6 Oktober, tepat satu bulan menjelang hari dimana Yifan sekali lagi akan menambahkan satu digit angka, di usianya yang kini menginjak tahun ke 25. Pria yang memiliki kemampuan linguistik cukup baik itu tak pernah sekalipun menyangka, dirinya akan meninggalkan masa lajang di usia yang terbilang muda untuk ukuran laki-laki. Memikirkannya bahkan mampu membuat sosoknya yang begitu mengintimidasi, menjadi sangat canggung dan aneh. Sama sekali tak terlintas dipikirannya ia harus berakhir dengan Zitao, gadis kecil yang suka sekali mengikutinya dan Chanyeol, ketika dua pemuda itu bermain playstation bersama, belasan tahun yang lalu.

Yifan menoleh kearah jam tangan Hublot miliknya yang saat ini menunjukkan tepat diangka 3 sore.

Seharusnya gadis itu sudah tiba disini sekitar tiga puluh menit yang lalu?

Pikirannya langsung tertuju pada janji pertemuan dengan seseorang, salah satu rekannya pada saat kuliah dulu. Yifan memang bukan pria yang mudah membuka diri, jadi wajar saja kalau ia hanya memiliki beberapa teman sepanjang 25 tahun usianya, dan gadis yang tengah ia nantikan kehadirannya, adalah salah satunya.

'DING'

Pintu café yang terbuka, seketika memunculkan wajah gadis bermata sipit yang kini mengitari seluruh sisi ruangan dengan indera penglihatannya. Wajahnya berubah sumringah, menyadari seseorang yang begitu dengan mudahnya ia kenali. Rambut keemasan, punggung lebarnya, dan aura dingin yang menguar seolah menjadi penanda kuat akan keberadaan sang teman lama bernama Wu Yifan yang saat ini duduk membelakanginya.

Kakinya dengan sigap mengantarkannya pada sebuah meja monokrom yang semula hanya ditempati oleh seorang pemuda. Sepatu lancipnya menghasilkan suara khas yang akhirnya membuat Yifan menyadari sosoknya yang kini memandangnya dengan seuntai senyuman.

" Maaf membuatmu menunggu, kau tahu, sulit sekali meninggalkan bayiku yang terus-terusan menangis ketika tahu aku akan meninggalkannya selama 2 jam. Ah, ya, bagaimana kabarmu, Yifan? Aku sama sekali tidak menyangka kau akan menghubungiku kembali setelah berita pernikahan Yixing."

Wanita yang berceloteh itu mengingatkannya pada masa-masa awal pertemuannya dengan Yixing, dan Yifan tidak tahu apakah ia harus berterimakasih untuk hal itu atau justru sebaliknya.

"Kurasa kau sudah mendengarnya, aku betul-betul terpuruk ketika mendengar kabar pernikahan mantan kekasihku, kau pasti tahu bagaimana aku masih mencintainya kan?.."

Meskipun hanya sesaat, namun wanita bernama asli Kim Minseok itu dapat menangkap jelas ekspresi kekecewaan diwajah tampan sang Romeo yang seperti kehilangan sosok Juliet dalam hidupnya. Pemuda itu masih sama, dibalik penampilan dan sikapnya yang dingin, ia merupakan seorang yang begitu penuh kasih dan lugu, terutama dalam urusan cinta. Ia tahu bagaimana Yifan yang dulunya dikenal sebagai laki-laki brengsek, mati-matian berubah hanya untuk mendapatkan sedikit simpati dari sahabatnya, Yixing, yang kemudian berlanjut menjadi sebuah hubungan asmara..

"Sejujurnya sampai saat ini pun aku masih belum bisa memahami bagaimana akhirnya kau dan Yixing berpisah. Maksudku, kalian terlihat baik-baik saja selama ini, bahkan aku pernah sekali bertaruh, bahwa kalian lah yang akan terlebih dulu menikah dari pada aku, tapi ya… siapa yang tahu tentang jodoh?…"

Wanita berambut kecoklatan itu melambaikan tangan sesaat sesudah menyelesaikan kalimatnya, memberikan aba-aba pada sang pelayan yang kini berjalan menuju meja keduanya. Ia menyampaikan beberapa nama dalam daftar menu, sebelum perhatiannya kembali teralih kepada sang pujangga yang kini menatapnya tanpa emosi.

