Chapter 4
Mungkin malam ini adalah malam yang paling baik bagi Chanyeol selama perjalanan hidupnya. Tidak ada alasan lagi untuk menyesal atas apapun hal pahit yang pernah dilalui. Chanyeol sukses dan lolos menjadi tim Alpha lini satu bersama ketiga temannya. Lelaki Park itu sibuk mengibaskan berkali-kali dengan gerakan lembut. Memastikan setelan jas hitam itu tidak ditempeli debu walau setitik.
"ibu, ayah.. Aku sudah mendapatkan seragam" Chanyeol tidak menutupi lagi kegembiraannya meskipun lagi-lagi ia harus merayakan keberhasilan ini sendirian.
Satu per satu impiannya tercapai karena Chanyeol selalu menjalani harinya dengan ikhlas. Sedikit banyak ia harus berterima kasih dengan ketiga sahabatnya.
Saat matanya menangkap potret mereka berempat pada waktu wajib militer sekitar tiga tahun lalu. Chanyeol tersenyum. Tanpa mereka, dirinya bukan apa-apa. Mereka awalnya hanya orang lain, sebelum memutuskan untuk bersatu dalam jalan yang sama dan cita-cita yang sejalan.
"Terima kasih juga untuk kalian" Chanyeol menyentil foto itu main-main kemudian tersenyum jenaka. Tanpa mereka, hari-harinya mungkin suram. Atau tanpa persahabatan mereka, mungkin hari Chanyeol akan monoton. Hanya berjaga, makan, tidur, mandi, sesekali piket jaga. Tanpa uno, truth or dare, memancing, dan berbagai kegilaan lain yang mereka habiskan bersama.
"Hyung" Chanyeol menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka. Biasanya Sehun. Tapi malam ini dia melihat Kai.
"Kai ?" Kai tersenyum menyadari keheranan yang melanda Chanyeol.
"Boleh aku masuk ?"
"Kesurupan apa sampai harus ijin ? Biasanya kau meminjam celana dalam ku diam-diam" sadar dengan atmosfir yang kaku, Chanyeol memilih alternatif lain. Karena suasana seperti ini, bukan tipikal Kai sekali.
"Hyung liburan kemana ?"
Sebelum resmi bertugas sebagai tim alpha. Semua jajaran yang lolos mulai dari lini 1 sampai lini 3 diberi libur selama satu minggu. Untuk merayakan keberhasilan dan bertemu keluarga di rumah.
"Belum tahu"
"Aku sepertinya akan pulang ke Hwangju" Chanyeol mengangguk. Ada saatnya mereka berempat harus pulang dan berpisah sejenak untuk menyapa mereka yang menunggu di rumah.
"Tidak apa-apa Kai. Bukannya biasanya begitu ?" tanya Chanyeol gamang.
"Hyung, sebenarnya…"
"Apa ?!" sentak Chanyeol khawatir. "Kau butuh uang, atau apa ? Jangan membuat ku khawatir, Kai"
"Hyung sebenarnya… Aku mau mundur saja"
Ini tidak pernah diprediksi sebelumnya. Baru saja Chanyeol berbahagia atas keberhasilan mereka. Dan dalam sekejap harus luluh lantak seperti bangunan lego yang mereka susun berempat dan rusak karena terinjak.
"Kenapa begitu ?" Chanyeol hanya memilih kalimat itu, di antara banyaknya makian yang tersusun di otaknya.
"Ayahku sakit" bohong. Ayah Kai memang sakit, tapi tidak pernah menyuruhnya untuk berhenti mengejar mimpi sejak kecil sebagai tim alpha.
"Tadi siang kita melompat-lompat di tengah lapangan karena masuk ke tim inti vvip lini 1. Aku, kau, Chen, dan Sehun memiliki rasa yang sama. Bahagia. Ini gila Kai, kau tahu!"
"Maafkan aku" Jongin menunduk karena takut. Karena meskipun Chanyeol adalah pribadi yang hangat. Ketika dia marah, maka semua akan diam.
"Jelaskan… Jelaskan agar paling tidak aku tidak kecewa dengan kemunduranmu"
"Aku ingin mundur, dan pulang karena ayahku sakit"
"Hanya itu ? Dulu kau bahkan rela pulang-pergi Gangnam-Hwangju agar kewajibanmu sebagai tentara dan anak bisa seimbang"
Akhirnya Kai berani menatap mata Chanyeol yang sudah memerah. Entah itu akan menangis, atau karena terlalu murka.
