Disclaimer : Bleach punyanya Om Tite Kubo. Gue cuma pemilik dari Yohachi dan Zutto!
Warning (s) : super OOC dan ada 2 OC yang nongol. Kalo nggak suka jangan baca! Oya, warning kedua adalah chapter kali ini sangat panjang! Jadi bersiaplah!
4869fans-nikazemaru : "YAHAA~! Chapter 4! Korban hari ini adalah para fukutaichou!"
Hi-chan : "Kerjamu kemaren bagus sekali, Yohachi-san!"
Yohachi : "Thanks~!"
Hitsugaya : "Kenapa pada akhirnya gue punya anak buah edan kayak dia?"
4869fans-nikazemaru : "Sabar, Shiro-chan… Yohachi orangnya rajin, kok… Nggak kayak gue…"
Hi-chan : "OC gue kapan di munculin, Mas? Nggak sabar, neh!"
4869fans-nikazemaru : "OC elo baru keluar di chapter akhir alias pas tamat!"
Hi-chan : "…"
4869fans-nikazemaru : "Eh? Apa?"
Hi-chan : "Berkobarlah, Hihime!" (A/N : Hihime = Putri Api)
Hitsugaya : "OMG! API!" (semaput)
Yohachi : "TAICHOU~!" (ngeluarin Nikazemaru) "Nikamaru!" (dalam seketika api menghilang karena kekuatan es Nikamaru)
Hi-chan : "Ups! Maaf, Toshiro-kun!"
4869fans-nikazemaru : "Yohachi! Beri pernafasan buatan!"
Zutto : "WHAT?" (ngebayangin yang enggak-enggak)
Yohachi : "Baiklah! Kazemaru!" (kini ganti si naga angin, Kazemaru, yang beraksi…)
Hitsugaya : "Hah? Gue kenapa?"
4869fans-nikazemaru : "Syukurlah… Oya, gue mau ngomong… Chapter kali ini bersetting setelah pengkhianatan Aizen yang ke-2! Di chapter 1 & 2 itu, Aizen, dkk. pas udah tobat… Nah, di chapter ini, mereka bakal berkhianat lagi! Oke, there are your fourth chapter! Please enjoy!"
N.B : Huaaaaa~! Sorry, update-nya lama~! T.T Ideku hilang ditengah jalan! (cuma bagian pas Hinamori. Bingung tu orang mau ku kasih obat apaan) Sial~! Huff, menurut perkiraan gue, fic ini nggak bakalan nyampai 10 chapter… Fiuh~! Untunglah… ^.^
Crazy Medicine
Chapter 4th : Vice-Captain Medicines
Ini sudah beberapa minggu sejak kekacauan yang di lakukan Yohachi. Sekarang Seireitei sudah mulai tenang kembali. Yaah, walau masih ada yang sedikit syok dengan pengkhianatan Aizen, dkk. Tapi sejauh ini kondisi udah stabil.
Divisi 10
Siuuuuut~!
Sebuah pesawat-pesawatan dari kertas melayang-layang di udara. Pesawat itu ajaibnya bisa berputar-putar, turun, menikung tajam, naik, mengitari ruangan tanpa jatuh sekalipun.
"Rokukyuu, sampai kapan elo mau main pesawat-pesawatan pake kekuatan zanpakutou-mu itu?" gerutu seseorang yang dari tadi udah pusing ngeliat pesawat itu mengitari ruangan layaknya pesawat remote control.
Kepala Yohachi nongol dari balik sofa yang biasanya di pake Matsumoto buat tidur. "Gomen, taichou! Bosen, sih!"
Yohachi menghempaskan dirinya ke sofa kembali. "Sial, mana mangaku udah selesai!"
Hitsugaya kembali duduk di kursinya dan mencelupkan kuasnya ke tinta hitam. "Rokukyuu, pekerjaanmu di gensei itu apa? Kau di Karakura juga seperti Ichigo, kan?"
"Jadi mangaka dan doujinka! Kadang juga bikin novel, trus bikin obat," jawab Yohachi sambil membuka sebungkus permen karet yang ada di sakunya dan mengunyahnya.
"Doujinka?"
"Pembuat doujinshi! Aku selalu ikutan Comic Market, tempat berkumpulnya para pecinta doujinshi."
"Oooh…"
Hening.
"Taichou, boseeeeeeeen~!" keluh Yohachi lagi.
"Kalo gitu kerjain tugasmu!" perintah Hitsugaya.
"Udah selesai, kok!"
"Mana? Coba liat!" Hitsugaya memeriksan hasil pekerjaan Yohachi. Semua kertas tugas itu udah terisi dengan rapi dan benar. "Hmm, iya juga… Kalo gitu, serahin ini ke divisi lain!"
"Ke semua divisi?"
"Ya iyalah!"
Yohachi tampak berpikir. "Semuanya?"
"IYAAAAAAAAAA~!" lama-lama Hitsugaya stress ndiri.
"Oooh…" Yohachi mengangguk paham.
"Paham kan? Sekarang cepet kirim!" titah Hitsugaya.
"Berhembuslah…"
"Eeeh?" Hitsugaya cengo. "LHO? MAU ELO APAIN TU-"
"… NIKAZEMARU…!"
BWUUUUUUUUUUUUUUSH~!
Seluruh kertas tugas terbang keluar seketika. Hitsugaya syok. OMG! Semua kertas tugasnya terbaaaaang~! Gimana ntar kalo ilang? Mati gue!
"Ro-Rokukyuu! Apa maksudnya ini?" teriak Hitsugaya.
"Lho? Gue cuma ngirimin kertas tugas yang udah selesai, kok!" jawab Yohachi dengan tampang innocent.
"Tapi… kok…"
Yohachi malah bersikap santai. "Tenang, taichou~! Gue tadi ngeluarin Nikazemaru buat nerbangin seluruh kertas tugas itu ke divisi masing-masing! Tenang aja…"
"Eh… praktis banget." Hitsugaya cengo.
"Nikazemaru geto, loh!" bangga Yohachi. "Oya, taichou! Panggil gue Yohachi aja, yach?"
"Huh? Why?" tanya Hitsugaya.
"Soalnya…" Yohachi masang tampang serius setengah mampus.
"…" Hitsugaya jadi penasaran.
"… GUE NGGAK MAU DI KIRA PACARNYA HISAGI!" teriak Yohachi. "Tatonya Hisagi kan angkanya 6 dan 9! Kalo di baca kan jadi 'roku-kyuu'! Mana dia juga punya elemen angin kayak aku! Huuh, sebel! Lebih sebel lagi karena bankai-ku tu namanya 'kazeshini'! SEBEEEEEEEL~!"
"Eh, tapi gue nggak biasa manggil orang pake nama kecil…" jawab Hitsugaya.
"Aduh… Wahai taichouku yang imut-imut sekali, 'Yohachi Rokukyuu' itu nama yang gue buat sendiri! Dari kecil gue nggak punya nama! Trus karena gue fans berat Sherlock Holmes… Gue bikin sendiri, deh, nama itu!" terang Yohachi. "Penulisan nama 'Sherlock' dalam angka, kan, '4689'! Yohachi Rokukyuu!" (A/N : hal ini gue dapet dari manga Detektif Conan volume 47!)
"Trus, apa hubungannya elo sama Sherlock Holmes? Emang elo mau jadi penerusnya gitu…?"
"Mana mungkin gue bisa kayak Sherlock Holmes, taichou! Gue nggak sejenius, ntuh! Btw, taichou, kok, tau, sih, soal Sherlock Holmes?" tanya Yohachi.