"Aku tahu kau masih mencintainya, tapi yang kau lakukan saat ini sia-sia Yifan. Dia tak akan mungkin kembali padamu, meskipun kau menghancurkan dirimu kembali seperti dulu. Kau tak bisa menggantungkan hidupmu padanya, kau yang memutuskan kehidupanmu, bukan Yixing, atau siapapun…"

Lelaki itu nampak terdiam, nafasnya teratur, sama sekali tak menampilkan pergolakan batin yang bergemuruh didalam dirinya.

"Aku hanya mencintainya, apakah itu salah?"

Lagi-lagi wanita berparas elok itu tersenyum menanggapinya.

"Kau hanya butuh waktu, aku bisa melihatnya. Tak apa, nikmatilah hari-harimu sebelum akhirnya kau menemukan Yixing yang baru yang bahkan akan lebih baik dari sahabatku itu."

Yifan menggeleng pelan. Realita macam apa, yang seperti mengejeknya terus menerus? Bagaimana ia akan menemukan Yixing yang baru ketika justru kini ia terikat dengan seseorang yang diluar itu semua.

"Aku akan menikah minggu depan."

Wanita itu menunjukkan keterkejutannya dengan menghentikan kegiatannya semula. Ia memandangi wajah pria dihadapannya, mencoba mencari kebohongan dimatanya yang sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda adanya sebuah sandiwara.

"Aku tahu, aku tidak sedang bercanda."

Melihat tak ada respon apapun ia terima selain tatapan penuh tanya, Yifan menekannya kembali pernyataannya, membuat wajah si perempuan yang justru dibuat semakin penasaran.

"Aku telah menghamili sepupu Chanyeol."

Mengatakan bahwa wanita itu sekedar terkejut bukanlah sesuatu hal yang pas, ketika ia hampir saja menumpahkan secangkir macchiato panas miliknya, dengan tatapan yang terporos pada laki-laki didepannya.

"Kau menghamili seseorang? Dan orang itu sepupu Chanyeol?" Ucapnya terhenti sejenak, seolah memerlukan beberapa saat sebelum mencerna rangkaian kata yang tak sekalipun terlintas dibenaknya. "Aku tak bisa membayangkan bagaimana reaksi si Dobi itu. Aku pasti menghajarmu habis-habisan kalau aku jadi dia."

Ucapan Minseok yang terdengar kontra, sama sekali tak membantu meredakan perasaannya, justru membuatnya semakin larut dalam rasa bersalah. Ia tahu, ia memang pantas mendapatkan pukulan dari Chanyeol yang notabene adalah sahabatnya sejak kecil. Terlebih ketika ia mengatakan hal-hal menyakitkan yang ia peruntukan kepada Zitao, harus ia akui ia memang sedikit keras pada gadis itu. Namun apa daya, ia tak bisa berpura-pura bertingkah seolah-olah semuanya baik, ketika yang ia rasakan justru berbanding terbalik.

"Apa kau mencintainya?"

Yifan hanya terdiam.

Ia sudah pernah mengatakan bahwa Zitao adalah gadis yang cantik. Tubuhnya yang tinggi dan ramping membuatnya berhasil meraih predikat gadis yang dicari terutama dikalangan teman-teman sebayanya. Namun Yifan sama sekali tak melihat gadis itu sebagai seorang wanita, ketika yang ia rasakan adalah perasaan nyaman sebagai saudara. Ayolah, Yifan sudah bersama gadis itu ketika ia masih berusia 10 tahun, meskipun ia harus meninggalkannya setelah lulus SMA dan melanjutkan studi di Negeri Ginseng.