"Maafkan aku hyung sungguh maaf"
"Terserah… Kau tidak berkewajiban meminta maaf karena itu hak mu. Tapi aku juga berhak kecewa. Terutama mungkin Chen, Sehun, dan kapten Lee"
Sesungguhnya, gundah bukan milik Kai saja. Di saat seperti ini Chanyeol ingin mengakui. Jika mereka berempat bukan sekedar rekan kerja, tapi juga keluarga. Tempat masing-masing saling bergantung dan membutuhkan, kala rumah jauh dari jangkauan.
"Kemari" Kai berjalan ke arah Chanyeol untuk memeluk lelaki yang lebih tua darinya. Seorang yang hangat dan menyenangkan. Bersama Chanyeol, Kai merasakan memiliki kakak laki-laki yang sesungguhnya.
"Apapun pilihanmu, aku mendukung karena kau adalah adikku" Kai menangis dalam diam masih berada di pelukan Chanyeol, ini berat.
찬백
Kyungsoo mengumpat sepanjang perjalanannya menuju rumah Baekhyun. Ini sudah tengah malam sampai dia lupa mengenakan sandal dengan benar. Kyungsoo menggunakan sandal dengan bagian kiri di kedua kaki.
Mobilnya dipacu dengan sedikit ugal. Karena istana Presiden dan flatnya lumayan jauh.
"Kau dimana ?!" Kyungsoo melirik kaca spion, sedikit menepi untuk memelankan laju mobil karena suara sahabatnya memanggil-manggil dibalik earphone bluetooth yang bertengger di telinganya.
"Apa lagi sialan aku masih dijalan. Kau mengganggu tidurku, tidak cukupkah kau mengganggu siang hari ku saja hah!"
"Jangan lupa roti bakarnya. Ehe" astaga, Kyungsoo sungguh ingin menangis sekarang. Ia berhenti dan membaca ulang pesan singkat dari Baekhyun. Dia menyesal karena tidak membaca pesan dengan lengkap. Ia hanya membaca pada bagian ketika Baekhyun memintanya ke rumah. Karena Kyungsoo pikir akan ada hal genting. Tapi ternyata Baekhyun memintanya ke rumah untuk membelikan roti bakar.
Seperti kebiasaannya selama ini. Kyungsoo akan memasuki rumah Baekhyun dengan santai setelah melewati pintu gerbang. Menganggap seperti rumah sendiri. Matanya masih perih karena tidurnya yang terganggu. Menatap gundukan selimut tebal yang menutupi seluruh bagian tubuh Baekhyun.
Kyungsoo melempar kotak berisi roti bakar hingga menimpa gundukan selimut itu. Kemudian menjatuhkan diri di atas ranjang. Mungkin ia menginap saja.
"Cepat makan pendek! Aku akan tidur sini karena mataku tidak sanggup di ajak menyetir" tidak ada jawaban. Kyungsoo memilih terlelap sampai earphone bluetooth di telinganya mengeluarkan suara sayup.
"Owl, kau tidak tertidur di toko roti bakar kan ?" Kyungsoo masih bingung.
"Owl, kamarku tidak dikunci. Jika aku di kamar mandi kau langsung masuk saja ya" Kyungsoo lalu terduduk dengan sigap. Menoleh ke sisi kanan tempatnya berbaring sembarangan tadi.
Dan bungkusan roti bakar ditenteng seperti sampah oleh seorang lelaki bermuka datar. Wajahnya khas bangun tidur. Kyungsoo salah masuk kamar.
"S-saya bisa jelaskan" Kyungsoo sebelumnya belum pernah bertemu dengan orang di depannya ini. Tapi Kyungsoo tahu siapa orang yang kini menatapnya tajam.
"Pendek kau bilang tadi ?"
"B-bukan begitu… Maksud saya…" Kyungsoo bingung. Bagaimana dia harus menjelaskan jika dirinya salah masuk kamar.
"Tidak pernah diajari sopan santun ? Mau ku ajari ?" Junmyeon melempar bungkusan roti bakar yang masih hangat, dan Kyungsoo berhasil menangkap.
"M-maaf, saya salah masuk kamar. Permi-"
"Mau kemana kau ?!"
"Eh ?"