"Mm, kadang Kurosaki bawa beberapa dari rumah dan membaca novel itu di sini," terang Hitsugaya. "Akhirnya gue ya ikutan baca sebentar…"
"Ooh~! Terus taichou suka, nggak?"
"Yaah, lumayan, sih…"
"TAICHOU~!" seorang cewek berambut panjang bergelombang langsung memeluk Hitsugaya dari belakang. Membuat Hitsugaya terjepit di antara 'balon'nya yang gede.
"MA-MATSUMOTO? UADUUH! LEPASIN! GUE MAU NGERJAIN TUGAS TAU!" teriak Hitsugaya.
"Kyaaaaaaaaaaa~! Taichou so cute~!" Matsumoto malah meluk makin erat. Muka Hitsugaya mulai pucat gara-gara kehabisan oksigen.
"Uaaah~! Matsumoto! Taichou bisa mati, tuh~!" jerit Yohachi. Ehem, jangan kaget. Yohachi itu suka manggil orang sesuka hatinya. Dia kadang hanya memanggil nama kecil orang tersebut. Kecuali untuk Hitsugaya dan Matsumoto. Hitsugaya tentu dia panggil 'taichou' dan Matsumoto dipanggil 'Matsumoto'.
"Tiap hari mereka emang begitu Yohachi-san… Bertengkar melulu…" gumam Zutto yang lagi bawa nampan berisi Brownies.
"Hwaaaaaaaaaa~! Brownies~! Gue minta, donk~!" Yohachi langsung mengambil sepotong gede Brownies dan mencomotnya. "Mmm, enak~! Dah dulu ya~! Gue mau keliling~!"
"Lho? Mau kemana?" teriak Zutto.
"Ada, deeeh!" Yohachi udah ngacir keluar.
Hitsugaya akhirnya berhasil lolos dari 'serangan maut' Matsumoto. "Hueeeh~! Akhirnya, lho? Shimeda, Roku-eh… Yohachi mana?"
"Keluar, nggak tau kemana…" jawab Zutto. "Oya, taichou mau Brownies?"
"Manis, nggak?"
"Yaelah, taichou… Brownies 'kan terbuat dari cokelat! Ya manis, donk!"
"Yee, sapa tau aja asin."
"Apa? Cokelat? Gue mau!" Matsumoto langsung ngambil 2 potong besar dan mengunyahnya dengan biadab. "Mmm, enak banget! Zutto emang jagonya bikin kue!"
"Cokelat ya… Nggak, deh…" kata Hitsugaya. "Gue mending ngerjain tugas aja!"
"Eeeeeh? Tapi enak, lho, taichou! Cobain 1, deh!" pinta Matsumoto.
"Matsumoto, udah gue bilang enggak ya enggak!" jawab Hitsugaya ketus. "Lagi pula nggak bagus makan makanan manis tiap hari, bisa gendut!"
"Pantesan taichou nggak gede-gede…" gumam Zutto.
"Apa? Elo juga kecil tau!"
"Gue 'kan kecil begini gara-gara punya penyakit!"
"Makanya jaga kesehatan!"
"Taichou gimana, sih? Ini penyakit bawaan dari lahir tau!"
Selagi Hitsugaya dan Zutto mendebatkan soal tinggi badan, Matsumoto sudah kabur dengan membawa senampan penuh brownies. Ehehehe, lumayan… Dapat camilan buat minum sake nanti~!
Divisi 1
Di atas gedung divisi 1, bisa kita lihat ada Yohachi sedang asyik bersantai di sana.
"Hmm, tugas gue masih banyak! Gue mulai sekarang aja, ah~!" Yohachi melompat masuk ke dalam ruangan ichibantai fukutaichou, Choujiro Sasakibe.
Dia mengamati ruangan itu. "Hmm, nggak ada yang menarik! Mau gue masukin ke mana ya obatnya? Oh ya!"
Yohachi mengambil selembar kertas dan menulisinya.
Kepada Choujiro Sasakibe
Di tempat
Ini obat yang sudah anda pesan kemarin. Maaf terlambat… Mohon segera di minum sesaat setelah anda membaca surat ini.
Tertanda,
Unohana Retsu
Yohachi tersenyum puas. Dia sudah berusaha semaximal mungkin buat niru gaya tulisan Unohana. "Ehehehehe, kalo gini 'kan pasti di minum! Ihihihihi~!" Yohachi pun melompat keluar ruangan itu sambil ketawa setan.
Nggak lama kemudian, Sasakibe memasuki ruangannya.
"Hah? Apaan ini?" tanyanya keheranan ngelihat ada sebotol obat dan pesan di atas mejanya. "Obat dari Unohana-taichou? Emang kapan gue pesen obat ke divisi 4? Perasaan gue terakhir kali pesen obat di sana 1 bulan yang lalu…"
Dia terdiam sebentar.
"Ah, sudahlah… Ku minum saja!"
Glek!
Sasakibe menelan langsung pil itu. Tiba-tiba dia merasa badannya sangat ringkih!
"Ada apa dengan gue?" teriak Sasakibe. "Uohok! Ohok! Gue, kok, jadi ringkih begini?"
Sasakibe pun ngesot ke cermin terdekat. Dia langsung jantungan ngelihat pantulan wajahnya di cermin.
DIA JADI SANGAT TUA! BAHKAN TERLIHAT LEBIH TUA 1000 TAHUN DARI YAMAMOTO!
"Gu-gue?" Sasakibe langsung semaput.
Yohachi masuk ke ruangan itu lagi. "Heh? Semaput? Ah, namanya juga orang tua~! Oke, korban selanjutnya!" Dia langsung bershunpo menuju divisi lainnya sambil bersiul.
Setelah Yohachi pergi, Yamamoto masuk ke dalam ruangan itu. "Sasakibe… Mana tehnya? Lho?" Yamamoto kaget karena melihat ada seorang kakek ringkih yang tepar di lantai. "Mbah? Mbah?"
Sasakibe perlahan sadar. "Ta-taichou!"
"Hah? Taichou?" heran Yamamoto. "Kenapa kamu manggil-manggil aku taichou? Siapa kamu?"
"I-ini saya! Sasakibe!"
"SASAKIBE? YANG BENER?"
"I-iya… Ini… Uhuk-uhuk! Saya…"
"Bagaimana bisa?"
"Entahlah, setelah minum obat yang katanya dari Unohana-taichou itu… Uhuk! Saya seperti ini…"
Yamamoto tertegun. Unohana-taichou? Mustahil Unohana melakukan ini… Satu-satunya orang yang mungkin adalah… Adalah… Mata Yamamoto terbelalak. "YOHACHI ROKUKYUU!"
Divisi 10
"Kriiiiiiing~!"
Telepon di kantor divisi 10 berdering. Hitsugaya yang sedang terlelap di sofa kantornya jadi terbangun. "Mmm… Matsumoto… angkat teleponnya…"
"Kriiiiiiiing~!"
Telepon itu masih terus berdering. Hitsugaya terpaksa bangkit dari sofa. "Huuh… Ganggu orang tidur aja!" Hitsugaya mengedarkan pandangannya. Kantor ternyata sedang kosong. "Cih, kemana lagi si fukutaichou nggak berguna itu!" geramnya sambil berjalan ke mejanya untuk mengangkat telepon. "Moshi moshi? Dengan Hitsugaya-taichou disini."
"Cucuku! Eh-ehm… Maksud saya, Hitsugaya-taichou…"
"Soutaichou? Um, ada yang bisa saya bantu?"
"Begini, cu-ehm-Hitsugaya-taichou… Ini tentang kursi ke-3 divisi 10."
Hitsugaya kaget. "Kursi ke-3? Rokukyuu? Ada apa dengan dia?"