"Astaga.. Kau akan menikahi gadis itu sementara kau tak mencintainya? Ini gila Yifan, kau hanya akan membuatnya segalanya semakin rumit. "

"Aku tidak punya pilihan. Bayi itu akan lahir dalam beberapa bulan, dan yaa, ia membutuhkan ayah, aku memang brengsek tapi setidaknya aku masih memiliki hati nurani."

"Dan memilih untuk mengorbankan perasaan gadis itu?"

Yifan memilih untuk tak menjawab. Jauh dilubuk hatinya, ia paham betul perasaan Zitao ketika ia memilih menikahinya semata-mata hanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, namun ia juga memiliki perasaan sebagai seorang manusia. Tak mungkin ia langsung berbalik mencintai gadis itu sementara bayangan kekasihnya terdahulu masih terus menghantui pikiran bawah sadarnya.

"Kau bukan hanya akan mematahkan hatinya, tapi hatimu juga, Yifan."

.

.

.

Untuk terakhir kali Yifan hanya memandangi ponsel ditangannya, sebuah nomor yang sudah begitu familiar nampak menghiasi layar sentuhnya. Batinnya bergemuruh, seolah telah terjadi peperangan dalam jiwanya, dan ia tak mampu berbuat apapun selain terdiam. Emosinya kini lebih terkontrol, terlebih setelah terakhir kali Chanyeol menyadarkannya dengan sedikit kekerasan. Ya, dia memang pantas menerima itu semua setelah apa yang telah laki-laki itu perbuat.

'KLIK'

Panggilan itu langsung tercipta ketika ibu jarinya menyentuh layar ponsel pintar yang dengan segera melakukan tugasnya. Yifan berusaha tenang, menarik nafas dalam, mengembuskannya perlahan, apapun ia lakukan untuk merasakan sedikit saja kestabilan emosi yang sewaktu-waktu bisa saja kembali bergolak. Ia menghitung jumlah waktu yang dibutuhkan sebelum akhirnya seseorang menjawab panggilan telponnya.

"Halo?"

Suara laki-laki asing menyapa pendengarannya. Tanpa perlu bertanya Yifan sudah paham akan siapa pria yang kini berada di line telepon dengannya. Ia adalah Kim Joonmyun, suami sah dari mantan kekasih yang beberapa bulan lalu dipinangnya.

"Halo? Halo?"

Yifan tak mampu berkata apa-apa ketika samar-samar ia mendengar sebuah suara wanita yang khas, begitu indah mengalun memenuhi pendengarannya. Meskipun tak secara langsung ditunjukkan padanya, namun Yifan sudah cukup puas walau hanya mendengarnya dalam sekejap.

"Siapa yang menelepon?"

"Tidak tahu, aku rasa hanya orang iseng."

Rasanya begitu sakit, dan Yifan berusaha seolah-olah tak pernah terjadi apapun, ketika ia memutuskan untuk menghentikan panggilannya. Menikmati perasaan sesak yang lagi-lagi harus ia rasakan, tatkala ia kembali berhadapan dengan sang masa lalu. Ia menaruh ponsel itu menjauh, seakan tak ingin benda itu kembali mengingatkannya pada kejadian menyakitkan yang baru saja terjadi.

'TOK-TOK'

Dengan cepat, Yifan kembali menutup akses emosionalnya, tak ingin siapapun melihat guratan kesedihan diwajahnya. Buru-buru ia kenakan jas hitam yang sedari tadi tergeletak diatas tempat tidurnya, sebelum ia menyapa seseorang yang ia kenali sebagai ibunya.

Wanita yang merupakan ibu tirinya itu begitu cantik, aneh sekali jika dulu ayahnya menolak untuk menikahinya. Yifan harus bersyukur ia diasuh olehnya, yang dengan begitu sabar dan telaten mencurahkan kasihnya pada anak yang bahkan bukan merupakan darah dagingnya.

"Kau sudah rapi? Kita harus segera bergegas, pemberkatan akan dilakukan pukul 9."