"Kau mau kemana ?" ulang Junmyeon tajam.
"Ke kamar Baekhyun, lalu pulang" Kyungsoo tidak tahu bagaimana bisa dirinya kembali berbaring di ranjang milik putra pertama sang Presiden itu. Tapi dia ingat tangannya ditarik agar kembali berbaring, dan dalam situasi sekarang dia sangat butuh Baekhyun.
"Katamu akan menginap kan ? Ya Sudah sana tidur" Junmyeon menarik selimutnya, kembali tidur membelakangi Kyungsoo. Sahabat Baekhyun itu sibuk memeluk roti bakar untuk menenangkan jantungnya yang bergemuruh karena ketakutan.
"Kyungsoo kau di dalam ?" Kyungsoo merasa seperti disiram air surga. Suara Baekhyun yang berasal dari balik pintu kamar Junmyeon.
Baekhyun sempat curiga karena mobil sahabat sekaligus asistennya itu sudah terparkir rapi. Tapi batang hidungnya tidak kunjung terlihat. Ternyata dugaannya benar, Kyungsoo salah masuk kamar.
"I-iya" ternyata suara lirih itu masih bisa di dengar Baekhyun. Tanpa menunggu waktu Baekhyun membuka pintu kamar kakaknya.
"Astaga aku khawatir" Baekhyun segera memeluk Kyungsoo yang terlihat ketakutan. "Maafkan aku yang semena-mena menyuruhmu membeli roti bakar tengah malam begini"
"Tidak apa-apa, aku hanya ingin tidur sekarang"
"Ayo ke kamar ku" Junmyeon hanya pura-pura tidur. Tapi sebenarnya ia mendengar. Satu lagi yang membuatnya iri pada Baekhyun. Adiknya itu selalu dikelilingi orang-orang yang menyayanginya dengan tulus tanpa pamrih.
찬백
Kapten Lee Minho, memilih mereka berempat bukan tanpa alasan. Lepas dari seluruh tes sebagai alur penerimaan tim alpha. Kapten Lee lebih tertarik menjadikan kekompakan dan ikatan kuat sebagai syarat utama sebuah tim. Tanpa adanya kompak dan toleransi, sekalipun diisi dengan seluruh anggota yang cerdas. Tim itu akan sia-sia. Gagal membentuk selama dua kali periode. Kapten Lee cukup belajar dari kegagalannya. Celah mana yang tidak boleh dianggap sepele. Kapten Lee sudah mempelajari itu.
Jadi menjadikan Chanyeol, Kai atau Kim Jongin, Chen atau Kim Jongdae, dan Sehun dalam lini 1 vvip adalah keputusan tepat. Persahabatan mereka menjadikan satu sama lain akan bekerja sama dengan baik.
Bagai badai, ternyata siang ini ruangannya terasa kelam dengan tiga orang yang sama mendungnya, hanya Sehun yang tidak disana.
"Aku terlalu berharap banyak pada kalian" Kapten Lee sudah sangat siap untuk kegagalannya yang ketiga dan tembak mati. Begitu kira-kira ancaman Jenderal Choi.
"Jika tumbang satu, apa kalian bisa ku katakan utuh ? Atau jika ku carikan ganti apa itu bisa dikatakan sempurna ?" Chen sudah kentara ingin marah. Lelaki murah senyum itu yang paling terguncang atas retaknya persahabatan yang sudah mereka bangun susah payah.
Sehun sejak semalam sudah menghilang. Ponselnya tidak aktif. Tidak ada yang tahu kepergiannya. Sehun sepertinya pergi setelah apa yang dibicarakan dengan Kai di danau kemarin.
"Vvip butuh 4 anggota. Awalnya aku rasa kalian adalah komposisi pas. Tapi jika seperti ini, mungkin aku harus membubarkan dan mengganti dengan komposisi baru. Daripada kinerja kacau balau ?" mimpi mereka sudah dipastikan, berantakan.
"Dia tidak akan mundur, Kapten" empat orang di dalam ruangan Kapten Lee menoleh ke pintu. Sehun sudah berdiri terengah-engah dengan pakaian santainya. Sepertinya pemuda itu berlari untuk sampai kemari.
"Dia tidak akan berhenti karena ini adalah mimpi kami. Kita bukan berempat, tapi kita ini satu. Tidak akan utuh, dan tidak akan sempurna jika salah satu menghilang" semua berdiri kecuali Kai.