"Sepertinya dia berulah lagi."
"APUAAAAAAAAAAAAAA?" jerit Hitsugaya histeris. Jeritannya itu dipastikan bisa terdengar hingga seluruh Seireitei. Tapi, teriakan itu sepertinya sudah dianggap biasa oleh seluruh anggota divisi 10. Buktinya mereka tidak bereaksi apa-apa dan terus melakukan aktifitasnya dengan santai.
Telinga Yamamoto langsung berdengung begitu mendengar jeritan SUPER DAHSYAT ala Hitsugaya itu. "Cucuku, bisakah kau tidak menjerit ketika ditelepon?"
Pipi Hitsugaya langsung bersemu merah karena malu. "Ma-maafkan saya, Soutaichou. Ta-tapi, benarkah yang anda katakan tadi?"
"Ya iyalah! Masa ya iyadong? Buah aja dibelah, bukan dibolong…"
Hitsugaya sweatdrop. "Anu… Bukannya seharusnya 'dibedong'?"
"Ehem… Tentu saja berita yang saya sampaikan itu benar. Tadi Sasakibe kena obatnya dan sekarang dia jadi jauh lebih ringkih dari kakek-kakek umur 10.000 tahun. Sekian berita hari ini. Selamat beraktifitas dan sampai jumpa di sekilas info selanjutnya."
Tuuuuut… Tuuut…
Sambungan telepon terputus. Membuat Hitsugaya cengo sendiri. Buset, dah! Soutaichou itu kenapa, sih? Gaje banget! Jangan-jangan obat yang dulu dikasih Rokukyuu ke dia masih ada efeknya? Hitsugaya menggeleng keras. Nggak! Nggak! Sekarang bukan saatnya gue mikirin ntuh! Sekarang masalahnya tu Si Rokukyuu! Ngapain lagi, sih, dia?
Dengan itu Hitsugaya segera bershunpo menuju divisi 2. Semoga belum terlambat!
Divisi 2
Omaeda seperti biasa tampak sedang asyik melumat camilannya. Yohachi mengintipnya dari celah atap. Cewek itu langsung ngiler melihat Omaeda sedang asyik melahap snack kentang dan cake-cake super lezat. "Hmm, kalo lihat cake itu… Kayak buatannya Zutto!" Yohachi ngiler kembali, kali ini lebih deras. Dia ingat saat pertama kali dia mencicipi cake buatan Zutto. OMG! Enak banget! Lebih enak dari buatan toko kue langganannya! Yohachi langsung ketagihan dan sekarang berteman baik dengan Zutto. Sebagai sesama pemilik elemen angin tentu harus akrab kan?
"Ufufufufu, bakal gue kasih fukutaichou itu obat trus begitu dia pingsan gue ambil tuh semua snacknya! Kekekeke!" gumam Yohachi. Dengan tenaga penuh, Yohachi menjebol atap. "Heyaaaaaaaaaaaah~!"
Sebelum Omaeda sempat berkedip, kaki seseorang sudah nyasar ke wajahnya. Menendangnya hingga pingsan ditempat. Yohachi langsung mengambil obat untuk Omaeda dan meminumkannya. "Oke!" kata Yohachi. Dia segera beranjak. Diambilnya seluruh snack yang ada, lalu segera dia bershunpo.
Tak lama kemudian, Soi Fong (yang sudah pulih dari obat Yohachi dulu) masuk ke kantor divisinya. "Ng? Ngapain fukutaichou nggak berguna ntuh tepar dilantai begini?" serunya kaget saat melihat Omaeda pingsan di lantai. "Oi! Bangun, pemalas!"
Omaeda menguap lalu bangun. "Hah? Kenapa gue tadi?"
"Elo pingsan, bego!" kata Soi Fong.
"Ha-hah? Pingsan? Bagaimana gue bisa pingsan, taichou?"
"Meneketehe! Mestinya 'kan gue yang nanya gitu! Ngapain juga elo bisa pingsan? Masa nggak inget?"
Omaeda menggeleng. "Nggak ingat sama sekali! Tahu-tahu ada orang yang nendang gitu… Trus gue pingsan, deh!"
"Nendang?" Soi Fong berpikir. "Masa Yoruichi-sama, sih?"
"Bodo, ah! Nggak usah dipikirin aja, taichou! Paling cuma orang iseng," kata Omaeda sambil menguap.
Soi Fong mengangguk. "Benar juga… Lagi pula tak ada yang dicuri…"
Seketika itu Omaeda membeku. "Huah! Taichou! Snack gue, kok, ilang, sih?"
"Alaah… Paling juga tadi juga udah elo makan! Elonya aja kali yang lupa," kata Soi Fong yang mulai duduk di kursinya dan mulai mengerjakan kertas tugas. "Dari pada ngurusin makanan, mending kerja sana! Tugas menumpuk, tuh!"
Omaeda menggaruk-garuk kepalanya. "Aneh. Ah, aku ambil aja lagi di lemari." Omaeda mengambil snacknya yang ada di lemari lalu membawanya ke mejanya. Dia mulai mengerjakan tugas sambil melahap snack favoritnya. Ketika dia sudah menghabiskan 10 bungkus snack…
"Oi, Omaeda… Tolong ambilin…" Soi Fong melotot begitu menatap Omaeda. Dia langsung terjatuh dari kursinya dan gemetaran. "O-Omaeda…"
"Ng? Kenapa, taichou?" tanya Omaeda sambil mengupil.
"…ba-badanmu…!"
"Hah? Kenapa dengan badanku?"
"ELO NGGAK NYADAR YA? COBA LIHAT BAIK-BAIK BADANMU SEKARANG!"
Omaeda dengan menggerutu menuruti perintah kaptennya. "Ada apa, SIH- HUAAAAAAAAAAAA? MAMAAAAAAA!"
Omaeda langsung lemas. Badannya… Astaga… Badannya sekarang menjadi sangat kurus kering bagai orang kekurangan gizi! Tubuhnya yang gemuk dan dipenuhi timbunan lemak sekarang hanya tinggal tulang terbalut kulit! Soi Fong menatapnya dengan tatapan horror. Tak lama kemudian pintu kantor terbuka.
"ADA APA?" teriak sang pembuka pintu yang tak lain dan tak bukan adalah Hitsugaya Toshiro.
Soi Fong langsung nemplok ke Hitsugaya. Atau lebih tepatnya menutup kedua matanya. "No! Pemandangan ini terlalu sadis dan menggenaskan untukmu! Jangan dilihat!" kata Soi Fong.
Hitsugaya langsung melepaskan tangan Soi Fong yang menutup matanya. "Aku bukan anak kecil tahu! Sebagai taichou tentu aku sudah pernah lihat yang mengerikan kayak korban mutilasi!" Lalu Hitsugaya mendatangi Omaeda. "Astaga! Bagaimana kau…"
"Makanya Hitsugaya-taichou… Saya juga bingung! Begitu saya makan snack, saya udah begini!" kata Omaeda.
"Kamu bisa berdiri?"
Omaeda mencoba berdiri. Tapi, karena badannya yang seperti tinggal tulang dan kulitnya itu, dia tidak bisa bergerak. "Ng-nggak… bisa…"
"Soi Fong-taichou… Bisakah anda membawanya ke divisi 4?"
Soi Fong mengangguk. "Tentu!"
"Hup!" Hitsugaya membantu menaikkan Omaeda ke punggung Soi Fong. Karena tubuhnya yang semula gendut, shihakusounya sekarang tentu terlihat sangat kebesaran. "Yak, sele-"
"YAAAAAAAAAHUUUUUU!" seru Yohachi yang tiba-tiba sudah berada dikantor divisi 2 itu.