Yifan hanya mengangguk kaku. Ya, ia memang tidak pernah bersikap layaknya seorang anak pada isteri ayahnya, meskipun perempuan itu dengan setia berusaha menerobos tembok penghalang yang dibuat olehnya sendiri.

"Ibu tahu ini memang sebuah keputusan yang berat Yifan, dan yang kau lakukan saat ini adalah bentuk tanggung jawabmu sebagai seorang pria dewasa. Aku tahu perasaanmu terhadap Yixing, tapi satu hal, cinta tidak selalu datang di awal, tidak selalu datang dengan sebuah gegap gempita seperti kisah cinta pertama, terkadang cinta datang justru setelah semua bentuk kepedihan. Jadi, belajarlah, untuk menghargai perasaan gadis yang akan kau nikahi. Biar bagaimanapun dia yang akan menjadi masa depanmu…"

Yifan tak menjawab, egonya langsung menolak semua ucapan penuh nasihat sang ibu. Meskipun begitu ia berusaha menghargai usahanya dengan sebuah anggukan singkat, hanya sebagai bentuk penghargaan bukan karena ia menyetujui ucapannya yang seakan menyudutkan pergerakannya untuk kembali menarik hati sang mantan kekasih.

Melihat putranya saat ini membuat Jaejoong kembali harus bernostalgia dengan kepedihan yang dia alami puluhan tahun silam. Menikahi pria yang hatinya bukan miliknya, dan dengan setia mendampingi hingga beberapa tahun sebelum ia betul-betul merasa pernikahannya tidak sia-sia. Suaminya memang pada akhirnya mencintainya, dan wanita itu tidak dapat mengungkapkan kegembiraannya kala itu. Kalau saja ia dengan egois mengikuti keinginannya, ia mungkin tak dapat melihat jawaban atas cinta yang ia bangun bertahun-tahun lamanya.

Kedua pasang ibu dan anak itu menuruni tangga spiral yang menghubungkan tiga lantai di mansion mewah mereka. Dapat terlihat sosok Wu Yunho menanti dengan gagahnya memakai jas putih senada dengan yang dikenakan sang isteri.

"Aku sama sekali tak menyangka, kau akan menikah diumurmu yang sekarang ini, melihat bagaimana kau bersikap."

Wu Yifan hanya melengos, tak berniat sedikitpun membalas sindiran ayahnya. Pikirannya justru kembali disibukan dengan semua kegilaan yang akan terjadi hari ini, terutama bagian dimana ia akan menikahi seseorang. Katakan ia adalah seorang hopeless romantic, dimana ia selalu memimpikan sebuah pernikahan mewah di hotel berbintang 5 atau lokasi eksotis Asia, bersama dengan wanita yang dicintainya. Bukan pernikahan dengan minim perencanaan yang terjadi atas dasar tanggung jawab semata.

.

.

.

Pernikahan itu terjadi secara khidmat, tak ada satupun tamu undangan yang mampu menangkap rona kesedihan diwajah kedua mempelai. Bahkan ketika prosesi terakhir yang mengharuskan kedua pasangan suami istri itu melakukan sebuah adegan ciuman, tak ada kecanggungan yang terjadi, seolah semua terjadi atas restu keduanya. Sangat berbeda dengan kenyataan yang justru berbanding terbalik dengan semua tampilan di altar gereja.

Zitao melepaskan anting-anting diwajahnya, semua yang terjadi hari ini begitu melelahkan, hanya ada pemberkatan dan sebuah resepsi kecil yang diadakan berkenaan dengan persetujuan kedua belah pihak yang tak mau ambil resiko dengan gencarnya pemberitaan media. Ia meringis melihat lingkaran gelap dibawah matanya, mengingatkan akan kondisinya yang sudah terlanjur kelelahan.