Chen dan Chanyeol berjalan untuk memeluk adik kecilnya yang datang tepat waktu mereka rasa.
"Darimana saja ?" Chanyeol memutus keterdiaman mereka.
"Aku ada urusan hyung. Dan ku tinggalkan karena aku merasa urusan disini jauh lebih penting" Chen dan Chanyeol membuka jalan agar Sehun menghampiri Kai yang terpekur di sofa milik Kapten Lee.
Tamparan keras membuat pipi Kai kebas. Ia masih menjalin kontak mata dengan Sehun. Dan pendiriannya runtuh. Ketika alasannya untuk lari, malah berdiri disini dan menahannya untuk tidak pergi.
"Janjimu omong kosong! Cinta kau bilang ? Jika begini saja kau sudah menyerah. Harusnya saat aku menyuruhmu untuk berhenti peduli, peluk aku. Bukan malah lari dan pergi. Kau pikir dengan melakukan hal itu perasaanmu bisa menghilang ?" Kapten Lee tidak mengerti, juga tidak akan mengira jika cinta yang dimaksud Sehun adalah untuk dirinya. Yang paham disini hanya Chen dan Chanyeol.
"Aku hanya merasa tidak berguna. Kita ini sahabat kan ? Tapi sedikitpun kami tidak tahu tentang dirimu Oh Sehun. Sisihkan masalah hatiku. Tapi fokuskan pada dirimu" Sehun tahu, diantara mereka, hanya dirinya yang tidak biasa mengumbar urusan pribadi. Bahkan nama orang tuanya saja, mereka tidak tahu.
"Aku punya alasan" jawabnya pelan.
"Kalau begitu aku juga punya alasan untuk mundur" sela Kai tajam.
Saat Kai hendak pergi dari sana, Sehun segera menyela. Membuat langkah Kai terhenti walaupun badannya masih membelakangi Sehun "Kau bisa ikut aku, maka kau akan tahu alasan sebenarnya. Bukankah aku berjanji untuk mengajakmu ke suatu tempat ?"
"Apa kami berdua boleh ikut ?" Sehun menoleh ke arah Chen dan Chanyeol berdiri. Matanya buram. Sehun, sekali ini bersyukur atas hidupnya. Mempunyai 3 kakak lelaki yang luar biasa. "Tentu, hyung"
Lima orang dewasa itu tanpa kata seolah tahu jawabannya bahwa pengunduran diri Kai resmi batal. Lee Minho tersenyum bangga di singgasananya. Dia tidak salah, sedalam itu ikatan persahabatan anak buahnya.
"Kalian istirahatlah. Gunakan seminggu ini dengan baik karena tugas pertama kalian adalah mengawal jalannya acara pertunangan putra kedua Presiden"
찬백
"Sayang" Kyungsoo memutar bola matanya karena muak dengan panggilan barusan. Bukan ditujukan untuknya. Tapi ditujukan untuk atasannya, Baekhyun.
"Hai, selamat siang by" Kyungsoo mencibir ketika Baekhyun bersikap sok gentle, lupa jika semalam berteriak minta dibawakan roti bakar sampai mengakibatkan Kyungsoo mendapat masalah besar, salah masuk kandang singa.
"Selamat siang juga, aku mau makan" dengan tidak sopan dan menganggap keberadaan Kyungsoo sebagai benda mati. Eunji duduk manja di atas paha Baekhyun, dan mengalungkan kedua lengannya di leher si pria.
"Aku sudah tadi sekalian meeting dengan komite 1"
"Tapi aku lapar" Baekhyun kelihatan menyesal sebab makan siang terlebih dahulu dan meninggalkan kekasihnya.
"Delivery order saja maukah, by ? Aku temani disini makannya karena pekerjaan ku sedang banyak dan tidak bisa ditunda" Eunji tampak berpikir dengan menggoyang-goyangkan kakinya di atas pangkuan Baekhyun.
"Tapi suapi ya ?" tanpa ragu Baekhyun menyanggupi. Sedangkan Kyungsoo ? Dia ingin muntah sekarang karena interaksi berlebihan di depannya. Bertambah geram lagi ketika ingat waktu dia berpapasan dengan Eunji yang tengah merangkul lelaki lain tempo hari.
