Masih membekas di kepalanya, kejadian dua tahun yang lalu.

Dia baru saja dilahirkan ke dunia ini saat itu. Di bawah semak-semak belukar yang terdapat di pinggir taman kota. Saat dia dapat merasakan udara dunia fana untuk yang pertama kalinya, dia mengangkat kepalanya dan bergerak goyah di atas tanah. Kaki mungilnya yang masih berwarna kemerahan bergerak-gerak mencoba meraih sesuatu yang tak pasti. Kedua matanya yang masih tertutup sempurna membuatnya tenggelam di dalam kegelapan. Dia tidak bisa membedakan seperti apa dunia tempatnya sekarang dengan dunianya dulu ketika baru pertama kali dibentuk di dalam kandungan ibunya.

Jilatan pada kepalanya membuatnya tersadar dan menghentikan gerakan kepalanya yang sedari tadi terus menoleh ke kanan kiri. Lidah yang kasar... namun begitu hangat dan nyaman. Dia membuka-buka mulutnya, mungkin mencoba memberi tanda pada pemilik lidah yang dia yakini sebagai ibunya. Suara dengkuran terdengar dan mulut sang ibu menuntun anaknya pada salah satu puting susunya. Dia menurut, begitu ujung mulutnya menyentuh sesuatu, anak yang masih sangat mungil tersebut membuka mulutnya dengan insting dan menyusu pada ibunya untuk yang pertama kalinya.

Waktu terus berjalan, bayi kecil itu masih menjalankan kegiatan rutinnya. Meminum susu dan tidur. Sampai akhirnya kurang lebih tujuh hari telah berlalu, sang anak yang masih belum mengerti apa-apa itu akhirnya membuka kedua matanya yang entah kenapa mendadak bisa dibuka. Memang belum terbuka sepenuhnya, tapi cukup untuk melihat dunia barunya sedikit demi sedikit. Hal pertama yang dia lihat adalah warna hijau daun yang tepat berada di depan wajahnya. Kedua telinganya yang masih kecil terangkat saat dia mencoba mengendus ujung daun yang lebarnya kurang lebih setengah dari kepalanya.

"Ng..." Suara lain membuatnya menoleh. Dia sedikit kaget melihat ada sesuatu yang seperti dirinya di sekitarnya. Ada satu, dua, ti—ah, lima ditambah dirinya. Siapa mereka? Siapa dirinya? Dia hanya bisa diam sembari mencoba membuka matanya lebih lebar lagi. Keempat makhluk yang sejenis dengannya itu juga menoleh ke arahnya lalu menghampirinya.

"Nyaa!" Salah satu dari mereka seperti menyapanya yang masih terlihat bingung. Dia hanya diam saat makhluk yang tadi menyapanya itu menjilati wajahnya—seperti tanda perkenalan. Kini instingnya kembali berkata, mereka adalah makhluk yang sama seperti dirinya, tidak mungkin mereka adalah musuh, tidak perlu takut. Dia pun tersenyum lalu ikut menjilati mereka.

Perlakuan mereka untuk saling mengenali satu sama lain akhirnya terhenti ketika suara sesuatu menginjak ranting membuat mereka semua menoleh. Ada lagi. Makhluk seperti mereka tapi jauh lebih besar. Bahkan mereka hanya setinggi seperempat kaki panjangnya. Tapi aneh, mereka sama sekali tidak merasa takut. Bahkan rasanya seperti familiar saat makhluk besar itu berbicara dengan bahasa yang membuat mereka dapat mengerti.

"Selamat datang di dunia ini, anak-anakku."

Makhluk besar itu mengendus mereka yang disebut anak-anaknya satu persatu lalu kembali melanjutkan, "Kalian semua adalah kucing, sama sepertiku. Aku adalah ibu kalian." Makhluk yang menyebut dirinya sebagai kucing itu terus menjilati anak-anaknya—mencoba membersihkan tubuh mereka.

"Aku berjanji akan melindungi dan merawat kalian sampai nanti tiba waktunya kalian dapat menjelajahi dunia luar dengan kekuatan kalian sendiri," begitu katanya. Dia—si kucing kecil berwarna hitam—tidak merespon perkataan ibunya, berbeda dari keempat saudaranya yang lain.

Sang ibu membaringkan tubuhnya agar kelima anaknya dapat menyusu pada puting susunya. Dia menatap heran pada salah satu anaknya yang hanya diam berdiri di tempatnya berada. "Ada apa? Kau tidak mau makan?" tanyanya heran. Dia tidak bergerak, enggan mengganggu empat anaknya yang sedang memposisikan dirinya masing-masing senyaman mungkin.

Si kucing kecil yang seluruh tubuhnya berwarna hitam tanpa cela tersebut tidak menjawab pertanyaan ibunya. Dia memperhatikan keluarganya tersebut. Sang ibu memiliki rambut berwarna kuning dan abu-abu bergaris, warna rambut yang indah dan cantik. Saudara-saudaranya yang lain juga memiliki warna yang sama dengan ibunya—hanya berbeda corak maupun bentuk.

Lalu, kenapa hanya dia sendiri yang berwarna hitam kelam?

Kenapa dia berbeda?

"Hei, ayo sini. Jangan diam saja, bergabunglah dengan saudara-saudaramu," panggil ibunya untuk yang ke sekian kalinya. Akhirnya setelah berbagai macam pertimbangan, dia pun menurut dan melangkah goyah mendekati salah satu puting susu ibunya yang belum tersentuh. Sekarang... kelima anak kucing yang baru berumur kurang lebih seminggu tersebut meminum susu ibunya dengan rapi dan terlihat damai.

Wajah mereka begitu polos. Wajah yang masih belum mengetahui betapa kejamnya dunia di luar sana. Kucing betina dewasa itu hanya tersenyum melihat anak-anaknya... sebelum dia sendiri jatuh tertidur. Mulai besok dia akan menunjukkan dunia ini pada anak-anaknya secara perlahan.

Berbagai macam ajaran yang berharga untuk bertahan hidup diajarkan pada sang induk pada kelima anaknya. Dari pertumbuhan mereka, sekarang ketahuan bahwa si kucing kecil hitam itu adalah anak yang paling bungsu. Dia terlihat paling kecil dan selalu tertinggal dari keempat saudaranya yang lain. Walau begitu, sang ibu tidak pernah mengucilkannya, dia menuntun anak bungsunya itu untuk selalu berhati-hati menghadapi berbagai macam rintangan di depan matanya.

Sekiranya sudah tiga bulan berlalu sejak kelahiran anak-anak kucing kecil tersebut. Mereka sudah mengelilingi kota kecil ini walau belum sepenuhnya. Setiap malam, mereka akan kembali ke tempat yang sama setelah berpetualang mempelajari kehidupan sebagai kucing liar. Yaitu... kardus berukuran sedang di bawah tiang listrik yang sudah tidak terawat lagi. Setidaknya kardus itu cukup menjadi tempat mereka untuk tidur bersama.

