued. Hanya saja… masalah waktu dan tingkat kemalasan. Hoho~

Dibawakan untuk anda dari otak saya yang sedang demo dengan aksi mogok berpikir.


Rukia's PoV

Rukia terbangun dengan biru-violet menghadap jam weker yang masih berdering kencang di atas meja sampingnya. Dengan sedikit gerutu dari bibirnya yang terhalang bantal dan selimut, ia berusaha meraih jam weker dan mematikannya dengan satu hantaman kuat dari tangan kanannya. Lima menit lebih lama, ia masih memejamkan kedua matanya dengan damai hingga suara dari balik jendela mulai membuatnya merasa kesal.

Tanpa mempedulikan suara ketukan di kaca jendelanya, ia mengangkat salah satu bantalnya dan mulai menyembunyikan kepala di bawahnya. Menekan kuat agar suara itu tak masuk pendengaran dan mengganggu tidur paginya. Tubuhnya kembali tenang dan nafasnya mulai kembali teratur ketika ketukan mengganggu itu berhenti. Sedetik dua detik, ia masih bisa melanjutkan tidurnya kalau saja pikirannya tak perlu mencerna keadaan yang baru saja ia lewati. Ia terbangun tiba-tiba dengan kedua tangan di atas kasur dan kepala yang menghadap ke jendela di sebelah kiri tempat tidurnya.

Sedikit ragu, ia membuka pelan ujung gorden dengan motif mungil kelinci chappy dan mengintip keluar. Biru-violet membuka lebar ketika yang dilihatnya adalah siluet seseorang dengan rambut orange. Tanpa ragu, ia membuka gorden dan membanting jendelanya ke samping. Ia menatap Ichigo dengan amarah yang berkumpul dalam biru-violet dan membuat pria di depannya hanya menatap heran. Ia menyadari tubuh Ichigo sedikit tersentak ketika jendela yang ia banting mengeluarkan suara keras.

Rasa panik memenuhi dirinya ketika menyadari apa yang baru saja ia perbuat. Dengan cepat ia menarik tubuh Ichigo masuk ke dalam kamar sebelum ada seseorang yang mengeluarkan kepala dari jendela karena penasaran dengan bunyi barusan. Dan ia tak mau ada keributan ketika salah satu murid melihat seorang pria duduk santai di salah satu dahan pohon di samping gedung asrama.

Ketika Ichigo telah berada di kamarnya, ia kembali menutup jendela dan gorden dengan rapat. Tubuhnya terhenti, tak berani menatap ke belakang dan menghadapi kenyataan bahwa ia baru saja membawa masuk orang asing, apalagi seorang pria. Saat ini di kepalanya terlantun doa-doa, memohon kepada Tuhan untuk mengampuni dosanya membawa pria ke dalam asrama khusus perempuan. Tubuhnya kembali tersentak ketika ia merasakan tubuh Ichigo yang begitu dekat dengan punggungnya, ditambah lagi dengan suara Ichigo yang lirih dan parau menggema pelan di samping telinga kirinya. "Kenapa, Rukia? Tak harus menutup tirai karena tak ada yang melihat dari seberang."

Bulu romanya menegang ketika merasakan nafas yang dihembuskan Ichigo merayap di lehernya. Rona merah mulai menjalar di wajah mungilnya ketika suara tawa dari belakang membuat ia berbalik dan menatap tajam pria yang tengah memegang perut karena sakit menahan tawa. Tanpa peringatan dilemparnya satu bantal yang berada dekat dengannya hingga tepat mengena di wajah Ichigo. Sempat senyum kecil melintas di bibirnya ketika Ichigo terkaget mendapati bantal yang membuatnya hampir terjatuh dari duduknya di atas kasur. Dengan cepat ia hilangkan senyum itu dan mulai menyerang bertubi-tubi ke tubuh Ichigo, bersenjatakan bantal dengan motif kelinci yang tengah melompat dan bersalto di salah satu ujungnya.