"Kyungsoo, tolong pesankan makan siang untuk Eunji" tanpa menjawab Kyungsoo segera membungkuk untuk pamit. Kesempatan keluar dari sana.
"Bagaimana gaun dan tuxedonya by ?" Baekhyun memfokuskan dirinya dengan kertas pengajuan infrastruktur dari berbagai Distrik. Tanpa membuat Eunji merasa tersisih dan diabaikan.
"Sudah sayang, tapi kita perlu fitting. Nanti kamu kosongkan jadwal dua hari lagi. Aku gugup"
"Ada aku" kecupan didaratkan Baekhyun di kening kekasihnya.
"Aku minta hadiah untuk pertunangannya ya ?"
"Apapun untukmu"
Baekhyun memang pria matang yang cukup royal jika menyangkut orang-orang yang disayangi. Tidak heran jika Eunji meminta apapun maka sesaat kemudian permintaannya terkabul. Hadiah bagi Baekhyun bukan apa-apa, meskipun Eunji meminta dirinya nanti. Ia akan memberikan dengan senang hati.
"Aku mau mobil sport" Baekhyun mengangguk.
"Hadiahnya akan kau dapat di hari pertunangan kita"
"Thank you, sayang" Eunji memeluk semakin erat hingga membuat prianya tertawa gemas. "Anything for my baby"
"Can't wait to be yours, daddy"
Sementara di luar ruang kerja, Kyungsoo kembali mencibir dengan geli "apa ? Daddy dia bilang ?" bukan begitu, masalahnya Baekhyun terlalu lentik jarinya untuk dipanggil daddy. Tidak ada maksud, bukan juga Kyungsoo iri. Tapi Eunji entah mengapa membuatnya kurang setuju. Tapi untuk berbicara ia takut sahabatnya akan menjadi patah.
"Nona Eunji, makanan akan sampai 15 menit lagi" Kyungsoo masuk kembali ke ruangan setelah selesai dengan acara mencibirnya. Juga telah mengetuk pintu untuk meminta izin masuk.
"Sayang, maaf aku harus kembali. Aku lupa ada pemotretan"
"Makanannya ?"
"Untuk mu dan asistenmu saja, bye." Eunji turun dari pangkuan Baekhyun dan melenggang pergi setelah mengecup kilat bibir Baekhyun.
"Hati-hati, kabari aku ya , by ?" pintu tertutup cukup keras. Tanpa sadar Baekhyun membuang nafas.
"By ? Babi ?" itu Kyungsoo, tidak sopan memang. Tapi Baekhyun bisa apa.
"Kau mau ku pecat ya ?" Baekhyun yang merasa terhina atas cibiran sahabatnya akhirnya mengancam.
"Jika anda lupa, anda yang menyobek surat pengunduran diriku berkali-kali Perdana Menteri Byun" Baekhyun lantas tertawa. Iya, dia begitu bergantung dengan asistennya yang serba bisa itu. Sampai kadang jika Kyungsoo marah, besok paginya surat pengunduran diri akan tergeletak manis di atas meja kerja Baekhyun. Dan balasan yang didapat Kyungsoo bukan persetujuan, melainkan satu set sepatu mahal dan sobekan kertas pengunduran dirinya sebagai permintaan maaf dari Baekhyun. Namun kesalahan yang sama tetap diulangi berkali-kali oleh Baekhyun, dan hebatnya Kyungsoo tidak bisa marah. Meskipun tanpa sepatu mahal itu, pada dasarnya Kyungsoo tidak bisa benar-benar menjauhi Baekhyun. Ia khawatir terhadap sahabatnya yang terlampau baik itu jika nanti dimanfaatkan orang lain. Setulus itu persahabatan mereka.
찬백
"Semalam ada orang asing masuk rumah sembarangan. Bukankah penjagaan kita kurang ketat ?" Junmyeon sejak beberapa bulan lalu memang tidak pernah baik. Seperti sekarang entah sedang berbicara dengan siapa. Walaupun jelas untuk ibunya, tapi pertanyaannya tidak sopan sama sekali. Tidak ada sapa, ataupun salam.
"Berbicara dengan siapa ?" Boa mencoba mengerti. Selalu berusaha menjaga perasaan anak sulungnya meski hatinya kerap terluka.
"Dengan ibu" suara Junmyeon lirih.