Seperti biasa, anaknya paling bungsu yang tubuhnya berwarna hitam sepenuhnya itu adalah anaknya yang paling pertama dimasukkan ke dalam kardus. Kotak berwarna coklat tersebut sisi-sisinya cukup tinggi hingga sang induk kucing tersebut harus berdiri dengan dua kaki bawah dan dua kaki atasnya berpegangan pada penutup kardus. Dia memasukkan anak-anaknya dengan menggigit tengkuk mereka lalu meletakkan mereka dengan lembut ke atas dasar kardus. Tanpa bantuan ibunya, anak-anak itu tidak akan dapat masuk atau keluar dari kardus.

Anak terakhir sudah dimasukkan. Si kucing kecil hitam dan keempat saudaranya tersebut menunggu ibu mereka untuk masuk ke dalam kardus... lama, lama sekali. Kenapa ibu mereka tidak segera masuk? Malam sudah semakin dingin. Apa yang ibu mereka lakukan di luar sana? Keempat anak kucing itu tidak dapat melihat dari dalam kardus.

CKIIIIT!—BRAAAAAAK!

Suara benturan keras membuat kelima anak kucing kecil itu tersentak kaget. Secara reflek, mereka berkumpul untuk mencari rasa aman. Sang kakak tertua berdiri tegak dan terus melihat ke atas kardus dengan waspada. Dia mengingat perkataan ibunya untuk tetap melindungi adik-adiknya. Dibukanya mulutnya, mencoba mengancam dengan deretan gigi taringnya yang sebenarnya masih sangat kecil. Dari sini, mereka hanya dapat mendengar suara-suara yang terdengar panik. Suara manusia lebih tepatnya.

"Sial! Kenapa kucing ini lompat begitu saja di tengah jalan malam-malam begini, sih!?"

"Tadi aku melihat ada tikus baru masuk ke dalam got di sebelah sana, pasti kucing ini bermaksud menangkap tikus itu tapi malah tertabrak oleh kita."

"Cih! Dasar kucing bodoh! Sudah, ambil saja mayatnya dan buang ke got di sebelah sana!"

"Hah!? Kenapa tidak kita kubur saja? Kau tahu, ada mitos kalau kita tidak mengubur kucing yang mati karena kesalahan kita, kita akan terkena sial."

"Bah! Persetan dengan takhayul seperti itu! Lagipula memangnya kau mau menggali tanah malam-malam begini cuma demi kucing kotor itu?"

"Ti-Tidak juga sih..."

"Ya sudah! Minggir, biar aku yang buang!"

Begitu kurang lebih suara teriakan manusia-manusia itu yang tentu saja tidak dapat dimengerti kelima anak kucing kecil yang masih bergetar karena ketakutan. Kini mereka berkumpul di ujung kardus. Rasa takut, dingin, dan kantuk tercampur menjadi satu. Kedua mata mereka mulai terpejam perlahan tapi pasti, tidak dapat menahan lagi rasa kantuk yang menyerang mereka. Di hari-hari sebelumnya, ibu mereka akan melingkari mereka dengan tubuh besarnya, memberi kehangatan yang luar biasa.

Mereka tidak tahu apa-apa. Kelima anak kucing kecil itu hanya bisa diam dan menunggu. Dunia yang mereka tahu selalu terlihat indah dan luar biasa ini... mulai menunjukkan sisi kejamnya perlahan tapi pasti.

Kedua mata mereka pada akhirnya terpejam sepenuhnya... bersamaan dengan terdengarnya suara seperti sesuatu yang baru saja dibuang ke dalam got di seberang mereka.

Dan sejak itu pula... mereka tidak pernah lagi melihat ibu mereka.

Hari demi hari berlalu. Tanpa bisa keluar dari kardus, kelima anak kucing itu tidak dapat melakukan apapun. Yang bisa mereka lakukan saat ini hanya mengeong. Tapi, suara mereka sangat kecil hingga hanya sedikit yang bisa mendengarnya. Manusia-manusia yang melewati mereka pun hanya melirik mereka sekilas tanpa menghentikan langkah dan mengabaikan mereka begitu saja. Tidak tahukah para manusia itu seberapa besar penderitaan yang telah mereka lalui? Atau sudah berapa lama mereka tidak makan ataupun minum?

Dibiarkan lebih lama dari ini, kelima anak kucing malang itu akan mati.

Tubuh mereka pun mulai lemas. Suara mereka serak, tidak bisa lagi berteriak seperti sebelum-sebelumnya. Ingin mencoba melompat keluar, namun percuma, tenaga mereka sudah terkuras habis. Kemana sebenarnya ibu mereka? Kenapa dia meninggalkan mereka? Bagaimana dengan janjinya yang akan selalu melindungi dan merawat mereka? Apa mereka benar-benar tidak boleh merasakan bagaimana rasanya hidup sebagai kucing dewasa?

Kejam.

Kejam.

Ke—

"Hei, lihat lihat!" Cahaya yang masuk ke dalam kardus terasa jauh lebih banyak dari sebelumnya ketika seorang anak manusia membuka penutupnya. Kelima anak kucing itu mendongak ke atas melihat anak manusia berambut hitam yang kedua matanya berbinar melihat mereka. "Waaaah, lucu sekali! Teman-teman! Cepat ke sini!" teriaknya sembari mengibas-ngibaskan tangannya.

Anak-anak manusia yang lain berdatangan. Sama seperti anak manusia pertama, mereka juga ikut memuji kelima anak kucing di dalam kardus tersebut. Anak-anak yang kurang lebih berumur tujuh tahunan itu mengambil kucing-kucing kecil dari dalam kardus tersebut dan menggendongnya dengan gemas. Walau begitu, hanya ada empat anak manusia di sana. Dengan kata lain tersisa satu kucing yang masih berada di dalam kardus. Kucing paling kecil berwarna hitam yang masih di dalam kardus hanya bisa melihat keempat saudaranya digendong para manusia itu. Dia mencoba menunggu gilirannya untuk keluar dari kardus dengan sabar.

"Uuuh, lucu sekali! Aku mau bawa pulang yang ini, ibu dan ayah pasti mau mengizinkanku untuk memelihara kucing!" ucap salah satu dari mereka lalu diikuti yang lain. Di saat mereka tertawa-tawa membayangkan bagaimana nanti saat mereka memelihara kucing, salah satu dari mereka menginterupsi...