"Aku akan tidur dikamar tamu, jika kau butuh sesuatu, kau bisa menemuiku disana." Suara dingin Yifan, membuatnya kembali tersadar akan posisinya yang sama sekali belum beranjak meskipun ia berhasil menyandang nama belakang sang suami yang kembali mengacuhkan keberadaannya. Suasana kamar pengantin yang sedikit remang, dengan banyak sekali kelopak mawar diatasnya, membuat gadis itu ingin tertawa miris, mengingat tak mungkin terjadi malam pertama diantara keduanya. Bukan karena mereka telah melakukannya jauh sebelum pernikahan ini terjadi, melainkan karena ia sadar siapa posisinya dihati Yifan yang masih terus mengagung-agungkan cintanya pada gadis di masa lalunya.

Jemarinya yang lentik mengusap bukti keberadaan sang calon buah hati, merasakan sedikit kekuatan setiap kali ia menyentuhnya. Zitao sudah berjanji akan bertahan untuk anaknya kelak, meskipun ia tahu rintangan yang ia hadapi tak akan mudah.

"Maafkan aku…"

Disisi lain Yifan nampak terduduk sambil terus memandangi keindahan kota melalui jendela apartmentnya yang sengaja ia biarkan terbuka. Ruangan itu gelap, dan Yifan begitu menyukai kesunyian itu, membuatnya mampu merasakan ketenangan yang semakin langka ia temukan disela kegiatannya. Matanya yang tajam menikmati pemandangan di salah satu jari tangannya yang kini bertahtakan emas. Sebuah tanda atas penyatuan dua insan melalui ikatan pernikahan.

"Maafkan aku…"

Ucapnya sesaat sebelum melepaskan balutan perhiasan itu dijarinya, menyisakan kekosongan yang memang seharusnya terjadi. Perlahan dirinya pun bangkit, menaruh logam mulia itu diatas meja kerjanya, sebelum menjauhkan pandangannya dan bergegas melepas letih bersama dengan kepenatan yang seharian menyita kekuatannya.

.

.

.

Semerbak aroma kopi menyapa indera penciumannya di pagi hari, setelah semalaman dirinya terjaga akibat pikirannya yang begitu aktif. Pemuda bernama Yifan itu baru saja selesai menikmati cuti honeymoonnya yang sebagian besar ia habiskan seorang diri di dalam kamar apartment miliknya. Ia terlihat sedikit lebih baik, setelah tadi malam memutuskan untuk mencukur bulu-bulu halus diwajahnya yang sempat tak terurus. Dengan tangan yang sibuk merangkai simpul dasi, Yifan berjalan menuju ruang makan, tempat dimana sumber kenikmatan itu berada.

Sama seperti kemarin, satu set sarapan telah tersedia dimeja makan. Yifan dapat melihat asap yang sedikit mengepul diatas piring saji, tepat dimana scramble egg, bacon, dan roti panggang tertata dengan cantiknya, ditemani secangkir kopi hitam yang merupakan sajian wajib dirinya dipagi hari.

"M-Maaf aku hanya bisa memasak ini.."

Pemuda pirang itu langsung menoleh kearah asal suara. Berdiri disamping tirai, sosok Zitao yang entah mengapa terlihat kurang begitu baik. Wajahnya tirus, dan kantung mata diwajahnya semakin nyata terlihat.

"Kau tak perlu repot-repot, aku tak terbiasa sarapan pagi." Ujar Yifan, dirinya malah berbalik menuju cermin didekat wastafel, mengaitkan dasi untuk melengkapi penampilannya saat ini.

"K-Kalau begitu kau bisa membiasakan diri dari sekarang." Dengan penuh keragu-raguan Zitao berusaha mengungkapkan pendapatnya kepada lelaki yang langsung bereaksi, menghentikan kegiatannya.

Yifan hanya memandang gadis itu nanar, seolah menyatakan keenganannya untuk berkompromi dengan pemikiran sang gadis yang baru saja menyadari ucapannya. Zitao menundukkan wajah yang kini memerah, akibat respon sang suami yang tak menunjukkan reaksi positif.