"HUAAAAAAAAAAAAA!" teriak Soi Fong dan Hitsugaya kaget. Karena kaget, reflek Soi Fong melempar Omaeda lalu berpelukan dengan Hitsugaya. "HUAAAAAAAAAA!" teriak mereka lagi begitu menyadari kalau mereka sedang berpelukan.
Yohachi sweatdrop. "Nggak usah panik gitu juga kenapa?"
"Yo-Yohachi! Apa maksud dari semua ini?" tanya Hitsugaya.
"Yaah… Habisnya bosan, sih, taichou…" jawab Yohachi. "Ngomong-ngomong obat tadi itu, obat yang ngebuat orang makin kurus begitu makan sesuatu! Misalnya dia makan sebungkus snack atau seporsi makanan, maka berat badannya bakal turun 10 kg! Ok! Bye, taichou!"
"Eh! Hei! Yohachi! Tunggu!" teriak Hitsugaya. Tapi, Yohachi sudah menghilang. "Sial!"
"Pengurus badan? Pantas saja! Kamu tadi makan berapa bungkus?" tanya Soi Fong pada fukutaichounya itu.
"Se-sepuluh…" jawab Omaeda lemah.
"Pantas! Kalau 10 berarti berat badanmu udah turun 100 kg! Huff, tapi elo untung juga karena gue cepet sadar. Coba kalau elo udah makan 25 bungkus kayak biasanya trus gue nggak sadar! Pasti elo sekarang udah jadi tengkorak!"
Hitsugaya menatap Soi Fong. "Soi Fong, kuserahkan disini padamu! Aku akan mengejar Yohachi!"
"Iya! Semoga cepat tertangkap ya!"
Divisi 3
Kira menguap lebar. Akhir-akhir ini dia kurang tidur karena kertas tugas yang menumpuk. Yah, sebenarnya bukan karena pengkhianatan taichounya, sih. Toh, walaupun ada taichounya kertas tugas tak mungkin akan selesai. Sebab, kebalikan dari Hitsugaya, Gin sebenarnya sangat malas mengerjakan tugas. Dia hanya mau mengerjakan tugas saat sedang mood saja. Itu pun hanya beberapa lembar saja, sisanya dilimpahkan ke Kira.
Tapi, itu bukan masalah karena Kira termasuk fukutaichou yang cukup rajin. Banyak orang yang membayangkan bagaimana kalau fukutaichou Gin bukan Kira, melainkan Matsumoto. Wah, mungkin sudah hancur divisi 3 sekarang…
"Permisi, saya membawakan anda kopi," kata seorang shinigami yang masuk ke kantor divisi 3 sambil membawa nampan.
"Oya, terima kasih," kata Kira. Dia mengambil kopi tersebut dan meneguknya selagi hangat.
"Bagaimana rasanya?"
"Hmm, enak sekali. Rasa lelahku rasanya langsung hilang!"
"Tentu saja!" kata orang itu. "SEBAB ITU KOPI BUATANKU!" Orang itu langsung melepas rambutnya yang ternyata hanya wig itu. Kira kaget.
"Yo-Yohachi-san?" Kira terbelalak. "Ja-jangan-jangan…!"
Yohachi menyeringai. "Yup!"
Seketika itu Kira pingsan akibat obat yang dicampurkan ke kopi tadi. Yohachi nyengir. "Oke! Tinggal nunggu dia siuman!"
5 menit kemudian, pintu kantor divisi 3 terbuka. Orang yang membuka pintu itu terbelalak melihat Kira sudah terkapar dilantai. "Sial! Lagi-lagi aku keduluan!" geram Hitsugaya. Tapi, ngomong-ngomong obatnya buat Kira apaan ya?
"Oi! Permisi! Ada orang, nggak?" seru seseorang yang dengan santainya masuk ke dalam kantor divisi 3 itu tanpa ketuk pintu. Cowok yang punya rambut mencolok itu nampak membawa setumpuk kertas tugas di bahunya. Wajahnya yang tadi terlihat bosan langsung sedikit semangat begitu lihat Hitsugaya. "Oh! Toshiro!"
"Cih, sudah kubilang, panggil aku Hitsugaya-taichou, Kurosaki!" gerutu Hitsugaya saat melihat cowok yang bernama Kurosaki Ichigo itu. Si mantan ryoka tersebut malah nyengir.
"Ehehe… Ngomong-ngomong ngapain elo disini? Tumben banget elo jalan-jalan keluar jam segini! Biasanya juga mengurung diri di kantor."
"Harusnya aku yang nanya begitu! Ngapain elo bawa-bawa kertas tugas? Ke divisi 3 lagi… Baru tahu gue kalo elo punya kenalan disini."
"Oh… Gue diminta Rukia nganterin tugas ini ke divisi 3! Soalnya divisi 13 lagi sibuk trus kurir yang biasa mereka minta untuk nganterin lagi sakit. Makanya gue yang lagi iseng kesana jadi korban!" terang Ichigo. "By the way, elo belum jawab pertanyaan gue tadi!"
Hitsugaya menghela nafas. "Sebenarnya aku juga nggak mau keluyuran pas jam segini. Tadi aku juga lagi enak-enak tidur, tapi ada telepon dari Soutaichou. Katanya Yohachi berulah lagi!"
"Hah? Yang bener?"
"Lha, ini buktinya!" Hitsugaya nunjuk Kira yang terkapar. "Eh! Kayaknya dia mau siuman!"
Kira mengucek matanya. "Ah? Hi-Hitsugaya-taichou! A-ada apa ya?"
"…" Hitsugaya dan Ichigo tampak sedang shock melihat Kira. Tentu saja Kira kebingungan. Kenapa, nih? Masa mereka kesurupan, sih? Kira berpikir lalu mulai mengelus dagunya. Tapi, rasanya ada hal yang aneh didagunya…
"Umm, anu… Kira-fukutaichou…" kata Hitsugaya. "Mungkin anda perlu bercermin…"
Kira cepat-cepat mengambil cermin kecil yang biasa dipakai Gin buat bercermin dan bergaya di kantor. Betapa kaget ia saat… Saat… Mengetahui bahwa sekarang dia memiliki jenggot panjang ala Santaklaus. Dia juga punya kumis, alis panjang… Pokoknya kayak Santaklaus!
"A-apa ini?" jerit Kira shock.
"Tapi, setidaknya ini masih mendingan dari pada yang sudah-sudah…" komentar Hitsugaya.
"Oh ya? Menurutku ini cukup parah," kata Ichigo. Mukanya pucat. "Se-sepertinya badanmu juga mulai jadi gendut kayak Santaklaus."
"HAH?" teriak Kira. "Ba-bagaimana ini, Hitsugaya-taichou?"
"Cepat! Cepat pergi ke Unohana-taichou!" ucap Hitsugaya. "Sebelum kau jadi Santaklaus beneran!"
"Ha-hai! Bohohohoho!" Kira sudah menunjukkan tanda-tanda akan berubah jadi Santaklaus. "Huaaaaa! Tidak!" Dengan sekuat tenaga, Kira berlari ke divisi 4. Hitsugaya dan Ichigo hanya bisa sweatdrop.
"Kurosaki! Kamu ikut aku, tidak?" tanya Hitsugaya.
"Eh? Ikut apaan?" Ichigo balik nanya.
"Itu, ngejar Yohachi! Ikutan, nggak? Kalo nggak ikut ya gue tinggal!"
"Ikut, deh! Kebetulan lagi nganggur, nih!"
"Kalau begitu, ayo! Kita ke divisi 4!"
"Oke!"