"Hei, bagaimana dengan kucing hitam itu?" tanyanya sembari menunjuk sang kucing yang kini langsung berdiri dan menatap mereka penuh harap. Tapi, di luar dugaan... ketiga anak manusia yang lain langsung menggeleng cepat.

"Tidak mau, ah! Yang itu jelek, biarkan saja dia di sana. Toh, nanti juga ada yang akan mengambilnya."

"Iya benar, warnanya tidak menarik. Hitam sekali, menyeramkan. Biar saja nanti dia dirawat ibunya sendiri."

"Ooh begitu, aku sebenarnya mau saja merawat dia sih. Tapi, aku ragu ibuku mau mengizinkan aku memelihara dua kucing."

"Sudah sudah. Eh, awan sudah mendung! Sepertinya akan hujan. Kita pulang saja yuk?"

Kedua bola mata kucing kecil hitam itu membulat kaget saat para manusia tersebut membawa keempat saudaranya yang lain dan pergi begitu saja. Dengan cepat dia mengeluarkan suara—berusaha berteriak, "MEONG!" Tapi mereka tidak kembali. Bahkan meskipun dia sudah berteriak berulang kali hingga mencakar-cakar sisi kardus, "MEONG! MEONG! MEOOONG!"

Tidak. Mereka tidak kembali. Mereka meninggalkannya sendirian begitu saja.

Kenapa? Jika mereka memang tidak menyukainya, setidaknya kembalikanlah saudara-saudaranya!

Kenapa? Karena dia berwarna hitam? Karena dia berbeda dari yang lain?

KENAPA?

Waktu itu sang kucing kecil hitam terus berteriak. Tidak peduli jika tidak ada yang mau mendengarnya. Dia akan terus berteriak sampai seseorang mendengar dan menghampirinya. Tidak. Dia tidak mau sendirian. Meskipun dia harus mati, dia tidak mau sendirian. Dia ingin bersama keluarganya. Kembalikan ibunya! Kembalikan saudara-saudaranya! Apa yang telah dia perbuat sampai dunia ini begitu kejam padanya? Apa salahnya?

Kenapa?—dia bertanya lagi di dalam hatinya. Saat itulah air mengalir dari ujung matanya. Dia menangis untuk yang pertama kalinya dan dia tidak tahu itu. Yang dia tahu... dia sedang merasakan sakit yang hebat di dadanya dan tidak bisa dijelaskan begitu saja dengan kata-kata.

GLEGAR!—Suara petir kini menyaingi teriakannya. Petir yang besar. Bahkan kilatnya terlihat begitu mengerikan dilihat dari sini. Kucing kecil hitam itu tidak bisa lagi mengeong seperti sebelumnya. Dia membisu, terlalu takut hingga tubuhnya bergetar dan kedua telinganya menurun. Air menyentuh kepala kecilnya. Rintikan hujan menyerang tubuhnya... yang awalnya pelan kini mulai deras perlahan tapi pasti.

Menyerah. Kucing hitam kecil itu tidak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya. Dia menundukkan kepalanya lalu meringkukkan tubuhnya. Hujan terus menyerang tubuhnya yang semakin lemah. Untuk bernapas saja rasanya luar biasa sulit. Kucing hitam itu memejamkan kedua matanya. Tubuhnya menggigil kedinginan dan air di dalam kardus mulai terkumpul, walau begitu dia tidak berniat mencari perlindungan. Biarkan saja hujan menyerangnya sampai dia mati. Toh, dia sudah tidak punya apa-apa lagi di dunia ini. Lantas untuk apa dia bertahan? Lebih cepat meninggalkan dunia ini lebih baik.

PCAK PCAK

Suara langkah kaki manusia yang sedang memainkan genangan air di jalan membuat kucing hitam itu membuka sedikit kedua matanya. Namun tak lama, dia kembali memejamkan matanya tersebut. Untuk apa berharap? Semua manusia itu egois dan tidak mempunyai hati. Kalaupun dia boleh berharap, dia pasti akan berharap untuk secepatnya akhiri dunia ini dan bunuh semua manusia yang sudah menyiksanya.

Langkah kaki itu terhenti sebelum terdengar kembali. Anehnya, kali ini justru malah mendekat pada posisi kardus tempatnya berada sekarang. Kucing hitam itu secara reflek mengangkat kedua telinganya. Tidak ada yang aneh... sampai akhirnya dia tidak merasakan lagi air hujan menyerang tubuhnya. Apa? Kenapa? Dalam gerakan pelan, kucing hitam yang malang itu mengangkat kepalanya. Kedua matanya yang berwarna hitam dengan dasar berwarna kuning itu menatap dua mata manusia di atasnya. Warna mata yang tidak biasa untuk manusia pada umumnya. Warna yang indah bagaikan warna emerald.

Manusia itu tersenyum saat kedua mata mereka bertemu. Ternyata dia memayungi kucing hitam yang masih berada di dalam kardus tersebut. Dia sendiri memakai jas hujan dengan tudung yang menutupi kepalanya. Gadis itu berjongkok sehingga jarak kepalanya dengan jarak kepala kucing hitam itu tidak begitu jauh. Rambutnya berwarna soft pink terlihat begitu lembut saat jatuh ke sisi wajah cantiknya. Sembari tetap memayungi kucing hitam yang sudah sepenuhnya kebasahan itu, dia membuka mulutnya.

"Kau kedinginan?" tanyanya pelan. Tanpa perlu menunggu jawaban kucing hitam di bawahnya, dia tertawa, "Hahaa aku juga, ramalan cuaca hari ini tepat sekali. Untung aku membawa jas hujan dan payung hehe," ucapnya, mengajak bicara kucing berumur tiga bulan yang masih menatapnya heran.

Gadis itu kembali memperhatikannya dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya. "Kau mau ikut denganku, kucing kecil?" Tangannya terulur, menyentuh kepala kucing yang langsung terkaget itu. Oh, inikah rasanya disentuh manusia? "Aku kesepian. Ayah baru saja meninggal beberapa hari yang lalu sementara ibu masih tetap harus bekerja. Kalau ada kau, aku pasti tidak akan merasa bosan atau sedih di rumah."

Tentu meskipun gadis tersebut sudah menjelaskan alasannya, kucing hitam itu tidak akan mengerti. Tapi, instingnya mengatakan sesuatu. Kucing tersebut bangkit dari posisinya. Ekor panjangnya bergerak ke atas dan mengibas pelan. Dia mengeong, seperti menjawab pertanyaan gadis di depannya. Mendengar itu, membuat senyum gadis itu semakin melebar. Tanpa aba-aba, dia langsung menggendong kucing hitam itu keluar dari kardus dan memeluknya begitu erat.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lamanya, kucing hitam itu merasa begitu bebas. Padahal dia masih ada di kedua tangan gadis aneh berambut soft pink tersebut. Tapi, ada perasaan yang lain. Rasanya... menyenangkan. Kedua mata antara manusia dan kucing itu kembali saling menatap. Mengabaikan bau kucing hitam tersebut, gadis itu mencium bibir kucing hitam yang hanya bisa menatapnya dengan pandangan yang tidak dapat diartikan.