Dua pasang mata yang tengah terbuka itu membuat langit-langit terasa membosankan karena ditatap terus-menerus. Di dalam hati terdapat angka berbeda setelah menghitung titik noda yang bersarang di sana. Setelah pandangan mata menjadi kabur dan tak lagi bisa melihat ititk noda dengan jelas, Rukia menengok dan mengamati pria di sampingnya. Ia melihat amber yang dengan seksama mengamati langit-langit, seolah itu adalah benda paling menakjubkan di dunia saat ini. Biru-violetnya beralih turun ke arah bibirnya yang bergerak pelan, menggumam sesuatu yang tak bisa ditangkap telinganya. Ia sedikit melebarkan pandangannya ketika sepasang amber menatapnya lurus. "Apa?"

Ia hanya memutar bola matanya dan kembali menatap langit-langit dengan menggunakan kedua tangannya sebagai pengganti bantal. "Tidak… hanya saja kau terlihat aneh."

"Aneh bagaimana?" ia sedikit menjauh dan beringsut pelan ketika Ichigo menopang kepala di salah satu tangan dan berbaring dengan tubuh sampingnya hingga ia bisa merasakan tatapan amber yang tertuju langsung padanya. Ia merasa tak nyaman ketika diperhatikan dari dekat, apalagi oleh seorang pria.

"Sudah kubilang tidak apa-apa. Kau hanya bersikap konyol." Tak tahan dengan tatapan yang seperti menelanjanginya, ia berbalik dan menghadapkan Ichigo pada punggungnya yang terbalut piyama lengan panjang berwarna putih. Satu tangan ia angkat ke wajahnya untuk meredam rasa panas yang tiba-tiba membuat wajahnya terbakar, sedang tangan lain ia letakkan di atas jantungnya dan merasakan detakan kuat dan cepat. Ia merasa bingung dengan keadaan yang tengah dialaminya. Saat ini ia, Rukia Kuchiki, tujuh belas tahun, yatim piatu. Tengah berbaring santai dengan seorang pria yang baru dikenalnya tak lebih dari dua minggu di kamar asrama sekolahnya yang notabene hanya dihuni oleh perempuan.

Jantungnya masih berdetak cepat walau ia tak merasakan langsung tatapan tajam Ichigo. Dari balik punggungnya, ia tahu Ichigo masih menatapnya. Entah bagian mana tepatnya yang ditatap, semakin lama wajahnya semakin panas, jantungnya berdetak semakin kencang dan kepalanya terasa ringan. Mungkin jika berlangsung lebih lama, ia akan tak sadarkan diri. "Hey, kau yang aneh. Jangan bilang aku konyol hanya karena aku ingin melihatmu."

Kata-kata yang berusan keluar dari bibir tipis Ichigo membuat jantungnya sejenak berhenti. Pendengarannya menajam dan otaknya mencerna pelan suku kata per suku kata yang masuk melalui syaraf dari telinga menuju otaknya. Dan satu detik kemudian, ia bertemu dengan kegelapan.


Ichigo's PoV

Ia mengangkat sebelah alis ketika melihat tubuh mungil di hadapannya menegang dan tak merespon kata-katanya. Sedikit ragu, diangkatnya sebelah tangan dan mengguncang pelan bahu kiri Rukia. "Hey, Rukia…"

Ketika menyadari gadis di hadapannya menjadi semakin aneh, ia membalikkan tubuh Rukia hingga berbaring di punggung dan bisa ia lihat wajahnya. Satu tangan tertahan di depan bibirnya untuk menahan tawa ketika melihat Rukia yang tak sadarkan diri dengan wajah memerah. Pikirannya melompat terbuai perasaan senang yang lama tak ia rasakan. Sedikit merasa aneh karena sering tersenyum bila berada dekat dengan Rukia, ia mulai bertanya mengenai kewarasannya.

Ia kembali merasakan perasaan seperti ini setelah puluhan tahun berusaha melupakan kejadian terakhir yang membuatnya sakit dan terluka dalam. Baginya, ini bukan sesuatu yang baru ataupun lama. Ia hanya tak mampu berpikir apa ia sanggup untuk menjalaninya lagi. Semakin lama ia pikirkan, sakit kepalanya mulai datang lagi dan ia membenci hal itu.

Bayangan senyum itu lagi-lagi melintas dan ia terduduk tiba-tiba. Kedua tangannya gemetar ketika ia sandarkan kedua siku pada lututnya. Mulutnya terbuka lebar untuk membantu mengambil nafas dan pandangannya mengabur karena air mata yang mulai berkumpul di pelupuk mata. Ia berusaha menahan senggukan yang mengikat tenggorokannya dan dengan cepat mengusap air mata yang mulai mengalir pelan.