Divisi 4
"Bohohohoho! Merry Christmas! Bohohoho!" seru Kira sambil membagi-bagikan kado ke seluruh pasien yang ditemuinya. Hanataro nampak kerepotan mengejarnya.
"Ki-Kira-fukutaichou… To-tolong kembali ke kamar… Anda tidak boleh berkeliaran!" kata Hanataro. Dia mencoba untuk tegas, tapi tentu saja hal itu 'gatot' (baca : GAgal TOTal). "Ah, seseorang tolong hentikan dia… Ku-kumohon…"
"Cukup sampai disitu, Kira-fukutaichou!" kata Unohana.
"Bohohohoho… Ini hadiah Anda…" Kira memberi Unohana hadiah.
"OMG! INI 'KAN MAKE UP KELUARAN TERBARU ITU? ADUH, THANKS YA… AH! AKAN KU COBA PAKAI SEKARANG!" Unohana langsung ngacir entah kemana.
"A-anu… Taichou…" Hanataro bingung sendiri. Tapi, tiba-tiba terdengar suara jeritan dari sebuah ruangan disusul dengan munculnya 2 sosok orang berpakaian hitam berlari ke arah Hanataro.
Tiba-tiba terdengar suara teriakan dari dalam divisi 4 yang membuat Hanataro melompat kaget.
"KYAAAAAAAAAAAAAAAA!"
"Lho? Su-suara ini?" Hanataro kaget.
"Sial, kita terlambat!" kata sosok berpakaian hitam tapi dengan haori putih itu. "Ini gara-gara elo, Kurosaki!"
"Eh, Toshiro! Jangan asal nuduh ya! Kan, bukan salah gue elo tadi terpeleset kulit pisang!" kata cowok berpakaian hitam yang satunya.
"Cih, sepertinya jeritan tadi dari kantor divisi 4!"
"Elo tahu tempatnya, Toshiro?"
"Tentu saja! Jangan samakan gue dengan elo yang bahkan ngendalikan reiatsu aja nggak bisa!"
"A-anu… Hitsugaya-taichou… Kurosaki-san… To-tolong jangan berlarian di lorong… Na-nanti para pasien terganggu…" kata Hanataro memperingatkan.
"Hanataro! Minggir!" teriak Ichigo.
"Huh? HUWAAAAAAAA!" Hanataro langsung ditabrak Ichigo dan Hitsugaya yang sedang terburu-buru. Cowok malang itu tentu saja sekarang sudah tergeletak di lantai.
"Ma-maaf ya!" seru Hitsugaya sambil tetap berlari. "Kurosaki, kamu, kok, main tabrak orang aja, sih? Kasihan, tuh!"
"Lha, elo sendiri 'kan juga biarin dia jatuh! Nggak nolongin," kata Ichigo.
"Setidaknya gue udah minta maaf!"
"Gue udah memperingatkan dia! Dianya aja yang nggak nurut!"
Hanataro dengan kebingungan menatap duo yang mungkin tidak akan pernah akur itu. Tapi, tiba-tiba sesuatu melintas di pikirannya. "Mungkin benar ya, soal gosip kalau mereka pacaran…" gumam Hanataro.
Tiba-tiba dua orang yang baru saja menabraknya itu berlari ke arahnya. "KAU BILANG APA?" teriak dua orang yang tak lain dan tak bukan adalah Ichigo dan Hitsugaya.
"A-a-anu…" Hanataro panik.
"Gosip dari mana itu? Ayo, jawab!" gertak Hitsugaya sambil menarik kerah kimono Hanataro.
"Da-dari majalah yang baru saja terbit… I-ini majalahnya…" jawab Hanataro sambil menyerahkan majalah dari dalam shihakushounya. Ichigo dan Hitsugaya langsung merebut majalah itu dan membaca artikelnya.
"Si-sialan… Siapa yang membuat artikel ini?" geram Hitsugaya.
"Ini juga fotonya ngedit dari mana?" teriak Ichigo yang syok dengan cover majalah itu. Cover majalah itu memang foto Ichigo dan Hitsugaya sedang berpelukan dengan mesra.
"Coba lihat inisial si pembuat artikel!"
Ichigo melirik ke paragraf terakhir artikel itu. Seperti artikel di majalah dan koran, pasti ada kan inisial yang diketik didalam kurung pada akhir sebuah artikel? Kadang inisial itu di ketik tebal. Nah, tahu, kan? Itu adalah inisial si pembuat artikel atau wartawannya. Ichigo membaca inisialnya. "Mm… 2 orang! Inisial Ch dan Nk…"
Hitsugaya membuka halaman yang berisi kumpulan nama penulis/redaksi majalah itu. "Direktur Hisagi Shuuhei… Ah! Ada Matsumoto juga!"
"Uah! Rukia juga ada!" kata Ichigo. "Jadi, kemungkinan besar…"
"'Ch' itu singkatan dari 'Chappy'… Lalu 'Nk' itu adalah 'Neko'!"
"Kalau 'Chappy' sudah pasti inisialnya Rukia! Lha, yang 'Neko'?"
"Itu pasti Matsumoto! Diambil dari 'Haineko'!"
Ichigo langsung meremas majalah itu. "Sialan…"
"Kita harus membunuh perempuan itu…"
Hanataro buru-buru menyela. "A-anu… Sepertinya tadi Kotetsu-fukutaichou butuh bantuan…"
"Ah! Kita lupa!" teriak Ichigo sambil menepuk dahinya.
"Sial! Kita terpaksa mengurus ini nanti… Ayo, kita kesana!" sambung Hitsugaya. Mereka bertiga segera berlari menuju kantor divisi 4. Begitu pintu dibuka, mereka disambut dengan… Dengan… Hal yang mengerikan, sekaligus membuat Hitsugaya memikirkan kembali niatnya untuk menambah tinggi badan…
"To-tolong…" rintih Isane yang sekarang tubuhnya semakin besar dan tinggi. Dia sudah berukuran seperti Hulk! Sehingga dia sekarang harus duduk meringkuk agar tidak menjebol atap. Hitsugaya langsung pucat. Hanataro tewas, eh, pingsan seketika. Ichigo shock.
"I-ini… gimana cara buat nyelametinnya?" tanya Ichigo. "Apa perlu kita jebol atapnya?"
"Kurosaki… Tolong pegangi aku… Rasanya aku mau pingsan…" gumam Hitsugaya sambil mencari benda untuk berpegangan.
"Eh? Toshiro! Jangan pingsan disini!"
"YA-HAAAAAAAAAAAAAAA!"
Atap kantor tiba-tiba jebol. Hal itu membuat Hitsugaya kaget dan melompat ke arah Ichigo. Hanataro langsung siuman dari pingsannya. Isane merasa lega karena dia tidak perlu meringkuk lagi. Sesosok cewek yang bernama Yohachi muncul sambil membawa bazooka. "Oh! Taichou~!" panggil Yohachi sambil melambaikan tangan.
Hitsugaya menoleh ke Yohachi sambil tetap memeluk Ichigo. "Yo-Yohachi? A-apa maksud semua ini?"
"Cuma buat fun aja, kok!"
"Fun apanya?"
Yohachi menatap ke taichounya yang sedang memeluk Ichigo dengan erat dan mesra (?). "Ufufufu… Duh, mesranya…"
Hitsugaya langsung sadar. "Ku-Kurosaki? Ngapain, sih, pake meluk-meluk segala! Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan ya!"
"Apa? Sebentar, Toshiro… Ada dua kesalahan disini. Pertama, gue nggak curi-curi kesempatan. Kedua, kan, elo yang tiba-tiba nemplok ke arah gue?" kata Ichigo frustasi.