Itu... ciuman pertama mereka, 'kan?

"Namaku Haruno Sakura, semoga kau juga senang bersamaku! Karena aku pasti akan selalu senang bersamamu!"

Sekarang dia memeluk lagi kucing itu. Pelukan yang menyesakkan, tapi sang kucing hitam tidak menolak. Ada rasa nyaman tersembunyi di dalam pelukan ini. Kucing hitam itu berpikir ulang... mungkin perkiraannya salah, tidak semua manusia di dunia ini brengsek seperti yang ada di pikirannya. Kedua matanya terpejam, merasakan kehangatan yang baru di dalam hidupnya.

Saat dia memejamkan matanya itulah... dia bersumpah.

"Mulai sekarang... namamu Sasu! Aku mencintaimu, Sasu!"

Manusia ini... manusia bernama Haruno Sakura ini... yang telah menyelamatkan nyawanya.

"Ayo kita pulang, Sasu! Aku akan memberimu susu! Kau pasti suka!"

Karena itu... suatu hari nanti, biar dia yang akan menyelamatkan nyawa gadis ini.

Apapun yang terjadi.

.

.

.

.

.

Naruto © Masashi Kishimoto

Story © Kira Desuke

Warnings : AU, OOC (Sasu-cat)

Genres : Fantasy/Angst/Romance/Supernatural

Main Pair : SasuSaku

.

.

.

FRIST

.

.

.

~ KAPITEL VIER ~

Ich liebe dich bereits seit einer langen Zeit

.

.

.

"Sasuke! Bangun! Hei! Bangun, bodoh!"

Teriakan Sakura yang mendengung di telinganya membuat Sasuke membuka tutup kelopak matanya berkali-kali. Walau begitu, bukannya bangun, dia justru semakin meringkukkan tubuhnya dan meremas bantal kesayangannya yang menjadi sandaran kepalanya. Dia kembali tidur lelap—terdengar dari suara dengkurannya. Hal ini sukses membuat empat sudut siku-siku Sakura mengeras. Gadis bermahkota soft pink itu menginjak pinggang Sasuke yang sedang tidur dalam posisi miring.

"Bangun... atau kuhancurkan pinggangmu sekarang juga," begitu ancamnya, diiringi dengan suara tulang jari-jari yang dilemaskan. Sasuke menggumam tak jelas. Bukan karena mendengar ancaman Sakura, tapi karena ada sesuatu yang asing di atas tubuhnya—kaki Sakura di atas pinggangnya—membuatnya tidak dapat lagi memejamkan kedua matanya dengan nyaman. Anggap saja sebagai salah satu insting kucing.

Sasuke membuka kelopak matanya dengan malas. Kedua matanya masih setengah terpejam ketika dia menolehkan kepalanya dan melihat Sakura berdiri di belakangnya. "Ada apa... Sakura?" tanyanya dengan suara mengantuk. Tanpa perlu menunggu jawaban mantan majikannya tersebut, Sasuke kembali tidur menyamping—membelakangi posisi Sakura. "Aku masih ingin tidur..." rajuknya.

Sakura mendelik tak suka. "Kau ini... sadar umur sedikit dong," gerutunya kesal. Melihat punggung Sasuke naik turun dengan pelan seperti kembali tertidur membuat Sakura menghela napasnya. Gadis itu menurunkan tubuhnya sehingga dia berjongkok di belakang tubuh Sasuke yang berbaring. Tangannya meraih bahu bidang Sasuke dan menggoyangnya pelan. "Ayo bangun! Kau mau kutinggal sendirian di rumah?" tanya Sakura pada akhirnya.

Mendengar itu membuat telinga manusia Sasuke sedikit bergerak—seperti merespon perkataan Sakura, namun entah gadis itu menyadarinya atau tidak. Sasuke langsung membalikkan tubuhnya, Sakura sedikit kaget ketika kini mereka saling berhadapan. Gadis beriris hijau emerald tersebut buru-buru menetralkan kedua pipinya yang sempat memerah melihat tatapan intens Sasuke padanya. Well, mungkin lebih tepatnya tatapan intens Sasuke itu bisa disebut sebagai tatapan ngambek. Seperti tatapan anak kecil yang tidak suka melihat orang tuanya akan pergi meninggalkannya.

"Mau kemana?" tanyanya singkat—penuh dengan nada tidak terima. Tentu saja tadinya Sakura akan langsung menjawab pertanyaan Sasuke dengan jawaban kasar seperti biasa tapi... begitu melihat tatapan Sasuke yang entah kenapa oh-sangat-imut-dan-menggemaskan membuat Sakura memegang kepalanya. Mulai frustasi lagi menghadapi laki-laki aneh ini.

Wahai Kami-sama, tolong jangan katakan bahwa laki-laki tampan berambut raven, bermata onyx, dan memiliki tinggi seratus tujuh puluh lima centimeter di depannya ini masih berumur kurang dari sepuluh tahun.

Tidak kunjung mendapat jawaban Sakura membuat Sasuke langsung bangkit dari posisi tidurnya dan duduk bersila tepat di depan Sakura yang kini duduk bersimpuh. "Ne? Sakuraaaaaaa!" panggilnya lagi.

Gadis tersebut memejamkan kedua matanya dan mendengus. "Aku mau ke dream land bersama teman dan kekasih temanku, kau mau ikut tidak?" tanya Sakura berusaha tenang. Setidaknya dia sudah mulai terbiasa dengan keanehan pemuda di depannya ini. Sasuke memiringkan kepalanya—tanda dia tidak mengerti. Sakura akhirnya melanjutkan, "Itu taman bermain yang baru dibuat sekitar dua bulan lalu."

"Taman bermain?"

#

.

.

.

#

"Forehead! Kau telat tiga puluh menit!" Sakura langsung menutup kedua telinganya begitu suara Yamanaka Ino menggelegar di sekelilingnya. Semua orang—minus kekasih gadis berambut pirang tersebut—menolehkan kepala mereka ke arahnya sekilas sebelum melanjutkan kembali kegiatan mereka yang sempat tertunda.

Sakura hanya bisa tertawa kaku. Sedikit merasa bersalah melihat tatapan sangar bercampur kesal milik sahabatnya di depannya. Sementara di samping gadis itu, Sai hanya menatap Sakura datar. Tapi memang seperti itu ekspresi yang selalu dipasangnya. Sakura berani taruhan, kurang lebih pikiran laki-laki itu sama dengan kekasihnya. Setelah merasa cukup, Sakura menghentikan tawanya dan berdehem.