Lagi-lagi emosinya tak terkontrol. Entah apa kaitannya, ia sering melihat bayangan masa lalu ketika berada di samping Rukia. Ia melihat Rukia yang masih tak sadarkan diri dari ujung matanya. Hatinya seperti digenggam erat dan hancur menyisakan debu ketika pikiran untuk meninggalkan gadis itu terlintas di otaknya.

Dengan masih menatap biru-violet yang tertutup kelopak, ia mendekat dan menopang tubuhnya dengan sebelah tangan yang ia baringkan di sebelah kepala Rukia. Tubuhnya berbaring pada bagian samping dan tangannya mulai mengusap pelan kulit wajah Rukia. Ia merasa lebih tenang ketika ia bisa merasakan kulit Rukia di ujung jemarinya. Jari yang masih bergetar itu bergerak mengikuti kontur wajah mungil hingga terhenti sejenak di kelopak yang menutupi biru-violet, bergerak kembali untuk menyingkap poni keras kepala yang kembali ke tempatnya walau disingkirkan sesering apapun.

Ia sadar wajahnya semakin mendekat. Wangi parfum samar terlintas di hidungnya sejenak dan ia hirup dalam, tak membiarkan wangi itu hilang begitu saja. Pikirannya mati, ia hanya mengikuti ke arah mana tindakannya akan berujung. Tangannya menangkup pipi kemerahan dan bibirnya dengan ragu menyentuh ujung mata Rukia. Sedikit menjauh, ia kembali menempelkan bibirnya di tempat yang sama sambil menutup mata, berusaha merekam tiap detik yang ia rasakan.

Walau ia tahu kini biru-violet kembali menampakkan diri, ia tak ingin membuka matanya dan hanya menempelkan dahinya di samping kepala Rukia. Salah satu tangannya yang masih menangkup wajah Rukia hanya mengelus pelan dengan membentuk pola lingkaran kecil. "I-Ichigo…!"

"Shhh… jangan bergerak. Sebentar saja." Tak mempedulikan pikirannya yang menyuruhnya berhenti, ia melingkarkan tangannya yang tadi menangkup pipi Rukia untuk bersandar di pinggang mungilnya. Ia hirup dalam wangi rambut Rukia yang tajam di penciumannya dan ia dekatkan tubuh Rukia pada tubuhnya hingga benar-benar berada di pelukannya.


Ia menatap keluar jendela ketika Rukia menutup pintu dari arah luar. Matanya tak bergerak ketika menangkap pergerakan daun di luar yang tertiup angin pelan. Pikirannya kosong dan tak tahu harus berbuat apa. Ia mengutuk dirinya sendiri atas perbuatan yang baru ia lakukan. Tindakan yang menurutnya terlalu riskan dan di luar kendali. Dan sekarang ia merasa seperti orang bodoh karena telah menyerah pada hatinya untuk mengambil alih kendali dirinya. Kedua alisnya berkerut makin dalam menyadari masalah apa yang baru saja ia perbuat. Jika ia mengacaukan hal ini, ia tak tahu sampai kapan ia bisa bertahan lebih jauh.

Berdiri pelan dari tempat tidur Rukia yang berantakan, ia menghampiri jendela dan menggesernya. Angin berhembus masuk sambil membawa aroma tanah basah ke penciumannya. Ia menutup matanya sejenak untuk sedikit menikmati. Dibukanya kedua mata secara perlahan dan dengan satu gerakan cepat, ia keluar dari kamar tersebut dan menghilang di ujung jalan.

Jendela kamar Rukia dibiarkannya terbuka lebar.


Kepalanya tertunduk dalam dengan tangan yang terkubur di saku celana. Tudung jaketnya ia pakai untuk menghindari tatapan mencurigakan dari orang-orang di sekitarnya. Kakinya melangkah pelan sambil menendang batu kerikil di sepanjang jalan. Karena terlalu memusatkan perhatian pada sebuah kerikil yang menggelinding tak tentu arah, ia hanya menggumam pelan kata 'maaf' ketika bahunya menyenggol tubuh seseorang. Ia tetap berjalan tanpa tahu orang yang barusan ia senggol berhenti dan menatap punggungnya yang menjauh.