"Oh…" Hitsugaya pasang tampang innocent.
"Oya! By the way in the way… Isane, elo bakal tambah gede ditiap tarikan nafas," kata Yohachi. "Ok, bye!" Yohachi pun bershunpo pergi.
"A-apa? Ma-masa aku harus… tahan nafas selamanya?" jerit Isane shock. Oh no! Itu namanya gue bunuh diri!
"Wah, gawat juga…" ucap Hitsugaya. "Tidak mungkin Kotetsu-fukutaichou menahan nafas sampai mendapat obat penawarnya! Bisa mati duluan!"
"Jiyaah… Nggak terima mati duluanlah, Toshiro," imbuh Ichigo.
Hitsugaya menatap Hanataro. "Namamu Hanataro, kan? Cepat pindahkan Kotetsu-fukutaichou ke lapangan terbuka!"
"Ha-hai!" jawab Hanataro.
"Kurosaki! Ayo, kita ke divisi selanjutnya!"
"Ok, Toshiro…"
"HITSUGAYA-TAICHOU!"
Divisi 5
"Se-sedikit lagi! Yay! Akhirnya~!" seru Hinamori kesenangan. Ya, siapa juga yang nggak senang begitu berhasil menyelesaikan 8 rim kertas tugas? Sejak penghianatan Aizen, tugas divisi 5 memang jadi lebih banyak. Tapi, dibandingkan tugas Hitsugaya yang setiap hari jadi double berkat Matsumoto, 8 rim itu termasuk kecil…
Hinamori merebahkan dirinya di lantai kantor. "Fuaaaaah… Shiro-chan lagi ngapain ya? Ah!" Hinamori langsung terduduk. "Mungkin lebih baik aku beli semangka buat Shiro-chan! Wah, Shiro-chan pasti suka! Kan, sekarang lagi panas banget!"
"Semangka? Mau, dong!" sahut Yohachi yang tiba-tiba sudah berada di dalam kantor.
"Ro-Rokukyuu-san! Ma-masuk dari mana? Kok, nggak ketuk pintu dulu?" tanya Hinamori heran.
"Maaf~! Oya, nih! Ku buatin teh kesukaanmu."
"Teh? Green tea? Ya ampun, makasih ya~!"
"Sama-sama! Kan, biasanya kamu juga suka bikinin aku black tea favoritku~! Eh, udah ya! Aku mau beli alat gambar!"
"Oh iya! Hati-hati ya!"
"Yup!"
Hinamori dengan gembira membuka pintu geser agar pemandangan taman divisi 5 terlihat. Cewek itu duduk dan mulai menikmati tehnya hingga…
"HINAMORI!" teriak Hitsugaya dengan histeris sambil membuka pintu dengan kasar. Hinamori langsung tersedak. Ichigo dengan reflek gentleman-nya, menepuk punggung Hinamori.
"Hi-Hinamori… Ma-maaf! Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Hitsugaya sambil ikutan menepuk punggung Hinamori.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk! Shi-Shiro-chan… A-ada apa, sih? Uhuk! Uhuk!" tanya Hinamori sambil terbatuk-batuk. Ichigo langsung menyodorkan air putih ke Hinamori. "Uh, terima kasih, Kurosaki-kun…"
Hitsugaya menggaruk-garuk kepalanya. "Hinamori, tadi Yohachi kesini, nggak?"
"Eh? I-iya… Nih, aku tadi malah sudah dibikinin teh! Enak banget, lho!"
Hitsugaya langsung terlonjak. "A-apa? Berarti sudah… kamu minum?"
Hinamori mengangguk. "Iya, ada apa, sih?"
"Muntahkan! Muntahkan lagi, Hinamori!" seru Hitsugaya panik sambil mengguncang-guncang tubuh Hinamori. "Muntahkan demi keselamatanmu!"
"Shiro-chan! Jangan berprasangka buruk, dong! Itu nggak baik!" kata Hinamori sambil menepuk kepala Hitsugaya.
"Ta-tapi…"
"Kalau pun disitu benar-benar dicampur obat, aku yakin kalau obatnya nggak akan yang aneh-aneh. Kamu tenang saja ya?" Hinamori tersenyum sambil mengelus kepala Hitsugaya yang sudah dia anggap sebagai adiknya.
Hitsugaya akhirnya luluh juga mendengar kata-kata dari orang yang selama ini dia anggap seperti kakak itu. "I-iya…" Hitsugaya pun balas tersenyum kecil.
Ichigo hanya tersenyum. Wah, baru kali ini Toshiro kelihatan tenang banget. Berarti bener, dong, kata Rangiku-san kalau Toshiro itu sayang sama Hinamori seperti kakaknya sendiri… Senyuman Ichigo langsung hilang begitu Hinamori tiba-tiba ambruk.
"HINAMORI!" teriak Hitsugaya histeris.
Anehnya tak ada sedetik kemudian, Hinamori sadar kembali. "Aku kenapa?"
"Syukurlah… Kamu nggak apa-apa, Hinamori?"
Hinamori terperanjat. Dia menatap ke arah Hitsugaya. "Wuah! Semangka! Ya ampun! Shiro-chan kalau aku bawakan ini pasti senang!"
Hitsugaya langsung bersemangat (?). "Hah? Semangka? Dimana? Dimana? AKU MAU! MAU!"
Ichigo sweatdrop. "Uh, anu… Toshiro?"
"Oh, ehem… Ada apa, Kurosaki?" Hitsugaya berusaha kembali jadi cool.
"Uuh, enggak… Tapi, tadi kayaknya kamu bertingkah seperti seorang maniak semangka, deh…"
"Hah? Maniak semangka? Kau ini bicara apa, Kurosaki?"
"Mm, lupakan saja…" Ichigo geleng-geleng. Apa sebegitu pentingnya image itu dikalangan shinigami? Toshiro aja sampai nggak mau mengakui ke'maniak'annya terhadap semangka!
"Umm, lebih baik langsung aku potong semangkanya! Hup!" Hinamori mengeluarkan Tobiume. "Heyaaaaaaa!" Dengan penuh semangat, dia menebaskan zanpakutounya ke arah… Hitsugaya?
"UWAAAAKH!" Dengan lincah Hitsugaya menghindar. "Hinamori! Kamu kenapa?"
Hinamori menatap Hitsugaya. "Uh, sial! Semangkanya menggelinding! Yak, sekali lagi! Hup!" Lagi-lagi Hinamori berlari ke arah Hitsugaya dengan zanpakutou teracung ke atas.
TRANG!
Ichigo, dengan reflek gentleman-nya, melindungi Hitsugaya menggunakan Zangetsu. Hitsugaya yang terduduk di lantai kaget. Hinamori juga kaget.
"Eh?" ucap Hinamori. "Kok… Wuah! Ada durian besar! Pasti durian montong, nih! Mmm, pasti enak banget! Ku belah sekalian, ah!"
"Toshiro, kamu nggak apa-apa?" tanya Ichigo. "Cih!" Ichigo sekali lagi menangkis tebasan Hinamori. Kini Ichigo bersiap-siap untuk menyerang Hinamori. Hitsugaya segera menghentikan.
"Hentikan, Kurosaki! Ini bukan ulah Hinamori! Ini karena obat dari Yohachi!" kata Hitsugaya. "Hinamori nggak salah!"
"Yeee, bilang aja kalau elo nggak mau gue ngelukai kakak elo yang tercinta ini…"
"U-urusai! Coba kamu yang jadi aku terus Hinamori diganti jadi adikmu! Kamu pasti juga nggak mau, kan?"
"Iya, iya… Terus kita gimana, nih?"