"Gomen ne, ada sedikit masalah sebelum aku berangkat—" Jika boleh Sakura berkata jujur, dia akan berkata bahwa masalah itu adalah bagaimana susahnya memaksa laki-laki aneh tak tahu diri yang numpang di rumahnya untuk mandi. Tapi, pada akhirnya yang keluar dari mulutnya adalah... "—ayam-ayam tetangga lepas dari kandang dan masuk ke dalam rumahku, jadi aku membantu tetanggaku untuk mengembalikan ayam-ayam merepotkan itu kembali ke kandang."

Ino memasang tampang tidak percaya sementara Sakura kembali tertawa kikuk sembari menggaruk belakang kepalanya. Haah, ya sudahlah. Yang penting Sakura sudah berada di depannya sekarang. Ino melirik ke belakang Sakura dan sekitarnya. "Lalu? Mana saudara sepupumu itu? Dia jadi datang, 'kan?" tanyanya seraya terus mencari orang yang belum pernah dia temui.

Sakura juga ikut menoleh ke kanan dan kiri, mencari bersama Ino. Setelah menemukan sosok yang dicarinya sedang memasang tatapan marah, Sakura langsung mengangkat sebelah alisnya. Sasuke entah kenapa menggertakkan giginya dan memelototi seekor anjing Puddle di depannya. Anjing itu sendiri membalas tatapan marah Sasuke dengan menggonggong kencang. Dari sini Sakura seperti melihat Sasuke sedang siap bertengkar dengan seekor anjing. Terlihat dari dua tangan Sasuke yang sudah mengepal erat dan anjing Puddle tersebut berusaha melepas diri dari ikatan lehernya, hendak menyerang Sasuke.

Ukh, apa lagi sekarang?

Setelah menaksir kucing betina, sekarang dia akan adu otot dengan anjing?

Gadis bermahkota soft pink tersebut mengusap wajahnya, merasa depresi mendadak. Kalau bisa, Sakura tidak ingin memanggil Sasuke sekarang. Tidak lucu kalau nanti dia dipermalukan dengan sikap Sasuke yang 'luar biasa' tersebut. Tapi, ucapkan terima kasih pada Ino yang terus menekannya agar segera memperkenalkan 'saudara sepupu'nya. Sakura memejamkan kedua matanya erat sebelum membukanya lalu membalikkan tubuhnya.

"Sasuke!" Mendengar nama manusianya dipanggil, Sasuke segera menoleh dan melihat Sakura yang memberi isyarat padanya untuk segera menghampiri gadis tersebut. Sasuke langsung berwajah ceria dan berlari ke arah Sakura—walau dia menyempatkan diri selama perjalanannya itu untuk memasang death glare terakhir pada anjing di belakangnya.

Belum sempat berkata apa-apa, Sakura sudah langsung menarik kemeja biru yang dikenakan pemuda tersebut dan memaksanya berdiri di depan Ino yang tercengang kaget. "Ini saudara sepupuku, namanya Sasuke." Perkenalan yang singkat. Tidak tahu harus apa, akhirnya yang bisa Sasuke lakukan hanya mengangguk sekilas di depan Ino yang menatapnya dengan kedua mata berbinar.

"Ta-Tampan sekali..." Sakura memasang wajah ngeri melihat Ino yang mendadak antusias dengan laki-laki di hadapannya. Belum lagi ketika sahabatnya yang berisik itu mendadak mencengkram bahu Sasuke. "Sakuraaa! Aku tidak pernah tahu kau mempunyai saudara sepupu semanis ini! Kyaaa lihat lihat! Wajahnya sekilas mirip kau, Sai! Aaah, kau benar-benar tampan!" begitu ucap Ino berulang-ulang.

Sasuke hanya bisa terpaku di tempatnya. Bingung harus berkata apa melihat manusia berjenis kelamin perempuan itu terlihat mengaguminya dan sesekali memegangi wajahnya sembari tertawa aneh. Hanya sekilas, tapi dia sempat menangkap perubahan wajah laki-laki di samping Ino menatapnya sedikit kesal, tapi setelah itu dia langsung menyembunyikannya dengan cepat. Sakura di samping Sasuke juga hanya memegang kepalanya dan menggeleng-geleng pelan—seakan sudah terbiasa dengan sikap Ino setiap bertemu dengan pemuda tampan seperti ini.

"Yap! Sudah cukup basa-basinya! Sasuke, aku Ino. Dan ini kekasihku, Sai! Salam kenal!" Sekali lagi, Sasuke hanya mengangguk patuh. Ino menunjukkan deretan gigi putihnya sembari mengamit lengan Sai seperti biasa. "Kalau begitu, ayo sekarang kita masuk! Wahana-wahana mengasyikkan itu sudah menunggu kita!" ajak Ino dengan semangat dan berlari dengan Sai lebih dulu meninggalkan Sakura dan Sasuke di belakang mereka.

Sakura mendengus. "Dasar. Mengundangku untuk menutupi kekurangan orang saja," gerutu Sakura sarkastik. Gadis beriris hijau emerald tersebut melipat kedua tangannya di depan dada lalu berjalan tenang. "Sasuke, ayo kita masuk," ajaknya tanpa perlu menghentikan langkahnya menuju gerbang dream land.

Tentu saja sebenarnya Sasuke masih belum mengerti apa yang dimaksud Sakura atau Ino dengan taman bermain ini. Laki-laki berambut raven itu hanya menuruti apa yang Sakura katakan padanya dan mengikuti kemana pun gadis kesayangannya tersebut pergi. Seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, Sai dan Ino memisahkan diri dari mereka. Walau begitu, di mata Sasuke, Sakura sama sekali tidak terlihat ambil pusing. Justru dia terlihat lebih santai dari biasanya tanpa keberadaan mereka.

Sasuke dan Sakura menaiki banyak wahana, namun sebagian besar adalah wahana yang memacu jantung karena Sakura menyukainya. Sasuke sedikit heran mengapa mereka harus ke permainan-permainan tersebut jika Sakura akan berkali-kali berteriak dan terlihat ketakutan bukan main setelah menaikinya. Contoh mudah saja, saat mereka menaiki kereta yang masuk ke dalam rumah hantu. Sakura terlihat bersemangat pada awalnya, tapi begitu masuk, Sasuke tidak bisa menghitung berapa kali Sakura menarik kemejanya hingga sekarang bajunya terlihat kusut dan mungkin hampir sobek di beberapa bagian.