Ia mendongak ke atas ketika kedua matanya tertumbuk pada akar pohon yang timbul ke atas tanah. Dari matanya yang menyipit, ia melihat dedaunan yang bergerak ritmis mengikuti angin dan sinar matahari menembus celah tipis yang terbentuk. Bayangan gadis mungil dengan rambut hitam yang tengah tertawa sambil memegang buku terpampang di hadapannya. Saking jelasnya, kedua amber sampai terbuka lebar dan tubuhnya sedikit bergetar.

Tangannya menggenggam baju depan, tepat di atas jantungnya ketika ia merasakan rasa sakit yang menyerangnya tiba-tiba. Tudung kepalanya terbuka akibat tertiup angin dan keringat dingin terlihat jelas di wajahnya yang menegang. Ia membalikkan kepalanya perlahan dan kedua matanya melebar mendapati siluet seseorang dengan tangan menggenggam pistol yang tertuju ke arahnya. Sebelum ia sempat membuka mulut, suara tembakan yang diredam itu mendesis kuat di telinganya. Ia terjatuh di salah satu lututnya ketika rasa panas dirasakannya melebur kulit dan daging betis kanannya. Ia bisa melihat serpihan tubuhnya yang menjuntai dan darah yang keluar cepat.

Cairan asam mulai menjalar di sekitar lukanya dan ia mulai merasakan sakit. Gigi-giginya bergemeletuk, berusaha keras menahan rasa sakit dan teriakan yang ingin melesak dari tenggorokannya. Siluet tadi kembali mengangkat tangan berpistolnya dan bersiap menarik pelatuk. Amber yang terlatih di medan perang sedikit menjadi kegunaan bagi dirinya di saat seperti ini. Dengan cepat ia berlari menjauh dari tempat itu. Meninggalkan siluet orang tadi yang hanya menatap ke arah ia menghilang sambil menurunkan tangan berpistolnya.


Nafasnya berasa terlalu cepat dan pendek, akibat terlalu lama tak merasakan lelah seperti ini. Kepalanya bersandar pada dinding kusam stasiun lama, sedangkan kakinya yang terluka ia biarkan begitu saja. Ia hanya butuh beberapa jam istirahat untuk memulihkan luka di kakinya. Kedua matanya mulai terpejam ketika rasa berat dirasakannya mulai menggelayuti kelopak matanya. Tubuhnya ia biarkan rileks dan menyerah pada kegelapan yang datang tak lama setelah matanya terpejam.

Bayangan yang ia lihat bukan seorang wanita yang tersenyum dengan pedang tertusuk, melainkan senyum manis dari gadis bermata biru-violet yang baru-baru ini ditemuinya.


Ia membuka mata perlahan ketika ia menyadari punggungnya terasa sakit. Keringat dingin masih keluar perlahan di dahinya dan rasa lelah yang ia rasakan masih ada. Ia sama sekali tak merasa tenang walau telah memejamkan mata selama beberapa jam hingga matahari telah menghilang. Ketika ia menggerakkan kaki kanannya, rasa sakit telah menghilang sama sekali dan menyisakan lubang besar pada celana panjang hitamnya serta darah yang mengering di sekitar lubang itu.

Ia duduk dengan mengubur wajahnya pada kedua tangan yang bertumpu pada lutut. Diambilnya nafas panjang guna menenangkan degup jantungnya yang masih saja berdetak kuat. Ketika dirasakan tubuhnya mulai sedikit tenang, pikirannya tertuju pada siluet yang tadi menyerangnya di pagi buta.

Kejadian ini sama sekali tak diduganya. Kenyataan bahwa ada orang yang mengetahui bahwa ia adalah 'undying' lebih mendekati tidak ada, Rukia tak termasuk. Jika apa yang diasumsikannya benar, Rukia tak mungkin bercerita pada siapapun setelah pengakuan 'aku-tak-butuh-teman' yang keluar dari bibir mungilnya. Lagipula yang ia tahu, temannya sesama 'undying' sudah tak ada. Entah itu saat atau sesudah perang, ia yakin bahwa tak ada satupun yang berhasil lolos dari operasi itu selain dirinya.