"Tunggu… Rasanya aku bisa menebak apa obatnya… Ini obat untuk…"
Tiba-tiba tembok jebol dan muncul Yohachi yang membawa basoka dengan moncong masih berasap. "YIHAAAAAA! BENAR, TAICHOU! INI OBAT YANG MEMBUAT SEMUA ORANG DALAM PENGLIHATAN HINAMORI ADALAH BUAH! KEKEKE!"
Ichigo lagi-lagi dapat rejeki nomplok karena Hitsugaya yang kaget sekarang sudah memeluknya erat. "Yo-Yohachi! Kamu mau bikin aku jantungan ya?"
"Gomen, taichou~! Soalnya adegan taichou yang kaget terus memeluk seseorang itu mesra banget!"
Pipi Hitsugaya memerah. "A-apa, sih! Ini reflek!"
Hinamori tiba-tiba menyeletuk. "Wuah! Ada buah jeruk! Pasti segar, nih, kalau dimakan siang-siang!"
"Kurosaki…" panggil Hitsugaya.
"Iya, Toshiro?" jawab Ichigo.
"Tolong ya…" Hitsugaya nunjuk Hinamori.
"Hah? Yakin, nih, Toshiro?"
"Iya."
"Gue nggak bakal elo bunuh, kan?"
"Nggak, asal kamu ngelakuinnya pas aku nggak ngelihat!"
"Ok!" Ichigo menyeret Hinamori ke tempat dimana Hitsugaya nggak bisa melihat mereka. "Maaf ya, Hinamori… Hup!" Ichigo memukul tengkuk Hinamori hingga pingsan.
"Ah!" Tubuh Hinamori yang limbung langsung ditangkap Ichigo dan di sandarkan ke tembok.
"Ups, udah waktunya, nih! Bye, taichou~!" Yohachi kembali kabur.
"Ayo, Kurosaki! Kita kejar Yohachi!" kata Hitsugaya.
"Lho? Hinamori ini gimana? Elo tinggal begitu aja?" tanya Ichigo.
"Sebentar!" Hitsugaya keluar dari kantor divisi 5. Tak lama kemudian, Hitsugaya kembali dengan seorang shinigami pria yang cengar-cengir dibelakangnya. "Sudah. Tolong kamu antar Hinamori-fukutaichou ke divisi 4! DAN INGAT! Jangan macam-macam sama Hinamori kalau nggak mau aku mutilasi! Awas ya! Ntar aku laporin Komnas HAS!"
"Uh, Toshiro… Anu, apa itu HAS? Komnasnya, sih, aku ngerti…" tanya Ichigo heran.
"Hak Asasi Shinigami!"
"Egh? Memang ada?" tanya Ichigo dan shinigami cowok yang dibawa Hitsugaya.
"Entahlah. Yang jelas kamu jangan macam-macam!"
Ichigo dan shinigami itu sweatdrop. "Uuuh…"
"Ok, kalau sudah paham, cepat antar, Hinamori-fukutaichou!" perintah Hitsugaya dengan tegas kepada shinigami cowok itu.
"Si-siap! Apa pun untuk anda, Hitsugaya-taichou!" jawab shinigami itu. Dengan semangat dia menggendong Hinamori dan keluar dari ruangan.
"Masalah sudah selesai, jadi, sekarang kita ke divisi 6! Ayo, cepat!" kata Hitsugaya.
"Ok, Toshiro! Tapi, ngomong-ngomong siapa shinigami itu?" tanya Ichigo.
Hitsugaya tersenyum menyeringai. "Aku 'kan termasuk bintang idola di Seireitei…"
"Egh? Jadi itu tadi salah satu dari fansmu?"
"Yup…"
"…" Ok, dengan ini aku bener-bener mengakui tentang kebenaran soal fans-nya Toshiro yang ada dari kalangan pria dan wanita… Wow…
Divisi 6
Renji nampak sedang bersantai di sofa kantor divisi 6. Di sampingnya sudah ada sekantong penuh taiyaki favoritnya. Renji menguap lebar. "Bosen, ah! Mana capek banget!" keluh Renji. Tidak heran jika kecapekan, tadi Renji benar-benar harus berjuang untuk membeli taiyaki itu. Hari itu toko penjual taiyaki langganannya sedang ramai sekali. Tidak heran, sih, soalnya taiyaki yang dijual disana sangat enak dan dibuat dengan skill tinggi. Makanya selai kacang merahnya bisa terisi sampai bagian ekornya (A/N : sekadar pengetahuan, semakin tinggi skill pembuat taiyaki, semakin banyak bagian yang bisa diisi selai kacang merah. Dengan skill yang tinggi, kita bisa mengisi selai kacang merah sampai ke ujung ekornya) Enak banget, deh!
Tapi, nampaknya Renji nggak sadar kalau Yohachi sudah menyamar menjadi salah satu staf di toko taiyaki itu dan sudah menyuntikkan obat buatannya ke taiyaki pesanan Renji. Wah, good luck ya, Renji…
Yohachi yang mengintip Renji dari langit-langit sudah nggak sabar. Ayo… Cepet dimakan, dong! Nggak sabar, nih!
Renji menguap dan mengambil sebuah taiyaki. Dia mengedarkan pandangan ke kantor divisi 6 yang sedang kosong. "Hmm, taichou mana ya? Katanya mau makan siang, tapi, kok, lama banget?" heran Renji. Tanpa basa basi Renji mulai melahap taiyaki yang ditangannya.
Tiba-tiba Renji merasa pusing. "A-apa, nih?" Seketika itu Renji pingsan. Membuat Yohachi jingkrak-jingkrak bahagia di dalam hati.
"Nii-sama, terima kasih sudah menemani saya makan siang," kata Rukia kepada kakak angkatnya, Byakuya.
"Tidak masalah. Apapun akan kulakukan demi adikku…" ucap Byakuya sambil tersenyum kecil.
Rukia langsung terpukau akan pesona kakaknya itu. "Ni-Nii-sama…" Rukia teringat sesuatu. "Ah iya! Nii-sama, apakah jamuan minum teh untuk nanti sore jadi?"
"Iya. Setelah ini kita pulang dan bersiap-siap dirumah. Rukia, bisa kau membantuku menyelesaikan beberapa tugas di kantor?"
"Te-tentu, Nii-sama!" jawab Rukia dengan penuh semangat. Seperti kata-kata Nii-sama tadi! Aku juga akan melakukan apapun demi Nii-sama!
Tak terasa akhirnya mereka sampai di depan kantor divisi 6. Rukia merasakan sesuatu tidak enak, dia jadi salah tingkah. Byakuya menyadari hal itu. "Ada apa, Rukia?"
"Uuh, tidak… Saya hanya merasa… umm, ada hal tidak enak dibalik pintu itu…"
Byakuya mengangkat alisnya. "Hal yang tidak enak?"
"Uh, ah! Ti-tidak perlu dipikirkan, Nii-sama! Mungkin hanya perasaanku saja!"
"Hmm…"
Ketika Byakuya membuka pintu, mimpi buruk itu terjadi… Di dalam sana, seisi kantor sudah berantakan bak terhempas tsunami. Kertas-kertas berceceran. Botol-botol tinta berjatuhan dan isinya 'menghiasi' lantai dengan 'cantik'nya. Rak buku jatuh dan buku-bukunya berserakan di lantai. Sofa terbalik. Kaca jendela pecah. Dan pelaku dari semua itu nampak sedang asyik melempar-lempar kertas ke sembarang arah.
"A-BA-RA-I-!" gumam Byakuya dengan aura horrornya.