Di sisi lain, ada juga permainan yang membuat Sakura kewalahan karena harus menjaga Sasuke. Ada wahana yang membuat mereka naik kereta yang berjalan ke atas lalu saat turun, kereta itu akan melewati kolam sehingga bisa dipastikan air akan bermuncratan saat mereka lewat. Sakura bersyukur sekali pengaman di kereta tersebut sangat kuat sehingga Sasuke tidak bisa kemana-mana dan hanya bisa berteriak ngeri. Tidak lucu kalau tiba-tiba Sasuke lompat dari kereta itu, 'kan? Sakura masih ingin memasang wajahnya di depan publik.

Dan... masih banyak lagi wahana lainnya.

"Nah, sekarang kita naik—"

"Sa-Sakura, sudah cukup..." Sakura menghentikan kata-katanya begitu mendengar suara Sasuke di belakangnya. Laki-laki bermata onyx tersebut terlihat gemetar sembari memperhatikan tubuhnya sendiri yang terkena sedikit cipratan air karena beberapa kali mereka menaiki wahana yang berhubungan dengan musuh bebuyutannya tersebut. Sakura mendengus kesal melihat tingkah lembek Sasuke, namun kata-katanya kemudian terpotong ketika Sasuke kembali berkata, "...ku-kumohon."

Sasuke menatapnya dengan dua tatapan yang... tidak bisa dideskripsikan dengan kata-kata, namun perasaanya langsung tercubit melihat tatapan tersebut. Sakura terlihat berpikir sesaat kemudian menghela napas panjang. "Apa boleh buat... tapi kita masih harus menunggu Sai dan Ino, mereka sedang menaiki biang lala." Sakura menoleh, melihat matahari yang mulai terbenam dari kejauhan. Gadis itu mengerti maksud Sai dan Ino yang menaiki biang lala pada saat seperti ini.

Aah, dia mulai merasa iri dengan sepasang kekasih yang sedang mesra-mesranya seperti mereka dan dapat menikmati wahana paling romantis saat matahari terbenam.

Karena melamun, Sakura sampai tak sadar dengan Sasuke yang telah berdiri di sampingnya. Sasuke hanya melirik Sakura sekilas sebelum kembali menoleh ke kanan kiri sampai kedua bola matanya tertuju pada sesuatu. Wahana yang paling besar dari wahana lainnya. "Sakura, Sakura! Apa itu?" tanyanya sembari menunjuk wahana besar berbentuk lingkaran raksasa tersebut.

Sakura mengikuti arah pandang Sasuke. "Oh, biang lala. Kenapa?"

"Wahana itu tidak berhubungan dengan air, 'kan?"

"Tentu saja tidak."

"Ah, kalau begitu aku mau menaiki itu!" Sakura merinding melihat tatapan polos Sasuke beserta senyum lebarnya. "Sepertinya menyenangkan, ayo Sakura!" Tanpa sempat Sakura mencegahnya, Sasuke sudah lebih dulu berlari mendahuluinya. Membuat Sakura tidak punya pilihan lain untuk mengikutinya.

"Dasar bodoh, sudah pasti ra—" Sialnya, Sakura tidak bisa lagi memberi alasan pada Sasuke agar mereka berdua tidak menaiki wahana raksasa tersebut. Entah bagaimana Sasuke sudah siap memasuki salah satu tempat yang tersedia. Khawatir kalau Sasuke pergi sendiri akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan—mengingat bagaimana kelakukannya selama ini—Sakura langsung berlari cepat mengejar Sasuke sebelum pintu tempatnya tertutup. "—hei tunggu!"

Sakura terengah dan langsung duduk karena biang lala tersebut mulai berputar. Sasuke terlihat antusias memperhatikan pemandangan di luar melalui jendela kecil di samping tempat duduknya. Sakura memegang dadanya dan mengatur napasnya yang memburu sembari memperhatikan wajah Sasuke yang terlihat begitu lugu. Huff, entah kenapa dia selalu tidak bisa marah jika Sasuke sudah memasang ekspresi seperti anak kecil tak berdosa begitu.

Anak tunggal Haruno Mebuki tersebut menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi di belakangnya. Kedua iris hijau emerald Sakura memperhatikan senyum Sasuke dari jauh. Rambut Sakura bergoyang seiring dengan gerakan gadis berumur tujuh belas itu. Di luar kendalinya, bibir ranumnya terbuka. "Hei Sasuke—"

"—apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Pertanyaan Sakura menghilangkan senyum Sasuke. Laki-laki itu mengalihkan perhatiannya dari jendela kecil yang membuatnya dapat melihat pemandangan yang terlihat semakin mengecil karena tempat mereka mulai sampai di sisi kiri biang lala. Sasuke menoleh melihat Sakura yang menatapnya dengan serius. Sakura mengernyitkan alisnya. Cukup lama mereka terdiam sampai tiba-tiba Sasuke tersenyum tipis. Sangat tipis.

"Pernah." Tanpa memberi kesempatan pada Sakura untuk terkejut, Sasuke langsung membuang mukanya. Kembali memperhatikan pemandangan di luar. "Sudah sangat lama sekali."

"Tapi—"

"Sejak itu kita selalu bersama." Sasuke menggerakkan ujung jari telunjuknya, seperti menulis sesuatu di atas jendela kaca plastik di hadapannya. "Waktu itu sangat menyenangkan... sayang sekali semuanya terasa begitu cepat." Dan tawa perih Sasuke terdengar.

Sakura membulatkan kedua bola matanya. Apa maksudnya? Waktu itu? Kapan? "Ne, Sakura..." Panggilan Sasuke membuyarkan lamunannya. Gadis itu menatap Sasuke yang menunjuk ke arah tempat di belakang mereka. "...itu Sai dan Ino, 'kan? Apa yang sedang mereka lakukan?" tanyanya bingung.

Gadis dengan dua iris hijau emerald miliknya itu langsung memutar tubuhnya dan melihat dari jendela kaca plastik di belakangnya. Lagi-lagi kedua bola matanya membulat melihat sahabatnya dan kekasih sahabatnya sedang berciuman bibir. Well, sebagai sepasang kekasih dan berada di tempat seromantis ini, wajar saja mereka melakukan itu. Sakura langsung membuang wajahnya dan cepat-cepat duduk rapi seperti di awal.

"Me-Mereka..." Kedua pupil Sakura bergerak tak tenang. Sasuke hanya diam memperhatikan. "...sedang berciuman."

"Oh, kenapa mereka berciuman?" Sasuke masih menatap kedua insan di seberang mereka dengan penasaran. "Mereka sedang tidak membagi makanan lewat mulut, 'kan?" tanya laki-laki polos itu lagi.

"Tentu tidak, bodoh!" bentak Sakura langsung. Dia memegang dahinya frustasi. "Itu cara manusia—ng, bagaimana ya—semacam mereka sedang membuktikan kasih sayang mereka." Gadis bernama bunga itu terlihat bingung bagaimana harus menjelaskannya.