Semua kisah harus berakhir tragis bagi mereka yang memegang julukan 'undying.' Tapi ia sama sekali tak ingin itu terjadi pada dirinya. Tentu ada niatan dari dirinya untuk segera mati setelah terlalu lama hidup dalam kebosanan. Ia hanya tak mau melihat orang lain mati, sedangkan dirinya dibiarkan hidup untuk menjadi saksi atas kepergian semua orang. Ia hanya berpikir, mungkin ini harga yang harus ia tebus setelah menghabisi nyawa sejak ia masih dalam usia bermain.

Rasa muak dan jijik mulai timbul dalam dirinya. Ia merasa begitu kotor setelah mengingat kembali apa yang sudah dilakukannya puluhan tahun lalu. Ia heran bagaimana bisa ia bertahan selama ini tanpa melihat ke belakang.

Pikirannya mulai melayang ketika wajah manis Rukia kembali singgah. Ia menggenggam erat rambutnya sambil menggumam pelan nama Rukia berulang kali. Gambaran-gambaran buruk mulai memenuhi kepalanya ketika ia mengingat Rukia. Ia tak ingin semua itu terjadi padanya. Tidak selama ia masih hidup untuk mencegah itu semua terjadi.

Setelah lama berpikir jalan terbaik untuk menyelesaikan masalah ini, ia hanya menemui jalan buntu. Satu-satunya jalan yang menjamin, menghilang dari kehidupan Kuchiki Rukia.

Kedua matanya terbuka lebar dengan apa yang baru saja ia putuskan. Baru sebentar ia merasa sedikit bahagia, dengan kejam dan tanpa aba-aba, rasa itu dirampas darinya dan meninggalkannya dalam jurang emosi yang terlalu dalam. Lagi. Kepalanya serasa dihantam kuat ketika ia mulai merasakan rasa sakit dari luka yang kembali membuka. Luka yang butuh puluhan tahun baginya untuk sekadar mengalihkan perhatian, dan dengan satu jentikan jari, ia merasa tak berdaya menghadapinya untuk kedua kali, apalagi rasa sakit kali ini lebih terasa daripada yang dulu ia alami.

Ia mengambil nafas panjang dan mengusap wajah lelahnya dengan kedua tangan. ia sama sekali tak tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Yang ia tahu hanya berusaha untuk membuat Rukia tetap aman. Selama senyum manis itu masih terpampang di wajah mungilnya, ia tak keberatan untuk menghilang dari kehidupannya.


"Anda telah kembali, komandan." Orang itu sama sekali tak menjawab bawahannya. Ia hanya menatap lurus dan berjalan dengan langkah tegap dengan dagu yang dinaikkan, sedikit mengeluarkan aura diktator dan arogan ketika para bawahannya berhenti dan memberi hormat ke arahnya. Wajahnya sama sekali tak menunjang satu emosipun. Ia merasa kesal, tapi ia dengan sempurna menutupinya hingga tak ada seorangpun yang tahu.

Suara langkah kakinya yang dibalut sepatu kulit berwarna coklat tua menggema di koridor. Ia melewati beberapa petinggi yang sibuk dengan urusan masing-masing. Kedua tangannya sedikit terlihat dari balik mantel hitam yang hanya ia sampirkan di bahu dan punggungnya. Ketika mendekati pintu mahoni kembar di ujung koridor, ia mengangkat salah satu tangan dan meraih kacamata berbingkai hitam dari saku mantelnya. Dengan sedikit merapikan rambut yang tadinya ia sampirkan ke belakang, ia memakai kacamatanya dan mulai menaruh senyum kecil ketika mendengar suara dari dalam dan tangannya menyentuh gagang pintu.

Ia masuk perlahan ke dalam ruangan yang cukup besar dengan perabotan kualitas tinggi. Di hadapannya, di balik meja kantor yang dipoles licin duduk seorang pria dengan janggut panjang berwarna putih. Ia melihat kedua mata orang tua itu sama sekali tak terbuka seperti biasa dengan kedua tangan yang diletakkan santai di atas tongkat panjang. "Bagaimana, komandan?"

Dengan senyum kecil, orang itu berkata, "aku telah menemukannya."