"Kau tak perlu menungguku malam ini, aku ada urusan diluar." Imbuhnya. Ia kembali mematutkan dirinya dicermin, memeriksa sekali lagi kesempurnaan penampilannya, setelan jas abu-abu dengan sentuhan merah di dasi yang ia kenakan.

Lelaki penuh pesona itu lantas pergi meninggalkan sang perempuan yang hanya mampu menghela nafas memandangi sosoknya yang perlahan menghilang.

"Papa hanya sedang tidak mood hari ini, kau jangan marah yaa sayang." Kembali gadis itu bermonolog, berpura-pura mengakui bahwa semua sikap suaminya adalah wajar adanya. Ia sudah paham dengan semua konsekuensi atas pernikahan yang terjadi diluar keinginan pria bermarga Wu tersebut. Mengharapkan dirinya yang masih terjebak dalam angan-angan bersama gadis dimasa lalunya, sama saja seperti mengharapkan turunnya badai salju ditengah musim panas.

TBC

Akhirnya selesai juga hehee chapter ini kepending lumayan lama gara-gara jadwal padet nan hectic, maaf kalo ada typo maupun keanehan di ff amatir ini, sekiranya dimaklumi yaaa para cinggu…

Anyway, cuma mau meluruskan aja, akibat ngeliat banyaknya komentar buruk buat salah satu cast disini sebut saja Kris aka Wu Yifan. Maaf banget-bangetan udah bikin Kris terlihat jadi cowok belangsak disini, demi deh ga ada maksud apa-apa cuma buat kebutuhan cerita aja, jadi mohon pengertiannya yaaa, janji deh abis 2-3 chapter kedepan udah ga ada lagi yang namanya Yifan si menyebalkan

Sama satu hal lagi sih, berkaitan sama komen salah satu reader yang mungkin kebawa emosi ngeliat karakter Zitao disini yang nelangsa abis. Short shory, dia marah banget dan sempet nyuruhin ff ini buat dihapus karena ide ceritanya yang menurutnya pasaran dan sinetron banget.

Bingung sih mau reply apa, soalnya yaa, pertama, saya bukan penulis, if I were one I wouldn't be here in the first place, pasti saya udah bikin novel best seller, jadi yaa, sorry banget kalo this ff of mine ga sesuai sama ekspektasi. Kedua, soal ceritanya yang pasaran dan sinetron abis, well, saya sih cuma bisa bilang yaa, setiap karya apapun itu pasti ada yang suka dan ada yang ngga, termasuk sinetron, most Indonesian people bilang ga suka sama sinetron, then what, tetep aja kan sinetron menjamur? Setiap orang punya preference masing-masing dan it's okay kalau memang ada yang ga suka, toh saya pun ga memaksakan untuk semua yang baca ff abal ini untuk suka. Balik lagi, intensi saya ada di web ini, cuma buat sharing sesama kpopers yang kebetulan shipping couple yang sama dengan saya. Jadi, yaa sekali lagi sorry kalo memang dirasa ffnya pasaran dan so sinetron, mungkin karena dari kecil saya selalu disuguhkan sama sinetron kali yaa?

Ketiga, singgungannya tentang apakah saya tidak malu dengan para senpai disini? Jawabannya, nope, actually, kaya point yang di atas, saya bikin acc di web ini, semata-mata yaa buat sharing kecintaan saya sama couple fav saya, yang sering saya durjanakan, bukan untuk pamer-pamer or whatever you name it. Jadi, untuk malu kaya yang ditunjukan salah satu reader itu sih, nggak yaa, namanya juga site buat nulis ff, setiap orang berhak share, dan kalo memang maunya membaca ff yang levelnya jauh diatas ff saya yang super berkekurangan ini, silahkan loh, saya ga memaksa sekali lagi

Buat chinggu yang lain, makasih banyak yaa dukungannya, atas ff sinetron abal ini. *kecup satu-satu* semoga masih mau baca meskipun tulisannya ga karuan xoxo

Until Then~