"Sapa dulu, nak. Lalu salam. Setelah itu bertanya. Jika yang kau maksud adalah Kyungsoo, dia bukan orang asing" Boa meninggalkan secangkir teh nya dan memilih memandang putranya yang tengah berdiri kaku di ambang ruang keluarga.
"Dia bukan anggota keluarga, bu"
"Tapi Kyungsoo sahabat adikmu sekaligus asistennya. Dia sering kemari bahkan menginap"
"Aku tidak pernah melihatnya"
"Karena kau tidak pernah pulang" sela Boa segera.
Bukan Junmyeon yang meminta jadi seperti ini. Dia sama sekali tidak ingin membantah ibunya. Tapi rasa marah pada sang adik masih sering mengambil kendali dan menimbulkan emosi.
"Aku benci dia bu, benci apapun tentang dia!"
"Dia siapa ? Byun Baekhyun ? Adik mu ? Dia yang kau benci itu juga anakku"
Junmyeon tersenyum miring. Ibunya memancing emosinya sekali lagi.
"Iya aku yang bukan anak ibu"
"Tutup mulutmu, Jun! Aku melahirkan mu susah payah tidak takut sekalipun lawan ku adalah mati. Mengandung mu sembilan bulan. Dia.. Yang kau benci itu adalah orang yang menyayangi mu, menunggu mu sampai pulang, memperhatikan mu setiap saat"
"Tapi kalian tidak menyayangi kami sama rata. Dia mendapat lebih banyak dariku"
Boa menangis tanpa alasan. Sebenarnya beralasan, tapi ia enggan mengakui jika dirinya benar-benar terluka hatinya sebagai seorang ibu.
"Ibu dan ayah menyayangi kalian sama. Mana mungkin kami membagi dengan berbeda. Ayah punya alasan kuat, menjadikannya pegawai pemerintahan, dan menjadikanmu pebisnis" Boa berbalik meninggalkan Junmyeon yang terlihat frustasi di tempat. Ia menyayangi anaknya itu. Maka Boa tidak mau menambah sakit hatinya lebih banyak lagi dan berujung menyumpahi dengan hal buruk.
"Bunuh ibu saja Jun. Ibu lebih baik mati daripada melihatmu membenci adikmu. Ibu hanya punya kalian"
Baekhyun yang mendengar perdebatan itu. Mundur perlahan dari tempatnya berdiri. Separah ini hubungan mereka berdua ternyata. Meskipun ibunya terlihat yang paling tegar dengan permusuhan mereka, ternyata banyak luka menghujam di dalam sana.
"Hyung…." lirih Baekhyun secara spontan.
Junmyeon menoleh ke belakang. Adiknya ada di sana tanpa sepengatuhannya entah sejak kapan.
"Kalau sampai terjadi sesuatu pada ibu. Kau orang pertama yang akan aku cari!" bukan balasan yang manis. Junmyeon justru berbicara tajam dan penuh desisan berbahaya.
Setelah lama Baekhyun terdiam sendiri di tengah istana luas ini. Ia meraba saku jasnya. Melakukan panggilan untuk menenangkan ketakutannya.
"Sayang, kenapa ? Halo ? Sayang kamu baik ?"
"By… Kamu tidak akan kemana-mana kan ?" suara Baekhyun bergetar. Membuat lawan bicaranya bingung.
"Sayang aku ada di kantor agensi untuk membicarakan iklan. Aku tidak kemana-mana, seminggu lagi kita akan bertunangan"
"By… Jangan pergi. Aku hanya memilikimu"
Sesungguhnya Eunji sedang menyeringai di ujung sana. Baekhyun sudah bergantung banyak padanya, sehingga tidak perlu banyak usaha meskipun nyatanya dia sudah tidak utuh sebagai seorang perempuan.
"Love you sayang, istirahat ya. Kau terlihat lelah"
Baekhyun berjalan pelan menuju kamarnya. Menuruti perintah calon tunangannya untuk beristirahat. Ya, ia mungkin lelah. Ditambah mendengar perdebatan kakak dan ibunya membuat semakin kusut.
Tbc
a/n : yg lupa silahkan baca dari awal ya . heheh. Btw, maaf sdh menunggu, dan terima ksih karena mau menunggu. Masih belum bisa bikin chanbaek satu scene, soalnya alurnya memang begitu. Heheh. Feel free to blame me :) review dan fav nya masih ditunggu. Setelah ini aku akan update rutin sebab udah mateng kerangkanya :)