"Nii-sama? Ada a-ASTAGA? RENJI!" teriak Rukia histeris. Rukia bergegas masuk dan menghampiri fukutaichou berambut mencolok itu. "Kamu ini apa-apaan, sih?"
"Nguuuuuuuuk!" sahut Renji seraya berbalik ke arah Rukia.
Rukia sangat shock. Ralat. AMAT SANGAT SHOCK. Karena sekarang tubuh Renji mulai ditumbuhi bulu yang sangat familiar. Ya, bulu monyet. "Re-Renji?" Buset! Kenapa, nih, Si Renji? Apa jiwa 'kemonyetan'nya bangkit?
Renji tiba-tiba langsung nemplok ke Rukia. "Nguuuuuuuuuuuk!"
"Huwaaaaaaa! Renji! Lepasin!"
"…" Byakuya nampak sudah bersiap untuk mencabut Senbonzakura dari sarungnya. Tapi, gerakannya terhenti begitu mendengar suara langkah orang berlari menuju ke pintu kantor.
"RENJI!" teriak sesosok cowok berambut duren yang tiba-tiba sudah di depan pintu kantor divisi 6. Matanya terbelalak saat melihat Renji yang sedang memeluk Rukia dan Byakuya yang sudah bersiap menebas Renji. "Sial! Toshiro! Kita terlambat!"
"Minggir, Kurosaki!" kata cowok imut bernama Hitsugaya Toshiro yang menyeruak dari belakang Ichigo. "Ku-Kuchiki-taichou! Tahan dulu! Itu akibat obat dari Yohachi! Abarai tak bersalah!"
"Tak bersalah? Tidak. Tidak bisa. Dia sudah lancang menyentuh Rukia!" kata Byakuya dengan wajah penuh amarah. "Aku tidak terima adikku dilecehkan begitu!"
"Ni-Nii-sama…" Rukia terpana mendengar ucapan kakaknya itu. Ah, Nii-sama khawatir padaku…Duh, seneng, deh! Nii-sama emang kakak yang paling baik se-dunia! Tapi, dia segera sadar. "Oh ya! Renji! Lepasin, ah! Sesak, nih!"
"Kurosaki! Bantu Kuchiki!" perintah Hitsugaya ke Ichigo. "Aku akan coba menenangkan Kuchiki-taichou!"
"Ok!" Ichigo langsung membantu Rukia untuk melepaskan diri dari Renji. Toshiro berusaha menenangkan Byakuya. Dia meminta Byakuya untuk duduk dan menenangkan diri sementara dia membuat teh.
Saat situasi sedang genting seperti itu, Yohachi tiba-tiba masuk lewat jendela. "Yeah! Bagaimana, nih?" teriaknya. "Obat buat fukutaichou berkepala nanas ini adalah obat yang membuat dia bertingkah dan berpikir seperti kera!"
"Ke-kera?" heran Ichigo. Kera? HUAHAHA! MIRIP BANGET! BAGUS, YOHACHI! batin Ichigo.
"A-apa? Pantesan!" kata Rukia yang masih berusaha lepas dari Renji dengan dibantu oleh Ichigo.
"Ok! Bye!" teriak Yohachi. Kontan, dia segera berlari dan keluar lewat jendela.
"Hei! Tunggu!" teriak Hitsugaya. Namun, Yohachi sudah menghilang. "Cih, cepat juga dia!"
Byakuya langsung membuka rak dan mengeluarkan sebuah karung. "Pakai ini!"
"Hah? Apa itu, Byakuya?" tanya Ichigo.
"Hush! Kurosaki! Yang benar Kuchiki-taichou!" kata Hitsugaya. "Tapi, seperti kata Kurosaki, Kuchiki-taichou, apa itu?"
Byakuya mengambil salah satu benda yang ada di dalam karung itu. Dan benda itu adalah… JENG! JENG! Sesisir pisang raja! Semua orang yang ada di sana (kecuali Renji) terbengong. Berikut pikiran yang langsung melintas dipikiran mereka…
Apakah Byakuya bener-bener masih 'waras'? pikir Ichigo dengan wajah horror.
Ku-Kuchiki-taichou… Aku tak pernah menyangka bahwa kau seorang maniak pisang… pikir Hitsugaya dengan wajah yang sudah dia usahakan tetap terlihat cool.
Ni-Nii-sama… A-aku… AKU BENAR-BENAR BINGUNG MAU NGOMONG APA! batin Rukia dengan ekspresi speechless.
Byakuya menyodorkan pisang itu ke Renji. Renji dengan penuh semangat melompat ke arah pisang itu dan memakannya. "Kalian kejar saja Yohachi. Biar aku yang bawa Abarai ke divisi 4…" kata Byakuya sambil mengeluarkan tali.
"Baiklah, ku serahkan disini padamu, Kuchiki-taichou! Ayo, Kurosaki! Kuchiki!" kata Hitsugaya. "Kita ke divisi 7!"
"Hai!" jawab Rukia dan Ichigo. Bertiga mereka akan menghentikan Yohachi… Tapi, apakah bisa?
= TO BE CONTINUE =
4869fans-nikazemaru : "Ugh… Kaiba sialan… Prevent rat-ku… Oh! Change of heart! Oke, summon Kazejin! Yeah! Apa? Blue Eyes White-Dragon? Hehehe, tak masalah… Aktifkan effect dari Kazejin! Attack 0! Huahahaha! Mati, loe, Kaiba!"
Hi-chan : "Whoi! Udah selesai, nih! Mau main Kaiba the Revenge sampai kapan?"
4869fans-nikazemaru : "Uh, sorry, readers! Ehehe, akhir-akhir ini aku lagi kecanduan Yu-Gi-Oh! Power of Chaos : Kaiba the Revenge sama Plants vs Zombies! Juga tugas menumpuk seperti gunung. Gile, tuh, para guru. Niat ngebunuh muridnya kali, ya? Tugasnya mana nggak ngira-ngira… Masa suruh ngerjakan soal hingga 3 lembar? Trus bikin presentasi ada juga TIK yang tugasnya, ugh, kayaknya nggak mungkin! Mana bisa bikin segi-lima dengan panjang masing-masing sisi 15 cm pakai Microsoft Word di kertas HVS! Ugh, bagaimana pula caranya?"
Hitsugaya : "Jelas elo punya banyak tugas! Bukannya elo emang masuk di kelas khusus yang namanya enrismen?"
4869fans-nikazemaru : "Uh, iya, sih… Gara-gara itu muatan lokal yang harusnya pelajaran Bahasa Jepang diganti jadi Robotika! Huaaaaaaaaa! Kembalikan Bahasa Jepang-ku!" (dihajar guru-guru) "Yah, tapi, setidaknya aku ikutan klub Bahasa Jepangnya…"
Ichigo : "Ini masih panjang?"
Hi-chan : "Kata 'mas', sih, nggak…"
4869fans-nikazemaru : "Yup! Aku udah bikin daftarnya!" (buka file di laptop) "Setelah ini part 2 fukutaichou… Trus shinigami biasa termasuk Ichigo…"
Ichigo : "Apa? Gue juga? Tidak!" (kabur)
Yohachi : "Hei! Jangan lari!"
4869fans-nikazemaru : "Ohoho… Tentu saja semuanya dapat… Pokoknya yang terakhir itu para espada… Termasuk Nel. Pokoknya sesukaku! Oke, semuanya! Sam-UAGH!" (ditinju Hi-chan sampai pingsan)
Hi-chan : "Sekarang ganti aku yang nutup! Aku 'kan juga pengin eksis! Yak! Sampai jumpa di chapter selanjutnya!"
Rukia : "MOHON REVIEWNYA!"