Namun, pada akhirnya Sasuke mengangguk saja. Beda dari Sakura yang terlihat gelisah dengan wajah memerah, Sasuke tetap memasang ekspresi biasa dan kedua matanya tidak lepas dari pemandangan Sai dan Ino yang kini sudah berciuman untuk yang kedua kalinya. Laki-laki itu menatap mereka penasaran kemudian melirik Sakura. Terus seperti itu dilakukannya berulang-ulang. Kemudian tiba-tiba dia pindah duduk ke samping Sakura yang langsung reflek menggeser posisinya.

"A-Apa sih?" tanya Sakura sedikit kesal karena perpindahan Sasuke yang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Sasuke menatap Sakura dengan sebelah alis terangkat sembari menggaruk pipinya dengan jari telunjuknya.

"Kau bilang Sai dan Ino sedang membuktikan kasih sayang mereka..." Memegang ujung dagunya, Sasuke memberi jeda. "...berarti apa aku harus berciuman denganmu juga untuk membuktikan kasih sayangku padamu?"

Hening.

"HAH!?" Sakura langsung menggeser tubuhnya dengan kekuatan penuh sampai tanpa sadar dia telah menabrak ujung. Wajahnya memerah dan memucat di saat yang bersamaan melihat ekspresi penasaran Sasuke. Baiklah, setelah kemarin diajak kawin, sekarang diajak berciuman. Memang tingkatnya lebih rendah dari yang kemarin, tapi tetap saja... "Me-Me-Me-Me-Me-MESUM!" teriak Sakura histeris.

"Lho, kenapa Sakura? Aku sudah bilang aku menyayangimu, 'kan? Kalau aku tidak membuktikannya, apa kau masih akan mempercayaiku?" tanya Sasuke kecewa.

"Pe-Percaya! A-Aku percaya kau menyayangiku, jadi kau tidak perlu menciumku!" jawab Sakura kalut.

"Sungguh?"

"Su-Sungguh..." Jawaban Sakura berubah tak yakin. Warna merah di wajahnya semakin memekat dan degup jantungnya enggan diajak kompromi. Sakura langsung membuang wajahnya cepat. "Po-Pokoknya kita tidak perlu berciuman bibir," tambahnya sembari memejamkan kedua matanya erat.

Sasuke tidak terlalu merespon kata-kata Sakura padanya. Kedua irisnya yang sewarna dengan batu obsidian tersebut kembali memperhatikan Sai dan Ino. Kini posisi Sakura dan Sasuke sudah berada di puncak biang lala. Dan sesuai tradisi di dream land tersebut, setiap satu gerbong mencapai puncak, maka biang lala itu akan berhenti sesaat sekitar dua menit. Namun tradisi ini hanya berlaku saat matahari mulai terbenam.

Perhatian Sasuke rupanya membawa hasil. Sai terlihat memegang dagu Ino dan menuntun gadis dengan iris aquamarine itu untuk kembali menerima bibirnya. Sasuke terlihat menelan ludah sebelum menoleh lagi ke arah Sakura yang menghadap depan. Tangan kanannya terjulur menggapai dagu kecil Sakura. Gadis itu tersentak kaget tapi tidak melawan saat Sasuke menuntunnya agar dia menghadap ke arah pemuda berambut biru dongker tersebut. Melihat tatapan Sakura padanya entah kenapa membuat wajah Sasuke ikut memerah. Laki-laki itu langsung memegang dada bidangnya.

Perasaan apa ini?

Apa jantung manusia memang sudah terbiasa berdetak kencang mendadak seperti ini?

Sakura meremas rok pendek yang dikenakannya. Kenapa? Kenapa dia tidak bisa menolak? Perkataan Sasuke tentang bahwa mereka pernah bertemu sebelumnya memang sangat menganggunya, tapi perasaan di dadanya sekarang seratus kali jauh lebih mengganggu. Dia ingin menghindar namun di saat yang bersamaan dia juga tidak mau menghindar. Saat Sasuke menarik dagunya, yang bisa dia lakukan hanyalah menutup kedua matanya karena takut.

"Pernah."

"Kita pernah bertemu, Sakura."

Kata-kata Sasuke kembali terngiang di benaknya. Sama seperti Sakura, Sasuke juga memejamkan kedua matanya erat. Aneh. Padahal dulu dia sudah sangat terbiasa berciuman dengan Sakura—saat dia masih menjadi kucing. Lalu kenapa sekarang rasanya menakutkan begini? Tidak, dibanding ketakutan, lebih tepat kalau dia merasa tegang. Sasuke masih ingat bagaimana saat dulu dia berciuman dengan Sakura. Bibirnya lembut, tipis, dan sangat kenyal.

Dan itu tidak berubah meskipun sekarang bibirnya telah berubah menjadi bibir manusia.

Sasuke reflek membuka kedua matanya ketika bibirnya dan bibir Sakura bersentuhan. Walau sama, ada yang beda. Jauh lebih lembut dan... untuk beberapa alasan entah kenapa bibir Sakura jadi terasa begitu menggoda. Sasuke membuka mulutnya, mengemut bibir Sakura mengikuti instingnya. Geli namun membuat ketagihan. Sasuke merasa enggan untuk melepaskan bibir majikannya meskipun hanya sekilas. Semua rasa bercampur aduk di dalam kepalanya sekarang.

Sedikit kaget karena tiba-tiba Sasuke menciumnya dengan agresif, Sakura mengerang tanpa sadar. Kedua tangannya memegang bahu Sasuke yang terus mendekat. Ciuman Sasuke begitu agresif, posesif, dan liar. Semuanya memabukkan. Bayangan Sasuke bagaikan anak kecil yang sangat polos terhapus begitu saja di benak Sakura hanya karena ciuman—mungkin—pertama mereka ini. Sasuke terus memagut bibirnya dengan rakus, Sakura bisa membayangkan bibirnya akan merah setelah ini.

"Aku menyayangimu, Sakura."

Itu kata-katanya.

Kata-kata yang selalu ingin Sasuke ucapkan kepada Sakura. Kata-kata yang tidak mungkin diucapkannya saat dia masih menjadi seekor kucing. Langsung meluncur begitu saja dari mulutnya setelah mereka melepaskan ciuman mereka.

"Aku sangat menyayangimu."

Dan lagi-lagi saat Sasuke mengatakan itu... entah bagaimana Sakura melihat mata seekor kucing yang menatapnya penuh keingintahuan. Tatapan polos seekor kucing hitam terlihat samar-samar saat dia sedang menatap Sasuke yang menatapnya heran. Dengan suara lirih sembari menahan sakit di kepalanya, gadis itu berbisik hingga Sasuke tidak dapat mendengarnya. Tanpa sebab yang jelas, kedua mata Sakura berkaca-kaca.

"Siapa... kau?"

#

.

.

.

#

Malam sudah tiba ketika Sasuke, Sakura, Sai, dan Ino telah sampai di depan rumah Sakura. Gadis berambut pirang itu menatap khawatir Sakura yang berada di gendongan Sasuke. Ino dan Sai tidak tahu bagaimana awalnya, karena begitu mereka semua turun dari biang lala, tiba-tiba Sasuke sudah menggendong Sakura yang terlihat pingsan setelah menahan sakit. Dari rintihan dan gerakan tangannya, sepertinya dia menahan sakit yang luar biasa di kepalanya.

"Sasuke, jaga Sakura baik-baik ya." Ino menggigit bibir bawahnya sementara bahunya terus dielus Sai dengan lembut. "Kuharap dia tidak apa-apa... seharusnya jika dia memang sedang sakit, lebih baik dia tolak saja ajakanku ke dream land..." keluh Ino.

Sasuke tersenyum lebar. "Tenang saja, Sakura kuat kok. Aku yakin dia hanya kelelahan saja," ucap Sasuke penuh keyakinan. "Aku masuk dulu ya, sampai jumpa Ino. Sampai jumpa, Sai."

"Hn, selamat malam." Sai merespon singkat lalu berjalan pergi bersama Ino.

Sasuke langsung masuk ke dalam rumah, setelah menutup dan mengunci pintu, dia menuju kamar Sakura di lantai dua. Diletakkannya tubuh Sakura perlahan di atas kasur. Sasuke menutup tubuh Sakura yang terkulai lemas dengan selimut yang tersedia. Dia melakukan itu tentu saja karena selalu memperhatikan ibu Sakura yang setiap tengah malam membetulkan selimut anaknya. Dan sama seperti Mebuki, Sasuke tidak langsung meninggalkan Sakura. Dia duduk dulu sebentar di tepi kasur Sakura, menunggu sampai gadis itu benar-benar terlihat tidur dengan tenang.

DEG!

Sakit. Sakit. Sakit! Sasuke membuka mulutnya, kedua bola matanya membulat kaget, tangan kanannya meremas kemeja biru peninggalan ayah Sakura yang dipinjamkan padanya yang menutupi dadanya. Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba terasa sakit? Padahal tidak ada angin ataupun hujan, lalu kenapa? Tubuh Sasuke begitu kaku, tanpa bisa ditahan lagi, Sasuke jatuh begitu saja dari tepi kasur Sakura hingga tubuhnya menghantai lantai di bawahnya.

"Ukh... akh..." Laki-laki itu tidak bisa berbicara ataupun bergerak. Suaranya menghilang entah kemana. Ada apa? Bukankah baru saja tadi dia dapat berbicara dengan normal layaknya manusia pada umumnya? Kedua tangan Sasuke memegang lehernya, tubuhnya bergetar hebat. Semua penyiksaan ini terjadi selama kurang lebih lima menit.

Untunglah setelah lima menit berlalu, tubuh Sasuke kembali bisa dikendalikan seperti di awal. Pemuda berambut raven tersebut mengatur napasnya yang memburu dan keringat dingin mengalir di samping wajahnya. Sebenarnya... apa yang sedang terjadi pada dirinya? Oh, mungkin dia juga butuh istirahat. Sembari memegang kepalanya yang terasa pening. Sasuke memposisikan dirinya untuk duduk di atas lantai kamar Sakura. Dan kedua matanya membulat.

"Kau sudah sadar?"

Bayangan seseorang entah siapa sedang menyeringai terlintas di kepalanya. Tapi, bukan itu yang membuat Sasuke bergetar ketakutan. Melainkan pemandangan di hadapannya. Oh, lihat...

...jempol kakinya sudah mulai terkikis. Seperti abu pasir yang diterbangkan angin.

"Waktumu sudah habis, Sasuke."

Memang gerakannya sangat lambat. Namun, perlahan tapi pasti. Diperkirakan jika kecepatan pengikisannya tidak berubah...

...bukan tidak mungkin laki-laki itu akan menjadi kucing lalu menghilang keesokan harinya.

"Ah, ataukah aku harus memanggilmu... Sasu?"

.

.

.

.

.

Strongly I held you.

Who broke down into tears, and I said,

"I'll never leave you alone."

Ah, God...

.

.

.

...I'm cruel...

- Kagamine Len (A Love Story of a Certain Bakeneko)

.

.

.

...

Fortgesetzt Werden

...

.

.

.

Kapitel Vier : Chapter Four

Ich liebe dich bereits seit einer langen Zeit : I already love you since a long time ago


Besonderer Dank für :

Kimmberly, Mari Chappy Chan, desypramitha2, Akasuna Sakurai, srzkun, ahalya, peargirl, Hikari 'HongRhii, cheryxsasuke, yumi, Hikari Matsushita, Uchiha Shesura-chan, springblossom, Ran-Chan UchiHaruno Eternal BeSome's, Neko Darkblue, Natsumo Kagerou, Mikaela Williams, Guest (4x), hanazono yuri, BlueSnowPinkIce, Citra-Chan Tomatoes Girl, Yukio Valerie, Itsuka No Haru, Lhylia Kiryu, AzuraCantlye, me, Vi-chan, Rannada Youichi (3x), Kiki RyuEunTeuk, Cheinn PinkTom, Liby Qyu, Saitou Nana'o, Nanairo Zoacha, kanon rizumu, Aoi Lia Uchiha, iya baka-san, Cherry, Shizuka Fuyuki chan, Tsurugi de Lelouch, hamster-pink, makkichaan, Azuka-nyan, Nagi Sa Mikazuki Ananda, Yukha, Izawa Varinha, Himawari no AzukaYuri, Azizah, Hibino Miracle of Kurama, qisyu, MoedAkmal, Nohara Rin, CHLAMEISNA, SugarlessGum99, Yukimura Hana – Iwahashi Hani, Uchiha Aimi, uchihyuna, lily-chan, syahAruna, Momo kuro, Ocean Rays, aiyume, Uchiha Yui-chan, Kanami Gakura (2x), Sunt Q

... *lirik 5.900-an words* Ahahahahaa anggap aja bonus di bulan Ramadhan, makanya banyak #winkwink #apakamu Maaf ya telat update, seperti biasa semoga kerasa feel-nya ya hehe. Kurang lebihnya saya minta maaf karena saya males ngecek ulang :B #digebukin

Jangan lupa, chapter 5 adalah FINAL CHAPTER. Jadi, jangan sampai terlewatkan yaaa wkwkwk walau saya nggak tahu juga sih kapan pastinya bakal keluar chapter terakhir itu wkwkwk #dordor

Yosh! Mind to review, please? :D